7 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pilkada Tak Cuma Jakarta, Bung! – Jangan-jangan Kita Tak Tahu Calon Bupati Sendiri…

Gusti Ayu Ratna Sari by Gusti Ayu Ratna Sari
February 2, 2018
in Opini

Ilustrasi diolah dari sejumlah sumber di google

JUMAT, 13 Januari 2017, menjadi hari yang cukup istimewa bagi negeri ini. Tapi ini bukan hari nasional, bukan juga hari demo besar-besaran seperti 4/11, 25/11 atau 2/12. Dan tentunya bukan hari libur yang biasanya menggembirakan bagi semua orang.

Hari itu adalah hari dilaksanakannya debat resmi pertama antarpasangan calon Gubernur DKI Jakarta. Kalian pasti sudah nonton.

Hari itu, sejak hari-hari sebelumnya, dinanti-nantikan seperti menantikan satu tontonan besar yang tak akan pernah ada lagi di dunia ini. Hari itu adalah panggung adu visi-misi dan argumentasi pasangan calon Gubernur DKI Jakarta yang akan mempengaruhi tingkat elektabilitas, dukungan, dan juga mempengaruhi serta menarik dukungan para swing voters.

Hari itu juga dinanti-nanti bukan hanya oleh warga ber-KTP Jakarta tapi oleh hampir seluruh warga Indonesia. Karena hari itu seakan-akan warga melihat satu episode dari drama bersambung Pilkada DKI Jakarta yang “diputar” sejak beberapa bulan lalu, dan entah kapan akan berakhir.

Drama itu menjadi perhatian warga melalui berbagai media karena tentu kita tidak lupa bahwa di penghujung tahun 2016 lalu, Indonesia digemparkan dengan kasus penistaan agama oleh salah satu calon gubernur DKI Jakarta. Lalu ada demo, ada tokoh ditangkap karena kasus makar.

Ditambah dinamika lain, maka lengkaplah drama bersambung Pilkada DKI jadi tontonan warga Indonesia. Salah satu episode adalah debat pasangan calon Gubernur yang disiarkan TV nasional.

Tapi di balik perhatian yang begitu besar terhadap proses demokrasi di Jakarta dari seluruh rakyat Indonesia, saya merasakan ada yang terlupakan. Kita dan saya khususnya lupa bahwa Pilkada 15 Februari 2017 itu bukan cuma di Jakarta. Saat semua orang membicarakan Pilkada DKI, saya bertanya-tanya apakah kita sudah mendapatkan informasi yang cukup kalau daerah kita juga akan ada pesta demokrasi yang sama?

Di saat warga Indonesia dari Sabang sampai Merauke ikut berkomentar tentang visi dan misi pasangan calon dalam debat itu, sudahkah kita ingat menguji visi-misi calon Gubernur, Bupati, atau Walikota kita sendiri? Jangan-jangan kita, kalian atau kamu, tak tahu ada Pilkada di daerahmu? Atau jika pun tahu, jangan-jangan tak tahu siapa calon bupati atau calon gubernur di daerahmu?

Tahun 2017 ini ada 7 provinsi, 76 kabupaten, 18 kota, dan totalnya 101 daerah di Indonesia akan melaksanakan Pilkada secara serentak tanggal 15 Februari ini. Termasuk Buleleng (daerah kelahiran saya) yang merupakan satu-satunya kabupaten di Bali yang melaksanakan Pilkada bersamaan dengan Pilkada DKI.

Tapi orang, termasuk media sosial dan media massa, sepertinya hanya membicarakan Pilkada DKI. Begitu menarik ketika saya melihat di media sosial, orang luar Jakarta juga berkomentar tentang visi misi calon gubernur DKI bahkan dengan sengit dan marah.

Bayangkan saja, orang Buleleng berdebat dengan temannya yang juga tinggal di Buleleng tentang keunggulan calon gubernur DKI setelah menonton debat, bahkan menyatakan diri sebagai pendukung salah satunya. Apakah ini salah? Tentu saja tidak jika kita mendukung ide atau gagasan tokoh-tokoh itu, toh mereka sudah menjadi idola nasional.

Tapi akan menjadi kurang pas, ketika kita ribut membicarakan nasib daerah di provinsi sebelah yang jaraknya lebih dari 1.100 km itu. Padahal di hari yang sama kita akan sama-sama ke TPS untuk memilih kepala daerah kita masing-masing.

Eh, bicara soal Pilkada Buleleng, jangan-jangan kita tak tahu siapa saja calon bupatinya. Kalau pun sudah tahu, sudahkah kita berdebat tentang visi-misi calon kepala daerah kita masing-masing? Jujur, kalau saya, belum.

Maaf kalau saya menggunakan diri saya sendiri sebagai parameter. Sebagai mahasiswa, saya memiliki waktu terbatas untuk hadir dalam kegiatan-kegiatan di masyarakat, misalnya simakrama atau kampanye pasangan calon untuk mendengar visi-misinya.

Sebagian besar informasi saya dapatkan dari media. Sehingga ketika saya ingin tahu apa program dan visi misi calon bupati saya, saya berharap bisa menemukannya di media massa atau media sosial. Tetapi saat saya search di mesin pencari, cukup sulit ternyata menemukan konten itu hingga detik ini. Entah karena aturan Pilkada ataukah memang tidak dibuat oleh para calon, saya pun tidak mengerti. Tapi setidaknya saya sudah berusaha mencari tahu.

Mendapatkan informasi dari masyarakat sekitar pun bukan tanpa kelemahan, karena kadang sayup-sayup pembicaraan tentang para calon sangat sedikit yang berbicara program yang bisa saya mengerti sebagai orang yang belum terjun aktif dalam masyarakat. Istilahnya, saya belum tahu lapangan sehingga akan canggung untuk berkomentar di tengah pembicaraan sesepuh desa apalagi menyangkut paut bagaimana nasib perkembangan  desa atau lingkungan saya di tangan para calon nantinya. Penggambaran yang diberikan sudah tidak netral lagi sehingga tidak ada ruang bagi kita untuk menilai dan menentukan pilihan sendiri.

Tentunya ini tidak aneh, karena esensi pemilihan adalah memberikan dukungan kepada satu calon dan tidak mendukung calon yang lain dengan berbagai pertimbangan kita masing-masing. Hal itu sah-sah saja dalam sebuah pesta demokrasi asalkan tanpa tekanan dan penyalahgunaan kekuasaan.

Pada akhirnya, Pilkada DKI Jakarta akan tetap menyedot perhatian publik seluruh Indonesia dan dapat dipastikan lembaga survey akan berlomba-lomba mengadakan proses hitung cepat yang akan ditayangkan tidak sedikit stasiun televisi. Pilkada DKI juga akan terus diperbincangkan di media sosial bahkan bisa sampai pada tahap ‘perang media’ dan hasilnya mungkin akan jadi trending topic.

Warga Indonesia yang tidak ber-KTP Jakarta pun mungkin akan ikut meramaikan dan berkomentar tentang perkembangan ibukota dengan pesta demokrasinya. Tapi, semoga kita tidak lupa bahwa di hari yang sama 100 daerah di Indonesia yang menjadi peserta Pilkada serentak juga berhak mendapat perhatian Indonesia, salah satunya bisa jadi daerah anda.

Semoga kita tidak hanya sibuk berkomentar tentang pemimpin dan nasib daerah yang nun jauh di sana, tapi lupa memperhatikan nasib dan calon pemimpin di rumah sendiri. Kita berharap yang terbaik untuk ibukota, tetapi jangan sampai setelah 15 Februari 2017, rakyat Jakarta tertawa dan bahagia bersama pemimpin barunya, sedangkan kita sendiri mendongkol dengan pemimpin sendiri karena kelalaian kita saat pemilihan.

Bertanyalah sekali lagi, sudahkah kita kenal calon pemimpin daerah kita masing-masing? Jika belum, mulailah pikirkan daerah masing-masing, walau tak ada yang melarang untuk melirik nasib Jakarta. Jakarta memang ibukota Indonesia, tapi Indonesia bukan hanya tentang Jakarta. (T)

Tags: bulelengDKI JakartaPilkada
Share53TweetSendShareSend
Previous Post

Tumbuh Bersama Puisi – Ulasan (Lagi) Buku Puisi Andy Sri Wahyudi

Next Post

Seribu Tahun Warisan Budaya Pali (1): Bumi Ayu, Situs Hindu Terbesar di Sumatra

Gusti Ayu Ratna Sari

Gusti Ayu Ratna Sari

Lahir di Kaliasem, 16 Desember 1994. Mahasiswa Pendidikan Sejarah, Universitas Pendidikan Ganesha. Senang belajar sejarah, bicara politik dan beroganisasi.

Related Posts

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails
Next Post

Seribu Tahun Warisan Budaya Pali (1): Bumi Ayu, Situs Hindu Terbesar di Sumatra

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co