27 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengenang “Tragedi Sebelas” (3): Nusa Penida Kehilangan Patih Agung Legendaris Asal Sebunibus—I Made Sekat

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
September 24, 2024
in Khas
Mengenang “Tragedi Sebelas” (3): Nusa Penida Kehilangan Patih Agung Legendaris Asal Sebunibus—I Made Sekat

I Made Sekat, Patih Agung Legendaris dari Sebunibus, Nusa Penida | Foto: Dok. I Wayan Sudita

JIKA Bali daratan memiliki Patih Agung legendaris bernama I Wayan Sugita, maka Nusa Penida memiliki I Made Sekat. Sekat adalah pragina Patih Agung yang sangat terkenal di seluruh Nusa Penida. Aksi-aksi panggung Sekat sangat khas, berkarakter, dan selalu mengundang decak kagum para penonton.

Jujur, pada era 80-an dan 90-an, rasanya tak ada satu pun pragina lain (di Nusa Penida) yang sanggup menandingi kemampuan aktingnya. Sayang, pada usianya ke-67 tahun, ia harus tutup usia bersama sekaa Angklung Desa Adat Sebunibus dalam “tragedi sebelas” (21/9/2011).

Made Sekat menjadi salah satu korban tenggelamnya kapal motor Sri Murah Rezeki. Ia yang tergabung dalam sekaa angklung Banjar Kangin, Desa Adat Sebunibus, ikut ngayah ngangklung ke Desa Jungutbatu (Pulau Lembongan). Ketika hendak balik ke pulau Nusa Penida, kapal motor yang ditumpanginya tenggelam dihantam gelombang besar di perairan Jungutbatu waktu tengah malam.

Selain pelaku teater tradisional (drama gong), ia juga memiliki kemampuan ber-karawitan yaitu memainkan instrumen angklung. Pria 4 anak ini tergabung dalam sekaa Angklung Banjar Kangin, Desa Adat Sebunibus.

I Made Sekat, Patih Agung Legendaris dari Sebunibus, Nusa Penida | Foto: Dok. I Wayan Sudita

Sekaa angklungnya seringkali mendapat undangan (kupah atau ngayah) di seputaran Nusa Penida, termasuk ke pulau seberang, Desa Jungutbatu. Sayangnya, aksi ngayahnya ke tempat ini menjadi yang terakhir kalinya. Ia meninggal dalam tragedi sebelas. Jasadnya lenyap bersama 11 sekaa angklung lainnya.

Patih Agung Legendaris, Penulis Naskah, dan Sutradara

Semasa hidupnya, Made Sekat dikenal sebagai pelaku teater tradisional, drama gong. Ia bukan hanya aktor (pemain) drama gong, tetapi juga penulis (pengkonsep) naskah drama dan sutradara.

Namun, orang-orang lebih mengenal Sekat sebagai pemain drama gong, khususnya peran Patih Agung. Peran antagonis inilah yang menjadikan dirinya begitu ikonik dan dikenal luas.

Nama Sekat begitu populer pada era 80-an. Era ketika seni drama gong mengalami keemasan di Nusa Penida. Zaman ketika ruang hiburan sangat terbatas waktu itu. Televisi dan radio hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu (yang mampu). Maka, hiburan rakyat yang paling berharga kala itu terpusat pada wantilan atau kalangan.

Semua pertunjukkan seni tradisional Bali termasuk drama gong digelar di wantilan secara live. Jadi, jangan heran setiap pertunjukkan drama gong, wantilan (kalangan) mendadak menjadi kerumuman massa. Kerumuman yang haus dengan hiburan drama gong yang nge-hit zaman itu.

Di tengah kerumunan penonton itulah, Sekat beraksi. Kemampuan bersilat lidah di atas panggungnya disegani penonton. Ekspresi dan gerak-geriknya di panggung selalu sukses mengundang respon penonton.

Jika ia muncul di atas panggung, meskipun belum berbicara, maka penonton langsung bersorak “Huuu…”. Sebuah reaksi penuh benci dari para penonton. Namun, Sekat sangat menikmati peran antagonisnya.

Semakin disoraki, Sekat justru bersemangat untuk menunjukkan kepiawaian aktingnya. Aksi teror, propoganda dan kelicikannnya sangat halus. Ia memainkan dengan dramatis, apik dan sangat pas dengan karakternya. Tidak ditemukan akting yang dibuat-buat. Semua aksinya mulus. Natural.

Karena itulah, seringkali ia mendapat caci-maki hingga lemparan sesuatu dari penonton. Beberapa penonton kehilangan kontrol karena jengkel (marah) melihat aksinya di panggung. Namun, pria kelahiran tahun 1955 ini tidak pernah merasa jengkel apalagi sentimen terhadap reaksi (ulah) para penontonnya.

“Ngomongin soal amarah penonton, bapak pernah dilempari batu oleh penonton waktu pentas di Desa Pejukutan. Penonton jengkel karena bapak melakukan adegan menyiksa raja muda dan tuan putri,”  terang I Wayan Sudita, putra sulung dari Made Sekat ini.

Sekat sudah menyadari risiko aktingnya. Bagi Sekat, kejengkelan penonton merupakan kesuksesan. Kesuksesan bahwa ia menjalani akting dengan optimal. Hal ini akan memberikan kepuasan pada dirinya.

Sekat memang sangat menyatu dengan karakter Patih Agung. Bukan hanya karena aktingnya semata. Suami dari Ni Nyoman Niri ini juga memiliki postur yang ideal. Gede gangsuh (tinggi besar, tegap). Tingginya mencapai kurang lebih 170-180-an. Postur ini diperkuat dengan bola matanya yang bulat agak besar. Sorot matanya tajam. Di tambah, kumisnya sedikit tebal.

Ia juga memiliki senyum ganda. Sehari-hari, Sekat memiliki senyum yang ramah. Ia dikenal sebagai pribadi yang murah senyum. Namun, ia juga memiliki “senyum panggung” yang khas. Kata orang, senyum sinis nan licik (karena mengikuti karakter tokoh).

Jadi, Sekat memiliki fisik ideal dan natural sebagai seorang Patih Agung. Karakternya menjadi lebih kuat ketika dirias. Cukup dirias dengan alis dan kumis yang cungkring, maka feel Patih Agung langsung menyatu pada dirinya. Jika ia sedikit melototkan mata dan menarik kumisnya, dijamin anak-anak pada zaman 80-an dan 90-an akan lari terbirit-birit.

Bakat Sekat menjadi pragina (Patih Agung) mengalir dari keluarga sang nenek. Menurut I Wayan Sudita, saudara neneknya dulu seorang pragina terkenal pada zamannya. Rupanya, darah seni dari saudara neneknya ini menurun kepada sang ayah, Made Sekat.

I Made Sekat, Patih Agung Legendaris dari Sebunibus, Nusa Penida | Foto: Dok. I Wayan Sudita

Sekat memulai karier bermain drama pada tahun 70-an. Pada masa permulaan itu, Sekat tidak langsung menjadi Patih Agung. Ia sempat menjadi Pranan (tokoh utama, raja muda).

“Waktu itu bapak saya memainkan drama tentang Rama dan Sinta dengan bahasa kawi/ Jawa kuno. Ia ditunjuk sebagai Rama (Pranan),” terang Sudita, pengusaha sawit yang kini tinggal di Palembang ini.

Sebelum jatuh cinta pada tokoh Patih Agung, Sekat pernah memerankan beberapa tokoh lain dalam drama gong. Namun, ia merasakan lebih cocok menjadi Patih Agung. Sekat memiliki karakter vokal khas yaitu suaranya berat, serak dan berpower.

Ia piawai memainkan lirik mata yang tajam. Lirikan picik dan penuh keculasan. Senyumnya manis tetapi sinis. Senyum khas penuh siasat dan taktik tipu muslihat. Ditambah, Sekat juga pandai berdiplomasi dan menguasai jurus-jurus provokasi.

Dengan kelebihannya itu, Sekat memang tiada tandingan pada masanya. Dialah (mungkin) satu-satunya orang yang memiliki skill Patih Agung yang paling kompleks di Nusa Penida, khususnya di Desa Adat Sebunibus.

Karena itu, ia sering mendapat tawaran bermain di beberapa tempat di wilayah Nusa Penida pada acara upacara adat, misalnya acara tiga bulanan anak, odalan, nawur sesangi, dan lain sebagainya.

Ia pentas tidak hanya bersama sekaanya (sekaa Gong Madu Suara Sebunibus), tetapi sering diajak berkolaborasi oleh beberapa sekaa gong lain di wilayah Nusa Penida. Bahkan, ia pernah satu panggung (bermain drama) dengan I Wayan Sugita (Patih Agung legendaris Bali daratan) dan Patih Anom legendaris (Anak Agung Rai Kalem). Waktu itu, Made Sekat tetap sebagai Patih Agung, sedangkan I Wayan Sugita berperan sebagai Patih Werda.

Selain menjadi pemain, Sekat juga merangkap jabatan kala itu. Ia menjadi ketua gabungan sekaa drama tersebut. Pria yang pernah menjabat sebagai prajuru bendesa adat Sebunibus ini juga menjadi tukang konsep ide cerita (penulis naskah cerita). Bahkan, Sekat merangkap sebagai sutradara.

I Wayan Sugita pernah satu panggung dengan I Made Sekat | Foto: Dok. sekdutbali

“Pernah ada drama gabungan (bonan) untuk memperingati 17 Agustus di Lapangan Umum Sampalan, Nusa Penida. Sekitar tahun 90-an. Ketiga legend ini bermain satu panggung. Ada I Wayan Sugita, Anak Agung Rai Kalem dan bapak saya. Pengiring tabuhnya waktu itu dari Sekaa Gong Madu Suara Sebunibus, yang diketua oleh Made Riawan dan pembina tabuh Made Ngaji,” ujar Sudita.

Selain di Sampalan (Nusa Penida), Sekat juga pernah diundang bermain drama gong di Art Center dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (tahun 90-an). Kembali Sekat satu panggung dengan Sudita dan Rai Kalem. Posisinya hampir sama. Sekat berperan sebagai Patih Agung, Sudita sebagai Patih Werda dan Rai Kalem berperan menjadi Patih Anom.

Dari awal (tahun 70-an), masa kejayaan (tahun 80-90-an), dan meredupnya seni drama gong (2000-an) di NP—nama Made Sekat tidak dapat dilepaskan dalam per-dramagong-an di Nusa Penida. Ia memiliki peran besar dalam perkembangan seni drama gong di Nusa Penida.

Berkat jam terbangnya yang tinggi dalam dunia per-dramagong-an, Sekat banyak mendapat tawaran melatih (membina) sekaa drama gong di beberapa wilayah di NP hingga ke luar daerah transmigran seperti Kalimantan dan Sumatera.

“Bapak menjadi pelatih drama gong sejak tahun 1985. Ia pernah membina di beberapa daerah di Nusa Penida, misalnya di Pengalusan, Cemlagi, Biaung, Pejukutan, Sekartaji dan lain-lainnya. Beliau juga pernah melatih di Basarang (Kalteng) dan Balinuraga (Lampung Selatan, Sumatera),” ungkap Sudita dengan nada bangga.

Sekat memang sosok pragina Patih Agung yang legend di Nusa Penida. Histori drama gong di Nusa Penida tidak akan melupakan nama I Made Sekat. Ia boleh meninggalkan dunia untuk selama-lamanya. Namun, jasanya dalam memajukan seni drama gong akan selalu dikenang abadi oleh masyarakat Nusa Penida.[T]

BACA ARTIKEL SEBELUM DAN BERIKUTNYA:

Mengenang 13 Tahun “Tragedi Sebelas” [1]: Nusa Penida Kehilangan Seniman Ngaji Bersaudara Asal Sebunibus
Mengenang 13 Tahun “Tragedi Sebelas” [2]: Seniman I Nyoman Pindah, Asa yang Tersisa dari Sebunibus
Mengenang 13 Tahun Tragedi Sebelas (4): I Nyoman Sulatra, Menggantung Nyawa pada Dingklik Reong
Sembilan Tahun Sebelum “Tragedi Sebelas” (5), Nusa Penida Kehilangan Seniman Muda Bertalenta—I Gede Suradnya

Tags: Desa Adat Sebunibusdrama gongkesenian baliNusa Penida
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dialog Galungan

Next Post

Mengenang 13 Tahun Tragedi Sebelas (4): I Nyoman Sulatra, Menggantung Nyawa pada Dingklik Reong

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails

Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
0
Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali

“SATU yang tidak bisa dilakukan oleh AI adalah sentuhan nurani.” Kalimat itu diucapkan oleh I Made Adnyana di tengah diskusi...

Read moreDetails

Membaca Ulang Mitos Lewat “Rahu” Karya Gus Martin

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026
0
Membaca Ulang Mitos Lewat “Rahu” Karya Gus Martin

BERANDA Pustaka menggelar diskusi bedah buku bertajuk "Dekonstruksi Mitos: Menelusuri Kedalaman Peristiwa dalam Naskah Drama Rahu". Diskusi ini menjadi kesempatan...

Read moreDetails

Oka Rusmini Bedah “Kembang”, Menggali Luka Sunyi Perempuan Penyintas Tragedi 1965

by Nyoman Budarsana
July 22, 2026
0
Oka Rusmini Bedah “Kembang”, Menggali Luka Sunyi Perempuan Penyintas Tragedi 1965

KALANGAN Ayodya, Taman Budaya Bali, yang biasanya dipenuhi riuh pertunjukan tari dan karawitan, berubah menjadi ruang perenungan pada Selasa (21/7/2026)...

Read moreDetails

Eka Kurniawan Kupas Makna Kemanusiaan dalam Novel “O” di Festival Seni Bali Jani VIII 2026

by Nyoman Budarsana
July 22, 2026
0
Eka Kurniawan Kupas Makna Kemanusiaan dalam Novel “O” di Festival Seni Bali Jani VIII 2026

AGENDA Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 semakin semarak dengan hadirnya diskusi buku bertajuk "Hasrat Menjadi Manusia dalam...

Read moreDetails

Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
0
Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah

PROGRAM Sastra Masuk Kurikulum menjadi salah satu isu penting yang mengemuka dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun...

Read moreDetails
Next Post
Mengenang 13 Tahun Tragedi Sebelas (4): I Nyoman Sulatra, Menggantung Nyawa pada Dingklik Reong

Mengenang 13 Tahun Tragedi Sebelas (4): I Nyoman Sulatra, Menggantung Nyawa pada Dingklik Reong

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan
Tualang

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

"Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan."...

by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Politik dan Krisis Komunikasi Publik Pemimpin

DINAMIKA komunikasi politik selalu berubah pada setiap rezim. Puluhan tahun silam, para pemimpin dikenal lewat pidato di lapangan terbuka dan...

by Chusmeru
July 27, 2026
Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa
Esai

Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

SEBUAH peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Bali kembali mengguncang nurani masyarakat. Bukan semata karena adanya korban jiwa, tetapi...

by Agung Sudarsa
July 27, 2026
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi
Ulas Buku

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan
Khas

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

by Angga Wijaya
July 27, 2026
Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego
Esai

Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

ADA sebuah kalimat yang telah bertahan melewati pergantian zaman, melintasi peradaban, dan terus dikutip hingga hari ini: “Dan kamu akan...

by T.H. Hari Sucahyo
July 26, 2026
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan
Khas

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris
Khas

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

“Kapan Nikah?”: Ketika Usia Jadi Alat untuk Menghakimi Perempuan

"Kapan Nikah?" Dua kata yang terdengar ringan di telinga yang menanyakannya, tapi menjadi beban yang dibawa pulang bagi perempuan yang...

by Fitria Hani Aprina
July 25, 2026
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi
Ulas Pentas

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Tidak semua orang membatik untuk menghasilkan kain. Ada yang membatik agar hatinya tetap utuh." Di ruang terbuka lantai atas rumahnya,...

by Tri Nugroho Adi
July 25, 2026
‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan
Panggung

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

RUANGAN Gedung Ksirarnawa mendadak sunyi. Lampu panggung meredup, hanya menyisakan seberkas cahaya yang jatuh pada seorang lelaki yang duduk di...

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co