2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

Dian Suryantini by Dian Suryantini
April 9, 2026
in Khas
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

DJ Diah di Pasar Intaran

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk. Tapi hembusannya tetap membawa aroma makanan yang bercampur dengan wangi dupa dari beberapa sudut lapak. Orang-orang datang dan pergi, ada yang sekadar berjalan santai, ada pula yang sibuk memilih jajanan atau kerajinan tangan. Namun di antara riuh rendah itu, ada satu hal yang diam-diam menarik perhatian.

Bukan dari suara pedagang. Bukan pula dari panggung pertunjukan yang biasa. Tapi, dari dentuman musik yang terdengar asing sekaligus terasa sangat akrab.

Awalnya saya kira itu hanya musik DJ seperti biasanya. Beat elektronik yang ritmis, bass yang cukup menghentak, dan tempo yang mengajak tubuh bergerak tanpa perlu berpikir panjang. Tapi beberapa detik kemudian, saya tersadar, ada sesuatu yang berbeda.

Di balik beat itu, terselip melodi yang tidak asing di telinga. Seperti potongan kenangan.

Seperti lagu masa kecil.

Dan benar saja, tak lama kemudian saya mengenalinya. Itu adalah lagu anak-anak dengan bahasa Bali. Lagu yang dulu sangat sering saya dinyanyikan di rumah, di sekolah, atau bahkan saat bermain bersama teman-teman.

Sekarang, lagu itu hadir dalam bentuk yang baru. Di balik semua itu, berdirilah seorang perempuan dengan senyum santai di balik meja DJ. Dialah Diah Krisna, atau yang lebih dikenal sebagai DJ Diah.  Lagunya ada Juru Pencar, Dadong Dauh, Ratu Anom, dan yang lainnya.

Kalau dipikir-pikir, mencampur lagu anak tradisional dengan musik DJ terdengar seperti ide yang cukup nekat. Dua dunia yang tampaknya bertolak belakang. Di satu sisi, ada lagu-lagu dolanan anak yang sederhana, lugu, dan penuh nilai budaya. Lagu-lagu yang biasanya dinyanyikan tanpa alat musik modern, bahkan sering kali hanya diiringi tepukan tangan seadanya. Di sisi lain, ada musik DJ yang identik dengan klub malam, pesta, lampu sorot, dan teknologi digital.

Tapi justru di tangan Diah, dua dunia ini tidak saling bertabrakan. Mereka malah saling melengkapi. Saya sempat memperhatikan reaksi orang-orang di sekitar. Awalnya, beberapa pengunjung terlihat biasa saja. Mereka mendengar musik itu seperti mendengar musik latar pada umumnya. Tapi perlahan, ekspresi mereka berubah.

Ada yang tiba-tiba tersenyum kecil. Ada yang menoleh ke arah panggung. Ada yang berbisik ke temannya, seolah memastikan, “Eh, ini lagu yang itu gak sih?”

DJ Diah di Pasar Intaran

Dan yang paling menarik, beberapa orang mulai bersenandung pelan. Tanpa sadar. Tanpa direncanakan. Kepalanya turut bergoyang-goyang ringan, seolah ingatan masa kecil mereka sedang dipanggil kembali, tapi dengan cara yang berbeda.

Saya kemudian mendekat ke area panggung kecil tempat Diah tampil. Tidak ada kesan panggung besar atau pertunjukan yang megah. Justru sebaliknya, suasananya terasa akrab.

Diah berdiri dengan santai. Tidak ada gaya berlebihan. Tidak ada upaya untuk terlihat wah.

Ia hanya menikmati musiknya. Putar ke kiri, putar ke kanan. Sesekali tersenyum. Sesekali mengangguk mengikuti irama. Dan yang paling terasa, ia seperti benar-benar terhubung dengan apa yang ia mainkan.

Belakangan saya tahu, perjalanan Diah dengan konsep ini tidak langsung mulus. Bahkan ia sendiri sempat ragu. Keraguan itu sebenarnya sangat masuk akal. Bayangkan saja, mengambil lagu anak-anak tradisional, yang sering dianggap kuno atau jadul, lalu membawanya ke ranah musik modern seperti DJ. Risiko ditolak tentu ada.

Apalagi audiens musik DJ biasanya punya ekspektasi tertentu. Mereka datang untuk menikmati musik yang energik, kekinian, dan mungkin global.

Lalu tiba-tiba disuguhi lagu masa kecil? Bisa jadi aneh. Bisa jadi tidak nyambung. Atau bahkan dianggap tidak serius. Tapi di situlah menariknya. Diah justru melihat sesuatu yang tidak semua orang lihat.

Menurutnya, lagu-lagu anak tradisional punya melodi yang kuat. Mudah diingat. Mudah dinyanyikan. Dan yang paling penting, punya ikatan emosional.

Diah tidak hanya mengambil lagu lalu menempelkannya ke dalam musik DJ. Ia merekam sendiri vokalnya. Ia mengolah suara itu. Ia menyesuaikan tempo, beat, dan suasana. Semua dilakukan dengan pendekatan yang cukup personal.

Saya membayangkan prosesnya seperti merangkai dua dunia yang berbeda menjadi satu kesatuan. Seperti menjahit tradisi dengan modernitas, satu per satu, hingga akhirnya menyatu.

Dan hasilnya? Ya seperti yang saya dengar sore itu. Aneh, tapi enak. Asing, tapi familiar.

Semakin lama musik itu diputar, semakin terasa dampaknya. Anak-anak kecil mulai bergerak mengikuti irama. Remaja terlihat menikmati beat-nya. Orang dewasa tersenyum karena mengenali lagunya. Bahkan beberapa orang tua tampak ikut mengangguk pelan.

Di sisi lain, generasi yang lebih tua bisa merasakan nostalgia, tapi dengan nuansa yang lebih segar. Dan semua itu terjadi secara alami. Tanpa ceramah. Tanpa paksaan. Tanpa harus dibuat formal.

Pasar Intaran sendiri memang punya karakter yang unik. Bukan sekadar pasar biasa, tapi lebih seperti ruang bertemu. Di sana, orang bisa makan, ngobrol, melihat karya, hingga menikmati pertunjukan.

Karena di ruang seperti ini, orang datang dengan pikiran yang lebih terbuka. Saya sempat duduk cukup lama di sana, hanya untuk mengamati.

Dan semakin lama, semakin terasa bahwa apa yang dilakukan Diah bukan sekadar soal musik. Ini soal cara baru melihat tradisi. Selama ini, sering kali kita berpikir bahwa melestarikan budaya harus dilakukan dengan cara yang serius.

Harus sesuai pakem. Harus seperti dulu. Harus tidak berubah. Padahal, zaman terus bergerak. Cara orang menikmati sesuatu juga berubah. Dan mungkin, justru di situlah tantangannya. Bagaimana membuat tradisi tetap hidup, tanpa harus memaksanya tetap sama.

Apa yang dilakukan Diah bisa jadi salah satu jawabannya. Tidak mengubah esensi lagu. Tidak menghilangkan identitasnya. Ia hanya mengemasnya ulang. Dengan cara yang lebih dekat dengan generasi sekarang.

Menariknya lagi, pendekatan seperti ini juga membuka peluang baru. Bayangkan jika lebih banyak seniman yang melakukan hal serupa. Bukan hanya di musik, tapi juga di bidang lain. Tari, seni rupa, teater, bahkan kuliner.

Diah masih di atas panggung kecilnya. Dan orang-orang masih menikmati. Saya melihat satu momen kecil yang cukup mengena. Seorang anak kecil berdiri di dekat panggung, menggoyangkan tubuhnya mengikuti musik. Ditemani neneknya yang ikut tersenyum sambil sesekali ikut bernyanyi pelan. Dua generasi. Satu lagu. Versi yang berbeda. Tapi rasa yang sama.[T]

Penulis: Dian Suryantini
Editor: Adnyana Ole

Tags: DJPasar Intaran
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Rekonstruksi Status Tanah ‘Ex Eigendom Verponding’: Antara Legalitas Formal dan Penguasaan Fisik dalam Perspektif Keadilan Agraria

Next Post

Singkong dan Dosa Orde Baru

Dian Suryantini

Dian Suryantini

Kuliah sambil kerja di Singaraja

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Singkong dan Dosa Orde Baru

Singkong dan Dosa Orde Baru

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co