2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bob & Ciko | Dongeng Masa Kini

Pitrus Puspito by Pitrus Puspito
May 11, 2025
in Dongeng
Bob & Ciko | Dongeng Masa Kini

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

MENJELANG sore, seekor beruang madu ditangkap oleh para pemburu dan dibawa ke kebun binatang Zoole. Kebun binatang Zoole merupakan tempat yang sangat luas tetapi sepi. Letaknya jauh dari kota, yakni di pinggiran sungai yang deras arusnya.

Beruang bernama Bob itu adalah seekor beruang tua bertubuh besar dan berwarna cokelat kehitaman. Di rimba besar, Bob Tua terkenal sebagai sosok periang dan humoris. Namun keceriaannya sirna sejak sore itu. Rasa takut dan cemas terlihat pada wajah Bob.

Bob Tua dimasukan ke dalam ruangan yang luas tanpa jendela. Hanya sedikit cahaya lampu yang masuk melalui pintu yang berjeruji. Menjelang malam, udara dingin menerpa tubuh Bob.

Keheningan menyelimuti ruangan itu. Untuk pertama kalinya Bob Tua menitikkan air matanya. Hampir sepanjang malam Bob Tua bersedih dan mencemaskan keadaannya saat ini.

Sambil menahan rasa lapar dan dingin Bob Tua mulai rindu dengan para sahabatnya: sepasang harimau yang bijaksana, keluarga berang-berang penunggu sungai, keluarga tupai dan para burung nuri yang selalu bernyanyi.

Waktu menjelang fajar, Bob dikejutkan dengan derap sepatu yang berteplak-teplok di atas lantai. Sosok tinggi besar berhenti di depan pintunya. Dengan perasaan takut, Bob Tua melirik lelaki besar itu yang dikawal seekor anjing Doberman besar.

“Waktunya sarapan beruang tua! Sebelum nanti Ciko akan mengajakmu melihat-lihat rumah barumu,” kata lelaki itu sambil menyodorkan sebuah nampan berisi penuh makanan.

Ketika si lelaki besar pergi dengan anjingnya, Bob menghampiri makanan itu. Ia terkejut dengan apa yang dilihatnya, sepotong roti besar dengan selai blueberry yang meluber di atasnya, dua telur goreng, sebutir apel dan pisang. Ada juga satu kendi berisi air dan madu dalam wadah kaleng yang telah dibuka. Bob yang lapar, menghabiskan semua hidangan itu.

Pintu kamar Bob terbuka, seekor anjing yang tadi bersama lelaki besar masuk ke kamar Bob.

“Mari Pak kita keluar! Kita akan mengelilingi tempat ajaib ini,” ajak anjing itu dengan sopan dan ramah. “Namaku Ciko, Pak. Aku yang menjaga tempat ini.”

Bob Tua semula ragu. Tetapi dengan insting binatang dan pengalaman yang dimilikinya, Bob dapat menilai bahwa Ciko memang tulus dan baik hati. “Namaku Bob,” jawab Bob sambil menjabat tangan Ciko.

Bob Tua dan Ciko berjalan menuju pintu belakang yang terbuka. Ciko meskipun sosok binatang yang besar dan kuat, usianya masih muda. Ciko ialah anjing penjaga yang baik dan setia, namun sedikit sekali pengalamannya di alam bebas.

Bob takjub ketika melihat halaman di belakang. Sebuah padang rumput yang luas dengan pohon-pohon besar yang ditanam teratur di sela-sela rumput yang hijau. Sejauh mata memandang Bob tidak dapat menebak ujung dari halaman ini. Di tangah padang rumput itu ada dilewati sungai yang jernih airnya.

“Tempat apa ini?” tanya Bob yang masih takjub dengan apa yang dilihatnya.

“Ini rumah baru Anda, Pak.” jawab Ciko. “Di sinilah semua binatang yang tua dan terluka tinggal dengan nyaman.” Ciko lalu menceritakan sejarah Kebun Binatang Zoole itu kepada Bob secara runtut.

Tempat itu dikelola oleh Tuan Wisnu tua bersama anak lelakinya bernama Bayu. Bayu adalah lelaki tinggi besar yang membawa nampan berisi makanan tadi. Bayu adalah lelaki pencinta binatang, sehingga ia membangun rumah paling nyaman bagi para binatang yang rentan.

Bob Tua dan Ciko berjalan terus sambil bercakap-cakap tentang segala hal yang menarik perhatian. Bob yang berpengalaman dan humoris, dengan mudah akrab terhadap Ciko dan penghuni Kebun Binatang Zoole lainnya.

Semua binatang sangat bergembira menikmati suasana pagi. Di bawah pohon cemara, seekor orangutan menikmati sarapannya. Di sebelah kiri, dekat semak-semak sekelompok kelinci berlarian dengan lincah. Di tanah berbukit seekor rubah menyalak dengan gembira.

Burung puyuh berceloteh di samping sungai. Merpati liar dan burung bangau mencari makan di bebatuan yang lembab di antara kepiting. Rusa dan musang kadang muncul untuk minum.

Ketika melintasi kolam kecil, Ciko menyapa seekor gajah tua yang sedang mandi. “Selamat pagi, Pak Gajah!”

“Hai anak muda. Pagi yang indah bukan? Siapakah teman barumu ini?” jawab sang gajah tua.

“Saya Bob, Pak. Senang bertemu dengan Anda,” jawab Bob dengan ramah.

“Anggota keluarga baru bukan?” tanya Sang Gajah Tua.

“Benar Pak.” Kini Ciko yang menjawab pertanyaan itu.

“Sudah berapa lama Anda tinggal di sini, Pak?”, Tiba-tiba Bob bertanya kepada gajah.

“Hampir seluruh hidupku kuhabiskan di tempat yang damai ini. Akulah satu-satunya gajah jantan yang selamat dari perburuan gading oleh bangsa manusia. Itu terjadi puluhan tahun lalu.”

Sang gajah tua menceritakan kisah hidupnya dan bangsa gajah yang terancam punah.

“Kau hebat, Pak Bob.” Sang gajah memuji Bob Tua. “Kau datang kemarin sore, dan cepat beradaptasi. Aku dulu butuh berbulan-bulan untuk dapat menerima tempat ini, karenanya aku selalu dikurung di tempat tidurmu tadi malam.”

“Aku semalaman tidak tidur, Pak. Takut dan cemas sebelum aku bertemu dengan anak muda baik ini.”

Mereka bertiga tertawa hingga semua binatang yang melihat mereka, ikut tersenyum.

“Nanti malam kau bebas tidur di mana kau suka Pak,” kata Ciko kepada Bob.

“Iya benar. Ini adalah rumah kita. Sedangkan anak muda tangguh ini yang akan selalu menjaga tidur kita,” kata sang gajah tua sambil menepuk bahu Ciko dengan belalainya.

“Sampai jumpa lagi saat makan siang, Pak.” Ciko pamit kepada Sang Gajah, kemudian meneruskan perjalanan bersama Bob.

Bob dan Ciko kini berada di jembatan. Melihat para angsa dan itik berenang bersama anak-anak mereka. Ikan-ikan terlihat berenang dan sesekali timbul ke permukaan. Para kodok berkedip-kedip di pinggiran sungai dan sebagian masih tertidur di balik tanaman pakis.

Bob menceritakan semua pengalamannya hidup di Rimba Besar. Ia juga bercerita kepada Ciko bahwa kadangkala ada beberapa binatang yang berkelahi, berebut makanan dan tempat tinggal.

Tidak semua bangsa binatang yang tinggal di rimba besar selalu rukun seperti di Kebun Binatang Zoole ini. Ciko menyimak setiap pengalaman berharga dari Bob Tua, sebab ia sejak kecil besar di Kebun Binatang Zoole ini.

Di Kebun Binatang Zoole ini, Ciko tumbuh menjadi anjing yang pemberani. Ia sangat mencintai semua binatang yang tinggal di sini termasuk Tuan Bayu yang selalu baik padanya.

Ketika Ciko bercerita tentang masa-masa yang dihabiskan di Kebun Binatang Zoole, Bob Tua menyadari bahwa tidak semua manusia jahat. Selama ini Bob dan para penghuni Rimba Besar hanya tahu bahwa manusia selalu menyiksa dan melukai bangsa binatang dengan senapannya.

Bob yang seumur hidupnya berpetualang di Rimba Besar, kini ia merasa tenang untuk menghabiskan masa tuanya di Kebun Binatang Zoole. Akhirnya Ciko menjadi sahabat sejati Bob Tua yang jenaka di kebun binatang itu. [T]

Penulis: Teddy Koll
Editor: Adnyana Ole

  • KLIK untuk BACA dongeng lainnya
Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua
Toweli dan Tongkat Saktinya | Dongeng dari Papua
Capung dan Daun Teratai | Dongeng dari Papua
Rum dan Tongkat Ratu Semut | Dongeng dari Papua
Lukas dan Tuk Kecil yang Baik Hati | Dongeng dari Papua
Dongeng | Anak Kecil dan Pohon Pemali
Dongeng | Si Jangkrik Kalung yang Terlalu Percaya Diri
Aya, Seekor Anak Buaya Tak Lagi Makan Daging
Tags: dongeng
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Krisis Literasi di Buleleng: Mengapa Ratusan Siswa SMP Tak Bisa Membaca?

Next Post

Ambulan dan Obor Api | Cerpen Sonhaji Abdullah

Pitrus Puspito

Pitrus Puspito

Guru bahasa Indonesia dan peneliti bidang bahasa dan sastra Indonesia. Ia menempuh pendidikan terakhir di Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta (2020-2023). Selain menulis puisi dan cerita anak, ia juga menulis esai dan artikel ilmiah. Buku yang telah terbit yakni kumpulan puisi berjudul Yang Hilang (2018) dan Menyayangi Ingatan (2019) yang diterbitkan oleh Bening Pustaka. Instagram: @pitruspiet

Related Posts

Takut Galungan

by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
0
Takut Galungan

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan...

Read moreDetails

Radio Tua Kakek Panjul

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Radio Tua Kakek Panjul

PAGI di Desa Muncuk Sari selalu datang dengan cara yang sama. Perlahan, lembut, seperti tangan yang membelai tanpa suara. Kabut...

Read moreDetails

Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
February 27, 2026
0
Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

DI langit biru yang luas, hiduplah kawanan awan yang lembut dan setia. Pemimpin mereka bernama Rinai, awan tua berwarna kelabu...

Read moreDetails

Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

by Jaswanto
February 8, 2026
0
Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

SEKAR masih menangis ketakutan dengan badan kuyup. Badai telah reda. Tapi Kakek dan orang-orang desa tak kunjung kelihatan. Di ujung...

Read moreDetails

Adik dan Katak | Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
January 18, 2026
0
Adik dan Katak | Dongeng Lingkungan

DI sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah hijau dan sungai yang jernih, hiduplah seorang anak lelaki bernama Adik. Ia dikenal...

Read moreDetails

Jalak Bali dan Beringin Tua | Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
October 12, 2025
0
Jalak Bali dan Beringin Tua | Dongeng Lingkungan

DI sebuah desa kecil bernama Desa Kerta Harum, berdiri sebuah beringin raksasa berusia ratusan tahun di pinggir jalan dekat Pura...

Read moreDetails

Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 26, 2025
0
Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

DI satu gedung Gereja hiduplah seekor burung yang bahagia. Ia tidur di tempat yang nyaman dan sering keluar bermain dan...

Read moreDetails

Ulat Mengkhianati Pohon Apel  |  Dongeng Pendidikan

by Wayan Purne
January 25, 2025
0
Ulat Mengkhianati Pohon Apel  |  Dongeng Pendidikan

“Tolong-tolong!!! Aku diburu! Diburu! Tolong aku!” teriakan seekor ulat ketakutan. Terlihat seekor ulat menggeliat merayap di antara dedaunan mati yang...

Read moreDetails

Toweli dan Tongkat Saktinya | Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 12, 2025
0
Toweli dan Tongkat Saktinya | Dongeng dari Papua

DI satu kampung yang dikelilingi gunung batu: Gunung Batu Kulbi di timur dan Gunung Batu Wandel di barat dan Gunung...

Read moreDetails

Kuda Laut Jatuh Cinta | Dongeng Pendidikan

by Wayan Purne
January 11, 2025
0
Kuda Laut Jatuh Cinta | Dongeng Pendidikan

LAUT menyambut senyum mentari pagi. Taman terumbu karang mengiringi nyanyian riang canda tawa ikan-ikan. Ada ikan warna-warni bermain petak umpet...

Read moreDetails
Next Post
Ambulan dan Obor Api  |  Cerpen Sonhaji Abdullah

Ambulan dan Obor Api | Cerpen Sonhaji Abdullah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co