12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengenang 13 Tahun Tragedi Sebelas (4): I Nyoman Sulatra, Menggantung Nyawa pada Dingklik Reong

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
September 24, 2024
in Khas
Mengenang 13 Tahun Tragedi Sebelas (4): I Nyoman Sulatra, Menggantung Nyawa pada Dingklik Reong

Ilustrasi ombak diolah dari Canva

PUKUL 24.00 wita adalah waktu bagi malam mencapai paripurna. Waktu yang membuat I Nyoman Sulatra tak kuasa menahan kantuk. Di kepalanya, hanya ingin tidur meskipun sebentar. Karena itu, ia memilih duduk paling depan, jauh dari suara mesin, lalu bersender pada bagian lambung kiri sampan yang ditumpanginya. Sampan melaju. Sesekali berguncang. Membuat tubuh Sulatra sedikit oleng. Namun, bukan alangan bagi Sulatra untuk memejamkan mata.

Ia terlelap. Hanya beberapa detik ketika sampan yang ditumpanginya tiba-tiba dihantam gelombang besar. Tak ada komproni. Gelombang besar itu datang menjulang dari kegelapan, lalu menghantam lambung kiri sampan tanpa ampun. Hanya sekali hantaman, sampan yang ditumpangi Sulatra langsung terbalik.

Begitulah I Noman Sulatra memulai ceritanya. Pria yang akrab disapa Mansu ini merupakan salah satu korban yang selamat dari “tragedi sebelas” di perairan Jungutbatu (21/9/20211) bersama 10 sekaa angklung lainnya.

Ia tak menyangka jika Tuhan bermurah hati memanjangkan napasnya. Namun demikian, ia tetap merasa sedih setiap mengenang tragedi itu. Sambil menahan sisa kepiluannya, ia berusaha melanjutkan ceritanya.

Ketika sampan terbalik, ia mendapati diri terperangkap di bawah sampan. Terperangkap seorang diri dalam kondisi pengap. Tak ada celah udara. Napasnya seperti tersangkut di tenggorokan. Kemudian, ia berusaha menyelam lebih ke bawah agar bisa keluar dari kubangan badan sampan.

Namun, sial. Seseorang mencekik lehernya dari belakang. Padahal, sebelumnya ia tidak mengendus ada orang lain di dalam sampan. Entahlah. Tiba-tiba, dia menerima cekikan begitu kuat. Ia berusaha melepas tangan itu sambil menyelam lebih ke dalam. Kali ini usahanya berhasil. Ia terbebas dari cekikan entah dari tangan siapa.

Pria berkumis ini menyembul ke permukaan air, tak jauh dari badan sampan. Ia menarik napas panjang, sambil melihat sekaa lainnya berpegangan pada badan sampan. Lalu, Mansu hendak bergerak mendekati badan sampan itu. Kali kedua, lehernya dicekik oleh seseorang dari belakang. Kembali ia berjuang untuk melepaskan cengkraman tangan itu. 

Mansu terlambat muncul ke permukaan karena sempat sedikit terlelap (ketiduran). Ia beruntung karena mulutnya dihantam sesuatu. Hantaman itulah yang betul-betul membuat ia sadar. Ia sadar bahwa sampan yang ditumpanginya mengalami musibah.

Sambil menahan rasa sakit di mulutnya, ia berusaha berbagi pegangan pada badan sampan yang tergolek (terbalik) tak berdaya itu. Di samping insting dan spotanitas, berbagi pegangan tersebut merupakan instruksi dari sang kapten sampan. Tujuannya tiada lain yakni untuk menjaga badan tetap mengambang. Namun sialnya, beberapa detik kemudian, sebuah gelombang besar kembali datang menghantam sampan yang terkulai itu.

Akibatnya, Mansu dan kawan-kawan terpental tak tentu arah. Sekaa angklung itu pecah, tercerai burai. Badan sampan juga menghilang entah ke mana. Saat itulah, Mansu mencium aroma kematian begitu kuat. “Hidup sudah berakhir,” pikirnya. Lalu, bagaimana dengan nasib istri dan anak-anaknya? Tiba-tiba bayang-bayang istri dan anaknya terlintas silih berganti di kepalanya.

Rupanya, otaknya belum bisa menerima takdir kematian. Ia tetap hendak melawan walaupun tidak begitu mahir berenang. Maklum, ia termasuk anak pegunungan. Kalau toh bisa berenang, juga tidak menjamin selamat. Pasalnya, gelombang terus membuncah. Arus laut dirasakannya begitu kuat.

Saking kuatnya, dalam sekejap, tubuh Mansu terseret ke tengah laut melewati tinggangan (perbatasan pasang surut air laut). Mansu berada di ujung ajal. Jarak kematian begitu dekat. Mungkin, tinggal satu kedipan mata.

Bertahan dengan Dingklik

Dalam situasi kritis itulah, ia melihat papan bidang mengambang mendekati dirinya. Papan itu seperti lahir dari gemuruh gelombang. Seperti ada kiriman dari kegelapan malam. Awalnya, ia mengira papan itu serpihan dari badan sampan. Ia segera menangkap papan bidang tersebut. Ternyata, sebuah papan dingklik, tempat duduk penabuh reong angklung.

Dingklik itu menjadi “percik harapan baru” bagi Mansu. Harapan untuk bisa bertahan mengambang. Karena itu, pria asal Bukit Mungkul ini langsung menyambarnya. Ia pegang kuat-kuat agar tidak terlepas dari badannya.

“Kalau tidak ada dingklik  itu, mungkin saya sudah sampai pada alamat kematian,” terangnya dengan nada penuh syukur.

Dingklik membawa Mansu memasuki babak baru “pengambangan diri”.  Namun, ia tidak mau memegang dingklik itu secara terus-menerus. Karena ia sadar bahwa dingklik itu sewaktu-waktu bisa terlepas dari cengkraman tangannya. Dingklik itu bisa saja terlepas karena hantaman gelombang atau diseret arus laut yang kuat. Pun bisa terlepas karena faktor kelelahan.

Situasi boleh chaos dan panik, tetapi rasional tetap jalan. Itulah yang mendasari Mansu mengambil keputusan yang jitu. Ia melepas kamennya. Lalu, kamen itu dijadikan alat untuk mengikatkan dirinya dengan dingklik tersebut. Bukan sembarang ikatan, tetapi ikatan yang kuat dan permanen. Sebagai pengangon sapi, ia jelas memiliki keterampilan tali-temali yang mumpuni.

Mansu merasa sedikit bersyukur atas kehadiran dingklik itu. Setidaknya, ada  pelampung emergency. Perannya kurang lebih seperti lifejacket. Ya, karena kapal motor tradisional (seperti sampan) memang tidak menyediakan lifejacket. Tak ada rotan, akar pun jadi. Tak ada lifejacket, dingklik pun kanggo.

Karena itu, dingklik tersebut menjadi penguasaan Mansu sepenuhnya. Akan tetapi, “drama nyawa” belum berakhir. Ia akan menjalani adegan mengambang entah sampai kapan. Mansu menyadari bahwa hanya dia (dan Tuhan) yang bisa menyelamatkan nyawanya.

Berteriak minta tolong bukan solusi saat itu. Sebaliknya, berteriak minta tolong hanya menghambur-hamburkan tenaga untuk mempercepat menguras energi. Karena ia tahu, masyarakat sekitar Pantai Jungutbatu sedang larut dalam tidur nyenyaknya.

Sebetulnya, Mansu mendengar sayup-sayup orkestra teriakan minta tolong. Ia menduga teriakkan itu berasal dari teman-temannya yang terdampar ke pinggir pantai. Kedengarannya begitu padu dan kompak hingga membangunkan malam, membangunkan gemuruh air laut—tetapi tidak berhasil membangunkan warga.

Oleh sebab itu, Mansu memilih diam dan pasrah, sambil menjaga tetap mengambang. Tindakan ini pun cukup menguras energinya. Pelan-pelan ia mulai merasakan kakinya pegal-pegal. Lama-kelamaan, ia tidak merasakan apa-apa pada bagian kakinya. Padahal, menurut Mansu kondisi air laut tidak terlalu dingin waktu itu.

Energi bertahan Mansu mulai mengendor. Ketika badannya diseret makin ke tengah, Mansu sudah tak sanggup melawan. Ia biarkan tubuhnya diombang-ambing oleh arus laut. Semangat hidupnya menjadi sedikit meredup.

Tubuh Mansu luntang-lantung di tengah laut tak tentu arah. Waktu itu, arah memang tidak penting bagi Mansu. Yang terpenting bagi dia cuma mengambang, alias tidak tenggelam. Karena itu, ia terus berusaha menjaga keseimbangan dengan cara membenamkan sedikit mukanya di permukaan laut. Sementara tubuhnya dalam kondisi lurus, membentang. Kalau tidak demikian, dingklik itu tidak kuat menahan beban badannya. Hal ini tentu berbahaya bagi keselamatan Mansu.

Kurang lebih 4 jam, adegan luntang-lantung terjadi. Hanya langit, kegelapan dan laut yang menjadi saksi. Hanya langit, kegelapan dan laut pula yang bisa membaca pikiran Mansu saat itu. Bukan hanya tubuh Mansu yang mengambang tetapi pikirannya juga ikut mengambang. Pada saat inilah, Mansu mendengar suara mesin sampan kecil. Sekitar pukul 04.00 pagi. Makin lama semakin mendekati dirinya.

Mansu sedikit lega. Dari suaranya, ia tahu orang yang berada di atas sampan itu adalah warga sekitar Jungutbatu. Mansu digotong naik ke atas sampan, lalu dibawa ke daratan. Tenaganya mendadak bangkit lagi. Karena itu, ketika diturunkan ia nekat agar tidak dipapah. Namun apa daya. Ia terpelanting. Ia tidak bisa membohongi tubuhnya yang lemas. Karena itu, ia langsung dilarikan ke puskesma terdekat untuk dirawat.

Sambil terbaring lemas, ia membentangkan ingatan sebelum tragedi itu. Menurutnya, ada satu firasat buruk yang tak terbaca oleh diri dan sekaa lainnya. Ketika sekaa hendak naik ke sampan Sri Murah Rezeki, ada 3 sekaa jatuh tersungkur di tempat yang sama. Mereka  jatuh bersama alat angklung yang dibawanya. Akan tetapi, semua sekaa menganggap kejadian itu sebagai peristiwa biasa.

Setelah tragedi terjadi, ia baru menyadari bahwa jatuhnya tiga temannya itu adalah pertanda buruk. Pertanda bahwa penyeberangan malam itu memang tidak mendapat restu dari semesta. Selain itu, Mansu juga menuturkan bahwa pihak keluarga pemilik karya juga menyarankan untuk menyeberang keesokan harinya. Namun, sekaa angklung Desa Adat Sebunibus tidak mengindahkan saran tersebut. Akhirnya, nasi remuk menjadi bubur. “Tragedi sebelas” terjadi dan selalu membangunkan luka trauma setiap Mansu mengingatnya.[T]

BACA ARTIKEL SEBELUM DAN BERIKUTNYA:

Mengenang 13 Tahun “Tragedi Sebelas” [1]: Nusa Penida Kehilangan Seniman Ngaji Bersaudara Asal Sebunibus
Mengenang 13 Tahun “Tragedi Sebelas” [2]: Seniman I Nyoman Pindah, Asa yang Tersisa dari Sebunibus
Mengenang “Tragedi Sebelas” (3): Nusa Penida Kehilangan Patih Agung Legendaris Asal Sebunibus—I Made Sekat
Sembilan Tahun Sebelum “Tragedi Sebelas” (5), Nusa Penida Kehilangan Seniman Muda Bertalenta—I Gede Suradnya
Tags: Nusa Penida
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengenang “Tragedi Sebelas” (3): Nusa Penida Kehilangan Patih Agung Legendaris Asal Sebunibus—I Made Sekat

Next Post

Sembilan Tahun Sebelum “Tragedi Sebelas” (5), Nusa Penida Kehilangan Seniman Muda Bertalenta—I Gede Suradnya

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails
Next Post
Sembilan Tahun Sebelum “Tragedi Sebelas” (5), Nusa Penida Kehilangan Seniman Muda Bertalenta—I Gede Suradnya

Sembilan Tahun Sebelum “Tragedi Sebelas” (5), Nusa Penida Kehilangan Seniman Muda Bertalenta—I Gede Suradnya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co