24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengenang 13 Tahun Tragedi Sebelas (4): I Nyoman Sulatra, Menggantung Nyawa pada Dingklik Reong

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
September 24, 2024
in Khas
Mengenang 13 Tahun Tragedi Sebelas (4): I Nyoman Sulatra, Menggantung Nyawa pada Dingklik Reong

Ilustrasi ombak diolah dari Canva

PUKUL 24.00 wita adalah waktu bagi malam mencapai paripurna. Waktu yang membuat I Nyoman Sulatra tak kuasa menahan kantuk. Di kepalanya, hanya ingin tidur meskipun sebentar. Karena itu, ia memilih duduk paling depan, jauh dari suara mesin, lalu bersender pada bagian lambung kiri sampan yang ditumpanginya. Sampan melaju. Sesekali berguncang. Membuat tubuh Sulatra sedikit oleng. Namun, bukan alangan bagi Sulatra untuk memejamkan mata.

Ia terlelap. Hanya beberapa detik ketika sampan yang ditumpanginya tiba-tiba dihantam gelombang besar. Tak ada komproni. Gelombang besar itu datang menjulang dari kegelapan, lalu menghantam lambung kiri sampan tanpa ampun. Hanya sekali hantaman, sampan yang ditumpangi Sulatra langsung terbalik.

Begitulah I Noman Sulatra memulai ceritanya. Pria yang akrab disapa Mansu ini merupakan salah satu korban yang selamat dari “tragedi sebelas” di perairan Jungutbatu (21/9/20211) bersama 10 sekaa angklung lainnya.

Ia tak menyangka jika Tuhan bermurah hati memanjangkan napasnya. Namun demikian, ia tetap merasa sedih setiap mengenang tragedi itu. Sambil menahan sisa kepiluannya, ia berusaha melanjutkan ceritanya.

Ketika sampan terbalik, ia mendapati diri terperangkap di bawah sampan. Terperangkap seorang diri dalam kondisi pengap. Tak ada celah udara. Napasnya seperti tersangkut di tenggorokan. Kemudian, ia berusaha menyelam lebih ke bawah agar bisa keluar dari kubangan badan sampan.

Namun, sial. Seseorang mencekik lehernya dari belakang. Padahal, sebelumnya ia tidak mengendus ada orang lain di dalam sampan. Entahlah. Tiba-tiba, dia menerima cekikan begitu kuat. Ia berusaha melepas tangan itu sambil menyelam lebih ke dalam. Kali ini usahanya berhasil. Ia terbebas dari cekikan entah dari tangan siapa.

Pria berkumis ini menyembul ke permukaan air, tak jauh dari badan sampan. Ia menarik napas panjang, sambil melihat sekaa lainnya berpegangan pada badan sampan. Lalu, Mansu hendak bergerak mendekati badan sampan itu. Kali kedua, lehernya dicekik oleh seseorang dari belakang. Kembali ia berjuang untuk melepaskan cengkraman tangan itu. 

Mansu terlambat muncul ke permukaan karena sempat sedikit terlelap (ketiduran). Ia beruntung karena mulutnya dihantam sesuatu. Hantaman itulah yang betul-betul membuat ia sadar. Ia sadar bahwa sampan yang ditumpanginya mengalami musibah.

Sambil menahan rasa sakit di mulutnya, ia berusaha berbagi pegangan pada badan sampan yang tergolek (terbalik) tak berdaya itu. Di samping insting dan spotanitas, berbagi pegangan tersebut merupakan instruksi dari sang kapten sampan. Tujuannya tiada lain yakni untuk menjaga badan tetap mengambang. Namun sialnya, beberapa detik kemudian, sebuah gelombang besar kembali datang menghantam sampan yang terkulai itu.

Akibatnya, Mansu dan kawan-kawan terpental tak tentu arah. Sekaa angklung itu pecah, tercerai burai. Badan sampan juga menghilang entah ke mana. Saat itulah, Mansu mencium aroma kematian begitu kuat. “Hidup sudah berakhir,” pikirnya. Lalu, bagaimana dengan nasib istri dan anak-anaknya? Tiba-tiba bayang-bayang istri dan anaknya terlintas silih berganti di kepalanya.

Rupanya, otaknya belum bisa menerima takdir kematian. Ia tetap hendak melawan walaupun tidak begitu mahir berenang. Maklum, ia termasuk anak pegunungan. Kalau toh bisa berenang, juga tidak menjamin selamat. Pasalnya, gelombang terus membuncah. Arus laut dirasakannya begitu kuat.

Saking kuatnya, dalam sekejap, tubuh Mansu terseret ke tengah laut melewati tinggangan (perbatasan pasang surut air laut). Mansu berada di ujung ajal. Jarak kematian begitu dekat. Mungkin, tinggal satu kedipan mata.

Bertahan dengan Dingklik

Dalam situasi kritis itulah, ia melihat papan bidang mengambang mendekati dirinya. Papan itu seperti lahir dari gemuruh gelombang. Seperti ada kiriman dari kegelapan malam. Awalnya, ia mengira papan itu serpihan dari badan sampan. Ia segera menangkap papan bidang tersebut. Ternyata, sebuah papan dingklik, tempat duduk penabuh reong angklung.

Dingklik itu menjadi “percik harapan baru” bagi Mansu. Harapan untuk bisa bertahan mengambang. Karena itu, pria asal Bukit Mungkul ini langsung menyambarnya. Ia pegang kuat-kuat agar tidak terlepas dari badannya.

“Kalau tidak ada dingklik  itu, mungkin saya sudah sampai pada alamat kematian,” terangnya dengan nada penuh syukur.

Dingklik membawa Mansu memasuki babak baru “pengambangan diri”.  Namun, ia tidak mau memegang dingklik itu secara terus-menerus. Karena ia sadar bahwa dingklik itu sewaktu-waktu bisa terlepas dari cengkraman tangannya. Dingklik itu bisa saja terlepas karena hantaman gelombang atau diseret arus laut yang kuat. Pun bisa terlepas karena faktor kelelahan.

Situasi boleh chaos dan panik, tetapi rasional tetap jalan. Itulah yang mendasari Mansu mengambil keputusan yang jitu. Ia melepas kamennya. Lalu, kamen itu dijadikan alat untuk mengikatkan dirinya dengan dingklik tersebut. Bukan sembarang ikatan, tetapi ikatan yang kuat dan permanen. Sebagai pengangon sapi, ia jelas memiliki keterampilan tali-temali yang mumpuni.

Mansu merasa sedikit bersyukur atas kehadiran dingklik itu. Setidaknya, ada  pelampung emergency. Perannya kurang lebih seperti lifejacket. Ya, karena kapal motor tradisional (seperti sampan) memang tidak menyediakan lifejacket. Tak ada rotan, akar pun jadi. Tak ada lifejacket, dingklik pun kanggo.

Karena itu, dingklik tersebut menjadi penguasaan Mansu sepenuhnya. Akan tetapi, “drama nyawa” belum berakhir. Ia akan menjalani adegan mengambang entah sampai kapan. Mansu menyadari bahwa hanya dia (dan Tuhan) yang bisa menyelamatkan nyawanya.

Berteriak minta tolong bukan solusi saat itu. Sebaliknya, berteriak minta tolong hanya menghambur-hamburkan tenaga untuk mempercepat menguras energi. Karena ia tahu, masyarakat sekitar Pantai Jungutbatu sedang larut dalam tidur nyenyaknya.

Sebetulnya, Mansu mendengar sayup-sayup orkestra teriakan minta tolong. Ia menduga teriakkan itu berasal dari teman-temannya yang terdampar ke pinggir pantai. Kedengarannya begitu padu dan kompak hingga membangunkan malam, membangunkan gemuruh air laut—tetapi tidak berhasil membangunkan warga.

Oleh sebab itu, Mansu memilih diam dan pasrah, sambil menjaga tetap mengambang. Tindakan ini pun cukup menguras energinya. Pelan-pelan ia mulai merasakan kakinya pegal-pegal. Lama-kelamaan, ia tidak merasakan apa-apa pada bagian kakinya. Padahal, menurut Mansu kondisi air laut tidak terlalu dingin waktu itu.

Energi bertahan Mansu mulai mengendor. Ketika badannya diseret makin ke tengah, Mansu sudah tak sanggup melawan. Ia biarkan tubuhnya diombang-ambing oleh arus laut. Semangat hidupnya menjadi sedikit meredup.

Tubuh Mansu luntang-lantung di tengah laut tak tentu arah. Waktu itu, arah memang tidak penting bagi Mansu. Yang terpenting bagi dia cuma mengambang, alias tidak tenggelam. Karena itu, ia terus berusaha menjaga keseimbangan dengan cara membenamkan sedikit mukanya di permukaan laut. Sementara tubuhnya dalam kondisi lurus, membentang. Kalau tidak demikian, dingklik itu tidak kuat menahan beban badannya. Hal ini tentu berbahaya bagi keselamatan Mansu.

Kurang lebih 4 jam, adegan luntang-lantung terjadi. Hanya langit, kegelapan dan laut yang menjadi saksi. Hanya langit, kegelapan dan laut pula yang bisa membaca pikiran Mansu saat itu. Bukan hanya tubuh Mansu yang mengambang tetapi pikirannya juga ikut mengambang. Pada saat inilah, Mansu mendengar suara mesin sampan kecil. Sekitar pukul 04.00 pagi. Makin lama semakin mendekati dirinya.

Mansu sedikit lega. Dari suaranya, ia tahu orang yang berada di atas sampan itu adalah warga sekitar Jungutbatu. Mansu digotong naik ke atas sampan, lalu dibawa ke daratan. Tenaganya mendadak bangkit lagi. Karena itu, ketika diturunkan ia nekat agar tidak dipapah. Namun apa daya. Ia terpelanting. Ia tidak bisa membohongi tubuhnya yang lemas. Karena itu, ia langsung dilarikan ke puskesma terdekat untuk dirawat.

Sambil terbaring lemas, ia membentangkan ingatan sebelum tragedi itu. Menurutnya, ada satu firasat buruk yang tak terbaca oleh diri dan sekaa lainnya. Ketika sekaa hendak naik ke sampan Sri Murah Rezeki, ada 3 sekaa jatuh tersungkur di tempat yang sama. Mereka  jatuh bersama alat angklung yang dibawanya. Akan tetapi, semua sekaa menganggap kejadian itu sebagai peristiwa biasa.

Setelah tragedi terjadi, ia baru menyadari bahwa jatuhnya tiga temannya itu adalah pertanda buruk. Pertanda bahwa penyeberangan malam itu memang tidak mendapat restu dari semesta. Selain itu, Mansu juga menuturkan bahwa pihak keluarga pemilik karya juga menyarankan untuk menyeberang keesokan harinya. Namun, sekaa angklung Desa Adat Sebunibus tidak mengindahkan saran tersebut. Akhirnya, nasi remuk menjadi bubur. “Tragedi sebelas” terjadi dan selalu membangunkan luka trauma setiap Mansu mengingatnya.[T]

BACA ARTIKEL SEBELUM DAN BERIKUTNYA:

Mengenang 13 Tahun “Tragedi Sebelas” [1]: Nusa Penida Kehilangan Seniman Ngaji Bersaudara Asal Sebunibus
Mengenang 13 Tahun “Tragedi Sebelas” [2]: Seniman I Nyoman Pindah, Asa yang Tersisa dari Sebunibus
Mengenang “Tragedi Sebelas” (3): Nusa Penida Kehilangan Patih Agung Legendaris Asal Sebunibus—I Made Sekat
Sembilan Tahun Sebelum “Tragedi Sebelas” (5), Nusa Penida Kehilangan Seniman Muda Bertalenta—I Gede Suradnya
Tags: Nusa Penida
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengenang “Tragedi Sebelas” (3): Nusa Penida Kehilangan Patih Agung Legendaris Asal Sebunibus—I Made Sekat

Next Post

Sembilan Tahun Sebelum “Tragedi Sebelas” (5), Nusa Penida Kehilangan Seniman Muda Bertalenta—I Gede Suradnya

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails
Next Post
Sembilan Tahun Sebelum “Tragedi Sebelas” (5), Nusa Penida Kehilangan Seniman Muda Bertalenta—I Gede Suradnya

Sembilan Tahun Sebelum “Tragedi Sebelas” (5), Nusa Penida Kehilangan Seniman Muda Bertalenta—I Gede Suradnya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co