14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

GALUNGAN BELANDA DI BESAKIH

Sugi Lanus by Sugi Lanus
September 24, 2024
in Esai
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Sugi Lanus

Catatan Harian Sugi Lanus, 23 September 2024.

TANGGAL 29 Juni 1938 adalah Rabu (Buda) Kliwon wuku Dungulan atau dikenal sebagai Hari Raya Galungan. Ketika itu semua pembesar kerajaan di Bali yang ditunjuk oleh Pemerintah Kolonial Belanda dilantik di Besakih.

Peristiwa itu “viral” di masanya. Hampir semua koran-koran Belanda memberitakannya. Foto pelantikan dan persembahyangan di Besakih itu terpajang hampir semua koran Belanda.

Berita ini adalah sebuah pencapaian besar Kerajaan Belanda yang telah mampu menundukkan Bali secara merata, dan untuk pertama kalinya semua pejabat otonom yang ditunjuk sebagai bestuurder disumpah bersama. Para pejabat yang diangkat ini diambil dari garis silsilah menjadi raja-raja Bali di 8 kabupaten di Bali yang bersedia/sepakat tunduk di bawah kekuasaan Belanda dengan perjanjian dan pengesahan antar masing-masing Kerajaan di Bali dan Kerajaan Belanda.

Kalau kita membaca pemberitaan terkait Besakih tahun sebelumnya, Belanda telah mempersiapkan dengan matang kegiatan ini pada beberapa tahun sebelum pelantikan ini. Pemerintah Belanda dan para raja Bali yang ditundukkan telah memperbesar jalan sampai Besakih sehingga mobil bisa masuk mencapai Besakih, sampai di halaman bawah Besakih.

Belanda membangun jalan tembusan dan jembatan secara sistematis dan selanjutnya memakai Pura Besakih sebagai tempat pengambilan sumpah para raja Bali dan peristiwa penting lainnya. Pemerintah Belanda memakai Besakih sebagai “posko kepentingan politik” memerintah Bali.

Sebuah koran Belanda, ‘Bredasche courant’, bertanggal 21-10-1932, memberitakan bagaimana berbondong-bondong masyarakat dan pejabat Belanda meresmikan jalan baru ke Besakih.

Beritanya sebagai berikut:

NIEUWE WEG OP BALI Feestelijk geopend

SINGARADJA, 20 Oct. (Aneta.) Gisteren is in tegenwoordigheid van Resident Beeuwkes, alle ambtenaren van het Binnenlandsch Bestuur, acht Regenten en Balische hoofden, de nieuwe weg tusschen Menanga en Besakih, in de onderafdeeling Karangasam, op feestelijke wijze geopend. Deze gebeurtenis is zeer belangrijk, daar te Besakih, op de helling van den Goenoeng Agoeng, zich een Baüneesch nationaal heiligdom bevindt, n.1, de groote Besakih-tempel.

JALAN BARU DI BALI Pembukaan yang meriah

SINGARADJA, 20 Oktober (Aneta.) Kemarin, di hadapan Residen Beeuwkes, seluruh pejabat Pemerintah Dalam Negeri, delapan Bupati dan Kepala Bali, jalan baru antara Menanga dan Besakih di Kecamatan Karangasam dibuka secara meriah. Peristiwa ini sangat penting, karena di Besakih, di lereng Goenoeng Agoeng, terdapat tempat suci bangsaan Bali, Pura Agung Besakih.

Berita ini bercerita jika dari Menanga ke Besakih sebelum tahun 1932 tidak terdapat jalan yang menghubungkan yang dapat dilalui kendaraan mobil.

Kalau kita hitung, tahun 1932 jalan ke Besakih dibuka, dan tahun 1938 diadakan pelantikan raja-raja Bali menjadi pejabat otonom di bawah penguasa Belanda, maka jelas ini tidak kebetulan.

Peristiwa selanjutnya, yang secara sadar Besakih dijadikan sebagai ruang politik Belanda, adalah pembacaan Surat Ratu Belanda di Besakih di hadapan para penguasan bawahan Belanda (raja-raja Bali), di tahun 1940.

OP EEN TEMPELFEEST TE BESAKIH op Bali luisteren de acht zelfbestuurders naar het voorlezen van een brief van H.M. de Koningin, waarin H.M. Haar dank uitsprak voor een brief van de zelfbestuurders van 12 Juli 1940, waarin zij de hoop uitspraken, dat de Koningin spoedig weer als vorstin het Nederlandsche grondgebied zou mogen betreden.

DALAM FESTIVAL CANDI DI BESAKIH Bali, delapan orang zelfbestuurders (pejabat otonom setingkat bupati – yang dimaksud adalah raja-raja Bali yang ditunjuk Belanda) mendengarkan pembacaan surat dari Yang Mulia Ratu Belanda, dimana Yang Mulia mengucapkan terima kasih atas surat dari para zelfbestuurders tertanggal 12 Juli 1940, yang di dalamnya mereka menyatakan berharap Ratu segera kembali karena Ratu akan diizinkan memasuki wilayah Belanda.

Pemberitaan adanya kegiatan di Besakih yang diselenggarakan tahun 1940 untuk mengumpulkan para raja yang ditunjuk Belanda ini jelas mempertegas bagaimana Besakih pernah dipakai “ajang politik” Belanda dalam mengkonsolidasi politik pulau Bali.

Berikut terjemahan (cepat) berita GALUNGAN-BELANDA di Besakih dalam sebuah koran Belanda:

___________________

LAPORAN KHUSUS GALUNGAN DI BESAKIH TAHUN 1938.

PENGAMBILAN SUMPAH

Pukul sepuluh kurang sepuluh, seluruh Zelfbestuurders (Pejabat Otonom setingkat Bupati) yang berjumlah delapan orang yaitu Anak Agoeng Karangasem, Kloengkoeng, Bangli, Boeleleng, Badoeng, Tabanan Gianjar dan Djembrana, duduk di tanah di depan kursi Dewan pendeta. Di sebelah barat lautnya, di sisi yang tinggi, di sisi Goenoeng Agung, terdapat Pedanda Gede Manoeaba, anggota Dewan Kerta Gianjar, yang membacakan formulir sumpah, sementara sesaji asap dinyalakan di depan mereka. Pembacaan formulir, sebuah pemastoe, memakan waktu dua puluh menit dan bagi mereka yang memiliki cukup pengetahuan tentang bahasa tersebut, hal itu pasti memiliki arti yang sangat penting, karena di dalamnya semua kengerian, wabah penyakit, dan penyakit yang mungkin terjadi dimohonkan, jika pengambil sumpah tidak memenuhi menepati janji mereka. Dalam hal ini, semua kekuatan jahat di bumi dan di luarnya akan bebas mengendalikan orang-orang yang tidak beriman. Selepas pengambilan sumpah yang khidmat ini, Zelfbestuurders (raja-raja Bali) bangkit dari tanah dan selanjutnya Residen Bali dan Bupati Karangasem masing-masing memberikan pidato yang khidmat: yang pertama atas nama pemerintah, yang kedua menjawab atas nama para pemimpin masyarakt Bali yang berkumpul. .

MAKAN SIANG DI GIANJAR

Setelah upacara di Besakih, retret diterima dan di Gianjar orang-orang berkumpul di sekitar pertunjukan topeng, di mana para pelawak khususnya, dengan lelucon dan kejenakaan mereka, membentuk penyeimbang yang menyenangkan terhadap kekhidmatan yang baru saja disaksikan. Setelah itu, sejumlah tamu terbatas mengikuti jamuan makan siang yang dipersembahkan oleh Ikatan Direksi di Poeri Bupati Gianjar. Pidato-pidato disampaikan di meja, pertama oleh Residen, yang kembali berbicara kepada para Zelfbestuurders dengan cara yang kebapakan dan mengesankan. Dalam sambutannya, ia mengucapkan terima kasih kepada Bupati Karangasem dengan kata-kata yang tepat. Pembicara ketiga adalah Dr. Hoven, yang menyampaikan pidatonya secara khusus kepada para Self-Governors, setelah itu sekretaris menyampaikan ucapan selamat kepada Mr. Prins dari Gubernur Jenderal, seluruh anggota Dewan Hindia serta surat dari G. G. Jhr. de Jonge.

Residen tersebut kini akan menjadi tamu dari beberapa pejabat otonom, setelah itu ia akan memberikan ucapan selamat kepada mereka di tempat masing-masing pada hari Kamis, tanggal 30.

Para Zelfbestuurders  Bali Disumpah Dalam Upacara Akbar di Pura Besakih Pura Bertingkat Yang Mengesankan Di Pegunungan

SIMBOLISME YANG MENGEMPRESKAN

Sesampainya pekerjaan besar yang harus dilakukan dipimpin oleh para pendeta, yang memberikan berkah sepanjang perjalanan, diiringi dengan bunyi lonceng doa, kemudian berjalan menuju Puri bersama para Zelfbestuurders (Pejabat Otonom setingkat Bupati), didahului dengan prosesi panjang para pejabat dan yang lain. Hari ini, Kamis dan lusa, festival rakyat akan berlangsung di seluruh ibu kota pedesaan dan di tempat lain, sedangkan fakta bahwa hari-hari tersebut bertepatan dengan festival Galungan dan Manis Galungan berkontribusi pada fakta bahwa, dalam arti tertentu, seluruh masyarakat Bali ikut serta dalam perayaan tersebut, suasana meriah. Sementara itu, semua orang berharap pemerintahan mandiri ini benar-benar bermanfaat hari, mereka bekerja sekuat tenaga untuk membenahi jalan baru yang belum beraspal dari Rendang ke Besakih , yang dilalui banyak jalan yang berkelok-kelok dan licin. Ratusan mobil berusaha menuju ke tempat, 3.000 kaki di atas permukaan laut, lokasi pura Besakih, Pura Nasional Bali, tempat suci bertingkat yang megah, tempat para peziarah pasti melakukan “tirtayatra” mereka jauh sebelum kedatangan agama Hindu di pulau tersebut.

Fakta bahwa kuil ini dipilih untuk pelantikan para gubernur hanya dapat dilihat sebagai isyarat simbolis yang mempunyai arti dan nilai nasional. Sangat disayangkan bahwa menurut adat istiadat Bali, beberapa penguasa sendiri tidak diperbolehkan memasuki pura karena ada anggota keluarga mereka yang meninggal (sebel), sehingga upacara harus dilakukan di lokasi yang tidak terencana. Dalam pemikiran dan perasaan masyarakat Bali, fakta ini menghilangkan banyak makna penting dari upacara ini.

Ada sejumlah ruangan berpelindung sementara yang diperuntukkan bagi para tamu Zelfbestuurders dan tamu undangan lainnya, di Selatan dan Barat Daya. Pukul sembilan di ruang pertama disebutkan juga seluruh pejabat Bali beserta dayang-dayangnya, seluruh kepala dinas, sedangkan kursi baris paling depan diperuntukkan bagi Residen dan Zelfbestuurders. Di barat laut ada area tertutup di mana tiga orang pendeta duduk, untuk kemudian mengucapkan pemberkatan mereka di atas kepala para Zelfbestuurders (Pejabat Otonom setingkat Bupati).

PARTISIPASI MASYARAKAT

Laporan ini tidak akan lengkap jika tidak ada penjelasan mengenai masyarakat yang berpartisipasi dalam perayaan ini dengan cara yang khas Bali dan sering kali sangat mengesankan. Di sepanjang jalan menuju Besakih, para pembawa tombak ditempatkan di sepanjang jalan dengan mengenakan pakaian baris Bali kuno, dengan banyak kain kotak-kotak berwarna merah cerah dan hitam putih. Baling-baling dipasang pada semua tombak, yang berkibar tertiup angin, meningkatkan penampilan meriah. Penjaga kehormatan yang mengesankan. Dalam perjalanan pulang, sebuah tontonan menanti para pengunjung yang melampaui segalanya: sepanjang puluhan kilometer jalan, terutama di Karangasem dan Kloengkoeng, di kedua sisinya dipagari dengan sesajen paling berwarna berupa buah-buahan, bunga, kue beras warna-warni, sementara dengan setiap persembahan, seorang wanita memperhatikan. Mengingat sesaji ini tidak lebih dari tiga atau empat kali meter, seseorang dapat membentuk gambaran tentang keindahan bergerak dari keseluruhan ini. Di semua desa, jalan-jalan juga dihiasi dengan penjor, bambu panjang, tipis, dan melengkung di bagian atasnya, yang merupakan bagian dari festival Galoengan, sebuah festival yang bertepatan dengan pengambilan sumpah. Di ujung-ujung bambu yang halus, menari-nari di atas angin, terdapat hiasan-hiasan seperti lentera, daun-daun yang diukir dengan indah, dibuat sedemikian halus seperti renda, membuatnya seolah-olah seseorang sedang berkendara di bawah lorong tak berujung yang dipenuhi hiasan-hiasan dongeng. Sesampainya di alam masing-masing, para Zelfbestuurders dipimpin oleh para pendeta, yang memberikan berkah sepanjang perjalanan, diiringi dengan bunyi lonceng doa, kemudian berjalan menuju Puri bersama para Zelfbestuurders (Pejabat Otonom setingkat Bupati), didahului dengan prosesi panjang para pejabat dan yang lain. Hari ini, Kamis dan besok, festival rakyat akan berlangsung di seluruh ibu kota pedesaan dan di tempat lain, sedangkan fakta bahwa hari-hari tersebut bertepatan dengan festival Galoengan dan Manis Galoengan berkontribusi pada fakta bahwa, dalam arti tertentu, seluruh masyarakat Bali ikut serta dalam perayaan tersebut, suasana meriah. Sementara itu, semua orang berharap pemerintahan mandiri ini benar-benar bermanfaat bagi Bali. Ada banyak pekerjaan besar yang harus dilakukan.

______________

Catatan kecil ini hanya bersifat pengingat bahwa pernah di masa kolonial keagungan Pura Besakih menjadi ruang politik legitimasi kekuasaan. Oleh pemerintah kolonial melantik pemerintahan bonekanya untuk menjadi pejabat lokal.

Galungan di Besakih tanggal 29 Juni 1938 adalah “Galungan Belanda”: Sebuah kemenangan Belanda atas raja-raja Bali yang ditunjuk dan disumpah tunduk menjadi penguasa boneka Zelfbestuurders (Pejabat Otonom setingkat Bupati). Mereka diseleksi dari keturunan raja yang mau tunduk dan tidak berontak pada Belanda. [T]

BACA artikel lain dari penulis SUGI LANUS

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dodol Satuh : Memaknai Lebih Dalam Hari Suci Galungan

Next Post

Europe by Bidon (2022): Nasib Baik Tak Ada yang Tahu

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Europe by Bidon (2022): Nasib Baik Tak Ada yang Tahu

Europe by Bidon (2022): Nasib Baik Tak Ada yang Tahu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co