23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

Dian Suryantini by Dian Suryantini
April 9, 2026
in Khas
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

DJ Diah di Pasar Intaran

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk. Tapi hembusannya tetap membawa aroma makanan yang bercampur dengan wangi dupa dari beberapa sudut lapak. Orang-orang datang dan pergi, ada yang sekadar berjalan santai, ada pula yang sibuk memilih jajanan atau kerajinan tangan. Namun di antara riuh rendah itu, ada satu hal yang diam-diam menarik perhatian.

Bukan dari suara pedagang. Bukan pula dari panggung pertunjukan yang biasa. Tapi, dari dentuman musik yang terdengar asing sekaligus terasa sangat akrab.

Awalnya saya kira itu hanya musik DJ seperti biasanya. Beat elektronik yang ritmis, bass yang cukup menghentak, dan tempo yang mengajak tubuh bergerak tanpa perlu berpikir panjang. Tapi beberapa detik kemudian, saya tersadar, ada sesuatu yang berbeda.

Di balik beat itu, terselip melodi yang tidak asing di telinga. Seperti potongan kenangan.

Seperti lagu masa kecil.

Dan benar saja, tak lama kemudian saya mengenalinya. Itu adalah lagu anak-anak dengan bahasa Bali. Lagu yang dulu sangat sering saya dinyanyikan di rumah, di sekolah, atau bahkan saat bermain bersama teman-teman.

Sekarang, lagu itu hadir dalam bentuk yang baru. Di balik semua itu, berdirilah seorang perempuan dengan senyum santai di balik meja DJ. Dialah Diah Krisna, atau yang lebih dikenal sebagai DJ Diah.  Lagunya ada Juru Pencar, Dadong Dauh, Ratu Anom, dan yang lainnya.

Kalau dipikir-pikir, mencampur lagu anak tradisional dengan musik DJ terdengar seperti ide yang cukup nekat. Dua dunia yang tampaknya bertolak belakang. Di satu sisi, ada lagu-lagu dolanan anak yang sederhana, lugu, dan penuh nilai budaya. Lagu-lagu yang biasanya dinyanyikan tanpa alat musik modern, bahkan sering kali hanya diiringi tepukan tangan seadanya. Di sisi lain, ada musik DJ yang identik dengan klub malam, pesta, lampu sorot, dan teknologi digital.

Tapi justru di tangan Diah, dua dunia ini tidak saling bertabrakan. Mereka malah saling melengkapi. Saya sempat memperhatikan reaksi orang-orang di sekitar. Awalnya, beberapa pengunjung terlihat biasa saja. Mereka mendengar musik itu seperti mendengar musik latar pada umumnya. Tapi perlahan, ekspresi mereka berubah.

Ada yang tiba-tiba tersenyum kecil. Ada yang menoleh ke arah panggung. Ada yang berbisik ke temannya, seolah memastikan, “Eh, ini lagu yang itu gak sih?”

DJ Diah di Pasar Intaran

Dan yang paling menarik, beberapa orang mulai bersenandung pelan. Tanpa sadar. Tanpa direncanakan. Kepalanya turut bergoyang-goyang ringan, seolah ingatan masa kecil mereka sedang dipanggil kembali, tapi dengan cara yang berbeda.

Saya kemudian mendekat ke area panggung kecil tempat Diah tampil. Tidak ada kesan panggung besar atau pertunjukan yang megah. Justru sebaliknya, suasananya terasa akrab.

Diah berdiri dengan santai. Tidak ada gaya berlebihan. Tidak ada upaya untuk terlihat wah.

Ia hanya menikmati musiknya. Putar ke kiri, putar ke kanan. Sesekali tersenyum. Sesekali mengangguk mengikuti irama. Dan yang paling terasa, ia seperti benar-benar terhubung dengan apa yang ia mainkan.

Belakangan saya tahu, perjalanan Diah dengan konsep ini tidak langsung mulus. Bahkan ia sendiri sempat ragu. Keraguan itu sebenarnya sangat masuk akal. Bayangkan saja, mengambil lagu anak-anak tradisional, yang sering dianggap kuno atau jadul, lalu membawanya ke ranah musik modern seperti DJ. Risiko ditolak tentu ada.

Apalagi audiens musik DJ biasanya punya ekspektasi tertentu. Mereka datang untuk menikmati musik yang energik, kekinian, dan mungkin global.

Lalu tiba-tiba disuguhi lagu masa kecil? Bisa jadi aneh. Bisa jadi tidak nyambung. Atau bahkan dianggap tidak serius. Tapi di situlah menariknya. Diah justru melihat sesuatu yang tidak semua orang lihat.

Menurutnya, lagu-lagu anak tradisional punya melodi yang kuat. Mudah diingat. Mudah dinyanyikan. Dan yang paling penting, punya ikatan emosional.

Diah tidak hanya mengambil lagu lalu menempelkannya ke dalam musik DJ. Ia merekam sendiri vokalnya. Ia mengolah suara itu. Ia menyesuaikan tempo, beat, dan suasana. Semua dilakukan dengan pendekatan yang cukup personal.

Saya membayangkan prosesnya seperti merangkai dua dunia yang berbeda menjadi satu kesatuan. Seperti menjahit tradisi dengan modernitas, satu per satu, hingga akhirnya menyatu.

Dan hasilnya? Ya seperti yang saya dengar sore itu. Aneh, tapi enak. Asing, tapi familiar.

Semakin lama musik itu diputar, semakin terasa dampaknya. Anak-anak kecil mulai bergerak mengikuti irama. Remaja terlihat menikmati beat-nya. Orang dewasa tersenyum karena mengenali lagunya. Bahkan beberapa orang tua tampak ikut mengangguk pelan.

Di sisi lain, generasi yang lebih tua bisa merasakan nostalgia, tapi dengan nuansa yang lebih segar. Dan semua itu terjadi secara alami. Tanpa ceramah. Tanpa paksaan. Tanpa harus dibuat formal.

Pasar Intaran sendiri memang punya karakter yang unik. Bukan sekadar pasar biasa, tapi lebih seperti ruang bertemu. Di sana, orang bisa makan, ngobrol, melihat karya, hingga menikmati pertunjukan.

Karena di ruang seperti ini, orang datang dengan pikiran yang lebih terbuka. Saya sempat duduk cukup lama di sana, hanya untuk mengamati.

Dan semakin lama, semakin terasa bahwa apa yang dilakukan Diah bukan sekadar soal musik. Ini soal cara baru melihat tradisi. Selama ini, sering kali kita berpikir bahwa melestarikan budaya harus dilakukan dengan cara yang serius.

Harus sesuai pakem. Harus seperti dulu. Harus tidak berubah. Padahal, zaman terus bergerak. Cara orang menikmati sesuatu juga berubah. Dan mungkin, justru di situlah tantangannya. Bagaimana membuat tradisi tetap hidup, tanpa harus memaksanya tetap sama.

Apa yang dilakukan Diah bisa jadi salah satu jawabannya. Tidak mengubah esensi lagu. Tidak menghilangkan identitasnya. Ia hanya mengemasnya ulang. Dengan cara yang lebih dekat dengan generasi sekarang.

Menariknya lagi, pendekatan seperti ini juga membuka peluang baru. Bayangkan jika lebih banyak seniman yang melakukan hal serupa. Bukan hanya di musik, tapi juga di bidang lain. Tari, seni rupa, teater, bahkan kuliner.

Diah masih di atas panggung kecilnya. Dan orang-orang masih menikmati. Saya melihat satu momen kecil yang cukup mengena. Seorang anak kecil berdiri di dekat panggung, menggoyangkan tubuhnya mengikuti musik. Ditemani neneknya yang ikut tersenyum sambil sesekali ikut bernyanyi pelan. Dua generasi. Satu lagu. Versi yang berbeda. Tapi rasa yang sama.[T]

Penulis: Dian Suryantini
Editor: Adnyana Ole

Tags: DJPasar Intaran
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Rekonstruksi Status Tanah ‘Ex Eigendom Verponding’: Antara Legalitas Formal dan Penguasaan Fisik dalam Perspektif Keadilan Agraria

Next Post

Singkong dan Dosa Orde Baru

Dian Suryantini

Dian Suryantini

Kuliah sambil kerja di Singaraja

Related Posts

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails
Next Post
Singkong dan Dosa Orde Baru

Singkong dan Dosa Orde Baru

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co