2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dodol Satuh : Memaknai Lebih Dalam Hari Suci Galungan

IK Satria by IK Satria
September 23, 2024
in Opini
Dodol Satuh : Memaknai Lebih Dalam Hari Suci Galungan

IK Satria

HAJATAN besar dan meriah dalam 1 tahun Pawukon Bali kembali hadir, meriahnya penjor yang megah dengan berbagai ornament dan harga yang mentereng Kembali akan terpasang disetiap depan rumah umat Hindu di Bali. Kemeriahan berlanjut di pasar tradisional dan modern, umat hindu mengejar berbagai sarana ritual untuk perayaan hari suci Galungan.

Kemeriahan ini berlangsung setiap 210 hari sekali, dimana hari yang suci ini diyakini sebagai hari perayaan kemenangan  Dharma atas Adharma. Persembahan hewan sebagai pelengkap yadnya seperti babi sangat banyak dilakukan, bukan hanya memeriahkan sebagai makanan, tetapi juga kemeriahannya sampai pada penggunaan sarana persembahan yang berisi berbagai olahan daging babi.

Tentu, karena hanya hari suci galunganlah yang memiliki rangkaian berupa Hari Penampahan Galungan, yaitu hari untuk memotong hewan kurban seperti babi. Kemeriahan sesajen ada pula yang sangat khusus yaitu mempersembahkan kue olahan dari ketan, baik ketan hitam maupun ketan putih yang dikenal dengan dodol dan satuh. Apa sebenarnya makna kedua kue olahan ketan ini? Mari kita simak dan dalami sebagai tambahan makna hari suci Galungan.

Sebelum kita memaknai dodol dan satuh, maka marilah kita melihat bagaimana kedua kue ini dibuat oleh masyarakat Hindu di Bali. Dodol merupakan adonan yang berasal dari gabungan tepung ketan hitam atau injin dengan tepung beras dan tepung ketan putih. Adonan ini diulen sedemikian rupa lalu dimasak selama kurang lebih 3 jam dalam jambangan besar dengan dicampur beberapa liter santan (air perasan kelapa murni).

Tambahan gula merah yang asli merupakan pelengkap yang membuat rasa dari kue ini sangatlah khas dan memang rasanya sangatlah menyentuh dan mengaitkan bahwa galungan telah tiba. Selama memasak kue ini membutuhkan energi untuk terus diaduk, sampai pada adonan matang, dan semakin terasa beratnya dalam mengaduk adonan. Semakin berat kita mengaduk, maka semakin matanglah dodol itu.

Setelahnya, didinginkan dan dibungus dengan kulit jagung. Berbeda dengan satuh, yang berbahan ketan putih yang disangrai, lalu dijadikan tepung yang kemudian dicampur dengan gula merah asli dan kemudian dibentuk bundar dan dibungkus dengan kraras (dauh  pisang yang sudah kering). Kedua kue olahan tradisional ini sangatlah mutlak bagi Masyarakat Bali dalam menyambut Hari Suci Galungan. Seolah tiada galungan tanpa kedua kue ini. Dipersembahkan pada setiap bebantenan lalu didoakan sebagai persembahan kemudian setelahnya bisa dinikmati sebagai anugerah (pradham) atau lungsuran.

Kata dodol bisa kita temukan pada kamus Bahasa kawi karya zoetmulder. Dimana kata dodol berasal dari dua kata duad yang artinya kepalsuan atau ketidakbenaran, dan dual yang artinya benda atau barang-barang. Jadi kata dodol bisa berarti penganan yang terbuat dari tepung, namun juga memiliki arti lain yaitu benda atau barang yang memiliki nilai kepalsuan dan ketidakbenaran.

Sedangkan satuh juga adalah penganan yang terbuat dari tepung ketan, yang bisa juga bermakna dalam Bahasa bali satuwuh atau selamanya. Gabungan kedua kue ini memberikan makna tentang benda atau barang yang palsu atau mengandung ketidakbenaran selamanya. Tidak berhenti disana, kita mesti juga mencari makna dimana kedua kue ini dipersembahkan yaitu pada Hari Suci Galungan. Kata Galungan memiliki arti yang sama dengan dungulan, kadungulan dalam teks Bahasa kawi berarti pengerusakan dan penghancuran.

Jadi jika kita telisik dari arti ketiga kata ini, yaitu dungulan adanya persembahan dodol dan satuh, maka akan tersirat makna yang sangat mencengangkan yaitu hari suci yang mana pada hari itu kita seolah berupaya “menghancurkan benda atau sifat dan prilaku yang penuh dengan kepalsuan atau ketidakbenaran selamanya” dungulan, dodol, satuh. Apakah makna selama ini tentang Galungan menjadi hilang? Dengan lumbrahnya galungan sebagai hari kemenangan Dharma melawan Adharma?

Tentu tidak, kemenangan itu sesungguhnya akan ada Ketika kita mampu menghancurkan kepalsuan (maya) ini selamanya. Selama maya masih ada dalam diri kita, maka kita selalu mengejar segala yang indria kita harapkan. Terisinya indria bukankah kita akan semakin maya? Semakin tidak baik? Maka dengan kesadaran makna sarana ritual berupa dodol dan satuh ini, maka kita sesungguhnya berupaya untuk menghilangkan segala ketidak benaran untuk menuju yang benar dan penuh pencerahan, dan itulah Galungan.

Bercermin pada teks Lontar Sundarigama tentang Galungan bisa kita lihat sebagai berikut : Bu,Ka, Galungan, nga, patitis ikang adnyana sandi,galang apadang maryakena sarwa byaparaning idep… (L.Sundarigama). Artinya: Buda Kaliwon Galungan adalah (hari suci) untuk memusatkan pikiran sehingga menjadi terang benderang dengan cara menghentikan  segala kegelisahan pikiran.

Dalam keseharian kita sangat erat kaitannya dengan kepalsuan atau maya. Segala indria kita berkejaran meminta untuk dituruti dan pada akhirnya kita terjaduh pada lubang kegelapan atau avidya. Keseharian kita sesungguhnya adalah saat dimana peperangan terus berkecambuk antara kebenaran (dharma) dan ketidakbenaran (Adharma). Keseharian yang penuh peperangan inilah kepalsuan kita. Kita dibutakan oleh keinginan yang terus berkeinginan untuk diisi. Maka merayakan Hari Suci Galungan sesungguhnya adalah hari dimana kita diingatkan untuk menghancurkan segala kepalsuan dan ketidakbenaran selamanya dengan memohon untuk galang apadang.

Pemusatan fikiran untuk mencapai kemenangan Dharma juga bisa kita lihat dari pemaknaan rangkaian hari suci ini. Pertama adalah Sugihan Jawa jatuh pada hari Weraspati Wage Sungsang. Mempersembahkan sesajen kepada Sang Hyang Widhi. Tujuannya untuk penyucian bhuwana agung (alam semesta [badan kasar manusia =stula sarira]) dengan upacara marerebu di sanggah/mrajan. Mohon tirta pabresihan dan sebagainya. Kedua adalah Sugihan Bali jatuh pada hari Sukra Keliwon Sungsang. Hari penyucian bhuwana alit (mikrokosmos [badan halus manusia=suksma sarira]).

Upakara menurut kemampuan dan dilanjutkan dengan mohon tirta panglukatan. Dilanjutkan dengan hari Panyekeban. Jatuh pada hari radite Pahing Dungulan. nyekeb bahan upacara. “Anyekung jnana sudha nirmala”: mulai melakukan tapa: mengendalikan pikiran sehinga tetap tenang, tidak tergoda oleh sifat-sifat buruk. Karena saat ini diyakini mulai turunnya Sang Hyang Tiga Wisesa, yaitu (1) Sang Bhuta Dungulan (sifat destruktif, suka merusak). Selanjutnya adalah hari Panyajahan (panyajaan). Jatuh pada hari soma Pon Dungulan. Jajah (nyajaang raga) yaitu belakukan brata: janji diri dengan cara berusaha kuat untuk menaklukkan atau serius berusaha untuk melaksanakan (memperjuangkan) kebajikan.

Pada hari ini diyakini turunya sang Bhuta Galungan untuk menguasai diri kita dan menggoda tapa dan brata umat. Selanjutnya adalah hari Panampahan. Jatuh pada hari Anggara Wage Dungulan. Hari untuk menyembelih binatang kurban. Pada hari ini konon turun Sang Kala Amengkurat (nafsu kuasa, sok kuasa, suka bertengkar). Jadi sifat inilah yang mesti di-tampah (dikendalikan). Dilaksanakan upacara bhuta yadnya (byakala) dipekarangan rumah, lebuh, masang penjor dll. Barulah yang terakhir yaitu  Galungan. Jatuh pada hari Buda Kliwon Dungulan. Hari pawedalan jagat. Hari pemusatan pikiran, bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi. Hari melaksanakan Yoga untuk pencerahan dan galang apadang.

Dodol satuh pada hari suci galungan atau dungulan memiliki pesan yang sangat dalam, dimana kemenangan bisa diperoleh jika kita mampu menghancurkan ketidakbenaran atau kepalsuan menuju pada pencerahan. Jadi jangan lupa menggunakan dodol dan satuh untuk persembahan sebagai symbol permohonan pencerahan di hari kemenangan. Selamat hari suci Galungan. Kemenangan dengan menghancurkan kepalsuan untuk pencerahan dan penuh anugerah kebaikan. [T]

Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih
Menyambut Galungan | Bangkitkan Cahaya Dharma dalam Hati
Memaknai Galungan
Tags: hari raya galunganhindutradisi baliTradisi Galungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Klaim Nomor Kemenangan dan Yel-yel Penuh Gairah – Cerita Pengundian Nomor Urut Paslon Pilkada Buleleng

Next Post

GALUNGAN BELANDA DI BESAKIH

IK Satria

IK Satria

Penyuluh Agama Kementerian Agama Buleleng

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

GALUNGAN BELANDA DI BESAKIH

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co