14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dodol Satuh : Memaknai Lebih Dalam Hari Suci Galungan

IK Satria by IK Satria
September 23, 2024
in Opini
Dodol Satuh : Memaknai Lebih Dalam Hari Suci Galungan

IK Satria

HAJATAN besar dan meriah dalam 1 tahun Pawukon Bali kembali hadir, meriahnya penjor yang megah dengan berbagai ornament dan harga yang mentereng Kembali akan terpasang disetiap depan rumah umat Hindu di Bali. Kemeriahan berlanjut di pasar tradisional dan modern, umat hindu mengejar berbagai sarana ritual untuk perayaan hari suci Galungan.

Kemeriahan ini berlangsung setiap 210 hari sekali, dimana hari yang suci ini diyakini sebagai hari perayaan kemenangan  Dharma atas Adharma. Persembahan hewan sebagai pelengkap yadnya seperti babi sangat banyak dilakukan, bukan hanya memeriahkan sebagai makanan, tetapi juga kemeriahannya sampai pada penggunaan sarana persembahan yang berisi berbagai olahan daging babi.

Tentu, karena hanya hari suci galunganlah yang memiliki rangkaian berupa Hari Penampahan Galungan, yaitu hari untuk memotong hewan kurban seperti babi. Kemeriahan sesajen ada pula yang sangat khusus yaitu mempersembahkan kue olahan dari ketan, baik ketan hitam maupun ketan putih yang dikenal dengan dodol dan satuh. Apa sebenarnya makna kedua kue olahan ketan ini? Mari kita simak dan dalami sebagai tambahan makna hari suci Galungan.

Sebelum kita memaknai dodol dan satuh, maka marilah kita melihat bagaimana kedua kue ini dibuat oleh masyarakat Hindu di Bali. Dodol merupakan adonan yang berasal dari gabungan tepung ketan hitam atau injin dengan tepung beras dan tepung ketan putih. Adonan ini diulen sedemikian rupa lalu dimasak selama kurang lebih 3 jam dalam jambangan besar dengan dicampur beberapa liter santan (air perasan kelapa murni).

Tambahan gula merah yang asli merupakan pelengkap yang membuat rasa dari kue ini sangatlah khas dan memang rasanya sangatlah menyentuh dan mengaitkan bahwa galungan telah tiba. Selama memasak kue ini membutuhkan energi untuk terus diaduk, sampai pada adonan matang, dan semakin terasa beratnya dalam mengaduk adonan. Semakin berat kita mengaduk, maka semakin matanglah dodol itu.

Setelahnya, didinginkan dan dibungus dengan kulit jagung. Berbeda dengan satuh, yang berbahan ketan putih yang disangrai, lalu dijadikan tepung yang kemudian dicampur dengan gula merah asli dan kemudian dibentuk bundar dan dibungkus dengan kraras (dauh  pisang yang sudah kering). Kedua kue olahan tradisional ini sangatlah mutlak bagi Masyarakat Bali dalam menyambut Hari Suci Galungan. Seolah tiada galungan tanpa kedua kue ini. Dipersembahkan pada setiap bebantenan lalu didoakan sebagai persembahan kemudian setelahnya bisa dinikmati sebagai anugerah (pradham) atau lungsuran.

Kata dodol bisa kita temukan pada kamus Bahasa kawi karya zoetmulder. Dimana kata dodol berasal dari dua kata duad yang artinya kepalsuan atau ketidakbenaran, dan dual yang artinya benda atau barang-barang. Jadi kata dodol bisa berarti penganan yang terbuat dari tepung, namun juga memiliki arti lain yaitu benda atau barang yang memiliki nilai kepalsuan dan ketidakbenaran.

Sedangkan satuh juga adalah penganan yang terbuat dari tepung ketan, yang bisa juga bermakna dalam Bahasa bali satuwuh atau selamanya. Gabungan kedua kue ini memberikan makna tentang benda atau barang yang palsu atau mengandung ketidakbenaran selamanya. Tidak berhenti disana, kita mesti juga mencari makna dimana kedua kue ini dipersembahkan yaitu pada Hari Suci Galungan. Kata Galungan memiliki arti yang sama dengan dungulan, kadungulan dalam teks Bahasa kawi berarti pengerusakan dan penghancuran.

Jadi jika kita telisik dari arti ketiga kata ini, yaitu dungulan adanya persembahan dodol dan satuh, maka akan tersirat makna yang sangat mencengangkan yaitu hari suci yang mana pada hari itu kita seolah berupaya “menghancurkan benda atau sifat dan prilaku yang penuh dengan kepalsuan atau ketidakbenaran selamanya” dungulan, dodol, satuh. Apakah makna selama ini tentang Galungan menjadi hilang? Dengan lumbrahnya galungan sebagai hari kemenangan Dharma melawan Adharma?

Tentu tidak, kemenangan itu sesungguhnya akan ada Ketika kita mampu menghancurkan kepalsuan (maya) ini selamanya. Selama maya masih ada dalam diri kita, maka kita selalu mengejar segala yang indria kita harapkan. Terisinya indria bukankah kita akan semakin maya? Semakin tidak baik? Maka dengan kesadaran makna sarana ritual berupa dodol dan satuh ini, maka kita sesungguhnya berupaya untuk menghilangkan segala ketidak benaran untuk menuju yang benar dan penuh pencerahan, dan itulah Galungan.

Bercermin pada teks Lontar Sundarigama tentang Galungan bisa kita lihat sebagai berikut : Bu,Ka, Galungan, nga, patitis ikang adnyana sandi,galang apadang maryakena sarwa byaparaning idep… (L.Sundarigama). Artinya: Buda Kaliwon Galungan adalah (hari suci) untuk memusatkan pikiran sehingga menjadi terang benderang dengan cara menghentikan  segala kegelisahan pikiran.

Dalam keseharian kita sangat erat kaitannya dengan kepalsuan atau maya. Segala indria kita berkejaran meminta untuk dituruti dan pada akhirnya kita terjaduh pada lubang kegelapan atau avidya. Keseharian kita sesungguhnya adalah saat dimana peperangan terus berkecambuk antara kebenaran (dharma) dan ketidakbenaran (Adharma). Keseharian yang penuh peperangan inilah kepalsuan kita. Kita dibutakan oleh keinginan yang terus berkeinginan untuk diisi. Maka merayakan Hari Suci Galungan sesungguhnya adalah hari dimana kita diingatkan untuk menghancurkan segala kepalsuan dan ketidakbenaran selamanya dengan memohon untuk galang apadang.

Pemusatan fikiran untuk mencapai kemenangan Dharma juga bisa kita lihat dari pemaknaan rangkaian hari suci ini. Pertama adalah Sugihan Jawa jatuh pada hari Weraspati Wage Sungsang. Mempersembahkan sesajen kepada Sang Hyang Widhi. Tujuannya untuk penyucian bhuwana agung (alam semesta [badan kasar manusia =stula sarira]) dengan upacara marerebu di sanggah/mrajan. Mohon tirta pabresihan dan sebagainya. Kedua adalah Sugihan Bali jatuh pada hari Sukra Keliwon Sungsang. Hari penyucian bhuwana alit (mikrokosmos [badan halus manusia=suksma sarira]).

Upakara menurut kemampuan dan dilanjutkan dengan mohon tirta panglukatan. Dilanjutkan dengan hari Panyekeban. Jatuh pada hari radite Pahing Dungulan. nyekeb bahan upacara. “Anyekung jnana sudha nirmala”: mulai melakukan tapa: mengendalikan pikiran sehinga tetap tenang, tidak tergoda oleh sifat-sifat buruk. Karena saat ini diyakini mulai turunnya Sang Hyang Tiga Wisesa, yaitu (1) Sang Bhuta Dungulan (sifat destruktif, suka merusak). Selanjutnya adalah hari Panyajahan (panyajaan). Jatuh pada hari soma Pon Dungulan. Jajah (nyajaang raga) yaitu belakukan brata: janji diri dengan cara berusaha kuat untuk menaklukkan atau serius berusaha untuk melaksanakan (memperjuangkan) kebajikan.

Pada hari ini diyakini turunya sang Bhuta Galungan untuk menguasai diri kita dan menggoda tapa dan brata umat. Selanjutnya adalah hari Panampahan. Jatuh pada hari Anggara Wage Dungulan. Hari untuk menyembelih binatang kurban. Pada hari ini konon turun Sang Kala Amengkurat (nafsu kuasa, sok kuasa, suka bertengkar). Jadi sifat inilah yang mesti di-tampah (dikendalikan). Dilaksanakan upacara bhuta yadnya (byakala) dipekarangan rumah, lebuh, masang penjor dll. Barulah yang terakhir yaitu  Galungan. Jatuh pada hari Buda Kliwon Dungulan. Hari pawedalan jagat. Hari pemusatan pikiran, bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi. Hari melaksanakan Yoga untuk pencerahan dan galang apadang.

Dodol satuh pada hari suci galungan atau dungulan memiliki pesan yang sangat dalam, dimana kemenangan bisa diperoleh jika kita mampu menghancurkan ketidakbenaran atau kepalsuan menuju pada pencerahan. Jadi jangan lupa menggunakan dodol dan satuh untuk persembahan sebagai symbol permohonan pencerahan di hari kemenangan. Selamat hari suci Galungan. Kemenangan dengan menghancurkan kepalsuan untuk pencerahan dan penuh anugerah kebaikan. [T]

Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih
Menyambut Galungan | Bangkitkan Cahaya Dharma dalam Hati
Memaknai Galungan
Tags: hari raya galunganhindutradisi baliTradisi Galungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Klaim Nomor Kemenangan dan Yel-yel Penuh Gairah – Cerita Pengundian Nomor Urut Paslon Pilkada Buleleng

Next Post

GALUNGAN BELANDA DI BESAKIH

IK Satria

IK Satria

Penyuluh Agama Kementerian Agama Buleleng

Related Posts

MKN Bukan Tameng Impunitas: Notaris Berintegritas, Penegak Hukum  Taati Prosedur

by I Made Pria Dharsana
May 9, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MAHKAMAH Konstitusi melalui Putusan Nomor 65/PUU-XXIV/2026 menegaskan bahwa persetujuan Majelis Kehormatan Notaris (MKN) sebagaimana diatur dalam Pasal 66 Undang-Undang Nomor...

Read moreDetails

Menguji Batas Tanggung Jawab Terbatas:  ‘Piercing the Corporate Veil’ dalam Sengketa Kepemilikan dan Pengalihan Saham

by I Made Pria Dharsana
May 7, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM rezim hukum Perseroan Terbatas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, prinsip tanggung jawab terbatas...

Read moreDetails

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

by KH Ketut Imaduddin Jamal
May 2, 2026
0
Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

ADA satu penyakit lama dalam kebijakan publik kita: negara sering merasa telah bekerja hanya karena program sudah diumumkan, anggaran sudah...

Read moreDetails

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

Read moreDetails

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MASYARAKAT Bali sejatinya tidak kekurangan aturan untuk menjaga tanahnya yang kerap diuji , justru adalah keteguhan untuk mempertahankannya. Di tengah...

Read moreDetails

BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

by I Gede Joni Suhartawan
April 13, 2026
0
BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

BEGINILAH sebuah paradoks yang dilakoni Bali ketika berada di jagat politik anggaran Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta: Bali adalah si...

Read moreDetails

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

by I Gede Joni Suhartawan
April 12, 2026
0
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

BELAKANGAN ini, wajah politik di Bali tampak tidak sedang baik-baik saja. Jika kita jeli membaca arah angin dari Jakarta, ada...

Read moreDetails

Singkong dan Dosa Orde Baru

by Jaswanto
April 9, 2026
0
Singkong dan Dosa Orde Baru

RASANYA gurih, meski hanya dibubuhi garam. Teksturnya lembut sekaligus sedikit lengket di lidah. Tampilannya sederhana saja, mencerminkan masyarakat yang mengolah...

Read moreDetails

Rekonstruksi Status Tanah ‘Ex Eigendom Verponding’: Antara Legalitas Formal dan Penguasaan Fisik dalam Perspektif Keadilan Agraria

by I Made Pria Dharsana
April 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH bekas hak barat berupa eigendom verponding menyisakan persoalan hukum yang tidak pernah sepenuhnya selesai sejak berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria....

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

GALUNGAN BELANDA DI BESAKIH

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co