24 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Saat Semua Semakin Cepat, Bali Berani Berhenti

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
March 20, 2026
in Esai
Saat Semua Semakin Cepat, Bali Berani Berhenti

Foto ilustrasi: Canva

SETIAP menjelang Hari Suci Nyepi, saya selalu teringat dengan sebuah lagu dari band Navicula. Lagu itu berjudul “Saat Semua Semakin Cepat Bali Berani Berhenti,” yang dirilis resmi pada 2018 dalam album Earthship. Lagu ini tidak meledak dengan agresivitas seperti beberapa karya lain dari Navicula.

Sebaliknya, aransemen akustik terasa lebih reflektif, seolah memberi ruang bagi liriknya untuk berbicara. Ada nuansa melankolis sekaligus menenangkan. Ketika bagian reff berbunyi, “Saat semua semakin cepat, Bali berani berhenti dan menyepi,” kalimat itu terasa seperti pernyataan yang diucapkan perlahan tetapi tegas. Musiknya tak sekadar mengiringi kata-kata, melainkan memperkuat suasana hening yang menjadi inti dari Hari Raya Nyepi itu sendiri.

Lirik lagu tersebut juga menarik karena tidak langsung berbicara tentang ritual atau tradisi. Ia justru dimulai dari sesuatu yang sangat manusiawi: kelelahan. Seperti pada lirik, “Ku telah terlampau lelah, berilah aku waktu sesaat” terdengar seperti pengakuan yang jujur tentang kondisi manusia modern yang terus berlari. Dalam konteks itu, Nyepi diibaratkan dengan kebutuhan manusia untuk berhenti sejenak ─ ‘membasuh luka’, menenangkan pikiran, dan memulai kembali dengan lebih jernih.

Kalimat itu seperti sebuah pengingat. Kita hidup di zaman yang serba cepat. Teknologi membuat segalanya serba instan, informasi datang dalam hitungan detik, pekerjaan berpacu dengan tenggat waktu, dan mobilitas manusia semakin tinggi. Dunia hampir tidak pernah benar-benar tidur. Bahkan malam hari pun dipenuhi cahaya, suara kendaraan, dan aktivitas tanpa jeda. Kecepatan seolah menjadi ukuran kemajuan zaman.

Namun setahun sekali, Bali menunjukkan sesuatu yang berbeda, yaitu Nyepi.

Pada Hari Raya Nyepi, satu pulau memasuki keheningan total selama 24 jam. Bandara ditutup, kendaraan berhenti, toko-toko tidak beroperasi, dan lampu-lampu dipadamkan. Jalanan yang biasanya dipenuhi wisatawan dan lalu lintas berubah menjadi kosong. Pantai yang ramai menjadi sunyi. Dari luar, keadaan ini mungkin terlihat seperti pulau yang tertidur. Tetapi bagi masyarakat Bali, Nyepi bukan sekadar berhenti dari aktivitas sehari-hari. Ia adalah momen untuk kembali kepada diri sendiri ─ kembali ke titik nol.

Nyepi merupakan bagian dari perayaan Tahun Baru dalam kalender Saka. Sebelum hari hening itu tiba, masyarakat Bali melalui berbagai rangkaian ritual. Salah satu yang paling dikenal adalah arak-arakan pawai ogoh-ogoh (pengerupukan) pada malam sebelum Nyepi. Ogoh-ogoh yang menggambarkan simbol energi negatif diarak keliling desa dengan iringan gamelan dan sorak-sorai masyarakat. Malam itu penuh energi dan keriuhan. Keesokan harinya, Bali tenggelam dalam sunyi.

Keheningan Nyepi bukanlah sekadar larangan aktivitas. Dalam tradisi Hindu Bali, dikenal empat pantangan utama yang disebut Catur Brata Penyepian: tidak menyalakan api atau cahaya (amati geni), tidak bekerja (amati karya), tidak bepergian (amati lelungan), dan tidak bersenang-senang (amati lelanguan). Pantangan ini mengajak manusia untuk menahan diri dari kesibukan dunia luar dan memberi ruang untuk refleksi. Tanpa hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari, manusia diingatkan untuk instropeksi diri.

Dalam dunia modern, praktik seperti ini terasa semakin langka. Banyak orang sekarang berbicara tentang pentingnya istirahat dari teknologi, melakukan “detoks digital” atau menjalani gaya hidup yang lebih lambat. Namun jauh sebelum istilah-istilah itu populer, masyarakat Bali telah memiliki tradisi yang secara kolektif mempraktikkan hal serupa melalui Nyepi.

Lagu dari Navicula itu terasa seperti merangkum makna tersebut. Ketika dunia semakin sibuk mengejar produktivitas, Bali justru berani mengambil jeda. Keberanian itu bukan sekadar menghentikan aktivitas selama satu hari, tetapi juga menjaga sebuah filosofi hidup: bahwa manusia perlu berhenti sejenak untuk menjaga keseimbangan dengan dirinya sendiri, sesama, dan alam.

Menariknya, keheningan Nyepi juga membawa dampak nyata pada lingkungan. Tanpa kendaraan, tanpa penerbangan, dan tanpa aktivitas industri selama satu hari penuh, udara di Bali menjadi lebih bersih. Pada malam hari, langit terlihat jauh lebih gelap sehingga bintang-bintang tampak jelas. Suara alam yang biasanya tertutup oleh kebisingan kota, seperti angin, serangga, dan ombak menjadi lebih terasa.

Nyepi juga menunjukkan bagaimana sebuah tradisi dapat menyatukan masyarakat. Meskipun berasal dari praktik keagamaan Hindu Bali, perayaan ini dihormati oleh semua orang yang tinggal di pulau tersebut, termasuk wisatawan. Hotel-hotel tetap beroperasi tetapi para tamu diminta untuk menghormati aturan Nyepi. Banyak turis yang awalnya merasa terkejut karena tidak bisa keluar atau bepergian, namun kemudian justru menikmati pengalaman yang unik ─ satu hari tanpa kebisingan dunia.

Dalam konteks globalisasi yang sering menyeragamkan cara hidup manusia, Nyepi menjadi pengingat bahwa budaya lokal masih memiliki kekuatan untuk menawarkan perspektif yang berbeda. Ia mengajarkan bahwa kemajuan tidak selalu berarti bergerak lebih cepat. Terkadang, kemajuan justru berarti mengetahui kapan harus memberi jeda.

Karena itu, setiap kali Nyepi mendekat dan saya kembali mendengar lagu “Saat Semua Semakin Cepat Bali Berani Berhenti”, lagu itu terasa semakin bermakna. Ia adalah gambaran sikap hidup masyarakat. Di tengah dunia yang terus berlari, Bali menunjukkan bahwa berhenti sejenak bukanlah kelemahan, melainkan keberanian. [T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliHari Raya NyepiHindu Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Suara Klunting Menjelang Takbir

Next Post

Sepi yang Diibadahkan: Kota, Puisi, dan Nyepi

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Sepi yang Diibadahkan: Kota, Puisi, dan Nyepi

Sepi yang Diibadahkan: Kota, Puisi, dan Nyepi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co