12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dialog Galungan

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
September 24, 2024
in Esai
Besakih dan Medsos

“APA makna Galungan buatmu?” tanya Wedia kepada Olog.

“Jawaban serius atau becanda?” Olog memberi opsi.

“Ya, keduanya!” jawab Wedia.

“Becanda dulu, ya. Hehehe. Dulu saat masih anak-anak, saat hidup masih susah—susah makan, susah beli baju baru, susah pergi rekreasi, Galungan adalah momen untuk makan enak daging babi. Lawar, tum, sate, jukut balung isi nangka atau atau don blimbing, urab kacang panjang, kadang komoh. Satenya saja ada dua, sate daging dan sate lilit nyuh. Itu cuma sekali dalam enam bulan. Galungan adalah jadwal beli baju baru dan saat manis Galungan sudah pasti plesir ke kota, ke air panas Banjar, air Sanih, pabean, atau ke kebun raya Bedugul,” terang Olog.

“Apa lagi candaanmu?” tanya Widia.

“Saat ini, saat kita sudah pada kaya, Galungan menemukan kita dengan keluarga. Untuk bisa kaya kita harus pergi jauh dari keluarga. Apalagi kalau di desa tidak punya kebun atau sawah yang luas, untuk hidup mandiri mau tak mau harus merantau. Itu membuat kita terpisah jauh dengan keluarga. Apalagi saudara kita yang memilih bekerja di kapal pesiar di Amerika atau Eropa, Galungan pun belum tentu bisa pulang. Mungkin perlu beberapa Galungan untuk bisa bertemu lagi dengan kerabat dan sanak keluarga, sahabat atau tetangga.”

“Candaan yang kedua sudah mulai terasa serius. Lalu makna seriusnya apa, Log?”

“Melaksanakan kewajiban ajaran agama!” jawab Olog.

“Oh, dengan memberi label sebagai kewajiban, itu menjadi hal yang serius?”

“Hehehe, betul. Kewajiban membuat apa pun menjadi serius, bahkan seram. Pernah dengar sekelompok orang yang mengklaim sedang menjalankan kewajiban agama merasa perlu menghentikan kendaraan lain, bahkan dengan cara paksa dan memukulnya? Konon itu perintah para dewa.”

Wedia mengangguk-angguk, lalu menggeleng-geleng kecewa.

Olog melanjutkan. “Sementara alasan candaanku di atas, begitu terasa sebagai hak. Suasana yang begitu membahagiakan, sepenuhnya.”

“Itu artinya kalau kita tidak melaksanakan ibadah Galungan berarti tidak menjalankan kewajiban agama?” Wedia menimpalinya.

“Begitulah menurut kebanyakan orang. Padahal sehari-hari kita bisa bertemu orang lain. Di kantor, di balai RT, di pasar atau antre di bank.”

“Maksudmu, itu juga ibadah?”

“Oh ya, pasti. Jika kau perlakukan orang yang kau temui itu dengan baik dan penuh rasa kemanusiaan. Melayani dengan baik dan sepenuh hati yang ada urusan di kantormu, menghargai pendapat yang lain di balai RT, membantu mengangkat barang seorang ibu yang keberatan di pasar atau tertib antre di bank.”

“Artinya kita tidak perlu ke pura atau tempat ibadah?” tanya Wedia dengan sedikit menyudutkan.

“Aku tidak bilang begitu,” sanggah Olog. “Pura atau tempat ibadah jelas tempat yang sangat baik buat beribadah, karena setiap orang yang datang pasti dengan hati dan pikiran yang bersih. Namun bukankah Tuhan ada di mana-mana? Di kantor, di balai RT, di pasar atau di bank. Itu artinya kita membawanya ke mana-mana, karena ada di hati kita semua,” sambung Olog.

“Lalu untuk apa lagi ke pura, ke merajan, pelinggih, atau tirta yatra?”

“Bukankah hal baik mempertemukan banyak hati dan pikiran yang bersih? Menyatukan doa, bersama kerabat dan sanak keluarga?” jawab Olog.

“Jadi semuanya baik?”

“Jelas.”

“Apa yang selama ini, kadang membuat hal menjadi buruk?” tanya Wedia lagi.

“Cara pandang dan cara memperlakukannya. Cara pandang yang buruk dan cara memperlakukan dengan buruk membuat hal menjadi buruk.”

“Sesederhana itu?”

“Ambil contoh, alkohol. Apakah itu sedemikian buruknya sampai harus dilarang dan ditakuti? Karena kita memperlakukannya dengan cara buruk: mabuk, ketagihan, bikin onar, kecelakaan lalu lintas, cedera bahkan kematian, tak sedikit pemerkosaan dan pembunuhan. Lalu alkohol menciptakan cara pandang manusia yang buruk.”

“Berarti orang yang main judi untuk mengisi hari libur saat Galungan tidak buruk?”

“Kalau judi sampai dua malam, pulang kampung tapi tak pernah tampak di rumah karena judi, bagaimana itu tidak buruk? Itu cara memperlakukan kesenangan dengan cara yang sangat buruk. Alih-alih bertemu kerabat atau kawan dalam kehangatan bermain kartu atau domino hiburan semata, kalau yang ada adalah menghabiskan anggaran hari raya, pinjam sana sini, jual ini itu, bagaimana mau bilang baik? Bahkan Panca Pandawa pun sampai tega mempertaruhkan istri mereka di meja perjudian.” 

“Bagaimana simbol Galungan sebagai kemenangan Dharma, dalam fenomena ini?”

“Itu falsafah yang sangat unggul. Kita cenderung membutuhkan musuh di luar untuk dikalahkan, untuk menjadi pemenang. Padahal kemenangan Dharma di hari Galungan itu, filosofinya adalah kemenangan melawan Adharma dalam diri sendiri. Musuh terbesar dan terkuat manusia adalah dirinya sendiri. Saat berhasil menaklukan diri sendiri, maka tak ada lagi musuh lain yang perlu dikalahkan. Sebab, musuh terkuat telah takluk. Sebesar apa pun tantangan dari luar, itu takkan mampu mengguncang emosi kita lagi.”

“Wah, saat diri sudah bisa dikalahkan, ritual sudah tak diperlukan lagi, ya?”

“Kenapa tidak? Melakukan ritual memerlukan kekuatan untuk melawan keengganan dan skeptisisme diri yang ego dan terlampau pintar secara spiritual, hehehe. Bukankan dengan ritual kita dapat bertemu kerabat dalam senda gurau dan keriangan? Berbagai cerita di rantau atau berbagi surudan/saranam  upacara. Lebih-lebih setelah bertemu, kita dapat memperbaiki hubungan dengan kerabat lain yang sebelumnya sempat retak misalnya. Itulah makna serius dari ibadah Galungan ini.”

“Oh, Galungan yang upacara Dewa Yadnya, tapi dari penjelasanmu lebih ke manusia?”

“Hehehe, memang Tuhan dan para dewa butuh apa sih dari kita? Puja puji? Meski kau memaki Tuhan dan para dewa pun, mereka takkan peduli.”

“Bukannya kita bakal menemukan celaka jika berani-berani menghina Tuhan atau para dewa?”

“Ya, celaka, sudah pasti itu. Tapi bukan karena dikutuk oleh Tuhan atau para dewa yang murka. Namun jelas karena energi buruk dalam dirimu sendiri yang penuh benci dan amarah. Itulah yang membuatmu celaka. Kembali lagi pada perkara mengalahkan diri sendiri. Memaki atau menghina, jelas hal yang buruk. Entah itu ditujukan kepada Tuhan dan para dewa atau kepada seorang tukang sapu atau kepada seekor anjing, itu semua sama. Semuanya membuatmu celaka.”

“Berarti, Tuhan sebetulnya tak butuh dipuja ya?”

“Ya, tidak sama sekali. Justru kita yang sangat butuh untuk memuja. Memuja Tuhan, para dewa, orang lain, lebih-lebih orang yang kekurangan, anjing terlantar atau rimbun pepohonan. Maka, dalam hal ini memuja adalah hak, bukan kewajiban. Memuja, membiasakan cara pandang yang baik, terlebih lagi memperlakukan yang lain dengan etis dan penuh rasa kemanusiaan, adalah makna serius Galungan dan perayaan hari suci yang lain.

“Sepertinya ini konsep Tri Hita Karana.”

“Tri Hita Karana, kerangka dasar Hindu. Jika hubungan sudah harmonis dengan alam dan sesama, dengan sang pencipta akan sendirinya harmonis. Karena Tuhanlah yang telah menciptakan alam dan mahluk hidup. Dari kerangka dasar ajaran Hindu, jelas ini elemen etika yang memang bagian terbesar dari komposisi sebutir telur, yaitu bagian putih telurnya. Kuning telur adalah filsafatnya atau tatwa dan bagian paling tipis yaitu cangkangnya adalah ritual.”

“Kalau cangkannya dihilangkan, kan telur tetap bernilai? Tapi kalau cuma cangkang saja, rasanya sudah tak bernilai apa-apa.”

“Persis, apalagi kalau cangkangnya itu dipenuhi tahi ayam. Hehehe. Namun, gagasan itu benar setelah telur sudah dikeluarkan dari tubuh ayam. Saat masih dalam proses pembentukan, justru cangkanyalah yang menjadi pelindung sampai proses pembentukan telur selesai.”

“Bagaimana dengan cangkang telur yang ternoda kotoran?” Wedia kembali bertanya.

“Hehehe. Ini pertanyaan pancingan. Ya, biar tampak lebih estetik, ayo kita bersihkan cangkang yang kotor itu. Meskipun takkan pernah kita makan nantinya.”

“Artinya, ritual yang cenderung merugikan dan sudah tak cocok lagi dengan era, baiknya diperbarui ya?”

“Ya, sesederhana itu.”

“Sementara, bagian putih dan kuningnya atau etika dan filsafat harus terus dijaga dan diterapkan karena itulah bagian utamanya yang akan kita makan dan menjaga kesehatan tubuh dan pikiran kita?”

“Nah, itu kau makin pintar!”

“Masak kalah pintar sama Olog. Hehehe.”

Wedia dan Olog tertawa bersama.[T]

Klik BACA untuk melihat esai dan cerpen dari penulis DOKTER PUTU ARYA NUGRAHA

GALUNGAN BELANDA DI BESAKIH
Dodol Satuh : Memaknai Lebih Dalam Hari Suci Galungan
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih
Menyambut Galungan | Bangkitkan Cahaya Dharma dalam Hati
Tags: hari raya galunganTradisi Galungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Europe by Bidon (2022): Nasib Baik Tak Ada yang Tahu

Next Post

Mengenang “Tragedi Sebelas” (3): Nusa Penida Kehilangan Patih Agung Legendaris Asal Sebunibus—I Made Sekat

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Mengenang “Tragedi Sebelas” (3): Nusa Penida Kehilangan Patih Agung Legendaris Asal Sebunibus—I Made Sekat

Mengenang “Tragedi Sebelas” (3): Nusa Penida Kehilangan Patih Agung Legendaris Asal Sebunibus—I Made Sekat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co