24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

Chusmeru by Chusmeru
April 23, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal 30 November 2025. Rakyat Indonesia juga tak akan lupa siapa bupati yang menaikkan pajak bumi dan bangunan (PBB) secara gila-gilaan, sebelum akhirnya ia terkena operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Dua contoh kasus di atas memunculkan pertanyaan. Apakah menteri yang memanggul beras di tengah bencana alam itu memang sedang berempati atas penderitaan rakyat? Ataukah ia sekadar melakukan proyek pencitraan atas dirinya? Apakah bupati yang menaikkan PBB seenaknya itu tidak memiliki empati atas kesulitan ekonomi yang sedang dihadapi rakyatnya?

Benarkah elite politik di Tanah Air nirempati? Begitu sulitkah empati bagi elite? Semestinya tidak. Sebab empati sebagaimana diungkap Carl Rogers  adalah kemampuan untuk memahami dan merasakan perasaan dan pengalaman orang lain, serta menunjukkan pemahaman tersebut kepada mereka.

Kesulitan elite dalam berempati dapat terjadi lantaran bias politik. Rakyat yang benar-benar sedang menderita selalu dipandang sebagai objek kepentingan politik elite. Kebutuhan nyata masyarakat dikalahkan oleh kepentingan kekuasaan. Kesulitan berempati dapat pula lantaran kesibukan elite di lingkaran kekuasaan, sehingga tak punya waktu untuk memahami derita rakyatnya.

Maka tidak heran bila kerap muncul apa yang disebut empati semu (pseudo empathy) yang dipertontonkan. Elite menunjukkan ekspresi sedih di hadapan rakyat miskin, namun sesungguhnya ia tak memahami apa yang dibutuhkan rakyatnya. Pejabat kerap mengucapkan kata-kata sedih terhadap rakyat yang masih menganggur, namun kebijakan yang dibuatnya tak menyentuh ketersediaan akan lapangan kerja.

Di mana letak empati elite ketika harga-harga melambung tinggi, seorang Sekretaris Kabinet dirayakan ulang tahunnya di sebuah ruangan hotel mewah di kota Paris, Prancis? Dan itu disaksikan jutaan rakyat miskin Indonesia lewat berbagai kanal media sosial dan televisi. Momen personal yang dirayakan bersama Presiden itu seakan mengoyak luka hati rakyat yang sedang terpuruk ekonominya.

Inkonsistensi dan Hipokrisi

Empati sejatinya tidak sulit. Seperti dikatakan Milton J.Bennet, empati adalah partisipasi emosional dan intelektual secara imajinatif pada pengalaman orang lain. Kuncinya ada pada partisipasi. Tanpa partisipasi secara emosional dan intelektual, sulit didapat empati dari elite. Apalagi bila elite politik tidak memiliki kecerdasan emosional dan intelektual.

Kesulitan elite untuk berempati lebih banyak disebabkan oleh inkonsistensi dan hipokrisi. Lembaga semacam Badan Gizi Nasional (BGN) sekadar entitas elite di pusat dan daerah yang hanya memproduksi empati simbolik, empati artisifisial, dan empati kosmetik. Alih-alih berempati secara nyata atas keterpukuran gizi anak Indonesia, BGN menjadi ladang bisnis yang inkonsiten dan hipokrit.

Bayangkan saja. Di saat pemerintah menggembar-gemborkan efisiensi anggaran; ketika aparatur sipil negara (ASN) diminta untuk efisiensi dengan cara naik sepeda, naik angkutan umum, atau jalan kaki ke kantor, BGN justru membeli puluhan ribu sepeda motor listrik untuk operasional Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Di mana letak empati elite?

 Ratusan ribu guru honorer menunggu begitu lama untuk diangkat sebagai ASN. Sedangkan BGN begitu mudah mengangkat 32 ribu pegawai SPPG menjadi ASN dengan status Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Salahkah bila rakyat menggugat  empati elite kepada nasib guru honorer tersebut?

 Hal senada juga terjadi di Kalimantan Timur. Ketika rakyat kesulitan mendapatkan tempat tinggal yang layak lantaran keterbatasan ekonomi, Gubernur Kalimantan Timur mengeluarkan anggaran 25 miliar rupiah untuk renovasi rumah dinas gubernur, wakil gubernur, dan perkantoran. Sepertinya ada empati yang hilang dalam kekuasaan, baik di pusat maupun di daerah.

  Empati menuntut motivasi yang murni dan role model agar dapat ditiru para elite. Motivasi berempati harus tulus, yaitu berpartisipasi dalam keadaan dan kehidupan orang lain. Sayangnya, role model untuk memotivasi elite agar berempati cenderung inkonsisten dan hipokrisi.

Suatu saat, pejabat diminta untuk efisiensi dan dilarang banyak bepergian ke luar kota maupun ke luar negeri. Namun di banyak waktu, Presiden Prabowo Subianto dengan berbagai alasan justru banyak melakukan kunjungan ke luar negeri. Selama setahun lebih memimpin republik ini, Presiden Prabowo Subianto telah menghabiskan nyaris 100 hari untuk melakukan kunjungan ke luar negeri, dengan rincian 49 kali kunjungan ke 28 negara (BBC News Indonesia, 13/04/2026). Bagaimana ia dapat menjadi role model untuk berempati dalam efisiensi?

Prinsip Keberagaman

Empati selalu berangkat dari prinsip keberagaman dan perbedaan, bukan keseragaman dan persamaan. Artinya, empati hanya dapat tumbuh jika orang memiliki asumsi bahwa orang lain memiliki nasib yang berbeda, pekerjaan yang berbeda, pendapat yang berbeda, dan perilaku yang berbeda. Tanpa prinsip semacam ini, empati elite sulit terbentuk.

Hanya saja, empati politik di Tanah Air telah hilang sejak lama, sejak puluhan tahun Orde Baru berkuasa. Empati politik elite bukan hanya mengakui keberagaman suku, ras, dan agama, tetapi juga berpartisipasi dalam keberagaman itu. Nyatanya, empati seringkali dinodai dengan penolakan keberagaman. Pertikaian antarumat beragama dan penolakan pembangunan serta pemanfaatan sarana beribadah masih saja terjadi.

Sejarah dan pengalaman masa lalu bangsa ini diwarnai dengan upaya penolakan perbedaan dan keberagaman dengan memaksakan kesamaan dan keseragaman. Puluhan tahun rakyat Indonesia dicekoki dengan prinsip keseragaman oleh elite politik dengan begitu perkasanya rezim berkuasa lewat mesin politik Golkar.

Gaya-gaya keseragaman Orde Baru memang meminimalkan empati elite. Tentu akan menjadi tragedi yang berulang bila rezim kekinian juga ingin menolak prinsip perbedaan dan mengasumsikan persamaan. Daya kritis rakyat sebagai tolok ukur perbedaan dimaknai elite sebagai upaya merongrong kewibawaan pemerintah. Bahkan ketika beberapa akademisi melontarkan kritik atas kebijakan rezim, orang di lingkaran kekuasaan langsung merespons dengan menyebut “inflasi pengamat”.

Pemberangusan terhadap pers memang tak ada lagi, tetapi kerja insan pers selalu dalam bayang-bayang kekerasan dan intimidasi rezim. Padahal pers adalah lembaga yang sah untuk memiliki perspektif berbeda dengan penguasa. Bila pers saja sulit menemukan ruang ekspresinya, maka patut digugat empati penguasa terhadap lahirnya perbedaan pendapat.

Memahami dan memaknai perbedaan adalah esensi empati. Begitu pun kemampuan memahami dan memaknai daya kritis rakyat merupakan indikator derajat empati elite. Namun sangat disayangkan, prinsip perbedaan di Indonesia itu dicederai dengan kasus penyiraman air keras terhadap aktivis Kontras Andrie Yunus yang melibatkan alat negara. Empati elite dipertanyakan.

Dahulu, Indonesia berdiri dan dibangun bukan dengan kemewahan, tetapi dengan perjuangan dan keprihatinan. Bila kini para elite begitu pongah dan bertabur kemewahan, maka patut digugat dan dipertanyakan di mana empati mereka kepada rakyat. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: empatikomunikasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

Next Post

‘Janji-janji Jepang’

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
‘Janji-janji Jepang’

'Janji-janji Jepang'

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co