2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Aya, Seekor Anak Buaya Tak Lagi Makan Daging

Wayan Purne by Wayan Purne
April 16, 2023
in Dongeng
Perjanjian Pohon Kopi dengan Semut Hitam

Ilustrasi tatkala.co | Putik Padi

SEEKOR ANAK BUAYA tertidur lelap. Ia terlihat lucu, meringkuk di pinggir danau, di antara pohon-pohon besar yang rindang.

“Lihat, Bu! Anak kita masih tertidur pulas walaupun cahaya matahari pagi sudah menyinari kepalanya,” ucap ayah buaya.

“Sudah, Yah, Jangan bangunkan Aya! Ayo kita siapkan sarapan untuk anak kita!” ucap ibu buaya.

Ayah buaya pergi menyelam ke dalam danau memburu ikan. Ayah buaya sudah satu minggu tidak dapat memburu rusa atau anak sapi. Dalam perburuan di dalam lautan itu, Ayah buaya pulang membawa tiga ekor ikan.

“Bu, ini tiga ekor ikan! Ayo kita panggang!” ucap ayah buaya.

Ibu buaya memanggang ketiga ikan itu. Bau asap ikan bakar mulai berputar-putar mengelilingi Aya yang masih terlelap tidur.

“Yah, bersihkan ikan yang sudah matang ini! Ambil daging-dagingnya saja! Jangan sampai ada tulangnya! Anak kita masih kecil belum bisa makan tulang,” pinta ibu buaya.

Ayah buaya membersihkan tulang-tulang ikan bakar itu dan hanya menyisakan daging-dagingnya saja.

“Bu, daging-daging ikan bakar ini sudah bersih dari tulang-tulangnya. Tulang-tulang ikan ini kita makan dulu sebagai sarapan,” ucap ayah buaya.

Daging ikan bakar sudah siap untuk sarapan Aya, si anak buaya yang lucu.

“Nak, ayo kita sarapan!”  Ayah buaya membangunkan anaknya.

Aya bangun mendekati ibunya.

“Ma, sarapan apa hari ini?” tanya Aya

“Hari ini, Aya sarapan daging ikan,” jawab ibu buaya.

Aya bengong. Ia seperti berpikir keras. “Ikan? Bagaimana bentuknya? Aku selalu makan daging tapi tidak tahu siapa dia?” kata Aya dalam hati Aya memandangi ikan bakar yang hanya ada daging-daging putihnya.

“Mengapa melamun? Ayo makan sarapanmu!” tegur Ayah buaya mengagetkan Aya dari lamunanya.

Aya menyantap sarapan daging ikannya. Aya merasakan daging ikan yang lembut di mulutnya, tetapi dalam perasaanya ada rasa sedih.

“Mengapa aku merasakan kesedihan ini setiap makan daging?” pikir Aya tetap mengunyah makanannya.

“Kenapa Aya? Aya terlihat sedih. Sarapannya tak enak ya?” tanya ibu buaya.

“Tidak, Bu. Sarapan ini enak dan lembut di mulut,” jawab Aya menyembunyikan kesedihanya.

“Tapi, kenapa Aya telihat sedih?” tanya ayah buaya memandangi Aya.

Aya memberanikan diri mengungkapkan perasaanya,”Yah, setiap aku makan daging selalu merasa sedih. Tapi, aku tidak tahu penyebabnya.”

Ayah dan ibu buaya terdiam saling pandang karena terkejut dengan perkataan anaknya.

“Tidak apa-apa, Nak. Mungkin itu hanya bayangan dalam pikiranmu. Kita dilahirkan memang harus makan daging. Kita tidak akan hidup jika tidak makan daging,” ucap ayah buaya.

“Oh, begitu, Yah. Mungkin itu hanya pikiranku,” ucap Aya

Aya menyelesaikan sarapannya dan melupakan sedihnya.  

“Yah, aku mau main di sekitar danau.” ucap Aya.

“Ya, Aya! Tapi Aya jangan masuk ke tengah hutan! Kalau ada bahaya, Aya belum bisa melindungi diri karena masih kecil,” ucap ayah buaya.

Aya mengangguk mendengarkan permintaan ayahnya. Aya pergi meninggalkan ayah dan ibunya. Aya berenang dan menyusuri pinggiran danau. Aya belum menemukan apa-apa. Tetapi, Aya menjadi penasaran dengan keadaan di dalam hutan karena perkataan ayahnya.

“Kenapa aku tidak masuk ke dalam hutan saja? Siapa tahu aku mendapat teman baru? Aku sudah bosan harus bermain sendiri,” pikir Aya.

Aya keluar dari dalam danau. Aya merangkak melewati rerumputan menuju ke dalam hutan. Dari kejauhan, Aya mendengar keramaian canda tawa yang sedang bermain. Aya mendekatan keramaian itu.

“Hari ini, aku beruntung akan bertemu teman baru,” gumam Aya senang.

Aya semakin mendekat. Sedangkan dalam keramaian itu, ada anak kelinci, anak sapi, anak rusa, dan anak monyet asyik bercanda ria, tetapi mereka belum menyadari kedatangan Aya.

“Hai, boleh aku ikut main?” ucap Aya.

Seketika anak kelinci, anak sapi, anak rusa, dan anak monyet terdiam menoleh ke arah Aya. Mereka terkejut melihat seekor anak buaya mendekat.

“Lariiiiiiiiiiiii! Nanti kamu dimakan oleh buaya itu,” teriak anak rusa.

Dengan cepat, mereka lari menjauhi Aya dan secepat kilat anak monyet melompat ke atas pohon.

“Tunggu! Aku hanya ingin berteman dan bermain dengan kalian,” ucap Aya.

Anak rusa dan teman-temannya sudah lari jauh ketakutan, tetapi si anak monyet masih memperhatikan Aya dari atas pohon dengan menahan rasa takutnya.

“Mengapa mereka sangat ketakutan ketika melihatku? Apa aku menakutkan?” ucap Aya berbicara dengan dirinya sediri.

“Jelas takut denganmu. Kamu kan anak buaya dari danau sebelah hutan ini kan?” ucap anak monyet dari atas pohon.

Aya kaget mendengar perkataan itu dari atas pohon. Aya mendongak ke atas dan melihat anak monyet yang berpegangan erat di ranting pohon.

“Kenapa takut denganku?” tanya Aya bingung.

“Seminggu yang lalu, ada kakak dari anak rusa yang dimangsa oleh si buaya besar ketika sedang minum di danau itu. Makanya, kami tidak diperbolehkan bermain atau minun di danau itu,” jawab anak monyet.

“Itu tidak mungkin terjadi,” ucap Aya tidak percaya.

“Jika kamu tidak percaya, coba pikirkan daging yang kamu makan! Pasti daging yang kamu makan adalah daging yang ada di antara kami,” ucap anak monyet.

Si anak monyet pergi melompat-lompat dari satu pohon ke pohon yang lain meninggalkan Aya sendirian. Aya terkejut mendengar perkataan itu.

“Oh, aku ingat sekarang. Kenapa aku selalu merasa sedih ketika makan daging. Jadi ini penyebabnya,” ucap Aya pada dirinya sendiri.

Dalam perasaan sedih, Aya pulang ke danau.

“Mulai hari ini, aku tidak akan makan daging lagi,” ucap Aya berjanji pada dirinya sendiri.

Sedangkan di pinggiran danau, ayah dan ibu buaya sedang bersembunyi menunggu mangsa datang.

“Bu, ini sudah siang, tapi tidak ada satu pun mangsa datang. Rusa tak datang lagi, atau anak sapi. Apa kita makan ikan lagi siang ini,” ucap ayah buaya.

“Sudah jangan berisik! Sebentar lagi pasti ada yang datang,” jawab ibu buaya.

Mereka berdua masih bersembunyi di dalam danau menunggu mangsa datang.

“Yah, Bu, hari ini, aku tidak mau lagi makan daging. Pokoknya aku tidak mau makan daging,” teriak Aya.

Ayah dan ibu buaya yang masih bersembunyi di dalam danau, dan kaget mendengar perkataan anaknya.

“Lalu, apa yang kita makan, Aya? Kita hanya bisa makan daging,” jawab ayah buaya.

Ibu dan ayah buaya keluar dari persembunyian mendekati Aya.

“Pokoknya aku tidak mau makan daging,” ucap Aya bersikukuh.

Ayah dan ibu buaya merayu Aya agar mau makan daging lagi. Aya tetap dengan pendiriannya tidak mau makan daging. Aya bahkan sepanjang hari menangis dan merengek-rengek agar tidak diberikan makanan daging.

“Yah, apa yang harus kita lakukan? Aya terus menangis dan merengek-rengek. Jika kita biarkan, Aya bisa kelaparan,” ucap ibu buaya.

“Bu, kalau begitu kita cari buah saja di sekitar hutan ini,” jawab ayah buaya.

Ayah dan ibu buaya pergi ke hutan mencari buah. Mereka berdua mendapatkan buah mangga, pisang, dan apel.

“Aya, berhenti merengek! Ini makan buah mangga, pisang, dan apel,” ucap ayah buaya memberikan semua buah-buahan di dapat dari hutan.

“Horeee, aku tidak makan daging lagi, tapi makan buah.” Aya senang mendapatkan buah-buahan.

Ayah dan ibu buaya bengong melihat perubahan Aya yang tidak mau lagi makan daging.

“Yah, Bu! Ayah dan ibu harus ikut makan buah ini! Ayah dan ibu juga tidak boleh lagi makan daging,” pinta Aya.

Ayah dan ibu buaya semakin kaget dengan permintaan anaknya. Tetapi, mereka berdua mengabulkan permintaan Aya anaknya.

“Ah, aku sudah kenyang makan buah ini. Nanti pasti aku bisa berteman dengan mereka yang ada di hutan itu. Mereka pasti tidak takut lagi denganku karena aku tidak lagi makan daging,” pikir Aya kumudian tertidur karena kekenyangan.

Hari-hari berikutnya, ayah dan ibu buaya disibukkan mengumpulkan buah-buahan di hutan. Buah-buahan itu menjadi makanan sehari-hari mereka. [T]

KLIK untuk BACA dongeng lainnya

Pandan Berduri dan Ketajaman Pikiran
Kupa, Seekor Kupu-kupu Pemarah
Kelinci Penakut dan Tikus Pembersih Gigi
Tags: dongengdongeng pendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Love Language: Bukan Pilihan, Tapi Keharusan!

Next Post

Fashion Show Memperkenalkan Kain Tenun dan Endek Buleleng

Wayan Purne

Wayan Purne

Lulusan Undiksha Singaraja. Suka membaca. Kini tinggal di sebuah desa di kawasan Buleleng timur menjadi pendidik di sebuah sekolah yang tak konvensional.

Related Posts

Takut Galungan

by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
0
Takut Galungan

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan...

Read moreDetails

Radio Tua Kakek Panjul

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Radio Tua Kakek Panjul

PAGI di Desa Muncuk Sari selalu datang dengan cara yang sama. Perlahan, lembut, seperti tangan yang membelai tanpa suara. Kabut...

Read moreDetails

Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
February 27, 2026
0
Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

DI langit biru yang luas, hiduplah kawanan awan yang lembut dan setia. Pemimpin mereka bernama Rinai, awan tua berwarna kelabu...

Read moreDetails

Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

by Jaswanto
February 8, 2026
0
Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

SEKAR masih menangis ketakutan dengan badan kuyup. Badai telah reda. Tapi Kakek dan orang-orang desa tak kunjung kelihatan. Di ujung...

Read moreDetails

Adik dan Katak | Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
January 18, 2026
0
Adik dan Katak | Dongeng Lingkungan

DI sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah hijau dan sungai yang jernih, hiduplah seorang anak lelaki bernama Adik. Ia dikenal...

Read moreDetails

Jalak Bali dan Beringin Tua | Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
October 12, 2025
0
Jalak Bali dan Beringin Tua | Dongeng Lingkungan

DI sebuah desa kecil bernama Desa Kerta Harum, berdiri sebuah beringin raksasa berusia ratusan tahun di pinggir jalan dekat Pura...

Read moreDetails

Bob & Ciko | Dongeng Masa Kini

by Pitrus Puspito
May 11, 2025
0
Bob & Ciko | Dongeng Masa Kini

MENJELANG sore, seekor beruang madu ditangkap oleh para pemburu dan dibawa ke kebun binatang Zoole. Kebun binatang Zoole merupakan tempat...

Read moreDetails

Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 26, 2025
0
Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

DI satu gedung Gereja hiduplah seekor burung yang bahagia. Ia tidur di tempat yang nyaman dan sering keluar bermain dan...

Read moreDetails

Ulat Mengkhianati Pohon Apel  |  Dongeng Pendidikan

by Wayan Purne
January 25, 2025
0
Ulat Mengkhianati Pohon Apel  |  Dongeng Pendidikan

“Tolong-tolong!!! Aku diburu! Diburu! Tolong aku!” teriakan seekor ulat ketakutan. Terlihat seekor ulat menggeliat merayap di antara dedaunan mati yang...

Read moreDetails

Toweli dan Tongkat Saktinya | Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 12, 2025
0
Toweli dan Tongkat Saktinya | Dongeng dari Papua

DI satu kampung yang dikelilingi gunung batu: Gunung Batu Kulbi di timur dan Gunung Batu Wandel di barat dan Gunung...

Read moreDetails
Next Post
Fashion Show Memperkenalkan Kain Tenun dan Endek Buleleng

Fashion Show Memperkenalkan Kain Tenun dan Endek Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co