RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April 2026. Pelajar SMP itu sedang berkenalan dengan wayang dalam Festival Wayang bali Utara 2026.
Museum itu memang disulap menjadi ruang singgah bagi beragam karya wayang, dan anak-anak turut menonton, melihat, menyentuh, wayang itu dengan senang dan gembira. Sebagian adalah wayang kulit khas Bali Utara, dan sebagian wayang wayang kaca khas Desa Nagasepaha yang dipamerkan sekaligus diperkenalkan melalui Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca.
Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca menjadi rangkaian kegiatan untuk memeriahkan Festival Wayang Bali Utara (FWB) yang terlaksana selama tiga hari, mulai dari tanggal 9 April hingga 11 April 2026. Sebagai awalan, FWB menghadirkan workshop dengan ketiga pembicara yang menekuni dunia kesenian wayang dan dalang, yaitu I Made Wijana, Jro Dalang Reka Yasa, dan Jro Dalang Panji.
Dalam workshop itu, pelajar SMP dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok yang mengikuti workshop wayang kulit dan satu kelompok yang mengikuti workshop wayang kaca. Pembina siswa mulai membagi para siswa mereka menjadi dua kelompok, tak terkecuali SMPN 3 Singaraja yang hadir bersama 4 orang siswa. Terbagilah mereka menjadi dua kelompok dan bergerak menuju tempat yang telah ditentukan.

Deretan meja penuh akan pelajar yang sibuk menggenggam alat lukis dan tampak sibuk menggoreskan garis di atas kaca, mencampur warna, hingga saling bertukar cerita. Di tengah kesibukan itu, satu suara terdengar ringan dan memecah ketegangan.
“Seru!” celetuk Renata sembari tangannya menari di atas kaca dengan drawing pen yang ia genggam. Bolpoin itu pun menyentuh kaca, membentuk sebuah garis yang menyatu satu sama lain, mengikuti setiap lekukan garis sketsa yang membentuk wayang kaca Ganesha.
Mulailah Renata memainkan kuas penuh warna, menggerakkannya ke kanan dan ke kiri, menimpa garis hitam bolpoin. Keasyikan Renata terhenti ketika ia melihat cat warna pada paletnya kian menipis. Renata menyikut lengan kawannya—Nata, untuk meminta cat warna baru.
Melihat dua pelajar saling berseru, Made Wijana, segera mendekati mereka dan menawarkan bantuan. Ia mencoba membantu mengisi palet warna dengan warna yang baru. Sebagai seniman wayang kaca, Made Wijana melirik hasil lukisan milik Renata dan mulai mengajak mereka berbincang, menanyai asal sekolah bahkan hasil lukisan mereka.
Selama berbincang, Renata hanya menganggukan kepala. Saking dirinya menaruh fokus pada wayang kacanya, ia merasa “asing” dengan pria di depannya. “Aku sendiri merasa gak berinteraksi sama bapaknya sih. Tapi prakteknya seru,” kata Renata.
Sementara Renata larut dalam proses melukis wayang kaca, suasana berbeda terlihat di ruang audiovisual. Di sana, kedua teman Renata—Ezra dan Valen, dengan kuat tenaga memegang kertas mason yang sudah membentuk Wayang Gajah Mina agar tidak sobek. Valen memahat ukiran pada tubuh wayang dengan ganden, dan satu persatu kertas-kertas itu tercabut.

Sebelum mereka putuskan membuat Wayang Gajah Mina, mereka pusing tujuh keliling memilih tokoh fiksi apa yang ingin mereka jadikan wayang. Sampai mereka menemukan ilustrasi makhluk mitologi Indonesia itu, Dalang Jro Panji—sahabat karib dari Dalang Reka Yasa, mendekati mereka.
Jro Dalan Panji bercerita betapa menarik Gajah Mina baginya. Mendengar cerita itu, tertarik lah Ezra dan Valen untuk mengambil Gajah Mina untuk dijadikan sebagai wayang.
Dengan baju kaos Spenthreeraja, Valen menyeka keringatnya. Sisik pada Wayang Gajah Mina mulai tampak. Baru dua ukiran yang terukir, namun MC berbicara, menutup Workshop Wayang Kaca dan Wayang Kulit yang belum mereka selesaikan. “Tak apa, di rumah saja lanjutkan ya,” ucap Jro Dalang Panji kepada mereka.
Hingga matahari semakin meninggi dan perut yang sudah berbunyi, Renata, Nata, Ezra, dan Valen berkumpul bersama sebagai rombongan Spenthreeraja. Dengan hangat nasi dan empuk daging di mulut mereka, obrolan dan tawa mulai terdengar. Mulai dari pengalaman membuat wayang, hingga tugas-tugas sekolah yang belum mereka kerjakan.
“Pengalaman sih. Kita dapat pengalaman yang beda kak, kapan lagi aku lukis di kaca,” ucap Renata sambil menyuap nasi ke dalam mulutnya dan mengenyangkan perutnya.

Ezra mengangguk setuju, “Soalnya kita gak pernah bikin wayang, ini kali pertama aku ikut workshop wayang kulit,” lanjutnya.
Dengan matahari yang mulai tertutupi awan, Renata, Nata, Valen dan Ezra berpamitan kepada guru mereka untuk pulang ke rumah. Dikala ia menunggu jemputan ibunya untuk pulang bersama, Renata membuka mulutnya, berbicara.
“Tau gak kak, aku sebenarnya kurang suka ikut workshop. Kek ngantuk kalau dengerin orang ngomong di depan. Tapi untuk workshop ini, oke lah.”
Bagi Renata, workshop kali ini menjadi seru karena ia bisa melakukan aktivitas yang disukai—melukis. Suatu hal yang ia mampu selama ini. Dengan Wayang Kaca Ganesha yang ia genggam, ia mulai membagikan kisah disaat dirinya pertama kali menginjak kaki di Museum Soenda Ketjil.
“Pas pertama masuk museum, aku langsung wah banget!” begitu ia berbicara penuh semangat. Renata melanjutkan, Ketika matanya tertuju pada berbagai koleksi wayang yang berjejer memenuhi ruang utama museum, ia terkesima. Sebab wayang-wayang yang ia selalu lihat di TV, bisa ia lihat secara langsung. Ia dapat mengamati dengan lebih teliti, dan makin terkagum lagi dengan proporsi tubuh wayang yang unik.
Ia berjalan bersama ketiga teman memasuki ruangan auditorium, duduk di atas karpet merah sembari menunggu ketiga pembicara yang sedang sibuk menyiapkan hal-hal yang tak ia pikirkan. Ia duduk di pinggir tembok ruangan bersama perasaan bosan yang menghilang saat mendengarkan diskusi wayang.
“Terus pas di workshop, seru banget sih, diajarin sama Pak Wijana dan kedua dalang. Mulai dari sejarahnya, sampai cara buat wayangnya pun dijelasin. Rasanya asik banget walau awalnya agak susah buatnya,” lanjut Renata.
Pandangan Renata akan wayang makin tajam, seolah ditempa dengan palu oleh ketiga pembicara yang melalui diskusi wayang, mampu mengubah pandangannya. “Pandanganku berubah. Ternyata wayang itu bukan cuma main-main, tapi banyak banget pelajaran hidup dan filosofinya.”
Apa yang ia dengar—mula dari sejarah, filosofi ukiran, bahkan kisah-kisah yang dibawakan melalui pewayangan, terus terbawa hingga kuas yang ia gunakan untuk melukis wayang kaca seolah memberikan kenyataan baru, “Betapa susahnya membuat wayang.” Ia harus tertuju pada sketsa, melukisnya dengan kesabaran dan tangan yang sudah gentar akibat penat.

Renata yang sedari tadi memberi kisah, menaikkan wayang kaca Ganesha yang ia pegang sehingga memunculkan bayangan di wajahnya. Ia memperhatikan secara seksama, dan menghela nafasnya. Senyumnya sumringah melihat wayang kaca yang ia selesaikan.
Pengalaman workshop ini membuatnya semakin tertarik pada dunia pewayangan. “Pengen tahu cerita-cerita wayang yang lain, atau jenis wayang dari daerah lain,” ujarnya. Ketertarikan tersebut juga menjadi langkah awal baginya untuk ikut menjaga kelestarian wayang. Sebelumnya, dalam sesi diskusi, para seniman bersama guru dari SMPN 1 Singaraja menyoroti semakin berkurangnya minat generasi muda terhadap wayang.
Renata yang mendengar diskusi tersebut, seolah tenggelam pada benak pikiran mereka, terlebih ketika Jro Dalang Panji mengatakan bahwa memperkenalkan kesenian kepada masyarakat sudah menjadi tanggung jawab mereka. Renata menilai bahwa wayang penting untuk dipelajari, terutama oleh teman-teman sebayanya untuk membantu melestarikan kesenian mereka.
“Kalau kita anak mudanya gak peduli, nanti siapa yang mau lestarikan?” begitu pertanyaannya selama ia menunggu dan pergi bersama sang Ibunda untuk pulang.
Hingga tiba di rumah, barangkali pikiran Renata masih tertinggal pada workshop wayang diikutinya. Pengalaman hari itu ia ceritakan kembali kepada kedua orang tuanya sambil memperlihatkan Wayang Kaca Ganesha yang ia selesaikan bersama Nata temannya. Renata tak hanya pulang membawa hasil karya, namun rasa penasaran pula.
Dari Museum Soenda Ketjil, Renata mulai mengenal budaya dari tanah kelahirannya melalui workshop kesenian yang ia anggap akan membosankan sebelumnya. Namun, ketika sebuah workshop kesenian hadir dengan kisah-kisah dan kegiatan yang menyenangkan bagi pesertanya, maka seorang generasi muda akan mulai tertarik mendalaminya. Dan salah satunya adalah Renata. [T]
Penulis: Made Ayu Radha Dwi Pradnyani
Editor: Adnyana Ole





























