24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tumbuh Bersama Puisi – Ulasan (Lagi) Buku Puisi Andy Sri Wahyudi

Ni Ketut Sudiani by Ni Ketut Sudiani
February 2, 2018
in Ulasan

#Judul buku: Energi Bangun Pagi Bahagia #Penulis: Andy Sri Wahyudi #Penerbit: Garudhawaca Yogyakarta #Tahun Terbit: Juni 2016

Adalah sebuah berkah ketika seseorang memiliki karunia dapat menikmati dan menghayati kata-kata. Terlebih jika memiliki pengalaman bersentuhan dengan puisi, baik sebagai penikmat maupun penciptanya.

Andy Sri Wahyudi adalah satu dari sedikit orang yang ‘beruntung’ mendapat karunia untuk meresapi dan tumbuh bersama puisi. Ia memaknai ‘keberuntungan’ ini dengan penuh syukur, dan sungguh-sungguh menyapa, bercakap dengan kata-kata saat mereka mengetuk pintunya.

Mungkin awalnya kata hanya ingin singgah, tapi Andy membuat mereka betah bermalam-malam, bahkan hingga dini hari. Barangkali ini juga yang membuat penulis jadi penuh energi dan bangun pagi dengan bahagia. Kita tidak pernah tahu, rahasia percakapan malam seorang penyair dengan anak-anak imajinasinya.

Sebagaimana sajak-sajak yang ditulis Andy dalam buku kumpulan puisi terkininya, Energi Bangun Pagi Bahagia, kita pun hanya dapat menerka-nerka pergulatan apa yang dialami sang penyair ketika menuliskannya. Apa sesungguhnya dipikirkan dan dirasakan penulis ketika itu? Hanya puisi dan tuannya yang tahu.

Membaca judul buku, boleh jadi pembaca berharap akan menemukan sebuah sajak yang memiliki judul serupa. Tapi ternyata tidak. Penamaan itu justru lahir dari gabungan dua sajak. Pertama, puisi pembuka ditulis tahun 2014 berjudul Energi, dan kedua,-hampir jadi puisi penutup-, ditulis tahun 2015, yakni Bangun Pagi yang Bahagia.

Keseluruhannya, buku ini merangkum 57 sajak yang ditulis dalam kurun waktu 2012 hingga 2016. Karya yang ditulis selama tahun 2015 mendominasi isi buku, dan puisi yang ditulis tahun 2012, paling sedikit dimunculkan. Saya kurang tahu pertimbangan penulis dalam pemilihan sajak-sajak yang dimuat.

Teater dan Kata

Namun, justru sajak yang ditulis pada tahun 2012 yang mengelitik saya untuk menjadikannya bacaan pertama-bukan puisi pembuka-. Hanya ada dua puisi bertahun 2012, yakni Dingin di Jari Tanganku dan Tempat Duduk yang Terus Berjalan. Dalam dua karya itu, tampak sekali sisi Andy yang telah bertahun-tahun bergelut dengan dunia teater.

Coba kita tengok dua puisi ini:

 

Dingin di Jari Tanganku

 

jari-jari tangaku lupa padaku

ia bergerak-gerak sendiri ketika malam hari

aku takut, takut sekali, jari-jariku marah padaku,

karena aku tak tahu jumlah lekukan garis-garis jariku

di manakah jam dinding?

apakah ini diam?

tapi aku mendengar hidup yang berdetak-detak

esok pagi jari-jariku akan memuat bunyi yang yang bersinar-sinar

 

Jogja, 2012

 

Tempat Duduk yang Terus Berjalan

 

di luar jendela ada bulan, separuh dan samar.

ia menatapku tapi aku tak berani menatapnya.

karena di bulan ada raksasa sedang melamun

mungkin mengenang cinta pertamanya.

raksasa itu telanjang bulat dan berwarna kabut.

 

apakah kamu takut dengan kenangan?

bertemanlah dengan raksasa di bulan,

ia akan mengajarimu mengenal kenangan

 

tak ada lagi rumah, tak ada lagi arah, tak ada lagi lelah

semua akan bergerak menjadi kenangan.

juga aku dan kamu.

 

mesin perjalanan terus bersuara.

 

Jakarta Jogja 2012    

 

Terlepas dari sisi kepadatan isi puisi dan keketatan pemilihan diksi, dua puisi tersebut memiliki daya visual yang cukup kuat. Kita dapat membayangkan jika kata-kata di dalamnya diteaterkan. Andy seakan tak pernah membiarkan dirinya untuk berhenti bertanya, membiarkan imajinasinya bebas mengelana, mencari jawab akan kegelisahan-kegelisahannya. Begitu pula ia terus membuka ruang dialog dengan diri sendiri.

Tidak dapat dipungkiri, teater tampaknya cukup kuat mempengaruhi penulisan puisi-puisi Andy, sehingga lebih banyak dituliskan dalam gaya bertutur yang cair. Hanya saja cara seperti ini memang memungkinkan membuat penulis tergelincir sehingga kata-kata jadi terlalu cair dan kehilangan daya renungnya. Namun Andy masih mampu mempertahankan kesubliman kata-katanya dan tetap menyisakan teka-teki untuk pembaca.

Bentuk percakapan-percakapan dalam pertunjukan teater, dapat dilihat pula dalam puisi Andy berjudul Kangen, ditulis di Bali tahun 2013 hingga 2014.

ibuk, kini aku bisa membuat pagi dan matahari kecil, dari dinding-dinging kebahagiaan dan tanah warisan nenek moyang. apakah ibuk suka buah tomat dan papaya? di dalamnya ada vitamin yang melunturkan kesedihan dan membuatku rajin mengukir cita-cita. buk, hari ini aku ingin bertemu dengan sejarah remaja. bertemu dengan hidung lucu kekasihku dan kecerdasan berpikirnya. ibuk, aku melihat pantai berwarna nila, ingin rasanya menyelam di dalamnya. aku ingin membuat dunia dari keringat dan perasaanku. dunia untuk saudara dan teman-temanku, juga untuk semua yang kucintaiku dan yang memusuhiku. aku ini bara api, buk, tapi aku juga udara pagi. ibuk, jangan melupakan pelukan bunga sore, yang kutanam di pot plastik bekas sabun colek. jangan ya, buk.

Bisa kita baca pula kepolosan penulis, sebuah rindu yang mungkin sudah tak tertahan. Barangkali sebagai bentuk kemurnian daya ungkapnya, penulis membiarkan kata ibu ditulis sebagaimana bahasa lisan, yakni ibuk. Padahal dalam bahasa tulis, tidak pernah kita jumpai penulisan ibuk. Namun Andy membiarkan kata itu ditulis apa adanya. Terlihat kesederhanaan dan kedekatan penulis dengan alam, bagaimana dia mengungkapkannya pada kalimat terakhir sajak itu. Hal serupa dapat dirasakan juga dalam sajak Di Bawah Fajar Menyingsing: Ir Soekarno. Andy bahkan membuatnya seperti seseorang tengah mendongeng.

Pada banyak sajak-sajaknya, Andy memang kerap meminjam alam sebagai metafor-metafornya, semisal laut, bunga, gunung, bukit, langit, udara, air, matahari, padi, angin, ombak, bintang, cahaya bulan, tanah. Alam Bali pun ternyata menggoda Andy untuk menuangkannya dalam puisi.

Ada beberapa sajak yang ditulisnya di Bali, sebagian besar di daerah Budakeling. Upaya Andy untuk memahami Bali, tersurat pada “Cita-cita untuk Ibu Suasti”. Meskipun tidak sepenuhnya memahami tradisi dan kultur Pulau Dewasa, ia berusaha menuliskannya apa adanya. Misalnya pada puisi itu, dia menuliskan, beras doa menempel di antara kedua alisnya. Jelas yang dia maksudkan adalah bije.

Gugatan

Sebagian besar puisi Andy dalam buku ini mencerminkan kedamaian, persabahatan, keharuan, dan kepekaannya memperhatikan hal-hal kecil di alam. Namun bukan bearti ia enggan untuk ambil bagian pada isu-isu besar, semisal terkait peristiwa 1928, 1945, 1965, dan 1998. Ekspresi ini muncul pada karya-karyanya bertahun 2015. Bisa dibaca puisinya Aku Menggugat Kepada Lupa. Puisi terpanjang dalam buku ini. Keberanian Andy terkesan juga muncul pada sajak Merenung di Kamar Bangsat: Pang.

Tapi saya rasa sangat penting untuk diingat pula, puisi bukanlah tempat sampah yang bisa sekenanya diluapkan dengan umpatan-umpatan kotor. Kadang kita perlu untuk tahan dan sabar, tidak terpancing untuk reaktif, terlebih jika hendak merespon persoalan-persoalan sosial. Saya percaya, siapapun yang memahami kedalaman puisi, akan bertimbang untuk ini.   

Upaya Andy selama ini patut kita apresiasi, selain produktif berteater, ia tetap bersetia tumbuh bersama puisi. Kebahagiaan sederhana yang kerap luput dari perhatian kebanyakan orang. Andy dan kita beruntung masih memiliki kesadaran untuk setidaknya berusaha mengundang puisi, singgah dan mengentuk pintu ‘rumah’ kita, lalu bersama menyeruput satu dua cangkir kopi semalaman. (T)

 

 

Tags: BukuPuisiresensi
Share8TweetSendShareSend
Previous Post

Niat Total Lestarikan Drama Gong dan Pencak Silat – “Raja Buduh” Yudana dalam Kenangan

Next Post

Pilkada Tak Cuma Jakarta, Bung! – Jangan-jangan Kita Tak Tahu Calon Bupati Sendiri…

Ni Ketut Sudiani

Ni Ketut Sudiani

Sastrawan dan wartawan. Tumbuh besar dalam pergaulan di Komunitas Sahaja, Denpasar. Pernah menjadi moderator di panel Bali Emerging Writer Festival (BEWF) 2014. Sejumlah puisinya memenangkan sejumlah lomba dan tergabung dalam berbagai antologi.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

Pilkada Tak Cuma Jakarta, Bung! - Jangan-jangan Kita Tak Tahu Calon Bupati Sendiri…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co