26 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

Radha Dwi Pradnyani by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
in Khas
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

Para pelajar SMP sedang fokus mengikuti workshop wayang kulit

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April 2026. Pelajar SMP itu sedang berkenalan dengan wayang dalam Festival Wayang bali Utara 2026.

Museum itu memang disulap menjadi ruang singgah bagi beragam karya wayang, dan anak-anak turut menonton, melihat, menyentuh, wayang itu dengan senang dan gembira. Sebagian adalah wayang kulit khas Bali Utara, dan sebagian wayang wayang kaca khas Desa Nagasepaha yang dipamerkan sekaligus diperkenalkan melalui Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca.

Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca menjadi rangkaian kegiatan untuk memeriahkan Festival Wayang Bali Utara (FWB) yang terlaksana selama tiga hari, mulai dari tanggal 9 April hingga 11 April 2026. Sebagai awalan, FWB menghadirkan workshop dengan ketiga pembicara yang menekuni dunia kesenian wayang dan dalang, yaitu I Made Wijana, Jro Dalang Reka Yasa, dan Jro Dalang Panji.

Dalam workshop itu, pelajar  SMP dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok yang mengikuti workshop wayang kulit dan satu kelompok yang mengikuti workshop wayang kaca. Pembina siswa mulai membagi para siswa mereka menjadi dua kelompok, tak terkecuali SMPN 3 Singaraja yang hadir bersama 4 orang siswa. Terbagilah mereka menjadi dua kelompok dan bergerak menuju tempat yang telah ditentukan.

I Made Wijana menerangkan teknik lukisan kaca

Deretan meja penuh akan pelajar yang sibuk menggenggam alat lukis dan tampak sibuk menggoreskan garis di atas kaca, mencampur warna, hingga saling bertukar cerita. Di tengah kesibukan itu, satu suara terdengar ringan dan memecah ketegangan.

“Seru!” celetuk Renata sembari tangannya menari di atas kaca dengan drawing pen yang ia genggam. Bolpoin itu pun menyentuh kaca, membentuk sebuah garis yang menyatu satu sama lain, mengikuti setiap lekukan garis sketsa yang membentuk wayang kaca Ganesha.

Mulailah Renata memainkan kuas penuh warna, menggerakkannya ke kanan dan ke kiri, menimpa garis hitam bolpoin. Keasyikan Renata terhenti ketika ia melihat cat warna pada paletnya kian menipis. Renata menyikut lengan kawannya—Nata, untuk meminta cat warna baru.

Melihat dua pelajar saling berseru, Made Wijana, segera mendekati mereka dan menawarkan bantuan.  Ia mencoba membantu mengisi palet warna dengan warna yang baru. Sebagai seniman wayang kaca, Made Wijana melirik hasil lukisan milik Renata dan mulai mengajak mereka berbincang, menanyai asal sekolah bahkan hasil lukisan mereka.

Selama berbincang, Renata hanya menganggukan kepala. Saking dirinya menaruh fokus pada wayang kacanya, ia merasa “asing” dengan pria di depannya. “Aku sendiri merasa gak berinteraksi sama bapaknya sih. Tapi prakteknya seru,” kata Renata.

Sementara Renata larut dalam proses melukis wayang kaca, suasana berbeda terlihat di ruang audiovisual. Di sana, kedua teman Renata—Ezra dan Valen, dengan kuat tenaga memegang kertas mason yang sudah membentuk Wayang Gajah Mina agar tidak sobek. Valen memahat ukiran pada tubuh wayang dengan ganden, dan satu persatu kertas-kertas itu tercabut.

I Putu Reka Yasa bertutur tentang wayang kulit

Sebelum mereka putuskan membuat Wayang Gajah Mina, mereka pusing tujuh keliling memilih tokoh fiksi apa yang ingin mereka jadikan wayang. Sampai mereka menemukan ilustrasi makhluk mitologi Indonesia itu, Dalang Jro Panji—sahabat karib dari Dalang Reka Yasa, mendekati mereka.

Jro Dalan Panji bercerita betapa menarik Gajah Mina baginya. Mendengar cerita itu, tertarik lah Ezra dan Valen untuk mengambil Gajah Mina untuk dijadikan sebagai wayang.

Dengan baju kaos Spenthreeraja, Valen menyeka keringatnya. Sisik pada Wayang Gajah Mina mulai tampak. Baru dua ukiran yang terukir, namun MC berbicara, menutup Workshop Wayang Kaca dan Wayang Kulit yang belum mereka selesaikan. “Tak apa, di rumah saja lanjutkan ya,” ucap Jro Dalang Panji kepada mereka.

Hingga matahari semakin meninggi dan perut yang sudah berbunyi, Renata, Nata, Ezra, dan Valen berkumpul bersama sebagai rombongan Spenthreeraja. Dengan hangat nasi dan empuk daging di mulut mereka, obrolan dan tawa mulai terdengar. Mulai dari pengalaman membuat wayang, hingga tugas-tugas sekolah yang belum mereka kerjakan.

“Pengalaman sih. Kita dapat pengalaman yang beda kak, kapan lagi aku lukis di kaca,” ucap Renata sambil menyuap nasi ke dalam mulutnya dan mengenyangkan perutnya.

Dalang Jro Panji menjelaskan proporsional tubuh dari Wayang Kulit

Ezra mengangguk setuju, “Soalnya kita gak pernah bikin wayang, ini kali pertama aku  ikut workshop wayang kulit,” lanjutnya.

Dengan matahari yang mulai tertutupi awan, Renata, Nata, Valen dan Ezra berpamitan kepada guru mereka untuk pulang ke rumah. Dikala ia menunggu jemputan ibunya untuk pulang bersama, Renata membuka mulutnya, berbicara.

“Tau gak kak, aku sebenarnya kurang suka ikut workshop. Kek ngantuk kalau dengerin orang ngomong di depan. Tapi untuk workshop ini, oke lah.”

Bagi Renata, workshop kali ini menjadi seru karena ia bisa melakukan aktivitas yang disukai—melukis. Suatu hal yang ia mampu selama ini. Dengan Wayang Kaca Ganesha yang ia genggam, ia mulai membagikan kisah disaat dirinya pertama kali menginjak kaki di Museum Soenda Ketjil.

“Pas pertama masuk museum, aku langsung wah banget!” begitu ia berbicara penuh semangat. Renata melanjutkan, Ketika matanya tertuju pada berbagai koleksi wayang yang berjejer memenuhi ruang utama museum, ia terkesima. Sebab wayang-wayang yang ia selalu lihat di TV, bisa ia lihat secara langsung. Ia dapat mengamati dengan lebih teliti, dan makin terkagum lagi dengan proporsi tubuh wayang yang unik.

Ia berjalan bersama ketiga teman memasuki ruangan auditorium, duduk di atas karpet merah sembari menunggu ketiga pembicara yang sedang sibuk menyiapkan hal-hal yang tak ia pikirkan. Ia duduk di pinggir tembok ruangan bersama perasaan bosan yang menghilang saat mendengarkan diskusi wayang.

“Terus pas di workshop, seru banget sih, diajarin sama Pak Wijana dan kedua dalang. Mulai dari sejarahnya, sampai cara buat wayangnya pun dijelasin. Rasanya asik banget walau awalnya agak susah buatnya,” lanjut Renata.

Pandangan Renata akan wayang makin tajam, seolah ditempa dengan palu oleh ketiga pembicara yang melalui diskusi wayang, mampu mengubah pandangannya. “Pandanganku berubah. Ternyata wayang itu bukan cuma main-main, tapi banyak banget pelajaran hidup dan filosofinya.”

Apa yang ia dengar—mula dari sejarah, filosofi ukiran, bahkan kisah-kisah yang dibawakan melalui pewayangan, terus terbawa hingga kuas yang ia gunakan untuk melukis wayang kaca seolah memberikan kenyataan baru, “Betapa susahnya membuat wayang.” Ia harus tertuju pada sketsa, melukisnya dengan kesabaran dan tangan yang sudah gentar akibat penat.

Dalang Putu Reka Yasa, bersama sahabatnya Dalang Jro Panji

Renata yang sedari tadi memberi kisah, menaikkan wayang kaca Ganesha yang ia pegang sehingga memunculkan bayangan di wajahnya. Ia memperhatikan secara seksama, dan menghela nafasnya. Senyumnya sumringah melihat wayang kaca yang ia selesaikan.

Pengalaman workshop ini membuatnya semakin tertarik pada dunia pewayangan. “Pengen tahu cerita-cerita wayang yang lain, atau jenis wayang dari daerah lain,” ujarnya. Ketertarikan tersebut juga menjadi langkah awal baginya untuk ikut menjaga kelestarian wayang. Sebelumnya, dalam sesi diskusi, para seniman bersama guru dari SMPN 1 Singaraja menyoroti semakin berkurangnya minat generasi muda terhadap wayang.

Renata yang mendengar diskusi tersebut, seolah tenggelam pada benak pikiran mereka, terlebih ketika Jro Dalang Panji mengatakan bahwa memperkenalkan kesenian kepada masyarakat sudah menjadi tanggung jawab mereka. Renata menilai bahwa wayang penting untuk dipelajari, terutama oleh teman-teman sebayanya untuk membantu melestarikan kesenian mereka.

“Kalau kita anak mudanya gak peduli, nanti siapa yang mau lestarikan?” begitu pertanyaannya selama ia menunggu dan pergi bersama sang Ibunda untuk pulang.

Hingga tiba di rumah, barangkali pikiran Renata masih tertinggal pada workshop wayang diikutinya. Pengalaman hari itu ia ceritakan kembali kepada kedua orang tuanya sambil memperlihatkan Wayang Kaca Ganesha yang ia selesaikan bersama Nata temannya. Renata tak hanya pulang membawa hasil karya, namun rasa penasaran pula.

Dari Museum Soenda Ketjil, Renata mulai mengenal budaya dari tanah kelahirannya melalui workshop kesenian yang ia anggap akan membosankan sebelumnya. Namun, ketika sebuah workshop kesenian hadir dengan kisah-kisah dan kegiatan yang menyenangkan bagi pesertanya, maka seorang generasi muda akan mulai tertarik mendalaminya. Dan salah satunya adalah Renata. [T]

Penulis: Made Ayu Radha Dwi Pradnyani
Editor: Adnyana Ole

Tags: Festival Wayang Bali Utara
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Grand Final Pemilihan Duta GenRe Kota Denpasar 2026: Krishna Dananjaya dan Trisna Darmayanti Siap Jadi Figur Remaja Teladan

Next Post

Menakar Mutu Lulusan SMK Lewat UKK

Radha Dwi Pradnyani

Radha Dwi Pradnyani

Made Ayu Radha Dwi Pradnyani, siswa SMKTI Global, Singaraja

Related Posts

Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 26, 2026
0
Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

AULA SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pagi itu tidak seperti biasanya. Tidak ada suasana tegang ujian, tidak pula wajah-wajah...

Read moreDetails

Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

by Dede Putra Wiguna
May 25, 2026
0
Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

BAGI sebagian siswa, menulis puisi dan cerpen mungkin bukan perkara sulit. Namun membuatnya dalam bentuk kolektif dan memiliki benang merah...

Read moreDetails

Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

by Kardanis Mudawi Jaya
May 24, 2026
0
Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

SEJAK tahun 2018, saya tidak pernah lagi bertemu dan mengobrol lama sambil menikmati kopi dan kacang dalam satu lingkup kerja...

Read moreDetails

In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

by Made Adnyana Ole
May 21, 2026
0
In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

IA fotografer, ia mencintai kesenian Bali. Maka hidupnya diabdikan untuk mengabadikan segala bentuk kesenian Bali melalu foto-foto yang eksotik sekaligus...

Read moreDetails

Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

by Ni Luh Gde Sari Dewi Astuti
May 20, 2026
0
Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

PANTAI Kedonganan di kawasan Kuta, Badung, Bali, perlahan hidup kembali. Menjelang sore, deretan meja di tepi pantai mulai terisi. Aroma...

Read moreDetails

Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’

by I Nyoman Tingkat
May 19, 2026
0
Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’

DALAM salah satu bukunya, I Gde Aryantha Soethama menulis bahwa orang Bali tidak punya tradisi berwisata ala Barat. Berwisata dalam...

Read moreDetails

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

by Emi Suy
May 11, 2026
0
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

Read moreDetails

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

Read moreDetails

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails
Next Post
Menakar Mutu Lulusan SMK Lewat UKK

Menakar Mutu Lulusan SMK Lewat UKK

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Orang Bali Tetaplah Orang Bali
Esai

Orang Bali Tetaplah Orang Bali

WARUNG kopi itu berdiri di pinggir jalan kawasan Dalung, Kuta Utara. Siang mulai beranjak perlahan. Lalu lintas tak pernah benar-benar...

by Angga Wijaya
May 26, 2026
Adiluhung: Makna Luhur yang Kian Kabur
Bahasa

Adiluhung: Makna Luhur yang Kian Kabur

DI warung kopi, seminar budaya, sampai brosur perumahan mewah, istilah adiluhung makin sering berseliweran. Istilah ini mirip stempel sakti. Apa...

by I Made Sudiana
May 26, 2026
Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

AULA SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pagi itu tidak seperti biasanya. Tidak ada suasana tegang ujian, tidak pula wajah-wajah...

by Dede Putra Wiguna
May 26, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Pertumbuhan Ekonomi Saja Tidak Cukup  

DI sebuah obrolan sore yang dipenuhi asap kopi, suara kendaraan berlalu-lalang, dan pemberitaan tumbuhnya perekonomian kuartal I 2026 (5,61 persen),...

by Faris Widiyatmoko
May 26, 2026
Buzzer Rakyat
Esai

Buzzer Rakyat

DALAM diskusi dengan beberapa teman di grup WA, saya tidak menolak diposisikan sebagai ‘buzzer’. Tapi, dengan catatan (cetak tebal, miring,...

by Hartanto
May 25, 2026
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah
Tualang

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

by Chusmeru
May 25, 2026
Bumi Bajra : Ruang Tumbuh yang Menubuh
Panggung

Bumi Bajra : Ruang Tumbuh yang Menubuh

DI sudut gang yang dari luar tampak tak sepenuhnya meyakinkan, tampak sebuah ruang yang terasa begitu hangat karena dipeluk tertawaan...

by Made Chandra
May 25, 2026
Janger Pegok, Janger Tua di Bali: Dokumentasi Video Ditemukan di Jerman, Kini Dipentaskan di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Janger Pegok, Janger Tua di Bali: Dokumentasi Video Ditemukan di Jerman, Kini Dipentaskan di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA suasana hening dari masyarakat dan para undangan, tabuh mulai dimainkan. Muda-mudi yang didominasi para remaja itu menari lepas tanpa...

by Nyoman Budarsana
May 25, 2026
Perokok Bertanggung Jawab
Esai

Perokok Bertanggung Jawab

Di atas meja kayu panjang di beranda sebuah toko modern, sebuah kaleng bekas diletakkan begitu saja. Bentuknya sudah penyok di...

by Angga Wijaya
May 25, 2026
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi
Esai

Pesta Babi: Membuka Hutan, Menutup Layar

DI Mataram, pemutaran film Pesta Babi baru berjalan tiga menit ketika dibubarkan. Di kota lainnya, penyelenggara didatangi, diawasi, atau ditekan...

by Luthfi Hasanal Bolqiah
May 25, 2026
Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen
Khas

Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

BAGI sebagian siswa, menulis puisi dan cerpen mungkin bukan perkara sulit. Namun membuatnya dalam bentuk kolektif dan memiliki benang merah...

by Dede Putra Wiguna
May 25, 2026
Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111
Ulas Musik

Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

FORUM Bukan Musik Biasa (BMB) #111 dilaksanakan Rabu, 20 Mei 2026 di Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT)...

by Wahyu Thoyyib Pambayun
May 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co