11 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Niat Total Lestarikan Drama Gong dan Pencak Silat – “Raja Buduh” Yudana dalam Kenangan

Kambali Zutas by Kambali Zutas
February 2, 2018
in Esai

Pasangan pemain drama gong legendaris Petruk (Nyoman Subrata), Raja Buduh (alm. Gede Yudana), Dolar (alm. Wayan Tarma). Sumber foto internet

GELAK tawa penonton tak pernah berselang di arena drama gong, waktu itu. Seni pentas yang begitu akrab, guyub dan populer. Kemunculan punakawan Dolar dan Petruk dan disusul datangnya Raja Buduh (Raja Gila) selalu mengocok perut penonton yang berjubel.

Itu adalah gambaran suasana ketika Drama Gong Sancaya Dwipa tampil, terutama ketika punakawan Dolar-Petruk dan Raja Buduh beradu dialog dan laku di atas panggung. Pengeras suara begitu banyak digantung di atas arena menjadi pemandangan khas pementasan drama itu, sekaligus menambah semakin jelasnya dialog lucu antarpemain.

Suara-suara meledak penuh canda tawa dibalut dengan semangat bermain yang tinggu membuat suasana panggung riuh riang gembira. Apalagi, guyonan-guyonan mereka memang diambil dari gurauan dan perilaku sehari-sehari masyarakat khas di Bali, sehingga hiburan rakyat itu menjadi sangat akrab di mata dan di hati.

Siapa yang yang tak kenal dengan tokoh Dolar dan Petruk. Tingkah-polah dan kata-katanya bahasa Bali selalu diingat penonton. Teriakan “Dolar” dari penonton dan di atas panggung bak menenggelamkan nama sebenarnya tokoh itu, Wayan Tarma (almarhum). Demekian juga nama I Nyoman Subrata tak begitu dihiraukan karena pekik “Petruk” jauh lebih terkenal. Mereka berdua selalu tampil dengan memerankan punakawan.

Tapi ada satu lagi tokoh yang tak kalah menariknya. Adalah tokoh raja, ya Raja Buduh, Raja Gila. Gila adalah sebuah kejahilan, tulalit, lucu dan suka menggoda Sang Putri dan para dayangnya. Tak jarang si Raja Buduh ini pun dikerjai oleh Dolar dan Petruk. Peran raja dengan perwatakan tegas, suara amarah, lantas disambut lelucon Dolar dan Petruk menjadi sebuah momen yang tak segan diisi tawa terpingkal-pingkal.

Khusus nama terakhir Si Raja Buduh, kita kenal di luar panggung dengan nama I Gede Yudana. Sosok ini sesungguhnya sudah terkenal sejak era 1980-an ketika drama gong sedang jaya-jayanya. Salah satu yang melambungkan namanya adalah Drama Gong Bhara Budaya.

Totalitas sebagai pemain drama gong dibuktikan Yudana dengan mendapatkan anugerah penghargaan peran pembantu terbaik se-Bali pada 1987 dan peran terbaik se-Bali pada lakol Bagus Bego 1998.

Belakangan, pada masa-masa akhir berjayanya seni pertunjukan drama gong di Bali, Yudana main dalam grup drama gong Sancaya Dwipa. Kegilaan sekaligus kelucuannya tetap tak redup meski pamor drama gong mulai redup.

Waktu itu, dalam lakon “Raja Angin Ribut”, ada adegan ia menyuruh Dolar beli makan. Sebenarnya, sebelumnya ia menyuruh Petruk beli makan. Dan Petruk pun melaksanakan dan membawa nasi bungkus pesan itu. Namun ia tidak ketemu Si Raja dan justru ketemu dengan Dolar. Petruk ada keperluan, lalu menitipkan makanan kepada Dolar tanpa pesan apapun.

Tanpa ragu, Dolar memakan nasi bungkus milik Sang Raja. Pada saat Dolar makan, datangnya Si Raja. Ia marah, Dolar telah memakan nasinya. Marah reda karena bagaimana mau dimakan, nasi dimakan Dolar.

Ia kemudian menyuruh Dolar dan mengeluarkan uang tanpa dompet dari saku celana yang terbungkus rapi kostum Raja. Waktu itu uang yang diberikan ke Dolar Rp 50.000 (cukup banyak untuk ukuran harga nasi bungkus). Nah, Dolar dengan hitungan cepat Rp 25.000 untuk beli nasi dan separonya untuk upahnya. Dolar dan Petruk pun kembali menjahili dalam babak ke babak dalam pentas itu.

Saya (penulis), memiliki kenangan mendalam pada edisi 2007- 2010. Ia dikenal sebagai pribadi yang tegas, totalitas, perfectionist, dan senang membantu orang. Kepribadian yang mirip ketika ia berada di atas panggung. Totalitas memerankan Si Raja Buduh di drama gong, tak canggung-canggung ia mainkan juga dalam kehidupan sehari-hari. Totalitas itu misalnya ia tunjukkan ketika mengurus Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Bali.

I Gede Yudana lahir di Ubung 14 Januari 1945. Di luar panggung, selain sebagai pemilik Hotel Batukaru, Ubung, ia memang mengabdikan diri di Pencak Silat Bali. Ya, ia menjadi menjadi Ketua Harian Pengurus Provinsi Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Bali. Sebagai pengurus totalitas tak perlu diragukan lagi.

Di tahun 2007 lalu misalnya, Pencak Silat Bali meloloskan atletnya untuk tampil pada multievent terakbar empat tahunan Pekan Olahraga Nasional (PON). Ia pun mendampingi pada PON XVII/2008 Kaltim. Hasilnya para pendekar PON Bali di runner upa cabor bela diri asli Indonesia ini. Pesilat Bali mendulang 3 medali emas, 5 perak, dan 5 perunggu.

Bahkan ia yang sebenarnya sakit namun kecintaan terhadap pencak silat tak bisa dibendung. Yudana pernah pingsan di GOR pada saat mengawasi jalannya pertandingan pencak silat. Tepatnya pada saat Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali IX/2009 di Badung. Bahkan di saat jantung Yudana telah terdeteksi ring-2 dan sempat diperiksakan di Malaysia ia ingin melihat arena pencak silat. Yudana pun cita-cita mendirikan sebuah padepokan pencak silat. Padepokan yang akan dijadikan pusat latihan pencak silat.

Namun, Yudana harus mendapatkan perawatan di UGD RSUP Sanglah, Denpasar sejak pada 14 Januari 2010 atau bertepatan dengan hari ulang tahun yang ke-65. Keluarga waktu itu sudah mempersiapkan tempat dan perlengkapan acara ulang tahunnya. Seperti kue tar. Dua hari berikutnya pada kabar duka benar-benar tiba. Tepatnya pada 16 Januari 2010 sekitar pukul 21.30 Wita lalu, Si Raja Buduh benar-benar tutup usia di RSUP Sanglah. Ia meninggal dunia karena terserang penyakit komplikasi stroke, ginjal, gula, dan jantung.

Di rumah duka waktu itu tampak Ketua PB IPSI 1981-2003 dan Presiden Persekutuan Pencak Silat Antar Bangsa (PERSILAT), Mayor Jenderal (Purn) Eddie Marzuki Nalapraya. Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 1984-1987 ini menyebut Yudana sebagai sosok yang pantang menyerah dalam melestarikan budaya leluhur. (T)

Tags: balidrama gongin memoriampencak silat
Share258TweetSendShareSend
Previous Post

Bintang Hujan yang Mekar Seperti Bunga Lily

Next Post

Tumbuh Bersama Puisi – Ulasan (Lagi) Buku Puisi Andy Sri Wahyudi

Kambali Zutas

Kambali Zutas

Lahir di Nganjuk, Jawa Timur, kini tinggal di Denpasar, Bali. Kesibukan sehari-hari selain jurnalis, juga menulis esai, puisi, dan cerpen. Berkecimpung di organisasi profesi sebagai Anggota Bidang Etika dan Profesionalisme AJI Kota Denpasar.

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post

Tumbuh Bersama Puisi – Ulasan (Lagi) Buku Puisi Andy Sri Wahyudi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas
Pendidikan

490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas

SEBANYAK 490 mahasiswa baru Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali memulai kehidupan kampus melalui Malam Kreativitas Kampus dan Pembukaan Pengenalan...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”
Pop

Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”

BELANTIKA musik Bali kembali mendapat warna baru. Kali ini datang dari Satria N Band, grup musik yang mencoba membawa pop-punk...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Tubuh yang Saya Suruh Begadang
Esai

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

by Angga Wijaya
September 9, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co