25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Black Rain in My Eyes (2023): “Kebohongan” Seorang Penyair kepada Putrinya yang Buta

Jaswanto by Jaswanto
September 16, 2024
in Ulas Film
Black Rain in My Eyes (2023): “Kebohongan” Seorang Penyair kepada Putrinya yang Buta

Salah satu adegan dalam film Black Rain in My Eyes | Foto: tatkala.co/Son

PUISI-PUISI itu tidak romantis sebagaimana puisi Nizar Qabbani. Tapi lebih kepada ironi yang dibalut optimisme dan ketegaran yang naif dan fana. “Kita selalu bahagia… suara ledakan adalah suka cita. Itu adalah suara pesta pernikahan…” begitu kurang-lebih penggalan syair dalam bahasa Arab-Suriah yang dibacakan seorang ayah kepada keempat putrinya yang buta di antara reruntuhan, suara ledakan, dan kekacauan pasca-perang. Ialah Hessan, seorang penyair Suriah dan ayah dari empat orang anak perempuan dengan gangguan penglihatan itu—ia menyebutnya tunanetra.

Dengan puisi-puisinya yang, maaf, naif, Hessan berusaha menyembunyikan perang—realitas Suriah ketika itu—dari anak-anaknya. Tapi pada saat dia diundang untuk menghadiri sebuah forum puisi—dan mengajak serta kedua anak gadisnya keluar rumah—nyaris ia tak dapat “berbohong” bahwa Suriah memang tak seindah sebagaimana puisi-puisi yang ia tulis untuk anak-anaknya. Akuilah, Suriah sedang tidak baik-baik saja, Hessan!

Saya tidak tahu apa penyebab kebutaan putri-putri Hessan. Saya tak cukup memperhatikan apakah sebab tersebut disebutkan atau tidak. Tapi yang jelas, saya pikir, kebutaan inilah yang menjadi salah satu dasar film dokumenter berdurasi duapuluh menitan karya Amir Masoud Soheili dan Amir Athar Soheili ini diberi judul Black Rain in My Eyes. Film ini diproduksi dan diluncurkan pada 2023 dan diputar di pembukaan Minikino Film Week 10 (MFW10) Bali International Short Film Festival 2024 di Geo Open Space, Badung, Jumat (13/9/2024) malam.

Dalam film tersebut, Masoud Soheili dan Athar Soheili berusaha menampilkan sisi lain dari perang yang tak berkesudahan di Suriah—atau Syiria itu. Negeri ini memang nyaris selalu diselimuti kisah-kisah  perang yang mengerikan. Tapi melalui puisi-puisi dalam film Black Rain in My Eyes yang lahir dan dibacakan oleh seorang ayah naif itu, hal-hal mengerikan seperti ledakan, teriakan, dan reruntuhan menjelma suka cita, pesta pernikahan, dan nyanyian kebahagiaan. Puisi-puisi Hessan sekaligus sebagai narasi dan ia pula naratornya.

Salah satu adegan dalam film Black Rain in My Eyes | Foto: tatkala.co/Son

Suriah termasuk salah-satu negara yang berada di pusara konflik, memang. Bahkan sebelum konflik dimulai, banyak warga Suriah mengeluh tentang tingginya pengangguran, korupsi, dan kurangnya kebebasan politik di bawah Presiden Bashar al-Assad, yang menggantikan ayahnya, Hafez, setelah meninggal pada tahun 2000.

Pada bulan Maret 2011, demonstrasi pro-demokrasi meletus di kota selatan Deraa, terinspirasi oleh pemberontakan di negara-negara tetangga terhadap penguasa yang represif. Ketika pemerintah Suriah menggunakan kekuatan (bersenjata) mematikan untuk menumpas perbedaan pendapat, protes yang menuntut pengunduran diri Assad meletus di seluruh negeri.

Kerusuhan menyebar dan tindakan keras aparat semakin intensif. Para pendukung oposisi mengangkat senjata, pertama untuk membela diri dan kemudian untuk membersihkan wilayah mereka dari pasukan keamanan. Assad berjanji untuk menghancurkan apa yang disebutnya “terorisme yang didukung asing”.

Kekerasan meningkat dengan cepat dan negara itu terjerumus ke dalam perang saudara. Ratusan kelompok pemberontak bermunculan dan tidak butuh waktu lama bagi konflik itu untuk berubah menjadi lebih dari sekadar pertempuran antara warga Suriah yang mendukung atau menentang Assad.

Kekuatan asing mulai memihak, mengirimkan uang, persenjataan, dan pejuang; dan ketika kekacauan memburuk, organisasi jihadis ekstremis dengan tujuan mereka sendiri, seperti kelompok Negara Islam (IS) dan al-Qaeda, mulai terlibat. Hal itu memperdalam kekhawatiran di kalangan masyarakat internasional yang melihat mereka sebagai ancaman besar.

Suku Kurdi Suriah, yang menginginkan hak pemerintahan sendiri tetapi tidak melawan pasukan Assad, telah menambahkan dimensi lain pada konflik tersebut. Belum lagi negara-negara seperti Amerika, Rusia, Turki, ikut-campur dan membuat suasana menjadi tampak sulit diselesaikan. Warga Suriah sedang dikabuti keputusasaan yang sedemikian tebal.

Tapi Hessan yang naif berusaha menyangkal kondisi yang demikian mengerikan itu—demi anaknya, katanya. Padahal, sebagaimana nasihat pepatah bijak “sepandai-pandainya bangkai ditutupi, baunya tetap tercium juga”. Ya, anak-anak Hessan memang tak dapat melihat, tapi mereka mendengar dan, kalau boleh agak berlebihan, merasakan.

Melalui seorang anak laki-laki yang duduk dan berjalan dengan kursi roda—belakangan lewat serpihan dinding-bangunan dan debu—putri-purti Hessan mengetahui dengan jelas bahwa Suriah yang, sekali lagi, dalam puisi-puisi ayahnya tampak baik-baik saja itu, ternyata kebalikannya.

Salah seorang anak Hessan bertanya kepada teman laki-lakinya yang, maaf, cacat. “Kenapa kamu berada di kursi roda?” Anak lelaki itu menjawab, “Pada saat perang terjadi, aku sedang berada di luar rumah. Serpihan proyektil mengenai leherku—dan aku lumpuh.” Mendengar cerita itu, si gadis buta itu menangis, bersedih. Ia semakin yakin bahwa puisi-puisi ayahnya hanya “kebohongan” yang dirangkai dengan indah.

Salah satu adegan dalam film Black Rain in My Eyes | Foto: tatkala.co/Son

Menonton film Black Rain in My Eyes mengingatkan saya pada sebuah film lama dengan tema yang hampir sama, yakni Black Rain—lihat, bahkan judulnya saja sama, bedanya yang ini tanpa in my eyes. Black Rain—tanpa in my eyes—adalah sebuah film Jepang tahun 1989 garapan Shohei Imamura. Film tersebut menceritakan tentang kehidupan pascaperang di kota Hiroshima yang hancur akibat bom atom.

Film tersebut berfokus pada kehidupan keluarga Yasuko (diperankan oleh Yoshiko Tanaka) dan Shigematsu (diperankan oleh Kazuo Kitamura) yang berjuang untuk bertahan hidup di tengah penderitaan dan traumatis setelah serangan bom atom. Mereka harus menghadapi kenyataan yang mengerikan dan memutuskan untuk tetap tinggal di kota yang hancur itu. Membaca narasi ini, katakanlah, hampir sama dengan Hessan dan keluarganya di Suriah.

Namun, terlepas dari itu semua, bagi saya, Black Rain in My Eyes adalah film dokumenter yang indah—walaupun menampilkan gambar-gambar yang menyedihkan. Indah yang saya maksud adalah narasinya yang tak sama dengan kebanyakan film dokumenter yang kaku, mekanis, dan membosankan.

Black Rain in My Eyes mangalir seperti fiksi. Ya, bagaimanapun juga karena film adalah sebuah media, maka akan ada singgungan antara dokumenter dengan fiksi yang akhirnya akan memunculkan bentuk, pendekatan, atau gaya tertentu.

Dan gaya film ini bisa disebut, tentu saja menurut sok-mengertian saya, dokumenter puitis. Gaya dokumenter semacam ini lahir dan berkembang pada tahun 1920-an. Seiring perkembangan sinema Eropa, gaya dokumenter puitis berperan untuk melawan tradisi film fiksi Hollywood yang memiliki 3 elemen utama, seperti karakter yang sadar diri, mengubah aspirasi hidupnya, hubungan sebab akibat dalam penceritaan, dan kesatuan ruang dan waktu dalam editing ditandai kesinambungan dalam peristiwa. Joris Ivens membuat film dokumenter dengan gaya puitis yang berjudul Regen (1929) yang memperlihatkan suasana kota Amsterdam saat diguyur air hujan.

Tapi Black Rain in My Eyes juga bisa dibilang film dokumenter yang memiliki unsur ekspositori sebab menggunakan narasi dan teks sebagai penyampaian pesan ke penonton. Pesan atau point of view dari ekspositori lebih disampaikan melalui suara daripada melalui gambar. Pada ekspositori gambar disusun sebagai penunjang argumentasi yang disampaikan lewat narasi atau presenter.

Black Rain in My Eyes jelas menggunakan pendekatan yang observatif dan kenaturalan pada setiap kejadian. Pendekatan yang baik adalah sebuah kunci dari gaya observasional dikarenakan agar subjek tidak canggung dengan kamera yang selalu dibawa pembuat film untuk merekam setiap kejadian yang dilakukan subjek. Oleh sebab itu saya mengatakan menonton “Blac Rain in My Eyes” seperti menikmati cerita fiksi.

Salah satu adegan dalam film Black Rain in My Eyes | Foto: tatkala.co/Son

Masoud Soheili dan Athar Soheili membuat saya takjub, ngeri, dan iri sekaligus. Takjub karena ceritanya, meski dokumenter, tidak membuat penonton bosan; ngeri sebab membayangkan betapa mencekamnya situasi di Suriah ketika perang meletus; dan iri karena sudah pasti saya tidak mampu membuat film seperti itu.

Mengenai film bertema pascaperang, atau semacamnya, nama Amir Athar Soheili memang tak perlu diragukan. Tontonlah Broken Whispers (2023), film pendek tentang seorang pelukis tua yang bosan dengan proses kreatifnya sendiri dan mencoba memperbaiki instrumen rusak yang dia temukan di reruntuhan. Ketika murid-muridnya berkeliling mencari seseorang yang bisa memainkan alat musik tersebut, mereka bertemu dengan seniman lain yang memiliki bekas luka perang. Atau Women Who Run with the Wolves (2019) yang menyedihkan itu.

Perlu Anda ketahui, Athar Soheili adalah seorang sutradara, produser, dan penulis skenario asal Iran. Dengan pengalaman 18 tahun berkiprah di industri, pengetahuan, dan pemahaman mendalam tentang perfilman, ia dikenal sebagai sutradara profesional. Selain beberapa film yang ditayangkan di televisi, ia juga menyutradarai sejumlah film kreatif yang mendapat penghargaan di festival film internasional. Ia adalah profesor studi film di sebuah universitas dan presiden perusahaan Simiya Film.

Sedangkan Masoud Soheili, sebagaimana keterangan di Minikino, lahir pada tahun 1988 di Masyhad, Iran. (Saya tidak tahu apakah Masoud dan Athar ini bersaudara atau masih ada hubungan darah atau “Soheili” itu hanya semacam nama klan?) Yang jelas Masoud belajar sinema di Indonesia dan Korea Selatan. Dan hanya dengan film pendek keduanya yang berjudul “Blue eyed boy” (2014) ia panen penghargaan. Berkat film ini Masoud memenangkan 20 penghargaan internasional dari lebih 140 festival film internasional.

Ia pernah menjadi juri pada Festival Film Asia Yogya Netpac ke-10 (2015), kompetisi penghargaan Viddsee Juree di Indonesia (2016), Festival Film Internasional Avanca di Portugal (2016 dan 2018), Festival Film SAARC di Sri Lanka (2017), Festival Film Dokumenter dan Pendek Internasional Kerala di India (2018) ,dan Festival Film Internasional Malatya di Turki (2018).

Masoud adalah salah satu pendiri dan direktur kreatif “Festival Film Perdamaian Asia” di Islamabad, Pakistan dan programmer sebuah festival film di Istanbul, Turki. Ia juga bekerja sebagai direktur festival di Festival Film Internasional di Mashhad, Iran (2017).[T]

In the Forest One Thing Can Look Like Another (2023): Yang Tampak dan yang Tak Tampak
Menyangsikan Dutar & Papaya Sebagai Sinematik Eksperimental Nonkonvensional: Bukti Kita Butuh Pembacaan Ulang
Ma Gueule : Arabphobia dan Trauma Kolektif Jangka Panjang
Tags: apresiasi filmfilmfilm pendekMinikinoMinikino Film Week
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Fathurrozi Nuril Furqon | Kelahiran Joko Tole

Next Post

Penyelundupan Hukum ke Dalam Akta Notariil: Orang Asing dalam Upaya Penguasaan Hak atas Tanah

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails

Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

by Dian Suryantini
January 13, 2026
0
Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

FILM pendek Anuja terasa seperti tamparan pelan tapi tepat sasaran. Film ini tidak berisik. Tapi berhasil membuat penontonnya terngiang. Saya...

Read moreDetails

Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

by Jaswanto
December 18, 2025
0
Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

ADA sebuah komentar dari netizen―yang saya lupa entah di mana―tentang drama Korea (drakor) berjudul “Taxi Driver”. Komentar itu begini, “Seandainya...

Read moreDetails

Dari Rumah Hantu ke Panti Jompo: Langkah Baru Film ‘Agak Laen’ yang Menggaet Jutaan Pasang Mata

by Vivit Arista Dewi
December 2, 2025
0
Dari Rumah Hantu ke Panti Jompo: Langkah Baru Film ‘Agak Laen’ yang Menggaet Jutaan Pasang Mata

Film Agak Laen kembali hadir dengan langkah yang jauh lebih berani dari sebelumnya. Setelah sukses mengacak-acak rumah hantu, kini mereka...

Read moreDetails

Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

by Bayu Wira Handyan
November 13, 2025
0
Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

SEDIKIT film di Indonesia yang berani menampilkan kemiskinan sebagaimana adanya—banal, kasar, tanpa romantisasi. Sebagian besar memilih jalan aman, menjadikan kemiskinan...

Read moreDetails
Next Post
Perjanjian Pengalihan dan Komersialisasi Paten dalam Teori dan Praktek

Penyelundupan Hukum ke Dalam Akta Notariil: Orang Asing dalam Upaya Penguasaan Hak atas Tanah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co