2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

Chusmeru by Chusmeru
April 23, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal 30 November 2025. Rakyat Indonesia juga tak akan lupa siapa bupati yang menaikkan pajak bumi dan bangunan (PBB) secara gila-gilaan, sebelum akhirnya ia terkena operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Dua contoh kasus di atas memunculkan pertanyaan. Apakah menteri yang memanggul beras di tengah bencana alam itu memang sedang berempati atas penderitaan rakyat? Ataukah ia sekadar melakukan proyek pencitraan atas dirinya? Apakah bupati yang menaikkan PBB seenaknya itu tidak memiliki empati atas kesulitan ekonomi yang sedang dihadapi rakyatnya?

Benarkah elite politik di Tanah Air nirempati? Begitu sulitkah empati bagi elite? Semestinya tidak. Sebab empati sebagaimana diungkap Carl Rogers  adalah kemampuan untuk memahami dan merasakan perasaan dan pengalaman orang lain, serta menunjukkan pemahaman tersebut kepada mereka.

Kesulitan elite dalam berempati dapat terjadi lantaran bias politik. Rakyat yang benar-benar sedang menderita selalu dipandang sebagai objek kepentingan politik elite. Kebutuhan nyata masyarakat dikalahkan oleh kepentingan kekuasaan. Kesulitan berempati dapat pula lantaran kesibukan elite di lingkaran kekuasaan, sehingga tak punya waktu untuk memahami derita rakyatnya.

Maka tidak heran bila kerap muncul apa yang disebut empati semu (pseudo empathy) yang dipertontonkan. Elite menunjukkan ekspresi sedih di hadapan rakyat miskin, namun sesungguhnya ia tak memahami apa yang dibutuhkan rakyatnya. Pejabat kerap mengucapkan kata-kata sedih terhadap rakyat yang masih menganggur, namun kebijakan yang dibuatnya tak menyentuh ketersediaan akan lapangan kerja.

Di mana letak empati elite ketika harga-harga melambung tinggi, seorang Sekretaris Kabinet dirayakan ulang tahunnya di sebuah ruangan hotel mewah di kota Paris, Prancis? Dan itu disaksikan jutaan rakyat miskin Indonesia lewat berbagai kanal media sosial dan televisi. Momen personal yang dirayakan bersama Presiden itu seakan mengoyak luka hati rakyat yang sedang terpuruk ekonominya.

Inkonsistensi dan Hipokrisi

Empati sejatinya tidak sulit. Seperti dikatakan Milton J.Bennet, empati adalah partisipasi emosional dan intelektual secara imajinatif pada pengalaman orang lain. Kuncinya ada pada partisipasi. Tanpa partisipasi secara emosional dan intelektual, sulit didapat empati dari elite. Apalagi bila elite politik tidak memiliki kecerdasan emosional dan intelektual.

Kesulitan elite untuk berempati lebih banyak disebabkan oleh inkonsistensi dan hipokrisi. Lembaga semacam Badan Gizi Nasional (BGN) sekadar entitas elite di pusat dan daerah yang hanya memproduksi empati simbolik, empati artisifisial, dan empati kosmetik. Alih-alih berempati secara nyata atas keterpukuran gizi anak Indonesia, BGN menjadi ladang bisnis yang inkonsiten dan hipokrit.

Bayangkan saja. Di saat pemerintah menggembar-gemborkan efisiensi anggaran; ketika aparatur sipil negara (ASN) diminta untuk efisiensi dengan cara naik sepeda, naik angkutan umum, atau jalan kaki ke kantor, BGN justru membeli puluhan ribu sepeda motor listrik untuk operasional Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Di mana letak empati elite?

 Ratusan ribu guru honorer menunggu begitu lama untuk diangkat sebagai ASN. Sedangkan BGN begitu mudah mengangkat 32 ribu pegawai SPPG menjadi ASN dengan status Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Salahkah bila rakyat menggugat  empati elite kepada nasib guru honorer tersebut?

 Hal senada juga terjadi di Kalimantan Timur. Ketika rakyat kesulitan mendapatkan tempat tinggal yang layak lantaran keterbatasan ekonomi, Gubernur Kalimantan Timur mengeluarkan anggaran 25 miliar rupiah untuk renovasi rumah dinas gubernur, wakil gubernur, dan perkantoran. Sepertinya ada empati yang hilang dalam kekuasaan, baik di pusat maupun di daerah.

  Empati menuntut motivasi yang murni dan role model agar dapat ditiru para elite. Motivasi berempati harus tulus, yaitu berpartisipasi dalam keadaan dan kehidupan orang lain. Sayangnya, role model untuk memotivasi elite agar berempati cenderung inkonsisten dan hipokrisi.

Suatu saat, pejabat diminta untuk efisiensi dan dilarang banyak bepergian ke luar kota maupun ke luar negeri. Namun di banyak waktu, Presiden Prabowo Subianto dengan berbagai alasan justru banyak melakukan kunjungan ke luar negeri. Selama setahun lebih memimpin republik ini, Presiden Prabowo Subianto telah menghabiskan nyaris 100 hari untuk melakukan kunjungan ke luar negeri, dengan rincian 49 kali kunjungan ke 28 negara (BBC News Indonesia, 13/04/2026). Bagaimana ia dapat menjadi role model untuk berempati dalam efisiensi?

Prinsip Keberagaman

Empati selalu berangkat dari prinsip keberagaman dan perbedaan, bukan keseragaman dan persamaan. Artinya, empati hanya dapat tumbuh jika orang memiliki asumsi bahwa orang lain memiliki nasib yang berbeda, pekerjaan yang berbeda, pendapat yang berbeda, dan perilaku yang berbeda. Tanpa prinsip semacam ini, empati elite sulit terbentuk.

Hanya saja, empati politik di Tanah Air telah hilang sejak lama, sejak puluhan tahun Orde Baru berkuasa. Empati politik elite bukan hanya mengakui keberagaman suku, ras, dan agama, tetapi juga berpartisipasi dalam keberagaman itu. Nyatanya, empati seringkali dinodai dengan penolakan keberagaman. Pertikaian antarumat beragama dan penolakan pembangunan serta pemanfaatan sarana beribadah masih saja terjadi.

Sejarah dan pengalaman masa lalu bangsa ini diwarnai dengan upaya penolakan perbedaan dan keberagaman dengan memaksakan kesamaan dan keseragaman. Puluhan tahun rakyat Indonesia dicekoki dengan prinsip keseragaman oleh elite politik dengan begitu perkasanya rezim berkuasa lewat mesin politik Golkar.

Gaya-gaya keseragaman Orde Baru memang meminimalkan empati elite. Tentu akan menjadi tragedi yang berulang bila rezim kekinian juga ingin menolak prinsip perbedaan dan mengasumsikan persamaan. Daya kritis rakyat sebagai tolok ukur perbedaan dimaknai elite sebagai upaya merongrong kewibawaan pemerintah. Bahkan ketika beberapa akademisi melontarkan kritik atas kebijakan rezim, orang di lingkaran kekuasaan langsung merespons dengan menyebut “inflasi pengamat”.

Pemberangusan terhadap pers memang tak ada lagi, tetapi kerja insan pers selalu dalam bayang-bayang kekerasan dan intimidasi rezim. Padahal pers adalah lembaga yang sah untuk memiliki perspektif berbeda dengan penguasa. Bila pers saja sulit menemukan ruang ekspresinya, maka patut digugat empati penguasa terhadap lahirnya perbedaan pendapat.

Memahami dan memaknai perbedaan adalah esensi empati. Begitu pun kemampuan memahami dan memaknai daya kritis rakyat merupakan indikator derajat empati elite. Namun sangat disayangkan, prinsip perbedaan di Indonesia itu dicederai dengan kasus penyiraman air keras terhadap aktivis Kontras Andrie Yunus yang melibatkan alat negara. Empati elite dipertanyakan.

Dahulu, Indonesia berdiri dan dibangun bukan dengan kemewahan, tetapi dengan perjuangan dan keprihatinan. Bila kini para elite begitu pongah dan bertabur kemewahan, maka patut digugat dan dipertanyakan di mana empati mereka kepada rakyat. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: empatikomunikasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

Next Post

‘Janji-janji Jepang’

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
‘Janji-janji Jepang’

'Janji-janji Jepang'

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co