14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Aktor Politik Jadi Aktor Film: Dari Menonton Filmnya Ni Luh Djelantik, “Lagu Cinta untuk Mama”

Rusdy Ulu by Rusdy Ulu
January 21, 2025
in Ulas Film
Ketika Aktor Politik Jadi Aktor Film: Dari Menonton Filmnya Ni Luh Djelantik, “Lagu Cinta untuk Mama”

Ni Luh Djelantik dalam acara Special Screening film “Lagu Cinta Untuk Mama” yang ditayangkan perdana di bioskop XXI Living World, Minggu (19/01/2024) sore | Foto: tatkala.co

MELIHAT orang jadi pejabat di film tentu sudah biasa—apalagi jika film itu berkaitan dengan politik tentu karakter politisi akan dimainkan. Tapi ini berbeda. Ada pejabat politik tiba-tiba main film bertema cinta dan keluarga.

Pejabat politik yang saya maksud itu adalah Ni Luh Djelantik yang saat ini sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Bali. Hampir seluruh warga Pulau Bali mengenalnya, ia sosok “viral” kalau disebut dengan bahasa kekinian.

Ia menjadi salah satu orang sekaligus pejabat publik yang bermain di film “Lagu Cinta untuk Mama”. Film ini menceritakan perjuangan dan cinta kasih antara seorang ibu dan anak.

Film garapan sutradara Hasto Broto yang diproduksi oleh Dewa Film Production ini menjadikan Bali sebagai latar syuting. Tidak hanya sekadar latar syuting, film ini berusaha menampilkan sisi budaya dan karakter orang Bali.

Adegan awal film Lagu Cinta untuk Mama | Foto: tatkala.co/Rusdy

Alasan ini membuat Peter Taslim selaku Eksekutif Produser dari film ini membidik dua orang perempuan Bali untuk ikut bermain, sosok itu adalah Ayu Laksmi dan Ni Luh Djelantik. Kalau Ayu Laksmi memang dikenal sebagai pemain film, sudah lama ada di dunia akting dan asli Bali. Tapi yang satu lagi ini menarik, bukan aktor film tetapi lebih tepatnya aktor politik yang sedang coba-coba main film.

Bisa banting stir nih kalau ketagihan syuting. Hahaha. Tapi, tak ada salahnya pengalaman ini dicoba oleh Ni Luh Djelantik. Lagi pula ia orang yang suka menyibukkan diri dengan banyak hal, multiprofesi pokoknya. Jadi pengusaha iya, aktivis, influencer, sekarang politisi, dan ke depan barangkali bisa jadi artis. Lengkap sudah.

Bicara soal aktivisme Ni Luh Djelantik, ia juga dikenal sebagai salah satu—dan paling langka—perempuan Bali yang frontal menyuarakan apa saja yang dianggapnya merusak dan menggangu harmonisasi di Bali. Belakangan paling sering soal bule nakal. Saya pernah menganggap ia seperti AWK versi perempuan. Wkwkwk, bercanda, Mbok. Beda kok.

Tapi hal itu juga yang membuat saya penasaran ketika dapat ajakan menonton langsung film yang menggaet Djelantik sebagai salah satu pemerannya. Saya tertarik melihat bagaimana aktingnya? Apakah frontalnya juga terbawa saat akting? Seperti apa jadinya aktor politik tiba-tiba jadi aktor film? “Wkwkwwk menarik” ucap saya dalam hati.

Saya kebetulan mewakili Komunitas Mahima bersama Kadek Sonia Piscayanti dan Kayu Hujan, mendapat undangan Special Screening film “Lagu Cinta Untuk Mama” yang ditayangkan perdana di bioskop XXI Living World, Minggu (19/01/2024) sore. Acara ini semacam promosi awal sebuah film. Sebagai informasi film ini akan tayang serentak di seluruh bioskop XXI tanggal 29 Januari 2025.

Dalam Special Screening ini, secara pribadi Ni Luh Djelantik mengundang sahabat, teman, influencer, selebgram dan beberapa kalangan di Bali untuk sama-sama menyaksikkan debut film pertamanya itu. Oh iya, politisi juga turut diundang, saya sempat melihat Rai Mantra dan istri juga hadir di tengah-tengah penonton. Rai Mantra juga anggota DPD RI wakil Bali.

Peran dan Karakter Ni Luh Djelantik dalam Film

Dalam film ini Ni Luh Djelantik mengambil peran seorang bibi dari tokoh perempuan bernama Indira. Ni Luh ditampilkan sebagai orang desa di Karangasem. Indira ponakannya itu merupakan seorang penyanyi kafe yang terjebak asmara dengan Krisna, anak pengusaha kaya di Bali. Namun hubungan mereka tidak disetujui oleh keluarga Krisna karena Indira dianggap berasal dari keluarga tidak berstatus, semacam miskin.

Penonton dalam Special Screening film “Lagu Cinta Untuk Mama” yang ditayangkan perdana di bioskop XXI Living World, Minggu (19/01/2024) | Foto: tatkala.co/Rusdy

Indira ternyata sudah hamil anak Krisna. Namun, ia malah dipaksa menggugurkan janinnya oleh Gayatri—ibu dari Krisna yang diperankan oleh Ayu Laksmi.

Ni Luh Djelantik berperan sebagai bibi Indira, muncul saat tokoh Indira memutuskan pulang ke kampungnya di Karangasem. Indira sudah lama tinggal sebatang kara, ia mendatangi rumah bibinya (Ni Luh Djelantik) untuk menceritakan apa yang terjadi selama di kota.

Dalam perannya Ni Luh Djelantik dipanggil dengan nama “Ni Luh” juga, sama seperti nama asli. Sepertinya sutradara berniat mempertahankan sisi orisinal tokoh politik itu.

Di momen ini penonton langsung sumringah melihat kemunculan Ni Luh Djelantik. Ia muncul pertama kali saat adegan menyambut kedatangan Indira yang pulang ke Karangasem. Ia tampil menggunakan kebaya Bali, persis seperti tampilan biasa yang sering ia kenakan setiap saat.

Di adegan ini ia menyambut dan mendengarkan cerita Indira. Ia geram terhadap perlakuan yang diberikan keluarga Krisna ke ponakannya itu. Ekspresi geramnya itu membuat pononton di ruangan bioskop tertawa tipis.

Penonton sepertinya merasa senang dengan karakter asli Ni Luh Djelantik yang dipertahankan dalam film. Di adegan ini ia meyakinkan Indira untuk tetap mempertahankan kandungannya dan merawat anak itu. Ni Luh mengatakan akan siap membantu ponakannya itu sebisa mungkin agar tetap tegar menghadapi masalahnya.

Karakter Ni Luh Djelantik dalam film berusaha mempertegas posisi keberpihakkannya. Adegan tadi seperti ingin menyampaikan bahwa ia selalu ada untuk orang yang tertindas. Citra yang cocok untuk Ni Luh Djelantik sebagai politisi.

Bukan hanya itu, ada adegan saat Ni Luh Djelantik membantu Indira di kampung untuk mencari kerja. Indira yang sudah tidak punya pekerjaan datang meminta bantuan ke bibinya itu. Oleh Ni Luh, Indira dibawa ke sebuah perusahaan tenun tradisional, di sana bibinya mempertemukan dia dengan pemilik perusahaan agar bisa dibantu untuk diterima sebagai karyawan.

Adegan itu seolah mengisyaratkan Ni Luh sebagai sosok penuh solusi, sama seperti umumnya pejabat yang memasukkan orang terdekatnya untuk bekerja dengan kekuatan jaringan dan komunikasinya.

Ada satu lagi adegan Ni Luh Djelantik yang hampir membuat seluruh penonton saat itu tertawa terbahak-bahak. Adegan itu saat Gayatri datang ke rumah Indira untuk melihat Kayla, anak dari Indira, ponakan Ni Luh, sekaligus cucu Gayatri yang pernah ditolaknya sendiri.

Saat Gayatri muncul di depan rumah Indira, kebetulan ada Ni Luh yang sedang menemani Kayla. Awalnya Ni Luh tidak mengenal sosok yang datang, ia menyambut layaknya tuan rumah.

Begitu Indira mengatakan bahwa itu adalah Gayatri, ibu dari mantan kekasihnya, yang menolak dia dulu, secara bersamaan ekspresi Ni Luh berubah total sambil bangkit dari tempat duduk menghampiri Gayatri. 

“Ini baru Ni Luh Djelantik,”  ucap saya dalam hati.

Penonton lain juga langsung terpingkal-pingkal melihat adegan itu. Benar-benar seperti ingin melabrak orang.

Sayangnya Indira malah menyuruh bibinya itu membawa Kayla masuk ke dalam rumah. Seandainya dibuat adegan Ni Luh dan Gayatri (Ayu Laksmi) bertengkar di situ mungkin seru. Orang bisa lihat perbandingan akting marah-marahan pemeran film senior dan, ya, sebut aja pemeran junior gitu. Wkwkwkwk.

Untuk pengalaman pertama syuting film, Ni Luh cukup natural membawakan karakter asli dirinya yang dipadukan dengan sedikit drama-dramaan. Hebat juga, dari sekian perempuan Bali,  Ni Luh Djelantik yang dipilih sebagai representasi perempuan Bali di film.

Saya tidak mau menyebut ini sebagai kampanye politik. Sutradara tentu punya pertimbangan sendiri terhadap sosok Ni Luh Djelantik.

Karakter Ni Luh Djelantik dalam film ini sepertinya diusahakan oleh sutradara agar tetap seperti gambaran Ni Luh Djelantik asli sebagai wakil rakyat. Atau “pelayan rakyat” kalau istilah yang sering Ni Luh Djelantik sendiri pakai.

Ni Luh Djelantik berswafoto bersama penonton film “Lagu Cinta Untuk Mama” | Foto: tatkala.co/Rusdy

Ia bisa saja memerankan sosok Gayatri yang kaya dan suka marah-marah juga, atau katakter lain. Tapi pertanyaannya apakah itu cocok dengan jiwanya? Apakah apakah ia mau memerankan karakter yang menindas seperti Gayatri? Sementara di kenyataannya ia adalah wakil rakyat. Masa harus kelihatan menindas, tentu tak cocok dengan citra yang sedang dibangun saat ini. Walau dalam dunia perfilman itu tak masalah. Tapi karena ini pejabat politik, tentu berbeda briefing-nya dengan sutradara.

Itu juga, barangkali tantangan jika memilih pejabat untuk bermain film, mencari karakter apa yang bisa cocok untuk diperankan, tanpa menghilangkan sisi-sisi asli dan citra sang pejabat. Dan tidak mudah bagi pejabat untuk memerankan karakter yang berbeda dari perilaku aslinya. Masa mereka tiba-tiba bisa langsung akting layaknya Reza Rahardian misalnya, atau tiba-tiba Ni Luh Djelantik ini bisa langsung seperti Dian Sastro.

Sebenarnya tidak ada salahnya juga pejabat bermain dalam dunia film. Bagi produser film itu memiliki nilai marketingnya tersendiri. Sementara, bagi pejabat, itu akan dimanfaatkan untuk membangun kesan dirinya ke publik.

Kira-kira karakter seperti apa yang asik diperankan oleh Ni Luh Djelantik ke depan jika dapat tawaran main film lagi. Dan kelihatannya ia memang menikmati apa yang baru saja dilakukannya itu. [T]

Penulis: Rusdy Ulu
Editor: Adnyana Ole

“Forushande”: Bagaimana Orang Bisa Berubah Menjadi Sapi?
Elphaba-Glinda (Wicked 2024): Cermin Kontras Psikologi Identitas dalam Komunikasi Antarbudaya
Parade Puisi Brutal dari Tierra del Fuego
Suitcase (2023) dan Suku Kurdi yang Masih Terdiskriminasi
Tags: balifilmNi Luh Djelantikresensi film
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Aktualisasi Jagat Kerthi dalam Harmoni Semesta Raya

Next Post

Pelukan Orang Tua kepada Anaknya, Sederhana dengan Dampak Luar Biasa

Rusdy Ulu

Rusdy Ulu

Kontributor tatkala.co

Related Posts

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails

Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

by Dian Suryantini
January 13, 2026
0
Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

FILM pendek Anuja terasa seperti tamparan pelan tapi tepat sasaran. Film ini tidak berisik. Tapi berhasil membuat penontonnya terngiang. Saya...

Read moreDetails
Next Post
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

Pelukan Orang Tua kepada Anaknya, Sederhana dengan Dampak Luar Biasa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co