25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Utopia di Padang Beton dalam Fantasy Is a Concrete Jungle

Jaswanto by Jaswanto
September 22, 2024
in Ulas Film
Utopia di Padang Beton dalam Fantasy Is a Concrete Jungle

Cuplikan film Fantasy Is a Concrete Jungle | Foto: tatkala.co/Jaswanto

“Apa yang dibutuhkan manusia bukanlah utopia (tidak ada tempat); tetapi entopia (ada tempat)—kota nyata yang dapat mereka bangun.”

DHAKA, ibu kota Bangladesh itu, merupakan pusat perindustrian, perniagaan, dan administrasi di negara yang terletak di Asia Selatan itu. Wilayah bekas ibu kota Kekaisaran Mughal ini seperti tak pernah sepi. Ia seperti Jakarta, atau kota-kota urban lainnya, yang sibuk, panas, riuh, cepat, segalanya seperti terburu-buru, dengan bangunan-bangunan beton yang dingin, angkuh, dan penuh tekanan. Sedangkan debu dan polusi seperti selimut abadi.

Klakson-klakson menyalak di setiap sudut Kota Dhaka. Jalanan sesak kendaraan. Sedang pembangunan seperti tak ada henti-hentinya. Beton-beton baru tumbuh lebih cepat daripada pohonan di pinggir jalan atau di hutan kota. Dan semua pemandangan khas Dunia Ketiga itu terekam dengan sangat baik dalam Fantasy Is a Concrete Jungle (2023), film dokumenter pendek karya Mehedi Mostafa.

Saya menikmati film ini digelaran Minikino Film Week 10 Bali International Short Film Festival di MASH-Living Room, Denpasar, Sabtu (14/9/2024). Jujur saja, saya menyukai film dokumenter semacam ini—film dokumenter yang, katakanlah, berbentuk lanskap meditatif dengan narasi esai yang dalam, kontemplatif, dan puitis. Menonton Fantasy Is a Concrete Jungle mengingatkan saya pada In the Forest One Thing Can Look Like Another (2023) garapan Priyanka Chhabra.

“Fantasy Is a Concrete Jungle” adalah sebuah film esai filosofis yang menggabungkan gambar dan narasi untuk membahas isu modern yang sangat mendesak, yaitu penemuan kembali kondisi kehidupan kita di tengah pembangunan kota-urban yang tak henti-henti.

Cuplikan film Fantasy Is a Concrete Jungle | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Dalam sebuah wawancara, Mehedi Mostafa mengaku menyukai film Before My Eyes (1989) karya Mani Kaul. Dan ia terinspirasi dari film tersebut. Maka jadilah Fantasy Is a Concrete Jungle sebagai dokumenter dengan mozaik gambar statis dan berubah-ubah yang mengeksplor panorama semrawut wilayah Dhaka.

Mehedi Mostofa juga menggunakan elemen suara luar kamera yang membawa kita ke dunia berbeda sambil merenungkan lanskap Dhaka. Dan penonton juga jarang melihat siapa pun di film itu. Saya pikir, Fantasy Is a Concrete Jungle adalah gugatan Mehedi Mostofa  terhadap pembangunan—atau sebut saja tata ruang—Dhaka yang banal—bahkan nyaris anarkis.

Namun, itu merupakan salah satu dari sekian banyak konsekuensi perkembangan abad lalu. Inovasi kota adalah “anak kandung” revolusi industri, yang melahirkan kota metropolitan modern seperti London, New York, atau Berlin yang menjadi tempat-tempat yang memiliki banyak sisi seperti sekarang. Kota-kota itu menggabungkan ruang-ruang tempat tinggal, tempat-tempat kerja, dan juga berbagai aspek hiburan dalam satu kuali.

Akan tetapi, seiring meluasnya ruang perkotaan yang melahirkan, katakanlah, “bencana” seperti gentrifikasi, pengangguran massal, dan masyarakat kelas yang semakin jelas terlihat, hasrat regresif tertentu telah terbangun dalam diri banyak orang. Dari sinilah sepertinya Mehedi Mostafa merenungkan apakah hal ini benar-benar definisi baru atas kota (baca: tempat) yang kita butuhkan?

Cuplikan film Fantasy Is a Concrete Jungle | Foto: tatkala.co/Jaswanto

“Fantasy Is a Concrete Jungle” didukung oleh pengisi suara, narasi, yang ditulis berdasarkan “Silence and Chaos” karya arsitek Kashef Mahboob Chowdhury. Selain mengajak penonton untuk merenungi tata ruang kota urban, film pendek ini juga merekam akan kerinduan penduduk Kota Dhaka terhadap tempat asal leluhur mereka—atau tempat yang sekiranya lebih baik daripada kota yang rakus dan individual.

Berbagai gambar kehidupan kota yang sibuk, serta kehidupan sehari-hari di desa yang tenang, dengan narasi yang membuat pengamatan tentang konsep desa kini lebih berbau magis atau mistis—mungkin sebagai indikator kerinduan tertentu terhadap jenis kehidupan yang berbeda, pada saat yang sama, dalam Fantasy Is a Concrete Jungle, kita diajak untuk mengamati orang-orang yang mencari ruang pribadi mereka di dalam kota yang luas.

Kerinduan akan kampung halaman, tempat yang nyaman atau menenangkan, seperti Shangri-La dalam Lost Horizon karangan James Hilton, saya pikir tidak hanya dirasakan oleh penduduk Dhaka saja. Semua orang di dunia ini, yang tinggal dan hidup di kota urban lainnya, yang kondisinya mirip dengan Dhaka, juga merasakan hal yang sama. Dalam kondisi seperti ini, utopia akan tempat seperti Shangri-La sangat didambakan.

Shangri-La berisi semua unsur klasik surga. Pertama, seperti yang dituliskan Eric Weiner dalam The Geography of Bliss, tempat itu sulit dijangkau. Yang benar saja, bagaimanapun, surga bukanlah surga jika Anda dapat naik taksi ke sana. Kedua, terdapat pemisah antara surga dan kehidupan biasa—dipisahkan oleh dunia rahasia yang hanya dapat ditempuh oleh sedikit orang yang beruntung.

Cuplikan film Fantasy Is a Concrete Jungle | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Dengan kata lain, surga adalah, barangkali seperti kelas bisnis, yang kesenangannya didapat dari keberadaan pelancong lain yang lebih kurang beruntung daripada Anda sendiri. Dengan begitu, tak semua orang Dhaka dapat menjamahnya.

Secara instingtif, banyak orang kota-urban merasa seperti telah kehilangan sesuatu—dan itu membuat mereka merasa tidak bahagia. Mereka ingin menemukannya kembali, di antara mobil-mobil mewah, komputer-komputer yang menakjubkan, gedung-gedung pencakar langit, dan jaminan-jaminan sosial yang baik. Maka wajar jika mereka, orang-orang kota itu, senang sekali liburan ke desa, atau tempat-tempat yang menawarkan ketenangan lainnya.

Kota seperti kantong semar yang menawarkan air kepada serangga yang kemudian akan dimangsanya. Orang-orang, seperti kumbang, berbondong-bondong pergi dari desa ke kota dengan harapan dapat menyesap mata air (fatamorgana) yang ditawarkan kota. Urbanisasi menjadi hal yang populer. Kota penuh sesak, menampung orang-orang desa dengan berbagai latar belakang.

Cuplikan film Fantasy Is a Concrete Jungle | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Padahal, desa-desa memiliki kehijauan yang tak ternilai harganya jika dibandingkan dengan keburukan kota dengan pembangunannya yang anarkis. Tapi orang-orang berpikir bahwa mereka berada di sana untuk sementara waktu sambil menunggu kembali ke desanya. Itu adalah fantasi yang mencoba direkam Mehedi Mostafa.

“Membangun rumah adalah sesuatu yang penting untuk keberadaan di bumi. Kami membutuhkan area tertutup untuk ditinggali. Hewan-hewan juga akan membuat tempat berlindung sendiri. Mungkin kita hanya perlu menemukan keseimbangan antara kehidupan di alam liar dan kebutuhan domestik,” kata Mehedi Mostafa dalam sebuah wawancara.

“Fantasy Is A  Concrete Jungle” seperti menjembatani kesenjangan antara arsitektur dan filsafat. Pemikiran Chowdhury dan gambar-gambar yang disajikan Mostafa tampaknya menekankan gagasan pencarian jenis konsep arsitektur baru, yang mengacu pada kerinduan akan hubungan yang lebih bermakna secara spiritual dalam kehidupan perkotaan (dan sampai batas tertentu bahkan kehidupan perdesaan).

Saat kita menjelajah lebih jauh ke dalam narasi dan visual film dokumenter pendek ini, kita tidak dapat tidak untuk memperhatikan tingkat keterasingan tertentu yang ingin dibahas oleh sutradara, pula diam-diam mencari solusi dalam situasi kehidupan masyarakat saat ini, dan bagaimana sebaiknya kita menghuni lingkungan perkotaan dengan segala kesemerawutannya.

Pemikiran Mostafa tampak abstrak pada awalnya, dan beberapa poin malah sulit dipahami, tetapi hasil akhirnya cukup menarik, setidaknya dapat memantik perenungan yang menggugah pikiran tentang kehidupan modern dan bagaimana kita perlu menemukan kembali tempat-tempat di mana kita tinggal dan bekerja—atau setidaknya untuk menikmati masa tua.[T]

In the Shadow of the Cypress (2023) dan Post-Traumatic Stress Disorder
Film “2 Kumbang (Bugs)”: Menguak Sisi Gelap Media Sosial, Mulai dari Cara Mudah Mendapatkan Uang, hingga Dampak Buruknya bagi Anak
Black Rain in My Eyes (2023): “Kebohongan” Seorang Penyair kepada Putrinya yang Buta
In the Forest One Thing Can Look Like Another (2023): Yang Tampak dan yang Tak Tampak
Tags: film pendekMinikinoMinikino Film Week
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengenang 13 Tahun “Tragedi Sebelas” [1]: Nusa Penida Kehilangan Seniman Ngaji Bersaudara Asal Sebunibus

Next Post

Sistem Pewarisan Tanah  Masyarakat Bali, Suatu Pandangan, Menyongsong Masa Depan

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
0
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

Read moreDetails

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
0
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

Read moreDetails

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
0
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

Read moreDetails

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
0
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

Read moreDetails

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
0
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

Read moreDetails

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails
Next Post
Menggugat Notaris

Sistem Pewarisan Tanah  Masyarakat Bali, Suatu Pandangan, Menyongsong Masa Depan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co