2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengenang 13 Tahun “Tragedi Sebelas” [1]: Nusa Penida Kehilangan Seniman Ngaji Bersaudara Asal Sebunibus

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
September 24, 2024
in Khas
Mengenang 13 Tahun “Tragedi Sebelas” [1]: Nusa Penida Kehilangan Seniman Ngaji Bersaudara Asal Sebunibus

Aksi Ngaji Bersaudara dalam Festival Angklung Kebyar (Kreasi) PKB 2009 bersama Sekaa Desa Adat Sebunibus (Dok. Taksu Nusa)

PADA tanggal 21 September 2011, sebuah kapal Motor Sri Murah Rezeki tenggelam di perairan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali. Kapal yang mengangkut sekaa angklung Desa Adat Sebunibus  ini diduga terbalik setelah dihantam gelombang besar. Insiden ini menyebabkan 11 orang meninggal, 11 selamat dan 14 hilang. Untuk memudahkan ingatan, saya menyebutnya dengan istilah “Tragedi Sebelas” karena terjadi pada tahun 2011, dan dikuatkan oleh komposisi perbandingan korban meninggal dan selamat yakni 11:11.

Tragedi sebelas bermula dari Sekaa Angklung Desa Adat Sebunibus yang hendak menyeberang dari Pulau Nusa Lembongan menuju Pulau Nusa Penida pada malam hari. Sebelumnya (sore hari), Sekaa Angklung Desat Adat Sebunibus ngayah di Desa Jungutbatu. Usai ngayah, sekitar pukul 23.30wita,sekaa hendak menyeberang kembali ke Pulau Nusa Penida dengan kapal motor Sri Murah Rezeki yang disewanya.

Setelah berjalan kurang lebih 2-3 mil dari Pantai Jungutbatu, tiba-tiba kapal yang dinakhodai oleh Made Longgor itu dihantam ombak besar hingga terbalik. Situasi menjadi tak terkendali. Musibah tak dapat dihindari. Lalu, kepiluan membekas di hati dan pikiran masyarakat Nusa Penida hingga kini.  

Guru, Seniman, dan Tokoh Masyarakat

Kepiluan atas tragedi sebelas tak cukup diuraikan dengan air mata. Itulah yang mungkin dirasakan terutama oleh warga Desa Adat Sebunibus. Pasalnya, warga Desa Adat Sebunibus tidak hanya terpukul atas kepergian nyawa beberapa warganya, tetapi lebih dari itu. Mereka sangat terpukul karena harus kehilangan seniman penting 4 bersaudara yakni I Made Ngaji,  I Gede Muji, I Ketut Ginastra dan I Made Riawan. Pun terpukul karena empat bersaudara ini juga seorang tokoh masyarakat yang disegani masyarakat Sebunibus.

I Made Ngaji | Foto: Dok keluarga

Ngaji bersaudara adalah seniman karawitan yang malang melintang pada era 80-90-an di Nusa Penida. Era ketika berbagai akses kehidupan seperti transportasi, komunikasi, pendidikan dan lain-lainnya masih serba terbatas di pulau itu. Namun, kondisi ini tidak menyurutkan Ngaji bersaudara untuk mengembangkan potensi seninya.

Ngaji bersaudara adalah seniman otodidak dari desa. Bakat alam karawitannya sudah terlihat sejak menginjak usia anak-anak. Dari kecil, mereka sudah biasa memainkan instrumen gamelan (gong) tradisional Bali. Bakat semestanya ini terus bertumbuh dan berkembang seiring waktu –meskipun tidak pernah mengalami sentuhan lembaga manapun. Ngaji bersama sang kakak tidak pernah mengenyam pendidikan formal sekolah seni. Selepas SMP, mereka (berempat) justru melanjutkan pendidikan ke Sekolah Pendidikan Guru (SPG).

Hasilnya, mereka kompak menjadi guru PNS. Kesehariannya, Ngaji bersaudara mengajar di SDN yang ada di Nusa Penida. Dari karakter keguruan inilah yang menggiring mereka pada perjumpaan filosofi long life education. Filosofi ini berimbas pula kepada dunia seni karawitan yang digelutinya.

Bagi mereka, tidak ada kata puas untuk bertumbuh di dunia seni karawitan. Mereka terus menempa dirinya dengan palu ketekunan dan konsistensi. Mereka berguru pada kaset pita tape recorder, berguru pada televisi, berguru dengan seniman karawitan lainnya dan sesekali diimbangi dengan menonton langsung pagelaran karawitan hingga ke Bali daratan.

Namun demikian, bukan berarti mereka lalai dengan rutinitasnya. Menjadi guru adalah tugas kesehariannya. Menjadi pelaku seni karawitan juga tak pernah mereka abaikan. Kedua peran ini dijalaninya mengalir sesuai proporsinya.

Karena itu, kemampuannya dalam seni karawitan tidak bisa dipandang sebelah mata. Sepak terjang seninya sudah teruji di Pulau Nusa Penida hingga ke Bali daratan. Puncaknya, Ngaji bersaudara berhasil mengantarkan sekaa Angklung Desa Adat Sebunibus dalam Festival Angklung Kebyar (Kreasi) pada Pesta Kesenian Bali (PKB) 2009, mewakili Kabupaten Klungkung. Penunjukkan sekaa Angklung Sebunibus sebagai duta Kabupaten Klungkung disebabkan oleh sekaa ini berhasil keluar sebagai juara 1 dalam festival angklung di Kabupaten Klungkung tahun 2008.

Sebelumnya, tahun 1984, Ngaji bersaudara bersama sekaa gongnya juga pernah sukses menjadi yang terbaik, juara 1, pada Lomba Gong Kebyar se-Kabupaten Klungkung. Jejak prestasi inilah yang mengantarkan Ngaji bersaudara 6 kali masuk dalam tim inti gong kebyar mewakili camat dan kabupaten pada ajang PKB.

I Gede Muji | Foto: Dok keluarga

Menurut file atau catatan Pande Bagus Gde Sesana—putra Ketut Ginastra—Ngaji pernah mewakili gong kebyar Klungkung pada tahun 2001, 2003, 2004, 2005, 2006 dan 2008. Sementara, sang kakak, Gede Muji, pernah mewakili duta Klungkung sebanyak 5 kali, Made Riawan sekali dan Ketut Ginastra sekali mewakili Kecamatan Nusa Penida.

Dulu, era 90-an ke bawah, PKB merupakan panggung impian bagi setiap seniman tradisional Bali, termasuk seniman dari Nusa Penida. Bagi masyarakat Nusa Penida (termasuk warga Sebunibus), PKB bukan sekadar panggung prestise dan kebanggaan, tetapi panggung untuk mendapatkan semacam legitimasi sebagai seorang seniman. Mereka yang pernah berpartisipasi dalam panggung PKB akan mendapatkan pengakuan sosial dari masyarakat setempat.

Itulah yang dialami oleh Ngaji pada khususnya. Jam terbang festivalnya membuat Ngaji mendapatkan banyak tawaran melatih sekaa gong di Nusa Penida. Ngaji dikenal sebagai pelatih gong atau karawitan ternama di Nusa Penida. Ia pernah menangani atau melatih beberapa sekaa gong lintas banjar maupun lintas desa adat di Nusa Penida.

Selain piawai bermain gong dan angklung, Ngaji bersaudara, khususnya Gede Muji dan Made Riawan, juga piawai memainkan instrumen gender. Dua kakaknya sering mendapatkan undangan kupah ngender  saat musim pitra yadnya. Sang kakak sering berduet ngender di atas bade yang sedang diarak. Pun mengiringi dalang dalam pegelaran wayang.

Keluarga Ngaji Bersaudara

Lalu, siapa sesungguhnya Ngaji bersaudara? Ngaji bersaudara berasal dari keluarga seni. Ayahnya, Jero Mangku Rame adalah seorang undagi, seniman, jro mangku (sekaligus jero balian) dan tokoh adat ternama di Nusa Penida.

Sebagai undagi, karya-karya ayahnya tidak hanya tersebar di Pulau Nusa Penida, termasuk ke daerah transmigran seperti Sumatera. Karya-karya beliau antara lain berupa rumah, sanggah, bade, petulangan dan lain sebagainya.

Selain undagi, sang ayah juga seorang seniman karawitan (pelatih) yang disegani pada zamannya di Nusa Penida. Kiprahnya dalam dunia karawitan masih terbatas di lingkungan Pulau Nusa Penida. Sementara, pada ibunya mengalir basis darah seni tari.

I Made Riawan | Foto: Dok keluarga

Mangku Rame juga seorang Jero Mangku besar. Di bawah tahun 2000-an, sebelum tren menggunakan sulinggih besar model sekarang, Mangku Rame biasa muput upacara besar seperti upacara ngaben (pitra yadnya). Kala itu, masyarakat Nusa Penida memang mentoleransi sumber daya manusia (SDM) yang ada. Mereka memanfaatkan jasa kepemangkuan dalam menuntaskan upacara, karena kala itu belum ada perguruan melinggih seperti sri mpu, rsi, apalagi pedanda—tidak ada griya di Nusa Penida.

Semasa hidupnya, Mangku Rame adalah penglinsir atau mangku utama di Pura Dalem Ped hingga memasuki usia pensiun. Ia mengabdi kurang lebih 35 tahun. Ia juga berperan besar dalam merintis pembangunan Pura Taman Ped. Ia termasuk jero mangku yang sangat disegani tidak hanya di Bali, termasuk di beberapa daerah lainnya di nusantara.

Skill hidup Jro Mangku Rame tergolong komplit. Ia juga dikenal sebagai tokoh adat dan seorang leader. Setidaknya, ia pernah menjabat sebagai Kelih Seket (Klian Dinas) sekitar tahun 1950-an.

Talenta komplit sang ayah rupanya menurun pada Ngaji bersaudara. Bakat yang paling menonjol diwariskan oleh Ngaji bersaudara adalah seni dan ketokohan sang ayah. Ngaji bersaudara tidak hanya dikenal sebagai seniman karawitan di Nusa Penida—tetapi juga dikenal sebagai tokoh adat (masyarakat) di Desa Adat Sebunibus.  

Peran ketokohan Ngaji bersaudara yang paling dikenang oleh warga Desa Adat Sebunibus ialah saat mereka menjadi tim pionir yang memperjuangkan dan mendirikan Desa Adat Sebunibus. Sebelumnya, Sebunibus merupakan komunitas banjar yang berada di bawah Desa Adat Sakti. Lewat kekompakkan tangan dingin Ngaji bersaudara bersama tokoh adat Desa Adat Sebunibus yang lainnya, inisiasi pembangunan Pura Puseh dan Pura Desa di Desa Adat Sebunibus dikebut. Syarat administratif digenjot. Jurus-jurus lobi dan negosiasi digencarkan—sampai akhirnya pada tahun 2005, yakni selama rentang 2 tahun, Banjar Sebunibus resmi berubah status menjadi desa adat.

Aksi Ngaji Bersaudara dalam Festival Angklung Kebyar (Kreasi) PKB 2009 bersama Sekaa Desa Adat Sebunibus | Foto: Dok. Taksu Nusa

Kekompakan memang menjadi ciri khas Ngaji bersaudara dalam bekerja. Mungkin, kekompokkan ini terpelihara dari kesamaan interes dan minat mereka dalam menekuni seni karawitan.  Mereka biasa tampil bersama baik dalam momen kupah, ngayah dan keikutsertaan dalam kegiatan festival karawitan.

Bagi Ngaji bersaudara, menekuni seni karawitan memberikan efek ganda. Pertama, mereka dapat menemukan jati diri sebagai seniman. Seni karawitan-lah yang telah membukakan kesadaran bahwa mereka memiliki potensi optimal di ranah tersebut—yang menjadikannya bertumbuh, kompetitif dan eksis.

Kedua, mereka juga mendapatkan popularitas. Popularitas ini didapatnya dari konsistensi yang panjang. Konsistensi yang membentangkan kualitas dirinya sehingga menjadi perbincangan masyarakat luas.

Ketiga, mereka dapat membangun fondasi kerekatan persaudaraan. Kerekatan ini tidak hanya terlihat saat pentas (manggung) termasuk di luar panggung. Dalam keseharian, Ngaji bersaudara memang dikenal akur dan kompak.

Kekompakkan ini pula yang menjadikan mereka terkena musibah bersama dalam tragedi sebelas. Ngaji bersaudara yang tergabung dalam satu banjar (satu sekaa) mengalami nasib yang sama. Keempatnya harus kehilangan nyawa. Gede Muji ditemukan meninggal bersama sekaa lainnya. Sementara, jasad Ngaji bersama dua kakak lainnya menghilang entah kemana. Mungkin tersesat di rimba alunan gong, angklung dan gender yang ditabuh warga Desa Adat Sebunibus hari ini dan mendatang. [T]

BACA ARTIKEL BERIKUTNYA:

Mengenang 13 Tahun “Tragedi Sebelas” [2]: Seniman I Nyoman Pindah, Asa yang Tersisa dari Sebunibus
Mengenang “Tragedi Sebelas” (3): Nusa Penida Kehilangan Patih Agung Legendaris Asal Sebunibus—I Made Sekat
Mengenang 13 Tahun Tragedi Sebelas (4): I Nyoman Sulatra, Menggantung Nyawa pada Dingklik Reong
Sembilan Tahun Sebelum “Tragedi Sebelas” (5), Nusa Penida Kehilangan Seniman Muda Bertalenta—I Gede Suradnya

BACA artikel-artikel menarik tentang Nusa Penida dari penulis KETUT SERAWAN

Tags: angklungDesa Adat Sebunibusin memoriamkesenian balinostalgiaNusa Penidaseni karawitan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tumbal Politik | Cerpen I Made Sugianto

Next Post

Utopia di Padang Beton dalam Fantasy Is a Concrete Jungle

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails
Next Post
Utopia di Padang Beton dalam Fantasy Is a Concrete Jungle

Utopia di Padang Beton dalam Fantasy Is a Concrete Jungle

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co