2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

Chusmeru by Chusmeru
April 23, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal 30 November 2025. Rakyat Indonesia juga tak akan lupa siapa bupati yang menaikkan pajak bumi dan bangunan (PBB) secara gila-gilaan, sebelum akhirnya ia terkena operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Dua contoh kasus di atas memunculkan pertanyaan. Apakah menteri yang memanggul beras di tengah bencana alam itu memang sedang berempati atas penderitaan rakyat? Ataukah ia sekadar melakukan proyek pencitraan atas dirinya? Apakah bupati yang menaikkan PBB seenaknya itu tidak memiliki empati atas kesulitan ekonomi yang sedang dihadapi rakyatnya?

Benarkah elite politik di Tanah Air nirempati? Begitu sulitkah empati bagi elite? Semestinya tidak. Sebab empati sebagaimana diungkap Carl Rogers  adalah kemampuan untuk memahami dan merasakan perasaan dan pengalaman orang lain, serta menunjukkan pemahaman tersebut kepada mereka.

Kesulitan elite dalam berempati dapat terjadi lantaran bias politik. Rakyat yang benar-benar sedang menderita selalu dipandang sebagai objek kepentingan politik elite. Kebutuhan nyata masyarakat dikalahkan oleh kepentingan kekuasaan. Kesulitan berempati dapat pula lantaran kesibukan elite di lingkaran kekuasaan, sehingga tak punya waktu untuk memahami derita rakyatnya.

Maka tidak heran bila kerap muncul apa yang disebut empati semu (pseudo empathy) yang dipertontonkan. Elite menunjukkan ekspresi sedih di hadapan rakyat miskin, namun sesungguhnya ia tak memahami apa yang dibutuhkan rakyatnya. Pejabat kerap mengucapkan kata-kata sedih terhadap rakyat yang masih menganggur, namun kebijakan yang dibuatnya tak menyentuh ketersediaan akan lapangan kerja.

Di mana letak empati elite ketika harga-harga melambung tinggi, seorang Sekretaris Kabinet dirayakan ulang tahunnya di sebuah ruangan hotel mewah di kota Paris, Prancis? Dan itu disaksikan jutaan rakyat miskin Indonesia lewat berbagai kanal media sosial dan televisi. Momen personal yang dirayakan bersama Presiden itu seakan mengoyak luka hati rakyat yang sedang terpuruk ekonominya.

Inkonsistensi dan Hipokrisi

Empati sejatinya tidak sulit. Seperti dikatakan Milton J.Bennet, empati adalah partisipasi emosional dan intelektual secara imajinatif pada pengalaman orang lain. Kuncinya ada pada partisipasi. Tanpa partisipasi secara emosional dan intelektual, sulit didapat empati dari elite. Apalagi bila elite politik tidak memiliki kecerdasan emosional dan intelektual.

Kesulitan elite untuk berempati lebih banyak disebabkan oleh inkonsistensi dan hipokrisi. Lembaga semacam Badan Gizi Nasional (BGN) sekadar entitas elite di pusat dan daerah yang hanya memproduksi empati simbolik, empati artisifisial, dan empati kosmetik. Alih-alih berempati secara nyata atas keterpukuran gizi anak Indonesia, BGN menjadi ladang bisnis yang inkonsiten dan hipokrit.

Bayangkan saja. Di saat pemerintah menggembar-gemborkan efisiensi anggaran; ketika aparatur sipil negara (ASN) diminta untuk efisiensi dengan cara naik sepeda, naik angkutan umum, atau jalan kaki ke kantor, BGN justru membeli puluhan ribu sepeda motor listrik untuk operasional Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Di mana letak empati elite?

 Ratusan ribu guru honorer menunggu begitu lama untuk diangkat sebagai ASN. Sedangkan BGN begitu mudah mengangkat 32 ribu pegawai SPPG menjadi ASN dengan status Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Salahkah bila rakyat menggugat  empati elite kepada nasib guru honorer tersebut?

 Hal senada juga terjadi di Kalimantan Timur. Ketika rakyat kesulitan mendapatkan tempat tinggal yang layak lantaran keterbatasan ekonomi, Gubernur Kalimantan Timur mengeluarkan anggaran 25 miliar rupiah untuk renovasi rumah dinas gubernur, wakil gubernur, dan perkantoran. Sepertinya ada empati yang hilang dalam kekuasaan, baik di pusat maupun di daerah.

  Empati menuntut motivasi yang murni dan role model agar dapat ditiru para elite. Motivasi berempati harus tulus, yaitu berpartisipasi dalam keadaan dan kehidupan orang lain. Sayangnya, role model untuk memotivasi elite agar berempati cenderung inkonsisten dan hipokrisi.

Suatu saat, pejabat diminta untuk efisiensi dan dilarang banyak bepergian ke luar kota maupun ke luar negeri. Namun di banyak waktu, Presiden Prabowo Subianto dengan berbagai alasan justru banyak melakukan kunjungan ke luar negeri. Selama setahun lebih memimpin republik ini, Presiden Prabowo Subianto telah menghabiskan nyaris 100 hari untuk melakukan kunjungan ke luar negeri, dengan rincian 49 kali kunjungan ke 28 negara (BBC News Indonesia, 13/04/2026). Bagaimana ia dapat menjadi role model untuk berempati dalam efisiensi?

Prinsip Keberagaman

Empati selalu berangkat dari prinsip keberagaman dan perbedaan, bukan keseragaman dan persamaan. Artinya, empati hanya dapat tumbuh jika orang memiliki asumsi bahwa orang lain memiliki nasib yang berbeda, pekerjaan yang berbeda, pendapat yang berbeda, dan perilaku yang berbeda. Tanpa prinsip semacam ini, empati elite sulit terbentuk.

Hanya saja, empati politik di Tanah Air telah hilang sejak lama, sejak puluhan tahun Orde Baru berkuasa. Empati politik elite bukan hanya mengakui keberagaman suku, ras, dan agama, tetapi juga berpartisipasi dalam keberagaman itu. Nyatanya, empati seringkali dinodai dengan penolakan keberagaman. Pertikaian antarumat beragama dan penolakan pembangunan serta pemanfaatan sarana beribadah masih saja terjadi.

Sejarah dan pengalaman masa lalu bangsa ini diwarnai dengan upaya penolakan perbedaan dan keberagaman dengan memaksakan kesamaan dan keseragaman. Puluhan tahun rakyat Indonesia dicekoki dengan prinsip keseragaman oleh elite politik dengan begitu perkasanya rezim berkuasa lewat mesin politik Golkar.

Gaya-gaya keseragaman Orde Baru memang meminimalkan empati elite. Tentu akan menjadi tragedi yang berulang bila rezim kekinian juga ingin menolak prinsip perbedaan dan mengasumsikan persamaan. Daya kritis rakyat sebagai tolok ukur perbedaan dimaknai elite sebagai upaya merongrong kewibawaan pemerintah. Bahkan ketika beberapa akademisi melontarkan kritik atas kebijakan rezim, orang di lingkaran kekuasaan langsung merespons dengan menyebut “inflasi pengamat”.

Pemberangusan terhadap pers memang tak ada lagi, tetapi kerja insan pers selalu dalam bayang-bayang kekerasan dan intimidasi rezim. Padahal pers adalah lembaga yang sah untuk memiliki perspektif berbeda dengan penguasa. Bila pers saja sulit menemukan ruang ekspresinya, maka patut digugat empati penguasa terhadap lahirnya perbedaan pendapat.

Memahami dan memaknai perbedaan adalah esensi empati. Begitu pun kemampuan memahami dan memaknai daya kritis rakyat merupakan indikator derajat empati elite. Namun sangat disayangkan, prinsip perbedaan di Indonesia itu dicederai dengan kasus penyiraman air keras terhadap aktivis Kontras Andrie Yunus yang melibatkan alat negara. Empati elite dipertanyakan.

Dahulu, Indonesia berdiri dan dibangun bukan dengan kemewahan, tetapi dengan perjuangan dan keprihatinan. Bila kini para elite begitu pongah dan bertabur kemewahan, maka patut digugat dan dipertanyakan di mana empati mereka kepada rakyat. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: empatikomunikasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

Next Post

‘Janji-janji Jepang’

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
‘Janji-janji Jepang’

'Janji-janji Jepang'

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co