2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seribu Tahun Warisan Budaya Pali (2): Kebon Undang, “Negare” Islam Pertama di Sumatra Selatan

Riki Dhamparan Putra by Riki Dhamparan Putra
February 2, 2018
in Khas

Foto-foto Riki Dhamparan Putra

SEBUAH salinan naskah gelumpai (lontar kuno Sumatra Selatan) yang telah dialihaksarakan ke dalam huruf latin, telah diberikan kepada saya oleh Pak Ahmad Muji (57 tahun) di rumahnya di desa Tanah Abang pada 13 Januari lalu. Itu adalah rangkaian dari percakapan kami mengenai kerajaan Kebon Undang, nama kuno kampung Tanah Abang (termasuk Curup, Dangku, Penakah dan Sedupai atau Sedupi) pada abad 12 Masehi.

Menurut keterangan naskah itu, negeri Kebon Undang sendiri bahkan sudah ada sejak 1025 Masehi sebelum menjadi kerajaan yang pendiriannya dirintis oleh Puyang Syeikh Nurul Ichwan pada tahun 1299 masehi.

Naskah itu tanpa nama pengarang. Tersimpan sebagai pusaka di rumah depati Dangku R.Arpan Singa Yuda yang menjadi Pesirah Marga IV Petulay Dangku pada tahun 1973.  Ditulis menggunakan Huruf Paku pada gelumpai bambu bersusun sepuluh, naskah ini menggunakan bahasa Melayu Tanah Abang. Dialihaksarakan oleh Muhammad Nur Ansyori, seorang pegawai Dinas Purbakala Jakarta.

Ahmad Muji

Proses penyalinannya dilakukan selama satu bulan sejak 29 Mei – 27 Juni 1973, disaksikan langsung oleh Pesirah Dangku, seorang sekretaris penterjemah dan dibantu oleh dua orang yang menguasai tulisan paku.

Tak diragukan, proses kerja penyalinan naskah gelumpai ini dilakukan dengan standar penyalinan yang modern. Di dalamnya dicantumkan ikhtisar dari tahun-tahun dan peristiwa penting yang terdapat dalam naskah, silsilah para penguasa kerajaan Kebon Undang, pusaka-pusaka yang ditinggalkan para puyang, serta hubungan Kebon Undang dengan wilayah-wilayah lainnya di Sumatra dan Jawa kala itu.

Bagi pembaca yang tidak terbiasa membaca naskah hikayat, pastilah akan kebingungan dan merasa bosan dengan gaya penulisan naskah gelumpai Sejarah Kebon Undang ini. Alurnya tidak kronologis, tetapi melompat-lompat, dan kadang-kadang dalam satu  alinea dicantumkan sejumlah referensi sekaligus untuk satu topik yang sama.

Maka jangan heran, bila seorang tokoh kadang-kadang hadir dalam tahun yang berbeda untuk sebuah peristiwa yang sama. Hal itu, sangat lazim dan telah diterima sebagai pola umum dalam sebuah penulisan hikayat, babad, tambo, yang merupakan sarana asli masyarakat tradisional kita menceritakan sejarah mereka dan dunia. Pasalnya, karena pengarang memang merangkum sumber berbeda-beda untuk menceritakan suatu peristiwa dan mencantumkannya tanpa kecuali sekaligus.

Pendapat seperti ini antara lain dikemukakan oleh A. Samad Ahmad, sastrawan dan ahli hikayat Malaysia. Ciri hikayat-hikayat negeri Melayu  itu katanya, memanglah “tiada mempunyai bab atau bahagian, tiada mempunyai perenggan, tiada mempunyai tanda-tanda berhenti, melainkan berselerak dengan perkataan “maka”, dan ada pula pada bahagian-bahagian yang terTeritu menggunakan perkataan-perkataan: “arakian”; “hatta”, “kata sahibul hikayat” dan sebagainya…”

Ciri yang sama juga terlihat pada naskah berjudul Sejarah Kerajaan Islam Kebon Undang Tanah Abang yang sedang kita gunjingkan ini. Bedanya, bila dalam hikayat-hikayat Melayu kalimat-kalimatnya menggunakan kata ‘hatta’ ataupun ‘arakian’, naskah Kebon Undang menggunakan kata Melayu Sumatra Selatan seperti ‘kebile’ ‘ada cerito ada dikate kata bekate’. Artinya sama saja, yakni tatkala, hatta,dikisahkan, apabila.

Sangat menarik karena kata-kata Melayu Sumsel ternyata mengandung unsur bunyi yang sangat indah akibat pengulangan-pengulangan kata yang sama seperti pada kata: kata bekate, guyur beguyur, tarung betarung sebagaimana tercantum dalam isi naskah itu.

Saya kira, itu adalah satu bonus yang bisa kita dapat dalam membaca naskah berbahasa Melayu Sumatra Selatan.  Ia mengungkapkan kepada kita kemampuan bahasa Melayu Sumsel untuk menimbulkan kesan puitik pada saat dituangkan sebagai kerja penulisan sejarah.

 

Kerajaan Islam Pertama

Waktu menerima salinan naskah Kerajaan Islam Kebon Undang dari Pak Ahmad Muji, saya sama sekali tidak mengira bahwa  tahun pendirian kerajaan Islam Kebon Undang, tidak berjarak jauh dengan Kerajaan Pasai yang disepakati sebagai kerajaan Islam pertama di Indonesia.

Disebutkan di situ, Syeikh Nurul Ichwan yang berasal dari Mina, Timur Tengah, telah tiba di Kebon Undang pada 1299 dan merintis pendirian kerajaan Islam Kebon Undang. Tahun-tahun itu, Pasai sedang diperintah oleh Sultannya yang paling terkenal, yakni Malik Az Zahir. Di masanya Pasai mencapai kemakmurannya sebagai kerajaan Islam maritim yang kuat di bagian ujung utara Pulau Sumatra.

Sungai Lematang, saksi peradaban panjang di Sumatra Selatan

Tidak disebutkan apakah Syeikh Nurul Ichwan raja Kebon Undang telah mendapat dukungan dari Pasai dalam upayanya menyebarkan Islam di Sumatra Selatan. Namun ada dikatakan, ia telah bertemu penguasa Pasai dan mengirim anaknya Karib Muarif untuk belajar ke Pasai sebelum melanjutkan pelajaran ke Gujarat dan Makah.

Hal pertama yang dilakukan Syeikh Nurul Ichwan saat merintis kerajaan Islam Kebon Undang adalah  mengangkat seorang anak yang tersasar di tengah hutan menjadi muridnya. Setelah dibekali pengetahuan agama Islam, anak angkatnya itu diberinama Amin dan dinikahkan kelak dengan seorang perempuan asli Tanah Abang bernama Putri Putih, anak dari seorang yang sakti bernama Suprandu.

Tidak diceritakan lebih jauh peran Amin dalam penyebaran agama Islam di Kebon Undang. Hanya pada bagian lain, disebutkan Syeikh Nurul Ichwan telah menikahi seorang putri bernama Putri Mayang Sawitri pada usia 90 tahun dan memperoleh seorang putra yang diberinama Karib Mu’arif.

Peran Karib Muarif ini, kelak sangat menonjol dalam perkembangan agama Islam dan kemajuan kerajaan Kebon Undang. Bahkan dalam imajinasi masyarakat Tanah Abang sampai hari ini, Karib Muarif cenderung dipandang sebagai pendiri kerajaan Kebon Undang. Ia bukan hanya memperluas wilayah, mengalahkan perampok-perampok dari dataran tinggi, tetapi juga mengembangkan ilmu pertanian di Kebon Undang.

Terdapat sejumlah topik lain  yang kontroversial, yang diceritakan dalam naskah kerajaan Islam  Kebon Undang ini.   Antaranya, dukungan raja Pagaruyung secara langsung kepada Syeikh Nurul Ichwan saat menyerang raja Sanghiang penguasa kerajaan Palembang yang masih beragama Buda-Siwa pada tahun 1371 Masehi.  Kita katakan kontroversial, pertama, karena ternyata Kebon Undang dan Pagaruyung-lah yang menaklukan Pulimbangan (Palembang) dan mengislamkannya. Bukan pelarian dari Demak seperti sejarah umum.

Kedua, kita terkejut, karena sejarah Pagaruyung yang gelap serta bernuansa Raffles dan babad itu, muncul pada tahun yang lebih belakangan dalam catatan wikipedia. Ketiga, dari naskah Kebon Undang, bisa kita pastikan, bahwa ada kerajaan Palembang pra Islam yang diperintah seorang penganut Buda Siwa bernama Raja Sanghiang. Sementara selama ini kita mengira, nama Kerajaan Palembang baru dipakai sejak munculnya kerajaan Palembang Darusalam.

Tentu saja, kebenaran isi naskah ini masih perlu dikaji dan didalami. Sama seperti sejarah yang sudah diterima umum di Sumsel juga perlu dikaji ulang untuk mendapatkan fakta-fakta yang lebih masuk akal. Namun yang jelas, bukti-bukti bahwa kerajaan Islam Kebon Undang memang pernah eksis lama, kiranya tak terbantahkan. Sekurang-kurangnya, hal itu dapat kita telusuri dari makam-makam penguasa Kebon Undang yang sampai hari ini masih dikeramatkan di sepanjang wilayah tepi Sungai Lematang.

Pak Ahmad Muji mengatakan, setidaknya ada 12 makam puyang leluhur Kebon Undang yang sampai hari ini masih diziarahi dan dikeramatkan penduduk. Seperti makam Puyang Rizal (Karib Muarif), Puyang Segentar Alam, Puyang Jolong Seno, Puyang Siak dan lainnya. Mereka tak lain adalah tokoh-tokoh yang namanya muncul dalam naskah kerajaan Islam Kebon Undang. Terlepas dari apakah kita mempercayai apakah tidak, ingatan penduduk pada puyang-puyang mereka itu bagaimana pun menyegarkan wacana sejarah. Khususnya sejarah Islam di Sumatra Selatan.

Bumi Ayu – Jakarta, 14 – 16 Januari 2017

Baca juga:

Seribu Tahun Warisan Budaya Pali (1): Bumi Ayu, Situs Hindu Terbesar di Sumatra

Tags: BudhahinduIslamKabupaten PaliSumatra
Share196TweetSendShareSend
Previous Post

Seribu Tahun Warisan Budaya Pali (1): Bumi Ayu, Situs Hindu Terbesar di Sumatra

Next Post

SKS – Mahasiswa: Sistem Kebut Semalam, Dosen: Sistem Kebut Sehari

Riki Dhamparan Putra

Riki Dhamparan Putra

Lahir di Padang, pernah tinggal di Bali, kini di Jakarta. Dikenal sebagai sastrawan petualang yang banyak penggemar

Related Posts

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails
Next Post

SKS - Mahasiswa: Sistem Kebut Semalam, Dosen: Sistem Kebut Sehari

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co