14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengenang 13 Tahun “Tragedi Sebelas” [1]: Nusa Penida Kehilangan Seniman Ngaji Bersaudara Asal Sebunibus

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
September 24, 2024
in Khas
Mengenang 13 Tahun “Tragedi Sebelas” [1]: Nusa Penida Kehilangan Seniman Ngaji Bersaudara Asal Sebunibus

Aksi Ngaji Bersaudara dalam Festival Angklung Kebyar (Kreasi) PKB 2009 bersama Sekaa Desa Adat Sebunibus (Dok. Taksu Nusa)

PADA tanggal 21 September 2011, sebuah kapal Motor Sri Murah Rezeki tenggelam di perairan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali. Kapal yang mengangkut sekaa angklung Desa Adat Sebunibus  ini diduga terbalik setelah dihantam gelombang besar. Insiden ini menyebabkan 11 orang meninggal, 11 selamat dan 14 hilang. Untuk memudahkan ingatan, saya menyebutnya dengan istilah “Tragedi Sebelas” karena terjadi pada tahun 2011, dan dikuatkan oleh komposisi perbandingan korban meninggal dan selamat yakni 11:11.

Tragedi sebelas bermula dari Sekaa Angklung Desa Adat Sebunibus yang hendak menyeberang dari Pulau Nusa Lembongan menuju Pulau Nusa Penida pada malam hari. Sebelumnya (sore hari), Sekaa Angklung Desat Adat Sebunibus ngayah di Desa Jungutbatu. Usai ngayah, sekitar pukul 23.30wita,sekaa hendak menyeberang kembali ke Pulau Nusa Penida dengan kapal motor Sri Murah Rezeki yang disewanya.

Setelah berjalan kurang lebih 2-3 mil dari Pantai Jungutbatu, tiba-tiba kapal yang dinakhodai oleh Made Longgor itu dihantam ombak besar hingga terbalik. Situasi menjadi tak terkendali. Musibah tak dapat dihindari. Lalu, kepiluan membekas di hati dan pikiran masyarakat Nusa Penida hingga kini.  

Guru, Seniman, dan Tokoh Masyarakat

Kepiluan atas tragedi sebelas tak cukup diuraikan dengan air mata. Itulah yang mungkin dirasakan terutama oleh warga Desa Adat Sebunibus. Pasalnya, warga Desa Adat Sebunibus tidak hanya terpukul atas kepergian nyawa beberapa warganya, tetapi lebih dari itu. Mereka sangat terpukul karena harus kehilangan seniman penting 4 bersaudara yakni I Made Ngaji,  I Gede Muji, I Ketut Ginastra dan I Made Riawan. Pun terpukul karena empat bersaudara ini juga seorang tokoh masyarakat yang disegani masyarakat Sebunibus.

I Made Ngaji | Foto: Dok keluarga

Ngaji bersaudara adalah seniman karawitan yang malang melintang pada era 80-90-an di Nusa Penida. Era ketika berbagai akses kehidupan seperti transportasi, komunikasi, pendidikan dan lain-lainnya masih serba terbatas di pulau itu. Namun, kondisi ini tidak menyurutkan Ngaji bersaudara untuk mengembangkan potensi seninya.

Ngaji bersaudara adalah seniman otodidak dari desa. Bakat alam karawitannya sudah terlihat sejak menginjak usia anak-anak. Dari kecil, mereka sudah biasa memainkan instrumen gamelan (gong) tradisional Bali. Bakat semestanya ini terus bertumbuh dan berkembang seiring waktu –meskipun tidak pernah mengalami sentuhan lembaga manapun. Ngaji bersama sang kakak tidak pernah mengenyam pendidikan formal sekolah seni. Selepas SMP, mereka (berempat) justru melanjutkan pendidikan ke Sekolah Pendidikan Guru (SPG).

Hasilnya, mereka kompak menjadi guru PNS. Kesehariannya, Ngaji bersaudara mengajar di SDN yang ada di Nusa Penida. Dari karakter keguruan inilah yang menggiring mereka pada perjumpaan filosofi long life education. Filosofi ini berimbas pula kepada dunia seni karawitan yang digelutinya.

Bagi mereka, tidak ada kata puas untuk bertumbuh di dunia seni karawitan. Mereka terus menempa dirinya dengan palu ketekunan dan konsistensi. Mereka berguru pada kaset pita tape recorder, berguru pada televisi, berguru dengan seniman karawitan lainnya dan sesekali diimbangi dengan menonton langsung pagelaran karawitan hingga ke Bali daratan.

Namun demikian, bukan berarti mereka lalai dengan rutinitasnya. Menjadi guru adalah tugas kesehariannya. Menjadi pelaku seni karawitan juga tak pernah mereka abaikan. Kedua peran ini dijalaninya mengalir sesuai proporsinya.

Karena itu, kemampuannya dalam seni karawitan tidak bisa dipandang sebelah mata. Sepak terjang seninya sudah teruji di Pulau Nusa Penida hingga ke Bali daratan. Puncaknya, Ngaji bersaudara berhasil mengantarkan sekaa Angklung Desa Adat Sebunibus dalam Festival Angklung Kebyar (Kreasi) pada Pesta Kesenian Bali (PKB) 2009, mewakili Kabupaten Klungkung. Penunjukkan sekaa Angklung Sebunibus sebagai duta Kabupaten Klungkung disebabkan oleh sekaa ini berhasil keluar sebagai juara 1 dalam festival angklung di Kabupaten Klungkung tahun 2008.

Sebelumnya, tahun 1984, Ngaji bersaudara bersama sekaa gongnya juga pernah sukses menjadi yang terbaik, juara 1, pada Lomba Gong Kebyar se-Kabupaten Klungkung. Jejak prestasi inilah yang mengantarkan Ngaji bersaudara 6 kali masuk dalam tim inti gong kebyar mewakili camat dan kabupaten pada ajang PKB.

I Gede Muji | Foto: Dok keluarga

Menurut file atau catatan Pande Bagus Gde Sesana—putra Ketut Ginastra—Ngaji pernah mewakili gong kebyar Klungkung pada tahun 2001, 2003, 2004, 2005, 2006 dan 2008. Sementara, sang kakak, Gede Muji, pernah mewakili duta Klungkung sebanyak 5 kali, Made Riawan sekali dan Ketut Ginastra sekali mewakili Kecamatan Nusa Penida.

Dulu, era 90-an ke bawah, PKB merupakan panggung impian bagi setiap seniman tradisional Bali, termasuk seniman dari Nusa Penida. Bagi masyarakat Nusa Penida (termasuk warga Sebunibus), PKB bukan sekadar panggung prestise dan kebanggaan, tetapi panggung untuk mendapatkan semacam legitimasi sebagai seorang seniman. Mereka yang pernah berpartisipasi dalam panggung PKB akan mendapatkan pengakuan sosial dari masyarakat setempat.

Itulah yang dialami oleh Ngaji pada khususnya. Jam terbang festivalnya membuat Ngaji mendapatkan banyak tawaran melatih sekaa gong di Nusa Penida. Ngaji dikenal sebagai pelatih gong atau karawitan ternama di Nusa Penida. Ia pernah menangani atau melatih beberapa sekaa gong lintas banjar maupun lintas desa adat di Nusa Penida.

Selain piawai bermain gong dan angklung, Ngaji bersaudara, khususnya Gede Muji dan Made Riawan, juga piawai memainkan instrumen gender. Dua kakaknya sering mendapatkan undangan kupah ngender  saat musim pitra yadnya. Sang kakak sering berduet ngender di atas bade yang sedang diarak. Pun mengiringi dalang dalam pegelaran wayang.

Keluarga Ngaji Bersaudara

Lalu, siapa sesungguhnya Ngaji bersaudara? Ngaji bersaudara berasal dari keluarga seni. Ayahnya, Jero Mangku Rame adalah seorang undagi, seniman, jro mangku (sekaligus jero balian) dan tokoh adat ternama di Nusa Penida.

Sebagai undagi, karya-karya ayahnya tidak hanya tersebar di Pulau Nusa Penida, termasuk ke daerah transmigran seperti Sumatera. Karya-karya beliau antara lain berupa rumah, sanggah, bade, petulangan dan lain sebagainya.

Selain undagi, sang ayah juga seorang seniman karawitan (pelatih) yang disegani pada zamannya di Nusa Penida. Kiprahnya dalam dunia karawitan masih terbatas di lingkungan Pulau Nusa Penida. Sementara, pada ibunya mengalir basis darah seni tari.

I Made Riawan | Foto: Dok keluarga

Mangku Rame juga seorang Jero Mangku besar. Di bawah tahun 2000-an, sebelum tren menggunakan sulinggih besar model sekarang, Mangku Rame biasa muput upacara besar seperti upacara ngaben (pitra yadnya). Kala itu, masyarakat Nusa Penida memang mentoleransi sumber daya manusia (SDM) yang ada. Mereka memanfaatkan jasa kepemangkuan dalam menuntaskan upacara, karena kala itu belum ada perguruan melinggih seperti sri mpu, rsi, apalagi pedanda—tidak ada griya di Nusa Penida.

Semasa hidupnya, Mangku Rame adalah penglinsir atau mangku utama di Pura Dalem Ped hingga memasuki usia pensiun. Ia mengabdi kurang lebih 35 tahun. Ia juga berperan besar dalam merintis pembangunan Pura Taman Ped. Ia termasuk jero mangku yang sangat disegani tidak hanya di Bali, termasuk di beberapa daerah lainnya di nusantara.

Skill hidup Jro Mangku Rame tergolong komplit. Ia juga dikenal sebagai tokoh adat dan seorang leader. Setidaknya, ia pernah menjabat sebagai Kelih Seket (Klian Dinas) sekitar tahun 1950-an.

Talenta komplit sang ayah rupanya menurun pada Ngaji bersaudara. Bakat yang paling menonjol diwariskan oleh Ngaji bersaudara adalah seni dan ketokohan sang ayah. Ngaji bersaudara tidak hanya dikenal sebagai seniman karawitan di Nusa Penida—tetapi juga dikenal sebagai tokoh adat (masyarakat) di Desa Adat Sebunibus.  

Peran ketokohan Ngaji bersaudara yang paling dikenang oleh warga Desa Adat Sebunibus ialah saat mereka menjadi tim pionir yang memperjuangkan dan mendirikan Desa Adat Sebunibus. Sebelumnya, Sebunibus merupakan komunitas banjar yang berada di bawah Desa Adat Sakti. Lewat kekompakkan tangan dingin Ngaji bersaudara bersama tokoh adat Desa Adat Sebunibus yang lainnya, inisiasi pembangunan Pura Puseh dan Pura Desa di Desa Adat Sebunibus dikebut. Syarat administratif digenjot. Jurus-jurus lobi dan negosiasi digencarkan—sampai akhirnya pada tahun 2005, yakni selama rentang 2 tahun, Banjar Sebunibus resmi berubah status menjadi desa adat.

Aksi Ngaji Bersaudara dalam Festival Angklung Kebyar (Kreasi) PKB 2009 bersama Sekaa Desa Adat Sebunibus | Foto: Dok. Taksu Nusa

Kekompakan memang menjadi ciri khas Ngaji bersaudara dalam bekerja. Mungkin, kekompokkan ini terpelihara dari kesamaan interes dan minat mereka dalam menekuni seni karawitan.  Mereka biasa tampil bersama baik dalam momen kupah, ngayah dan keikutsertaan dalam kegiatan festival karawitan.

Bagi Ngaji bersaudara, menekuni seni karawitan memberikan efek ganda. Pertama, mereka dapat menemukan jati diri sebagai seniman. Seni karawitan-lah yang telah membukakan kesadaran bahwa mereka memiliki potensi optimal di ranah tersebut—yang menjadikannya bertumbuh, kompetitif dan eksis.

Kedua, mereka juga mendapatkan popularitas. Popularitas ini didapatnya dari konsistensi yang panjang. Konsistensi yang membentangkan kualitas dirinya sehingga menjadi perbincangan masyarakat luas.

Ketiga, mereka dapat membangun fondasi kerekatan persaudaraan. Kerekatan ini tidak hanya terlihat saat pentas (manggung) termasuk di luar panggung. Dalam keseharian, Ngaji bersaudara memang dikenal akur dan kompak.

Kekompakkan ini pula yang menjadikan mereka terkena musibah bersama dalam tragedi sebelas. Ngaji bersaudara yang tergabung dalam satu banjar (satu sekaa) mengalami nasib yang sama. Keempatnya harus kehilangan nyawa. Gede Muji ditemukan meninggal bersama sekaa lainnya. Sementara, jasad Ngaji bersama dua kakak lainnya menghilang entah kemana. Mungkin tersesat di rimba alunan gong, angklung dan gender yang ditabuh warga Desa Adat Sebunibus hari ini dan mendatang. [T]

BACA ARTIKEL BERIKUTNYA:

Mengenang 13 Tahun “Tragedi Sebelas” [2]: Seniman I Nyoman Pindah, Asa yang Tersisa dari Sebunibus
Mengenang “Tragedi Sebelas” (3): Nusa Penida Kehilangan Patih Agung Legendaris Asal Sebunibus—I Made Sekat
Mengenang 13 Tahun Tragedi Sebelas (4): I Nyoman Sulatra, Menggantung Nyawa pada Dingklik Reong
Sembilan Tahun Sebelum “Tragedi Sebelas” (5), Nusa Penida Kehilangan Seniman Muda Bertalenta—I Gede Suradnya

BACA artikel-artikel menarik tentang Nusa Penida dari penulis KETUT SERAWAN

Tags: angklungDesa Adat Sebunibusin memoriamkesenian balinostalgiaNusa Penidaseni karawitan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tumbal Politik | Cerpen I Made Sugianto

Next Post

Utopia di Padang Beton dalam Fantasy Is a Concrete Jungle

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

by Emi Suy
May 11, 2026
0
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

Read moreDetails

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

Read moreDetails

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails
Next Post
Utopia di Padang Beton dalam Fantasy Is a Concrete Jungle

Utopia di Padang Beton dalam Fantasy Is a Concrete Jungle

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co