5 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

Agus Suardiana Putra by Agus Suardiana Putra
March 20, 2026
in Khas
Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

Para Perempuan sedang Mengarak Ogoh-Ogoh di Perempatan Taman Kota Gianyar | Foto: Agus Suardiana

SANG surya mulai turun mengistirahatkan diri setelah seharian bersinar, dan kegelapan perlahan menyelimuti bumi. Tibalah kita pada sandikala, waktu yang sakral antara sore dan malam.

Saat itu tepat hari pengrupukan, sehari sebelum Nyepi tahun Caka 1948, Rabu, 18 Maret 2026. Saya memilih menikmatinya dengan cara lain dari kebiasaan saya sebelum-sebelumnya.

Pada malam pengrupukan oleh masyarakat Hindu khususnya di Bali, dilaksanakan kegiatan pembersihan alam beserta isinya dengan cara menghaturkan sesaji yang disebut pecaruan Tawur Agung untuk menetralisir kekuatan negatif Bhuta Kala, penyucian diri dan lingkungan, menyeimbangkan energi alam supaya bumi menjadi harmoni.

Setelah itu, pada sandikala, peralihan siang ke malam, dilakukan arak-arakan ogoh-ogoh yang merupakan patung besar, olahan dari anyaman bambu berukuran besar, berkali lipat lebih besar dari ukuran manusia normal. Ya, itu, ogoh-ogoh. Bentuk dan wajah ogah-ogoh digambarkan menyerupai Bhuta Kala, tentu saja digambarkan secara imajinatif sesuai dengan batas kreativitas pembuatnya.

Di hari itu, saya merencanakan perjalanan ke Kota Gianyar yang terkenal dengan julukan kota gudang seni bersama sang kekasih. Biasanya saya menyaksikan pengarakan ogoh-ogoh di lingkungan Banjar Telabah, Desa Sukawati, di kediaman saya. Kali ini saya menelusuri ruang-ruang yang belum pernah saya nikmati sembari mengenal lingkungan kediaman sang kekasih dalam perayaan pengrupukan.

Rima Triani, itu nama kekasih saya. Ia saya jemput dari kediaman saya di lingkungan Banjar Telabah Desa Sukawati menuju jantung Kota Gianyar. Menuju timur dari kediaman saya, melewati wilayah Banjar Gelumpang Desa Sukawati, Banjar Pinda Desa Saba menuju daerah desa Pering.

Perjalanan menjemput sang kekasih di malam pengerupukan itu harus dilalui dengan perjuangan yang cukup mendebarkan. Bersama Jupiter MX kesayangan saya, melewati jembatan Tukad Pinda yang bernuansa mistis, hingga jalan menuju Desa Pering yang gelap tanpa penerangan jalan. Kanan kiri sawah, dan rumah termasuk jarang, dan tanpa penerangan lampu jalan, begitulah situasinya.

Saya sempat kaget ketika melewati jalan menuju Desa Pering itu, sesosok tubuh berdiri di pinggir jalan yang gelap. Dalam kecepatan sedang motor melaju, saya kira itu apa, dan ternyata seketika otak saya berpikir bahwa itu adalah seorang gadis sedang berdiri di pinggir jalan dengan motor matic yang sedang mengalami kendala.

Jupiter MX saya pun saya putar balik menghapiri gadis yang malang itu. Saya pun langsung spontan bertanya, “Kenapa motornya, Kak?” Dan si gadis langsung menjawab pertanyaan saya, “Bensinnya habis, Pak!”.

Tanpa pikir panjang, saya menawarkan bantuan mendorong motornya. Iya pun polos menerima tawaran saya.

Sambil telfonan bersama sang kekasih-Rima Triani dengan posisi HP saya tempelkan di telinga kiri yang dicengkram helm, saat yang bersamaan motor gadis itu saya dorong dengan kaki kiri saya melalui knalpot motor matic Filano abu-abu milik gadis itu. Melewati jalan berlubang dalam samar-samarnya lampu kendaraan, warung demi warung, rumah demi rumah kami lewati namun semuanya tutup.

Hingga akhirnya kurang lebih mendorongnya sejauh 1 kilometer, kami berhenti, dihentikan oleh pecalang. Ternyata di depan kami ada arak-arakan ogoh-ogoh tepat di depan balai banjar di  Banjar Perangsada. Gadis itu pun ikut berhenti dan diberitahu oleh pecalang bahwa di depan Balai Banjar Perangsada ada pedagang yang jual bensin eceran. Gadis itu pun membeli bensin untuk motornya yang mogok itu.

Namun saya dialihkan ke sebuah gang kecil oleh pecalang itu. Saya ikuti jalan gang kecil, gelap, di tepi salah, dan di ujung jalan saya menemukan jalan buntu. Bersama beberapa ibu-ibu yang mengendarai motor memakai kemben yang ikut tersesat, kami mencari jalan keluar lainnya.

Sungguh kurang beruntungnya kami. Ternyata arak-arakan ogoh-ogoh tepat berada di ujung gang kecil jalan keluar menuju jalan utama. Kami tidak bisa lewat.

Saya pun bertanya kepada bapak-bapak yang berjalan di gang itu, apakah kami bisa melewati arak-arakan ogoh-ogoh tersebut? Bapak itun memberitahu bahwa kami bisa melewati ogoh-ogoh itu karena arak-arakan ogoh-ogoh sedang istirahat. Kami diberitahu untuk meminta bantuan pecalang yang bertugas di sana untuk membukakan jalan.

Plang Pemberitahuan yang Saya Jumpai di Jalan ketika perjumpa Arak-Arakan Ogoh-Ogoh | Foto: Agus Suardiana


Di ujung gang, sebelum melewati arak-arakan ogoh-ogoh, telinga saya mendengar suara gamelan baleganjur. Saya yang gemar memainkan gamelan otomatis merasa bergairah. Mata saya langsung menoleh dan mencari sumber suaranya. Ternyata, bukan sekaa gong dengan penabuh yang memainkan gamelan. Sumber suara gamelan itu berasal dari alat sound system yang dinyalakan.

Saya kaget, namun masih berpikir positif. Walau pengiring gamelannya menggunakan perangkat sound system, namun musik yang diputar adalah gamelan baleganjur ngarap. Setelah itu, dengan bantuan pecalang dan polisi yang bertugas di sana, saya pun diberikan jalan untuk melewati arak-arakan ogoh-ogoh, perjalanan saya pun saya lanjutkan.

Sambil dipandu oleh Rima Triani mencari jalan alternatif melalui telefon, saya diarahkan menggunakan jalan di daerah Desa Blahbatuh menuju Bypass Dharma Giri untuk menghindari macet karena arak-arakan ogoh-ogoh. Saya yang sedikit tahu daerah itu pun melalui jalur alternatif masuk ke Jalan Kresna menujur jalan Darmawangsa, namun sial saya tidak bisa lewat.

Di depan Bale Banjar Tengah Blahbatuh sudah berjejer ogoh-ogoh. Para pemuda di sana dengan berpakaian adat memberitahu saya untuk mengambil jalur di gang jalan sebelah, dan saya pun bergegas menuju jalan itu.

Saya memasuki jalan kecil menuju Jalan Bisma, jalan yang diarahkan oleh pemuda itu. Melewati Banjar Babakan Blahbatuh, saya menengok ke sisi balai banjarnya. Saya melihat ogoh-ogoh pocong sudah tengkurep dengan ekspresi yang seram. Saya melaju sedikit lagi. Dekat Balai Banjar Babakan, terlihat ogoh-ogoh menyender di bawah pohon kelapa dengan pencahayaan seadanya.

Ogoh-ogoh Banjar Tubuh Blahbatuh | Foto: Agus Suardiana

Ketika sudah melewati daerah Desa Blahbatuh, saya melipir membeli bensin untuk Jupiter MX saya, untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan seperti yang dialami gadis yang saya bantu itu.

Memasuki jalan Bypass Dharma Giri, sekitar pukul 8 malam, jalannya sudah gelap, lampu penerang jalan sudah dipadamkan. Terlihat dari kejauhan, di seberang jalan arah yang berlawanan dengan saya, tepat di lurusan depan Stadion I Wayan Dipta, terlihat arak-arakan ogoh-ogoh juga menuju ke Barat menuju keluar dari jalan Bypass Dharma Giri.

Singkat cerita, saya sampai di kediaman kekasih saya, Rima Triani. Ia pun langsung menyiapkan saya makan. Kami makan bersama dan setelah itu langsung menuju Taman Kota Gianyar untuk menyaksikan arak-arakan ogoh-ogoh.

Di jantung Kota Gianyar, dari kejauhan sudah terlihat masyarakat berjejer menunggu kedatangan arak-arakan ogoh-ogoh yang melintasi jantung kota itu. Ada yang berdiri menutupi jalan, ada yang duduk di trotoar, dan ada juga yang memenuhi tepi taman kota Gianyar. Saya dan Rima Triani memilih duduk di trotoar tepat di tepi taman kota untuk menunggu dan menyaksikan arak-arakan ogoh-ogoh.

Suasana Masyarakat Menunggu Arak-Arakan Ogoh-Ogoh di Perempatan Taman Kota Gianyar | Foto: Agus Suardiana

Suara gong terdengar dari timur taman kota Gianyar, itu menandakan kehadiran ogoh-ogoh dari timur, tepat dari depan Balai Budaya Gianyar menuju ke Taman Kota Gianyar. Warga banjar yang posisiya dekat dengan Taman Kota Gianyar mengalir hadir di perempatan taman kota itu.

Satu-persatu ogoh-ogoh melintas di perempatan Taman Kota Gianyar dengan berbagai ukuran. Dari ukuran kecil, ukuran menengah, hingga berukuran besar. Menariknya, ada salah satu banjar yang pengarak ogoh-ogoh didominasi oleh pengarak anak-anak dan perempuan.

Berbagai Jenis Ogoh-Ogoh yang hadir di Perempatan Taman Kota Gianyar | Foto: Agus Suardiana

Sangat menarik, ogoh-ogoh yang hadir di taman Kota Gianyar yang saya saksikan bersama Rima Triani. Semuanya diiringi dengan gamelan baleganjur. Walaupun masyarakatnya hidup di kota, namun mereka tetap menjaga dan berupaya menggunakan gamelan untuk mengiringi arak-arakan ogoh-ogoh.

Sekaa Gong Baleganjur dari salah satu banjar yang melintas di Perempatan Taman Kota Gianyar | Foto: Agus Suardiana

Waktu menunjukan pukul 9 lewat 45 malam, kami pun berdua memutuskan untuk berkeliling seputaran Kota Gianyar sampai Dewa Blahbatuh sembari pulang ke kediaman Rima Triani. Melalui jalan Bypass Dharma Giri Gianyar, kami menuju Desa Blahbatuh.

Di pertigaan keluar Bypass, tepat di lampu merah Bypass Dharma Giri, kami melihat adanya pawai pertunjukan ogoh-ogoh dari desa setempat. Kami pun diarahkan oleh pecalang untuk melanjutkan perjalanan dengan pelan-pelan melalui jalan yang senggang. Menuju ke selatan daerah Desa Blahbatuh, terlihat di perempatan bekas pasar Desa Blahbatuh, berkumpul masyarakat Desa Blahbatuh juga sedang mengarak ogoh-ogohnya. Kami mencari jalur alternatif yang sempat saya lalui sebelumnya.

Dalam perjalanan kami banyak melihat ogoh-ogoh yang diistirahatkan di pinggir jalan raya. Berbagai wujud, berbagai jenis, dan berbagai ekspresi ogoh-ogoh kami lihat. Ada yang masih utuh, ada yang sudah hancur, dan ada juga ogoh-ogoh terlihat banyak dapat donatur, karena mewahnya ogoh-ogoh itu.

Sesampainya kami di wilayah Desa Belega, kami melihat adanya mesadu ajeng beberapa banjar di sana masih mengarak ogoh-ogoh yang memblokir jalan. Sempat kami melihat jalur di peta HP, ternyata tidak ada jalan lain selain putar balik. Kami pun memutuskan putar balik untuk bisa kembali ke rumah Rima Triani.

Beberapa Ogoh-Ogoh sedang Mesadu Ajeng di Desa Belega | Foto: Agus Suardiana

Kami akhirnya sampai di rumah Rima Triani, dan saya langsung beranjak pulang setelah berpamitan dengan orang tuanya. Dalam perjalanan saya pulang, masih terdapat ogoh-ogoh yang menutup jalan karena diarak. Di Jalan Wisma Udayana lurusan perempatan Desa Blahbatuh yang saya lewati, saya dihadang oleh ogoh-ogoh dari Banjar Getas Kawan karena sedang menyesuaikan kabel yang melintang di jalan supaya dia bisa lewat.

“Sabar nah, Gus,” kata salah satu pecalang yang bertugas di sana. Bapak pecalang yang saya tanya namanya Nyoman Wismaya itu sempat ngobrol dengan saya.

“Ini ogoh-ogoh dari Banjar Getas Kawan. Tadi ada pengarakan ogoh-ogoh di pertigaan itu oleh seluruh banjar di Desa Buruan. Pengrupukan sekarang, ogoh-ogoh dengan fragmentari dipertunjukan oleh Banjar Buruan Desa Buruan. Desa Buruan ini terdiri dari 7 banjar yaitu Banjar Buruan, Getas Kawan, Getas Kangin, Celuk, Bangunliman, Kutri dan Banjar Gria Ketandan. Setiap Pengrupukan, bergantian setiap tahunnya, setiap banjar mendapat giliran menyuguhkan pertunjukan ogoh-ogoh berisi fragmentari di pertigaan itu,” kata Nyoman Wismaya.

Ogoh-Ogoh Banjar Getas Kawan Desa Buruan | Foto: Agus Suardiana

Selesai berbincang dengan Bapak Wismaya, perjalanan saya lanjutkan. Sesampainya dekat perempatan lampu merah Desa Kemenuh, saya dialihkan ke jaur alternatif oleh pecalang lagi karena ada arak-arakan ogoh-ogoh di perempatan itu.  Waktu menunjukan pukul 11.11 malam, melewati gelap dan serbinya jalan Tegenungan Waterfall yang saya lewati, magisnya turunan dan jembatan Tegenungan menyambut kepulangan saya menuju Desa Sukawati.

Memori baru pun terekam dalam ingatan saya. Perjalanan ini bagi saya menjadi berarti karena pertama kali Pengerupukan dirayakan dengan kekasih hati. Saya pun istirahat di rumah menyambut hari Nyepi esok harinya. [T]

Penulis: Agus Suardiana Putra
Editor: Adnyana Ole

Tags: GianyarHari Raya Nyepiogoh-ogohTawur Kesanga
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sepi yang Diibadahkan: Kota, Puisi, dan Nyepi

Next Post

Rekayasa dan Realita di Balik Karya Ogoh-Ogoh ‘Nyi Rimbit’ Yowana Dharma Sentana, Yangapi, Bangli

Agus Suardiana Putra

Agus Suardiana Putra

I Wayan Agus Suardiana Putra, S.Pd., M.Pd. Instagram @suardianaputra Facebook @Wayan Muncul

Related Posts

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails
Next Post
Rekayasa dan Realita di Balik Karya Ogoh-Ogoh ‘Nyi Rimbit’ Yowana Dharma Sentana, Yangapi, Bangli

Rekayasa dan Realita di Balik Karya Ogoh-Ogoh 'Nyi Rimbit' Yowana Dharma Sentana, Yangapi, Bangli

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’
Opini

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
Topi Para Penyintas Kanker
Esai

Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

by Angga Wijaya
September 5, 2026
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri
Cerpen

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery
Puisi

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan
Esai

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
Labirin Bahasa di Sekitar Kita
Bahasa

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

by I Made Sudiana
September 4, 2026
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang
Esai

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

by Andre Syahreza
September 4, 2026
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana
Opini

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang
Esai

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
Nusa Dua Memang Tiada Satunya
Esai

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co