23 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

Agus Suardiana Putra by Agus Suardiana Putra
March 20, 2026
in Khas
Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

Para Perempuan sedang Mengarak Ogoh-Ogoh di Perempatan Taman Kota Gianyar | Foto: Agus Suardiana

SANG surya mulai turun mengistirahatkan diri setelah seharian bersinar, dan kegelapan perlahan menyelimuti bumi. Tibalah kita pada sandikala, waktu yang sakral antara sore dan malam.

Saat itu tepat hari pengrupukan, sehari sebelum Nyepi tahun Caka 1948, Rabu, 18 Maret 2026. Saya memilih menikmatinya dengan cara lain dari kebiasaan saya sebelum-sebelumnya.

Pada malam pengrupukan oleh masyarakat Hindu khususnya di Bali, dilaksanakan kegiatan pembersihan alam beserta isinya dengan cara menghaturkan sesaji yang disebut pecaruan Tawur Agung untuk menetralisir kekuatan negatif Bhuta Kala, penyucian diri dan lingkungan, menyeimbangkan energi alam supaya bumi menjadi harmoni.

Setelah itu, pada sandikala, peralihan siang ke malam, dilakukan arak-arakan ogoh-ogoh yang merupakan patung besar, olahan dari anyaman bambu berukuran besar, berkali lipat lebih besar dari ukuran manusia normal. Ya, itu, ogoh-ogoh. Bentuk dan wajah ogah-ogoh digambarkan menyerupai Bhuta Kala, tentu saja digambarkan secara imajinatif sesuai dengan batas kreativitas pembuatnya.

Di hari itu, saya merencanakan perjalanan ke Kota Gianyar yang terkenal dengan julukan kota gudang seni bersama sang kekasih. Biasanya saya menyaksikan pengarakan ogoh-ogoh di lingkungan Banjar Telabah, Desa Sukawati, di kediaman saya. Kali ini saya menelusuri ruang-ruang yang belum pernah saya nikmati sembari mengenal lingkungan kediaman sang kekasih dalam perayaan pengrupukan.

Rima Triani, itu nama kekasih saya. Ia saya jemput dari kediaman saya di lingkungan Banjar Telabah Desa Sukawati menuju jantung Kota Gianyar. Menuju timur dari kediaman saya, melewati wilayah Banjar Gelumpang Desa Sukawati, Banjar Pinda Desa Saba menuju daerah desa Pering.

Perjalanan menjemput sang kekasih di malam pengerupukan itu harus dilalui dengan perjuangan yang cukup mendebarkan. Bersama Jupiter MX kesayangan saya, melewati jembatan Tukad Pinda yang bernuansa mistis, hingga jalan menuju Desa Pering yang gelap tanpa penerangan jalan. Kanan kiri sawah, dan rumah termasuk jarang, dan tanpa penerangan lampu jalan, begitulah situasinya.

Saya sempat kaget ketika melewati jalan menuju Desa Pering itu, sesosok tubuh berdiri di pinggir jalan yang gelap. Dalam kecepatan sedang motor melaju, saya kira itu apa, dan ternyata seketika otak saya berpikir bahwa itu adalah seorang gadis sedang berdiri di pinggir jalan dengan motor matic yang sedang mengalami kendala.

Jupiter MX saya pun saya putar balik menghapiri gadis yang malang itu. Saya pun langsung spontan bertanya, “Kenapa motornya, Kak?” Dan si gadis langsung menjawab pertanyaan saya, “Bensinnya habis, Pak!”.

Tanpa pikir panjang, saya menawarkan bantuan mendorong motornya. Iya pun polos menerima tawaran saya.

Sambil telfonan bersama sang kekasih-Rima Triani dengan posisi HP saya tempelkan di telinga kiri yang dicengkram helm, saat yang bersamaan motor gadis itu saya dorong dengan kaki kiri saya melalui knalpot motor matic Filano abu-abu milik gadis itu. Melewati jalan berlubang dalam samar-samarnya lampu kendaraan, warung demi warung, rumah demi rumah kami lewati namun semuanya tutup.

Hingga akhirnya kurang lebih mendorongnya sejauh 1 kilometer, kami berhenti, dihentikan oleh pecalang. Ternyata di depan kami ada arak-arakan ogoh-ogoh tepat di depan balai banjar di  Banjar Perangsada. Gadis itu pun ikut berhenti dan diberitahu oleh pecalang bahwa di depan Balai Banjar Perangsada ada pedagang yang jual bensin eceran. Gadis itu pun membeli bensin untuk motornya yang mogok itu.

Namun saya dialihkan ke sebuah gang kecil oleh pecalang itu. Saya ikuti jalan gang kecil, gelap, di tepi salah, dan di ujung jalan saya menemukan jalan buntu. Bersama beberapa ibu-ibu yang mengendarai motor memakai kemben yang ikut tersesat, kami mencari jalan keluar lainnya.

Sungguh kurang beruntungnya kami. Ternyata arak-arakan ogoh-ogoh tepat berada di ujung gang kecil jalan keluar menuju jalan utama. Kami tidak bisa lewat.

Saya pun bertanya kepada bapak-bapak yang berjalan di gang itu, apakah kami bisa melewati arak-arakan ogoh-ogoh tersebut? Bapak itun memberitahu bahwa kami bisa melewati ogoh-ogoh itu karena arak-arakan ogoh-ogoh sedang istirahat. Kami diberitahu untuk meminta bantuan pecalang yang bertugas di sana untuk membukakan jalan.

Plang Pemberitahuan yang Saya Jumpai di Jalan ketika perjumpa Arak-Arakan Ogoh-Ogoh | Foto: Agus Suardiana


Di ujung gang, sebelum melewati arak-arakan ogoh-ogoh, telinga saya mendengar suara gamelan baleganjur. Saya yang gemar memainkan gamelan otomatis merasa bergairah. Mata saya langsung menoleh dan mencari sumber suaranya. Ternyata, bukan sekaa gong dengan penabuh yang memainkan gamelan. Sumber suara gamelan itu berasal dari alat sound system yang dinyalakan.

Saya kaget, namun masih berpikir positif. Walau pengiring gamelannya menggunakan perangkat sound system, namun musik yang diputar adalah gamelan baleganjur ngarap. Setelah itu, dengan bantuan pecalang dan polisi yang bertugas di sana, saya pun diberikan jalan untuk melewati arak-arakan ogoh-ogoh, perjalanan saya pun saya lanjutkan.

Sambil dipandu oleh Rima Triani mencari jalan alternatif melalui telefon, saya diarahkan menggunakan jalan di daerah Desa Blahbatuh menuju Bypass Dharma Giri untuk menghindari macet karena arak-arakan ogoh-ogoh. Saya yang sedikit tahu daerah itu pun melalui jalur alternatif masuk ke Jalan Kresna menujur jalan Darmawangsa, namun sial saya tidak bisa lewat.

Di depan Bale Banjar Tengah Blahbatuh sudah berjejer ogoh-ogoh. Para pemuda di sana dengan berpakaian adat memberitahu saya untuk mengambil jalur di gang jalan sebelah, dan saya pun bergegas menuju jalan itu.

Saya memasuki jalan kecil menuju Jalan Bisma, jalan yang diarahkan oleh pemuda itu. Melewati Banjar Babakan Blahbatuh, saya menengok ke sisi balai banjarnya. Saya melihat ogoh-ogoh pocong sudah tengkurep dengan ekspresi yang seram. Saya melaju sedikit lagi. Dekat Balai Banjar Babakan, terlihat ogoh-ogoh menyender di bawah pohon kelapa dengan pencahayaan seadanya.

Ogoh-ogoh Banjar Tubuh Blahbatuh | Foto: Agus Suardiana

Ketika sudah melewati daerah Desa Blahbatuh, saya melipir membeli bensin untuk Jupiter MX saya, untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan seperti yang dialami gadis yang saya bantu itu.

Memasuki jalan Bypass Dharma Giri, sekitar pukul 8 malam, jalannya sudah gelap, lampu penerang jalan sudah dipadamkan. Terlihat dari kejauhan, di seberang jalan arah yang berlawanan dengan saya, tepat di lurusan depan Stadion I Wayan Dipta, terlihat arak-arakan ogoh-ogoh juga menuju ke Barat menuju keluar dari jalan Bypass Dharma Giri.

Singkat cerita, saya sampai di kediaman kekasih saya, Rima Triani. Ia pun langsung menyiapkan saya makan. Kami makan bersama dan setelah itu langsung menuju Taman Kota Gianyar untuk menyaksikan arak-arakan ogoh-ogoh.

Di jantung Kota Gianyar, dari kejauhan sudah terlihat masyarakat berjejer menunggu kedatangan arak-arakan ogoh-ogoh yang melintasi jantung kota itu. Ada yang berdiri menutupi jalan, ada yang duduk di trotoar, dan ada juga yang memenuhi tepi taman kota Gianyar. Saya dan Rima Triani memilih duduk di trotoar tepat di tepi taman kota untuk menunggu dan menyaksikan arak-arakan ogoh-ogoh.

Suasana Masyarakat Menunggu Arak-Arakan Ogoh-Ogoh di Perempatan Taman Kota Gianyar | Foto: Agus Suardiana

Suara gong terdengar dari timur taman kota Gianyar, itu menandakan kehadiran ogoh-ogoh dari timur, tepat dari depan Balai Budaya Gianyar menuju ke Taman Kota Gianyar. Warga banjar yang posisiya dekat dengan Taman Kota Gianyar mengalir hadir di perempatan taman kota itu.

Satu-persatu ogoh-ogoh melintas di perempatan Taman Kota Gianyar dengan berbagai ukuran. Dari ukuran kecil, ukuran menengah, hingga berukuran besar. Menariknya, ada salah satu banjar yang pengarak ogoh-ogoh didominasi oleh pengarak anak-anak dan perempuan.

Berbagai Jenis Ogoh-Ogoh yang hadir di Perempatan Taman Kota Gianyar | Foto: Agus Suardiana

Sangat menarik, ogoh-ogoh yang hadir di taman Kota Gianyar yang saya saksikan bersama Rima Triani. Semuanya diiringi dengan gamelan baleganjur. Walaupun masyarakatnya hidup di kota, namun mereka tetap menjaga dan berupaya menggunakan gamelan untuk mengiringi arak-arakan ogoh-ogoh.

Sekaa Gong Baleganjur dari salah satu banjar yang melintas di Perempatan Taman Kota Gianyar | Foto: Agus Suardiana

Waktu menunjukan pukul 9 lewat 45 malam, kami pun berdua memutuskan untuk berkeliling seputaran Kota Gianyar sampai Dewa Blahbatuh sembari pulang ke kediaman Rima Triani. Melalui jalan Bypass Dharma Giri Gianyar, kami menuju Desa Blahbatuh.

Di pertigaan keluar Bypass, tepat di lampu merah Bypass Dharma Giri, kami melihat adanya pawai pertunjukan ogoh-ogoh dari desa setempat. Kami pun diarahkan oleh pecalang untuk melanjutkan perjalanan dengan pelan-pelan melalui jalan yang senggang. Menuju ke selatan daerah Desa Blahbatuh, terlihat di perempatan bekas pasar Desa Blahbatuh, berkumpul masyarakat Desa Blahbatuh juga sedang mengarak ogoh-ogohnya. Kami mencari jalur alternatif yang sempat saya lalui sebelumnya.

Dalam perjalanan kami banyak melihat ogoh-ogoh yang diistirahatkan di pinggir jalan raya. Berbagai wujud, berbagai jenis, dan berbagai ekspresi ogoh-ogoh kami lihat. Ada yang masih utuh, ada yang sudah hancur, dan ada juga ogoh-ogoh terlihat banyak dapat donatur, karena mewahnya ogoh-ogoh itu.

Sesampainya kami di wilayah Desa Belega, kami melihat adanya mesadu ajeng beberapa banjar di sana masih mengarak ogoh-ogoh yang memblokir jalan. Sempat kami melihat jalur di peta HP, ternyata tidak ada jalan lain selain putar balik. Kami pun memutuskan putar balik untuk bisa kembali ke rumah Rima Triani.

Beberapa Ogoh-Ogoh sedang Mesadu Ajeng di Desa Belega | Foto: Agus Suardiana

Kami akhirnya sampai di rumah Rima Triani, dan saya langsung beranjak pulang setelah berpamitan dengan orang tuanya. Dalam perjalanan saya pulang, masih terdapat ogoh-ogoh yang menutup jalan karena diarak. Di Jalan Wisma Udayana lurusan perempatan Desa Blahbatuh yang saya lewati, saya dihadang oleh ogoh-ogoh dari Banjar Getas Kawan karena sedang menyesuaikan kabel yang melintang di jalan supaya dia bisa lewat.

“Sabar nah, Gus,” kata salah satu pecalang yang bertugas di sana. Bapak pecalang yang saya tanya namanya Nyoman Wismaya itu sempat ngobrol dengan saya.

“Ini ogoh-ogoh dari Banjar Getas Kawan. Tadi ada pengarakan ogoh-ogoh di pertigaan itu oleh seluruh banjar di Desa Buruan. Pengrupukan sekarang, ogoh-ogoh dengan fragmentari dipertunjukan oleh Banjar Buruan Desa Buruan. Desa Buruan ini terdiri dari 7 banjar yaitu Banjar Buruan, Getas Kawan, Getas Kangin, Celuk, Bangunliman, Kutri dan Banjar Gria Ketandan. Setiap Pengrupukan, bergantian setiap tahunnya, setiap banjar mendapat giliran menyuguhkan pertunjukan ogoh-ogoh berisi fragmentari di pertigaan itu,” kata Nyoman Wismaya.

Ogoh-Ogoh Banjar Getas Kawan Desa Buruan | Foto: Agus Suardiana

Selesai berbincang dengan Bapak Wismaya, perjalanan saya lanjutkan. Sesampainya dekat perempatan lampu merah Desa Kemenuh, saya dialihkan ke jaur alternatif oleh pecalang lagi karena ada arak-arakan ogoh-ogoh di perempatan itu.  Waktu menunjukan pukul 11.11 malam, melewati gelap dan serbinya jalan Tegenungan Waterfall yang saya lewati, magisnya turunan dan jembatan Tegenungan menyambut kepulangan saya menuju Desa Sukawati.

Memori baru pun terekam dalam ingatan saya. Perjalanan ini bagi saya menjadi berarti karena pertama kali Pengerupukan dirayakan dengan kekasih hati. Saya pun istirahat di rumah menyambut hari Nyepi esok harinya. [T]

Penulis: Agus Suardiana Putra
Editor: Adnyana Ole

Tags: GianyarHari Raya Nyepiogoh-ogohTawur Kesanga
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sepi yang Diibadahkan: Kota, Puisi, dan Nyepi

Next Post

Rekayasa dan Realita di Balik Karya Ogoh-Ogoh ‘Nyi Rimbit’ Yowana Dharma Sentana, Yangapi, Bangli

Agus Suardiana Putra

Agus Suardiana Putra

I Wayan Agus Suardiana Putra, S.Pd., M.Pd. Instagram @suardianaputra Facebook @Wayan Muncul

Related Posts

In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

by Made Adnyana Ole
May 21, 2026
0
In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

IA fotografer, ia mencintai kesenian Bali. Maka hidupnya diabdikan untuk mengabadikan segala bentuk kesenian Bali melalu foto-foto yang eksotik sekaligus...

Read moreDetails

Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

by Ni Luh Gde Sari Dewi Astuti
May 20, 2026
0
Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

PANTAI Kedonganan di kawasan Kuta, Badung, Bali, perlahan hidup kembali. Menjelang sore, deretan meja di tepi pantai mulai terisi. Aroma...

Read moreDetails

Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’

by I Nyoman Tingkat
May 19, 2026
0
Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’

DALAM salah satu bukunya, I Gde Aryantha Soethama menulis bahwa orang Bali tidak punya tradisi berwisata ala Barat. Berwisata dalam...

Read moreDetails

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

by Emi Suy
May 11, 2026
0
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

Read moreDetails

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

Read moreDetails

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails
Next Post
Rekayasa dan Realita di Balik Karya Ogoh-Ogoh ‘Nyi Rimbit’ Yowana Dharma Sentana, Yangapi, Bangli

Rekayasa dan Realita di Balik Karya Ogoh-Ogoh 'Nyi Rimbit' Yowana Dharma Sentana, Yangapi, Bangli

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali
Persona

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
Puisi-puisi Chusmeru | Sajak Kota Kembang
Puisi

Puisi-puisi Chusmeru | Sajak Kota Kembang

Jamaras Hujan rintik di jalanan becek tak hentikan langkah untuk berikrarKampung itu menjadi saksi dua hati jatuh hati dengan hati-hatiSiapa...

by Chusmeru
May 22, 2026
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto
Cerpen

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

by Dody Widianto
May 22, 2026
King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini
Esai

King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini

SAAT gelisahku, saat bongkar-bongkar buku lama berdebu – saya justru tertarik drama-drama karya William Shakespeare. Setelah mencoba memahami lakon Macbeth...

by Hartanto
May 22, 2026
Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara
Ulas Musik

Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

LAGU “The Park” dari album Salisbury karya Uriah Heep sering dipahami sebagai balada progresif yang kontemplatif dan melankolis. Dengan vokal...

by Ahmad Sihabudin
May 22, 2026
(Bukan) Demokrasi Kita
Esai

‘Trust the Process’: Arsenal-Arteta Bisa, Bagaimana Indonesia-Prabowo?

ADA satu kalimat yang beberapa tahun terakhir identik dengan Arsenal: trust the process. Kalimat itu awalnya lebih sering menjadi bahan...

by Afgan Fadilla
May 22, 2026
Sekar Mas, Seka Serbabisa: Ruang Kreativitas Anak Muda untuk Bertumbuh
Panggung

Sekar Mas, Seka Serbabisa: Ruang Kreativitas Anak Muda untuk Bertumbuh

DI sebuah pagi yang riuh, sekelompok anak muda berjalan beriringan di jalanan desa Ketewel, Gianyar. Di tangan mereka, suling, kendang,...

by Dede Putra Wiguna
May 22, 2026
Mebarung Gong Kebyar Lintas Benua, Kanada dan Banjar Paketan di Singaraja Bertukar Budaya Lewat Gamelan
Panggung

Mebarung Gong Kebyar Lintas Benua, Kanada dan Banjar Paketan di Singaraja Bertukar Budaya Lewat Gamelan

DUA sekaa gong yang mebarung atau tampil berhadap-hadapan memenuhi Bale Banjar Paketan, Desa Adat Buleleng, Kecamatan Buleleng, dalam sebuah pertukaran...

by Komang Puja Savitri
May 21, 2026
Berguru ke Baduy Luar
Tualang

Berguru ke Baduy Luar

SETELAH rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan persembahyangan di Pura Aditya Jaya Rawangun Jakarta Timur pada Kamis Umanis Gumbreg, 14...

by I Nyoman Tingkat
May 21, 2026
Besar Cerita, Besar Berita
Esai

Besar Cerita, Besar Berita

ENTAH kebetulan atau tidak, saya beberapa kali mendapati pada beberapa keluarga di Bali yang suka membesar-besarkan cerita tentang bantuan yang...

by Angga Wijaya
May 21, 2026
In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali
Khas

In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

IA fotografer, ia mencintai kesenian Bali. Maka hidupnya diabdikan untuk mengabadikan segala bentuk kesenian Bali melalu foto-foto yang eksotik sekaligus...

by Made Adnyana Ole
May 21, 2026
Hati-Hati Ada Proyek!
Esai

Hati-Hati Ada Proyek!

DI Bali, terutama wilayah selatan, papan bertuliskan ‘Hati-Hati Ada Proyek’ bukan lagi sekadar penanda pembangunan. Ia telah menjadi semacam slogan...

by Dede Putra Wiguna
May 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co