3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Staycation Sepasang Puisi (dan Penyairnya)

Sunaryo Broto by Sunaryo Broto
September 23, 2024
in Ulas Buku
Staycation Sepasang Puisi (dan Penyairnya)

Staycation Sepasang Puisi

BUKU Staycation Sepasang Puisi. Penulisnya, Chris Triwarseno. Cetakan: I, 2024. Ada 98 halaman terdiri dari dan 12 sketsa dan 60 puisi. Penerbit: Surya Pustaka Ilmu Grup dari Karanganyar, Solo, asal penulis. Buku ini lolos kurasi Festival Sastra Internasional Gunung Bintan 2024, seperti juga bukunya yang ke dua. Ini buku ke 3 yang semuanya sudah saya baca. Buku pertama : Bait-bait Pujangga Sepi. Buku kedua, Sebilah Lidah. Saya sudah membaca semuanya. Sekali baca hanya jeda 1-2 saat. Menarik untuk cepat menyelesaikan. 

Memang judulnya agak gimana untuk buku puisi. Covernya juga terkesan kekinian dengan gambar model AI (Artificial Intelligence) terkesan surealis. Sepasang kekasih berkepala buku, berpegangan tangan, di suatu kamar di atas kasur, memandang jendela besar pada sebuah kota dengan banyak gedung tinggi. Sedang banyak buku beterbangan di sekitarnya. Biasanya yang model begini penulisnya pun generasi milenial atau ke sini lagi. Beda dengan penulis generasi sebelumnya yang senang dengan gambar coretan tangan. Lihat cover buku sastra penerbit Balai Pustaka jadul, hampir semua gambar goresan tangan. Mungkin karena belum model menggambar dengan komputer.

Lihat judul-judul puisinya yang ada kata asing. Misal, Party Bendera Partai, Kopi Robusta dan Beaver Tail Pastry, Genosida dan Kuota Surga, Tuhan dan Google Map,Tahun Baru di Southway Inn Lama, Sepiring Kerinduan dalam Chicken Teriyaki, Notre-Dame Cathedral Basilica Berdiam. Kelihatan, latar penulisnya berpendidikan, berwawasan luas, mengikuti berita terkini dan sering bepergian.

Jangan kawatir, isi puisinya terkini. Tentang keseharian. Tentang anak, istri, seseorang, suatu kota dan kebanyakan tentang makanan. Kata-katanya banyak singkat, bergegas dan mengalir lancar. Kadang melompat. Saling kontrakdiksi. Tak apa. Profil puisinya sudah berkarakter.  

Prolognya menarik, Sajak-Sajak Gastronomi Molekuler oleh Royyan Julian. Royyan Julian adalah pengajar sastra, menulis prosa dan puisi. Salah satu penggalan alineanya, … koki dan penyair kreatif mampu mengombinasikan ragam molekul untuk melahirkan senyawa ‘baru’. Seniman profesional sanggup mengukur hasil dengan memprediksi transformasi macam apa yang bakal terjadi atas fusi dua atau lebih unsur yang telah disiapkan dengan saksama. Gaya pikir gastronomi molekuler inilah yang diterapkan Chris Triwarseno pada puisi-puisi kulinernya dalam Staycation Sepasang Puisi. Pada antologi tersebut, elemen-elemen boga tampil menjadi isu utama, sampingan, dan alat puitik. Sebagai konten isu, kuliner dalam buku ini beririsan dengan perkara cinta, politik, hingga spiritual.

Ya memang seperti itu yang saya rasakan. Lihat beberapa judulnya. Sepiring Kerinduan dalam Chicken Teriyaki, Seduh Sulang Secangkir Puisi, Khong guan dan Kepura-puraan, Kawan-Lawan Bersulang, Serapan Anggaran dan Sarapan Milyaran, Gudeg Itu Candu, Yogya Itu Rindu

Ada puisi dengan frase Jokpin, Selamat beribadah puisi, pada judul puisi, Puasa yang Berpuisi, Puisi yang Berpuasa. Meminjam istilah pada pengantar Royyan Julian, Puisi intertekstual dari sajak-sajak Joko Pinurbo. Masih ada yang lain. Intertekstual lagu dengan judul mirip. Pada Hari Minggu Kuturut Kau ke Kota. Intertekstual film Gadis Kretek pada puisi, Jeng Yah, Desahmu Abadi. Mirip frase Sapardi, Dukamu Abadi. Intertekstual Sapardi, Petisi Desember, … Sapardi mengkultus juni tak ada yang lebih tabah/ dirahasiakannya titik rindunya/ bagaimana denganku yang tak kausajakkan?

Juga pada Surat Kahlil untuk Tuan : Sayap-Sayap Patah. Melihat isinya sepertinya ingin menyentil Gibran yang calon wakil presiden terpilih. Tapi tak ada hubungannya antara Gibran dengan Kahlil Gibran, hanya sebatas nama. Mungkin bapaknya dulu waktu memberi nama anaknya ngefans pada penyair Lebanon itu. Juga tentang puisi Sayap-sayap Patah. Intertekstual kalau terlalu banyak kok rasanya mengganggu. Terlebih ini sudah buku ke tiga. Mestinya sudah “mandiri” dalam berpuisi. Tak banyak pakai frase media atau puisi lain.

Sebenarnya buku ini sudah diwakili isi puisinya dalam satu puisi ini. Baik sudut pandang maupun gaya bahasanya. Juga model puisinya. Kebetulan judul buku juga memakai judul puisi ini. Klop lah. Coba perhatikan. Staycation Sepasang Puisi /1/ sepasang puisi check in/ menuju kamar intuisi-imajinasi/ menyeret koper penuh ingatan/ setumpuk duka manis-tawa luka/ tersusun padat-ringkas di dalamnya /2/ sepasang puisi rebah setubuh/ memainkan bait-bait desah/ pada malam gemuruh gairah/ membisikkan banyak kisah/ yang kerap tak tersentuh /3/ aroma english breakfast tea/ menuntun mata sepasang puisi/ pada jendela-jendela kebebasan/ dengan sepasang sayapnya/ puisi bebas dari basa-basi /4/ sepasang puisi check out/ meninggalkan kunci pemaknaan/ pada resepsionis perempuan/ yang (tak) pernah staycation/ tersenyum palsu, tertawa luka.

Ada puisi deskriptif hanya dengan narasi. Sepertinya belum ada isinya, masih sampiran. Masih “buih-buih puisi.” Contohnya puisi ini. Sanur-Banjar Nyuh Melipat Jarak. pagi berlayar-sampan ombak riak-riak/ berpayung awan berarak/ Sanur-Banjar Nyuh melipat/ jarak pasir putih menghampar jejak/ malam berlabuh sajak-sajak/ pada dermaga batin yang sunyi/ tempat karma-karma lesap/ bersama desir dan sepi

Tentunya ada puisi yang menarik. Saya suka meski saya tahu, kami berbeda gaya berpuisi. Setelah Gerimis. lorong waktu adalah duka manis/ yang kutulis setelah gerimis/ serupa tatap matamu menangis/ /perjalanan ini adalah pemanis/ yang kukenang setelah gerimis/ serupa rayu cintamu romantis/ /pintu hatimu adalah magis/ yang kupuja setelah gerimis/ serupa lirik mantra ritmis// aku dan kamu adalah rumah estetis/ yang kita singgahi setelah gerimis/ serupa roman-roman dramatis

Senang ada puisi yang bisa dikenang. Meski lagi-lagi ujungnya meja makan, Ibu Menjahit Doa-Doa. /di malam tak berucap/ ibu menjahit doa-doa/ dari perca-perca takdir/ yang diyakini batinnya/ sedang menuju Tuhan/ / di terik-cekik/ ibu menuang peluh/ dalam secangkir senyum/ yang diyakini hatinya/ adalah anugerah Tuhan// segenggam beras,/ seikat bayam,/ dan sejumput garam/ dua piring sarapan/ ibu berbisik padaku,/ “Lihatlah senyum Tuhan di meja makan!”

Ada lagi yang enak dan menggambarkan penyairnya. Sajak Sajak Tak Beranjak. /kaulepas sajak/ sejak pagi pekak/ seiring kautanak/ nasib (yang) tak beranjak/ rapuh kakimu menjejak/ getir takdir menyesak/ doa tak henti kaulesak/ kemana perginya sajak?

Sebagai penutup buku ini, ada kata kunci : Staycation dari Kiki Sulistyo, seorang penyair. Saya kutip saja karena bisa mewakili gambaran puisinya. Dalam puisi-puisinya Chris gemar memasangkan kata-kata konkrit dengan kata-kata abstrak; dan kelihatannya ia agak terobsesi dengan itu. Misal: kamar intuisi-imajinasi, bait-bait desah, lorong takdir, kaki pertobatan, pembasuh keikhlasan, handuk pengakuan, jubah mandi keyakinan, dan seterusnya. Obsesi itu membuat gambar dan pikiran berselang seling; barang sehari-hari dan gagasan berimpitan, serupa pasangan-pasangan selingkuh.

Tanpa sadar apa yang tersaji dalam buku ini, penyair memang ingin menikmati staycation setelah capai bekerja pada jam dan hari kerja. Bukan hanya puisinya saja yang ingin relaks, penyairnya juga. Khas puisi dari seorang karyawan sebuah perusahaan produksi yang sibuk bekerja. Seperti juga saya lakoni dulu dan sekarang sudah punya kalender yang warna angkanya merah semua. Sudah leluasa untuk staycation sepanjang waktu. Bacalah! Sesekali staycation dengan puisi. [T]

(Bontang, 6 September 2024)

Tur Buku Puisi “Amerikano”, Memopulerkan Sastra ke 10 Titik Pulau Lombok
Buku Puisi “Blengbong” | Jejak Penting Kompetisi Puisi ala Umbu Landu Paranggi di Bali
Tumbuh Bersama Puisi – Ulasan (Lagi) Buku Puisi Andy Sri Wahyudi
Tags: buku puisikumpulan puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengenang 13 Tahun “Tragedi Sebelas” [2]: Seniman I Nyoman Pindah, Asa yang Tersisa dari Sebunibus

Next Post

Klaim Nomor Kemenangan dan Yel-yel Penuh Gairah – Cerita Pengundian Nomor Urut Paslon Pilkada Buleleng

Sunaryo Broto

Sunaryo Broto

Menulis cerpen, puisi, esai dimuat di berbagai media masa. Tinggal di Bontang. Lebih dari 20 bukunya telah terbit. Mendapat penghargaan nomine Tokoh Kebahasaan 2019 kategori Penggiat Literasi Kaltim-Kaltara. Mendapat penghargaan nomine sastrawan berdedikasi 2020 dan 2021 dari Kantor Bahasa Kalimantan Timur. Menjadi peserta Munsi (Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia) III 2020 mewakili Kaltim. Buku Cerpen Perjumpaan di Candi Prambanan mendapat award prosa unggulan dari Kantor Bahasa Kaltim 2021. Tahun 2024 menerima penghargaan bidang kebahasaan dan kesastraan 40 tahun berkarya dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Pusat Pengembangan dan Perlindungan Bahasa dan Sastra dari Kementrian Dikbudristek.

Related Posts

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
0
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

Read moreDetails

Membaca Racauan Arman Dhani

by Wayan Esa Bhaskara
May 30, 2026
0
Membaca Racauan Arman Dhani

Judul               : 30 Tahun dan Gagal Penulis            : Arman Dhani Tahun terbit    : Februari 2026 Penerbit          : EA Books...

Read moreDetails

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

by Inno Koten
May 20, 2026
0
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

Read moreDetails

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
0
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

Read moreDetails

Makassar yang Sempat Terabaikan

by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
0
Makassar yang Sempat Terabaikan

Judul: Makasssar Nol Kilometer Penulis: Anwar J. Rahman, dkk. Penerbit: Tanahindie Press Tahun: 2014 Halaman: xviii + 255 MAKASSAR-NYA satu,...

Read moreDetails

Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

by Farhan M. Adyatma
March 27, 2026
0
Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Judul: Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045 Penulis: Martin Suryajaya Penerbit: Anagram Tahun terbit: Agustus 2020 Jumlah halaman:...

Read moreDetails

‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

by Radha Dwi Pradnyani
March 25, 2026
0
‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

Judul: Menghirup Udara Segar Judul Asli: Coming Up For Air Penulis: George Orwell Penerjemah: Berliani M. Nugraha Tahun Terbit: 2021...

Read moreDetails

Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

by Inno Koten
March 22, 2026
0
Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

YANG orang ingat dari Pramoedya Ananta Toer (Pram) adalah ikhtiarnya untuk menyelamatkan martabat manusia. Ia menulis tentang mereka yang kalah,...

Read moreDetails

Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

by Sigit Susanto
March 17, 2026
0
Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

Judul: Im Herzen waren wir Indonesier Penulis: Gret Surbeck Penerbit: Limmat Verag, 2007 Tebal: 508 Bahasa : Jerman Christa Miranda, menemukan...

Read moreDetails

Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

by Dian Suryantini
March 13, 2026
0
Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

SASTRA sering kali menjadi cermin paling jujur bagi kehidupan sosial. Sastra tidak selalu menyampaikan fakta dalam bentuk angka, statistik, atau...

Read moreDetails
Next Post
Klaim Nomor Kemenangan dan Yel-yel Penuh Gairah – Cerita Pengundian Nomor Urut Paslon Pilkada Buleleng

Klaim Nomor Kemenangan dan Yel-yel Penuh Gairah – Cerita Pengundian Nomor Urut Paslon Pilkada Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co