19 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sepi yang Diibadahkan: Kota, Puisi, dan Nyepi

Angga Wijaya by Angga Wijaya
March 20, 2026
in Esai
Sepi yang Diibadahkan: Kota, Puisi, dan Nyepi

Ilustrasi tatkala.co | Canva

KOTA, bagi sebagian orang, adalah sumber energi dan kesibukan. Namun bagi penyair asal Jembrana-Bali,  Nanoq da Kansas, kota adalah ruang kegelisahan yang berulang. Dalam puisi “Seputar Kota Mencari Heningmu”, ia menggambarkan manusia modern sebagai makhluk yang tersesat di antara beton, limbah, dan gerak yang tak pernah berhenti. Puisi ini menjadi semakin relevan ketika dibaca bersamaan dengan Nyepi , saat seluruh kota dipaksa berhenti, tetapi hening tetap harus ditemukan di dalam diri sendiri.

Di baris pembuka:

menyerupai tikus, masih kucari heningmu

metafora tikus terasa cerdas dan ironis. Tikus, makhluk kota yang sering tersembunyi dan hidup di sela-sela, menjadi simbol manusia yang terasing. Pencarian hening bukan sekadar fisik, tetapi batin yang hilang di tengah kesibukan dan hiruk-pikuk kota. “Heningmu” menyiratkan sesuatu yang persona; bisa diri sendiri, kekasih, atau bahkan pengalaman spiritual, yang menjadi rindu di tengah dunia urban.

Selanjutnya, puisi menggambarkan kota yang agresif dan merusak:

di pondasi-pondasi departemen
kulubangi beton dengan cakar waktuku

Kata-kata ini menunjukkan perjuangan manusia melawan beton dan struktur modernitas. Beton bukan hanya fisik, tetapi simbol sistem kota yang kaku, dingin, dan menekan. “Cakar waktuku” memberi kesan bahwa waktu sendiri menjadi senjata yang mengikis manusia. Limbah deterjen rumah tangga dan dekorasi gang menegaskan kota sebagai ruang yang kotor, sibuk, dan penuh residu kehidupan yang menempel pada jiwa penghuninya.

Gambaran gerak kota semakin nyata:

sejauh dua puluh empat jam
putaran oplet dan taxi
menujumu

Gerak yang terus-menerus tapi tanpa tujuan ini mengilustrasikan paradoks urban, bergerak tanpa benar-benar tiba. Oplet dan taxi menjadi simbol ritme kota yang memaksa manusia tetap berada dalam arus, meski tujuan batin tidak pernah tercapai. Nyepi menawarkan kontras yang menarik, yakni gerak dihentikan, tetapi hening batin tetap tidak otomatis hadir.

Puisi kemudian menyoroti absurditas pencarian hening:

di manakah terminal terakhir
tata ruang dilingkarkan trotoar
kota dilengkungkan antara hasrat dan kebutuhan
seluruh gerak jadi samar
bagai gerimis di permukaan kaca bus

Terminal, dalam metafora ini, adalah tempat berhenti, pulang, atau menyelesaikan pencarian. Kota modern, dengan hasrat dan kebutuhan yang tak henti, tidak menyediakan terminal. Bahkan perempatan yang “menyodorkan keterhenyakan” hanya jeda sementara, berbeda dengan hening Nyepi yang disengaja dan disakralkan.

Ironi kota diperkuat dengan penunjuk arah yang “tak pernah berhenti ketawa”. Sistem yang seharusnya memberi arah justru mengejek pencari hening. Tidak ada petunjuk yang jelas; semuanya samar. Dalam Nyepi, tidak ada papan arah, tidak ada tanda fisik, namun manusia diberi kesempatan untuk menemukan arah batin.

Puisi juga menyingkap kerinduan manusia pada alam dan kesederhanaan:

memang kesepianku yang salah
bagaimana kuingin padi menghampar dalam warna aspal
juga sepetak kebun tomat

Kerinduan ini bukan nostalgia biasa. Padi di atas aspal dan kebun tomat di kota adalah simbol keinginan manusia untuk kembali ke sesuatu yang murni, liar, dan organik. Kehidupan kota yang penuh perhitungan tidak menyediakan ruang semacam itu. Ketika halaman rumah kost digantikan oleh “kebun perhitungan”, manusia modern semakin terasing dari pengalaman alami yang menyentuh hati.

Akhir puisi:

andai saja dapat kuibadahkan sepi ini …

Di sinilah titik temu antara puisi dan Nyepi. Sepi ingin diibadahkan, diangkat menjadi ritual personal. Nyepi, secara kolektif, menghadirkan hening yang diwajibkan, tetapi puisi ini mengingatkan bahwa tidak semua sepi dapat dipaksakan menjadi ritual. Hening yang dicari manusia kota tetap lebih kompleks, lebih liar, dan lebih personal.

Di hari Nyepi, lampu-lampu padam, jalanan lengang, dan langit terasa lebih dekat. Tapi sunyi fisik tidak otomatis menenangkan batin. Seperti tikus yang menyerupai manusia, pencari hening tetap menggali beton waktu, menelisik limbah pengalaman, dan menavigasi perempatan kota yang selalu mengejeknya. Ritual kolektif memberi ruang, tetapi hening sejati tetap harus ditemukan dalam diri sendiri.

Melalui puisi ini, Nanoq da Kansas menghadirkan dialog antara hening yang dicari dan hening yang diwajibkan. Kota yang gelisah menolak manusia untuk tenang, sementara Nyepi mencoba memberi jeda. Namun, hening tetap harus ditempa dari batin. Sunyi dan riuh berjalan beriringan, tergantung bagaimana manusia menempatkan pencariannya.

Puisi juga menekankan bahwa pencarian hening bukan hanya soal menghindari kebisingan, tetapi soal memahami diri, menemukan arah batin, dan menyeimbangkan hasrat dan kebutuhan. Nyepi menyediakan peluang, tetapi pencarian harus tetap aktif, baik dalam sunyi, dalam kesendirian, bahkan di tengah kota yang tidak pernah tidur.

Seperti tikus yang menyerupai manusia, kita terus mencari hening, menyusuri beton, gang, dan perempatan, sambil berharap suatu hari sepi itu bisa diibadahkan. Puisi ini menjadi pengingat bahwa hening sejati bukan hadiah dari luar, tetapi penemuan dari dalam. Dan Nyepi, dengan segala kesakralannya, hanya menyediakan ruang, bukan jawaban. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hari Raya NyepiKotaPuisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Saat Semua Semakin Cepat, Bali Berani Berhenti

Next Post

Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya mengucapkan selamat kepada IGA Darma Putra yang telah menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Prancis. Selamat...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
0
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

Read moreDetails

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026
0
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

Read moreDetails

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

by Pande Susan
October 17, 2026
0
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

Read moreDetails

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

by Angga Wijaya
October 17, 2026
0
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

Read moreDetails

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

by I Wayan Artika
October 16, 2026
0
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

Read moreDetails
Next Post
Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU
Esai

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta
Ulas Rupa

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

by Emi Suy
October 19, 2026
Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental
Olahraga

Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental

KETIKA musik mulai diputar, tangan para peserta terangkat di atas kepala. Mereka bertepuk tangan mengikuti irama lagu “Gemu Fa Mi...

by Nyoman Budarsana
October 19, 2026
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata
Esai

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya mengucapkan selamat kepada IGA Darma Putra yang telah menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Prancis. Selamat...

by Angga Wijaya
October 19, 2026
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra
Esai

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya
Ulas Musik

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media
Esai

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

by Angga Wijaya
October 18, 2026
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana
Esai

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan
Ulas Rupa

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto
Cerpen

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

by Sigit Susanto
October 18, 2026
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta
Esai

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co