13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Parade Puisi Brutal dari Tierra del Fuego

Bayu Wira Handyan by Bayu Wira Handyan
November 24, 2024
in Ulas Film
Parade Puisi Brutal dari Tierra del Fuego

(Kiri ke kanan) Alexander MacLennan (Mark Stanley), Segundo (Camilo Arancibia), dan Bill (Benjamin Westfall). (Dok. Film Affinity).

PADANG rumput membentang. Domba-domba berbaris tak berujung. Puluhan orang bekerja di bawah matahari, di tengah angin yang berembus kencang. Mereka menggali tanah, menanam kayu, dan memasang kawat.

Tiba-tiba salah satu pekerja berteriak. Kawat yang ia pasang melawan dan berbalik arah. Seorang pria berseragam tentara berwarna merah khas Kerajaan Inggris dengan kudanya mendekat.

“Di tempat ini orang tanpa satu lengan tidak ada artinya, kau mengerti?” Belum sempat pertanyaan itu dijawab, pria penunggang kuda menarik pelatuk revolvernya. Asap mesiu menguar, suaranya bergema di udara.

Pria tersebut adalah Alexander MacLennan (Mark Stanley) dan itu adalah adegan pembuka Los Colonos (The Settlers). Berlatar Cile tahun 1901, Felipe Galvez Haberle menjadikan debut film panjangnya ini parade mencekam dengan rasialisme, kolonialisme, dan genosida sebagai bahan bakar utamanya.

Galvez Haberle adalah orang Cile dan ia tahu pasti bahwa negaranya dibangun di atas darah dan lumpur dosa oligarki. Ia merekam itu semua dan mempresentasikannya dengan rapat, tanpa memberikan penonton jeda untuk mencerna kekacauan apa yang terjadi di ujung dunia sana 123 tahun silam.

Poster Los Colonos (The Settlers) | Dok. Film Affinity

Tierra del Fuego, kawasan yang terletak di ujung selatan Patagonia yang membentang dari Cile hingga Argentina, menjadi latar utama yang digunakan oleh Galvez Haberle. Namun alih-alih membungkus bentang alam Patagonia dengan gaya ala mooi indie, ia menghadirkan pemandangan dengan suasana melankolis dan mencekam.

Adegan demi adegan dalam Los Colonos dibingkai oleh Simone D’Arcangelo (Director of Photography) dengan komposisi simetris dan statis. Memperlihatkan bahwa para kolonialis Eropa itu, bahkan, mengendalikan kehidupan di tempat yang oleh Jose Menendez (Alfredo Castro)—taipan Spanyol yang menjadi tuan tanah di Patagonia—disebut sebagai pelabuhan kelaparan dan teluk tak berguna.

Los Colonos terdiri dari tiga babak: El Rey del Oro Blanco (Raja Emas Putih), El Mestizo (Si Darah Campuran), dan El Chanco Colorado (Si Babi Merah). Tiga babak Los Colonos mengantarkan penonton secara bertahap menuju keserakahan, kekejaman, dan genosida yang dilakukan oleh kolonialis di Cile pada Selk’nam, salah satu suku asli Amerika Selatan yang terakhir bertemu dengan penjajah Eropa.

Genosida itu berawal dari keinginan Menendez, yang juga kerap disebut sebagai “Raja Patagonia”, untuk menentukan batas wilayah miliknya dan membangun jalur perdagangan ke Atlantik. Ia memerintahkan MacLennan dan Bill (Benjamin Westfall)—koboi Texas—yang kemudian mengajak Segundo (Camilo Arancibia)—seorang mestizo—yang mengenal wilayah itu dengan baik.

Mark Stanley sebagai Alexander MacLennan dalam Los Colonos (The Settlers) | Dok. Buenasuerte

Dalam perjalanan menentukan batas milik Menendez, mereka bertemu dengan Selk’nam. Tuan tanah haus darah yang memerintahkan trio tersebut sebelumnya telah berpesan, dengan kata-kata yang samar, untuk membunuh siapapun yang menghalangi jalan mereka.

***

Genosida Selk’nam adalah plot utama film. Topik yang oleh Galvez Haberle disebut sebagai “hal tabu yang tak ingin dibicarakan oleh Cile” ini ia temukan pada suatu surat kabar independen. Dua belas tahun lamanya Los Colonos mengendap di kepala Galvez Haberle. Ia mencoba untuk melupakannya, tetapi kisah tragis pembantaian Selk’nam tak bisa lepas dari pikirannya.

Kehidupan gemah ripah loh jinawi Selk’nam harus berakhir karena tanah-tanah leluhurnya yang subur dirampas oleh para penjajah demi kepentingan pertanian, peternakan, dan eksploitasi sumber daya alam—terutama emas. Mereka yang tidak terbunuh, meninggal karena kelaparan, penyakit, atau kondisi lain yang didapatkan di kamp pengungsian.

Pembantaian itu membuat populasi Selk’nam menurun drastis. Dari sekitar 4.000 orang pada tahun 1850-an menjadi sekitar 100 orang pada tahun 1930. Saat ini mungkin hanya tersisa sekitar 3.000 Selk’nam yang tersebar di Cile dan Argentina. Bahasa mereka diyakini telah hilang dan yang tersisa sekarang adalah keturunan campuran Selk’nam. Mereka baru diakui sebagai satu dari sebelas suku asli Cile pada 5 September 2023.

Bentang alam Patagonia, latar utama Los Colonos (The Settlers) | Dok. Buenasuerte

Lebih dari seratus tahun sejak genosida Selk’nam berakhir, konflik yang melibatkan masyarakat adat dengan Pemerintah Cile masih terus terjadi. Saat ini wilayah adat Mapuche di selatan Cile tengah berada di bawah pendudukan militer. Wilayah mereka dieksploitasi secara ugal-ugalan. Puluhan Mapuche menjadi tahanan politik.

Gabriel Boric, Presiden Cile (2022-2026), yang hanya lebih tua lima bulan dari Gibran Rakabuming Raka dan mengaku sebagai seorang sosialis libertarian, masih menggunakan undang-undang antiterorisme era Augusto Pinochet untuk mengkriminalisasi perjuangan Mapuche mempertahankan tanah adat mereka. Kekerasan dan pemenjaraan digunakan untuk menumpas perbedaan pendapat. Cile menolak untuk mengambil tindakan terhadap kerusakan hutan, danau, sungai, atau bekas eksploitasi sumber daya alam lainnya.

Tidak di Cile, tidak di sini, masyarakat adat menjadi asing di tanah airnya sendiri. [T]

Suitcase (2023) dan Suku Kurdi yang Masih Terdiskriminasi
Europe by Bidon (2022): Nasib Baik Tak Ada yang Tahu
Utopia di Padang Beton dalam Fantasy Is a Concrete Jungle
In the Shadow of the Cypress (2023) dan Post-Traumatic Stress Disorder
Film “2 Kumbang (Bugs)”: Menguak Sisi Gelap Media Sosial, Mulai dari Cara Mudah Mendapatkan Uang, hingga Dampak Buruknya bagi Anak
Black Rain in My Eyes (2023): “Kebohongan” Seorang Penyair kepada Putrinya yang Buta
In the Forest One Thing Can Look Like Another (2023): Yang Tampak dan yang Tak Tampak
Tags: filmresensi film
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Gianyar Kawinkan Gelar Jegeg Bagus Bali 2024, Tetap Semangat Menjaga Warisan Hidup

Next Post

Ketut Suariani, Peramu Loloh Cemcem dari Desa Aan

Bayu Wira Handyan

Bayu Wira Handyan

Biasa-biasa saja

Related Posts

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails
Next Post
Ketut Suariani, Peramu Loloh Cemcem dari Desa Aan

Ketut Suariani, Peramu Loloh Cemcem dari Desa Aan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co