23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

Chusmeru by Chusmeru
April 23, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal 30 November 2025. Rakyat Indonesia juga tak akan lupa siapa bupati yang menaikkan pajak bumi dan bangunan (PBB) secara gila-gilaan, sebelum akhirnya ia terkena operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Dua contoh kasus di atas memunculkan pertanyaan. Apakah menteri yang memanggul beras di tengah bencana alam itu memang sedang berempati atas penderitaan rakyat? Ataukah ia sekadar melakukan proyek pencitraan atas dirinya? Apakah bupati yang menaikkan PBB seenaknya itu tidak memiliki empati atas kesulitan ekonomi yang sedang dihadapi rakyatnya?

Benarkah elite politik di Tanah Air nirempati? Begitu sulitkah empati bagi elite? Semestinya tidak. Sebab empati sebagaimana diungkap Carl Rogers  adalah kemampuan untuk memahami dan merasakan perasaan dan pengalaman orang lain, serta menunjukkan pemahaman tersebut kepada mereka.

Kesulitan elite dalam berempati dapat terjadi lantaran bias politik. Rakyat yang benar-benar sedang menderita selalu dipandang sebagai objek kepentingan politik elite. Kebutuhan nyata masyarakat dikalahkan oleh kepentingan kekuasaan. Kesulitan berempati dapat pula lantaran kesibukan elite di lingkaran kekuasaan, sehingga tak punya waktu untuk memahami derita rakyatnya.

Maka tidak heran bila kerap muncul apa yang disebut empati semu (pseudo empathy) yang dipertontonkan. Elite menunjukkan ekspresi sedih di hadapan rakyat miskin, namun sesungguhnya ia tak memahami apa yang dibutuhkan rakyatnya. Pejabat kerap mengucapkan kata-kata sedih terhadap rakyat yang masih menganggur, namun kebijakan yang dibuatnya tak menyentuh ketersediaan akan lapangan kerja.

Di mana letak empati elite ketika harga-harga melambung tinggi, seorang Sekretaris Kabinet dirayakan ulang tahunnya di sebuah ruangan hotel mewah di kota Paris, Prancis? Dan itu disaksikan jutaan rakyat miskin Indonesia lewat berbagai kanal media sosial dan televisi. Momen personal yang dirayakan bersama Presiden itu seakan mengoyak luka hati rakyat yang sedang terpuruk ekonominya.

Inkonsistensi dan Hipokrisi

Empati sejatinya tidak sulit. Seperti dikatakan Milton J.Bennet, empati adalah partisipasi emosional dan intelektual secara imajinatif pada pengalaman orang lain. Kuncinya ada pada partisipasi. Tanpa partisipasi secara emosional dan intelektual, sulit didapat empati dari elite. Apalagi bila elite politik tidak memiliki kecerdasan emosional dan intelektual.

Kesulitan elite untuk berempati lebih banyak disebabkan oleh inkonsistensi dan hipokrisi. Lembaga semacam Badan Gizi Nasional (BGN) sekadar entitas elite di pusat dan daerah yang hanya memproduksi empati simbolik, empati artisifisial, dan empati kosmetik. Alih-alih berempati secara nyata atas keterpukuran gizi anak Indonesia, BGN menjadi ladang bisnis yang inkonsiten dan hipokrit.

Bayangkan saja. Di saat pemerintah menggembar-gemborkan efisiensi anggaran; ketika aparatur sipil negara (ASN) diminta untuk efisiensi dengan cara naik sepeda, naik angkutan umum, atau jalan kaki ke kantor, BGN justru membeli puluhan ribu sepeda motor listrik untuk operasional Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Di mana letak empati elite?

 Ratusan ribu guru honorer menunggu begitu lama untuk diangkat sebagai ASN. Sedangkan BGN begitu mudah mengangkat 32 ribu pegawai SPPG menjadi ASN dengan status Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Salahkah bila rakyat menggugat  empati elite kepada nasib guru honorer tersebut?

 Hal senada juga terjadi di Kalimantan Timur. Ketika rakyat kesulitan mendapatkan tempat tinggal yang layak lantaran keterbatasan ekonomi, Gubernur Kalimantan Timur mengeluarkan anggaran 25 miliar rupiah untuk renovasi rumah dinas gubernur, wakil gubernur, dan perkantoran. Sepertinya ada empati yang hilang dalam kekuasaan, baik di pusat maupun di daerah.

  Empati menuntut motivasi yang murni dan role model agar dapat ditiru para elite. Motivasi berempati harus tulus, yaitu berpartisipasi dalam keadaan dan kehidupan orang lain. Sayangnya, role model untuk memotivasi elite agar berempati cenderung inkonsisten dan hipokrisi.

Suatu saat, pejabat diminta untuk efisiensi dan dilarang banyak bepergian ke luar kota maupun ke luar negeri. Namun di banyak waktu, Presiden Prabowo Subianto dengan berbagai alasan justru banyak melakukan kunjungan ke luar negeri. Selama setahun lebih memimpin republik ini, Presiden Prabowo Subianto telah menghabiskan nyaris 100 hari untuk melakukan kunjungan ke luar negeri, dengan rincian 49 kali kunjungan ke 28 negara (BBC News Indonesia, 13/04/2026). Bagaimana ia dapat menjadi role model untuk berempati dalam efisiensi?

Prinsip Keberagaman

Empati selalu berangkat dari prinsip keberagaman dan perbedaan, bukan keseragaman dan persamaan. Artinya, empati hanya dapat tumbuh jika orang memiliki asumsi bahwa orang lain memiliki nasib yang berbeda, pekerjaan yang berbeda, pendapat yang berbeda, dan perilaku yang berbeda. Tanpa prinsip semacam ini, empati elite sulit terbentuk.

Hanya saja, empati politik di Tanah Air telah hilang sejak lama, sejak puluhan tahun Orde Baru berkuasa. Empati politik elite bukan hanya mengakui keberagaman suku, ras, dan agama, tetapi juga berpartisipasi dalam keberagaman itu. Nyatanya, empati seringkali dinodai dengan penolakan keberagaman. Pertikaian antarumat beragama dan penolakan pembangunan serta pemanfaatan sarana beribadah masih saja terjadi.

Sejarah dan pengalaman masa lalu bangsa ini diwarnai dengan upaya penolakan perbedaan dan keberagaman dengan memaksakan kesamaan dan keseragaman. Puluhan tahun rakyat Indonesia dicekoki dengan prinsip keseragaman oleh elite politik dengan begitu perkasanya rezim berkuasa lewat mesin politik Golkar.

Gaya-gaya keseragaman Orde Baru memang meminimalkan empati elite. Tentu akan menjadi tragedi yang berulang bila rezim kekinian juga ingin menolak prinsip perbedaan dan mengasumsikan persamaan. Daya kritis rakyat sebagai tolok ukur perbedaan dimaknai elite sebagai upaya merongrong kewibawaan pemerintah. Bahkan ketika beberapa akademisi melontarkan kritik atas kebijakan rezim, orang di lingkaran kekuasaan langsung merespons dengan menyebut “inflasi pengamat”.

Pemberangusan terhadap pers memang tak ada lagi, tetapi kerja insan pers selalu dalam bayang-bayang kekerasan dan intimidasi rezim. Padahal pers adalah lembaga yang sah untuk memiliki perspektif berbeda dengan penguasa. Bila pers saja sulit menemukan ruang ekspresinya, maka patut digugat empati penguasa terhadap lahirnya perbedaan pendapat.

Memahami dan memaknai perbedaan adalah esensi empati. Begitu pun kemampuan memahami dan memaknai daya kritis rakyat merupakan indikator derajat empati elite. Namun sangat disayangkan, prinsip perbedaan di Indonesia itu dicederai dengan kasus penyiraman air keras terhadap aktivis Kontras Andrie Yunus yang melibatkan alat negara. Empati elite dipertanyakan.

Dahulu, Indonesia berdiri dan dibangun bukan dengan kemewahan, tetapi dengan perjuangan dan keprihatinan. Bila kini para elite begitu pongah dan bertabur kemewahan, maka patut digugat dan dipertanyakan di mana empati mereka kepada rakyat. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: empatikomunikasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

Next Post

‘Janji-janji Jepang’

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails

‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

by Pande Susan
June 18, 2026
0
‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku...

Read moreDetails
Next Post
‘Janji-janji Jepang’

'Janji-janji Jepang'

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026
Lubang | Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

by Asmaran Dani
June 21, 2026
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi
Puisi

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

by Mahesa Putra
June 21, 2026
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045
Esai

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

by Dewa Rhadea
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co