19 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

Agus Suardiana Putra by Agus Suardiana Putra
March 20, 2026
in Khas
Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

Para Perempuan sedang Mengarak Ogoh-Ogoh di Perempatan Taman Kota Gianyar | Foto: Agus Suardiana

SANG surya mulai turun mengistirahatkan diri setelah seharian bersinar, dan kegelapan perlahan menyelimuti bumi. Tibalah kita pada sandikala, waktu yang sakral antara sore dan malam.

Saat itu tepat hari pengrupukan, sehari sebelum Nyepi tahun Caka 1948, Rabu, 18 Maret 2026. Saya memilih menikmatinya dengan cara lain dari kebiasaan saya sebelum-sebelumnya.

Pada malam pengrupukan oleh masyarakat Hindu khususnya di Bali, dilaksanakan kegiatan pembersihan alam beserta isinya dengan cara menghaturkan sesaji yang disebut pecaruan Tawur Agung untuk menetralisir kekuatan negatif Bhuta Kala, penyucian diri dan lingkungan, menyeimbangkan energi alam supaya bumi menjadi harmoni.

Setelah itu, pada sandikala, peralihan siang ke malam, dilakukan arak-arakan ogoh-ogoh yang merupakan patung besar, olahan dari anyaman bambu berukuran besar, berkali lipat lebih besar dari ukuran manusia normal. Ya, itu, ogoh-ogoh. Bentuk dan wajah ogah-ogoh digambarkan menyerupai Bhuta Kala, tentu saja digambarkan secara imajinatif sesuai dengan batas kreativitas pembuatnya.

Di hari itu, saya merencanakan perjalanan ke Kota Gianyar yang terkenal dengan julukan kota gudang seni bersama sang kekasih. Biasanya saya menyaksikan pengarakan ogoh-ogoh di lingkungan Banjar Telabah, Desa Sukawati, di kediaman saya. Kali ini saya menelusuri ruang-ruang yang belum pernah saya nikmati sembari mengenal lingkungan kediaman sang kekasih dalam perayaan pengrupukan.

Rima Triani, itu nama kekasih saya. Ia saya jemput dari kediaman saya di lingkungan Banjar Telabah Desa Sukawati menuju jantung Kota Gianyar. Menuju timur dari kediaman saya, melewati wilayah Banjar Gelumpang Desa Sukawati, Banjar Pinda Desa Saba menuju daerah desa Pering.

Perjalanan menjemput sang kekasih di malam pengerupukan itu harus dilalui dengan perjuangan yang cukup mendebarkan. Bersama Jupiter MX kesayangan saya, melewati jembatan Tukad Pinda yang bernuansa mistis, hingga jalan menuju Desa Pering yang gelap tanpa penerangan jalan. Kanan kiri sawah, dan rumah termasuk jarang, dan tanpa penerangan lampu jalan, begitulah situasinya.

Saya sempat kaget ketika melewati jalan menuju Desa Pering itu, sesosok tubuh berdiri di pinggir jalan yang gelap. Dalam kecepatan sedang motor melaju, saya kira itu apa, dan ternyata seketika otak saya berpikir bahwa itu adalah seorang gadis sedang berdiri di pinggir jalan dengan motor matic yang sedang mengalami kendala.

Jupiter MX saya pun saya putar balik menghapiri gadis yang malang itu. Saya pun langsung spontan bertanya, “Kenapa motornya, Kak?” Dan si gadis langsung menjawab pertanyaan saya, “Bensinnya habis, Pak!”.

Tanpa pikir panjang, saya menawarkan bantuan mendorong motornya. Iya pun polos menerima tawaran saya.

Sambil telfonan bersama sang kekasih-Rima Triani dengan posisi HP saya tempelkan di telinga kiri yang dicengkram helm, saat yang bersamaan motor gadis itu saya dorong dengan kaki kiri saya melalui knalpot motor matic Filano abu-abu milik gadis itu. Melewati jalan berlubang dalam samar-samarnya lampu kendaraan, warung demi warung, rumah demi rumah kami lewati namun semuanya tutup.

Hingga akhirnya kurang lebih mendorongnya sejauh 1 kilometer, kami berhenti, dihentikan oleh pecalang. Ternyata di depan kami ada arak-arakan ogoh-ogoh tepat di depan balai banjar di  Banjar Perangsada. Gadis itu pun ikut berhenti dan diberitahu oleh pecalang bahwa di depan Balai Banjar Perangsada ada pedagang yang jual bensin eceran. Gadis itu pun membeli bensin untuk motornya yang mogok itu.

Namun saya dialihkan ke sebuah gang kecil oleh pecalang itu. Saya ikuti jalan gang kecil, gelap, di tepi salah, dan di ujung jalan saya menemukan jalan buntu. Bersama beberapa ibu-ibu yang mengendarai motor memakai kemben yang ikut tersesat, kami mencari jalan keluar lainnya.

Sungguh kurang beruntungnya kami. Ternyata arak-arakan ogoh-ogoh tepat berada di ujung gang kecil jalan keluar menuju jalan utama. Kami tidak bisa lewat.

Saya pun bertanya kepada bapak-bapak yang berjalan di gang itu, apakah kami bisa melewati arak-arakan ogoh-ogoh tersebut? Bapak itun memberitahu bahwa kami bisa melewati ogoh-ogoh itu karena arak-arakan ogoh-ogoh sedang istirahat. Kami diberitahu untuk meminta bantuan pecalang yang bertugas di sana untuk membukakan jalan.

Plang Pemberitahuan yang Saya Jumpai di Jalan ketika perjumpa Arak-Arakan Ogoh-Ogoh | Foto: Agus Suardiana


Di ujung gang, sebelum melewati arak-arakan ogoh-ogoh, telinga saya mendengar suara gamelan baleganjur. Saya yang gemar memainkan gamelan otomatis merasa bergairah. Mata saya langsung menoleh dan mencari sumber suaranya. Ternyata, bukan sekaa gong dengan penabuh yang memainkan gamelan. Sumber suara gamelan itu berasal dari alat sound system yang dinyalakan.

Saya kaget, namun masih berpikir positif. Walau pengiring gamelannya menggunakan perangkat sound system, namun musik yang diputar adalah gamelan baleganjur ngarap. Setelah itu, dengan bantuan pecalang dan polisi yang bertugas di sana, saya pun diberikan jalan untuk melewati arak-arakan ogoh-ogoh, perjalanan saya pun saya lanjutkan.

Sambil dipandu oleh Rima Triani mencari jalan alternatif melalui telefon, saya diarahkan menggunakan jalan di daerah Desa Blahbatuh menuju Bypass Dharma Giri untuk menghindari macet karena arak-arakan ogoh-ogoh. Saya yang sedikit tahu daerah itu pun melalui jalur alternatif masuk ke Jalan Kresna menujur jalan Darmawangsa, namun sial saya tidak bisa lewat.

Di depan Bale Banjar Tengah Blahbatuh sudah berjejer ogoh-ogoh. Para pemuda di sana dengan berpakaian adat memberitahu saya untuk mengambil jalur di gang jalan sebelah, dan saya pun bergegas menuju jalan itu.

Saya memasuki jalan kecil menuju Jalan Bisma, jalan yang diarahkan oleh pemuda itu. Melewati Banjar Babakan Blahbatuh, saya menengok ke sisi balai banjarnya. Saya melihat ogoh-ogoh pocong sudah tengkurep dengan ekspresi yang seram. Saya melaju sedikit lagi. Dekat Balai Banjar Babakan, terlihat ogoh-ogoh menyender di bawah pohon kelapa dengan pencahayaan seadanya.

Ogoh-ogoh Banjar Tubuh Blahbatuh | Foto: Agus Suardiana

Ketika sudah melewati daerah Desa Blahbatuh, saya melipir membeli bensin untuk Jupiter MX saya, untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan seperti yang dialami gadis yang saya bantu itu.

Memasuki jalan Bypass Dharma Giri, sekitar pukul 8 malam, jalannya sudah gelap, lampu penerang jalan sudah dipadamkan. Terlihat dari kejauhan, di seberang jalan arah yang berlawanan dengan saya, tepat di lurusan depan Stadion I Wayan Dipta, terlihat arak-arakan ogoh-ogoh juga menuju ke Barat menuju keluar dari jalan Bypass Dharma Giri.

Singkat cerita, saya sampai di kediaman kekasih saya, Rima Triani. Ia pun langsung menyiapkan saya makan. Kami makan bersama dan setelah itu langsung menuju Taman Kota Gianyar untuk menyaksikan arak-arakan ogoh-ogoh.

Di jantung Kota Gianyar, dari kejauhan sudah terlihat masyarakat berjejer menunggu kedatangan arak-arakan ogoh-ogoh yang melintasi jantung kota itu. Ada yang berdiri menutupi jalan, ada yang duduk di trotoar, dan ada juga yang memenuhi tepi taman kota Gianyar. Saya dan Rima Triani memilih duduk di trotoar tepat di tepi taman kota untuk menunggu dan menyaksikan arak-arakan ogoh-ogoh.

Suasana Masyarakat Menunggu Arak-Arakan Ogoh-Ogoh di Perempatan Taman Kota Gianyar | Foto: Agus Suardiana

Suara gong terdengar dari timur taman kota Gianyar, itu menandakan kehadiran ogoh-ogoh dari timur, tepat dari depan Balai Budaya Gianyar menuju ke Taman Kota Gianyar. Warga banjar yang posisiya dekat dengan Taman Kota Gianyar mengalir hadir di perempatan taman kota itu.

Satu-persatu ogoh-ogoh melintas di perempatan Taman Kota Gianyar dengan berbagai ukuran. Dari ukuran kecil, ukuran menengah, hingga berukuran besar. Menariknya, ada salah satu banjar yang pengarak ogoh-ogoh didominasi oleh pengarak anak-anak dan perempuan.

Berbagai Jenis Ogoh-Ogoh yang hadir di Perempatan Taman Kota Gianyar | Foto: Agus Suardiana

Sangat menarik, ogoh-ogoh yang hadir di taman Kota Gianyar yang saya saksikan bersama Rima Triani. Semuanya diiringi dengan gamelan baleganjur. Walaupun masyarakatnya hidup di kota, namun mereka tetap menjaga dan berupaya menggunakan gamelan untuk mengiringi arak-arakan ogoh-ogoh.

Sekaa Gong Baleganjur dari salah satu banjar yang melintas di Perempatan Taman Kota Gianyar | Foto: Agus Suardiana

Waktu menunjukan pukul 9 lewat 45 malam, kami pun berdua memutuskan untuk berkeliling seputaran Kota Gianyar sampai Dewa Blahbatuh sembari pulang ke kediaman Rima Triani. Melalui jalan Bypass Dharma Giri Gianyar, kami menuju Desa Blahbatuh.

Di pertigaan keluar Bypass, tepat di lampu merah Bypass Dharma Giri, kami melihat adanya pawai pertunjukan ogoh-ogoh dari desa setempat. Kami pun diarahkan oleh pecalang untuk melanjutkan perjalanan dengan pelan-pelan melalui jalan yang senggang. Menuju ke selatan daerah Desa Blahbatuh, terlihat di perempatan bekas pasar Desa Blahbatuh, berkumpul masyarakat Desa Blahbatuh juga sedang mengarak ogoh-ogohnya. Kami mencari jalur alternatif yang sempat saya lalui sebelumnya.

Dalam perjalanan kami banyak melihat ogoh-ogoh yang diistirahatkan di pinggir jalan raya. Berbagai wujud, berbagai jenis, dan berbagai ekspresi ogoh-ogoh kami lihat. Ada yang masih utuh, ada yang sudah hancur, dan ada juga ogoh-ogoh terlihat banyak dapat donatur, karena mewahnya ogoh-ogoh itu.

Sesampainya kami di wilayah Desa Belega, kami melihat adanya mesadu ajeng beberapa banjar di sana masih mengarak ogoh-ogoh yang memblokir jalan. Sempat kami melihat jalur di peta HP, ternyata tidak ada jalan lain selain putar balik. Kami pun memutuskan putar balik untuk bisa kembali ke rumah Rima Triani.

Beberapa Ogoh-Ogoh sedang Mesadu Ajeng di Desa Belega | Foto: Agus Suardiana

Kami akhirnya sampai di rumah Rima Triani, dan saya langsung beranjak pulang setelah berpamitan dengan orang tuanya. Dalam perjalanan saya pulang, masih terdapat ogoh-ogoh yang menutup jalan karena diarak. Di Jalan Wisma Udayana lurusan perempatan Desa Blahbatuh yang saya lewati, saya dihadang oleh ogoh-ogoh dari Banjar Getas Kawan karena sedang menyesuaikan kabel yang melintang di jalan supaya dia bisa lewat.

“Sabar nah, Gus,” kata salah satu pecalang yang bertugas di sana. Bapak pecalang yang saya tanya namanya Nyoman Wismaya itu sempat ngobrol dengan saya.

“Ini ogoh-ogoh dari Banjar Getas Kawan. Tadi ada pengarakan ogoh-ogoh di pertigaan itu oleh seluruh banjar di Desa Buruan. Pengrupukan sekarang, ogoh-ogoh dengan fragmentari dipertunjukan oleh Banjar Buruan Desa Buruan. Desa Buruan ini terdiri dari 7 banjar yaitu Banjar Buruan, Getas Kawan, Getas Kangin, Celuk, Bangunliman, Kutri dan Banjar Gria Ketandan. Setiap Pengrupukan, bergantian setiap tahunnya, setiap banjar mendapat giliran menyuguhkan pertunjukan ogoh-ogoh berisi fragmentari di pertigaan itu,” kata Nyoman Wismaya.

Ogoh-Ogoh Banjar Getas Kawan Desa Buruan | Foto: Agus Suardiana

Selesai berbincang dengan Bapak Wismaya, perjalanan saya lanjutkan. Sesampainya dekat perempatan lampu merah Desa Kemenuh, saya dialihkan ke jaur alternatif oleh pecalang lagi karena ada arak-arakan ogoh-ogoh di perempatan itu.  Waktu menunjukan pukul 11.11 malam, melewati gelap dan serbinya jalan Tegenungan Waterfall yang saya lewati, magisnya turunan dan jembatan Tegenungan menyambut kepulangan saya menuju Desa Sukawati.

Memori baru pun terekam dalam ingatan saya. Perjalanan ini bagi saya menjadi berarti karena pertama kali Pengerupukan dirayakan dengan kekasih hati. Saya pun istirahat di rumah menyambut hari Nyepi esok harinya. [T]

Penulis: Agus Suardiana Putra
Editor: Adnyana Ole

Tags: GianyarHari Raya Nyepiogoh-ogohTawur Kesanga
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sepi yang Diibadahkan: Kota, Puisi, dan Nyepi

Next Post

Rekayasa dan Realita di Balik Karya Ogoh-Ogoh ‘Nyi Rimbit’ Yowana Dharma Sentana, Yangapi, Bangli

Agus Suardiana Putra

Agus Suardiana Putra

I Wayan Agus Suardiana Putra, S.Pd., M.Pd. Instagram @suardianaputra Facebook @Wayan Muncul

Related Posts

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Rekayasa dan Realita di Balik Karya Ogoh-Ogoh ‘Nyi Rimbit’ Yowana Dharma Sentana, Yangapi, Bangli

Rekayasa dan Realita di Balik Karya Ogoh-Ogoh 'Nyi Rimbit' Yowana Dharma Sentana, Yangapi, Bangli

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU
Esai

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta
Ulas Rupa

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

by Emi Suy
October 19, 2026
Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental
Olahraga

Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental

KETIKA musik mulai diputar, tangan para peserta terangkat di atas kepala. Mereka bertepuk tangan mengikuti irama lagu “Gemu Fa Mi...

by Nyoman Budarsana
October 19, 2026
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata
Esai

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya mengucapkan selamat kepada IGA Darma Putra yang telah menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Prancis. Selamat...

by Angga Wijaya
October 19, 2026
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra
Esai

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya
Ulas Musik

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media
Esai

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

by Angga Wijaya
October 18, 2026
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana
Esai

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan
Ulas Rupa

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto
Cerpen

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

by Sigit Susanto
October 18, 2026
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta
Esai

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co