23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengenang 13 Tahun “Tragedi Sebelas” [2]: Seniman I Nyoman Pindah, Asa yang Tersisa dari Sebunibus

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
September 24, 2024
in Khas
Mengenang 13 Tahun “Tragedi Sebelas” [2]: Seniman I Nyoman Pindah, Asa yang Tersisa dari Sebunibus

Seniman I Nyoman Pindah saat melatih di Sanggar Tittari Emas | Foto: Dok. Sanggar Tittari Emas

SATU-SATUNYA saudara laki-laki Ngaji yang terhindar dari Tragedi Sebelas ialah I Nyoman Pindah. Ia selamat karena memang tidak ikut dalam rombongan sekaa angklung Desa Adat Sebunibus  yang ngayah pada tanggal 21 September 2011. Saat kejadian, Pindah berada di daerah transmigran (Kalimantan) untuk menyelesaikan 2 bade dan 27 petulangan.

Nyoman Pindah merupakan kakak kedua dari Ngaji. Total saudara Ngaji berjumlah 8 orang yaitu 2 perempuan dan 6 laki-laki. Lima laki-laki dengan urutan paling tua yaitu Made Riawan (alm.), Nyoman Pindah, Ketut Ginastra (alm.), Gede Muji (alm.), Made Ngaji (alm.) dan alm. bungsu Gede Suradnya. Ngaji memiliki saudara perempuan yakni Wayan Rame (sulung) dan adik perempuan, Ketut Rai.

Semua saudara laki-laki Ngaji ialah seniman karawitan, termasuk Nyoman Pindah. Pindah termasuk seniman otodidak yang memiliki intelegensi atau kecerdasan seni yang mempuni—meskipun hanya mengenyam pendidikan kelas 4 Sekolah Dasar.

Nyoman Pindah menjadi satu-satunya saudara laki-laki Ngaji yang putus sekolah. Sisanya, kakak dan adiknya tamatan SPG hingga kuliah penyetaraan (guru PNS SD). Sedangkan si sulung, Gede Suradnya, merupakan satu-satunya yang mengenyam pendidikan seni paling tinggi. Selepas dari kokar (SMKI), Suradnya melanjutkan ke ASTI (STSI) Denpasar. Sayang, di injury time wisuda, Suradnya harus kehilangan nyawa karena mengalami lakalantas pada tahun 2002, sebelum tragedi sebelas.

Seniman I Nyoman Pindah [Foto: Dok keluarga

Nyoman Pindah boleh saja terpuruk di dunia akademis. Ia tidak memiliki gelar mentereng untuk dibanggakan. Namun, ia membuktikan kepada dunia bahwa minus pendidikan (formal) bukan alangan untuk menjadi seniman karawitan. Menurutnya, kecintaan, lingkungan, pergaulan dan konsistensi adalah sekolah dan kampus tinggi—meski tak memberikan selembar legalitas. Prinsip ini sangat nyata dialami oleh Nyoman Pindah.

Nyoman Pindah tidak pernah belajar ilmu seni karawitan secara khusus. Akan tetapi, ia bisa memainkan gamelan tradisional Bali sejak kecil. Kedekatannya dengan dunia karawitan bersumber dari sang ayah, Mangku Rame. Kebetulan, Mangku Rame adalah pelatih alias pembina sekaa gong di Sebunibus. Setiap sang ayah melatih gong di banjar, Pindah selalu menjadi ekor. Awalnya, pria yang berteman baik dengan alm. I Made Subandi ini hanya mengamati—melihat dan mendengar—lalu mencoba memainkan instrumen gong secara mandiri.

Selanjutnya, ia tersandera dengan formulasi tabuh gong. Zaman ia kecil, sangat sulit mendapatkan referensi pola tabuh yang utuh. Ia tidak memiliki fasilitas seperti tape recorder untuk belajar pola tabuh gong. Satu-satunya cara ialah ia mendengarkan tabuh gong yang didengarnya lewat loudspeaker sewaktu-waktu, tidak tentu.

Biasanya, setiap upacara adat-keagamaan, misalnya nelubulanin, di Desa Adat Sebunibus, pihak  yang punya gawe yang ngupah loudspeaker. Loudspeaker itu menyiarkan tabuh-tabuh garapan ASTI di udara. Tabuh inilah yang menjadi incaran Nyoman Pindah. Jika tabuh gong mengalun lewat loudspeaker, ia mencari posisi ideal untuk mendengar dengan jelas. Sementara itu, kedua telinganya terbuka lebar-lebar sambil berkonsentrasi tinggi agar dapat menangkap pola-pola tabuh tersebut. Ia rela mengabaikan setiap pekerjaan hanya untuk mendengar tabuh-tabuh itu secara tuntas dan komprehensif.

“Pernah ada tetangga memutar tabuh gong di loudspeaker sepotong-potong. Kadang, gonta-ganti tabuh nggak jelas. Ini bikin saya jengkel. Kemudian, saya melemparkan batu ke arah stand loudspeaker itu berkali-kali,” ujar pria berambut sedikit ikal ini, suatu kali saat bercerita.

Melatih Gong Sejak Kelas 4 SD

Berkat bakat semestanya yang luar biasa, pada usia anak-anak, Pindah sudah mampu memainkan gamelan tradisional Bali lebih dari satu instrumen. Bahkan, kepiawaiannya dalam memainkan gamelan melebihi kemampuan orang dewasa.

Seniman I Nyoman Pindah (tengah) | Foto: Dok. keluarga

Karena itu, sejak duduk di bangku kelas 4 SD, pria yang lahir pada tanggal 31 Desember 1963 ini sudah mendapatkan tawaran melatih sekaa gong kebyar di luar daerah yang ada di Nusa Penida. Tawaran ini bermula dari penampilannya bersama sekaa gong binaan ayahnya di Sebunibus. Rupanya, saat pentas, skillnya di atas panggung menjadi sorotan dari warga luar Sebunibus.

Karena itu, pasca pentas, seseorang mencari Pindah ke rumahnya. Orang itu memintanya untuk melatih sekaa gong di desanya. Pindah sempat kaget dan tak percaya. Namun, orang itu meyakinkan Pindah.

“Waktu itu, tahun 1972. Saya masih kelas 4 SD. Utusan dari Sahsalang (Banjar Salang, Batukandik, Nusa Penida) datang meminta sekaa gongnya dilatih selama 2 tahun. Saya bangga dan menyanggupinya,” terang pria yang kini memiliki 5 anak ini.

Tidak berhenti di Sahsalang. Ujian kepelatihan berikutnya datang dari sekaa gong di Banjar Penangkidan, Nusa Penida. Nama Pindah terendus juga ke tempat tersebut. Ia diminta melatih sekaa gong di Penangkidan. Selanjutnya, berpindah ke tempat lain di NP.

Pindah menjadi nyaman dan bersemangat melakoni diri sebagai pelatih gong. Padahal, zaman itu ia tidak mendapatkan finansial yang cukup. Suami dari Ni Ketut Tirah ini hanya mendapatkan pelayanan yang optimal secara pangan (makanan) ditambah sembako yang dibawa ke rumah.

Namun, ia mendapatkan kepuasan yang tak bisa diukur dengan materi. Ia dapat melampiaskan kecintaan seni karawitannya. Ia mendapatkan kesempatan melatih. Ia mendapatkan popularitas. Lebih dari itu, ia mendapatkan pengalaman-pengalaman ber-kerawitan yang tak terpikirkan oleh anak seusianya.

Seniman I Nyoman Pindah (paling kanan) bersama siswa Sanggar Tittari Emas | Foto: Dok. Sanggar Tittari Emas

Kenyamanan Pindah dalam dunia karawitan membuatnya terlena. Ia larut dengan kesibukan berkarawitan hingga terdampar pada persimpangan studi. Anak ketiga dari Jero Mangku Rame ini memutuskan berhenti sekolah hingga kelas 4 SD saja. Sebuah keputusan yang kontroversial. Keputusan yang mendapatkan pertentangan keras dari beberapa saudaranya, terlebih lagi dari sang ayah.

Akan tetapi, Pindah bukan sosok yang mudah digoyahkan. Keputusannya bulat, tak dapat diganggu gugat. Padahal, bertaruh di dunia seni karawitan pada zaman 1970-an adalah keputusan nekat dan tidak rasional.

Siapa seniman karawitan yang dapat eksis (hidup) pada era 1970-an di Nusa Penida? Hampir tidak ada referensi untuk menjelaskan hal ini. Era 1970-an adalah masa-masa sulit di Nsa Penida. Masa ketika sektor pertanian menjadi andalan. Sisanya, ialah undagi atau pertukangan. Seni karawitan tidak masuk dalam hitungan untuk bisa survive.

Menyadari hal tersebut, Pindah juga mengasah skill lain yang bisa menopang hidupnya. Undagi menjadi alternatif. Baginya, menjadi undagi bukan pekerjaan sulit. Ia memiliki guru, yang sekaligus ayahnya sendiri yaitu Mangku Rame.

Kesehariannya, Pindah terbiasa dengan lingkungan undagi. Pasalnya, ayahnya adalah seorang undagi ternama pada era itu. Awalnya, ia membantu sang ayah dalam proyek perundagian (membuat rumah, sanggah, bade, dan petulangan) di beberapa daerah di Nusa Penida. Lama-kelamaan, ia pun bisa membuat hasil karya (undagi) secara mandiri.

Tidak cukup dengan undagi, ia juga belajar bertani dengan lingkungan sekitar. Ia bisa menjadi peladang palawija dan beternak sapi. Namun, cintanya terhadap karawitan tidak bisa ia tinggalkan seratus persen. Pria spesialis pemain terompong ini menjadi petani, peternak, undagi dan sekaligus seniman karawitan dengan komposisi yang ia pahami sendiri.

Hasilnya, ia survive tanpa meninggalkan seni karawitan yang digelutinya sejak kecil. Kesibukkan tidak pernah menyurutkan dia untuk tetap aktif, kontinu, dan konsisten di ranah seni karawitan. Entah sekadar ngayah di banjar, ikut kupah ke luar daerah. Bahkan, berpartisipasi dalam kegiatan festival karawitan.

Partisipan dan Pelatih PKB

Kecintaan dan karma konsistensinya membuat Pindah menjadi seniman (karawitan) otodidak yang disegani oleh warga Nusa Penida, khususnya warga desa Adat Sebunibus. Kemampuannya dalam seni karawitan sudah teruji. Ia mencatatkan dirinya sebagai tim tabuh yang mewakili Klungkung beberapa kali dalam Pesta Kesenian Bali (PKB). Ia masuk tim inti sekaa gong kebyar Desa Jurangpahit, Nusa Penida, mewakili Klungkung dalam ajang PKB (tahun 2000), mewakili Klungkung bersama gong Kebyar Desa Ped (2003) dan bersama Desa Kutampi (2006).

Seniman I Nyoman Pindah (paling kiri) bersama siswa Sanggar Tittari Emas sebelum pentas ngender | Foto: Dok. Sanggar Tittari Emas

Ia juga menjadi barisan tabuh dalam sekaa angklung Desa Adat Sebunibus yang meraih juara 1 di Kabupaten Klungkung 2008 dan sekaligus ikut mewakili Klungkung ke PKB. Sebelumnya, tahun 1984, Pindah juga sukses mengantarkan sekaa gong Desa Adat Sebunibus menjadi yang terbaik, yakni juara 1, pada Lomba Gong Kebyar se-Kabupaten Klungkung.

“Saya tidak tamat SD. Ada penabuh-penabuh lain yang tamatan Kokar (SMKI) dan bahkan STSI (ASTI). Namun, astungkara saya bisa lolos dan dipercaya beberapa kali bergabung sebagai penabuh mewakili Klungkung,” ucap pria yang pernah menjabat sebagai Seksi Kesenian Pura Dalem Ped utusan Desa Adat Sebunibus ini.

Pindah memiliki insting seni karawitan yang tinggi. Karena itu, ia dapat memainkan beberapa instrumen tradisional Bali secara otodidak. Selain gong kebyar, ia juga piawai memainkan instrumen angklung, gender dan geguntangan.

Skill karawitan pindah tidak hanya teruji sebatas partisipan penabuh dalam dunia per-PKB-an. Namun, laki-laki yang pernah mengabdi 15 tahun di Pura Dalem Ped ini juga pernah menjadi pelatih (pembina) karawitan. Tahun 2014, ia ditunjuk menjadi pelatih (pembina) Gong Kebyar Wanita Desa Batubadeg, Nusa Penida, mewakili Kabupaten Klungkung dalam festival bergengsi yaitu PKB.

Ujian berikutnya, tahun 2015. Ia didaulat menjadi pembina (pelatih) Gender Wayang di Desa Lembongan, Nusa Penida. Kala itu, Desa Lembongan ditunjuk menjadi wakil Klungkung mengikuti parade Gender Wayang dalam PKB. Pindah diberi tanggung jawab untuk melatih (membina) sekaa gender tersebut. Pria dengan tinggi badan kurang lebih 165 ini sukses mengantarkan tim binaannya tampil luar biasa di panggung.

“Banggalah diberi tanggung jawab membina sekelas event PKB. Apalagi, saat mendengar nama saya disebut oleh MC sebagai pembina/ pelatih tanpa gelar di hadapan ratusan penonton. Berbeda dengan pembina-pembina yang lainnya, semua disebut dengan gelar mentereng,” tutur Pindah yang pemilik akun FB Jero Gender ini.

Beberapa siswa Tittari Emas, Binaan Seniman I Nyoman Pindah | Foto: Dok. Sanggar Tittari Emas

Modal skill, pengalaman berfestival dan kepelatihan semakin menguatkan citra diri seorang Nyoman Pindah. Ia banyak mendapat tawaran melatih dari banjar ke banjar, desa ke desa baik di Nusa Penida hingga ke Sulawesi dan Kalimantan. Zona kepelatihan Pindah di Nusa Penida mencapai lebih dari 80 persen.

Ia tidak hanya menjadi pelatih gong kebyar, angklung, gender dan termasuk melatih geguntangan. Untuk menjaga ruang cintanya terhadap seni karawitan, ia mendirikan sanggar gender bernama Tittari Emas pada tanggal 26 Desember 2000. Sanggar ini bergerak untuk melatih anak-anak belajar memainkan intrumen gender.

Hingga sekarang, Pindah dengan sanggarnya sudah berhasil membentuk basis bermain gender kepada anak didiknya. Bahkan, beberapa anak didiknya sudah mengalami uji pentas dalam acara keagamaan di Nusa Penida. Selain itu, Pindah juga aktif membantu sekaa gong DAS, terutama saat pementasan calonarang.

Di tengah kesibukkannya sebagai jero mangku, pelatih karawitan, tokoh masyarakat dan lain sebagainya—pindah tidak mau lepas dari dunia karawitan. Dunia yang dicintainya sejak kecil. Dunia yang mengandaskan pendidikan formalnya. [T]

BACA ARTIKEL SEBELUM DAN BERIKUTNYA:

Mengenang 13 Tahun “Tragedi Sebelas” [1]: Nusa Penida Kehilangan Seniman Ngaji Bersaudara Asal Sebunibus
Mengenang “Tragedi Sebelas” (3): Nusa Penida Kehilangan Patih Agung Legendaris Asal Sebunibus—I Made Sekat
Mengenang 13 Tahun Tragedi Sebelas (4): I Nyoman Sulatra, Menggantung Nyawa pada Dingklik Reong
Sembilan Tahun Sebelum “Tragedi Sebelas” (5), Nusa Penida Kehilangan Seniman Muda Bertalenta—I Gede Suradnya

BACA artikel-artikel menarik tentang Nusa Penida dari penulis KETUT SERAWAN

Tags: Desa Adat Sebunibuskesenian baliNusa Penidaseni karawitan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dewa Made Dharma dan Perjumpaannya dengan Puisi

Next Post

Staycation Sepasang Puisi (dan Penyairnya)

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
0
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

Read moreDetails

Mengagumi Mobil Mini

by Jaswanto
June 22, 2026
0
Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

Read moreDetails

Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

by Dede Putra Wiguna
June 21, 2026
0
Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

 “Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama,...

Read moreDetails

Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

by Dede Putra Wiguna
June 20, 2026
0
Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

SORE itu, Senin, 15 Juni 2026, suasana di Toko Kopi TUKU Renon tampak lebih ramai dari biasanya. Di antara antrean...

Read moreDetails

Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 6, 2026
0
Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

KABUPATEN Tabanan saat ini tengah memasuki fase penting dalam pembangunan daerah. Di bawah kepemimpinan Bupati Dr. I Komang Gede Sanjaya,...

Read moreDetails

Cerita Rakyat Sebagai Identitas

by I Wayan Artika
June 6, 2026
0
Cerita Rakyat Sebagai Identitas

Setelah direvitalisasi, kini sejumlah cerita rakyat Bali aga Desa Pedawa hidup kembali. I Jaum misalnya telah dijadikan cerita pertunjukan. Kini...

Read moreDetails

Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

by I Wayan Yudana
June 5, 2026
0
Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

ADA sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa sekolah adalah jendela masa depan. Masalahnya, kalau jendelanya sudah kusam, atapnya bocor, laboratoriumnya...

Read moreDetails

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
0
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

Read moreDetails

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
0
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

Read moreDetails

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
0
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

Read moreDetails
Next Post
Staycation Sepasang Puisi (dan Penyairnya)

Staycation Sepasang Puisi (dan Penyairnya)

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co