3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ulat Mengkhianati Pohon Apel  |  Dongeng Pendidikan

Wayan Purne by Wayan Purne
January 25, 2025
in Dongeng
Ulat Mengkhianati Pohon Apel  |  Dongeng Pendidikan

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

“Tolong-tolong!!! Aku diburu! Diburu! Tolong aku!” teriakan seekor ulat ketakutan.

Terlihat seekor ulat menggeliat merayap di antara dedaunan mati yang berguguran dari pohon apel. Ulat itu histeris teriak-teriak di bawah pohon apel.

“Hei Ulat. Mengapa kamu ribut-ribut di sini? Mengganggu tidurku saja,” tegur Pohon Apel.

Terlihat pohon apel yang rindang dengan buah-buahnya yang mulai ada yang masak. Akarnya yang kokoh mencengkeram tanah subur coklat kehitaman. Daun-daun hijau melambai-lambai memanggil angin agar menjatuhkan beberapa daunnya yang telah ada yang mati dan digantikan oleh daun-daun baru yang tumbuh di ranting-rantingnya.

“Aku diburu. Tolong aku!” jawab Ulat menggigil ketakutan.

“Mana ada burung? Di sini belum ada burung yang hinggap di rantingku ini selama seminggu ini,” ucap Pohon Apel.

“Tadi ada burung. Temanku sudah ada jadi santapan burung pemburu itu,” jawab Ulat bersembunyi di balik daun-daun kering.

“Tidak ada burung. Burung-burung mendatangiku ketika buah-buahku ini sudah matang sempurna. Burung yang mendatangiku hanya suka makan buah,” ucap Pohon Apel.

“Ah, aku takut. Ketika aku keluar, sudah jadi santapan burung pemburu,” jawab Ulat ketakutan.

“Jika masih belum percaya, naik saja kamu ke tubuhku yang besar ini! Aku akan melindungimu. Kamu akan aman berada di tubuhku ini,” kata Pohon Apel meyakinkan Ulat.

Masih merasakan sedikit ragu, Ulat bergegas merayap menuju ke batang Pohon Apel itu. Ulat dengan daya kemampuannya mempercepat langkahnya. Ia merayap naik ke batang Pohon Apel.

“Itu kan! Kamu sampai dengan aman. Tak ada burung yang menyergapmu,” ucap Pohon Apel.

“Untung ada kamu. Aku tidak jadi santapan burung pemburu itu,” jawab Ulat melepaskan rasa takutnya.

“Dasar penakut. Sini naik ke dahanku!” pinta Pohon Apel.

Ulat merayap ke atas dahan Pohon Apel. Ia tidur telentang di atas dahan Pohon Apel.

“Tidurlah kamu, Ulat! Kamu aman berada di atas batang dahanku,” ucap Pohon Apel.

Ulat tidak mendengar ucapan Pohon Apel. Ia tertidur lelap karena lelah melarikan diri dari burung pemburu. Pohon Apel ikut tidur terlelap melepas lelah sepanjang hari mendengar teriakan Ulat yang ketakutan.

“Hari ini aku bisa hidup tenang tanpa diburu oleh burung-burung itu,” ucap Ulat.

“Enak istirahatmu, Ulat? Nyaman kan?” sapa Pohon Apel.

“Heeee, Apel. Terimakasih telah melindungiku,” jawab Ulat.

Ulat dan Pohon Apel ceria menyambut hari yang cerah.

“Eh Apel, aku lapar. Ada yang bisa aku makan? Aku suka makan daun-daun yang hijau muda,” kata Ulat memperhatikan daun-daun rindang Pohon Apel.

“Jangan! Jangan kamu makan daun-daunku yang masih muda-muda ini.”

“Kenapa tidak boleh,” tanya Ulat.

“Daun-daun yang ada dalam diriku adalah dapur kelangsungan hidupku,” jawab Pohon Apel.

“Apa yang harus aku makan? Aku belum berani keluar mencari makan. Aku masih takut diburu,” keluh Ulat seakan-akan menuntut Pohon Apel agar mendapatkan perlakuan yang istimewa.

“Makan aja buahku yang akan mulai matang ini. Tapi hati-hati, kamu bisa terbawa oleh burung pemakan buah. Mungkin bisa terbawa oleh kelelawar pada malam hari jika kamu terlalu lama di dalam buah-buahku ini,” kata Pohon Apel.

“Begitu ya! Baiklah, aku akan mencoba buah-buah ini,” jawab Ulat.

Ulat merayap mendekati buah apel yang sudah mulai masak. Ia mencicipi buah itu, “Woww, rasanya sungguh manis.” Ia menggerogoti buah apel yang merah-merah itu.

“Mengapa kamu tidak marah ketika buah-buahmu ini dimakan burung-burung maupun kelelawar?” tanya Ulat yang masih mengunyah buah apel merah itu.

“Mengapa harus marah? Justru merekalah yang membantuku,” jawab Pohon Apel.

“Membantu bagaimana? Bukannya buah-buah ini hasil jerih payahmu?” tanya Ulat yang masih bingung.

“Jika tidak ada burung pemakan buah dan kelelawar, keturunanku tidak akan tersebar ke daerah yang lain. Biji-bijiku akan terbawa oleh mereka sehingga keturunanku bisa tumbuh di daerah lainnya bahkan seluruh dunia.”

“Bagaimana buah-buah yang tidak terbawa oleh mereka?” tanya Ulat menyela perkataan Pohon Apel.

“Buah-buah yang tidak terbawa akan membusuk di tanah dan dimakan oleh cacing sehingga tanah tempatku tumbuh dan hidup bisa subur.”

“Sebentar dulu! Apa hubungan tanah subur dengan buah-buahmu yang melimpah ini?” tanya Ulat gelagapan kebingungan.

“Buah-buahku yang busuk ini dimakan cacing. Cacing itu kemudian membuang kotoran. Kotoran cacing itu membuat tanah-tanah ini tetap subur berwarna coklat kehitaman. Tanah-tanah subur ini banyak mengandung air sehat yang diperlukan untuk kelangsungan hidupku,” jawab Pohon Apel.

“Mengapa kamu perlu air yang sehat? Bukannya kamu sudah punya dapur sendiri di daun?” tanya Ulat.

Pohon Apel terlihat kesal karena terus-menerus ditanya oleh Ulat. “Ulat, aku akan menjelaskan semuanya agar kamu tidak bertanya lagi. Tapi, kamu tidak menyelaku lagi,” ucap Pohon Apel.

“Ya Apel. Aku akan mendengarkanmu sampai selesai,” jawab Ulat.

“Aku memang memiliki dapur di daun. Agar bisa memasak di dapur, aku membutuhkan air sehat dari tanah yang subur dan gas-gas kotor seperti yang dikeluarkan oleh para binatang dan yang lainnya. Kemudian semua bahan itu akan dimasak di daun-daunku yang hijau.”

Ulat sepertinya ingin bertanya lagi, tetapi dia ingat untuk mendengarkan penjelasan Pohon Apel sampai selesai.

“Setelah air sehat dan gas-gas itu sudah siap ada di dapur yaitu di daun, cahaya matahari membantuku memasak semua bahan yang sudah disediakan. Hasil dari proses memasak itu adalah makanan untuk menghidupi diriku sendiri dan tetap bisa tumbuh lebih besar dan kuat. Hasil buangan dari proses memasakku adalah gas-gas kehidupan yang dibutuhkan oleh binatang-binatang di bumi ini termasuk kamu Ulat. Sedangkan masakan yang berlebih, aku simpan dalam bentuk buah dan biji. Biji-bijiku yang berada di dalam daging buah akan tumbuh menjadi pohon apel generasi penerusku,” terang Pohon Apel.

“Oh begitu. Aku mengerti sekarang. Tapi daun-daunmu yang muda-muda ini sepertinya lebih enak daripada buah-buahmu yang merah ini,” ucap Ulat menggoda Pohon Apel.

“Jangan coba-coba kamu makan daun-daunku ini!” Pohon Apel memperingati Ulat.

“Bolehlah aku coba satu atau tiga helai daunmu ini! Daun-daunmu ini begitu banyak, apa gak boleh hanya minta tiga helai aja?” ucap Ulat cengengesan merayu.

Pohon Apel terdiam sejenak memikirkan permintaan Ulat. Ia berpikir bahwa kalau Ulat hanya mencoba satu sampai tiga helai daunnya, kinerja dapurnya tidak akan berpengaruh karena daun-daunnya melimpah di setiap rantingnya.

“Baiklah, Ulat! Kamu boleh mencoba daunku tidak lebih dari tiga helai,” ucap Pohon Apel memperbolehkan.

Ulat merayap keluar dari buah apel. Ia menuju ke helai daun yang masih hijau muda untuk mencoba kenikmatannya.

“Ini sungguh daun yang sangat nikmat. Belum pernah aku menikmati daun yang begitu nikmat seperti daunmu, Apel,” kata Ulat bahagia.

“Ingat janjimu! Jangan sampai rasa rakusmu menghancurkanku. Apalagi, kamu mengundang teman-temanmu,” ucap Pohon Apel memperingati.

“Ini satu helai daun belum habis kumakan. Mana mungkin aku rakus memakan semua daun-daunmu yang banyak ini,” ucap Ulat meyakinkan Pohon Apel.

“Baguslah jika kamu berpegang teguh dengan janjimu. Aku hanya mengingatkanmu jangan pernah membohongiku,” ucap Pohon Apel.

Ulat mengangguk mendengar perkataan Pohon Apel, “Aku tidak akan mengingkari janjiku.” Ia sudah menghabiskan satu helai daun hijau Pohon Apel. Ia melanjutkan merangkak ke daun yang kedua. Ia menikmati daun kedua itu dengan rasa bahagia yang tidak pernah terbayangkan. Daun helai kedua sudah habis, ia melanjutkan daun yang ketiga, “Ohh, daun ini membuatku tidak mau lepas darinya.”

“Ingat, ini sudah daun ketigamu. Kamu harus berhenti! Aku mau tidur istirahat,” ucap Pohon Apel.

“Ya, aku ingat. Aku juga mulai merasa kenyang,” jawab Ulat tetapi mulut tidak berhenti mengunyah.

Pohon Apel percaya kepada Ulat akan menepati janjinya. Ia memejamkan mata menikmati bunga-bunga mimpi tidurnya.

“Waduh, daun ketiga ini sudah habis kumakan. Tapi mulutku ini tidak mau berhenti. Apa aku makan satu daun ini lagi?” gumam Ulat.

Ulat memandangi daun-daun hijau Pohon Apel. Ia menghitung-hitung daun-daun itu di setiap dahan pohon, “Hampir ratusan lebih daun yang ada di setiap dahan ini.” Mulutnya terus tidak ingin berhenti mengunyah sedangkan pikiran Ulat berusaha menentang keinginan perut dan mulutnya. Ia baru menyadari bahwa tubuhnya akan berhenti menuntut makan daun hijau muda ketika tubuhnya sudah siap untuk berubah menjadi kepompong.

“Sepertinya kalau aku makan lagi satu sampai dua puluh helai daun ini tidak akan disadari oleh Pohon Apel. Mengambil sedikit dari ribuan daun-daun ini pasti tidak mempengaruhi kehidupan Pohon Apel,” pikir Ulat yang sudah menyerah dan mengikuti keinginan mulutnya.

Ulat tidak peduli lagi dengan janjinya. Ia merangkak ke daun hijau berikutnya. Ia menggerogoti dan mengunyah dedaunan hijau tanpa henti. Perutnya, terus-menerus menuntut untuk diisi dedaunan hijau. Perut yang semakin besar, ia terus mengunyah tanpa hentinya.

“Aduuuuuuuuuuh! Daun-daunku yang muda-muda ini telah banyak hilang. Ini pasti ulah Ulat yang ternyata serakah,” keluh marah Pohon Apel yang baru bangun dari tidurnya.

“Ulatttttttttt! Dimana kamu sembunyi? Tunjukkan dirimu! Akan kubiarkan kamu dimangsa burung,” teriak Pohon Apel menggetarkan tubuhnya agar Ulat jatuh dari tubuh pohonnya, tetapi hanya daun-daun tua menguning yang jatuh.

Pohon Apel tidak mendapatkan jawaban. Ia tidak merasakan dan mendengar suara Ulat di setiap dahannya.

“Ke mana perginya, Ulat? Aku tidak bisa merasakan geliat tubuhnya, Ulat,” gumam Pohon Apel marah.

Sebelum Pohon Apel terbangun, Ulat sudah kenyang dan tubuhnya gemuk, ”Perutku sudah tidak ingin makan lagi. Ini berarti tubuhku sudah waktunya berubah menjadi kepompong.”

Ulat menempelkan tubuhnya di batang ranting dengan kuat. Ia membungkus tubuhnya menjadi kepompong. Ia melupakan jati dirinya seekor ulat dan kini hanya mengingat dirinya dalam tidur panjang sebagai kepompong.

“Baiklah! Aku akan mengundang burung pemburu membuat sarang di tubuh ranting-rantingku ini. Jika si Ulat datang merasap dan menggeliat di daun-daunku, burung pemburu inilah akan memakannya,” ucap Pohon Apel menggerutu.

Kemarahan Pohon Apel sepanjang hari hanya sia-sia saja. Ia tidak tahu bahwa Ulat sudah menjadi kepompong yang akan menjadi kupu-kupu. Kupu-kupu cantik yang tidak mengingat masa lalunya bahwa ia dulu adalah seekor ulat. [T]

Penulis: Wayan Purne
Editor: Adnyana Ole

  • KLIK untuk BACA dongeng lainnya
Kuda Laut Jatuh Cinta | Dongeng Pendidikan
Capung dan Daun Teratai | Dongeng dari Papua
Rum dan Tongkat Ratu Semut | Dongeng dari Papua
Lukas dan Tuk Kecil yang Baik Hati | Dongeng dari Papua
Dongeng | Anak Kecil dan Pohon Pemali
Dongeng | Si Jangkrik Kalung yang Terlalu Percaya Diri
Aya, Seekor Anak Buaya Tak Lagi Makan Daging
Tags: dongengdongeng pendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Leaaaaakkk | Cerpen Mas Ruscitadewi

Next Post

Film “Teba Modern” dari Yayasan Rumah Berdaya Saraswati: Tentang Langkah Kecil Pengelolaan Sampah

Wayan Purne

Wayan Purne

Lulusan Undiksha Singaraja. Suka membaca. Kini tinggal di sebuah desa di kawasan Buleleng timur menjadi pendidik di sebuah sekolah yang tak konvensional.

Related Posts

Radio Tua Kakek Panjul

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Radio Tua Kakek Panjul

PAGI di Desa Muncuk Sari selalu datang dengan cara yang sama. Perlahan, lembut, seperti tangan yang membelai tanpa suara. Kabut...

Read moreDetails

Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
February 27, 2026
0
Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

DI langit biru yang luas, hiduplah kawanan awan yang lembut dan setia. Pemimpin mereka bernama Rinai, awan tua berwarna kelabu...

Read moreDetails

Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

by Jaswanto
February 8, 2026
0
Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

SEKAR masih menangis ketakutan dengan badan kuyup. Badai telah reda. Tapi Kakek dan orang-orang desa tak kunjung kelihatan. Di ujung...

Read moreDetails

Adik dan Katak | Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
January 18, 2026
0
Adik dan Katak | Dongeng Lingkungan

DI sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah hijau dan sungai yang jernih, hiduplah seorang anak lelaki bernama Adik. Ia dikenal...

Read moreDetails

Jalak Bali dan Beringin Tua | Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
October 12, 2025
0
Jalak Bali dan Beringin Tua | Dongeng Lingkungan

DI sebuah desa kecil bernama Desa Kerta Harum, berdiri sebuah beringin raksasa berusia ratusan tahun di pinggir jalan dekat Pura...

Read moreDetails

Bob & Ciko | Dongeng Masa Kini

by Pitrus Puspito
May 11, 2025
0
Bob & Ciko | Dongeng Masa Kini

MENJELANG sore, seekor beruang madu ditangkap oleh para pemburu dan dibawa ke kebun binatang Zoole. Kebun binatang Zoole merupakan tempat...

Read moreDetails

Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 26, 2025
0
Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

DI satu gedung Gereja hiduplah seekor burung yang bahagia. Ia tidur di tempat yang nyaman dan sering keluar bermain dan...

Read moreDetails

Toweli dan Tongkat Saktinya | Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 12, 2025
0
Toweli dan Tongkat Saktinya | Dongeng dari Papua

DI satu kampung yang dikelilingi gunung batu: Gunung Batu Kulbi di timur dan Gunung Batu Wandel di barat dan Gunung...

Read moreDetails

Kuda Laut Jatuh Cinta | Dongeng Pendidikan

by Wayan Purne
January 11, 2025
0
Kuda Laut Jatuh Cinta | Dongeng Pendidikan

LAUT menyambut senyum mentari pagi. Taman terumbu karang mengiringi nyanyian riang canda tawa ikan-ikan. Ada ikan warna-warni bermain petak umpet...

Read moreDetails

Capung dan Daun Teratai | Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 5, 2025
0
Capung dan Daun Teratai | Dongeng dari Papua

ADA satu danau  berbentuk hati. Danau itu punya air biru jernih. Di sekitar danau tinggallah seekor capung bersama keluarga serangga:...

Read moreDetails
Next Post
Film “Teba Modern” dari Yayasan Rumah Berdaya Saraswati: Tentang Langkah Kecil Pengelolaan Sampah

Film “Teba Modern” dari Yayasan Rumah Berdaya Saraswati: Tentang Langkah Kecil Pengelolaan Sampah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co