22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
August 6, 2023
in Esai
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih

Putu Eka Guna Yasa

SEBELUM Sri Aji Jaya Kesunu dinobatkan menjadi raja, keadaan Pulau Bali tidak henti-hentinya diterjang musibah. Raja berumur pendek, segala penyakit merebak, bencana alam dan kemanusiaan terjadi tanpa henti. Merenungi keadaan ini, sang raja lalu melakukan tapa brata untuk memohon petunjuk para dewa mengenai musibah yang menimpa negerinya.

Dengan modal keteguhan dan pengendalian diri yang tanpa syarat, satu dewi ternyata terketuk hatinya untuk turun ke dunia sehingga Sri Aji Jaya Kasunu tahu penyebab sekaligus jalan keluar dari labirin masalah yang tak pernah usai menimpa dirinya dan seluruh rakyatnya.

Dewi itu bergelar Gori atau nama lain dari Durgadewi, permaisuri Siwa. Berdasarkan informasi yang beliau sampaikan dalam pertemuan rahasia dengan Sri Aji Jaya Kasunu, dapat diketahui bahwa penyebab kekacauan Pulau Bali diakibatkan oleh keadaan tempat suci yang rusak tak terurus, beberapa upacara yang dilakukan salah, bahkan ada upacara yang sama sekali tidak lagi dilakukan.

Hal itulah yang menjadi sumber malapetaka yang menimpa kerajaan Bali. Karena masalahnya berakar pada tataran spiritual maka solusi yang ditawarkan untuk meretas bencana itu juga berhubungan dengan dunia rohani.

Dewi Gori menyarankan kepada Sri Aji Jaya Kesunu untuk melakukan upacara pada sasih Kapat, Panca Wali Krama, Eka Dasa Ludra, nangluk mrana di laut, dan yang terpenting melakukan upacara Galungan.

Mendapatkan pawisik tersebut, Sri Aji Jaya Kasunu lalu menggelar berbagai upacara—khususnya Galungan—sehingga stabilitas kerajaan Bali berangsur-angsur pulih kembali. Sejak saat itu pula, pasca Sri Aji Jaya Kesunu menjadi raja, hari Galungan dilaksanakan saban enam bulan sekali secara terus-menerus sampai saat ini.

Kisah mitologis yang diambil dari sumber pustaka berjudul Sri Aji Jaya Kesunu inilah yang dijadikan dasar literasi untuk melaksanakan hari suci Galungan di Bali.

Melalui narasi bermotif bencana yang pada titik krusialnya bisa mengancam jiwa, maka teks ini memiliki kekuatan yang relatif tinggi untuk menggerakkan gagasannya menjadi norma di masyarakat. Terlebih dengan tokoh sentral seorang raja.

Sasarannya jelas, agar setiap penguasa yang sedang memutar jantra pemerintahannya di Bali Pulina ikut menjaga kedamaian Bali melalui pelaksanaan hari suci Galungan. Di lapisan masyarakat tertentu, ketakutan memang menggerakkan langkah seseorang lebih cepat, tinimbang kesadaran.

Sejatinya tidak ada masalah dengan ketakutan. Sebab, ketakutan juga bisa diolah menjadi proses awal membuka dwara kesadaran. Sama seperti cerita Lubdaka yang akhirnya naik ke “pohon kesadaran” dengan melakukan pemujaan kepada Siwa karena takut pada gelap, binatang buas, dan kematian. 

Visi kesadaran apa yang hendak dibangun oleh teks Sri Aji Jaya Kesunu melalui pelaksanaan hari suci Galungan?

Berdasarkan sumber lain seperti Sundarigama yang membahas mengenai Galungan-Kuningan, kita mendapatkan penjelasan bahwa ada relasi inharmoni yang potensial terjadi antara manusia dengan waktu [Kala] dan ruang [Bhuta] ketika rentetan hari suci Galungan tidak dilakukan. Manifestasi dari waktu berdasarkan pustaka tersebut adalah Sang Hyang Kala Tiga yang bisa bertransformasi menjadi ruang yaitu Bhuta Galungan.

Transformasi waktu ke dalam ruang secara filosofis-simbolis juga disebutkan dalam pustaka Kala Tattwa. Setelah Kala bertemu dengan ayahnya yaitu Siwa, maka Kala pun diberikan anugerah untuk mewujud ke dalam semua ruang, termasuk mematikan dan menghidupkannya.

Oleh karena itu, waktu dan ruang yang mewujud dalam tanah, air, api, angin, dan udara. Keseluruhan elemen semesta itu dalam wujud rudranya yang berbahaya dapat mengancam manusia melalui berbagai bencana seperti gempa, banjir, sunami, dan seterusnya.

Lalu kepada siapa kita mencari perlindungan agar bisa bersahabat dengan waktu dan ruang yang berpotensi destruktif itu? Sama seperti seorang anak kecil yang sedang mengalami bahaya, kata yang keluar secara otomatis pasti ibunya.

Pustaka Sri Aji Jaya Kesunu menyebutkan bahwa Ibu Gori atau Durgalah yang memberikan pertolongan ketika berbagai bencana terjadi di Bali. Karya-karya sastra lain juga mengonfirmasi kemurahan hati Ibu Durga kepada anak manusia yang betul-betul mengalami penderitaan.

Geguritan Megantaka sebagai salah satu karya sastra berspirit Panji mengisahkan pertolongan Ibu Durga kepada Dewi Ambarasari yang hampir saja mati akibat pembuangan di suatu pulau oleh pihak kerajaan karena ia lahir sebagai anak kembar siam.

Kisah yang serupa juga muncul dalam karya sastra Kidung Sri Tanjung. Ibu Durga memberikan anugerah kepada Sri Tanjung berupa kehidupan kedua setelah ia mengalami siksaan dari Raja Sulakrama, ibu mertua, dan suaminya.

Dalam karya sastra Kakawin Purusadasanta (Sutasoma), pertolongan dilimpahkan kepada Sutasoma sebelum ia naik ke Gunung Himawan melalui pemberian mantra Mahahrĕdaya Darani. Dengan salah satu sangu anugerah Dewi Durga itulah ia berhasil menaklukkan Kala [baca waktu] yang telah berwujud menjadi naga [baca ruang].     

Tidak hanya pertolongan kepada manusia, beliau juga membantu para dewa dari serangan raksasa Mahesa Sura Mardini. Raksasa lalim yang berubah wujud menjadi kerbau itu tidak mampu dikalahkan oleh para dewa, kecuali Durga. Maka dengan usaha yang hebat, raksasa itu berhasil dipenggal kepalanya.

Pelaksanaan Panampahan sebagai rangkaian Galungan diduga berhubungan kuat dengan cerita Durga Mahisa Sura Mardini ini karena di beberapa tempat di Bali seperti di daerah Seririt-Singaraja yang dipotong adalah kerbau. Hal tersebut semakin menguatkan bahwa rangkaian hari suci Galungan-Kuningan sesungguhnya salah satu bagian dari pemujaan kepada Durga.

Kenapa memuja Durga? Dalam pustaka Siwagama, Durga disebutkan pernah dikutuk oleh Siwa akibat perbuatan beliau yang ingin membunuh Kumara. Itu sebabnya, Durga kemudian turun ke dunia dan menyusup ke dalam seluruh kuburan. Tidak tahan dengan kesepian atas kepergian saktinya, Siwa lalu mengutuk diri menjadi Kalarudra.

Siwa dalam wujud menakutkan itu kemudian mencari Durga ke penjuru dunia. Hingga akhirnya Kalarudra bertemu dengan Panca Durga di satu kuburan. Setelah Kalarudra menghormat kepada Panca Durga, benih rindu Siwa dan Durga yang tak tertahankan akhirnya menyebabkan beliau berdua melakukan sanggama semesta.

Pertemuan dalam wujud bhairawa dan bhairawi inilah yang melahirkan Kalika, Kaliku, Yaksa, Yaksi, Dengen, Babai, Jin, Setan, Bergala, Bergali, dan yang lainnya. Ketika berada di Bale Agung, Bhatari Durga berubah menjadi Kalika Maya, sedangkan Bhatara Kala Rudra berubah menjadi Sang Jutisarana. Pertemuan beliau di tempat itu pula yang melahirkan Sang Hyang Kala Tiga diiringi oleh Sang Bhutaraja, Sang Kali Putih, Bhuta Walangket, Bhuta Sancaya, dan seterusnya.

Berdasarkan penjelasan pustaka Siwagama di atas, sangat masuk akal apabila Durga menawarkan solusi berupa pelaksanaan hari suci Galungan kepada Sri Aji Jaya Kesunu yang tengah tertindih musibah. Sebab, saat siklus waktu Galungan, salah satu putra beliau yaitu Sang Hyang Kala Tiga, dengan kesaktiannya ingin mendapatkan sesajen di dunia. Secara alamiah, seorang ibulah yang paling tahu bagaimana cara menaklukkan hati putranya dalam suasana kecewa, marah, bahkan murka.

Memang Dewi Durga bukan hanya ibu bagi Sang Hyang Kala Tiga yang disucikan (somya) saat Galungan dan Kuningan. Kakawin Bharata Yuddha menyebut Durga sebagai  renaning rat “ibu alam semesta”. Sebagai ibu alam semesta, beliau kental dengan spirit perjuangan dan pertolongan seperti yang dicerminkan dalam sejumlah karya sastra di atas.

Hal ini semestinya menjadi inspirasi bagi kita semua untuk meningkatkan rasa cinta kasih terhadap kemanusiaan melalui hari suci Galungan-Kuningan. Budaya ngejot baik dalam bentuk makanan untuk tubuh dan pengetahuan sebagai makanan jiwa mesti terus menerus dilakukan pra dan pasca hari suci tersebut.

Melalui Galungan-Kuningan kita puja Ibu Durga dengan berbagai sesaji, dalam kehidupan sehari-hari kita puja beliau dengan meneruskan spirit cinta kasih dan pertolongan kepada sesama manusia!

Semoga dengan Galungan kita mendapatkan galang ing idep ‘batin yang terang’ dan melalui kuningan kita mendapat jatining hening ‘keheningan sejati’. Astu siddhi.[T]

Galungan di Nusa Penida, Ceritamu Dulu: Tren TKW dan Dagelan “Nyen Kal Ganti”
Setelah Sembahyang dan Renungan Tak Penting di Hari Raya Galungan
“Urutan Galungan” Juga Layak Ditetapkan Jadi Warisan Budaya Tak Benda, Seperti Babi Guling
Menyambut Galungan | Bangkitkan Cahaya Dharma dalam Hati
Memaknai Galungan
Tags: balihari raya galunganKuningan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Putu Sulastri, Tokoh Liku yang Menggemaskan dalam Drama Gong Bintang Bali Timur Itu Berpulang

Next Post

Apakah Pendidikan Anti Korupsi Sebuah Utopia?

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Apakah Pendidikan Anti Korupsi Sebuah Utopia?

Apakah Pendidikan Anti Korupsi Sebuah Utopia?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co