4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

In the Shadow of the Cypress (2023) dan Post-Traumatic Stress Disorder

Jaswanto by Jaswanto
September 21, 2024
in Ulas Film
In the Shadow of the Cypress (2023) dan Post-Traumatic Stress Disorder

Cuplikan film In the Shadow of the Cypress | Foto: tatkala.co/Jaswanto

FILM animasi tak selamanya bercerita tentang hal-hal konyol, lucu, menghibur, dan mengundang gelak, sebagaimana film-film kartun liburan di akhir pekan atau di hari Natal. Banyak film animasi yang mengisahkan tentang persoalan-persoalan orang dewasa—hal-hal seperti agama, ideologi, identitas, perang, trauma—dan hal-hal yang lebih berat daripada itu.

Salah satu film animasi yang sama sekali tak mengundang gelak—bahkan justru membuat kening Anda berkerut—adalah In the Shadow of the Cypress (2023) yang disutradarai dan ditulis oleh Hossein Molayemi dan Shirin Sohani, keduanya berasal dari Iran. Film ini saya tonton di Minikino Film Week 10 di MASH-Living Room, Denpasar, Sabtu (14/9/2024) malam.

Dar Saaye Sarv—judul lain In the Shadow of the Cypress—sepertinya tak bisa dinikmati oleh anak-anak—bahkan orang dewasa yang malas berpikir atau mengernyitkan dahi. Sebab, film animasi yang bercerita tentang hubungan antara mantan kapten penderita PTSD yang berjuang menghadapi hidup dengan anak perempuannya ini, selain terdapat adegan menyakiti diri sendiri, pula lebih banyak menampilkan unsur semiotika daripada bahasa verbal.

Dalam film animasi berdurasi 19 menit 33 detik ini, ayah dan anak perempuannya digambarkan hidup di pulau terpencil yang dikelilingi lautan. Di pulau pasir itu, sebut saja begitu, tak ada orang lain selain mereka berdua. Penonton tidak mendapat penjelasan apa-apa mengenai sebab mereka hidup di tempat terpencil seperti itu. Jadilah saya menebak-nebak apa yang terjadi sebenarnya dan mempertanyakan beberapa hal yang tak dapat saya temukan jawabannya sepanjang film berlangsung.

Cuplikan film In the Shadow of the Cypress | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Ke mana perginya orang-orang? Apa yang menyebabkan mereka berdua tinggal di pulau terpencil? Dari mana mereka mendapat suplai makanan, pakaian, dan rokok? Apakah mereka terdampar saat berlayar atau memang itu pilihan mereka sendiri? Dan sederet pertanyaan lain yang bahkan saya lupa itu apa. Atau justru saya saja yang tak cukup memperhatikan atau tak mampu menangkap makna di balik simbol-simbol yang disisipkan sutradara sebagai penanda sebab-akibat atau jawaban atas pertanyaan-pertanyaan saya barusan—dan semoga ini yang terjadi.

Sang ayah yang dulunya kapten kapal dalam In the Shadow of the Cypress dikisahkan, sekali lagi, memiliki trauma masa lalu (post-traumatic stress disorder—PTSD) yang membuat dirinya sering menyakiti diri sendiri (self harm) dan sulit mengendalikan emosinya. Perilaku yang tak stabil ini membuat ia kesulitan berinteraksi dengan putrinya. Hingga suatu ketika terjadi sesuatu yang tak terduga yang memicu sedikit perubahan.

Sepanjang film, Hossein Molayemi dan Shirin Sohani berusaha menampilkan emosi sang ayah yang berubah-ubah dan tak dapat ditebak. Kadang kala ia ingin mendekati putrinya dan berusaha menjadi sosok ayah yang lembut, baik, dan penuh perhatian; tapi sekejap tiba-tiba kabur menjauh dan ada kalanya ia begitu agresif, pemarah, cemas, ketakutan, dan berupaya menyakiti diri sendiri dengan cara membentur-benturkan kepalanya ke dinding.

Entah benar atau tidak, lewat adegan tersebut, saya menduga bahwa tokoh ayah dalam film ini mengidap gangguan stres pascatrauma atau PTSD—gangguan kejiwaan yang terjadi pada individu yang telah mengalami peristiwa traumatis dalam hidupnya. PTSD dapat dipicu oleh trauma akan bencana alam, perang, kecelakaan, kekerasan seksual, atau peristiwa serupa. Yang pasti, PTSD memengaruhi banyak orang dewasa di mana pun di dunia ini.

Cuplikan film In the Shadow of the Cypress | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Individu PTSD mengalami perasaan intens yang terkait dengan masa lalu. Hal ini berlangsung lebih lama dari peristiwa traumatis. Banyak orang yang menderita PTSD tidak tahu cara mengatasinya dengan benar. Akibatnya, PTSD dan menyakiti diri sendiri sering kali berjalan beriringan. Penderita PTSD seringkali mengalami mimpi buruk atau kilas balik yang menimbulkan perasaan marah, takut, atau sedih. Emosi-emosi inilah yang mendorong orang dengan PTSD untuk mulai menyakiti diri sendiri.

Tindakan menyakiti diri sendiri merupakan reaksi umum terhadap trauma. Perilaku menyakiti diri sendiri yang disengaja akibat PTSD merupakan cara seseorang mengekspresikan dan mengelola emosi negatif, termasuk  kecemasan , rasa malu, dan kemarahan. Selain itu, menyakiti diri sendiri memberikan pelarian sementara dari kekacauan emosional. Meskipun hal itu memberikan sedikit kelegaan sesaat, emosi akan meningkat kemudian.

Orang yang menderita PTSD dan menyakiti diri sendiri mungkin menganggap aktivitas, katakanlah, menyimpang itu sebagai aktivitas “grounding”. Dengan kata lain, orang yang menderita PTSD dan menyakiti diri sendiri (mungkin) bertujuan untuk kembali berhubungan dengan masa kini—seperti tokoh ayah dalam In the Shadow of the Cypress.

Namun, terlepas dari tema yang diangkat, In the Shadow of the Cypress merupakan film tanpa dialog yang, menurut saya, bagus sekali. Molayemi dan Sohani lebih memilih dan menciptakan gerak-gerik dan minik tokoh daripada memikirkan dialog antartokoh. Tetapi di sinilah kekuatan film ini. Meski tanpa dialog, dengan melihat ekspresi sang ayah dan reaksi putrinya, penonton dapat merasakan emosi dan pesan yang kuat dari film ini.

Cuplikan film In the Shadow of the Cypress | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Dan saya pikir, meniadakan dialog adalah pilihan yang tepat dan cerdas. Sebab, situasi hening, sepi, membuat penonton lebih intens dan fokus memperhatikan ekspresi kedua karakter dalam cerita. Selain itu, suasana tanpa obrolan juga memperkuat gambaran situasi hubungan mereka yang renggang dan dingin.

Situasi tersebut tampak ditegaskan dengan pemilihan tempat yang terpencil, tanpa tetangga, hewan ternak, atau kehidupan lainnya, kecuali lautan luas dan seekor paus yang terdampar di pertengahan sampai film berakhir. Suasana yang tidak membahagiakan ini juga dapat kita lihat dari pilihan (baca: simbol) warna-warna pucat dalam film yang seolah menebalkan situasi hubungan antara ayah dan anak yang sedang tidak baik-baik saja itu.

Sampai di sini, Molayemi dan Sohani tampaknya mencoba mencampuradukkan antara realitas dan imajinasi dalam beberapa adegan sehingga membuat saya menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi. Dar Saaye Sarv menampilkan ketidakberdayaan dan trauma melalui gambar-gambar yang puitis. Film ini masuk nominasi Best Animation Short di Minikino Film Week Bali International Short Film Festival 2024.[T]

Film “2 Kumbang (Bugs)”: Menguak Sisi Gelap Media Sosial, Mulai dari Cara Mudah Mendapatkan Uang, hingga Dampak Buruknya bagi Anak
Black Rain in My Eyes (2023): “Kebohongan” Seorang Penyair kepada Putrinya yang Buta
In the Forest One Thing Can Look Like Another (2023): Yang Tampak dan yang Tak Tampak
Ma Gueule : Arabphobia dan Trauma Kolektif Jangka Panjang
Tags: film animasifilm pendekMinikinoMinikino Film Week
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Soal Wisata Desa, Bali Bisa Belajar dari Banyuwangi

Next Post

Drama “Sri Tanjung”, Asal-Usul Nama Banyuwangi di Taman Bung Karno Singaraja

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
0
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

Read moreDetails

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
0
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

Read moreDetails

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
0
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

Read moreDetails

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
0
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

Read moreDetails

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails
Next Post
Drama “Sri Tanjung”,  Asal-Usul Nama Banyuwangi di Taman Bung Karno Singaraja

Drama “Sri Tanjung”, Asal-Usul Nama Banyuwangi di Taman Bung Karno Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co