2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengenang 13 Tahun “Tragedi Sebelas” [2]: Seniman I Nyoman Pindah, Asa yang Tersisa dari Sebunibus

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
September 24, 2024
in Khas
Mengenang 13 Tahun “Tragedi Sebelas” [2]: Seniman I Nyoman Pindah, Asa yang Tersisa dari Sebunibus

Seniman I Nyoman Pindah saat melatih di Sanggar Tittari Emas | Foto: Dok. Sanggar Tittari Emas

SATU-SATUNYA saudara laki-laki Ngaji yang terhindar dari Tragedi Sebelas ialah I Nyoman Pindah. Ia selamat karena memang tidak ikut dalam rombongan sekaa angklung Desa Adat Sebunibus  yang ngayah pada tanggal 21 September 2011. Saat kejadian, Pindah berada di daerah transmigran (Kalimantan) untuk menyelesaikan 2 bade dan 27 petulangan.

Nyoman Pindah merupakan kakak kedua dari Ngaji. Total saudara Ngaji berjumlah 8 orang yaitu 2 perempuan dan 6 laki-laki. Lima laki-laki dengan urutan paling tua yaitu Made Riawan (alm.), Nyoman Pindah, Ketut Ginastra (alm.), Gede Muji (alm.), Made Ngaji (alm.) dan alm. bungsu Gede Suradnya. Ngaji memiliki saudara perempuan yakni Wayan Rame (sulung) dan adik perempuan, Ketut Rai.

Semua saudara laki-laki Ngaji ialah seniman karawitan, termasuk Nyoman Pindah. Pindah termasuk seniman otodidak yang memiliki intelegensi atau kecerdasan seni yang mempuni—meskipun hanya mengenyam pendidikan kelas 4 Sekolah Dasar.

Nyoman Pindah menjadi satu-satunya saudara laki-laki Ngaji yang putus sekolah. Sisanya, kakak dan adiknya tamatan SPG hingga kuliah penyetaraan (guru PNS SD). Sedangkan si sulung, Gede Suradnya, merupakan satu-satunya yang mengenyam pendidikan seni paling tinggi. Selepas dari kokar (SMKI), Suradnya melanjutkan ke ASTI (STSI) Denpasar. Sayang, di injury time wisuda, Suradnya harus kehilangan nyawa karena mengalami lakalantas pada tahun 2002, sebelum tragedi sebelas.

Seniman I Nyoman Pindah [Foto: Dok keluarga

Nyoman Pindah boleh saja terpuruk di dunia akademis. Ia tidak memiliki gelar mentereng untuk dibanggakan. Namun, ia membuktikan kepada dunia bahwa minus pendidikan (formal) bukan alangan untuk menjadi seniman karawitan. Menurutnya, kecintaan, lingkungan, pergaulan dan konsistensi adalah sekolah dan kampus tinggi—meski tak memberikan selembar legalitas. Prinsip ini sangat nyata dialami oleh Nyoman Pindah.

Nyoman Pindah tidak pernah belajar ilmu seni karawitan secara khusus. Akan tetapi, ia bisa memainkan gamelan tradisional Bali sejak kecil. Kedekatannya dengan dunia karawitan bersumber dari sang ayah, Mangku Rame. Kebetulan, Mangku Rame adalah pelatih alias pembina sekaa gong di Sebunibus. Setiap sang ayah melatih gong di banjar, Pindah selalu menjadi ekor. Awalnya, pria yang berteman baik dengan alm. I Made Subandi ini hanya mengamati—melihat dan mendengar—lalu mencoba memainkan instrumen gong secara mandiri.

Selanjutnya, ia tersandera dengan formulasi tabuh gong. Zaman ia kecil, sangat sulit mendapatkan referensi pola tabuh yang utuh. Ia tidak memiliki fasilitas seperti tape recorder untuk belajar pola tabuh gong. Satu-satunya cara ialah ia mendengarkan tabuh gong yang didengarnya lewat loudspeaker sewaktu-waktu, tidak tentu.

Biasanya, setiap upacara adat-keagamaan, misalnya nelubulanin, di Desa Adat Sebunibus, pihak  yang punya gawe yang ngupah loudspeaker. Loudspeaker itu menyiarkan tabuh-tabuh garapan ASTI di udara. Tabuh inilah yang menjadi incaran Nyoman Pindah. Jika tabuh gong mengalun lewat loudspeaker, ia mencari posisi ideal untuk mendengar dengan jelas. Sementara itu, kedua telinganya terbuka lebar-lebar sambil berkonsentrasi tinggi agar dapat menangkap pola-pola tabuh tersebut. Ia rela mengabaikan setiap pekerjaan hanya untuk mendengar tabuh-tabuh itu secara tuntas dan komprehensif.

“Pernah ada tetangga memutar tabuh gong di loudspeaker sepotong-potong. Kadang, gonta-ganti tabuh nggak jelas. Ini bikin saya jengkel. Kemudian, saya melemparkan batu ke arah stand loudspeaker itu berkali-kali,” ujar pria berambut sedikit ikal ini, suatu kali saat bercerita.

Melatih Gong Sejak Kelas 4 SD

Berkat bakat semestanya yang luar biasa, pada usia anak-anak, Pindah sudah mampu memainkan gamelan tradisional Bali lebih dari satu instrumen. Bahkan, kepiawaiannya dalam memainkan gamelan melebihi kemampuan orang dewasa.

Seniman I Nyoman Pindah (tengah) | Foto: Dok. keluarga

Karena itu, sejak duduk di bangku kelas 4 SD, pria yang lahir pada tanggal 31 Desember 1963 ini sudah mendapatkan tawaran melatih sekaa gong kebyar di luar daerah yang ada di Nusa Penida. Tawaran ini bermula dari penampilannya bersama sekaa gong binaan ayahnya di Sebunibus. Rupanya, saat pentas, skillnya di atas panggung menjadi sorotan dari warga luar Sebunibus.

Karena itu, pasca pentas, seseorang mencari Pindah ke rumahnya. Orang itu memintanya untuk melatih sekaa gong di desanya. Pindah sempat kaget dan tak percaya. Namun, orang itu meyakinkan Pindah.

“Waktu itu, tahun 1972. Saya masih kelas 4 SD. Utusan dari Sahsalang (Banjar Salang, Batukandik, Nusa Penida) datang meminta sekaa gongnya dilatih selama 2 tahun. Saya bangga dan menyanggupinya,” terang pria yang kini memiliki 5 anak ini.

Tidak berhenti di Sahsalang. Ujian kepelatihan berikutnya datang dari sekaa gong di Banjar Penangkidan, Nusa Penida. Nama Pindah terendus juga ke tempat tersebut. Ia diminta melatih sekaa gong di Penangkidan. Selanjutnya, berpindah ke tempat lain di NP.

Pindah menjadi nyaman dan bersemangat melakoni diri sebagai pelatih gong. Padahal, zaman itu ia tidak mendapatkan finansial yang cukup. Suami dari Ni Ketut Tirah ini hanya mendapatkan pelayanan yang optimal secara pangan (makanan) ditambah sembako yang dibawa ke rumah.

Namun, ia mendapatkan kepuasan yang tak bisa diukur dengan materi. Ia dapat melampiaskan kecintaan seni karawitannya. Ia mendapatkan kesempatan melatih. Ia mendapatkan popularitas. Lebih dari itu, ia mendapatkan pengalaman-pengalaman ber-kerawitan yang tak terpikirkan oleh anak seusianya.

Seniman I Nyoman Pindah (paling kanan) bersama siswa Sanggar Tittari Emas | Foto: Dok. Sanggar Tittari Emas

Kenyamanan Pindah dalam dunia karawitan membuatnya terlena. Ia larut dengan kesibukan berkarawitan hingga terdampar pada persimpangan studi. Anak ketiga dari Jero Mangku Rame ini memutuskan berhenti sekolah hingga kelas 4 SD saja. Sebuah keputusan yang kontroversial. Keputusan yang mendapatkan pertentangan keras dari beberapa saudaranya, terlebih lagi dari sang ayah.

Akan tetapi, Pindah bukan sosok yang mudah digoyahkan. Keputusannya bulat, tak dapat diganggu gugat. Padahal, bertaruh di dunia seni karawitan pada zaman 1970-an adalah keputusan nekat dan tidak rasional.

Siapa seniman karawitan yang dapat eksis (hidup) pada era 1970-an di Nusa Penida? Hampir tidak ada referensi untuk menjelaskan hal ini. Era 1970-an adalah masa-masa sulit di Nsa Penida. Masa ketika sektor pertanian menjadi andalan. Sisanya, ialah undagi atau pertukangan. Seni karawitan tidak masuk dalam hitungan untuk bisa survive.

Menyadari hal tersebut, Pindah juga mengasah skill lain yang bisa menopang hidupnya. Undagi menjadi alternatif. Baginya, menjadi undagi bukan pekerjaan sulit. Ia memiliki guru, yang sekaligus ayahnya sendiri yaitu Mangku Rame.

Kesehariannya, Pindah terbiasa dengan lingkungan undagi. Pasalnya, ayahnya adalah seorang undagi ternama pada era itu. Awalnya, ia membantu sang ayah dalam proyek perundagian (membuat rumah, sanggah, bade, dan petulangan) di beberapa daerah di Nusa Penida. Lama-kelamaan, ia pun bisa membuat hasil karya (undagi) secara mandiri.

Tidak cukup dengan undagi, ia juga belajar bertani dengan lingkungan sekitar. Ia bisa menjadi peladang palawija dan beternak sapi. Namun, cintanya terhadap karawitan tidak bisa ia tinggalkan seratus persen. Pria spesialis pemain terompong ini menjadi petani, peternak, undagi dan sekaligus seniman karawitan dengan komposisi yang ia pahami sendiri.

Hasilnya, ia survive tanpa meninggalkan seni karawitan yang digelutinya sejak kecil. Kesibukkan tidak pernah menyurutkan dia untuk tetap aktif, kontinu, dan konsisten di ranah seni karawitan. Entah sekadar ngayah di banjar, ikut kupah ke luar daerah. Bahkan, berpartisipasi dalam kegiatan festival karawitan.

Partisipan dan Pelatih PKB

Kecintaan dan karma konsistensinya membuat Pindah menjadi seniman (karawitan) otodidak yang disegani oleh warga Nusa Penida, khususnya warga desa Adat Sebunibus. Kemampuannya dalam seni karawitan sudah teruji. Ia mencatatkan dirinya sebagai tim tabuh yang mewakili Klungkung beberapa kali dalam Pesta Kesenian Bali (PKB). Ia masuk tim inti sekaa gong kebyar Desa Jurangpahit, Nusa Penida, mewakili Klungkung dalam ajang PKB (tahun 2000), mewakili Klungkung bersama gong Kebyar Desa Ped (2003) dan bersama Desa Kutampi (2006).

Seniman I Nyoman Pindah (paling kiri) bersama siswa Sanggar Tittari Emas sebelum pentas ngender | Foto: Dok. Sanggar Tittari Emas

Ia juga menjadi barisan tabuh dalam sekaa angklung Desa Adat Sebunibus yang meraih juara 1 di Kabupaten Klungkung 2008 dan sekaligus ikut mewakili Klungkung ke PKB. Sebelumnya, tahun 1984, Pindah juga sukses mengantarkan sekaa gong Desa Adat Sebunibus menjadi yang terbaik, yakni juara 1, pada Lomba Gong Kebyar se-Kabupaten Klungkung.

“Saya tidak tamat SD. Ada penabuh-penabuh lain yang tamatan Kokar (SMKI) dan bahkan STSI (ASTI). Namun, astungkara saya bisa lolos dan dipercaya beberapa kali bergabung sebagai penabuh mewakili Klungkung,” ucap pria yang pernah menjabat sebagai Seksi Kesenian Pura Dalem Ped utusan Desa Adat Sebunibus ini.

Pindah memiliki insting seni karawitan yang tinggi. Karena itu, ia dapat memainkan beberapa instrumen tradisional Bali secara otodidak. Selain gong kebyar, ia juga piawai memainkan instrumen angklung, gender dan geguntangan.

Skill karawitan pindah tidak hanya teruji sebatas partisipan penabuh dalam dunia per-PKB-an. Namun, laki-laki yang pernah mengabdi 15 tahun di Pura Dalem Ped ini juga pernah menjadi pelatih (pembina) karawitan. Tahun 2014, ia ditunjuk menjadi pelatih (pembina) Gong Kebyar Wanita Desa Batubadeg, Nusa Penida, mewakili Kabupaten Klungkung dalam festival bergengsi yaitu PKB.

Ujian berikutnya, tahun 2015. Ia didaulat menjadi pembina (pelatih) Gender Wayang di Desa Lembongan, Nusa Penida. Kala itu, Desa Lembongan ditunjuk menjadi wakil Klungkung mengikuti parade Gender Wayang dalam PKB. Pindah diberi tanggung jawab untuk melatih (membina) sekaa gender tersebut. Pria dengan tinggi badan kurang lebih 165 ini sukses mengantarkan tim binaannya tampil luar biasa di panggung.

“Banggalah diberi tanggung jawab membina sekelas event PKB. Apalagi, saat mendengar nama saya disebut oleh MC sebagai pembina/ pelatih tanpa gelar di hadapan ratusan penonton. Berbeda dengan pembina-pembina yang lainnya, semua disebut dengan gelar mentereng,” tutur Pindah yang pemilik akun FB Jero Gender ini.

Beberapa siswa Tittari Emas, Binaan Seniman I Nyoman Pindah | Foto: Dok. Sanggar Tittari Emas

Modal skill, pengalaman berfestival dan kepelatihan semakin menguatkan citra diri seorang Nyoman Pindah. Ia banyak mendapat tawaran melatih dari banjar ke banjar, desa ke desa baik di Nusa Penida hingga ke Sulawesi dan Kalimantan. Zona kepelatihan Pindah di Nusa Penida mencapai lebih dari 80 persen.

Ia tidak hanya menjadi pelatih gong kebyar, angklung, gender dan termasuk melatih geguntangan. Untuk menjaga ruang cintanya terhadap seni karawitan, ia mendirikan sanggar gender bernama Tittari Emas pada tanggal 26 Desember 2000. Sanggar ini bergerak untuk melatih anak-anak belajar memainkan intrumen gender.

Hingga sekarang, Pindah dengan sanggarnya sudah berhasil membentuk basis bermain gender kepada anak didiknya. Bahkan, beberapa anak didiknya sudah mengalami uji pentas dalam acara keagamaan di Nusa Penida. Selain itu, Pindah juga aktif membantu sekaa gong DAS, terutama saat pementasan calonarang.

Di tengah kesibukkannya sebagai jero mangku, pelatih karawitan, tokoh masyarakat dan lain sebagainya—pindah tidak mau lepas dari dunia karawitan. Dunia yang dicintainya sejak kecil. Dunia yang mengandaskan pendidikan formalnya. [T]

BACA ARTIKEL SEBELUM DAN BERIKUTNYA:

Mengenang 13 Tahun “Tragedi Sebelas” [1]: Nusa Penida Kehilangan Seniman Ngaji Bersaudara Asal Sebunibus
Mengenang “Tragedi Sebelas” (3): Nusa Penida Kehilangan Patih Agung Legendaris Asal Sebunibus—I Made Sekat
Mengenang 13 Tahun Tragedi Sebelas (4): I Nyoman Sulatra, Menggantung Nyawa pada Dingklik Reong
Sembilan Tahun Sebelum “Tragedi Sebelas” (5), Nusa Penida Kehilangan Seniman Muda Bertalenta—I Gede Suradnya

BACA artikel-artikel menarik tentang Nusa Penida dari penulis KETUT SERAWAN

Tags: Desa Adat Sebunibuskesenian baliNusa Penidaseni karawitan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dewa Made Dharma dan Perjumpaannya dengan Puisi

Next Post

Staycation Sepasang Puisi (dan Penyairnya)

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Staycation Sepasang Puisi (dan Penyairnya)

Staycation Sepasang Puisi (dan Penyairnya)

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co