2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seribu Tahun Warisan Budaya Pali (1): Bumi Ayu, Situs Hindu Terbesar di Sumatra

Riki Dhamparan Putra by Riki Dhamparan Putra
February 2, 2018
in Khas

Foto-foto: Riki Dhamparan Putra

KABUPATEN Pali (Penukal Abab Lematang Ilir), Sumsel, baru berusia tiga tahun pada bulan April 2017 mendatang. Namun warisan fisik  peradabannya terungkap sudah berusia lebih dari seribu dua ratus lima belas tahun. Perkiraan ini berdasarkan hasil penelitian para ahli purbakala terhadap situs-situs budaya abad 9-12 masehi yang ditemukan di “Bumi Serepat Serasan” ini.

Yang paling populer tentulah situs percandian Bumi Ayu seluas 110 ha yang berada di Desa Bumi Ayu, Kecamatan Tanah Abang, sebelah barat sungai Lematang, Kabupaten Pali. Kurang lebih lima jam dari kota Palembang, saat ini jalan menuju kawasan kompleks percandian Bumi Ayu boleh dikata sudah mulus. Baik melalui Simpang Belimbing, maupun jalan pintas melalui Cambai dan Modong hulu di perbatasan Kabupaten Muara Enim dan Pali.

Terdapat paling tidak sepuluh gugusan candi berupa bangunan bata yang sudah rusak di atas area seluas 7 ha yang sudah dibebaskan. Empat di antaranya, yakni Candi 1,2,3, dan 8 telah dipugar walaupun hanya bagian kakinya yang dapat direkonstruksi. Masing-masing tampaknya dibangun dari periode yang berbeda-beda.

Candi Bumi Ayu, Komplek Candi 3

Menurut dugaan dari Pusat Penelitian Dan Pengembangan Arkeologi Nasional Palembang,   situs ini berkembang terutama pada abad 10-13 dan menjadi central place dari sebuah peradaban Hindu Sumatra kira-kira dua ratus tahun setelah Sriwijaya membangun pusat wanua–nya di Palembang.

Pengujian karbon yang dilakukan Pulitbang Arkenas terhadap sampel arang yang ditemukan pada kompleks percandian itu pada 2007, menghasilkan angka tahun 1110-1330 masehi. Hal ini berarti, Candi Bumi Ayu eksis bersamaan dengan periode akhir kejayaan Kerajaan Sriwijaya yang kabarnya pernah menjadi kerajaan terkuat di Asia Tenggara kala itu.

Pemetaan awal pada 1991 memastikan bahwa situs Candi Bumi Ayu dikelilingi oleh sungai-sungai, sungai Piabung, sungai Tebat Jambu, sungai Tebat Tholib, Sungai Tebat Siku dan Sungai Tebat Panjang yang masuk ke Sungai Batanghari Siku untuk kemudian menuju aliran Sungai Musi melalui Sungai Lematang.

Posisi geografisnya yang berada di lintas tengah jalur transportasi budaya dan perdagangan antara kawasan hulu dan  hilir kala itu, rupanya mendorong kemajuan kawasan ini di masa lampau. Tak hanya kompleks percandian Bumi Ayu, temuan situs-situs hunian di Babat dan Modong di hilir Lematang makin meyakinkan fakta historis itu.

Bila diasumsikan kawasan hulu dan hilir Sumsel berada dalam kontrol kekuatan politik yang berbeda-beda dan masing-masing bersifat otonom, patut pula diduga kawasan Bumi Ayu merupakan sebuah inland port yang otonom pula. Sebuah ‘mandala perbatasan’ yang dibangun dengan sebuah konsep perbatasan yang canggih untuk memanfaatkan arus pertukaran ekonomi, antara kawasan-kawasan hulu dan hilir.

Apakah posisi dan peran ekonomi yang strategis itu memberi dampak pula bagi adanya kekuatan politik dan agama yang otonom di kawasan ini di masa lalu, masih menjadi pertanyaan para peneliti sampai saat ini. Namun demikian hasil-hasil pengkajian terhadap tinggalan fisik yang ada, menampilkan kekhasan kawasan Bumi Ayu sebagai kawasan budaya Hindu terbesar pada abad-abad yang tercitra sebagai era politik dan agama Budha di Pulau Sumatra.

Peneliti dari Balai Arkeologi Palembang, Sondang M Siregar, memaparkan kawasan percandian Bumi Ayu merupakan bukti adanya kejayaan Hindu di Sumatra yang berlangsung pada abad ke 9 masehi. Kawasan itu, kata dia, dibangun sebagai sarana peribadatan umat Hindu yang terlihat dari prasasti dan estetika arca-arcanya.

Di tepi sungai Lematang, ditemukan prasasti emas (suwarnapattra) yang diperkirakan berasal dari abad 10-12 masehi. Prasasti yang ditulis pada kedua sisinya itu berisi konsep-konsep ajaran agama Hindu seperti terlihat pada pemakaian kata-kata prthwi, pageni, akasa, bayu, apah yang merupakan unsur-unsur tubuh manusia. Profil Candi 1 yang berbentuk bujur sangkar, hiasan pelipit kumuda, dan padma lazim ditemukan pada profil candi-candi tua di Jawa Tengah dari abad ke 9 – 10 masehi, di antaranya candi Badut.

Peneliti dari Balai Arkeologi Palembang, Sondang M Siregar

Selain itu, aspek agama Hindu juga tercermin dari arca-arca yang terdapat dalam kompleks candi Bumi Ayu seperti arca Siwa Mahadewa,  Agastya, Nandi, dan arca Sthamba yang terdapat dalam Candi 1 yang diduga merupakan bangunan pemujaan yang pertama didirikan di antara seluruh kompleks itu.

Walaupun demikian, kata Sondang pula, secara umum seni arca Bumi Ayu memperlihatkan akulturasi antara seni arca lokal dan seni arca Hindu. Ia mencontohkan salah satu arca unik yang ditemukan di kompleks Candi 1, sebuah arca singa menarik roda kereta. Penggambaran arca yang seperti itu, katanya, belum pernah ditemukan di daerah lain di Indonesia.

Di Sarnath, bekas ibukota kerajaan Acoka India Selatan, terdapat arca singa yang agak mirip, yang berdiri di atas piring pipih bergambar roda kereta yang mengilustrasikan penghormatan kepada Budha Gautama sebagai singa pengajar rohani yang dihormati di empat penjuru dunia. Namun penggambaran roda kereta juga ditemukan pada candi Hindu Tantris di Orissa, India Utara yang didirikan pada rentang abad 13-14 masehi.

 

Singa Pali Singa Akulturasi

Pada arca candi Bumi Ayu 1 tampaknya dua latar belakang keagamaan mengalami akulturasi melalui kerja seni. Menurut Sondang, roda kereta yang ditarik oleh singa melambangkan ajaran agama Hindu yang senantiasa bergerak atau berputar untuk dijalankan penganutnya. Sementara singa melambangkan penuntunnya yang cemerlang seperti Budha.

Penggambaran arca singa lain yang ditemukan di kompleks candi Bumi Ayu sangat khas dan tidak pernah ditemukan pada candi-candi lain di Indonesia.  Ini misalnya tampak pada arca singa-gajah yang saling mendukung, singa yang menggenggam ular di tangannya dan singa yang tapakannya dihiasi kura-kura.

Kajian atas arca-arca ini makin memperkuat keunikan tampilan situs Bumi Ayu beserta koleksi yang terdapat di dalamnya. Baik dari segi rancang bangun, hiasan, maupun segi-segi non bangunan.

Dari segi prosesi ritual, para peneliti menemukan figur-figur yang tidak teridentifikasi dan digambarkan dalam karakter yang berbeda dengan figur-figur di candi Hindu lain di Pulau Jawa. Contohnya adalah pengiring Siwa yang berbeda dengan yang terdapat di arca candi-candi Jawa Tengah. Pengiring Siwa di Candi Bumi Ayu (Candi 1) bukan arca Ganesa dan Durga Mahesasuramardhini sebagaimana di Jawa Tengah, melainkan dua figur yang belum teridentifikasi.

Keragaman gaya dan bentuk pada ornamen hiasan di candi Bumi Ayu memberi tanda adanya keragaman kreatifitas seni berlatar belakang Hindu di Sumatra kala itu. Secara umum, hiasan yang terdapat di kompleks candi Bumi Ayu adalah kemuncak, menara hias, simbar dan bingkai. Kemuncak tidak terdapat dalam rancang bangun candi-candi Budha di Sumatra yang menggunakan stupa. Namun kemuncak pada candi-candi di Bumi Ayu, selain memperlihatkan kesamaan gaya dasar dengan candi-candi Hindu Mataram Kuno, sekaligus memperlihatkan penempatan dan fungsi arsitektural yang berbeda dengan candi-candi Hindu di Pulau Jawa.

Atas dasar itu, para peneliti berasumsi, wawasan dan praktek Hindu di candi Bumi Ayu lebih bebas dan lebih beragam dibanding di tempat lain.

Tempat penyimpanan koleksi candi

Sayangnya, kata Sondang, referensi untuk membuat kesimpulan semacam itu masih terbatas. Pengkajian terhadap situs Bumi Ayu dan juga situs-situs dari masa yang sama, yang terdapat di kawasan hilir sungai Lematang, semasa selama ini masih terkendala oleh banyak hal. Salah satunya adalah dukungan dana yang terbatas dan partisipasi yang masih kurang, baik dari pemerintah daerah maupun dari masyarakat.

Ia mengakui, belum banyak yang diketahui perihal keberadaan situs-situs yang tersebar di tepi sungai Lematang hilir hingga hari ini. Dari 110 ha luas kawasan cagar budaya itu, baru 7 ha saja yang telah dibebaskan dan kini dijadikan taman wisata. Kadang proses pembebasan terkendala akibat situs berada di kebun milik masyarakat.

Padahal, kekayaan warisan budaya yang terpendam di wilayah ini adalah harta terbesar masyarakat yang tak akan habis dan dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk meningkatkan pemasukan ekonomi – misalnya melalui pariwisata budaya. Namun katanya, proses pengelolaan cagar budaya  dan proses perawatannya haruslah seimbang dan bersandar pada kriteria yang telah ditetapkan melalui Undang-Undang Cagar Budaya no 11 tahun 2010.

Pada satu sisi, Sondang menilai, upaya pemerintah Kabupaten Pali saat ini yang membangun jalan untuk memudahkan orang berkunjung ke situs Bumi Ayu, cukup menggembirakan. Namun ia juga mengeluhkan belum terlihatnya aspek edukasi dari proses turisme yang berlangsung.

Ia mencontohkan, kompleks Candi Bumi Ayu dikonsep dalam bentuk taman, sehingga kawasan itu dijadikan ajang rekreasi oleh warga sekitar. Sayangnya, pihak pengelola tidak menyediakan buku panduan atau semacam brosur yang dapat membantu pengunjung memahami apa yang terdapat dalam candi-candi itu. Akibatnya, rekreasi ke Candi Bumi Ayu seolah tidak berbeda dengan rekreasi ke taman-taman wisata yang bukan cagar budaya.

 

Perlu Museum Di Bumi Ayu

Hal lain yang menurutnya mendesak untuk dilakukan adalah memikirkan ruang penempatan yang memadai, bagi koleksi milik Candi Bumi Ayu yang selama ini terkesan alakadar. Kepingan artefak dan arca-arca yang telah ditemukan, saat ini dibiarkan berada pada sebuah balai terbuka di Candi 3. Hingga rawan untuk rusak dan dicuri. Padahal artefak itu bernilai tinggi dan masih sedikit yang telah dikaji peneliti.

Ia berharap, pemerintah (baik pemerintah propinsi dan kabupaten) mulai memikirkan hal ini. Seperti misalnya, memikirkan untuk membuat museum di Bumi Ayu, sehingga koleksi-koleksi di candi itu tidak perlu dibawa ke museum di Palembang.

Pendek kata, kekayaan warisan budaya di Bumi Ayu, katanya, akan lebih bermanfaat bagi warga sekitar bila tetap berada di wilayah itu dengan perawatan yang memadai. Untuk mencapai hal itu, perlu ada koordinasi yang lebih intens antara pihak suaka, pengelola, pemerintah dan masyarakat sekitar. Itulah yang selama ini dirasa masih kurang.

Bukan tanpa alasan kiranya, keluhan perempuan peneliti dari Balar Palembang ini. Pada satu sisi, ia melihat pemerintah dan masyarakat di Kabupaten Pali khususnya, telah menjadikan situs Bumi Ayu sebagai kebanggaan. Sementara pada sisi lain, usaha untuk meningkatkan perawatan atas cagar budaya itu tidak menunjukkann peningkatan yang berarti. Ia berharap, ke depan koordinasi yang lebih intens antara pihak suaka, pengelola, pemerintah dan masyarakat sekitar dapat berlangsung lebih intens demi meningkatkan nilai guna warisan-warisan budaya yang ada di kawasan hilir Sungai Lematang. (T)

Tanah Abang Pali, Januari 2017

Baca juga:

Seribu Tahun Warisan Budaya Pali (2): Kebon Undang, “Negare” Islam Pertama di Sumatra Selatan

Tags: cagar budayacandihinduKabupaten PaliPariwisatasitusSumatra
Share387TweetSendShareSend
Previous Post

Pilkada Tak Cuma Jakarta, Bung! – Jangan-jangan Kita Tak Tahu Calon Bupati Sendiri…

Next Post

Seribu Tahun Warisan Budaya Pali (2): Kebon Undang, “Negare” Islam Pertama di Sumatra Selatan

Riki Dhamparan Putra

Riki Dhamparan Putra

Lahir di Padang, pernah tinggal di Bali, kini di Jakarta. Dikenal sebagai sastrawan petualang yang banyak penggemar

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post

Seribu Tahun Warisan Budaya Pali (2): Kebon Undang, “Negare” Islam Pertama di Sumatra Selatan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co