15 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Utopia di Padang Beton dalam Fantasy Is a Concrete Jungle

Jaswanto by Jaswanto
September 22, 2024
in Ulas Film
Utopia di Padang Beton dalam Fantasy Is a Concrete Jungle

Cuplikan film Fantasy Is a Concrete Jungle | Foto: tatkala.co/Jaswanto

“Apa yang dibutuhkan manusia bukanlah utopia (tidak ada tempat); tetapi entopia (ada tempat)—kota nyata yang dapat mereka bangun.”

DHAKA, ibu kota Bangladesh itu, merupakan pusat perindustrian, perniagaan, dan administrasi di negara yang terletak di Asia Selatan itu. Wilayah bekas ibu kota Kekaisaran Mughal ini seperti tak pernah sepi. Ia seperti Jakarta, atau kota-kota urban lainnya, yang sibuk, panas, riuh, cepat, segalanya seperti terburu-buru, dengan bangunan-bangunan beton yang dingin, angkuh, dan penuh tekanan. Sedangkan debu dan polusi seperti selimut abadi.

Klakson-klakson menyalak di setiap sudut Kota Dhaka. Jalanan sesak kendaraan. Sedang pembangunan seperti tak ada henti-hentinya. Beton-beton baru tumbuh lebih cepat daripada pohonan di pinggir jalan atau di hutan kota. Dan semua pemandangan khas Dunia Ketiga itu terekam dengan sangat baik dalam Fantasy Is a Concrete Jungle (2023), film dokumenter pendek karya Mehedi Mostafa.

Saya menikmati film ini digelaran Minikino Film Week 10 Bali International Short Film Festival di MASH-Living Room, Denpasar, Sabtu (14/9/2024). Jujur saja, saya menyukai film dokumenter semacam ini—film dokumenter yang, katakanlah, berbentuk lanskap meditatif dengan narasi esai yang dalam, kontemplatif, dan puitis. Menonton Fantasy Is a Concrete Jungle mengingatkan saya pada In the Forest One Thing Can Look Like Another (2023) garapan Priyanka Chhabra.

“Fantasy Is a Concrete Jungle” adalah sebuah film esai filosofis yang menggabungkan gambar dan narasi untuk membahas isu modern yang sangat mendesak, yaitu penemuan kembali kondisi kehidupan kita di tengah pembangunan kota-urban yang tak henti-henti.

Cuplikan film Fantasy Is a Concrete Jungle | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Dalam sebuah wawancara, Mehedi Mostafa mengaku menyukai film Before My Eyes (1989) karya Mani Kaul. Dan ia terinspirasi dari film tersebut. Maka jadilah Fantasy Is a Concrete Jungle sebagai dokumenter dengan mozaik gambar statis dan berubah-ubah yang mengeksplor panorama semrawut wilayah Dhaka.

Mehedi Mostofa juga menggunakan elemen suara luar kamera yang membawa kita ke dunia berbeda sambil merenungkan lanskap Dhaka. Dan penonton juga jarang melihat siapa pun di film itu. Saya pikir, Fantasy Is a Concrete Jungle adalah gugatan Mehedi Mostofa  terhadap pembangunan—atau sebut saja tata ruang—Dhaka yang banal—bahkan nyaris anarkis.

Namun, itu merupakan salah satu dari sekian banyak konsekuensi perkembangan abad lalu. Inovasi kota adalah “anak kandung” revolusi industri, yang melahirkan kota metropolitan modern seperti London, New York, atau Berlin yang menjadi tempat-tempat yang memiliki banyak sisi seperti sekarang. Kota-kota itu menggabungkan ruang-ruang tempat tinggal, tempat-tempat kerja, dan juga berbagai aspek hiburan dalam satu kuali.

Akan tetapi, seiring meluasnya ruang perkotaan yang melahirkan, katakanlah, “bencana” seperti gentrifikasi, pengangguran massal, dan masyarakat kelas yang semakin jelas terlihat, hasrat regresif tertentu telah terbangun dalam diri banyak orang. Dari sinilah sepertinya Mehedi Mostafa merenungkan apakah hal ini benar-benar definisi baru atas kota (baca: tempat) yang kita butuhkan?

Cuplikan film Fantasy Is a Concrete Jungle | Foto: tatkala.co/Jaswanto

“Fantasy Is a Concrete Jungle” didukung oleh pengisi suara, narasi, yang ditulis berdasarkan “Silence and Chaos” karya arsitek Kashef Mahboob Chowdhury. Selain mengajak penonton untuk merenungi tata ruang kota urban, film pendek ini juga merekam akan kerinduan penduduk Kota Dhaka terhadap tempat asal leluhur mereka—atau tempat yang sekiranya lebih baik daripada kota yang rakus dan individual.

Berbagai gambar kehidupan kota yang sibuk, serta kehidupan sehari-hari di desa yang tenang, dengan narasi yang membuat pengamatan tentang konsep desa kini lebih berbau magis atau mistis—mungkin sebagai indikator kerinduan tertentu terhadap jenis kehidupan yang berbeda, pada saat yang sama, dalam Fantasy Is a Concrete Jungle, kita diajak untuk mengamati orang-orang yang mencari ruang pribadi mereka di dalam kota yang luas.

Kerinduan akan kampung halaman, tempat yang nyaman atau menenangkan, seperti Shangri-La dalam Lost Horizon karangan James Hilton, saya pikir tidak hanya dirasakan oleh penduduk Dhaka saja. Semua orang di dunia ini, yang tinggal dan hidup di kota urban lainnya, yang kondisinya mirip dengan Dhaka, juga merasakan hal yang sama. Dalam kondisi seperti ini, utopia akan tempat seperti Shangri-La sangat didambakan.

Shangri-La berisi semua unsur klasik surga. Pertama, seperti yang dituliskan Eric Weiner dalam The Geography of Bliss, tempat itu sulit dijangkau. Yang benar saja, bagaimanapun, surga bukanlah surga jika Anda dapat naik taksi ke sana. Kedua, terdapat pemisah antara surga dan kehidupan biasa—dipisahkan oleh dunia rahasia yang hanya dapat ditempuh oleh sedikit orang yang beruntung.

Cuplikan film Fantasy Is a Concrete Jungle | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Dengan kata lain, surga adalah, barangkali seperti kelas bisnis, yang kesenangannya didapat dari keberadaan pelancong lain yang lebih kurang beruntung daripada Anda sendiri. Dengan begitu, tak semua orang Dhaka dapat menjamahnya.

Secara instingtif, banyak orang kota-urban merasa seperti telah kehilangan sesuatu—dan itu membuat mereka merasa tidak bahagia. Mereka ingin menemukannya kembali, di antara mobil-mobil mewah, komputer-komputer yang menakjubkan, gedung-gedung pencakar langit, dan jaminan-jaminan sosial yang baik. Maka wajar jika mereka, orang-orang kota itu, senang sekali liburan ke desa, atau tempat-tempat yang menawarkan ketenangan lainnya.

Kota seperti kantong semar yang menawarkan air kepada serangga yang kemudian akan dimangsanya. Orang-orang, seperti kumbang, berbondong-bondong pergi dari desa ke kota dengan harapan dapat menyesap mata air (fatamorgana) yang ditawarkan kota. Urbanisasi menjadi hal yang populer. Kota penuh sesak, menampung orang-orang desa dengan berbagai latar belakang.

Cuplikan film Fantasy Is a Concrete Jungle | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Padahal, desa-desa memiliki kehijauan yang tak ternilai harganya jika dibandingkan dengan keburukan kota dengan pembangunannya yang anarkis. Tapi orang-orang berpikir bahwa mereka berada di sana untuk sementara waktu sambil menunggu kembali ke desanya. Itu adalah fantasi yang mencoba direkam Mehedi Mostafa.

“Membangun rumah adalah sesuatu yang penting untuk keberadaan di bumi. Kami membutuhkan area tertutup untuk ditinggali. Hewan-hewan juga akan membuat tempat berlindung sendiri. Mungkin kita hanya perlu menemukan keseimbangan antara kehidupan di alam liar dan kebutuhan domestik,” kata Mehedi Mostafa dalam sebuah wawancara.

“Fantasy Is A  Concrete Jungle” seperti menjembatani kesenjangan antara arsitektur dan filsafat. Pemikiran Chowdhury dan gambar-gambar yang disajikan Mostafa tampaknya menekankan gagasan pencarian jenis konsep arsitektur baru, yang mengacu pada kerinduan akan hubungan yang lebih bermakna secara spiritual dalam kehidupan perkotaan (dan sampai batas tertentu bahkan kehidupan perdesaan).

Saat kita menjelajah lebih jauh ke dalam narasi dan visual film dokumenter pendek ini, kita tidak dapat tidak untuk memperhatikan tingkat keterasingan tertentu yang ingin dibahas oleh sutradara, pula diam-diam mencari solusi dalam situasi kehidupan masyarakat saat ini, dan bagaimana sebaiknya kita menghuni lingkungan perkotaan dengan segala kesemerawutannya.

Pemikiran Mostafa tampak abstrak pada awalnya, dan beberapa poin malah sulit dipahami, tetapi hasil akhirnya cukup menarik, setidaknya dapat memantik perenungan yang menggugah pikiran tentang kehidupan modern dan bagaimana kita perlu menemukan kembali tempat-tempat di mana kita tinggal dan bekerja—atau setidaknya untuk menikmati masa tua.[T]

In the Shadow of the Cypress (2023) dan Post-Traumatic Stress Disorder
Film “2 Kumbang (Bugs)”: Menguak Sisi Gelap Media Sosial, Mulai dari Cara Mudah Mendapatkan Uang, hingga Dampak Buruknya bagi Anak
Black Rain in My Eyes (2023): “Kebohongan” Seorang Penyair kepada Putrinya yang Buta
In the Forest One Thing Can Look Like Another (2023): Yang Tampak dan yang Tak Tampak
Tags: film pendekMinikinoMinikino Film Week
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengenang 13 Tahun “Tragedi Sebelas” [1]: Nusa Penida Kehilangan Seniman Ngaji Bersaudara Asal Sebunibus

Next Post

Sistem Pewarisan Tanah  Masyarakat Bali, Suatu Pandangan, Menyongsong Masa Depan

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails

Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

by Dian Suryantini
January 13, 2026
0
Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

FILM pendek Anuja terasa seperti tamparan pelan tapi tepat sasaran. Film ini tidak berisik. Tapi berhasil membuat penontonnya terngiang. Saya...

Read moreDetails
Next Post
Menggugat Notaris

Sistem Pewarisan Tanah  Masyarakat Bali, Suatu Pandangan, Menyongsong Masa Depan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co