13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

Dian Suryantini by Dian Suryantini
April 9, 2026
in Khas
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

DJ Diah di Pasar Intaran

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk. Tapi hembusannya tetap membawa aroma makanan yang bercampur dengan wangi dupa dari beberapa sudut lapak. Orang-orang datang dan pergi, ada yang sekadar berjalan santai, ada pula yang sibuk memilih jajanan atau kerajinan tangan. Namun di antara riuh rendah itu, ada satu hal yang diam-diam menarik perhatian.

Bukan dari suara pedagang. Bukan pula dari panggung pertunjukan yang biasa. Tapi, dari dentuman musik yang terdengar asing sekaligus terasa sangat akrab.

Awalnya saya kira itu hanya musik DJ seperti biasanya. Beat elektronik yang ritmis, bass yang cukup menghentak, dan tempo yang mengajak tubuh bergerak tanpa perlu berpikir panjang. Tapi beberapa detik kemudian, saya tersadar, ada sesuatu yang berbeda.

Di balik beat itu, terselip melodi yang tidak asing di telinga. Seperti potongan kenangan.

Seperti lagu masa kecil.

Dan benar saja, tak lama kemudian saya mengenalinya. Itu adalah lagu anak-anak dengan bahasa Bali. Lagu yang dulu sangat sering saya dinyanyikan di rumah, di sekolah, atau bahkan saat bermain bersama teman-teman.

Sekarang, lagu itu hadir dalam bentuk yang baru. Di balik semua itu, berdirilah seorang perempuan dengan senyum santai di balik meja DJ. Dialah Diah Krisna, atau yang lebih dikenal sebagai DJ Diah.  Lagunya ada Juru Pencar, Dadong Dauh, Ratu Anom, dan yang lainnya.

Kalau dipikir-pikir, mencampur lagu anak tradisional dengan musik DJ terdengar seperti ide yang cukup nekat. Dua dunia yang tampaknya bertolak belakang. Di satu sisi, ada lagu-lagu dolanan anak yang sederhana, lugu, dan penuh nilai budaya. Lagu-lagu yang biasanya dinyanyikan tanpa alat musik modern, bahkan sering kali hanya diiringi tepukan tangan seadanya. Di sisi lain, ada musik DJ yang identik dengan klub malam, pesta, lampu sorot, dan teknologi digital.

Tapi justru di tangan Diah, dua dunia ini tidak saling bertabrakan. Mereka malah saling melengkapi. Saya sempat memperhatikan reaksi orang-orang di sekitar. Awalnya, beberapa pengunjung terlihat biasa saja. Mereka mendengar musik itu seperti mendengar musik latar pada umumnya. Tapi perlahan, ekspresi mereka berubah.

Ada yang tiba-tiba tersenyum kecil. Ada yang menoleh ke arah panggung. Ada yang berbisik ke temannya, seolah memastikan, “Eh, ini lagu yang itu gak sih?”

DJ Diah di Pasar Intaran

Dan yang paling menarik, beberapa orang mulai bersenandung pelan. Tanpa sadar. Tanpa direncanakan. Kepalanya turut bergoyang-goyang ringan, seolah ingatan masa kecil mereka sedang dipanggil kembali, tapi dengan cara yang berbeda.

Saya kemudian mendekat ke area panggung kecil tempat Diah tampil. Tidak ada kesan panggung besar atau pertunjukan yang megah. Justru sebaliknya, suasananya terasa akrab.

Diah berdiri dengan santai. Tidak ada gaya berlebihan. Tidak ada upaya untuk terlihat wah.

Ia hanya menikmati musiknya. Putar ke kiri, putar ke kanan. Sesekali tersenyum. Sesekali mengangguk mengikuti irama. Dan yang paling terasa, ia seperti benar-benar terhubung dengan apa yang ia mainkan.

Belakangan saya tahu, perjalanan Diah dengan konsep ini tidak langsung mulus. Bahkan ia sendiri sempat ragu. Keraguan itu sebenarnya sangat masuk akal. Bayangkan saja, mengambil lagu anak-anak tradisional, yang sering dianggap kuno atau jadul, lalu membawanya ke ranah musik modern seperti DJ. Risiko ditolak tentu ada.

Apalagi audiens musik DJ biasanya punya ekspektasi tertentu. Mereka datang untuk menikmati musik yang energik, kekinian, dan mungkin global.

Lalu tiba-tiba disuguhi lagu masa kecil? Bisa jadi aneh. Bisa jadi tidak nyambung. Atau bahkan dianggap tidak serius. Tapi di situlah menariknya. Diah justru melihat sesuatu yang tidak semua orang lihat.

Menurutnya, lagu-lagu anak tradisional punya melodi yang kuat. Mudah diingat. Mudah dinyanyikan. Dan yang paling penting, punya ikatan emosional.

Diah tidak hanya mengambil lagu lalu menempelkannya ke dalam musik DJ. Ia merekam sendiri vokalnya. Ia mengolah suara itu. Ia menyesuaikan tempo, beat, dan suasana. Semua dilakukan dengan pendekatan yang cukup personal.

Saya membayangkan prosesnya seperti merangkai dua dunia yang berbeda menjadi satu kesatuan. Seperti menjahit tradisi dengan modernitas, satu per satu, hingga akhirnya menyatu.

Dan hasilnya? Ya seperti yang saya dengar sore itu. Aneh, tapi enak. Asing, tapi familiar.

Semakin lama musik itu diputar, semakin terasa dampaknya. Anak-anak kecil mulai bergerak mengikuti irama. Remaja terlihat menikmati beat-nya. Orang dewasa tersenyum karena mengenali lagunya. Bahkan beberapa orang tua tampak ikut mengangguk pelan.

Di sisi lain, generasi yang lebih tua bisa merasakan nostalgia, tapi dengan nuansa yang lebih segar. Dan semua itu terjadi secara alami. Tanpa ceramah. Tanpa paksaan. Tanpa harus dibuat formal.

Pasar Intaran sendiri memang punya karakter yang unik. Bukan sekadar pasar biasa, tapi lebih seperti ruang bertemu. Di sana, orang bisa makan, ngobrol, melihat karya, hingga menikmati pertunjukan.

Karena di ruang seperti ini, orang datang dengan pikiran yang lebih terbuka. Saya sempat duduk cukup lama di sana, hanya untuk mengamati.

Dan semakin lama, semakin terasa bahwa apa yang dilakukan Diah bukan sekadar soal musik. Ini soal cara baru melihat tradisi. Selama ini, sering kali kita berpikir bahwa melestarikan budaya harus dilakukan dengan cara yang serius.

Harus sesuai pakem. Harus seperti dulu. Harus tidak berubah. Padahal, zaman terus bergerak. Cara orang menikmati sesuatu juga berubah. Dan mungkin, justru di situlah tantangannya. Bagaimana membuat tradisi tetap hidup, tanpa harus memaksanya tetap sama.

Apa yang dilakukan Diah bisa jadi salah satu jawabannya. Tidak mengubah esensi lagu. Tidak menghilangkan identitasnya. Ia hanya mengemasnya ulang. Dengan cara yang lebih dekat dengan generasi sekarang.

Menariknya lagi, pendekatan seperti ini juga membuka peluang baru. Bayangkan jika lebih banyak seniman yang melakukan hal serupa. Bukan hanya di musik, tapi juga di bidang lain. Tari, seni rupa, teater, bahkan kuliner.

Diah masih di atas panggung kecilnya. Dan orang-orang masih menikmati. Saya melihat satu momen kecil yang cukup mengena. Seorang anak kecil berdiri di dekat panggung, menggoyangkan tubuhnya mengikuti musik. Ditemani neneknya yang ikut tersenyum sambil sesekali ikut bernyanyi pelan. Dua generasi. Satu lagu. Versi yang berbeda. Tapi rasa yang sama.[T]

Penulis: Dian Suryantini
Editor: Adnyana Ole

Tags: DJPasar Intaran
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Rekonstruksi Status Tanah ‘Ex Eigendom Verponding’: Antara Legalitas Formal dan Penguasaan Fisik dalam Perspektif Keadilan Agraria

Next Post

Singkong dan Dosa Orde Baru

Dian Suryantini

Dian Suryantini

Kuliah sambil kerja di Singaraja

Related Posts

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
0
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

Read moreDetails

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
0
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

Read moreDetails

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

Read moreDetails

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
0
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

Read moreDetails

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

by Chandra Manikan
July 9, 2026
0
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”,...

Read moreDetails

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
0
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

Read moreDetails

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
0
Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

AROMA kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi siobak dan tipat santok menyambut setiap langkah pengunjung di belakang panggung utama...

Read moreDetails

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

by Agung Sudarsa
July 7, 2026
0
Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

MINGGU, 21 Juni 2026, di Griya Yangloni milik Dokter Ida Bagus Kesnawa, MM, di Banjar Buruan, Gianyar, sebuah pengalaman sederhana...

Read moreDetails

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
0
Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

BAGAI pasukan di medan perang, petugas kebersihan dalam ajang Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 tak membiarkan sepotong sampah pun tertinggal....

Read moreDetails
Next Post
Singkong dan Dosa Orde Baru

Singkong dan Dosa Orde Baru

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana
Esai

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co