22 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bintang Hujan yang Mekar Seperti Bunga Lily

I Putu Agus Phebi Rosadi by I Putu Agus Phebi Rosadi
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

Cerpen: Diah Naraswari & I Putu Agus Phebi Rosadi

 

/1/

Pukul tujuh malam aku sampai di Bandar Udara Internasional Cointrin Jenewa. Aku bergegas menuju terminal kedatangan. Hiruk pikuk orang-orang yang tengah menunggu sedikit melamur pandang. Penumpang pesawat yang tengah kami nanti telah tiba. Aku beranjak dari tempatku duduk dan bergabung ditengah kerumunan. Kuangkat papan putih bertuliskan nama Itoru. Beberapa orang mulai memisahkan diri seperti lebah meninggalkan sarang. Mereka yang ditunggu telah datang. Seorang lelaki menghampiriku. Ia tinggi. Putih. Bersih dengan mengenakan kemeja biru muda. Ia muncul tiba-tiba menyingkap kerumun.

“Halo nona, maaf membuatmu menunggu lama.”

Lelaki itu tersenyum padaku. Selama sepersekian detik aku diam, mencoba memastikan tentang sosok yang tengah berdiri di hadapanku.

“Namaku Itoru,”  ujar pria itu ramah sembari mengulurkan tangannya.

Aku tersenyum dan menjabat tangannya.“Selamat malam Tuan Itoru, selamat datang di Swiss.”

Sifat khas orang timur benar-benar lekat pada Itoru. Keramahan yang ia tunjukkan membuat perjalanan kami menuju hotel malam itu menjadi tidak membosankan.

“Aku punya waktu satu minggu di kota ini, Ihara. Ada banyak hal yang ingin aku ketahui. Aku hanya mengenal Jenewa, jantung negara ini dari novel Mary Shelley.

“Frankenstein,” jawabku singkat.“Itu cerita yang menyeramkan.”

“Seperti dugaanku, kamu memang pemandu dengan segudang pengetahuan. Tapi aku yakin kota ini tidaklah menyeramkan.” Itoru menatap mataku.

Itoru bergegas turun dari mobil. Lambaian tangannya di depan L’Hotel de France mengakhiri pertemuan kami malam itu.

 

/2/

Seusai pertemuanmu antar karib Astronom di Zurich, kita menembus hujan menuju Janewa. Sembari menyetir, kau menawariku berenang di Bains des Paquis atau melihat hujan turun di tengah danau Janewa yang menggenang seperti bulan sabit.

“Lake of Ganeva,” kataku. “Aku tertarik dengan letup warna air dari pinggir danau.”

Maka kita lekas bergegas. Kau mengajakku menepi di sebuah kafe. Hanya ada satu pengunjung saat itu. Seorang perempuan yang berlaku sedikit aneh. Di sudut kanan mejanya ada sebuah kotak musik klasik yang berulang-ulang memutar Suite The Planets milik Gustav Holst. Kuperhatikan bibirnya menggumamkan nada-nada dengan artikulasi yang tidak jelas. Wajahnya seperti tenggelam dalam kelam. Setelah menghabiskan kopinya, perempuan itu mendongak di jendela dalam waktu yang cukup lama. Ia seperti melakukan hal yang sia-sia. Tapi bukankah hal sia-sia kadang juga menjadi bagian dari kebahagiaan manusia? Sedangkan kami berada di meja yang lain, menebak-nebak apa yang tengah bergemuruh di dada perempuan itu.

“Bila kamu beruntung, hujan yang jatuh sejak sore tadi mungkin saja akan reda di malam hari. Langit akan cerah dan beberapa bintang akan tumpah dan memamerkan nyalanya. Dari sini kau akan melihat bintang hujan. Bintang itu adalah Proxima Centauri yang berubah bentuk seperti kerlip bunga lily. Hujan membuat cahaya terlihat seperti tidak stabil dalam waktu yang berbeda. Karenanya, hanya selepas hujanlah bintang itu akan berbentuk bunga lily. Bila kau perhatikan, Brown Dwarf yang setia menempel di sampingnya dan para bintang masif usia menengah juga sisa dari bintang masif yang sudah mati membentuk kelopak yang sangat indah,” jelasmu sembari mengaduk cappucinno  dalam cangkir. “Di sana, awan kosmik gas dan debu adalah palung kelahiran bintang hujan dan kau akan melihatnya, Ihara. Bila kau beruntung. Sebab intensitas pancarannya tak akan lama. Kira-kira hanya empat detik.”

Kau menatapku sejenak kemudian mengepak telunjuk ke arah bujur utara danau.

Kupincingkan mata dan kupandang tepat di arah telunjukmu.

“Tapi aku tak beruntung. Sebab aku hanya melihat bintang-bintang berkumpul dan membentuk sebuah lingkaran,” ujarku.

“Itu adalah keberuntungan yang lain, kau sedang melihat posisi bintang sempurna,” sahutmu.

“Seperti kata Kepler? Astronom berwajah keriput itu memang pandai dalam segala hal. Tapi tidak tentang hidup. Aku yakin dia tidak tahu bentuk sempurna dari hidup. Bagaimana denganmu, tuan ahli Fotometri? Apa kau tahu?”

“Cinta,” jawabmu. “Cinta akan mengumpulkan partikel hidup dan menyatukannya. Tapi sekaligus akan menghancurkannya kemudian. Tapi cinta yang bagaimana? Aku sendiri tak paham, barangkali itulah hal yang tak harus dipecahkan.”

Jawabanmu memukulku. Aku menyudahi pengamatan dan mengajakmu kembali meringkuk di sebuah sudut dan menyiapkan sebuah perpisahan. Tapi dengan berat hati kau menyudahi pertemuan itu dengan sebuah janji bahwa kau akan bekerja dan menetap di sini.

“Secepatnya, Ihara,” ujarmu mengakhiri. Kau memandangku dengan sangat manis dan itulah saat pertama aku mulai mencintaimu, Itoru.

Kita meninggalkan kafe dengan beberapa obrolan yang tak selesai, juga teka-teki tentang siapa perempuan yang sedari tadi diam di sudut. Mestinya kita berbicara lebih banyak dan memecahkan teka-teki itu. Tapi kita terlanjur meninggalkannya tanpa sempat bertanya. Kita hanya bisa menebak-nebak bahwa mungkin saja perempuan tua itu akan berlaku demikian dalam jangka waktu yang lama.

 

/3/

Hari ini genap empat tahun pertemuan kita, Itoru. Aku menepi di sebuah kafe dan perempuan yang wajahnya tenggelam dalam kelam masih setia duduk di pojok kafe. Di sebelah kiri mejanya, ada buku yang masih terbuka. Kupikir perempuan tua itu baru saja selesai membaca setengahnya dan tak ingin melanjutkannya lagi. Sementara Suite The Planets masih mengalun dari kotak musik dengan nada ritmis.

Kuperhatikan sejenak dari bibirnya keluar nada-nada yang kurang jelas artikulasinya. Perempuan itu melihat ke keluar jendela setelah menghabiskan kopinya. Ada beberapa bekas kopi di bibirnya. Dengan segera bilas dengan telunjuk kemudian mengecup ujung telunjuknya. Sedikit menjijikkan. Tapi begitulah kebiasaan perempuan tua itu. Kini ia mulai melempar pandangan jauh, seperti terhisap genangan air bulan sabit. Semua sama persis seperti empat tahun lalu. Bedanya kau tak bersamaku, Itoru. Padahal aku sudah mendapatkan jawaban atas teka-teki saat kita meninggalkan kafe ini.

Perempuan tua itu adalah nyonya Rosenda, ibu dari pemilik kafe ini. Seorang ahli Astronomi yang sama sepertimu. Dia sedang menunggu seorang lelaki yang kerap mengajaknya melihat ke luar jendela tepat di depannya dan memberinya cerita-cerita picisan tentang mitos sebuah danau. Katanya, meskipun picisan, lelaki itu selalu berhasil membuatnya percaya. Seolah-olah apa yang meletup dari bibir lelaki itu benar-benar absah. Itulah sebabnya mengapa perempuan itu masih menaruh hati padanya. Tapi sampai sekarang, lelaki itu tak pernah datang lagi. Selamanya.

Hari ini aku sangat ingin menemuimu, Itoru. Melihat sepasang matamu. Menikmati hembusan nafasmu. Atau menghirup aroma salju tubuhmu. Tapi kamu tak akan kembali ke tempat ini setelah sepucuk surat kau tinggalkan: tentang seorang perempuan yang tengah mengandung buah cinta kalian berdua.

Gerimis dengan kabut dan angin dingin menyekap kami. Aku menahan perih. Kudongakkan kepala di jendela. Ada bulan menggantung samar, dengan beberapa hias pendar bintang. Tapi tak kutemukan bintang hujan yang berbentuk seperti bunga lily yang  kau ceritakan. Sekarang aku tahu waktu itu kau benar-benar berbohong. Tapi aku selalu menyukai malam yang seperti ini dan mengenang bahwa kau pernah di sini. Bersamaku.

Sejak hari itu, Itoru. Sejak kau mulai memilih tinggal di rumahku ketimbang hotel. Wajahmu selalu hadir dalam pagiku. Aku menikmati tujuh pagi ketika mataku terbuka, kamu ada disampingku. Lalu aku beranjak ke dapur dan menyeduh secangkir kopi. Ketika aku kembali ke kamar dengan cangkir mengepul di tanganku, kaupun menyambutku dengan pelukan.

“Gueten morgen, Itoru.”

“Ohayō, Ihara.”

Setelah sapaan itu, kau merasa beruntung menjalani pagi bersamaku. Sedang di negaramu, kau harus menyiapkan beberapa peralatan kerja yang ribet. Hampir tak ada waktu untuk menghirup aroma kopi pagi. Kau harus menuntaskan pekerjaanmu dalam paruh hari. Setiap hari. Jam kerja di kantormu seperti kusir. Sekarang sudah beberapa pagi aku tak lagi memasak. Aku selalu rindu sarapan kita bersama: setelah secangkir kopi, kita kemudian membukanya dengan beberapa potong kue kecil dengan taburan coklat hangat di atasnya. Lalu kita mengobrol tentang apa saja. Tentang keinginanku untuk menikah secepatnya. Juga tentang keinginanmu kembali ke tempat ini secepatnya.

Sekuat apapun aku berusaha menepis semua tentangmu, sekuat itu pula kamu hadir. Aku ingin menemuimu lagi. Bukan untuk mengulang apa yang pernah kita lewati bersama. Itu tentu hal yang mustahil dan aku menyadarinya. Aku hanya ingin sekadar berbaku sapa denganmu, Itoru. Berbicara tentang bagaimana hidupmu setelah kita tak lagi bersama. Masihkah kau menyukai pagi di tempat ini? Seberapa sering kamu merindukanku? Atau bahkan mungkin kamu tak pernah mengingat sedikitpun? Entahlah. Pertanyaan itu cukup hanya berputar-putar saja di kepalaku. Tanpa pernah tau kapan akan menemukan jawaban. Tanpa pernah tau apakah kamu masih mau menemuiku atau tidak.

Aku selalu membayangkan sedang duduk di kursi dekat dengan jendela yang menghadap ke danau. Dengan kedua tanganmu kemudian kau akan menyentuh pipiku lembut.

“Kita akan bersama,” ujarmu kemudian mengecup keningku.

Betapa bahagianya aku. Tapi kau terlanjur membuatku menunggu di tempat ini. Barangkali selamanya.

Dingin masih melingkup di luar. Kucari bintang hujan yang kau ceritakan sambil mencoba membalas suratmu. Isinya masih tentang permintaanku yang tak pernah usai. Aku ingin menemuimu secepat mungkin dan meminta alasan mengapa bentuk sempurna dari hidup adalah cinta.

Di luar langit gelap dan bergemuruh sementara angin dingin tak henti mengetuk tulang rusukku. Persis seperti waktu itu. Setelah tugas dari negaramu selesai. Kau harus  pulang dan memaksaku untuk menunggu. Selamanya. Seperti perempuan tua yang masih mendongak di jendela. Wajahnya tertegun dan nampak sedang menemukan sesuatu dan tiba-tiba berkata padaku, “Di sana ada nebula Gabriela Mistral, orang-orang menamainya karena garis-garisnya mirip dengan wajah penyair Chili itu.”

Ia memincingkan mata.

”Bintang-bintang baru dilahirkan di sana. Bola gas yang berpijar dengan hidrogen sebagai elemen paling berlimpah. Tapi, sayang, keindahan di langit yang sedang kita lihat adalah cahaya masa lalu. Kita juga sebenarnya adalah masa lalu. Hanya saja kita terlambat untuk menyerah pada asumsi mengenai masa lalu. Cahaya sampai ke Bumi menjelma bias, mereka harus memutuskan apakah akan berperilaku seperti partikel atau gelombang ketika mereka menabrak sebuah dinding udara dan itu memerlukan waktu yang lama,” katanya lagi.

Aku mengangguk seraya turut melihat bintang yang ia maksud.

“Ya, kita adalah masa lalu yang sedang terjebak masa lalu?”

“Begitulah. Kalau dijelaskan akan panjang sekali. Mengapa kamu sering datang kemari?” tanya perempuan tua itu.

“Ada yang sedang kutunggu.”

“Seorang lelaki?”

“Benar. Sampai sekarang dia belum datang. Bahkan mungkin tidak akan pernah datang. Selamanya.”

“Tempat ini bukanlah tempat yang baik kiranya untuk jatuh cinta. Tempat ini seperti pusar waktu sideris. Segala hal akan seperti dihitung dengan putaran balik. Meskipun suatu hari, di sini, seorang lelaki pernah bersamamu. Tapi kenyataannya, kita sedang dalam keadaan sebaliknya.”

Kulihat mata perempuan tua itu lebam. Kali ini kesedihannya nampak semakin dalam. Dan di tempat ini, aku masih menunggumu, Itoru. Bersama perempuan tua itu. Ia menyimpan rahasia, sementara aku menadah luka. Sekarang kami sama-sama bersedih. (T)

Tags: Cerpen
Share17TweetSendShareSend
Previous Post

Agus Terburu-buru, Anies Khas Akademisi, Ahok Seperti Bukan Ahok

Next Post

Niat Total Lestarikan Drama Gong dan Pencak Silat – “Raja Buduh” Yudana dalam Kenangan

I Putu Agus Phebi Rosadi

I Putu Agus Phebi Rosadi

Setelah menempuh pendidikan di Singaraja, ia kembali ke kampung halamannya di Jembrana untuk menjadi petani sembari nyambi jadi guru. Selain menulis puisi, ia juga menulis esai dan cerpen.

Related Posts

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails
Next Post

Niat Total Lestarikan Drama Gong dan Pencak Silat - “Raja Buduh” Yudana dalam Kenangan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026
Lubang | Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

by Asmaran Dani
June 21, 2026
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi
Puisi

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

by Mahesa Putra
June 21, 2026
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045
Esai

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
Esai

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

by Made Chandra
June 21, 2026
“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total
Panggung

“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total

SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi
Ulas Musik

’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia...

by Ahmad Sihabudin
June 21, 2026
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   
Esai

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!
Khas

Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

 “Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama,...

by Dede Putra Wiguna
June 21, 2026
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital
Esai

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

by Angga Wijaya
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co