3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
April 22, 2026
in Esai
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

Ilustrasi tatkala.co | Canva

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi Devi menempatkan bumi sebagai manifestasi ilahi yang menopang seluruh kehidupan. Dalam Atharva Veda tertulis: Mātā Bhūmiḥ Putro’ham Pṛthivyāḥ—bumi adalah ibu, manusia adalah anaknya.

Ungkapan “Ibu Pertiwi” yang hidup dalam budaya Nusantara bukan sekadar metafora puitis, melainkan refleksi kesadaran spiritual yang mendalam. Kata Pertiwi sendiri berakar dari Prithvi, yang berarti bumi sebagai entitas yang menopang kehidupan. Dalam konteks ini, hubungan manusia dengan alam bukanlah relasi utilitarian, tetapi relasi eksistensial—relasi anak dan ibu.

Namun pertanyaannya: jika bumi adalah ibu, mengapa manusia justru merusaknya?

Paradoks Modern: Anak yang Melukai Ibu

Peradaban modern ditandai oleh kemajuan teknologi, tetapi juga oleh kerusakan ekologis yang masif. Deforestasi, pencemaran, krisis iklim—semuanya menunjukkan adanya keterputusan antara manusia dan alam. Kita hidup di era di mana bumi diperlakukan sebagai komoditas, bukan sebagai ibu.

Di sinilah relevansi pemikiran David R. Hawkins menjadi menarik. Melalui konsep Map of Consciousness, Hawkins menjelaskan bahwa perilaku manusia sangat ditentukan oleh tingkat kesadarannya. Kesadaran rendah menghasilkan tindakan destruktif, sementara kesadaran tinggi melahirkan harmoni.

Eksploitasi alam bukan semata masalah ekonomi atau politik, tetapi cerminan dari tingkat kesadaran manusia.

Peta Kesadaran Hawkins: Membaca Krisis Ekologis

Dalam peta kesadaran Hawkins, terdapat spektrum dari level terendah seperti shame (malu) dan guilt (rasa bersalah), hingga level tertinggi seperti love, joy, dan enlightenment.

Jika kita refleksikan, eksploitasi terhadap bumi sering lahir dari kesadaran di bawah level 200—wilayah force. Di sini manusia digerakkan oleh ketakutan, keserakahan, dan keinginan menguasai. Alam dilihat sebagai sesuatu yang harus ditaklukkan.

Sebaliknya, pada level di atas 200—wilayah power—muncul kesadaran bahwa manusia adalah bagian dari keseluruhan. Pada level love (500), bumi tidak lagi dipandang sebagai sumber daya, tetapi sebagai ibu yang harus dicintai. Pada level enlightenment, tidak ada lagi dualitas antara manusia dan alam—keduanya adalah satu kesatuan kesadaran.

Dengan demikian, krisis lingkungan sesungguhnya adalah krisis kesadaran.

Dari Force ke Power: Transformasi Kesadaran

Perubahan kebijakan lingkungan penting, tetapi tidak cukup. Transformasi sejati harus dimulai dari kesadaran individu. Dalam perspektif Hawkins, perubahan dunia tidak terjadi melalui paksaan (force), tetapi melalui peningkatan kesadaran (power).

Sanātana Dharma telah lama mengajarkan prinsip ini melalui konsep ahimsa (tanpa kekerasan) dan dharma (kebenaran kosmis). Merusak bumi berarti melanggar dharma. Sebaliknya, menjaga alam adalah bentuk keselarasan dengan hukum semesta.

Ketika seseorang mulai melihat bumi sebagai ibu, secara alami perilakunya berubah. Ia tidak lagi membuang sampah sembarangan, tidak mengeksploitasi berlebihan, dan mulai hidup selaras dengan alam. Ini bukan karena aturan, tetapi karena kesadaran.

Spiritualitas Ekologis: Jalan ke Dalam

Dalam banyak ajaran spiritual, termasuk yang diajarkan oleh tokoh seperti Guruji Anand Krishna, perjalanan sejati adalah perjalanan ke dalam diri. Ketika manusia mengenal dirinya, ia juga mengenal keterhubungannya dengan alam.

Kesadaran ekologis bukan sekadar aktivisme luar, tetapi buah dari transformasi batin. Ketika batin penuh dengan kedamaian, ia tidak akan merusak. Ketika hati dipenuhi cinta, ia akan melindungi.

Di sinilah konsep “Ibu Pertiwi” menemukan relevansinya kembali. Ia bukan hanya simbol budaya, tetapi pintu masuk menuju kesadaran yang lebih tinggi.

Refleksi untuk Indonesia: Kearifan Lokal dan Tantangan Global

Indonesia memiliki kekayaan kearifan lokal yang luar biasa dalam memandang alam. Dari Tri Hita Karana di Bali hingga berbagai tradisi adat di Nusantara, semuanya menekankan harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan.

Namun, modernisasi sering kali mengikis kesadaran ini. Kita mengadopsi sistem ekonomi global tanpa sepenuhnya menyaring nilai-nilainya. Akibatnya, kita terjebak dalam pola eksploitasi yang sama.

Jika dikaitkan dengan peta Hawkins, ini menunjukkan adanya tarik-menarik antara kesadaran lama (berbasis harmoni) dan kesadaran baru (berbasis dominasi). Tantangan kita adalah menaikkan level kesadaran kolektif tanpa kehilangan akar budaya.

Hari Bumi: Ritual atau Kesadaran?

Peringatan Hari Bumi setiap 22 April sering kali menjadi seremonial. Penanaman pohon, kampanye lingkungan, dan slogan-slogan hijau bermunculan. Namun tanpa perubahan kesadaran, semua itu berisiko menjadi simbol tanpa substansi.

Sanātana Dharma mengajarkan bahwa setiap tindakan harus dilandasi kesadaran. Menanam satu pohon dengan cinta lebih bermakna daripada seribu pohon tanpa kesadaran.

Dalam kerangka Hawkins, kualitas kesadaran menentukan dampak tindakan. Tindakan kecil yang lahir dari cinta memiliki energi yang lebih besar daripada tindakan besar yang lahir dari ego.

Menuju Kesadaran Ilahi: Bumi sebagai Guru

Pada akhirnya, bumi bukan hanya ibu, tetapi juga guru. Ia mengajarkan keseimbangan, kesabaran, dan keberlanjutan. Ia memberi tanpa pamrih, tetapi juga memiliki hukum yang tidak bisa dilanggar tanpa konsekuensi.

Ketika manusia naik ke level kesadaran yang lebih tinggi, ia tidak lagi melihat bumi sebagai “yang lain”. Ia melihat dirinya dalam bumi, dan bumi dalam dirinya.

Inilah yang dalam Sanātana Dharma disebut sebagai kesadaran non-dualitas—kesadaran bahwa semua adalah satu.

Kembali Menjadi Anak

Mungkin solusi terbesar bagi krisis ekologis bukanlah teknologi canggih, tetapi kesederhanaan kesadaran: kembali menjadi anak yang mencintai ibunya.

“Ibu Pertiwi” bukan sekadar istilah. Ia adalah panggilan untuk mengingat kembali siapa kita. Dalam bahasa David R. Hawkins, ini adalah perjalanan dari force menuju power, dari ego menuju cinta, dari keterpisahan menuju kesatuan.

Dan dalam bahasa Sanātana Dharma, ini adalah perjalanan Back to Dharma—kembali kepada dharma, kembali kepada ibu, kembali kepada kesadaran ilahi. [T]

Tags: bumiibusanatana dharma
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

Next Post

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co