24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
August 6, 2023
in Esai
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih

Putu Eka Guna Yasa

SEBELUM Sri Aji Jaya Kesunu dinobatkan menjadi raja, keadaan Pulau Bali tidak henti-hentinya diterjang musibah. Raja berumur pendek, segala penyakit merebak, bencana alam dan kemanusiaan terjadi tanpa henti. Merenungi keadaan ini, sang raja lalu melakukan tapa brata untuk memohon petunjuk para dewa mengenai musibah yang menimpa negerinya.

Dengan modal keteguhan dan pengendalian diri yang tanpa syarat, satu dewi ternyata terketuk hatinya untuk turun ke dunia sehingga Sri Aji Jaya Kasunu tahu penyebab sekaligus jalan keluar dari labirin masalah yang tak pernah usai menimpa dirinya dan seluruh rakyatnya.

Dewi itu bergelar Gori atau nama lain dari Durgadewi, permaisuri Siwa. Berdasarkan informasi yang beliau sampaikan dalam pertemuan rahasia dengan Sri Aji Jaya Kasunu, dapat diketahui bahwa penyebab kekacauan Pulau Bali diakibatkan oleh keadaan tempat suci yang rusak tak terurus, beberapa upacara yang dilakukan salah, bahkan ada upacara yang sama sekali tidak lagi dilakukan.

Hal itulah yang menjadi sumber malapetaka yang menimpa kerajaan Bali. Karena masalahnya berakar pada tataran spiritual maka solusi yang ditawarkan untuk meretas bencana itu juga berhubungan dengan dunia rohani.

Dewi Gori menyarankan kepada Sri Aji Jaya Kesunu untuk melakukan upacara pada sasih Kapat, Panca Wali Krama, Eka Dasa Ludra, nangluk mrana di laut, dan yang terpenting melakukan upacara Galungan.

Mendapatkan pawisik tersebut, Sri Aji Jaya Kasunu lalu menggelar berbagai upacara—khususnya Galungan—sehingga stabilitas kerajaan Bali berangsur-angsur pulih kembali. Sejak saat itu pula, pasca Sri Aji Jaya Kesunu menjadi raja, hari Galungan dilaksanakan saban enam bulan sekali secara terus-menerus sampai saat ini.

Kisah mitologis yang diambil dari sumber pustaka berjudul Sri Aji Jaya Kesunu inilah yang dijadikan dasar literasi untuk melaksanakan hari suci Galungan di Bali.

Melalui narasi bermotif bencana yang pada titik krusialnya bisa mengancam jiwa, maka teks ini memiliki kekuatan yang relatif tinggi untuk menggerakkan gagasannya menjadi norma di masyarakat. Terlebih dengan tokoh sentral seorang raja.

Sasarannya jelas, agar setiap penguasa yang sedang memutar jantra pemerintahannya di Bali Pulina ikut menjaga kedamaian Bali melalui pelaksanaan hari suci Galungan. Di lapisan masyarakat tertentu, ketakutan memang menggerakkan langkah seseorang lebih cepat, tinimbang kesadaran.

Sejatinya tidak ada masalah dengan ketakutan. Sebab, ketakutan juga bisa diolah menjadi proses awal membuka dwara kesadaran. Sama seperti cerita Lubdaka yang akhirnya naik ke “pohon kesadaran” dengan melakukan pemujaan kepada Siwa karena takut pada gelap, binatang buas, dan kematian. 

Visi kesadaran apa yang hendak dibangun oleh teks Sri Aji Jaya Kesunu melalui pelaksanaan hari suci Galungan?

Berdasarkan sumber lain seperti Sundarigama yang membahas mengenai Galungan-Kuningan, kita mendapatkan penjelasan bahwa ada relasi inharmoni yang potensial terjadi antara manusia dengan waktu [Kala] dan ruang [Bhuta] ketika rentetan hari suci Galungan tidak dilakukan. Manifestasi dari waktu berdasarkan pustaka tersebut adalah Sang Hyang Kala Tiga yang bisa bertransformasi menjadi ruang yaitu Bhuta Galungan.

Transformasi waktu ke dalam ruang secara filosofis-simbolis juga disebutkan dalam pustaka Kala Tattwa. Setelah Kala bertemu dengan ayahnya yaitu Siwa, maka Kala pun diberikan anugerah untuk mewujud ke dalam semua ruang, termasuk mematikan dan menghidupkannya.

Oleh karena itu, waktu dan ruang yang mewujud dalam tanah, air, api, angin, dan udara. Keseluruhan elemen semesta itu dalam wujud rudranya yang berbahaya dapat mengancam manusia melalui berbagai bencana seperti gempa, banjir, sunami, dan seterusnya.

Lalu kepada siapa kita mencari perlindungan agar bisa bersahabat dengan waktu dan ruang yang berpotensi destruktif itu? Sama seperti seorang anak kecil yang sedang mengalami bahaya, kata yang keluar secara otomatis pasti ibunya.

Pustaka Sri Aji Jaya Kesunu menyebutkan bahwa Ibu Gori atau Durgalah yang memberikan pertolongan ketika berbagai bencana terjadi di Bali. Karya-karya sastra lain juga mengonfirmasi kemurahan hati Ibu Durga kepada anak manusia yang betul-betul mengalami penderitaan.

Geguritan Megantaka sebagai salah satu karya sastra berspirit Panji mengisahkan pertolongan Ibu Durga kepada Dewi Ambarasari yang hampir saja mati akibat pembuangan di suatu pulau oleh pihak kerajaan karena ia lahir sebagai anak kembar siam.

Kisah yang serupa juga muncul dalam karya sastra Kidung Sri Tanjung. Ibu Durga memberikan anugerah kepada Sri Tanjung berupa kehidupan kedua setelah ia mengalami siksaan dari Raja Sulakrama, ibu mertua, dan suaminya.

Dalam karya sastra Kakawin Purusadasanta (Sutasoma), pertolongan dilimpahkan kepada Sutasoma sebelum ia naik ke Gunung Himawan melalui pemberian mantra Mahahrĕdaya Darani. Dengan salah satu sangu anugerah Dewi Durga itulah ia berhasil menaklukkan Kala [baca waktu] yang telah berwujud menjadi naga [baca ruang].     

Tidak hanya pertolongan kepada manusia, beliau juga membantu para dewa dari serangan raksasa Mahesa Sura Mardini. Raksasa lalim yang berubah wujud menjadi kerbau itu tidak mampu dikalahkan oleh para dewa, kecuali Durga. Maka dengan usaha yang hebat, raksasa itu berhasil dipenggal kepalanya.

Pelaksanaan Panampahan sebagai rangkaian Galungan diduga berhubungan kuat dengan cerita Durga Mahisa Sura Mardini ini karena di beberapa tempat di Bali seperti di daerah Seririt-Singaraja yang dipotong adalah kerbau. Hal tersebut semakin menguatkan bahwa rangkaian hari suci Galungan-Kuningan sesungguhnya salah satu bagian dari pemujaan kepada Durga.

Kenapa memuja Durga? Dalam pustaka Siwagama, Durga disebutkan pernah dikutuk oleh Siwa akibat perbuatan beliau yang ingin membunuh Kumara. Itu sebabnya, Durga kemudian turun ke dunia dan menyusup ke dalam seluruh kuburan. Tidak tahan dengan kesepian atas kepergian saktinya, Siwa lalu mengutuk diri menjadi Kalarudra.

Siwa dalam wujud menakutkan itu kemudian mencari Durga ke penjuru dunia. Hingga akhirnya Kalarudra bertemu dengan Panca Durga di satu kuburan. Setelah Kalarudra menghormat kepada Panca Durga, benih rindu Siwa dan Durga yang tak tertahankan akhirnya menyebabkan beliau berdua melakukan sanggama semesta.

Pertemuan dalam wujud bhairawa dan bhairawi inilah yang melahirkan Kalika, Kaliku, Yaksa, Yaksi, Dengen, Babai, Jin, Setan, Bergala, Bergali, dan yang lainnya. Ketika berada di Bale Agung, Bhatari Durga berubah menjadi Kalika Maya, sedangkan Bhatara Kala Rudra berubah menjadi Sang Jutisarana. Pertemuan beliau di tempat itu pula yang melahirkan Sang Hyang Kala Tiga diiringi oleh Sang Bhutaraja, Sang Kali Putih, Bhuta Walangket, Bhuta Sancaya, dan seterusnya.

Berdasarkan penjelasan pustaka Siwagama di atas, sangat masuk akal apabila Durga menawarkan solusi berupa pelaksanaan hari suci Galungan kepada Sri Aji Jaya Kesunu yang tengah tertindih musibah. Sebab, saat siklus waktu Galungan, salah satu putra beliau yaitu Sang Hyang Kala Tiga, dengan kesaktiannya ingin mendapatkan sesajen di dunia. Secara alamiah, seorang ibulah yang paling tahu bagaimana cara menaklukkan hati putranya dalam suasana kecewa, marah, bahkan murka.

Memang Dewi Durga bukan hanya ibu bagi Sang Hyang Kala Tiga yang disucikan (somya) saat Galungan dan Kuningan. Kakawin Bharata Yuddha menyebut Durga sebagai  renaning rat “ibu alam semesta”. Sebagai ibu alam semesta, beliau kental dengan spirit perjuangan dan pertolongan seperti yang dicerminkan dalam sejumlah karya sastra di atas.

Hal ini semestinya menjadi inspirasi bagi kita semua untuk meningkatkan rasa cinta kasih terhadap kemanusiaan melalui hari suci Galungan-Kuningan. Budaya ngejot baik dalam bentuk makanan untuk tubuh dan pengetahuan sebagai makanan jiwa mesti terus menerus dilakukan pra dan pasca hari suci tersebut.

Melalui Galungan-Kuningan kita puja Ibu Durga dengan berbagai sesaji, dalam kehidupan sehari-hari kita puja beliau dengan meneruskan spirit cinta kasih dan pertolongan kepada sesama manusia!

Semoga dengan Galungan kita mendapatkan galang ing idep ‘batin yang terang’ dan melalui kuningan kita mendapat jatining hening ‘keheningan sejati’. Astu siddhi.[T]

Galungan di Nusa Penida, Ceritamu Dulu: Tren TKW dan Dagelan “Nyen Kal Ganti”
Setelah Sembahyang dan Renungan Tak Penting di Hari Raya Galungan
“Urutan Galungan” Juga Layak Ditetapkan Jadi Warisan Budaya Tak Benda, Seperti Babi Guling
Menyambut Galungan | Bangkitkan Cahaya Dharma dalam Hati
Memaknai Galungan
Tags: balihari raya galunganKuningan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Putu Sulastri, Tokoh Liku yang Menggemaskan dalam Drama Gong Bintang Bali Timur Itu Berpulang

Next Post

Apakah Pendidikan Anti Korupsi Sebuah Utopia?

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Apakah Pendidikan Anti Korupsi Sebuah Utopia?

Apakah Pendidikan Anti Korupsi Sebuah Utopia?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co