12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengenang 13 Tahun “Tragedi Sebelas” [1]: Nusa Penida Kehilangan Seniman Ngaji Bersaudara Asal Sebunibus

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
September 24, 2024
in Khas
Mengenang 13 Tahun “Tragedi Sebelas” [1]: Nusa Penida Kehilangan Seniman Ngaji Bersaudara Asal Sebunibus

Aksi Ngaji Bersaudara dalam Festival Angklung Kebyar (Kreasi) PKB 2009 bersama Sekaa Desa Adat Sebunibus (Dok. Taksu Nusa)

PADA tanggal 21 September 2011, sebuah kapal Motor Sri Murah Rezeki tenggelam di perairan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali. Kapal yang mengangkut sekaa angklung Desa Adat Sebunibus  ini diduga terbalik setelah dihantam gelombang besar. Insiden ini menyebabkan 11 orang meninggal, 11 selamat dan 14 hilang. Untuk memudahkan ingatan, saya menyebutnya dengan istilah “Tragedi Sebelas” karena terjadi pada tahun 2011, dan dikuatkan oleh komposisi perbandingan korban meninggal dan selamat yakni 11:11.

Tragedi sebelas bermula dari Sekaa Angklung Desa Adat Sebunibus yang hendak menyeberang dari Pulau Nusa Lembongan menuju Pulau Nusa Penida pada malam hari. Sebelumnya (sore hari), Sekaa Angklung Desat Adat Sebunibus ngayah di Desa Jungutbatu. Usai ngayah, sekitar pukul 23.30wita,sekaa hendak menyeberang kembali ke Pulau Nusa Penida dengan kapal motor Sri Murah Rezeki yang disewanya.

Setelah berjalan kurang lebih 2-3 mil dari Pantai Jungutbatu, tiba-tiba kapal yang dinakhodai oleh Made Longgor itu dihantam ombak besar hingga terbalik. Situasi menjadi tak terkendali. Musibah tak dapat dihindari. Lalu, kepiluan membekas di hati dan pikiran masyarakat Nusa Penida hingga kini.  

Guru, Seniman, dan Tokoh Masyarakat

Kepiluan atas tragedi sebelas tak cukup diuraikan dengan air mata. Itulah yang mungkin dirasakan terutama oleh warga Desa Adat Sebunibus. Pasalnya, warga Desa Adat Sebunibus tidak hanya terpukul atas kepergian nyawa beberapa warganya, tetapi lebih dari itu. Mereka sangat terpukul karena harus kehilangan seniman penting 4 bersaudara yakni I Made Ngaji,  I Gede Muji, I Ketut Ginastra dan I Made Riawan. Pun terpukul karena empat bersaudara ini juga seorang tokoh masyarakat yang disegani masyarakat Sebunibus.

I Made Ngaji | Foto: Dok keluarga

Ngaji bersaudara adalah seniman karawitan yang malang melintang pada era 80-90-an di Nusa Penida. Era ketika berbagai akses kehidupan seperti transportasi, komunikasi, pendidikan dan lain-lainnya masih serba terbatas di pulau itu. Namun, kondisi ini tidak menyurutkan Ngaji bersaudara untuk mengembangkan potensi seninya.

Ngaji bersaudara adalah seniman otodidak dari desa. Bakat alam karawitannya sudah terlihat sejak menginjak usia anak-anak. Dari kecil, mereka sudah biasa memainkan instrumen gamelan (gong) tradisional Bali. Bakat semestanya ini terus bertumbuh dan berkembang seiring waktu –meskipun tidak pernah mengalami sentuhan lembaga manapun. Ngaji bersama sang kakak tidak pernah mengenyam pendidikan formal sekolah seni. Selepas SMP, mereka (berempat) justru melanjutkan pendidikan ke Sekolah Pendidikan Guru (SPG).

Hasilnya, mereka kompak menjadi guru PNS. Kesehariannya, Ngaji bersaudara mengajar di SDN yang ada di Nusa Penida. Dari karakter keguruan inilah yang menggiring mereka pada perjumpaan filosofi long life education. Filosofi ini berimbas pula kepada dunia seni karawitan yang digelutinya.

Bagi mereka, tidak ada kata puas untuk bertumbuh di dunia seni karawitan. Mereka terus menempa dirinya dengan palu ketekunan dan konsistensi. Mereka berguru pada kaset pita tape recorder, berguru pada televisi, berguru dengan seniman karawitan lainnya dan sesekali diimbangi dengan menonton langsung pagelaran karawitan hingga ke Bali daratan.

Namun demikian, bukan berarti mereka lalai dengan rutinitasnya. Menjadi guru adalah tugas kesehariannya. Menjadi pelaku seni karawitan juga tak pernah mereka abaikan. Kedua peran ini dijalaninya mengalir sesuai proporsinya.

Karena itu, kemampuannya dalam seni karawitan tidak bisa dipandang sebelah mata. Sepak terjang seninya sudah teruji di Pulau Nusa Penida hingga ke Bali daratan. Puncaknya, Ngaji bersaudara berhasil mengantarkan sekaa Angklung Desa Adat Sebunibus dalam Festival Angklung Kebyar (Kreasi) pada Pesta Kesenian Bali (PKB) 2009, mewakili Kabupaten Klungkung. Penunjukkan sekaa Angklung Sebunibus sebagai duta Kabupaten Klungkung disebabkan oleh sekaa ini berhasil keluar sebagai juara 1 dalam festival angklung di Kabupaten Klungkung tahun 2008.

Sebelumnya, tahun 1984, Ngaji bersaudara bersama sekaa gongnya juga pernah sukses menjadi yang terbaik, juara 1, pada Lomba Gong Kebyar se-Kabupaten Klungkung. Jejak prestasi inilah yang mengantarkan Ngaji bersaudara 6 kali masuk dalam tim inti gong kebyar mewakili camat dan kabupaten pada ajang PKB.

I Gede Muji | Foto: Dok keluarga

Menurut file atau catatan Pande Bagus Gde Sesana—putra Ketut Ginastra—Ngaji pernah mewakili gong kebyar Klungkung pada tahun 2001, 2003, 2004, 2005, 2006 dan 2008. Sementara, sang kakak, Gede Muji, pernah mewakili duta Klungkung sebanyak 5 kali, Made Riawan sekali dan Ketut Ginastra sekali mewakili Kecamatan Nusa Penida.

Dulu, era 90-an ke bawah, PKB merupakan panggung impian bagi setiap seniman tradisional Bali, termasuk seniman dari Nusa Penida. Bagi masyarakat Nusa Penida (termasuk warga Sebunibus), PKB bukan sekadar panggung prestise dan kebanggaan, tetapi panggung untuk mendapatkan semacam legitimasi sebagai seorang seniman. Mereka yang pernah berpartisipasi dalam panggung PKB akan mendapatkan pengakuan sosial dari masyarakat setempat.

Itulah yang dialami oleh Ngaji pada khususnya. Jam terbang festivalnya membuat Ngaji mendapatkan banyak tawaran melatih sekaa gong di Nusa Penida. Ngaji dikenal sebagai pelatih gong atau karawitan ternama di Nusa Penida. Ia pernah menangani atau melatih beberapa sekaa gong lintas banjar maupun lintas desa adat di Nusa Penida.

Selain piawai bermain gong dan angklung, Ngaji bersaudara, khususnya Gede Muji dan Made Riawan, juga piawai memainkan instrumen gender. Dua kakaknya sering mendapatkan undangan kupah ngender  saat musim pitra yadnya. Sang kakak sering berduet ngender di atas bade yang sedang diarak. Pun mengiringi dalang dalam pegelaran wayang.

Keluarga Ngaji Bersaudara

Lalu, siapa sesungguhnya Ngaji bersaudara? Ngaji bersaudara berasal dari keluarga seni. Ayahnya, Jero Mangku Rame adalah seorang undagi, seniman, jro mangku (sekaligus jero balian) dan tokoh adat ternama di Nusa Penida.

Sebagai undagi, karya-karya ayahnya tidak hanya tersebar di Pulau Nusa Penida, termasuk ke daerah transmigran seperti Sumatera. Karya-karya beliau antara lain berupa rumah, sanggah, bade, petulangan dan lain sebagainya.

Selain undagi, sang ayah juga seorang seniman karawitan (pelatih) yang disegani pada zamannya di Nusa Penida. Kiprahnya dalam dunia karawitan masih terbatas di lingkungan Pulau Nusa Penida. Sementara, pada ibunya mengalir basis darah seni tari.

I Made Riawan | Foto: Dok keluarga

Mangku Rame juga seorang Jero Mangku besar. Di bawah tahun 2000-an, sebelum tren menggunakan sulinggih besar model sekarang, Mangku Rame biasa muput upacara besar seperti upacara ngaben (pitra yadnya). Kala itu, masyarakat Nusa Penida memang mentoleransi sumber daya manusia (SDM) yang ada. Mereka memanfaatkan jasa kepemangkuan dalam menuntaskan upacara, karena kala itu belum ada perguruan melinggih seperti sri mpu, rsi, apalagi pedanda—tidak ada griya di Nusa Penida.

Semasa hidupnya, Mangku Rame adalah penglinsir atau mangku utama di Pura Dalem Ped hingga memasuki usia pensiun. Ia mengabdi kurang lebih 35 tahun. Ia juga berperan besar dalam merintis pembangunan Pura Taman Ped. Ia termasuk jero mangku yang sangat disegani tidak hanya di Bali, termasuk di beberapa daerah lainnya di nusantara.

Skill hidup Jro Mangku Rame tergolong komplit. Ia juga dikenal sebagai tokoh adat dan seorang leader. Setidaknya, ia pernah menjabat sebagai Kelih Seket (Klian Dinas) sekitar tahun 1950-an.

Talenta komplit sang ayah rupanya menurun pada Ngaji bersaudara. Bakat yang paling menonjol diwariskan oleh Ngaji bersaudara adalah seni dan ketokohan sang ayah. Ngaji bersaudara tidak hanya dikenal sebagai seniman karawitan di Nusa Penida—tetapi juga dikenal sebagai tokoh adat (masyarakat) di Desa Adat Sebunibus.  

Peran ketokohan Ngaji bersaudara yang paling dikenang oleh warga Desa Adat Sebunibus ialah saat mereka menjadi tim pionir yang memperjuangkan dan mendirikan Desa Adat Sebunibus. Sebelumnya, Sebunibus merupakan komunitas banjar yang berada di bawah Desa Adat Sakti. Lewat kekompakkan tangan dingin Ngaji bersaudara bersama tokoh adat Desa Adat Sebunibus yang lainnya, inisiasi pembangunan Pura Puseh dan Pura Desa di Desa Adat Sebunibus dikebut. Syarat administratif digenjot. Jurus-jurus lobi dan negosiasi digencarkan—sampai akhirnya pada tahun 2005, yakni selama rentang 2 tahun, Banjar Sebunibus resmi berubah status menjadi desa adat.

Aksi Ngaji Bersaudara dalam Festival Angklung Kebyar (Kreasi) PKB 2009 bersama Sekaa Desa Adat Sebunibus | Foto: Dok. Taksu Nusa

Kekompakan memang menjadi ciri khas Ngaji bersaudara dalam bekerja. Mungkin, kekompokkan ini terpelihara dari kesamaan interes dan minat mereka dalam menekuni seni karawitan.  Mereka biasa tampil bersama baik dalam momen kupah, ngayah dan keikutsertaan dalam kegiatan festival karawitan.

Bagi Ngaji bersaudara, menekuni seni karawitan memberikan efek ganda. Pertama, mereka dapat menemukan jati diri sebagai seniman. Seni karawitan-lah yang telah membukakan kesadaran bahwa mereka memiliki potensi optimal di ranah tersebut—yang menjadikannya bertumbuh, kompetitif dan eksis.

Kedua, mereka juga mendapatkan popularitas. Popularitas ini didapatnya dari konsistensi yang panjang. Konsistensi yang membentangkan kualitas dirinya sehingga menjadi perbincangan masyarakat luas.

Ketiga, mereka dapat membangun fondasi kerekatan persaudaraan. Kerekatan ini tidak hanya terlihat saat pentas (manggung) termasuk di luar panggung. Dalam keseharian, Ngaji bersaudara memang dikenal akur dan kompak.

Kekompakkan ini pula yang menjadikan mereka terkena musibah bersama dalam tragedi sebelas. Ngaji bersaudara yang tergabung dalam satu banjar (satu sekaa) mengalami nasib yang sama. Keempatnya harus kehilangan nyawa. Gede Muji ditemukan meninggal bersama sekaa lainnya. Sementara, jasad Ngaji bersama dua kakak lainnya menghilang entah kemana. Mungkin tersesat di rimba alunan gong, angklung dan gender yang ditabuh warga Desa Adat Sebunibus hari ini dan mendatang. [T]

BACA ARTIKEL BERIKUTNYA:

Mengenang 13 Tahun “Tragedi Sebelas” [2]: Seniman I Nyoman Pindah, Asa yang Tersisa dari Sebunibus
Mengenang “Tragedi Sebelas” (3): Nusa Penida Kehilangan Patih Agung Legendaris Asal Sebunibus—I Made Sekat
Mengenang 13 Tahun Tragedi Sebelas (4): I Nyoman Sulatra, Menggantung Nyawa pada Dingklik Reong
Sembilan Tahun Sebelum “Tragedi Sebelas” (5), Nusa Penida Kehilangan Seniman Muda Bertalenta—I Gede Suradnya

BACA artikel-artikel menarik tentang Nusa Penida dari penulis KETUT SERAWAN

Tags: angklungDesa Adat Sebunibusin memoriamkesenian balinostalgiaNusa Penidaseni karawitan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tumbal Politik | Cerpen I Made Sugianto

Next Post

Utopia di Padang Beton dalam Fantasy Is a Concrete Jungle

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails
Next Post
Utopia di Padang Beton dalam Fantasy Is a Concrete Jungle

Utopia di Padang Beton dalam Fantasy Is a Concrete Jungle

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co