14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
April 22, 2026
in Esai
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

Ilustrasi tatkala.co | Canva

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi Devi menempatkan bumi sebagai manifestasi ilahi yang menopang seluruh kehidupan. Dalam Atharva Veda tertulis: Mātā Bhūmiḥ Putro’ham Pṛthivyāḥ—bumi adalah ibu, manusia adalah anaknya.

Ungkapan “Ibu Pertiwi” yang hidup dalam budaya Nusantara bukan sekadar metafora puitis, melainkan refleksi kesadaran spiritual yang mendalam. Kata Pertiwi sendiri berakar dari Prithvi, yang berarti bumi sebagai entitas yang menopang kehidupan. Dalam konteks ini, hubungan manusia dengan alam bukanlah relasi utilitarian, tetapi relasi eksistensial—relasi anak dan ibu.

Namun pertanyaannya: jika bumi adalah ibu, mengapa manusia justru merusaknya?

Paradoks Modern: Anak yang Melukai Ibu

Peradaban modern ditandai oleh kemajuan teknologi, tetapi juga oleh kerusakan ekologis yang masif. Deforestasi, pencemaran, krisis iklim—semuanya menunjukkan adanya keterputusan antara manusia dan alam. Kita hidup di era di mana bumi diperlakukan sebagai komoditas, bukan sebagai ibu.

Di sinilah relevansi pemikiran David R. Hawkins menjadi menarik. Melalui konsep Map of Consciousness, Hawkins menjelaskan bahwa perilaku manusia sangat ditentukan oleh tingkat kesadarannya. Kesadaran rendah menghasilkan tindakan destruktif, sementara kesadaran tinggi melahirkan harmoni.

Eksploitasi alam bukan semata masalah ekonomi atau politik, tetapi cerminan dari tingkat kesadaran manusia.

Peta Kesadaran Hawkins: Membaca Krisis Ekologis

Dalam peta kesadaran Hawkins, terdapat spektrum dari level terendah seperti shame (malu) dan guilt (rasa bersalah), hingga level tertinggi seperti love, joy, dan enlightenment.

Jika kita refleksikan, eksploitasi terhadap bumi sering lahir dari kesadaran di bawah level 200—wilayah force. Di sini manusia digerakkan oleh ketakutan, keserakahan, dan keinginan menguasai. Alam dilihat sebagai sesuatu yang harus ditaklukkan.

Sebaliknya, pada level di atas 200—wilayah power—muncul kesadaran bahwa manusia adalah bagian dari keseluruhan. Pada level love (500), bumi tidak lagi dipandang sebagai sumber daya, tetapi sebagai ibu yang harus dicintai. Pada level enlightenment, tidak ada lagi dualitas antara manusia dan alam—keduanya adalah satu kesatuan kesadaran.

Dengan demikian, krisis lingkungan sesungguhnya adalah krisis kesadaran.

Dari Force ke Power: Transformasi Kesadaran

Perubahan kebijakan lingkungan penting, tetapi tidak cukup. Transformasi sejati harus dimulai dari kesadaran individu. Dalam perspektif Hawkins, perubahan dunia tidak terjadi melalui paksaan (force), tetapi melalui peningkatan kesadaran (power).

Sanātana Dharma telah lama mengajarkan prinsip ini melalui konsep ahimsa (tanpa kekerasan) dan dharma (kebenaran kosmis). Merusak bumi berarti melanggar dharma. Sebaliknya, menjaga alam adalah bentuk keselarasan dengan hukum semesta.

Ketika seseorang mulai melihat bumi sebagai ibu, secara alami perilakunya berubah. Ia tidak lagi membuang sampah sembarangan, tidak mengeksploitasi berlebihan, dan mulai hidup selaras dengan alam. Ini bukan karena aturan, tetapi karena kesadaran.

Spiritualitas Ekologis: Jalan ke Dalam

Dalam banyak ajaran spiritual, termasuk yang diajarkan oleh tokoh seperti Guruji Anand Krishna, perjalanan sejati adalah perjalanan ke dalam diri. Ketika manusia mengenal dirinya, ia juga mengenal keterhubungannya dengan alam.

Kesadaran ekologis bukan sekadar aktivisme luar, tetapi buah dari transformasi batin. Ketika batin penuh dengan kedamaian, ia tidak akan merusak. Ketika hati dipenuhi cinta, ia akan melindungi.

Di sinilah konsep “Ibu Pertiwi” menemukan relevansinya kembali. Ia bukan hanya simbol budaya, tetapi pintu masuk menuju kesadaran yang lebih tinggi.

Refleksi untuk Indonesia: Kearifan Lokal dan Tantangan Global

Indonesia memiliki kekayaan kearifan lokal yang luar biasa dalam memandang alam. Dari Tri Hita Karana di Bali hingga berbagai tradisi adat di Nusantara, semuanya menekankan harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan.

Namun, modernisasi sering kali mengikis kesadaran ini. Kita mengadopsi sistem ekonomi global tanpa sepenuhnya menyaring nilai-nilainya. Akibatnya, kita terjebak dalam pola eksploitasi yang sama.

Jika dikaitkan dengan peta Hawkins, ini menunjukkan adanya tarik-menarik antara kesadaran lama (berbasis harmoni) dan kesadaran baru (berbasis dominasi). Tantangan kita adalah menaikkan level kesadaran kolektif tanpa kehilangan akar budaya.

Hari Bumi: Ritual atau Kesadaran?

Peringatan Hari Bumi setiap 22 April sering kali menjadi seremonial. Penanaman pohon, kampanye lingkungan, dan slogan-slogan hijau bermunculan. Namun tanpa perubahan kesadaran, semua itu berisiko menjadi simbol tanpa substansi.

Sanātana Dharma mengajarkan bahwa setiap tindakan harus dilandasi kesadaran. Menanam satu pohon dengan cinta lebih bermakna daripada seribu pohon tanpa kesadaran.

Dalam kerangka Hawkins, kualitas kesadaran menentukan dampak tindakan. Tindakan kecil yang lahir dari cinta memiliki energi yang lebih besar daripada tindakan besar yang lahir dari ego.

Menuju Kesadaran Ilahi: Bumi sebagai Guru

Pada akhirnya, bumi bukan hanya ibu, tetapi juga guru. Ia mengajarkan keseimbangan, kesabaran, dan keberlanjutan. Ia memberi tanpa pamrih, tetapi juga memiliki hukum yang tidak bisa dilanggar tanpa konsekuensi.

Ketika manusia naik ke level kesadaran yang lebih tinggi, ia tidak lagi melihat bumi sebagai “yang lain”. Ia melihat dirinya dalam bumi, dan bumi dalam dirinya.

Inilah yang dalam Sanātana Dharma disebut sebagai kesadaran non-dualitas—kesadaran bahwa semua adalah satu.

Kembali Menjadi Anak

Mungkin solusi terbesar bagi krisis ekologis bukanlah teknologi canggih, tetapi kesederhanaan kesadaran: kembali menjadi anak yang mencintai ibunya.

“Ibu Pertiwi” bukan sekadar istilah. Ia adalah panggilan untuk mengingat kembali siapa kita. Dalam bahasa David R. Hawkins, ini adalah perjalanan dari force menuju power, dari ego menuju cinta, dari keterpisahan menuju kesatuan.

Dan dalam bahasa Sanātana Dharma, ini adalah perjalanan Back to Dharma—kembali kepada dharma, kembali kepada ibu, kembali kepada kesadaran ilahi. [T]

Tags: bumiibusanatana dharma
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

Next Post

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
0
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

Read moreDetails

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
0
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

Read moreDetails

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co