11 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Film “Teba Modern” dari Yayasan Rumah Berdaya Saraswati: Tentang Langkah Kecil Pengelolaan Sampah

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
January 25, 2025
in Panggung
Film “Teba Modern” dari Yayasan Rumah Berdaya Saraswati: Tentang Langkah Kecil Pengelolaan Sampah

Sudiani bersama narasumber dalam talkshow Film Teba Modern di Kulidan Kitchen and Space, Sukawati Gianyar | Foto: Kulidan

 “Sampah organik, sampah non organik, dan sampah residu,” jawab anak-anak seringkat SD ketika Ni Ketut Sudiani bertanya kepada mereka tentang jenis-jenis sampah berdasarkan sifatnya. Anak-anak menjawab dengan lancar dalam suasana santai penuh kegembiraan.

Begitulah talkshow pada peluncuran Film ‘Teba Modern’ di Kulidan Kitchen and Space, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali pada 24 Januari 2025.

Ni Ketut Sudiani, orang yang bertanya kepada anak-anak itu adalah seorang jurnalis independen yang saat itu didapuk moderator talkshow. Acara talkshow adalah bagian dari peluncuran Film ‘Teba Modern’.

Puluhan anak-anak itu adalah siswa SD Negeri 2 Guwang, Sukawati, Gianyar, ang lokasinya memang dekat dengan Kulidan Kitchen and Space. Siswa itu memang diundang secara khusus bersama dengan penggiat lingkungan, LSM, aparat desa Guwang dan masyarakat umum.

Film ‘Teba Modern” itu memang bercerita tentang pengelolaan lingkungan. Sehingga, kegiatan pemutaran film itu tak terlepas dari adanya kolaborasi antara aktivis dan masyarakat peduli lingkungan, peduli sampah dan pelaku seni, termasuk kolborasi dengan pihak sekolah.

Film ini, termasuk kegiatan peluncurannya itu, merupakan bentuk kampanye dan edukasi dari Yayasan Rumah Berdaya Saraswati (YRBS).

Talkshow pada acara peluncuran Film Teba Modern di Kulidan Kitchen and Space, Sukawati, Gianyar | Foto: Kulidan Kitchen and Space

Siswa SD Negeri 2 Guwang ini terlihat disiplin. Mereka hadir sesuai undangan. Mereka telah menempati tempat duduk yang memang disediakan untuk mereka. Penampilannya rapi, berbaju olaraga seragam dan ditemani oleh guru mereka.

Para siswa ini, seakan telah siap mengikuti acara tersebut, karena setiap pertanyaan yang diberikan, mereka menjawab lugas.

Sudiani yang memimpin talkshow Talkshow “Inspirasi Teba Modern Langkah Nyata Menjaga Bumi” ini begitu bersemangat mengajak anak-anak focus pada kegiaran edukasi melalui wawasan tentang lingkungan yang biasa dibaca dan ditulisnya.

Sambil memaparkan tema, maksud dan tujuan dari kegiatan tersebut, Sudiani juga melontarkan pertanyaan-pertanyan untuk membuat para peserta lebih fokus, sebelum menyaksikan tayangan film dokumenter itu.

Kegiatan talkshow ini sebagai upaya memberikan pandangan ataupun informasi awal terhadap ‘Teba Modern’ yang semua itu menjadi cerita di dalam film yang diputar nantinya. Satu persatu, kemudian narasumber dipanggilnya. Mulai dari narasumber Wayan Balik Mustiana, seorang pengguna Teba Modern dan pegiat lingkungan dari Desa Cemenggon, lalu Catur Yudha Hariani dari Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali, selanjutnya Medy Mahasena sutradara film documenter ‘Teba Modern’ yang siap diluncurkan hari itu juga.

Pendiri Yayasan Rumah Berdaya Saraswati (YRBS) Komang Adiartha saat memberikan sambutan | Foto: Kulidan Kitchen and Space

Wayan Balik yang memaparkan ide awal berdirinya ‘Teba Modern’ yang dimulai dengan semangat. Program ini dilakukan dengan biaya murah, dan tepat guna serta bisa menyelesaikan fenomena sampah mulai dari rumah. “Saat ini sudah banyak yang akan mengikuti program ‘Taba Modern’ ini untuk mengatasi sampah di daerahnya sendiri,” sebutnya.

Sementara Catur Yudha Hariani memaparkan terkait dengan timbulan sampah yang tinggi dan tidak terkelola dengan baik di TPA akan menghasilkan gas metana yang berbahaya. “Gas metana merupakan salah satu GRK yang dapat mempercepat pemanasan global,” terangnya.

Sedangkan Medy Mahasena menyampaikan harapannya, dalam penayangan film ‘Teba Modern’ ini. Hal itu disampaikan lewat visual yang relevan, cerita yang dekat dengan realitas, dan solusi yang bisa langsung dilakukan. Karena itu, karya film ini dikemas ringan, namun sangat menarik, sehingga bisa ditangkap pesan yang disampaikan.

Setelah talkshow dan waktu sudah mulai gelap, para peserta kemudian diajak menyaksikan film dengan edukasi itu. Sebagai sutradara, Medy Mahasena mengkemas film dokumenter ini dengan apik, sehingga tak hanya mengedukasi, tetapi juga dapat memberikan hiburan yang menarik. “Kami juga tujukan film ini untuk anak muda agar dapat lebih peduli dengan alam dan lingkungan lewat hal-hal sederhana,” ungkapnya.

Acara kemudian dilanjutkan dengan menikmati pameran seni cukil dengan tajuk ‘Teba Modern, Aksi Lokal’.Karya-karya seni cukil yang ditampilkan ini berasal dari mahasiswa dan mahasiswi Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar sebagai peserta pameran. Karya seni itu merupakan hasil interpretasi tentang Teba Modern dan refleksi pentingnya menjaga kelestarian alam.

Ketua Yayasan Rumah Berdaya Saraswati (YRBS), I Made Agung Eka Nugraha saat memberikan sambutan | Foto: Kulidan Kitchen and Space

Namun, sebelum itu, Ketua Yayasan Rumah Berdaya Saraswati (YRBS), I Made Agung Eka Nugraha yang didapuk memberikan sambutan mengatakan, film dokumenter ini dibuat untuk menyampaikan pesan bahwa solusi atas perubahan iklim dan pengelolaan sampah organik dapat dimulai dari langkah kecil di sekitar kita.

Meski sebagai alat kampanye, tetapi film ‘Teba Modern’ ini ditampilkan secara holistik, baik dari para pengguna Teba Modern, aparatur desa, pemuka agama Hindu sebagai tokoh masyarakat, LSM lingkungan, dan pemerintah (Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Gianyar). Dengan begitu, adanya pandangan-pandangan dari berbagai pihak yang mendukung penerapan Teba Modern. “Kami berharap ini mampu menginspirasi komunitas lain untuk mengadopsi solusi serupa untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan lestari,” harapnya.

Eka Nugraha mengatakan, film dokumenter ini sebagai medium kampanye dan edukasi ini diproduksi oleh YRBS. Produksi film dokumenter didukung oleh Samdhana Institute dan Voices for Just Climate Action (VCA) atau Aksi Perubahan Iklim Berkeadilan Indonesia. Karya film dokumenter ‘Teba Modern’ menjadi bagian dari kampanye global, menyebarluaskan praktik-praktik baik (best practices) dari solusi lokal inspiratif untuk meningkatkan kesadaran dan mendorong partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah berkelanjutan.

Film yang berdurasi sekitar 30 menit itu mengangkat kisah tentang keberhasilan dari upaya dan aksi penanggulangan sampah organik yang telah dilakukan oleh warga di Kabupaten Gianyar, Bali. Penanggulangan sampaj ini telah dilakukan sejak dulu hingga saat ini. “Film dokumenter ini dibuat untuk menyampaikan pesan, bahwa solusi atas perubahan iklim dan pengelolaan sampah organik dapat dimulai dari langkah kecil di sekitar kita. Kami ingin menginspirasi masyarakat untuk berperan aktif dalam menjaga kelestarian bumi,” ujarnya.

Selain sebagai inovasi metode pengelolaan sampah organik secara mandiri, Teba Modern juga mengusung nilai-nilai kearifan lokal Bali. “Teba berasal dari bahasa Bali yang memiliki arti halaman atau pekarangan belakang yang berada di tiap rumah,” jelasnya.

Di masa lalu, lanjut Eka Nugraha, material organik atau limbah dapur dibuang ke teba yang biasanya ditanami pohon kebutuhan sehari-hari, seperti pisang, kelapa, bunga, dan tanaman lainnya. Tanaman ini tumbuh subur, dan jarang yang kena penyakit. “Sistem Teba Modern melalui sumur komposter dapat mudah diaplikasikan karena sistemnya yang sederhana dan warga juga secara langsung mempraktikkan pemilahan sampah yang dimulai dari rumah tangga,” paparnya.

Pendiri (founder) YRBS, Komang Adiartha mengungkapkan, selain di tingkat rumah tangga, sistem Teba Modern pada perkembangannya kini telah digunakan di ruang-ruang lainnya, seperti sekolah-sekolah, perkantoran, dan sebagainya.  Hal ini sangat positif, karena pengelolaan sampah organik berbasis sumber ini akan membantu pengurangan volume sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Seperti yang diketahui, perubahan iklim disebabkan oleh konsentrasi Gas Rumah Kaca (GRK) yang sebagian besar berasal dari aktivitas manusia salah satunya dikarenakan pencemaran lingkungan dan pengelolaan sampah yang buruk. “Acara ini menyuarakan harapan di tengah tantangan global terkait dampak perubahan iklim, dan mengajak publik menjadi bagian dari perubahan melalui langkah nyata menyelamatkan lingkungan,” papar Komang Adiartha.

Komang Adiartha kemudian menyampaikan, secara keseluruhan acara ini menyuarakan harapan di tengah tantangan global terkait dampak perubahan iklim dan mengajak publik untuk menjadi bagian dari perubahan melalui langkah-langkah nyata menyelamatkan lingkungan. [T]

Reporter/Penulis: Budarsana
Editor: Adnyana Ole

Tung Tung Uma di LATAR #1: Film Tentang Refleksi Sebuah Perubahan di Tanah Bali
Ketika Aktor Politik Jadi Aktor Film: Dari Menonton Filmnya Ni Luh Djelantik, “Lagu Cinta untuk Mama”
Film Pendek untuk Tenaga Pendidik dan Pendidikan dari Minikino
Tags: filmfilm dokumenterKulidan Kitchenpengelolaan sampah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ulat Mengkhianati Pohon Apel  |  Dongeng Pendidikan

Next Post

 “Nuwur Geni Kahuripan Ang-Ah”, Karawitan Ekologis Nyoman Kariasa: Ritus “Mejaga-jaga” di Pinda-Gianyar

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
0
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

Read moreDetails

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026
0
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

Read moreDetails

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
0
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

Read moreDetails

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
0
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

Read moreDetails

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
0
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

Read moreDetails

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

Read moreDetails

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

Read moreDetails

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
0
“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

Read moreDetails

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

Read moreDetails

Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

by Nyoman Budarsana
August 28, 2026
0
Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

ANAK-ANAK bergerak mengikuti irama. Ada yang mengepakkan tangan seperti burung, melangkah dalam barisan, memainkan properti, hingga berpindah formasi bersama teman-temannya....

Read moreDetails
Next Post
 “Nuwur Geni Kahuripan Ang-Ah”, Karawitan Ekologis Nyoman Kariasa: Ritus “Mejaga-jaga” di Pinda-Gianyar

 “Nuwur Geni Kahuripan Ang-Ah”, Karawitan Ekologis Nyoman Kariasa: Ritus “Mejaga-jaga” di Pinda-Gianyar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas
Pendidikan

490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas

SEBANYAK 490 mahasiswa baru Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali memulai kehidupan kampus melalui Malam Kreativitas Kampus dan Pembukaan Pengenalan...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”
Pop

Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”

BELANTIKA musik Bali kembali mendapat warna baru. Kali ini datang dari Satria N Band, grup musik yang mencoba membawa pop-punk...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Tubuh yang Saya Suruh Begadang
Esai

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

by Angga Wijaya
September 9, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co