4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Utopia di Padang Beton dalam Fantasy Is a Concrete Jungle

Jaswanto by Jaswanto
September 22, 2024
in Ulas Film
Utopia di Padang Beton dalam Fantasy Is a Concrete Jungle

Cuplikan film Fantasy Is a Concrete Jungle | Foto: tatkala.co/Jaswanto

“Apa yang dibutuhkan manusia bukanlah utopia (tidak ada tempat); tetapi entopia (ada tempat)—kota nyata yang dapat mereka bangun.”

DHAKA, ibu kota Bangladesh itu, merupakan pusat perindustrian, perniagaan, dan administrasi di negara yang terletak di Asia Selatan itu. Wilayah bekas ibu kota Kekaisaran Mughal ini seperti tak pernah sepi. Ia seperti Jakarta, atau kota-kota urban lainnya, yang sibuk, panas, riuh, cepat, segalanya seperti terburu-buru, dengan bangunan-bangunan beton yang dingin, angkuh, dan penuh tekanan. Sedangkan debu dan polusi seperti selimut abadi.

Klakson-klakson menyalak di setiap sudut Kota Dhaka. Jalanan sesak kendaraan. Sedang pembangunan seperti tak ada henti-hentinya. Beton-beton baru tumbuh lebih cepat daripada pohonan di pinggir jalan atau di hutan kota. Dan semua pemandangan khas Dunia Ketiga itu terekam dengan sangat baik dalam Fantasy Is a Concrete Jungle (2023), film dokumenter pendek karya Mehedi Mostafa.

Saya menikmati film ini digelaran Minikino Film Week 10 Bali International Short Film Festival di MASH-Living Room, Denpasar, Sabtu (14/9/2024). Jujur saja, saya menyukai film dokumenter semacam ini—film dokumenter yang, katakanlah, berbentuk lanskap meditatif dengan narasi esai yang dalam, kontemplatif, dan puitis. Menonton Fantasy Is a Concrete Jungle mengingatkan saya pada In the Forest One Thing Can Look Like Another (2023) garapan Priyanka Chhabra.

“Fantasy Is a Concrete Jungle” adalah sebuah film esai filosofis yang menggabungkan gambar dan narasi untuk membahas isu modern yang sangat mendesak, yaitu penemuan kembali kondisi kehidupan kita di tengah pembangunan kota-urban yang tak henti-henti.

Cuplikan film Fantasy Is a Concrete Jungle | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Dalam sebuah wawancara, Mehedi Mostafa mengaku menyukai film Before My Eyes (1989) karya Mani Kaul. Dan ia terinspirasi dari film tersebut. Maka jadilah Fantasy Is a Concrete Jungle sebagai dokumenter dengan mozaik gambar statis dan berubah-ubah yang mengeksplor panorama semrawut wilayah Dhaka.

Mehedi Mostofa juga menggunakan elemen suara luar kamera yang membawa kita ke dunia berbeda sambil merenungkan lanskap Dhaka. Dan penonton juga jarang melihat siapa pun di film itu. Saya pikir, Fantasy Is a Concrete Jungle adalah gugatan Mehedi Mostofa  terhadap pembangunan—atau sebut saja tata ruang—Dhaka yang banal—bahkan nyaris anarkis.

Namun, itu merupakan salah satu dari sekian banyak konsekuensi perkembangan abad lalu. Inovasi kota adalah “anak kandung” revolusi industri, yang melahirkan kota metropolitan modern seperti London, New York, atau Berlin yang menjadi tempat-tempat yang memiliki banyak sisi seperti sekarang. Kota-kota itu menggabungkan ruang-ruang tempat tinggal, tempat-tempat kerja, dan juga berbagai aspek hiburan dalam satu kuali.

Akan tetapi, seiring meluasnya ruang perkotaan yang melahirkan, katakanlah, “bencana” seperti gentrifikasi, pengangguran massal, dan masyarakat kelas yang semakin jelas terlihat, hasrat regresif tertentu telah terbangun dalam diri banyak orang. Dari sinilah sepertinya Mehedi Mostafa merenungkan apakah hal ini benar-benar definisi baru atas kota (baca: tempat) yang kita butuhkan?

Cuplikan film Fantasy Is a Concrete Jungle | Foto: tatkala.co/Jaswanto

“Fantasy Is a Concrete Jungle” didukung oleh pengisi suara, narasi, yang ditulis berdasarkan “Silence and Chaos” karya arsitek Kashef Mahboob Chowdhury. Selain mengajak penonton untuk merenungi tata ruang kota urban, film pendek ini juga merekam akan kerinduan penduduk Kota Dhaka terhadap tempat asal leluhur mereka—atau tempat yang sekiranya lebih baik daripada kota yang rakus dan individual.

Berbagai gambar kehidupan kota yang sibuk, serta kehidupan sehari-hari di desa yang tenang, dengan narasi yang membuat pengamatan tentang konsep desa kini lebih berbau magis atau mistis—mungkin sebagai indikator kerinduan tertentu terhadap jenis kehidupan yang berbeda, pada saat yang sama, dalam Fantasy Is a Concrete Jungle, kita diajak untuk mengamati orang-orang yang mencari ruang pribadi mereka di dalam kota yang luas.

Kerinduan akan kampung halaman, tempat yang nyaman atau menenangkan, seperti Shangri-La dalam Lost Horizon karangan James Hilton, saya pikir tidak hanya dirasakan oleh penduduk Dhaka saja. Semua orang di dunia ini, yang tinggal dan hidup di kota urban lainnya, yang kondisinya mirip dengan Dhaka, juga merasakan hal yang sama. Dalam kondisi seperti ini, utopia akan tempat seperti Shangri-La sangat didambakan.

Shangri-La berisi semua unsur klasik surga. Pertama, seperti yang dituliskan Eric Weiner dalam The Geography of Bliss, tempat itu sulit dijangkau. Yang benar saja, bagaimanapun, surga bukanlah surga jika Anda dapat naik taksi ke sana. Kedua, terdapat pemisah antara surga dan kehidupan biasa—dipisahkan oleh dunia rahasia yang hanya dapat ditempuh oleh sedikit orang yang beruntung.

Cuplikan film Fantasy Is a Concrete Jungle | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Dengan kata lain, surga adalah, barangkali seperti kelas bisnis, yang kesenangannya didapat dari keberadaan pelancong lain yang lebih kurang beruntung daripada Anda sendiri. Dengan begitu, tak semua orang Dhaka dapat menjamahnya.

Secara instingtif, banyak orang kota-urban merasa seperti telah kehilangan sesuatu—dan itu membuat mereka merasa tidak bahagia. Mereka ingin menemukannya kembali, di antara mobil-mobil mewah, komputer-komputer yang menakjubkan, gedung-gedung pencakar langit, dan jaminan-jaminan sosial yang baik. Maka wajar jika mereka, orang-orang kota itu, senang sekali liburan ke desa, atau tempat-tempat yang menawarkan ketenangan lainnya.

Kota seperti kantong semar yang menawarkan air kepada serangga yang kemudian akan dimangsanya. Orang-orang, seperti kumbang, berbondong-bondong pergi dari desa ke kota dengan harapan dapat menyesap mata air (fatamorgana) yang ditawarkan kota. Urbanisasi menjadi hal yang populer. Kota penuh sesak, menampung orang-orang desa dengan berbagai latar belakang.

Cuplikan film Fantasy Is a Concrete Jungle | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Padahal, desa-desa memiliki kehijauan yang tak ternilai harganya jika dibandingkan dengan keburukan kota dengan pembangunannya yang anarkis. Tapi orang-orang berpikir bahwa mereka berada di sana untuk sementara waktu sambil menunggu kembali ke desanya. Itu adalah fantasi yang mencoba direkam Mehedi Mostafa.

“Membangun rumah adalah sesuatu yang penting untuk keberadaan di bumi. Kami membutuhkan area tertutup untuk ditinggali. Hewan-hewan juga akan membuat tempat berlindung sendiri. Mungkin kita hanya perlu menemukan keseimbangan antara kehidupan di alam liar dan kebutuhan domestik,” kata Mehedi Mostafa dalam sebuah wawancara.

“Fantasy Is A  Concrete Jungle” seperti menjembatani kesenjangan antara arsitektur dan filsafat. Pemikiran Chowdhury dan gambar-gambar yang disajikan Mostafa tampaknya menekankan gagasan pencarian jenis konsep arsitektur baru, yang mengacu pada kerinduan akan hubungan yang lebih bermakna secara spiritual dalam kehidupan perkotaan (dan sampai batas tertentu bahkan kehidupan perdesaan).

Saat kita menjelajah lebih jauh ke dalam narasi dan visual film dokumenter pendek ini, kita tidak dapat tidak untuk memperhatikan tingkat keterasingan tertentu yang ingin dibahas oleh sutradara, pula diam-diam mencari solusi dalam situasi kehidupan masyarakat saat ini, dan bagaimana sebaiknya kita menghuni lingkungan perkotaan dengan segala kesemerawutannya.

Pemikiran Mostafa tampak abstrak pada awalnya, dan beberapa poin malah sulit dipahami, tetapi hasil akhirnya cukup menarik, setidaknya dapat memantik perenungan yang menggugah pikiran tentang kehidupan modern dan bagaimana kita perlu menemukan kembali tempat-tempat di mana kita tinggal dan bekerja—atau setidaknya untuk menikmati masa tua.[T]

In the Shadow of the Cypress (2023) dan Post-Traumatic Stress Disorder
Film “2 Kumbang (Bugs)”: Menguak Sisi Gelap Media Sosial, Mulai dari Cara Mudah Mendapatkan Uang, hingga Dampak Buruknya bagi Anak
Black Rain in My Eyes (2023): “Kebohongan” Seorang Penyair kepada Putrinya yang Buta
In the Forest One Thing Can Look Like Another (2023): Yang Tampak dan yang Tak Tampak
Tags: film pendekMinikinoMinikino Film Week
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengenang 13 Tahun “Tragedi Sebelas” [1]: Nusa Penida Kehilangan Seniman Ngaji Bersaudara Asal Sebunibus

Next Post

Sistem Pewarisan Tanah  Masyarakat Bali, Suatu Pandangan, Menyongsong Masa Depan

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails
Next Post
Menggugat Notaris

Sistem Pewarisan Tanah  Masyarakat Bali, Suatu Pandangan, Menyongsong Masa Depan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co