13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
April 22, 2026
in Esai
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

Ilustrasi tatkala.co | Canva

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi Devi menempatkan bumi sebagai manifestasi ilahi yang menopang seluruh kehidupan. Dalam Atharva Veda tertulis: Mātā Bhūmiḥ Putro’ham Pṛthivyāḥ—bumi adalah ibu, manusia adalah anaknya.

Ungkapan “Ibu Pertiwi” yang hidup dalam budaya Nusantara bukan sekadar metafora puitis, melainkan refleksi kesadaran spiritual yang mendalam. Kata Pertiwi sendiri berakar dari Prithvi, yang berarti bumi sebagai entitas yang menopang kehidupan. Dalam konteks ini, hubungan manusia dengan alam bukanlah relasi utilitarian, tetapi relasi eksistensial—relasi anak dan ibu.

Namun pertanyaannya: jika bumi adalah ibu, mengapa manusia justru merusaknya?

Paradoks Modern: Anak yang Melukai Ibu

Peradaban modern ditandai oleh kemajuan teknologi, tetapi juga oleh kerusakan ekologis yang masif. Deforestasi, pencemaran, krisis iklim—semuanya menunjukkan adanya keterputusan antara manusia dan alam. Kita hidup di era di mana bumi diperlakukan sebagai komoditas, bukan sebagai ibu.

Di sinilah relevansi pemikiran David R. Hawkins menjadi menarik. Melalui konsep Map of Consciousness, Hawkins menjelaskan bahwa perilaku manusia sangat ditentukan oleh tingkat kesadarannya. Kesadaran rendah menghasilkan tindakan destruktif, sementara kesadaran tinggi melahirkan harmoni.

Eksploitasi alam bukan semata masalah ekonomi atau politik, tetapi cerminan dari tingkat kesadaran manusia.

Peta Kesadaran Hawkins: Membaca Krisis Ekologis

Dalam peta kesadaran Hawkins, terdapat spektrum dari level terendah seperti shame (malu) dan guilt (rasa bersalah), hingga level tertinggi seperti love, joy, dan enlightenment.

Jika kita refleksikan, eksploitasi terhadap bumi sering lahir dari kesadaran di bawah level 200—wilayah force. Di sini manusia digerakkan oleh ketakutan, keserakahan, dan keinginan menguasai. Alam dilihat sebagai sesuatu yang harus ditaklukkan.

Sebaliknya, pada level di atas 200—wilayah power—muncul kesadaran bahwa manusia adalah bagian dari keseluruhan. Pada level love (500), bumi tidak lagi dipandang sebagai sumber daya, tetapi sebagai ibu yang harus dicintai. Pada level enlightenment, tidak ada lagi dualitas antara manusia dan alam—keduanya adalah satu kesatuan kesadaran.

Dengan demikian, krisis lingkungan sesungguhnya adalah krisis kesadaran.

Dari Force ke Power: Transformasi Kesadaran

Perubahan kebijakan lingkungan penting, tetapi tidak cukup. Transformasi sejati harus dimulai dari kesadaran individu. Dalam perspektif Hawkins, perubahan dunia tidak terjadi melalui paksaan (force), tetapi melalui peningkatan kesadaran (power).

Sanātana Dharma telah lama mengajarkan prinsip ini melalui konsep ahimsa (tanpa kekerasan) dan dharma (kebenaran kosmis). Merusak bumi berarti melanggar dharma. Sebaliknya, menjaga alam adalah bentuk keselarasan dengan hukum semesta.

Ketika seseorang mulai melihat bumi sebagai ibu, secara alami perilakunya berubah. Ia tidak lagi membuang sampah sembarangan, tidak mengeksploitasi berlebihan, dan mulai hidup selaras dengan alam. Ini bukan karena aturan, tetapi karena kesadaran.

Spiritualitas Ekologis: Jalan ke Dalam

Dalam banyak ajaran spiritual, termasuk yang diajarkan oleh tokoh seperti Guruji Anand Krishna, perjalanan sejati adalah perjalanan ke dalam diri. Ketika manusia mengenal dirinya, ia juga mengenal keterhubungannya dengan alam.

Kesadaran ekologis bukan sekadar aktivisme luar, tetapi buah dari transformasi batin. Ketika batin penuh dengan kedamaian, ia tidak akan merusak. Ketika hati dipenuhi cinta, ia akan melindungi.

Di sinilah konsep “Ibu Pertiwi” menemukan relevansinya kembali. Ia bukan hanya simbol budaya, tetapi pintu masuk menuju kesadaran yang lebih tinggi.

Refleksi untuk Indonesia: Kearifan Lokal dan Tantangan Global

Indonesia memiliki kekayaan kearifan lokal yang luar biasa dalam memandang alam. Dari Tri Hita Karana di Bali hingga berbagai tradisi adat di Nusantara, semuanya menekankan harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan.

Namun, modernisasi sering kali mengikis kesadaran ini. Kita mengadopsi sistem ekonomi global tanpa sepenuhnya menyaring nilai-nilainya. Akibatnya, kita terjebak dalam pola eksploitasi yang sama.

Jika dikaitkan dengan peta Hawkins, ini menunjukkan adanya tarik-menarik antara kesadaran lama (berbasis harmoni) dan kesadaran baru (berbasis dominasi). Tantangan kita adalah menaikkan level kesadaran kolektif tanpa kehilangan akar budaya.

Hari Bumi: Ritual atau Kesadaran?

Peringatan Hari Bumi setiap 22 April sering kali menjadi seremonial. Penanaman pohon, kampanye lingkungan, dan slogan-slogan hijau bermunculan. Namun tanpa perubahan kesadaran, semua itu berisiko menjadi simbol tanpa substansi.

Sanātana Dharma mengajarkan bahwa setiap tindakan harus dilandasi kesadaran. Menanam satu pohon dengan cinta lebih bermakna daripada seribu pohon tanpa kesadaran.

Dalam kerangka Hawkins, kualitas kesadaran menentukan dampak tindakan. Tindakan kecil yang lahir dari cinta memiliki energi yang lebih besar daripada tindakan besar yang lahir dari ego.

Menuju Kesadaran Ilahi: Bumi sebagai Guru

Pada akhirnya, bumi bukan hanya ibu, tetapi juga guru. Ia mengajarkan keseimbangan, kesabaran, dan keberlanjutan. Ia memberi tanpa pamrih, tetapi juga memiliki hukum yang tidak bisa dilanggar tanpa konsekuensi.

Ketika manusia naik ke level kesadaran yang lebih tinggi, ia tidak lagi melihat bumi sebagai “yang lain”. Ia melihat dirinya dalam bumi, dan bumi dalam dirinya.

Inilah yang dalam Sanātana Dharma disebut sebagai kesadaran non-dualitas—kesadaran bahwa semua adalah satu.

Kembali Menjadi Anak

Mungkin solusi terbesar bagi krisis ekologis bukanlah teknologi canggih, tetapi kesederhanaan kesadaran: kembali menjadi anak yang mencintai ibunya.

“Ibu Pertiwi” bukan sekadar istilah. Ia adalah panggilan untuk mengingat kembali siapa kita. Dalam bahasa David R. Hawkins, ini adalah perjalanan dari force menuju power, dari ego menuju cinta, dari keterpisahan menuju kesatuan.

Dan dalam bahasa Sanātana Dharma, ini adalah perjalanan Back to Dharma—kembali kepada dharma, kembali kepada ibu, kembali kepada kesadaran ilahi. [T]

Tags: bumiibusanatana dharma
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

Next Post

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co