1 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bintang Hujan yang Mekar Seperti Bunga Lily

I Putu Agus Phebi Rosadi by I Putu Agus Phebi Rosadi
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

Cerpen: Diah Naraswari & I Putu Agus Phebi Rosadi

 

/1/

Pukul tujuh malam aku sampai di Bandar Udara Internasional Cointrin Jenewa. Aku bergegas menuju terminal kedatangan. Hiruk pikuk orang-orang yang tengah menunggu sedikit melamur pandang. Penumpang pesawat yang tengah kami nanti telah tiba. Aku beranjak dari tempatku duduk dan bergabung ditengah kerumunan. Kuangkat papan putih bertuliskan nama Itoru. Beberapa orang mulai memisahkan diri seperti lebah meninggalkan sarang. Mereka yang ditunggu telah datang. Seorang lelaki menghampiriku. Ia tinggi. Putih. Bersih dengan mengenakan kemeja biru muda. Ia muncul tiba-tiba menyingkap kerumun.

“Halo nona, maaf membuatmu menunggu lama.”

Lelaki itu tersenyum padaku. Selama sepersekian detik aku diam, mencoba memastikan tentang sosok yang tengah berdiri di hadapanku.

“Namaku Itoru,”  ujar pria itu ramah sembari mengulurkan tangannya.

Aku tersenyum dan menjabat tangannya.“Selamat malam Tuan Itoru, selamat datang di Swiss.”

Sifat khas orang timur benar-benar lekat pada Itoru. Keramahan yang ia tunjukkan membuat perjalanan kami menuju hotel malam itu menjadi tidak membosankan.

“Aku punya waktu satu minggu di kota ini, Ihara. Ada banyak hal yang ingin aku ketahui. Aku hanya mengenal Jenewa, jantung negara ini dari novel Mary Shelley.

“Frankenstein,” jawabku singkat.“Itu cerita yang menyeramkan.”

“Seperti dugaanku, kamu memang pemandu dengan segudang pengetahuan. Tapi aku yakin kota ini tidaklah menyeramkan.” Itoru menatap mataku.

Itoru bergegas turun dari mobil. Lambaian tangannya di depan L’Hotel de France mengakhiri pertemuan kami malam itu.

 

/2/

Seusai pertemuanmu antar karib Astronom di Zurich, kita menembus hujan menuju Janewa. Sembari menyetir, kau menawariku berenang di Bains des Paquis atau melihat hujan turun di tengah danau Janewa yang menggenang seperti bulan sabit.

“Lake of Ganeva,” kataku. “Aku tertarik dengan letup warna air dari pinggir danau.”

Maka kita lekas bergegas. Kau mengajakku menepi di sebuah kafe. Hanya ada satu pengunjung saat itu. Seorang perempuan yang berlaku sedikit aneh. Di sudut kanan mejanya ada sebuah kotak musik klasik yang berulang-ulang memutar Suite The Planets milik Gustav Holst. Kuperhatikan bibirnya menggumamkan nada-nada dengan artikulasi yang tidak jelas. Wajahnya seperti tenggelam dalam kelam. Setelah menghabiskan kopinya, perempuan itu mendongak di jendela dalam waktu yang cukup lama. Ia seperti melakukan hal yang sia-sia. Tapi bukankah hal sia-sia kadang juga menjadi bagian dari kebahagiaan manusia? Sedangkan kami berada di meja yang lain, menebak-nebak apa yang tengah bergemuruh di dada perempuan itu.

“Bila kamu beruntung, hujan yang jatuh sejak sore tadi mungkin saja akan reda di malam hari. Langit akan cerah dan beberapa bintang akan tumpah dan memamerkan nyalanya. Dari sini kau akan melihat bintang hujan. Bintang itu adalah Proxima Centauri yang berubah bentuk seperti kerlip bunga lily. Hujan membuat cahaya terlihat seperti tidak stabil dalam waktu yang berbeda. Karenanya, hanya selepas hujanlah bintang itu akan berbentuk bunga lily. Bila kau perhatikan, Brown Dwarf yang setia menempel di sampingnya dan para bintang masif usia menengah juga sisa dari bintang masif yang sudah mati membentuk kelopak yang sangat indah,” jelasmu sembari mengaduk cappucinno  dalam cangkir. “Di sana, awan kosmik gas dan debu adalah palung kelahiran bintang hujan dan kau akan melihatnya, Ihara. Bila kau beruntung. Sebab intensitas pancarannya tak akan lama. Kira-kira hanya empat detik.”

Kau menatapku sejenak kemudian mengepak telunjuk ke arah bujur utara danau.

Kupincingkan mata dan kupandang tepat di arah telunjukmu.

“Tapi aku tak beruntung. Sebab aku hanya melihat bintang-bintang berkumpul dan membentuk sebuah lingkaran,” ujarku.

“Itu adalah keberuntungan yang lain, kau sedang melihat posisi bintang sempurna,” sahutmu.

“Seperti kata Kepler? Astronom berwajah keriput itu memang pandai dalam segala hal. Tapi tidak tentang hidup. Aku yakin dia tidak tahu bentuk sempurna dari hidup. Bagaimana denganmu, tuan ahli Fotometri? Apa kau tahu?”

“Cinta,” jawabmu. “Cinta akan mengumpulkan partikel hidup dan menyatukannya. Tapi sekaligus akan menghancurkannya kemudian. Tapi cinta yang bagaimana? Aku sendiri tak paham, barangkali itulah hal yang tak harus dipecahkan.”

Jawabanmu memukulku. Aku menyudahi pengamatan dan mengajakmu kembali meringkuk di sebuah sudut dan menyiapkan sebuah perpisahan. Tapi dengan berat hati kau menyudahi pertemuan itu dengan sebuah janji bahwa kau akan bekerja dan menetap di sini.

“Secepatnya, Ihara,” ujarmu mengakhiri. Kau memandangku dengan sangat manis dan itulah saat pertama aku mulai mencintaimu, Itoru.

Kita meninggalkan kafe dengan beberapa obrolan yang tak selesai, juga teka-teki tentang siapa perempuan yang sedari tadi diam di sudut. Mestinya kita berbicara lebih banyak dan memecahkan teka-teki itu. Tapi kita terlanjur meninggalkannya tanpa sempat bertanya. Kita hanya bisa menebak-nebak bahwa mungkin saja perempuan tua itu akan berlaku demikian dalam jangka waktu yang lama.

 

/3/

Hari ini genap empat tahun pertemuan kita, Itoru. Aku menepi di sebuah kafe dan perempuan yang wajahnya tenggelam dalam kelam masih setia duduk di pojok kafe. Di sebelah kiri mejanya, ada buku yang masih terbuka. Kupikir perempuan tua itu baru saja selesai membaca setengahnya dan tak ingin melanjutkannya lagi. Sementara Suite The Planets masih mengalun dari kotak musik dengan nada ritmis.

Kuperhatikan sejenak dari bibirnya keluar nada-nada yang kurang jelas artikulasinya. Perempuan itu melihat ke keluar jendela setelah menghabiskan kopinya. Ada beberapa bekas kopi di bibirnya. Dengan segera bilas dengan telunjuk kemudian mengecup ujung telunjuknya. Sedikit menjijikkan. Tapi begitulah kebiasaan perempuan tua itu. Kini ia mulai melempar pandangan jauh, seperti terhisap genangan air bulan sabit. Semua sama persis seperti empat tahun lalu. Bedanya kau tak bersamaku, Itoru. Padahal aku sudah mendapatkan jawaban atas teka-teki saat kita meninggalkan kafe ini.

Perempuan tua itu adalah nyonya Rosenda, ibu dari pemilik kafe ini. Seorang ahli Astronomi yang sama sepertimu. Dia sedang menunggu seorang lelaki yang kerap mengajaknya melihat ke luar jendela tepat di depannya dan memberinya cerita-cerita picisan tentang mitos sebuah danau. Katanya, meskipun picisan, lelaki itu selalu berhasil membuatnya percaya. Seolah-olah apa yang meletup dari bibir lelaki itu benar-benar absah. Itulah sebabnya mengapa perempuan itu masih menaruh hati padanya. Tapi sampai sekarang, lelaki itu tak pernah datang lagi. Selamanya.

Hari ini aku sangat ingin menemuimu, Itoru. Melihat sepasang matamu. Menikmati hembusan nafasmu. Atau menghirup aroma salju tubuhmu. Tapi kamu tak akan kembali ke tempat ini setelah sepucuk surat kau tinggalkan: tentang seorang perempuan yang tengah mengandung buah cinta kalian berdua.

Gerimis dengan kabut dan angin dingin menyekap kami. Aku menahan perih. Kudongakkan kepala di jendela. Ada bulan menggantung samar, dengan beberapa hias pendar bintang. Tapi tak kutemukan bintang hujan yang berbentuk seperti bunga lily yang  kau ceritakan. Sekarang aku tahu waktu itu kau benar-benar berbohong. Tapi aku selalu menyukai malam yang seperti ini dan mengenang bahwa kau pernah di sini. Bersamaku.

Sejak hari itu, Itoru. Sejak kau mulai memilih tinggal di rumahku ketimbang hotel. Wajahmu selalu hadir dalam pagiku. Aku menikmati tujuh pagi ketika mataku terbuka, kamu ada disampingku. Lalu aku beranjak ke dapur dan menyeduh secangkir kopi. Ketika aku kembali ke kamar dengan cangkir mengepul di tanganku, kaupun menyambutku dengan pelukan.

“Gueten morgen, Itoru.”

“Ohayō, Ihara.”

Setelah sapaan itu, kau merasa beruntung menjalani pagi bersamaku. Sedang di negaramu, kau harus menyiapkan beberapa peralatan kerja yang ribet. Hampir tak ada waktu untuk menghirup aroma kopi pagi. Kau harus menuntaskan pekerjaanmu dalam paruh hari. Setiap hari. Jam kerja di kantormu seperti kusir. Sekarang sudah beberapa pagi aku tak lagi memasak. Aku selalu rindu sarapan kita bersama: setelah secangkir kopi, kita kemudian membukanya dengan beberapa potong kue kecil dengan taburan coklat hangat di atasnya. Lalu kita mengobrol tentang apa saja. Tentang keinginanku untuk menikah secepatnya. Juga tentang keinginanmu kembali ke tempat ini secepatnya.

Sekuat apapun aku berusaha menepis semua tentangmu, sekuat itu pula kamu hadir. Aku ingin menemuimu lagi. Bukan untuk mengulang apa yang pernah kita lewati bersama. Itu tentu hal yang mustahil dan aku menyadarinya. Aku hanya ingin sekadar berbaku sapa denganmu, Itoru. Berbicara tentang bagaimana hidupmu setelah kita tak lagi bersama. Masihkah kau menyukai pagi di tempat ini? Seberapa sering kamu merindukanku? Atau bahkan mungkin kamu tak pernah mengingat sedikitpun? Entahlah. Pertanyaan itu cukup hanya berputar-putar saja di kepalaku. Tanpa pernah tau kapan akan menemukan jawaban. Tanpa pernah tau apakah kamu masih mau menemuiku atau tidak.

Aku selalu membayangkan sedang duduk di kursi dekat dengan jendela yang menghadap ke danau. Dengan kedua tanganmu kemudian kau akan menyentuh pipiku lembut.

“Kita akan bersama,” ujarmu kemudian mengecup keningku.

Betapa bahagianya aku. Tapi kau terlanjur membuatku menunggu di tempat ini. Barangkali selamanya.

Dingin masih melingkup di luar. Kucari bintang hujan yang kau ceritakan sambil mencoba membalas suratmu. Isinya masih tentang permintaanku yang tak pernah usai. Aku ingin menemuimu secepat mungkin dan meminta alasan mengapa bentuk sempurna dari hidup adalah cinta.

Di luar langit gelap dan bergemuruh sementara angin dingin tak henti mengetuk tulang rusukku. Persis seperti waktu itu. Setelah tugas dari negaramu selesai. Kau harus  pulang dan memaksaku untuk menunggu. Selamanya. Seperti perempuan tua yang masih mendongak di jendela. Wajahnya tertegun dan nampak sedang menemukan sesuatu dan tiba-tiba berkata padaku, “Di sana ada nebula Gabriela Mistral, orang-orang menamainya karena garis-garisnya mirip dengan wajah penyair Chili itu.”

Ia memincingkan mata.

”Bintang-bintang baru dilahirkan di sana. Bola gas yang berpijar dengan hidrogen sebagai elemen paling berlimpah. Tapi, sayang, keindahan di langit yang sedang kita lihat adalah cahaya masa lalu. Kita juga sebenarnya adalah masa lalu. Hanya saja kita terlambat untuk menyerah pada asumsi mengenai masa lalu. Cahaya sampai ke Bumi menjelma bias, mereka harus memutuskan apakah akan berperilaku seperti partikel atau gelombang ketika mereka menabrak sebuah dinding udara dan itu memerlukan waktu yang lama,” katanya lagi.

Aku mengangguk seraya turut melihat bintang yang ia maksud.

“Ya, kita adalah masa lalu yang sedang terjebak masa lalu?”

“Begitulah. Kalau dijelaskan akan panjang sekali. Mengapa kamu sering datang kemari?” tanya perempuan tua itu.

“Ada yang sedang kutunggu.”

“Seorang lelaki?”

“Benar. Sampai sekarang dia belum datang. Bahkan mungkin tidak akan pernah datang. Selamanya.”

“Tempat ini bukanlah tempat yang baik kiranya untuk jatuh cinta. Tempat ini seperti pusar waktu sideris. Segala hal akan seperti dihitung dengan putaran balik. Meskipun suatu hari, di sini, seorang lelaki pernah bersamamu. Tapi kenyataannya, kita sedang dalam keadaan sebaliknya.”

Kulihat mata perempuan tua itu lebam. Kali ini kesedihannya nampak semakin dalam. Dan di tempat ini, aku masih menunggumu, Itoru. Bersama perempuan tua itu. Ia menyimpan rahasia, sementara aku menadah luka. Sekarang kami sama-sama bersedih. (T)

Tags: Cerpen
Share17TweetSendShareSend
Previous Post

Agus Terburu-buru, Anies Khas Akademisi, Ahok Seperti Bukan Ahok

Next Post

Niat Total Lestarikan Drama Gong dan Pencak Silat – “Raja Buduh” Yudana dalam Kenangan

I Putu Agus Phebi Rosadi

I Putu Agus Phebi Rosadi

Setelah menempuh pendidikan di Singaraja, ia kembali ke kampung halamannya di Jembrana untuk menjadi petani sembari nyambi jadi guru. Selain menulis puisi, ia juga menulis esai dan cerpen.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post

Niat Total Lestarikan Drama Gong dan Pencak Silat - “Raja Buduh” Yudana dalam Kenangan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co