6 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
April 22, 2026
in Esai
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

Ilustrasi tatkala.co | Canva

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi Devi menempatkan bumi sebagai manifestasi ilahi yang menopang seluruh kehidupan. Dalam Atharva Veda tertulis: Mātā Bhūmiḥ Putro’ham Pṛthivyāḥ—bumi adalah ibu, manusia adalah anaknya.

Ungkapan “Ibu Pertiwi” yang hidup dalam budaya Nusantara bukan sekadar metafora puitis, melainkan refleksi kesadaran spiritual yang mendalam. Kata Pertiwi sendiri berakar dari Prithvi, yang berarti bumi sebagai entitas yang menopang kehidupan. Dalam konteks ini, hubungan manusia dengan alam bukanlah relasi utilitarian, tetapi relasi eksistensial—relasi anak dan ibu.

Namun pertanyaannya: jika bumi adalah ibu, mengapa manusia justru merusaknya?

Paradoks Modern: Anak yang Melukai Ibu

Peradaban modern ditandai oleh kemajuan teknologi, tetapi juga oleh kerusakan ekologis yang masif. Deforestasi, pencemaran, krisis iklim—semuanya menunjukkan adanya keterputusan antara manusia dan alam. Kita hidup di era di mana bumi diperlakukan sebagai komoditas, bukan sebagai ibu.

Di sinilah relevansi pemikiran David R. Hawkins menjadi menarik. Melalui konsep Map of Consciousness, Hawkins menjelaskan bahwa perilaku manusia sangat ditentukan oleh tingkat kesadarannya. Kesadaran rendah menghasilkan tindakan destruktif, sementara kesadaran tinggi melahirkan harmoni.

Eksploitasi alam bukan semata masalah ekonomi atau politik, tetapi cerminan dari tingkat kesadaran manusia.

Peta Kesadaran Hawkins: Membaca Krisis Ekologis

Dalam peta kesadaran Hawkins, terdapat spektrum dari level terendah seperti shame (malu) dan guilt (rasa bersalah), hingga level tertinggi seperti love, joy, dan enlightenment.

Jika kita refleksikan, eksploitasi terhadap bumi sering lahir dari kesadaran di bawah level 200—wilayah force. Di sini manusia digerakkan oleh ketakutan, keserakahan, dan keinginan menguasai. Alam dilihat sebagai sesuatu yang harus ditaklukkan.

Sebaliknya, pada level di atas 200—wilayah power—muncul kesadaran bahwa manusia adalah bagian dari keseluruhan. Pada level love (500), bumi tidak lagi dipandang sebagai sumber daya, tetapi sebagai ibu yang harus dicintai. Pada level enlightenment, tidak ada lagi dualitas antara manusia dan alam—keduanya adalah satu kesatuan kesadaran.

Dengan demikian, krisis lingkungan sesungguhnya adalah krisis kesadaran.

Dari Force ke Power: Transformasi Kesadaran

Perubahan kebijakan lingkungan penting, tetapi tidak cukup. Transformasi sejati harus dimulai dari kesadaran individu. Dalam perspektif Hawkins, perubahan dunia tidak terjadi melalui paksaan (force), tetapi melalui peningkatan kesadaran (power).

Sanātana Dharma telah lama mengajarkan prinsip ini melalui konsep ahimsa (tanpa kekerasan) dan dharma (kebenaran kosmis). Merusak bumi berarti melanggar dharma. Sebaliknya, menjaga alam adalah bentuk keselarasan dengan hukum semesta.

Ketika seseorang mulai melihat bumi sebagai ibu, secara alami perilakunya berubah. Ia tidak lagi membuang sampah sembarangan, tidak mengeksploitasi berlebihan, dan mulai hidup selaras dengan alam. Ini bukan karena aturan, tetapi karena kesadaran.

Spiritualitas Ekologis: Jalan ke Dalam

Dalam banyak ajaran spiritual, termasuk yang diajarkan oleh tokoh seperti Guruji Anand Krishna, perjalanan sejati adalah perjalanan ke dalam diri. Ketika manusia mengenal dirinya, ia juga mengenal keterhubungannya dengan alam.

Kesadaran ekologis bukan sekadar aktivisme luar, tetapi buah dari transformasi batin. Ketika batin penuh dengan kedamaian, ia tidak akan merusak. Ketika hati dipenuhi cinta, ia akan melindungi.

Di sinilah konsep “Ibu Pertiwi” menemukan relevansinya kembali. Ia bukan hanya simbol budaya, tetapi pintu masuk menuju kesadaran yang lebih tinggi.

Refleksi untuk Indonesia: Kearifan Lokal dan Tantangan Global

Indonesia memiliki kekayaan kearifan lokal yang luar biasa dalam memandang alam. Dari Tri Hita Karana di Bali hingga berbagai tradisi adat di Nusantara, semuanya menekankan harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan.

Namun, modernisasi sering kali mengikis kesadaran ini. Kita mengadopsi sistem ekonomi global tanpa sepenuhnya menyaring nilai-nilainya. Akibatnya, kita terjebak dalam pola eksploitasi yang sama.

Jika dikaitkan dengan peta Hawkins, ini menunjukkan adanya tarik-menarik antara kesadaran lama (berbasis harmoni) dan kesadaran baru (berbasis dominasi). Tantangan kita adalah menaikkan level kesadaran kolektif tanpa kehilangan akar budaya.

Hari Bumi: Ritual atau Kesadaran?

Peringatan Hari Bumi setiap 22 April sering kali menjadi seremonial. Penanaman pohon, kampanye lingkungan, dan slogan-slogan hijau bermunculan. Namun tanpa perubahan kesadaran, semua itu berisiko menjadi simbol tanpa substansi.

Sanātana Dharma mengajarkan bahwa setiap tindakan harus dilandasi kesadaran. Menanam satu pohon dengan cinta lebih bermakna daripada seribu pohon tanpa kesadaran.

Dalam kerangka Hawkins, kualitas kesadaran menentukan dampak tindakan. Tindakan kecil yang lahir dari cinta memiliki energi yang lebih besar daripada tindakan besar yang lahir dari ego.

Menuju Kesadaran Ilahi: Bumi sebagai Guru

Pada akhirnya, bumi bukan hanya ibu, tetapi juga guru. Ia mengajarkan keseimbangan, kesabaran, dan keberlanjutan. Ia memberi tanpa pamrih, tetapi juga memiliki hukum yang tidak bisa dilanggar tanpa konsekuensi.

Ketika manusia naik ke level kesadaran yang lebih tinggi, ia tidak lagi melihat bumi sebagai “yang lain”. Ia melihat dirinya dalam bumi, dan bumi dalam dirinya.

Inilah yang dalam Sanātana Dharma disebut sebagai kesadaran non-dualitas—kesadaran bahwa semua adalah satu.

Kembali Menjadi Anak

Mungkin solusi terbesar bagi krisis ekologis bukanlah teknologi canggih, tetapi kesederhanaan kesadaran: kembali menjadi anak yang mencintai ibunya.

“Ibu Pertiwi” bukan sekadar istilah. Ia adalah panggilan untuk mengingat kembali siapa kita. Dalam bahasa David R. Hawkins, ini adalah perjalanan dari force menuju power, dari ego menuju cinta, dari keterpisahan menuju kesatuan.

Dan dalam bahasa Sanātana Dharma, ini adalah perjalanan Back to Dharma—kembali kepada dharma, kembali kepada ibu, kembali kepada kesadaran ilahi. [T]

Tags: bumiibusanatana dharma
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

Next Post

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co