2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rum dan Tongkat Ratu Semut | Dongeng dari Papua

Gody Usnaat by Gody Usnaat
December 16, 2024
in Dongeng
Rum dan Tongkat Ratu Semut | Dongeng dari Papua

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

DAHULU kala, ada seekor tikus tanah bernama Rum. Ia berbulu halus. Ia berkumis tipis. Giginya tajam—ia biasa memotong ranting dengan giginya. Ia tinggal di sebuah liang bersama kedua adiknya.  Mereka adalah yatim piatu.  Sebagai kakak—Rum menyayangi mereka: Ia memandikan mereka. Ia menyiapkan makanan dan ia menidurkan mereka.

Ia sering pergi jauh—sendirian,  mencari buah-buahan seperti buah peru, buah kogor dan buah yembil.

Di dalam gudang,  buah-buahan hampir habis. Rum pamit kepada kedua adiknya. Kali ini, kedua adiknya seperti tak merelakan kakaknya pergi lebih jauh dan lama. Keduanya ingin menemani si kakak tapi Rum tak setuju: “Tak bagus kalau rumah kita kosong beberapa hari.” Ini pesan yang ditinggalkan kedua orangtua, pesan yang selalu mereka ingat. Kedua adiknya terpaksa tinggal di rumah.

Ia pergi ke rumah ratu semut—sahabatnya. Ratu semut menyarankan kepadanya agar ia pergi saja ke arah barat hutan. Di daerah itu ada satu pohon peru dan sekarang pohon itu sedang berbuah.

Ketika Rum hendak melanjutkan perjalanan, ratu semut berkata: “Di sana ada seekor ular, kau boleh membawa tongkat pelindung ini”  Ia menerimanya dan mengucapkan terima kasih kepada si ratu semut. Tapi tongkat yang ia terima itu punya pantangan: Rum, jangan memetik lebih dari 20 buah. Jika ia melanggar, maka seluruh hutan milliknya akan terbakar. Ia menyanggupi syarat itu.

Dalam perjalanan, ia singgah di rumah rusa. Rusa tak ada di sana. Di dekat rumah rusa ada sungai kecil yang airnya jernih. Rum ke sana untuk mandi. Usai mandi ia makan buah yembil yang ia bawa dari rumah. Ia tidur sebentar dengan telinga yang selalu dengar percik air, suara angin dan bunyi patahan ranting. Di dalam tidur, ia bermimpi: ia lihat kedua adiknya di rumah sedang pesta buah: buah matoa, buah pisang, buah gomo—buah-buahan itu dibawa orang tua.

Ia dikagetkan oleh percik air sungai yang persis mengenai dahinya.  Ia Lalu mengusap mata dan mencoba mengingat-ingat adegan mimpinya tapi ia sudah lupa. Ia basuh muka lalu membereskan bawaanya lalu melanjutkan perjalanan. Perjalanan masih tersisa dua kilometer.

Rum semakin dekat dengan rumah ular: rumah beratap semak dan berdinding batu.  Ular sedang tidur melingkar dengan mata tertutup. Ular itu berwarna hijau kebiruan, di bagian perut berwarna kuning telur ayam.  Hari itu dingin dan berkabut—sesekali hujan kecil datang dan membasahi hutan. Di samping rumah ular ada sebuah pohon peru yang sarat buahnya.

Sudah dua hari Rum berjalan jauh dan saat melihat buah peru yang mulai matang itu, ia semakin lapar dan ingin segera memetik dan memakannya, tentu saja sebagian juga ia akan bawa pulang.  Rum teringat kata-kata bapa bahwa bangsa ular adalah musuh keluarga tikus tanah, sebisa mungkin—para tikus tanah mesti menghindar dari wilayah kekuasaan ular. Tapi bagaimana pun inilah satu-satunya pohon peru yang masih hidup dan berbuah.

Sebenarnya ada banyak pohon peru tapi beberapa tahun lalu datang wabah yang menimpa seluruh keluarga peru: wabah itu mula-mula menyerang daun: daun kering dan gugur, lalu wabah menyerang ranting: reranting kering dan patah, lalu wabah menyerang juga batang, batang pohong kering dan lapuk hingga akar.

Kini yang tersisa satu pohon peru, dan ia dijaga ular.

Rum memandang tongkat itu: tongkat hitam arang dan ia melemparkan tongkat itu ke tanah, sambil berkata: “Terjadilah, terjadilah, terjadilah!” Seketika tongkat berubah menjadi koloni semut: semut kecil berwarna hitam, berkaki kecil, bermata kecil. Koloni semut itu dipimpin oleh satu panglima perang. Kemudian setelah mereka mendengar arahan Rum, mereka berjalan dengan barisan panjang. Kabut makin tebal. Rum, menggigil sebab seluruh tubuhnya basah. Semut-semut itu berjalan mendekati sang ular yang sesekali melemparkan pandangan ke pohon peru. Mereka mengucapkan salam kepada si ular.

 Semut—panglima perang bilang:

“Apakah kami boleh meminta 20 buah peru?”

“Tidak! ini milikku dan aku sedang menunggu tikus tanah—makanan kesukaanku.”

Ia menjulurkan lida cabangnya.

 “Bolehkah kami meminta 10 buah? Kami sangat lapar.”

Sang ular tetap menjawab: “Tidak!” Ekornya bergoyang menyentuh daun kering.

Barisan semut itu, pulang. Dalam perjalanan pulang, panglima semut berpikir—bagaimana kalau salah satu dari mereka berubah wujud menjadi tikus tanah?

Ia sendiri bersedia menjadi tikus tanah. Segera ia berbicara dengan Rum.

Si panglima berubah wujud, tikus tanah: berbulu halus coklat, bergigi tajam dan bermata jernih mata air.

“Aku akan berjalan ke pohon peru,” kata panglima perang.

Segera—ia ke sana. Ia lihat ular dengan mata yang awas. Ular itu mulai merayap ke arahnya. Si panglima terus bergerak mendekati pohon tetapi ia tak mengambil satu buah pun, saat ular itu mulai mempercepat gerakannya ia segera berlari melingkar ke belakang rumah. “Ayo, ular, kejar aku!”  teriak panglima.

Ia bergerak menjauh dari rumah si ular.

Segera Rum dan koloni semut lain bergerak secepat angin. Beberapa memanjat pohon sedang yang lain memungut dan mengumpulkan lalu membawah buah-buah itu menjauh dari rumah ular. Lalu kembali ke tempat persembunyian sambil memantau arah pergerakan panglima, Rum memakan buah peru. Oh, mereka lupa pesan si ratu semut: Mereka memetik 100 buah.

Di belakang rumah si ular, panglima itu telah berubah wujud menjadi semut. Si ular seperti kehilangan jejak dalam sekejap mata. Ia mencarinya tapi hanya aroma tubuh si tikus yang semakin tajam dan ular itu terus bergerak mengikuti aroma tikus tanah yang semakin jauh dari rumahnya. Tak lama kemudian panglima koloni semut kembali: ia bergabung dengan koloni semut lain dan berubah wujud menjadi tongkat.

Rum kembali ke liang—mengikuti jalan yang sama.  Tetapi sebelum sampai di sana, ia didatangi koloni semut: ia dapat kabar bahwa hutan miliknya telah terbakar. Saat itulah ia sadar bahwa ia telah memetik lebih dari dua puluh buah. Ia segera mempercepat langkahnya. Ia singgah di rumah ratu semut. Ia mengucapkan banyak terima kasih dan ia menyerahkan tongkat itu kepada sang ratu.

Ia segera berlari lebih kencang dan ia dapati hutan miliknya telah lenyap. Hanya asap dan sisa bara api, aroma tubuh kedua adiknya tercium juga olehnya, ia bergerak mengikuti aroma itu hingga tiba di rumah: ia tak dapatkan mereka, hanya abu dan asap dan juga sisa bara api. Ia meneteskan air mata, beberapa tetesnya jatuh dan memadamkan nyala bara.

Ia berkabung untuk beberapa hari. Segera setelah itu, ia menanam biji pohon peru. Ia menyiram dengan mengambil air dari sungai milik rusa. Melihat ia bekerja sendirian, rusa dan koloni semut datang membantunya menimbah air. Kasuari juga membantunya, ia menaburkan biji tanaman lain, demikian juga burung kaka tua—ia menaburkan biji damar yang ia bawa dari hutan miliknya.

Suatu malam, Rum bermimpi. Ia bertemu ayah dan ibunya. Keduanya memberi tahu bahwa kedua adiknya telah mereka selamatkan. Mereka terbang dan kini tinggal di satu tempat, hutannya luas dan banyak pohon peru.  Ayah dan ibunya membantu Rum—mereka menumbuhkan dua pohon peru. [T]

(Ubrub-2024)

  • KLIK untuk BACA dongeng lainnya
Lukas dan Tuk Kecil yang Baik Hati | Dongeng dari Papua
Dongeng | Anak Kecil dan Pohon Pemali
Dongeng | Si Jangkrik Kalung yang Terlalu Percaya Diri
Aya, Seekor Anak Buaya Tak Lagi Makan Daging
Tags: dongengdongeng dari papua
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Demokrasi itu Kesetaraan dan Kebebasan — Dari Kuliah Umum di UPMI Bali

Next Post

Babi Goreng Warunk Dadong Located di Blahkiuh: Tersembunyi dan Dicari Selalu

Gody Usnaat

Gody Usnaat

Penyair tinggal Umuaf, Papua. Salah satu buku puisi "Mama Mengayam Noken"

Related Posts

Takut Galungan

by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
0
Takut Galungan

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan...

Read moreDetails

Radio Tua Kakek Panjul

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Radio Tua Kakek Panjul

PAGI di Desa Muncuk Sari selalu datang dengan cara yang sama. Perlahan, lembut, seperti tangan yang membelai tanpa suara. Kabut...

Read moreDetails

Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
February 27, 2026
0
Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

DI langit biru yang luas, hiduplah kawanan awan yang lembut dan setia. Pemimpin mereka bernama Rinai, awan tua berwarna kelabu...

Read moreDetails

Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

by Jaswanto
February 8, 2026
0
Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

SEKAR masih menangis ketakutan dengan badan kuyup. Badai telah reda. Tapi Kakek dan orang-orang desa tak kunjung kelihatan. Di ujung...

Read moreDetails

Adik dan Katak | Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
January 18, 2026
0
Adik dan Katak | Dongeng Lingkungan

DI sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah hijau dan sungai yang jernih, hiduplah seorang anak lelaki bernama Adik. Ia dikenal...

Read moreDetails

Jalak Bali dan Beringin Tua | Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
October 12, 2025
0
Jalak Bali dan Beringin Tua | Dongeng Lingkungan

DI sebuah desa kecil bernama Desa Kerta Harum, berdiri sebuah beringin raksasa berusia ratusan tahun di pinggir jalan dekat Pura...

Read moreDetails

Bob & Ciko | Dongeng Masa Kini

by Pitrus Puspito
May 11, 2025
0
Bob & Ciko | Dongeng Masa Kini

MENJELANG sore, seekor beruang madu ditangkap oleh para pemburu dan dibawa ke kebun binatang Zoole. Kebun binatang Zoole merupakan tempat...

Read moreDetails

Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 26, 2025
0
Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

DI satu gedung Gereja hiduplah seekor burung yang bahagia. Ia tidur di tempat yang nyaman dan sering keluar bermain dan...

Read moreDetails

Ulat Mengkhianati Pohon Apel  |  Dongeng Pendidikan

by Wayan Purne
January 25, 2025
0
Ulat Mengkhianati Pohon Apel  |  Dongeng Pendidikan

“Tolong-tolong!!! Aku diburu! Diburu! Tolong aku!” teriakan seekor ulat ketakutan. Terlihat seekor ulat menggeliat merayap di antara dedaunan mati yang...

Read moreDetails

Toweli dan Tongkat Saktinya | Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 12, 2025
0
Toweli dan Tongkat Saktinya | Dongeng dari Papua

DI satu kampung yang dikelilingi gunung batu: Gunung Batu Kulbi di timur dan Gunung Batu Wandel di barat dan Gunung...

Read moreDetails
Next Post
Babi Goreng Warunk Dadong Located di Blahkiuh: Tersembunyi dan Dicari Selalu

Babi Goreng Warunk Dadong Located di Blahkiuh: Tersembunyi dan Dicari Selalu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co