24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ulat Mengkhianati Pohon Apel  |  Dongeng Pendidikan

Wayan Purne by Wayan Purne
January 25, 2025
in Dongeng
Ulat Mengkhianati Pohon Apel  |  Dongeng Pendidikan

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

“Tolong-tolong!!! Aku diburu! Diburu! Tolong aku!” teriakan seekor ulat ketakutan.

Terlihat seekor ulat menggeliat merayap di antara dedaunan mati yang berguguran dari pohon apel. Ulat itu histeris teriak-teriak di bawah pohon apel.

“Hei Ulat. Mengapa kamu ribut-ribut di sini? Mengganggu tidurku saja,” tegur Pohon Apel.

Terlihat pohon apel yang rindang dengan buah-buahnya yang mulai ada yang masak. Akarnya yang kokoh mencengkeram tanah subur coklat kehitaman. Daun-daun hijau melambai-lambai memanggil angin agar menjatuhkan beberapa daunnya yang telah ada yang mati dan digantikan oleh daun-daun baru yang tumbuh di ranting-rantingnya.

“Aku diburu. Tolong aku!” jawab Ulat menggigil ketakutan.

“Mana ada burung? Di sini belum ada burung yang hinggap di rantingku ini selama seminggu ini,” ucap Pohon Apel.

“Tadi ada burung. Temanku sudah ada jadi santapan burung pemburu itu,” jawab Ulat bersembunyi di balik daun-daun kering.

“Tidak ada burung. Burung-burung mendatangiku ketika buah-buahku ini sudah matang sempurna. Burung yang mendatangiku hanya suka makan buah,” ucap Pohon Apel.

“Ah, aku takut. Ketika aku keluar, sudah jadi santapan burung pemburu,” jawab Ulat ketakutan.

“Jika masih belum percaya, naik saja kamu ke tubuhku yang besar ini! Aku akan melindungimu. Kamu akan aman berada di tubuhku ini,” kata Pohon Apel meyakinkan Ulat.

Masih merasakan sedikit ragu, Ulat bergegas merayap menuju ke batang Pohon Apel itu. Ulat dengan daya kemampuannya mempercepat langkahnya. Ia merayap naik ke batang Pohon Apel.

“Itu kan! Kamu sampai dengan aman. Tak ada burung yang menyergapmu,” ucap Pohon Apel.

“Untung ada kamu. Aku tidak jadi santapan burung pemburu itu,” jawab Ulat melepaskan rasa takutnya.

“Dasar penakut. Sini naik ke dahanku!” pinta Pohon Apel.

Ulat merayap ke atas dahan Pohon Apel. Ia tidur telentang di atas dahan Pohon Apel.

“Tidurlah kamu, Ulat! Kamu aman berada di atas batang dahanku,” ucap Pohon Apel.

Ulat tidak mendengar ucapan Pohon Apel. Ia tertidur lelap karena lelah melarikan diri dari burung pemburu. Pohon Apel ikut tidur terlelap melepas lelah sepanjang hari mendengar teriakan Ulat yang ketakutan.

“Hari ini aku bisa hidup tenang tanpa diburu oleh burung-burung itu,” ucap Ulat.

“Enak istirahatmu, Ulat? Nyaman kan?” sapa Pohon Apel.

“Heeee, Apel. Terimakasih telah melindungiku,” jawab Ulat.

Ulat dan Pohon Apel ceria menyambut hari yang cerah.

“Eh Apel, aku lapar. Ada yang bisa aku makan? Aku suka makan daun-daun yang hijau muda,” kata Ulat memperhatikan daun-daun rindang Pohon Apel.

“Jangan! Jangan kamu makan daun-daunku yang masih muda-muda ini.”

“Kenapa tidak boleh,” tanya Ulat.

“Daun-daun yang ada dalam diriku adalah dapur kelangsungan hidupku,” jawab Pohon Apel.

“Apa yang harus aku makan? Aku belum berani keluar mencari makan. Aku masih takut diburu,” keluh Ulat seakan-akan menuntut Pohon Apel agar mendapatkan perlakuan yang istimewa.

“Makan aja buahku yang akan mulai matang ini. Tapi hati-hati, kamu bisa terbawa oleh burung pemakan buah. Mungkin bisa terbawa oleh kelelawar pada malam hari jika kamu terlalu lama di dalam buah-buahku ini,” kata Pohon Apel.

“Begitu ya! Baiklah, aku akan mencoba buah-buah ini,” jawab Ulat.

Ulat merayap mendekati buah apel yang sudah mulai masak. Ia mencicipi buah itu, “Woww, rasanya sungguh manis.” Ia menggerogoti buah apel yang merah-merah itu.

“Mengapa kamu tidak marah ketika buah-buahmu ini dimakan burung-burung maupun kelelawar?” tanya Ulat yang masih mengunyah buah apel merah itu.

“Mengapa harus marah? Justru merekalah yang membantuku,” jawab Pohon Apel.

“Membantu bagaimana? Bukannya buah-buah ini hasil jerih payahmu?” tanya Ulat yang masih bingung.

“Jika tidak ada burung pemakan buah dan kelelawar, keturunanku tidak akan tersebar ke daerah yang lain. Biji-bijiku akan terbawa oleh mereka sehingga keturunanku bisa tumbuh di daerah lainnya bahkan seluruh dunia.”

“Bagaimana buah-buah yang tidak terbawa oleh mereka?” tanya Ulat menyela perkataan Pohon Apel.

“Buah-buah yang tidak terbawa akan membusuk di tanah dan dimakan oleh cacing sehingga tanah tempatku tumbuh dan hidup bisa subur.”

“Sebentar dulu! Apa hubungan tanah subur dengan buah-buahmu yang melimpah ini?” tanya Ulat gelagapan kebingungan.

“Buah-buahku yang busuk ini dimakan cacing. Cacing itu kemudian membuang kotoran. Kotoran cacing itu membuat tanah-tanah ini tetap subur berwarna coklat kehitaman. Tanah-tanah subur ini banyak mengandung air sehat yang diperlukan untuk kelangsungan hidupku,” jawab Pohon Apel.

“Mengapa kamu perlu air yang sehat? Bukannya kamu sudah punya dapur sendiri di daun?” tanya Ulat.

Pohon Apel terlihat kesal karena terus-menerus ditanya oleh Ulat. “Ulat, aku akan menjelaskan semuanya agar kamu tidak bertanya lagi. Tapi, kamu tidak menyelaku lagi,” ucap Pohon Apel.

“Ya Apel. Aku akan mendengarkanmu sampai selesai,” jawab Ulat.

“Aku memang memiliki dapur di daun. Agar bisa memasak di dapur, aku membutuhkan air sehat dari tanah yang subur dan gas-gas kotor seperti yang dikeluarkan oleh para binatang dan yang lainnya. Kemudian semua bahan itu akan dimasak di daun-daunku yang hijau.”

Ulat sepertinya ingin bertanya lagi, tetapi dia ingat untuk mendengarkan penjelasan Pohon Apel sampai selesai.

“Setelah air sehat dan gas-gas itu sudah siap ada di dapur yaitu di daun, cahaya matahari membantuku memasak semua bahan yang sudah disediakan. Hasil dari proses memasak itu adalah makanan untuk menghidupi diriku sendiri dan tetap bisa tumbuh lebih besar dan kuat. Hasil buangan dari proses memasakku adalah gas-gas kehidupan yang dibutuhkan oleh binatang-binatang di bumi ini termasuk kamu Ulat. Sedangkan masakan yang berlebih, aku simpan dalam bentuk buah dan biji. Biji-bijiku yang berada di dalam daging buah akan tumbuh menjadi pohon apel generasi penerusku,” terang Pohon Apel.

“Oh begitu. Aku mengerti sekarang. Tapi daun-daunmu yang muda-muda ini sepertinya lebih enak daripada buah-buahmu yang merah ini,” ucap Ulat menggoda Pohon Apel.

“Jangan coba-coba kamu makan daun-daunku ini!” Pohon Apel memperingati Ulat.

“Bolehlah aku coba satu atau tiga helai daunmu ini! Daun-daunmu ini begitu banyak, apa gak boleh hanya minta tiga helai aja?” ucap Ulat cengengesan merayu.

Pohon Apel terdiam sejenak memikirkan permintaan Ulat. Ia berpikir bahwa kalau Ulat hanya mencoba satu sampai tiga helai daunnya, kinerja dapurnya tidak akan berpengaruh karena daun-daunnya melimpah di setiap rantingnya.

“Baiklah, Ulat! Kamu boleh mencoba daunku tidak lebih dari tiga helai,” ucap Pohon Apel memperbolehkan.

Ulat merayap keluar dari buah apel. Ia menuju ke helai daun yang masih hijau muda untuk mencoba kenikmatannya.

“Ini sungguh daun yang sangat nikmat. Belum pernah aku menikmati daun yang begitu nikmat seperti daunmu, Apel,” kata Ulat bahagia.

“Ingat janjimu! Jangan sampai rasa rakusmu menghancurkanku. Apalagi, kamu mengundang teman-temanmu,” ucap Pohon Apel memperingati.

“Ini satu helai daun belum habis kumakan. Mana mungkin aku rakus memakan semua daun-daunmu yang banyak ini,” ucap Ulat meyakinkan Pohon Apel.

“Baguslah jika kamu berpegang teguh dengan janjimu. Aku hanya mengingatkanmu jangan pernah membohongiku,” ucap Pohon Apel.

Ulat mengangguk mendengar perkataan Pohon Apel, “Aku tidak akan mengingkari janjiku.” Ia sudah menghabiskan satu helai daun hijau Pohon Apel. Ia melanjutkan merangkak ke daun yang kedua. Ia menikmati daun kedua itu dengan rasa bahagia yang tidak pernah terbayangkan. Daun helai kedua sudah habis, ia melanjutkan daun yang ketiga, “Ohh, daun ini membuatku tidak mau lepas darinya.”

“Ingat, ini sudah daun ketigamu. Kamu harus berhenti! Aku mau tidur istirahat,” ucap Pohon Apel.

“Ya, aku ingat. Aku juga mulai merasa kenyang,” jawab Ulat tetapi mulut tidak berhenti mengunyah.

Pohon Apel percaya kepada Ulat akan menepati janjinya. Ia memejamkan mata menikmati bunga-bunga mimpi tidurnya.

“Waduh, daun ketiga ini sudah habis kumakan. Tapi mulutku ini tidak mau berhenti. Apa aku makan satu daun ini lagi?” gumam Ulat.

Ulat memandangi daun-daun hijau Pohon Apel. Ia menghitung-hitung daun-daun itu di setiap dahan pohon, “Hampir ratusan lebih daun yang ada di setiap dahan ini.” Mulutnya terus tidak ingin berhenti mengunyah sedangkan pikiran Ulat berusaha menentang keinginan perut dan mulutnya. Ia baru menyadari bahwa tubuhnya akan berhenti menuntut makan daun hijau muda ketika tubuhnya sudah siap untuk berubah menjadi kepompong.

“Sepertinya kalau aku makan lagi satu sampai dua puluh helai daun ini tidak akan disadari oleh Pohon Apel. Mengambil sedikit dari ribuan daun-daun ini pasti tidak mempengaruhi kehidupan Pohon Apel,” pikir Ulat yang sudah menyerah dan mengikuti keinginan mulutnya.

Ulat tidak peduli lagi dengan janjinya. Ia merangkak ke daun hijau berikutnya. Ia menggerogoti dan mengunyah dedaunan hijau tanpa henti. Perutnya, terus-menerus menuntut untuk diisi dedaunan hijau. Perut yang semakin besar, ia terus mengunyah tanpa hentinya.

“Aduuuuuuuuuuh! Daun-daunku yang muda-muda ini telah banyak hilang. Ini pasti ulah Ulat yang ternyata serakah,” keluh marah Pohon Apel yang baru bangun dari tidurnya.

“Ulatttttttttt! Dimana kamu sembunyi? Tunjukkan dirimu! Akan kubiarkan kamu dimangsa burung,” teriak Pohon Apel menggetarkan tubuhnya agar Ulat jatuh dari tubuh pohonnya, tetapi hanya daun-daun tua menguning yang jatuh.

Pohon Apel tidak mendapatkan jawaban. Ia tidak merasakan dan mendengar suara Ulat di setiap dahannya.

“Ke mana perginya, Ulat? Aku tidak bisa merasakan geliat tubuhnya, Ulat,” gumam Pohon Apel marah.

Sebelum Pohon Apel terbangun, Ulat sudah kenyang dan tubuhnya gemuk, ”Perutku sudah tidak ingin makan lagi. Ini berarti tubuhku sudah waktunya berubah menjadi kepompong.”

Ulat menempelkan tubuhnya di batang ranting dengan kuat. Ia membungkus tubuhnya menjadi kepompong. Ia melupakan jati dirinya seekor ulat dan kini hanya mengingat dirinya dalam tidur panjang sebagai kepompong.

“Baiklah! Aku akan mengundang burung pemburu membuat sarang di tubuh ranting-rantingku ini. Jika si Ulat datang merasap dan menggeliat di daun-daunku, burung pemburu inilah akan memakannya,” ucap Pohon Apel menggerutu.

Kemarahan Pohon Apel sepanjang hari hanya sia-sia saja. Ia tidak tahu bahwa Ulat sudah menjadi kepompong yang akan menjadi kupu-kupu. Kupu-kupu cantik yang tidak mengingat masa lalunya bahwa ia dulu adalah seekor ulat. [T]

Penulis: Wayan Purne
Editor: Adnyana Ole

  • KLIK untuk BACA dongeng lainnya
Kuda Laut Jatuh Cinta | Dongeng Pendidikan
Capung dan Daun Teratai | Dongeng dari Papua
Rum dan Tongkat Ratu Semut | Dongeng dari Papua
Lukas dan Tuk Kecil yang Baik Hati | Dongeng dari Papua
Dongeng | Anak Kecil dan Pohon Pemali
Dongeng | Si Jangkrik Kalung yang Terlalu Percaya Diri
Aya, Seekor Anak Buaya Tak Lagi Makan Daging
Tags: dongengdongeng pendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Leaaaaakkk | Cerpen Mas Ruscitadewi

Next Post

Film “Teba Modern” dari Yayasan Rumah Berdaya Saraswati: Tentang Langkah Kecil Pengelolaan Sampah

Wayan Purne

Wayan Purne

Lulusan Undiksha Singaraja. Suka membaca. Kini tinggal di sebuah desa di kawasan Buleleng timur menjadi pendidik di sebuah sekolah yang tak konvensional.

Related Posts

Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
February 27, 2026
0
Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

DI langit biru yang luas, hiduplah kawanan awan yang lembut dan setia. Pemimpin mereka bernama Rinai, awan tua berwarna kelabu...

Read moreDetails

Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

by Jaswanto
February 8, 2026
0
Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

SEKAR masih menangis ketakutan dengan badan kuyup. Badai telah reda. Tapi Kakek dan orang-orang desa tak kunjung kelihatan. Di ujung...

Read moreDetails

Adik dan Katak | Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
January 18, 2026
0
Adik dan Katak | Dongeng Lingkungan

DI sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah hijau dan sungai yang jernih, hiduplah seorang anak lelaki bernama Adik. Ia dikenal...

Read moreDetails

Jalak Bali dan Beringin Tua | Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
October 12, 2025
0
Jalak Bali dan Beringin Tua | Dongeng Lingkungan

DI sebuah desa kecil bernama Desa Kerta Harum, berdiri sebuah beringin raksasa berusia ratusan tahun di pinggir jalan dekat Pura...

Read moreDetails

Bob & Ciko | Dongeng Masa Kini

by Pitrus Puspito
May 11, 2025
0
Bob & Ciko | Dongeng Masa Kini

MENJELANG sore, seekor beruang madu ditangkap oleh para pemburu dan dibawa ke kebun binatang Zoole. Kebun binatang Zoole merupakan tempat...

Read moreDetails

Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 26, 2025
0
Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

DI satu gedung Gereja hiduplah seekor burung yang bahagia. Ia tidur di tempat yang nyaman dan sering keluar bermain dan...

Read moreDetails

Toweli dan Tongkat Saktinya | Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 12, 2025
0
Toweli dan Tongkat Saktinya | Dongeng dari Papua

DI satu kampung yang dikelilingi gunung batu: Gunung Batu Kulbi di timur dan Gunung Batu Wandel di barat dan Gunung...

Read moreDetails

Kuda Laut Jatuh Cinta | Dongeng Pendidikan

by Wayan Purne
January 11, 2025
0
Kuda Laut Jatuh Cinta | Dongeng Pendidikan

LAUT menyambut senyum mentari pagi. Taman terumbu karang mengiringi nyanyian riang canda tawa ikan-ikan. Ada ikan warna-warni bermain petak umpet...

Read moreDetails

Capung dan Daun Teratai | Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 5, 2025
0
Capung dan Daun Teratai | Dongeng dari Papua

ADA satu danau  berbentuk hati. Danau itu punya air biru jernih. Di sekitar danau tinggallah seekor capung bersama keluarga serangga:...

Read moreDetails

Rum dan Tongkat Ratu Semut | Dongeng dari Papua

by Gody Usnaat
December 16, 2024
0
Rum dan Tongkat Ratu Semut | Dongeng dari Papua

DAHULU kala, ada seekor tikus tanah bernama Rum. Ia berbulu halus. Ia berkumis tipis. Giginya tajam—ia biasa memotong ranting dengan...

Read moreDetails
Next Post
Film “Teba Modern” dari Yayasan Rumah Berdaya Saraswati: Tentang Langkah Kecil Pengelolaan Sampah

Film “Teba Modern” dari Yayasan Rumah Berdaya Saraswati: Tentang Langkah Kecil Pengelolaan Sampah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co