23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Adik dan Katak | Dongeng Lingkungan

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
January 18, 2026
in Dongeng
Adik dan Katak | Dongeng Lingkungan

Ilustrasi tatkala.co | Canva

DI sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah hijau dan sungai yang jernih, hiduplah seorang anak lelaki bernama Adik. Ia dikenal sebagai bocah ceria yang selalu penasaran terhadap segala sesuatu. Matanya selalu berbinar setiap kali melihat hal baru, dan langkah kakinya tak pernah pelan karena rasa ingin tahu membuatnya terus berlari dari satu tempat ke tempat lain. Bagi Adik, dunia adalah panggung ajaib yang menunggu untuk dijelajahi.

Suatu pagi, matahari baru naik dan sinarnya memantul dari permukaan air sungai. Adik berjalan sambil membawa ember kecil karena ia ingin mencari batu sungai yang berwarna indah untuk koleksinya. Ia sudah punya banyak batu berwarna cokelat, abu-abu, bahkan putih susu, tetapi ia selalu berharap menemukan batu yang lebih istimewa. Setibanya di tepi sungai, ia menyingkirkan rumput liar dengan hati hati agar tidak menginjak serangga yang berkeliaran.

Ia berjongkok dan mulai meraba air. Sungai itu tidak terlalu dalam dan arusnya lembut. Suaranya menenangkan seolah mengajak Adik untuk duduk dan mendengarkan. Namun ia tetap sibuk mencari batu. Ia memungut satu batu kehitaman, lalu satu batu kecokelatan, dan beberapa batu lain yang tampak menarik. Ketika ia hendak mengambil batu berwarna hijau lumut, terdengar suara kecil dari dekat kakinya.

Krook.

Adik menoleh ke arah suara itu. Di ujung air yang dangkal, ada seekor katak kecil berwarna hijau terang dengan bercak keemasan di punggungnya. Katak itu menatap Adik tanpa takut. Matanya yang bundar tampak bersinar seperti sedang mengamati manusia untuk pertama kalinya.

“Halo kecil, kamu sendirian di sini?” kata Adik dengan suara pelan.

Katak itu tidak menjawab. Tentu saja, binatang tidak bisa berbicara. Namun Adik merasa seolah katak itu ingin menyampaikan sesuatu. Katak itu melompat mendekatinya lalu berhenti tepat di depan kaki Adik. Seolah ia ingin mengajak anak itu mengikuti suatu permainan yang hanya diketahui oleh hewan kecil di tepi sungai.

“Kamu lucu sekali. Mau jadi temanku?”ucap Adik tersenyum.

Katak itu mengedipkan mata. Adik menganggap itu sebagai persetujuan. Ia duduk di atas batu besar sementara katak kecil itu berada di depannya. Untuk sesaat mereka hanya saling memandangi, seolah sedang mencoba mengenali satu sama lain.

Tak lama kemudian, angin bertiup membawa aroma rumput basah dan suara dedaunan yang saling bersentuhan. Adik tiba-tiba mendapat ide. Ia ingin mengajak katak itu berpetualang. Namun sebelum ia mengulurkan tangan, katak itu melompat ke arah Semak-semak. Adik segera bangkit dan mengikutinya.

“Tunggu aku, jangan lari terlalu cepat.”

Katak itu tidak berlari. Lompatannya ringan dan teratur, seperti memandu Adik mengikuti jalur tertentu. Jalur itu masuk lebih dalam ke area yang belum pernah Adik jelajahi. Rumput liar semakin tinggi, pohon-pohon semakin rapat, dan suara sungai semakin jauh. Adik sempat ragu apakah ia harus terus mengikuti katak itu. Namun rasa penasarannya lebih besar daripada rasa takutnya.

Akhirnya mereka tiba di sebuah kolam kecil yang tersembunyi di balik rumpun bambu. Airnya sangat jernih dan tenang. Sinar matahari turun seperti cahaya keemasan yang menari di permukaannya. Adik terpesona. Ia tak pernah tahu tempat seindah itu ada begitu dekat dengan desanya.

“Wah, tempat ini luar biasa. Kamu sering ke sini ya?” tanya Adik.

Katak itu mengangguk pelan. Itulah momen ketika sesuatu yang ajaib mulai terjadi. Katak tersebut tiba-tiba melompat ke sebuah batu besar yang berada di tengah kolam. Begitu kakinya menyentuh batu, batu tersebut mengeluarkan cahaya putih yang lembut. Adik terperanjat dan matanya membesar.

“Apa itu. Apa kamu penyihir katak?” tanya Adik kebingungan.

Katak itu tidak berubah bentuk. Ia tetap katak kecil biasa. Namun cahaya yang muncul dari batu itu semakin terang dan menyebar ke seluruh permukaan kolam. Air kolam berkilau seperti lembar kaca yang dipenuhi bintang-bintang kecil. Adik melangkah mendekat dengan hati-hati. Ia merasa hangat dan tenang, seolah cahaya itu menghapus semua ketakutannya.

Perlahan dari dalam air muncul sosok bayangan seperti pelangi. Bayangan itu membentuk wujud burung besar yang terbuat dari cahaya. Burung itu mengepakkan sayapnya meskipun tidak benar-benar terbang. Cahaya yang terpancar dari sayapnya membuat seluruh tempat itu tampak seperti dunia lain.

Burung itu menatap Adik dan berbicara dengan suara yang dalam namun lembut.

“Anak kecil. Engkau datang bersama sang Penuntun Hijau. Jarang ada manusia yang cukup peka untuk mengikuti panggilannya,” ucap sang Burung Cahaya.

Adik terdiam. Ia tidak percaya sedang berbicara dengan makhluk bercahaya.

“Penuntun Hijau?” sahut Adik sembari menoleh katak kecil itu.

“Benar. Ia adalah penjaga kolam ini. Ia mencari jiwa-jiwa berbudi baik yang mampu melihat lebih dari sekadar permukaan. Dan engkau telah membuktikan hatimu cukup bersih untuk mengikuti langkahnya tanpa rasa tamak maupun takut,” kata Burung Cahaya.

Adik tidak tahu apa yang harus dikatakan. Ia hanya mengangguk sambil mencoba menelan rasa takjubnya.

Burung Cahaya melanjutkan, “Setiap beberapa musim, kolam ini harus dipulihkan. Alam membutuhkan penolong yang mau membantu dengan tulus. Bila engkau bersedia, aku akan memintamu melakukan satu tugas.”

Adik terkejut. Tapi ia merasa ini kesempatan istimewa. “Apa yang harus kulakukan?”

Burung Cahaya mengangkat kepalanya ke arah pohon bambu.

“Di balik pohon itu ada sebuah sumur tua. Di dalamnya terdapat batu bening yang dulunya mengalirkan cahaya bagi kolam ini. Namun batu itu hilang sinarnya setelah manusia yang serakah mengambil sebagian kecil permukaannya. Engkau harus menyentuh batu itu dan memberikan niat baikmu. Niat baik manusia yang murni bisa membangkitkan kembali cahaya alam yang hilang,” jelasnya.

“Aku akan melakukannya,” sahut Adik sembari mengangguk.

Katak kecil itu melompat ke arah jalan setapak di samping kolam. Adik mengikutinya. Mereka berjalan melewati rumpun bambu hingga menemukan sumur tua yang hampir tertutup lumut. Di dalamnya, sebuah batu bening tergeletak dalam kegelapan.

Adik menunduk dan berbisik, “Apa aku harus turun?”

Katak itu mengangguk. Adik memanjat hati-hati masuk ke dalam sumur. Lantai sumur lembap, namun tidak berbahaya. Batu bening itu tampak kusam seperti kaca buram yang kehilangan kilau. Adik mengulurkan tangannya dan menyentuh batu itu.

Ia memejamkan mata dan mengingat hal-hal baik yang pernah ia lakukan. Ia mengingat saat menolong ibunya membawa air, saat mengantar nenek-nenek menyeberang jalan, dan saat membagi roti kepada teman-temannya yang tidak membawa bekal. Hatinya terasa hangat. Perlahan batu itu bergetar lembut dan mulai memancarkan cahaya.

Cahaya itu mengisi seluruh sumur, lalu mengalir keluar menuju kolam. Adik segera memanjat keluar. Sesampainya di tepi, ia tertegun melihat kolam itu kini bersinar lebih terang daripada sebelumnya. Burung Cahaya mengepakkan sayapnya dengan penuh rasa syukur.

“Engkau telah mengembalikan keseimbangan di tempat ini. Kolam ini akan terus memberikan kesegaran bagi alam di sekitarnya. Terima kasih, Adik,” kata Burung Cahaya dengan suara lembut.

Katak kecil itu melompat ke bahu Adik dan menggesekkan kepalanya dengan manja. Adik tertawa pelan.

“Terima kasih juga karena sudah mengajakku,” kata Adik sambil mengelus kepala katak itu.

Burung Cahaya itu perlahan memudar, kembali menjadi bayang-bayang yang tenggelam dalam air. Cahaya kolam meredup menjadi warna lembut seperti sinar sore yang hangat. Suasana kembali tenang.

Adik menatap katak kecil itu. “Jadi kamu Penuntun Hijau? Kamu hebat sekali.”

Katak kecil itu menatap Adik dengan mata bulatnya, seolah berkata bahwa mereka kini terikat oleh persahabatan yang tidak biasa. Setelah itu, katak itu melompat kembali ke kolam dan menghilang di antara teratai.

Adik berdiri di sana beberapa saat, menikmati keindahan tempat itu sebelum akhirnya kembali ke desa. Ia tahu bahwa hari itu ia telah mengalami sesuatu yang tidak dapat diceritakan sembarangan. Tetapi di hatinya, ia merasa lebih berani, lebih bijak, dan lebih bersyukur kepada alam.

Sejak hari itu, Adik sering kembali ke sungai dengan ember kecilnya. Namun bukan untuk mencari batu indah lagi. Ia datang untuk menjaga tempat itu tetap bersih. Kadang kadang ia melihat katak kecil itu muncul sebentar, seolah memastikan sang anak masih menjadi penjaga kecil yang baik.

Dan setiap kali melihat katak itu, Adik selalu tersenyum. Karena ia tahu, persahabatan sejati tidak membutuhkan kata-kata. Cukup hati yang tulus, dan alam akan membalas dengan keajaiban. [T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: dongeng
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Capres Tanpa Kepala | Cerpen Depri  Ajopan

Next Post

Desa Kemenuh dalam Catatan Prasasti Bali Kuno

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Takut Galungan

by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
0
Takut Galungan

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan...

Read moreDetails

Radio Tua Kakek Panjul

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Radio Tua Kakek Panjul

PAGI di Desa Muncuk Sari selalu datang dengan cara yang sama. Perlahan, lembut, seperti tangan yang membelai tanpa suara. Kabut...

Read moreDetails

Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
February 27, 2026
0
Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

DI langit biru yang luas, hiduplah kawanan awan yang lembut dan setia. Pemimpin mereka bernama Rinai, awan tua berwarna kelabu...

Read moreDetails

Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

by Jaswanto
February 8, 2026
0
Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

SEKAR masih menangis ketakutan dengan badan kuyup. Badai telah reda. Tapi Kakek dan orang-orang desa tak kunjung kelihatan. Di ujung...

Read moreDetails

Jalak Bali dan Beringin Tua | Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
October 12, 2025
0
Jalak Bali dan Beringin Tua | Dongeng Lingkungan

DI sebuah desa kecil bernama Desa Kerta Harum, berdiri sebuah beringin raksasa berusia ratusan tahun di pinggir jalan dekat Pura...

Read moreDetails

Bob & Ciko | Dongeng Masa Kini

by Pitrus Puspito
May 11, 2025
0
Bob & Ciko | Dongeng Masa Kini

MENJELANG sore, seekor beruang madu ditangkap oleh para pemburu dan dibawa ke kebun binatang Zoole. Kebun binatang Zoole merupakan tempat...

Read moreDetails

Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 26, 2025
0
Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

DI satu gedung Gereja hiduplah seekor burung yang bahagia. Ia tidur di tempat yang nyaman dan sering keluar bermain dan...

Read moreDetails

Ulat Mengkhianati Pohon Apel  |  Dongeng Pendidikan

by Wayan Purne
January 25, 2025
0
Ulat Mengkhianati Pohon Apel  |  Dongeng Pendidikan

“Tolong-tolong!!! Aku diburu! Diburu! Tolong aku!” teriakan seekor ulat ketakutan. Terlihat seekor ulat menggeliat merayap di antara dedaunan mati yang...

Read moreDetails

Toweli dan Tongkat Saktinya | Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 12, 2025
0
Toweli dan Tongkat Saktinya | Dongeng dari Papua

DI satu kampung yang dikelilingi gunung batu: Gunung Batu Kulbi di timur dan Gunung Batu Wandel di barat dan Gunung...

Read moreDetails

Kuda Laut Jatuh Cinta | Dongeng Pendidikan

by Wayan Purne
January 11, 2025
0
Kuda Laut Jatuh Cinta | Dongeng Pendidikan

LAUT menyambut senyum mentari pagi. Taman terumbu karang mengiringi nyanyian riang canda tawa ikan-ikan. Ada ikan warna-warni bermain petak umpet...

Read moreDetails
Next Post
Desa Kemenuh dalam Catatan Prasasti Bali Kuno

Desa Kemenuh dalam Catatan Prasasti Bali Kuno

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co