4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Janji-janji Jepang’

Angga Wijaya by Angga Wijaya
April 23, 2026
in Esai
‘Janji-janji Jepang’

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba saja muncul kata atau istilah lama yang dulu sering kita dengar dari orang tua. Salah satunya adalah ungkapan janji-janji Jepang. Dulu, kalimat itu sering diucapkan dengan nada setengah bercanda, setengah menyindir. Biasanya keluar saat seseorang dianggap tidak menepati janji.

Waktu kecil, saya tidak terlalu memikirkan maknanya. Saya hanya tahu, kalau seseorang disebut begitu, artinya dia tidak bisa dipercaya. Tapi semakin ke sini, saya mulai memahami bahwa istilah itu tidak muncul begitu saja. Ia lahir dari pengalaman sejarah yang panjang, dari masa ketika janji digunakan sebagai alat untuk menenangkan, bahkan mengendalikan.

Konon, pada masa pendudukan Jepang, janji kemerdekaan untuk Indonesia beberapa kali diucapkan. Janji itu seperti harapan yang terus digantung. Rakyat diminta percaya, menunggu, dan bersabar. Namun kenyataannya, janji itu tidak segera ditepati. Dari situ, lahirlah istilah yang kemudian hidup sampai sekarang. Janji-janji Jepang bukan lagi soal Jepang, tetapi soal kebiasaan mengumbar janji tanpa kepastian.

Menariknya, istilah ini masih relevan sampai hari ini. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari kita, praktik seperti itu masih sering terjadi. Bukan dalam konteks besar seperti kemerdekaan, tetapi dalam hal-hal kecil yang justru dekat dengan kita. Di lingkungan kerja, di pertemanan, bahkan dalam urusan sederhana sekalipun.

Saya sering menemukan situasi seperti ini. Ada pekerjaan yang sudah disepakati, bahkan sudah dibicarakan dengan serius. Kadang juga sudah dituangkan dalam bentuk tertulis, lengkap dengan tanda tangan dan materai. Semua terlihat rapi dan meyakinkan. Namun pada praktiknya, salah satu pihak tidak menjalankan apa yang sudah disepakati.

Lebih sederhana lagi, dalam komunikasi sehari-hari. Kita sering menerima jawaban seperti siap, aman, atau nanti saya kerjakan. Kata-kata itu terdengar meyakinkan. Bahkan kadang membuat kita tenang. Tapi ketika waktu berjalan, pekerjaan itu tidak kunjung selesai. Saat ditanya kembali, jawabannya berubah, atau malah menghindar.

Di titik ini, masalahnya bukan lagi soal pekerjaan yang belum selesai. Masalahnya adalah kepercayaan yang mulai terkikis. Karena setiap janji yang tidak ditepati, sekecil apa pun, akan meninggalkan jejak.

Saya melihat ada kebiasaan yang cukup umum terjadi. Kita terlalu mudah mengatakan “ya”, terlalu cepat menyanggupi sesuatu, tanpa benar-benar mempertimbangkan apakah kita mampu melakukannya atau tidak. Seolah-olah mengatakan tidak adalah sesuatu yang tabu, sesuatu yang memalukan.

Padahal, dalam banyak kasus, mengatakan tidak justru lebih jujur. Mengatakan belum bisa jauh lebih bertanggung jawab daripada mengatakan siap tetapi tidak dikerjakan. Namun entah kenapa, kita lebih takut terlihat tidak mampu daripada benar-benar gagal.

Ini mungkin berkaitan dengan cara kita memandang profesionalisme. Banyak orang mengira bahwa profesional berarti selalu siap, bisa, dan selalu cepat. Akibatnya, kita memaksakan diri untuk terlihat seperti itu. Kita ingin memberi kesan bahwa kita bisa diandalkan dalam segala situasi.

Padahal profesionalisme bukan soal selalu mengatakan “ya”. Profesionalisme justru soal kejelasan dan kejujuran. Jika memang tidak bisa, katakan sejak awal. Jika butuh waktu, sampaikan dengan jelas. Dengan begitu, orang lain bisa menyesuaikan ekspektasi.

Dalam pengalaman saya sebagai wartawan, hal seperti ini sering terjadi. Janji narasumber untuk memberikan data yang tidak kunjung dikirim, janji untuk wawancara yang terus ditunda, atau juga janji untuk memberikan klarifikasi yang akhirnya tidak pernah datang. Semua itu membuat pekerjaan menjadi terhambat.

Yang lebih sulit adalah ketika kita harus terus mengejar. Menghubungi berulang kali, mengingatkan, bahkan kadang merasa tidak enak sendiri. Padahal di awal, pihak tersebut yang mengatakan siap. Di sini terlihat bahwa satu kata bisa membawa konsekuensi panjang.

Hal yang sama juga terjadi dalam hubungan kerja. Ada tugas yang sudah dibagi, sudah disepakati. Namun karena satu orang tidak menjalankan bagiannya, pekerjaan yang lain ikut tertunda. Akhirnya, orang lain yang harus menanggung akibatnya.

Situasi seperti ini sebenarnya bisa dihindari jika ada komunikasi yang jujur. Jika sejak awal seseorang mengatakan bahwa ia sedang sibuk atau belum bisa mengerjakan, tentu pembagian tugas bisa diatur ulang. Tapi karena ingin terlihat mampu, akhirnya semua jadi berantakan.

Saya tidak mengatakan bahwa semua orang yang tidak menepati janji itu tidak bertanggung jawab. Ada banyak faktor yang bisa memengaruhi. Bisa jadi memang ada kendala, ada perubahan situasi, atau hal lain yang tidak terduga. Namun yang menjadi masalah adalah ketika tidak ada komunikasi.

Diam seringkali menjadi pilihan yang salah. Karena diam membuat orang lain menunggu tanpa kepastian. Dan menunggu tanpa kepastian adalah hal yang melelahkan. Lebih baik menerima kenyataan bahwa pekerjaan belum selesai daripada tidak tahu sama sekali.

Kejujuran memang tidak selalu nyaman. Mengakui bahwa kita belum mengerjakan sesuatu bisa terasa berat. Apalagi jika sebelumnya kita sudah mengatakan siap. Tapi justru di situlah letak tanggung jawab kita. Bukan pada kesempurnaan hasil, tetapi pada kejelasan proses.

Saya juga pernah berada di posisi itu. Pernah mengatakan siap, tetapi ternyata tidak bisa menyelesaikan tepat waktu. Dan saya belajar, yang paling sulit bukan menyelesaikan pekerjaan, tetapi mengakui keterlambatan. Ada rasa tidak enak, ada rasa bersalah. Namun ketika akhirnya disampaikan dengan jujur, situasinya justru menjadi lebih baik.

Dari situ saya mulai memahami bahwa kepercayaan tidak dibangun dari kesempurnaan, tetapi dari konsistensi. Orang tidak akan menuntut kita selalu benar, tetapi mereka akan menghargai jika kita jujur. Karena dari kejujuran itu, mereka tahu bagaimana harus bersikap.

Ungkapan janji-janji Jepang akhirnya terasa seperti pengingat yang sederhana. Ia mengingatkan bahwa kebiasaan mengumbar janji sudah lama ada. Dan jika kita tidak hati-hati, kita bisa menjadi bagian dari kebiasaan itu.

Di tengah kehidupan yang semakin cepat, kita memang dituntut untuk responsif. Pesan harus cepat dibalas, pekerjaan harus segera diselesaikan. Namun kecepatan tidak boleh mengorbankan kejelasan. Lebih baik lambat tetapi pasti, daripada cepat tetapi tidak jelas.

Saya sering berpikir, mungkin kita perlu mengubah kebiasaan kecil dalam komunikasi. Tidak langsung menjawab siap sebelum benar-benar memastikan. Memberi jeda untuk berpikir. Menimbang apakah kita punya waktu dan kemampuan untuk menyelesaikan tugas tersebut.

Jika jawabannya belum, tidak apa-apa untuk mengatakan belum. Itu bukan tanda kelemahan. Justru itu menunjukkan bahwa kita memahami batas diri. Dan orang lain biasanya bisa menerima itu, selama disampaikan dengan baik.

Dalam jangka panjang, sikap seperti ini akan lebih dihargai. Karena orang tahu bahwa ketika kita mengatakan ya, itu benar-benar ya. Bukan sekadar kata untuk menyenangkan atau menghindari percakapan.

Kepercayaan adalah hal yang pelan-pelan dibangun. Ia tidak datang dari satu tindakan besar, tetapi dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus. Menepati janji, sekecil apa pun, adalah bagian dari itu.

Sebaliknya, mengingkari janji, meskipun terlihat sepele, bisa merusak banyak hal. Bukan hanya hubungan kerja, tetapi juga hubungan personal. Karena pada akhirnya, orang akan menilai kita dari apa yang kita lakukan, bukan dari apa yang kita katakan.

Ungkapan lama itu mungkin terdengar sederhana. Namun jika dipikirkan, ia menyimpan kritik yang tajam. Ia mengingatkan bahwa janji bukan sekadar kata. Ia adalah komitmen. Dan setiap komitmen memiliki konsekuensi.

Hari ini, ketika kita mendengar atau bahkan mengucapkan ungkapan itu, mungkin kita bisa berhenti sejenak. Bukan untuk menertawakan orang lain, tetapi untuk melihat diri sendiri. Apakah kita sudah cukup jujur dalam berjanji, apakah kita sudah cukup bertanggung jawab dalam menepati.

Perubahan tidak harus dimulai dari hal besar. Cukup dari kebiasaan kecil. Dari cara kita merespons pesan. Dari cara kita menyampaikan kesanggupan. Dari cara kita mengakui keterlambatan.

Karena pada akhirnya, yang membuat kita dipercaya bukanlah seberapa sering kita berkata siap, tetapi seberapa sering kita benar-benar menyelesaikan apa yang sudah kita janjikan.

Dan mungkin, jika kebiasaan ini mulai berubah, ungkapan janji-janji Jepang perlahan akan kehilangan relevansinya. Bukan karena kita melupakannya, tetapi karena kita tidak lagi mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

Next Post

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co