TIGA buku terbaru menjadi pokok soal diskusi malam itu diselenggarakan Toko Buku Partikular di Pasar Suci, Denpasar, Sabtu, 28 Maret 2026. Wayan Jengki Sunarta membahas antologi puisi Dalam Hologram Kafka karya Triyanto Triwikromo, Isnan Waluyo membedah buku (R)Esensi Maniak karya Hernadi Tanzil dan buku Lintas Albania, Swiss dan Negara Lain karya Sigit Susanto dibahas oleh Novy Rainy.
Menjelang diskusi Sigit Susanto, penulis empat buku catatan perjalanan yang akhir-akhir ini bereksperimen menggelar pertunjukan wayang kulit mengangkat Metamorfosis karya Franz Kafka, sastrawan dari Ceko yang karyanya menjadi salah satu fondasi sastra modern.
Sigit tampil dengan meyakinkan, mengenakan setelan dalang, baju bermotif garis-garis (surjan lurik) dipadukan dengan kain sarung dan blangkon. Ia nampak berwibawa.
Dia menarasikan Metamorfosis yang aslinya berbahasa Jerman ke dalam bahasa Indonesia. Tangannya meraih beberapa tokoh dari Metamorfosis yang tergeletak di lantai, menggerakkan wayang, mengatur irama dan emosi. Namun, sayang sekali, audio yang keluar dari speaker terputus-putus dan hiruk-pikuk lalu lintas dari jalan raya, menghambat audien mendengarkan narasi dengan seksama. Namun tampilan pagelaran wayang tanpa layar (kelir) yang minimalis itu cukup menghangatkan sekitar limapuluhan audien lintas generasi.

Sesi diskusi dipandu oleh Juli Sastrawan, penulis, peneliti dan pengelola toko buku Partikular. Novy Rainy yang mempunyai latar belakang menekuni sastra Jepang, memaparkan bahwa buku catatan perjalanan Lintas Albania, Swiss dan Negara Lain cukup menarik dikaji. Sigit sebagai penulis begitu cermat memberi insight dari perjalanannya. Ia menulis di notes situasi yang diamati di tempat kejadian. Khususnya catatan perihal kehidupan masyarakat, mulai dari perilaku dan latar belakang sejarah. Khususnya, karya dan kehidupan para penulis setempat.
Rainy, antara lain, menyoroti negara Albania, yang diperintah rejim komunis. Ada titik persinggungan antara Albania dan Indonesia. Warga Negara Indonesia (WNI) yang eksil di Albania adalah bagian dari kelompok intelektual dan mahasiswa yang dikirim untuk belajar di negara-negara sosialis/komunis pada awal 1960-an. Setelah peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965, mereka menjadi eksil karena tidak bersedia mendukung pemerintahan Orde Baru yang menggulingkan Presiden Sukarno, yang mengakibatkan paspor mereka dicabut dan kehilangan status kewarganegaraan Indonesia (stateless).
Sedangkan pembacaan dekat Jengki atas Dalam Hologram Kafka memandang Triyanto sebagai penyair begitu playful menulis puisi dalam pelbagai bentuk. Dari puisi suasana hingga bentuk puisi mantra. Disamping itu, ikhtiar sang penyair memahami kehidupan Kafka, dengan mengunjungi setiap tempat di dua kota Berlin dan Praha, yang menjadi situs penting dalam perjalanan kreatif Kafka. Namun, Triyanto menurut Jengki, tidak sekadar mengangkat biografi Kafka yang penuh enigma menjadi ringkasan yang memuaskan pembaca. Justru antologi puisi ini menantang pembaca untuk mencerna pokok soal yang sulit dari sosok Kafka. Namun, di atas segalanya, seperti pesan Triyanto bahwa pembaca bebas menafsirkan kompleksitas puisi-puisi yang ditulisnya dengan rasa.
Suatu hal yang diluar kelaziman malam itu adalah mendiskusikan kumpulan resensi buku yang awalnya ditulis di blog. Hernadi Tanzil, bibliofil yang bekerja di bidang akuntansi dan keuangan pada sebuah perusahaan kertas di Bandung. Tanzil dengan energi terjaga telah menulis ratusan resensi buku, dengan pelbagai tema, baik buku-buku baru hingga buku-buku lawas.
Isnan Waluyo, sebagai penggiat literasi memandang pilihan Tanzil dalam meresensi buku-buku itu seperti sebuah rangkuman sejarah. Dan hal itu dituliskan di blog, yang berbeda dengan tulisan rensensi buku di media mainstream, seperti koran dan majalah. Tanzil bebas menentukan pilihan buku dan merdeka dalam memberi penilaian atas buku-buku yang dibacanya.
Tanzil meresensi beberapa buku-buku yang mengankat peristiwa pembakaran buku dalam sejarah terkait sensor dan otoritarianisme penguasa. Seperti buku Lekra Tak Membakar Buku oleh Muhidin M Dahlan dan Rhoma Dwi Aria Yuliantri.
Menurut Isnan, pembaca mendapat informasi bahwa peristiwa pembakaran buku tidak hanya dilakukan oleh penguasa saja yang ingin mengontrol opini publik, bahkan kalangan intelektual pun melakukan aksi durjana itu.
Pada sesi tanya-jawab, salah seorang audien menanyakan tentang kaitan karya Kafka dengan filsafat eksistensialisme. Jengki dan Novy menjawab dengan informasi umum, tentang tokoh-tokoh yang mengalami keterasingan, absurd dan irasional. Lebih pada kategori personal, yang mula-mula ditangkap dari eksistensialisme adalah inspirasi moralnya. Pengalaman menjadi titik berangkat penilaian dan tindakan yang dihadirkan melalui suatu personifikasi, baik dalam bentuk tokoh-tokoh karya fiksi maupun lewat sikap politik berserta drama-drama personal penulisnya. Hal-ihwal eksternal- masyarakat, sejarah, peristiwa – dibaca dari sudut pandang pilihan serta tanggung jawab individu.

Tentang Pasar Suci
Pasar Suci telah berganti rupa. Orang-orang lebih mengenalnya dengan GYS (Graha Yowana Suci). Bangunan tiga lantai yang awalnya dipenuhi penjaja kudapan kini pada petang hingga tengah malam menjadi spot nongkrong anak muda. Ada kedai kopi, toko clothing yang menjual pakaian dengan identitas, merek, atau label lokal. Disamping itu, toko buku Partikular menjadi magnet baru di Denpasar, karena menggelar pelbagai event terkait dengan buku, selain menjual buku-buku yang diterbitkan penerbit indie.
Pasar Suci tempo doeloe dikenal sebagai terminal angkutan umum di Denpasar. Pada tahun 1980an, Pasar Suci juga menjadi tempat nongkrong para penulis seperti Gerson Poyk, Umbu Landu Paranggi, Agus Vrisaba, Rudy T. Mintarto, Wayan Sumantri, Aco Manafe, dan lain-lain. Mereka nongkrong malam hari hingga menjelang pagi, tidak jauh dari rumah Jagatkarana (1952 – 1999) aktor film yang beken pada jamannya.
Di Pasar Suci bermula pedagang nasi bungkus yang kini sohor jadi nasi jenggo, karena sebagaian besar pembelinya adalah anak Pantai dari Kuta yang datang tengah malam, setelah capek disko. Mereka datang berombongan mengendarai motor trail Yamaha enduro, dengan penampilan celana jean ketat, jaket kulit dan topi laken. Kini koboi-koboi Kuta itu lenyap berganti anak-anak muda hangout dengan tampilan berbeda, dengan muatan percakapan yang berbeda pula. [T]
Penulis: Helmi Y. Haska
Editor: Adnyana Ole





























