14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Janji-janji Jepang’

Angga Wijaya by Angga Wijaya
April 23, 2026
in Esai
‘Janji-janji Jepang’

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba saja muncul kata atau istilah lama yang dulu sering kita dengar dari orang tua. Salah satunya adalah ungkapan janji-janji Jepang. Dulu, kalimat itu sering diucapkan dengan nada setengah bercanda, setengah menyindir. Biasanya keluar saat seseorang dianggap tidak menepati janji.

Waktu kecil, saya tidak terlalu memikirkan maknanya. Saya hanya tahu, kalau seseorang disebut begitu, artinya dia tidak bisa dipercaya. Tapi semakin ke sini, saya mulai memahami bahwa istilah itu tidak muncul begitu saja. Ia lahir dari pengalaman sejarah yang panjang, dari masa ketika janji digunakan sebagai alat untuk menenangkan, bahkan mengendalikan.

Konon, pada masa pendudukan Jepang, janji kemerdekaan untuk Indonesia beberapa kali diucapkan. Janji itu seperti harapan yang terus digantung. Rakyat diminta percaya, menunggu, dan bersabar. Namun kenyataannya, janji itu tidak segera ditepati. Dari situ, lahirlah istilah yang kemudian hidup sampai sekarang. Janji-janji Jepang bukan lagi soal Jepang, tetapi soal kebiasaan mengumbar janji tanpa kepastian.

Menariknya, istilah ini masih relevan sampai hari ini. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari kita, praktik seperti itu masih sering terjadi. Bukan dalam konteks besar seperti kemerdekaan, tetapi dalam hal-hal kecil yang justru dekat dengan kita. Di lingkungan kerja, di pertemanan, bahkan dalam urusan sederhana sekalipun.

Saya sering menemukan situasi seperti ini. Ada pekerjaan yang sudah disepakati, bahkan sudah dibicarakan dengan serius. Kadang juga sudah dituangkan dalam bentuk tertulis, lengkap dengan tanda tangan dan materai. Semua terlihat rapi dan meyakinkan. Namun pada praktiknya, salah satu pihak tidak menjalankan apa yang sudah disepakati.

Lebih sederhana lagi, dalam komunikasi sehari-hari. Kita sering menerima jawaban seperti siap, aman, atau nanti saya kerjakan. Kata-kata itu terdengar meyakinkan. Bahkan kadang membuat kita tenang. Tapi ketika waktu berjalan, pekerjaan itu tidak kunjung selesai. Saat ditanya kembali, jawabannya berubah, atau malah menghindar.

Di titik ini, masalahnya bukan lagi soal pekerjaan yang belum selesai. Masalahnya adalah kepercayaan yang mulai terkikis. Karena setiap janji yang tidak ditepati, sekecil apa pun, akan meninggalkan jejak.

Saya melihat ada kebiasaan yang cukup umum terjadi. Kita terlalu mudah mengatakan “ya”, terlalu cepat menyanggupi sesuatu, tanpa benar-benar mempertimbangkan apakah kita mampu melakukannya atau tidak. Seolah-olah mengatakan tidak adalah sesuatu yang tabu, sesuatu yang memalukan.

Padahal, dalam banyak kasus, mengatakan tidak justru lebih jujur. Mengatakan belum bisa jauh lebih bertanggung jawab daripada mengatakan siap tetapi tidak dikerjakan. Namun entah kenapa, kita lebih takut terlihat tidak mampu daripada benar-benar gagal.

Ini mungkin berkaitan dengan cara kita memandang profesionalisme. Banyak orang mengira bahwa profesional berarti selalu siap, bisa, dan selalu cepat. Akibatnya, kita memaksakan diri untuk terlihat seperti itu. Kita ingin memberi kesan bahwa kita bisa diandalkan dalam segala situasi.

Padahal profesionalisme bukan soal selalu mengatakan “ya”. Profesionalisme justru soal kejelasan dan kejujuran. Jika memang tidak bisa, katakan sejak awal. Jika butuh waktu, sampaikan dengan jelas. Dengan begitu, orang lain bisa menyesuaikan ekspektasi.

Dalam pengalaman saya sebagai wartawan, hal seperti ini sering terjadi. Janji narasumber untuk memberikan data yang tidak kunjung dikirim, janji untuk wawancara yang terus ditunda, atau juga janji untuk memberikan klarifikasi yang akhirnya tidak pernah datang. Semua itu membuat pekerjaan menjadi terhambat.

Yang lebih sulit adalah ketika kita harus terus mengejar. Menghubungi berulang kali, mengingatkan, bahkan kadang merasa tidak enak sendiri. Padahal di awal, pihak tersebut yang mengatakan siap. Di sini terlihat bahwa satu kata bisa membawa konsekuensi panjang.

Hal yang sama juga terjadi dalam hubungan kerja. Ada tugas yang sudah dibagi, sudah disepakati. Namun karena satu orang tidak menjalankan bagiannya, pekerjaan yang lain ikut tertunda. Akhirnya, orang lain yang harus menanggung akibatnya.

Situasi seperti ini sebenarnya bisa dihindari jika ada komunikasi yang jujur. Jika sejak awal seseorang mengatakan bahwa ia sedang sibuk atau belum bisa mengerjakan, tentu pembagian tugas bisa diatur ulang. Tapi karena ingin terlihat mampu, akhirnya semua jadi berantakan.

Saya tidak mengatakan bahwa semua orang yang tidak menepati janji itu tidak bertanggung jawab. Ada banyak faktor yang bisa memengaruhi. Bisa jadi memang ada kendala, ada perubahan situasi, atau hal lain yang tidak terduga. Namun yang menjadi masalah adalah ketika tidak ada komunikasi.

Diam seringkali menjadi pilihan yang salah. Karena diam membuat orang lain menunggu tanpa kepastian. Dan menunggu tanpa kepastian adalah hal yang melelahkan. Lebih baik menerima kenyataan bahwa pekerjaan belum selesai daripada tidak tahu sama sekali.

Kejujuran memang tidak selalu nyaman. Mengakui bahwa kita belum mengerjakan sesuatu bisa terasa berat. Apalagi jika sebelumnya kita sudah mengatakan siap. Tapi justru di situlah letak tanggung jawab kita. Bukan pada kesempurnaan hasil, tetapi pada kejelasan proses.

Saya juga pernah berada di posisi itu. Pernah mengatakan siap, tetapi ternyata tidak bisa menyelesaikan tepat waktu. Dan saya belajar, yang paling sulit bukan menyelesaikan pekerjaan, tetapi mengakui keterlambatan. Ada rasa tidak enak, ada rasa bersalah. Namun ketika akhirnya disampaikan dengan jujur, situasinya justru menjadi lebih baik.

Dari situ saya mulai memahami bahwa kepercayaan tidak dibangun dari kesempurnaan, tetapi dari konsistensi. Orang tidak akan menuntut kita selalu benar, tetapi mereka akan menghargai jika kita jujur. Karena dari kejujuran itu, mereka tahu bagaimana harus bersikap.

Ungkapan janji-janji Jepang akhirnya terasa seperti pengingat yang sederhana. Ia mengingatkan bahwa kebiasaan mengumbar janji sudah lama ada. Dan jika kita tidak hati-hati, kita bisa menjadi bagian dari kebiasaan itu.

Di tengah kehidupan yang semakin cepat, kita memang dituntut untuk responsif. Pesan harus cepat dibalas, pekerjaan harus segera diselesaikan. Namun kecepatan tidak boleh mengorbankan kejelasan. Lebih baik lambat tetapi pasti, daripada cepat tetapi tidak jelas.

Saya sering berpikir, mungkin kita perlu mengubah kebiasaan kecil dalam komunikasi. Tidak langsung menjawab siap sebelum benar-benar memastikan. Memberi jeda untuk berpikir. Menimbang apakah kita punya waktu dan kemampuan untuk menyelesaikan tugas tersebut.

Jika jawabannya belum, tidak apa-apa untuk mengatakan belum. Itu bukan tanda kelemahan. Justru itu menunjukkan bahwa kita memahami batas diri. Dan orang lain biasanya bisa menerima itu, selama disampaikan dengan baik.

Dalam jangka panjang, sikap seperti ini akan lebih dihargai. Karena orang tahu bahwa ketika kita mengatakan ya, itu benar-benar ya. Bukan sekadar kata untuk menyenangkan atau menghindari percakapan.

Kepercayaan adalah hal yang pelan-pelan dibangun. Ia tidak datang dari satu tindakan besar, tetapi dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus. Menepati janji, sekecil apa pun, adalah bagian dari itu.

Sebaliknya, mengingkari janji, meskipun terlihat sepele, bisa merusak banyak hal. Bukan hanya hubungan kerja, tetapi juga hubungan personal. Karena pada akhirnya, orang akan menilai kita dari apa yang kita lakukan, bukan dari apa yang kita katakan.

Ungkapan lama itu mungkin terdengar sederhana. Namun jika dipikirkan, ia menyimpan kritik yang tajam. Ia mengingatkan bahwa janji bukan sekadar kata. Ia adalah komitmen. Dan setiap komitmen memiliki konsekuensi.

Hari ini, ketika kita mendengar atau bahkan mengucapkan ungkapan itu, mungkin kita bisa berhenti sejenak. Bukan untuk menertawakan orang lain, tetapi untuk melihat diri sendiri. Apakah kita sudah cukup jujur dalam berjanji, apakah kita sudah cukup bertanggung jawab dalam menepati.

Perubahan tidak harus dimulai dari hal besar. Cukup dari kebiasaan kecil. Dari cara kita merespons pesan. Dari cara kita menyampaikan kesanggupan. Dari cara kita mengakui keterlambatan.

Karena pada akhirnya, yang membuat kita dipercaya bukanlah seberapa sering kita berkata siap, tetapi seberapa sering kita benar-benar menyelesaikan apa yang sudah kita janjikan.

Dan mungkin, jika kebiasaan ini mulai berubah, ungkapan janji-janji Jepang perlahan akan kehilangan relevansinya. Bukan karena kita melupakannya, tetapi karena kita tidak lagi mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

Next Post

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails
Next Post
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co