2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengenang 13 Tahun Tragedi Sebelas (4): I Nyoman Sulatra, Menggantung Nyawa pada Dingklik Reong

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
September 24, 2024
in Khas
Mengenang 13 Tahun Tragedi Sebelas (4): I Nyoman Sulatra, Menggantung Nyawa pada Dingklik Reong

Ilustrasi ombak diolah dari Canva

PUKUL 24.00 wita adalah waktu bagi malam mencapai paripurna. Waktu yang membuat I Nyoman Sulatra tak kuasa menahan kantuk. Di kepalanya, hanya ingin tidur meskipun sebentar. Karena itu, ia memilih duduk paling depan, jauh dari suara mesin, lalu bersender pada bagian lambung kiri sampan yang ditumpanginya. Sampan melaju. Sesekali berguncang. Membuat tubuh Sulatra sedikit oleng. Namun, bukan alangan bagi Sulatra untuk memejamkan mata.

Ia terlelap. Hanya beberapa detik ketika sampan yang ditumpanginya tiba-tiba dihantam gelombang besar. Tak ada komproni. Gelombang besar itu datang menjulang dari kegelapan, lalu menghantam lambung kiri sampan tanpa ampun. Hanya sekali hantaman, sampan yang ditumpangi Sulatra langsung terbalik.

Begitulah I Noman Sulatra memulai ceritanya. Pria yang akrab disapa Mansu ini merupakan salah satu korban yang selamat dari “tragedi sebelas” di perairan Jungutbatu (21/9/20211) bersama 10 sekaa angklung lainnya.

Ia tak menyangka jika Tuhan bermurah hati memanjangkan napasnya. Namun demikian, ia tetap merasa sedih setiap mengenang tragedi itu. Sambil menahan sisa kepiluannya, ia berusaha melanjutkan ceritanya.

Ketika sampan terbalik, ia mendapati diri terperangkap di bawah sampan. Terperangkap seorang diri dalam kondisi pengap. Tak ada celah udara. Napasnya seperti tersangkut di tenggorokan. Kemudian, ia berusaha menyelam lebih ke bawah agar bisa keluar dari kubangan badan sampan.

Namun, sial. Seseorang mencekik lehernya dari belakang. Padahal, sebelumnya ia tidak mengendus ada orang lain di dalam sampan. Entahlah. Tiba-tiba, dia menerima cekikan begitu kuat. Ia berusaha melepas tangan itu sambil menyelam lebih ke dalam. Kali ini usahanya berhasil. Ia terbebas dari cekikan entah dari tangan siapa.

Pria berkumis ini menyembul ke permukaan air, tak jauh dari badan sampan. Ia menarik napas panjang, sambil melihat sekaa lainnya berpegangan pada badan sampan. Lalu, Mansu hendak bergerak mendekati badan sampan itu. Kali kedua, lehernya dicekik oleh seseorang dari belakang. Kembali ia berjuang untuk melepaskan cengkraman tangan itu. 

Mansu terlambat muncul ke permukaan karena sempat sedikit terlelap (ketiduran). Ia beruntung karena mulutnya dihantam sesuatu. Hantaman itulah yang betul-betul membuat ia sadar. Ia sadar bahwa sampan yang ditumpanginya mengalami musibah.

Sambil menahan rasa sakit di mulutnya, ia berusaha berbagi pegangan pada badan sampan yang tergolek (terbalik) tak berdaya itu. Di samping insting dan spotanitas, berbagi pegangan tersebut merupakan instruksi dari sang kapten sampan. Tujuannya tiada lain yakni untuk menjaga badan tetap mengambang. Namun sialnya, beberapa detik kemudian, sebuah gelombang besar kembali datang menghantam sampan yang terkulai itu.

Akibatnya, Mansu dan kawan-kawan terpental tak tentu arah. Sekaa angklung itu pecah, tercerai burai. Badan sampan juga menghilang entah ke mana. Saat itulah, Mansu mencium aroma kematian begitu kuat. “Hidup sudah berakhir,” pikirnya. Lalu, bagaimana dengan nasib istri dan anak-anaknya? Tiba-tiba bayang-bayang istri dan anaknya terlintas silih berganti di kepalanya.

Rupanya, otaknya belum bisa menerima takdir kematian. Ia tetap hendak melawan walaupun tidak begitu mahir berenang. Maklum, ia termasuk anak pegunungan. Kalau toh bisa berenang, juga tidak menjamin selamat. Pasalnya, gelombang terus membuncah. Arus laut dirasakannya begitu kuat.

Saking kuatnya, dalam sekejap, tubuh Mansu terseret ke tengah laut melewati tinggangan (perbatasan pasang surut air laut). Mansu berada di ujung ajal. Jarak kematian begitu dekat. Mungkin, tinggal satu kedipan mata.

Bertahan dengan Dingklik

Dalam situasi kritis itulah, ia melihat papan bidang mengambang mendekati dirinya. Papan itu seperti lahir dari gemuruh gelombang. Seperti ada kiriman dari kegelapan malam. Awalnya, ia mengira papan itu serpihan dari badan sampan. Ia segera menangkap papan bidang tersebut. Ternyata, sebuah papan dingklik, tempat duduk penabuh reong angklung.

Dingklik itu menjadi “percik harapan baru” bagi Mansu. Harapan untuk bisa bertahan mengambang. Karena itu, pria asal Bukit Mungkul ini langsung menyambarnya. Ia pegang kuat-kuat agar tidak terlepas dari badannya.

“Kalau tidak ada dingklik  itu, mungkin saya sudah sampai pada alamat kematian,” terangnya dengan nada penuh syukur.

Dingklik membawa Mansu memasuki babak baru “pengambangan diri”.  Namun, ia tidak mau memegang dingklik itu secara terus-menerus. Karena ia sadar bahwa dingklik itu sewaktu-waktu bisa terlepas dari cengkraman tangannya. Dingklik itu bisa saja terlepas karena hantaman gelombang atau diseret arus laut yang kuat. Pun bisa terlepas karena faktor kelelahan.

Situasi boleh chaos dan panik, tetapi rasional tetap jalan. Itulah yang mendasari Mansu mengambil keputusan yang jitu. Ia melepas kamennya. Lalu, kamen itu dijadikan alat untuk mengikatkan dirinya dengan dingklik tersebut. Bukan sembarang ikatan, tetapi ikatan yang kuat dan permanen. Sebagai pengangon sapi, ia jelas memiliki keterampilan tali-temali yang mumpuni.

Mansu merasa sedikit bersyukur atas kehadiran dingklik itu. Setidaknya, ada  pelampung emergency. Perannya kurang lebih seperti lifejacket. Ya, karena kapal motor tradisional (seperti sampan) memang tidak menyediakan lifejacket. Tak ada rotan, akar pun jadi. Tak ada lifejacket, dingklik pun kanggo.

Karena itu, dingklik tersebut menjadi penguasaan Mansu sepenuhnya. Akan tetapi, “drama nyawa” belum berakhir. Ia akan menjalani adegan mengambang entah sampai kapan. Mansu menyadari bahwa hanya dia (dan Tuhan) yang bisa menyelamatkan nyawanya.

Berteriak minta tolong bukan solusi saat itu. Sebaliknya, berteriak minta tolong hanya menghambur-hamburkan tenaga untuk mempercepat menguras energi. Karena ia tahu, masyarakat sekitar Pantai Jungutbatu sedang larut dalam tidur nyenyaknya.

Sebetulnya, Mansu mendengar sayup-sayup orkestra teriakan minta tolong. Ia menduga teriakkan itu berasal dari teman-temannya yang terdampar ke pinggir pantai. Kedengarannya begitu padu dan kompak hingga membangunkan malam, membangunkan gemuruh air laut—tetapi tidak berhasil membangunkan warga.

Oleh sebab itu, Mansu memilih diam dan pasrah, sambil menjaga tetap mengambang. Tindakan ini pun cukup menguras energinya. Pelan-pelan ia mulai merasakan kakinya pegal-pegal. Lama-kelamaan, ia tidak merasakan apa-apa pada bagian kakinya. Padahal, menurut Mansu kondisi air laut tidak terlalu dingin waktu itu.

Energi bertahan Mansu mulai mengendor. Ketika badannya diseret makin ke tengah, Mansu sudah tak sanggup melawan. Ia biarkan tubuhnya diombang-ambing oleh arus laut. Semangat hidupnya menjadi sedikit meredup.

Tubuh Mansu luntang-lantung di tengah laut tak tentu arah. Waktu itu, arah memang tidak penting bagi Mansu. Yang terpenting bagi dia cuma mengambang, alias tidak tenggelam. Karena itu, ia terus berusaha menjaga keseimbangan dengan cara membenamkan sedikit mukanya di permukaan laut. Sementara tubuhnya dalam kondisi lurus, membentang. Kalau tidak demikian, dingklik itu tidak kuat menahan beban badannya. Hal ini tentu berbahaya bagi keselamatan Mansu.

Kurang lebih 4 jam, adegan luntang-lantung terjadi. Hanya langit, kegelapan dan laut yang menjadi saksi. Hanya langit, kegelapan dan laut pula yang bisa membaca pikiran Mansu saat itu. Bukan hanya tubuh Mansu yang mengambang tetapi pikirannya juga ikut mengambang. Pada saat inilah, Mansu mendengar suara mesin sampan kecil. Sekitar pukul 04.00 pagi. Makin lama semakin mendekati dirinya.

Mansu sedikit lega. Dari suaranya, ia tahu orang yang berada di atas sampan itu adalah warga sekitar Jungutbatu. Mansu digotong naik ke atas sampan, lalu dibawa ke daratan. Tenaganya mendadak bangkit lagi. Karena itu, ketika diturunkan ia nekat agar tidak dipapah. Namun apa daya. Ia terpelanting. Ia tidak bisa membohongi tubuhnya yang lemas. Karena itu, ia langsung dilarikan ke puskesma terdekat untuk dirawat.

Sambil terbaring lemas, ia membentangkan ingatan sebelum tragedi itu. Menurutnya, ada satu firasat buruk yang tak terbaca oleh diri dan sekaa lainnya. Ketika sekaa hendak naik ke sampan Sri Murah Rezeki, ada 3 sekaa jatuh tersungkur di tempat yang sama. Mereka  jatuh bersama alat angklung yang dibawanya. Akan tetapi, semua sekaa menganggap kejadian itu sebagai peristiwa biasa.

Setelah tragedi terjadi, ia baru menyadari bahwa jatuhnya tiga temannya itu adalah pertanda buruk. Pertanda bahwa penyeberangan malam itu memang tidak mendapat restu dari semesta. Selain itu, Mansu juga menuturkan bahwa pihak keluarga pemilik karya juga menyarankan untuk menyeberang keesokan harinya. Namun, sekaa angklung Desa Adat Sebunibus tidak mengindahkan saran tersebut. Akhirnya, nasi remuk menjadi bubur. “Tragedi sebelas” terjadi dan selalu membangunkan luka trauma setiap Mansu mengingatnya.[T]

BACA ARTIKEL SEBELUM DAN BERIKUTNYA:

Mengenang 13 Tahun “Tragedi Sebelas” [1]: Nusa Penida Kehilangan Seniman Ngaji Bersaudara Asal Sebunibus
Mengenang 13 Tahun “Tragedi Sebelas” [2]: Seniman I Nyoman Pindah, Asa yang Tersisa dari Sebunibus
Mengenang “Tragedi Sebelas” (3): Nusa Penida Kehilangan Patih Agung Legendaris Asal Sebunibus—I Made Sekat
Sembilan Tahun Sebelum “Tragedi Sebelas” (5), Nusa Penida Kehilangan Seniman Muda Bertalenta—I Gede Suradnya
Tags: Nusa Penida
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengenang “Tragedi Sebelas” (3): Nusa Penida Kehilangan Patih Agung Legendaris Asal Sebunibus—I Made Sekat

Next Post

Sembilan Tahun Sebelum “Tragedi Sebelas” (5), Nusa Penida Kehilangan Seniman Muda Bertalenta—I Gede Suradnya

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails
Next Post
Sembilan Tahun Sebelum “Tragedi Sebelas” (5), Nusa Penida Kehilangan Seniman Muda Bertalenta—I Gede Suradnya

Sembilan Tahun Sebelum “Tragedi Sebelas” (5), Nusa Penida Kehilangan Seniman Muda Bertalenta—I Gede Suradnya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co