26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memaknai Galungan

Nyoman Sukaya Sukawati by Nyoman Sukaya Sukawati
September 27, 2020
in Esai
Memaknai Galungan

Ini obrolan mereka di teras Shuck Cafe tadi malam:

“Cong, Nang Kocong, menurutmu apa sih makna Galungan?”

“Kan sudah jelas, hari kemenangan dharma melawan adharma. Yang gitu-gitu ditanyakan lagi. Sing ngelah gae?” Nang Kocong mengusap sisa buih minuman di kumisnya.

“Maksudku, masa harus
selalu kemenangan dharma atas adharma?”

“Memang begitu, wong dharmanya udah menang, mau diapain lagi. Mau dibalik, adharmanya yang menang? Malah ribet jadinya.”

“Apa tak ada jawaban lain? Sejak SD hingga setua ini, jawabannya selalu begitu saja: kemenangan dharma melawan adharma.”

“Seharusnya apa?”

“Memangnya ada urusan apa si dharma dengan si adharma. Kapan dan di mana mereka berantem. Kok tiba-tiba saja si dharma menang, malah kita rayakan pula kemenangannya?”

“Badah, Byah, Gobyah, kamu tak paham. Itu soal spiritual, bersifat kerohanian, sesuatu yang ada di dalam hati, bukan perkelahian fisik seperti dua petinju di atas ring.”

“Aku tahu Cong. Setidaknya, berilah pemahaman agar aku mengerti apa maksud dari kemenangan dharma atas adharma itu.”

“Terus, aku harus mengarang jawaban, gitu? Kemenangan dharma atas adharma, itu saja sudah cukup. Tak perlu diutak-atik lagi. Kalau ulangan di sekolah, nilaimu 10 dengan jawaban itu.”

“Tapi kamu kan punya otak, Cong. Pakai otakmu. Siapa tahu ketemu jawabannya.”

“Kamu serius ingin tahu makna Hari Raya Galungan dan Kuningan. Tumben peduli soal-soal begituan. Kamu salah minum obat?”

“Tidak juga, hahaha…”

“Gini, Byah, Galungan dan Kuningan itu hanya ritual, tapi skenarionya bagian dari ajaran tradisional tentang pencerahan terhadap tubuh, pikiran, dan spirit manusia. Di balik ritual hari raya itu bersembunyi ajaran kerohanian, semacam ajaran Dasa Aksara, sebagai salah satu jalan bagi manusia Bali mengenali jati dirinya.”

“Nah kan, mulai terpancing ngarang-ngarang, hahaha…”

“Yeh, tadi kamu minta aku nyari jawaban. Ya sudah kalau begitu. Ndak jadi dah.”

“Bercanda, Cong. Jangan ngambul. Lanjut…”

“Kamu tahu, Galungan dan Kuningan terdiri tiga bagian utama, yakni Penampahan, Galungan, dan Kuningan. Itu  simbol bhur, bwah, swah. Simbol tubuh fisik, tubuh pikiran, dan tubuh rohanimu.”

“Mulai ruwet ini. Terus?”

“Penampahan itu maknanya membuka kesadaranmu pada tubuh fisik, mengajakmu untuk mengenali tubuhmu, memahami organ-organnya yang secara spiritual organ-organ itu dianggap pusat-pusat energi kedewataan dirimu.”

“Cong, pada waktu Penampahan kita nampah celeng, mebat, bikin lawar dan komoh. Itu adalah pesta, maknanya lebih dekat kepada nyomia buthakala dengan kuliner yang enak-enak. Jauh banget kalau dihubungkan dengan memahami organ-organ tubuh. Ngaco aja kamu.”

“Celeng itu pretiwimba. Organ celeng atau babi itu sama dengan yang ada di tubuhmu.”

“Betul, tapi organ-organ itu cocoknya dibuat sate saja ditemani lau, haha…”

“Kamu benar, pada hari Penampahan, organ celeng itu memang dibuat sate, namanya sate galungan, orang bilang sate penawasangan atau sate senjata nawa sanga.”

“Apa maksudnya?”

“Sate galungan itu simbol untuk mengingatkanmu bahwa organ-organ vital dalam tubuhmu itu, selain pusat energi kasar yang secara alamiah mempengaruhi pribadimu, membentuk naluri, ego, nafsu, ambisi, atau pikiran-pikiran dasar lainnya, kamu harus menyadari bahwa di situ juga pusat energi halus, energi dewata.”

“Nggak mudeng, aku.”

“Pikiran kita selalu dipengaruhi oleh kekuatan rwa bineda, oleh energi kasar dan energi halus, energi butha dan energi dewa, negatif dan positif. Dalam ajaran kerohanian di Bali, kedua jenis energi itu berpendar melalui organ-organ tubuhmu. Tapi energi kasar yang dominan memengaruhi pikiran atau emosimu, sedangkan energi halus sangat lembut.”

“Mulai muter-muter kan kamu. Tuangin bir dulu, Cong, biar lancar otakmu. Lantas, sate itu apa urusannya?”

“Sate galungan itulah simbol dewata, untuk menggambarkan dewa apa yang bertahta di tubuhmu.”

“Apa saja, Cong?”

“Agar tahu dengan detil, nanti kamu baca bukunya saja. Tapi garis besarnya, sate galungan itu dibuat dari organ tubuh untuk menggambarkan dewa-dewa di organ tersebut. Misalnya, sate asem. Itu simbol cakra. Dibuat dari nyali, tapi diganti dengan lemak atau usus halus, untuk menggambarkan di nyalimu ada ‘energi’ Dewa Wisnu.  Sate japit, dari unsur jantung,  simbol bajra,  melambangkan yang bercokol di jantungmu adalah Dewa Iswara. Begitu seterusnya…”

“Mih, ruwet ya.”

“Ya, memang ruwet. Capek menjelaskannya. Lagian, aku juga gak hafal semuanya, males, hehe…”

“Terus, apa hubungannya sate-sate yang ruwet itu dengan Penampahan?”

“Itu adalah bahasa leluhur untuk mengajarkan kepada kita semua, ‘Wahai, anak-anakku, para keturunanku, orang-orang mulia, periksalah tubuhmu, ketahuilah, sesungguhnya tubuhmu adalah stana para dewata. Sadari dan camkan itu baik-baik’, begitu kira-kira.”

“Berarti di badanku ada dewa, gitu?”

“Ya, setidaknya ada sembilan dewa.”

“Mih, sembilan aku ngubuh dewa?”

“Tapi ingat, tidak hanya dewa, di situ juga ada butha kala. Malah butha ini lebih kuat pengaruhnya dan mengendalikanmu.”

“Aku ngubuh butha juga. Berarti di tubuhku ada ogoh-ogoh?”

“Betul. Ini yang disebut Sang Butha Galungan.”

“Terus kapan ogoh-ogoh Butha Galungan itu harus dibakar?”

“Tidak dibakar. Ia tidak bisa dibunuh, karena ia yang menghidupkanmu. Menghidupkan naluri, hasrat, nafsu, dan pikiran-pijiranmu. Ia memicu ahamkara, pikiran egomu.”

“Mih, ada-ada saja kamu, Cong.”

“Makanya waktu Penampahan kamu natab Banten Byakala atau apapun namanya. Itu ritual untuk butha di tubuh fisikmu, di bhur loka. Byakala itu bukan pembersih kaki atau lututmu, tapi untuk menyadarkanmu akan keberadaan butha di tubuhmu agar kamu waspada, eling.”

“Nah, sambil minum, Cong. Kasi patabuh butha kalanya biar somia, hehe… Lalu apa hubungannya semua itu dengan Galungan?”

“Kita permudah ya. Sate senjata nawasanga, simbol ‘energi’ organ-organ tubuhmu itu, kita ringkas jadi lima, yakni nyali, jantung, hati, ginjal, dan “puncak” hati. Galungan itu ritual untuk tubuh pikiranmu, bwah loka. Kamu memasuki kesadaran pikiran.”

“Apa hubungan nyali, jantung, dan lainnya itu dengan pikiran?”

“Sesungguhnya kualitas pikiranmu itu dipengaruhi oleh energi tubuh fisikmu, baik oleh butha yang keras maupun energi dewata yang syahdu. Sebagai manusia Bali, kamu diminta memenangkan energi dewata dan mengendalikan energi butha.”

“Ngawur kayaknya ini, hehe…”

“Dari kaca mata kerohanian, energi halus dari nyalimu, yang digambarkan sebagai cahaya Dewa Wisnu itu, adalah pembentuk pikiran kasih. Energi jantung, Dewa Iswara, membentuk pikiran religius. Energi hati, Dewa Brahma, membentuk pikiran kreatif. Energi ginjal, Mahadewa, membangun pikiran yang berkaitan dengan kesejahteraan.”

“Kalau seperti kita ini, senang minum di kafe, energi pikiran apa namanya?”

“Makanya magalung, Byah. Itu adalah tuntunan kesadaran, ‘Wahai manusia Bali, cerahkanlah energi dewata di nyalimu agar pikiranmu dipenuhi cinta kasih, cerahkanlah jantungmu agar religiusitasmu bercahaya, sadarilah energi hatimu supaya tumbuh pikiran kreatifmu, dan seterusnya,’ begitulah, Byah, biar kamu ngerti.”

“Berarti orang Bali itu harus hidup dengan pikiran kasih, religius, dan kreatif?”

“Benar. Itulah dasar Tri Kaya Parisuda. Bila hidup didasari pikiran, ucapan, dan tindakan penuh cinta kasih, religius, dan kreatif, maka semua akan sejahtera.”

“Mih, serem ini.”

“Dalam kehidupan sehari-hari, panca aksara atau panca dewata itu diringkas jadi tiga aksara, dan ini diterjemahkan jadi Kayangan Tiga: Pura Puseh, Pura Dalem, Pura Desa. Itu pesan sekaligus jalan bagimu untuk selalu ingat memuja Wisnu, di Pura Puseh, mencerahkan cahaya nyalimu, menguatkan sifat-sifat cinta kasihmu. Memuja Iswara di Pura Dalem, mencerahkan energi jantung, menguatkan religiusitasmu. Memuja Brahma di Pura Desa, mencerahkan hatimu agar engkau cerdas kreatif. Kalau ketiga hal itu tercerahkan maka pikiranmu akan jagadhita, bahagia, sejahtera. Tubuh pikiranmu berpendar dalam energi Dewa Siwa. Hidupmu akan penuh cinta kasih, cerdas, kreatif, bijaksana, rendah hati.”

“Bukankah Kayangan Tiga tempat memuja Brahma, Wisnu, Siwa, beliau sebagai Pencipta, Pemelihara, dan Pelebur? Begitu yang aku tahu.”

“Soal pencipta, pemelihara, atau pelebur, itu adalah hukum alam. Biarkan saja mereka mau ngapain. Tidak ada yang dapat kamu lakukan dengan itu. Tugasmu adalah menjalani hidup dengan kasih, religius dan kreatif. Apa pun yang kamu lakukan hendaknya berdasar kepada ketiga sifat tersebut, muter-muter di situ saja. Itu baru namanya kamu memuja Brahma, Wisnu, Iswara.”

“Ah, kamu ini Cong, omonganmu tidak sesuai sastra.”

“Makanya Byah, kalau makan sesuatu itu jangan ditelan mentah-mentah.”

“Hahaha.. itu sih bisa-bisanya kamu aja menghubung-hubungkan dan mengartikannya.”

“Tapi jangan lupa, di tubuh pikiranmu juga ada bhuta kala, dinamakan Butha Dunggulan. Dia seperti mesin turbo yang menggerakkan dan membuat liar pikiranmu. Tanpa kamu sadari dialah yang memunculkan pikiran dan nafsu tamakmu dan selalu ingin unggul.”

“Seperti sifatmu itu ya, Cong, haha… Terus, diapakan bhuta kala ini?”

“Kamu natab Banten Durmanggala, supaya kamu menyadari bahwa pikiranmu sesungguhnya dikendalikan oleh bhuta. Ketika kamu sadar dan mampu mengendalikan bhuta itu, serta menstanakan cahaya dewata di pikiranmu, itulah namanya Galungan. Kamu tercerahkan, pikiranmu jadi terang galang dalam kebijaksanaan. Ini yang dimaksud dengan kemenangan dharma atas adharma. Kalau dalam Mahabharata, itu namanya kamu berhasil memenangkan Pandawa atas Kurawa. Begitu kira-kira, Byah.”

“Ya deh, aku iyain aja, yang penting ceritanya berlanjut mumpung belum ngantuk. Lantas, mengapa pakai Kuningan lagi, kan dharma sudah menang?”

“Yang tadi itu kan baru pencerahan terhadap tubuh fisik dan tubuh pikiranmu, belum tubuh rohanimu. Kuningan itu simbol pencerahan tubuh rohanimu. Kamu memasuki kesadaran rohani, swah loka.”

“Tapi kenapa jarak Kuningan itu 10 hari dari Galungan, sementara dengan Penampahan cuma sehari.”

“Maumu berapa hari? Tiga bulan? Kelamaan dong hari liburnya.”

“Bebeki memang kamu, Cong.”

“Penampahan dengan Galungan memang berjarak sehari, karena tubuh dan pikiran itu dekat, keduanya dianggap berada di matra badan kasar, bahkan saling terkait, sedangkan alam rohani berada sepuluh langkah di luar panca mahabhuta dan panca tanmatra. Untuk mencapai kesadaran rohani kamu harus melampaui lima indramu dan lima matramu, karena alam rohani itu tidak berbentuk fisik, tidak terlihat, tidak tercium, tidak terdengar, tidak tersentuh, tidak terkecap. Alam rohani itu dapat kamu capai dengan menyelami sedalam-dalamnya ajaran Sepuluh Aksara atau Dasa Aksara. Begitu kira-kira.”

“Apa maknanya, Cong?”

“Ketika kamu telah tercerahkan secara rohani, serta secara pikiran dan tubuhmu, maka itulah jati dirimu sebagai manusia Bali. Manusia Budi. Manusia paripurna, utuh lahir batin. Kualitas hidupmu disimbolkan sebagai di alam Siwa.”

“Walaupun kayaknya kamu ngaco, coba sekarang lanjutkan memaknai Kuningan.”

“Capek Byah, ngoceh dari tadi. Mataku juga mulai berkunang-kunang. Kamu sih, kebanyakan ngasi minum.”

“Masih ada sebotol nih, boleh sambil ngelanjutin ngobrolnya.”

“Nanti kamu cari-cari sendirilah maknanya. Pakai otakmu. Biar bisa belajar sesuatu. Nggak cuma copy paste. Atau belum apa-apa sudah mistik aja di otakmu, entar malah jadi tambah gelap pengetahuanmu. Tapi itu memang hanya permainan simbol. Bukan di situ substansinya. Malah tadi aku mau bilang ke kamu kalau Penampahan itu adalah sama dengan Pura Puseh, Galungan itu sama dengan Pura Desa, dan Kuningan adalah Pura Dalem. Tapi takutnya malah kamu jadi bingung dan memaki aku. Sekarang yang penting kamu sudah paham sedikit makna Galungan yang aku sampaikan tadi.”

“Paham? Enggak juga, Cong. Sama sekali aku nggak ngerti. Malah ocehanmu itu bikin kepalaku mumet. Tapi aku salut, Cong, omonganmu kayak orang ngerti aja, padahal nggak, haha…”

“Itulah namanya aliran pengetahuan dari semesta, Byah, sebab aku menghidupkan pohon ‘waringin sungsang’ di dalam diriku, dan kamu yang rajin menyiraminya dengan minuman, kikikik…”

“Walah, makin ngawur aja kamu, Cong. Maksudku, apa kamu tidak bisa memaknai Galungan secara sederhana, gak pakai organ-organ tubuh segala, macam Ilmu Hayat gitu?”

“Ada, Byah. Makna Galungan secara sederhana juga ada.”

“Nah, apa itu?”

“Hari Raya Galungan dan Kuningan adalah hari kemenangan dharma melawan adharma, gitu aja udah.”

“Ataah, itu lagi! Masih ada waktu, Cong, sebelum kita pulang. Singkat saja, biar otakku tidak menggantung. Kuningan itu apa?”

“Kuningan itu maknanya kamu memasuki kesadaran atau pencerahan pada tubuh rohanimu. Dalam hidupmu, kamu mesti mengisi rohanimu dengan ajaran-ajaran kerohanian. Tentu saja ini wilayah rahasia nan abstrak. Sebagai orang Bali, ciri jalan hidup spiritualmu adalah semangat, gembira, membumi. Religiusitasmu harus tumbuh dengan energi yang cemerlang, cerah, gembira, aktif, bergerak. Tidak kosong atau putih, tidak juga senyap atau hitam, tapi spiritualitas yang merangsang dan menggairahkan hidupmu, dilambangkan dengan warna kuning.”

“Hahaha…, kayaknya nyaplir ini. Maksudmu Kuningan itu warna kuning, gitu?”

“Yup. Itu bahasa simbol. Penjelasannya seperti yang aku bilang tadi. Spiritualitasmu adalah akar dari filsafat hidupmu atau Iswara, spiritualmu adalah sumber inspirasi pengetahuan hidupmu atau Brahma, spiritualmu adalah pusat energi kasih hidupmu atau Wisnu. Karena itu, sebagai orang Bali, kamu harus menghayati nilai-nilai ini.”

“Waduh, otakku tidak bisa menangkapnya, ampura, Cong.”

“Spiritualitas orang Bali itu adalah sumber inspirasi untuk memuliakan kehidupan, mengelola kehidupan, dan mengasihi kehidupan di alam nyata ini, bukan untuk bertapa, bukan untuk pengasingan diri.”

“Semakin uyeng-uyengan omonganmu, Cong. Perayaan Kuningan kan harus selesai sebelum pukul 12 siang, kalau tidak, katanya nanti yang datang adalah Dewa Berung.”

“Itu adalah simbol waktu produktif, waktu untuk hidup. Sedangkan setelah pk 12 siang disebut waktu lingsir, waktu kematian. Spiritualitas orang Bali adalah untuk produktivitas, untuk kehidupan. Pengetahuan rohanimu yang menginspirasi dan ‘menyinari’ pikiran atau tindakanmu untuk mengelola kehidupan sehari-hari dengan indah sebagai karakter manusia Bali. Jika tidak, bagaimana pun tingginya pengetahuan rohanimu kalau tidak bermanfaat bagi kehidupan maka tidak akan ada gunanya, hanya kesia-siaan belaka. Istilahnya, yang kamu temukan nanti hanya Dewa Berung.”

“Apa ada ogoh-ogohnya juga?”

“Ada. Tubuh rohanimu juga dikendalikan bhuta, dinamakan Sang Bhuta Amangkurat. Malah ia sangat kuat dan cara mainnya sangat rahasia. Karena itulah kamu natab Banten Prayascita agar kamu menyadari keberadaannya. Bila ia menguasaimu, ia dapat membuatmu mabuk spiritual, mabuk agama, ya semacam itulah.”

“Berarti maksud dari Galungan dan Kuningan itu adalah kita menyadari dan memenangkan dewa di badan kasar kita, dewa di pikiran, dan dewa di rohani kita, begitu?”

“Nah, pintar kamu, Byah.”

“Peh. Ayo dah kita pulang. Ini sudah hampir tengah malam. Habisin dulu minumanmu, Cong, biar Dewa Berung gak keburu datang.” [T]

Kuta, 2020.

Tulisan ini juga dimuat majalah Media Hindu, edisi 198, Oktober 2020.

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Desa Sanur, Padang Sanur & Toponimi Bali

Next Post

[Puisi-puisi Manik Sukadana] – Pernyataan Pada Perempuan Pengagum Warna

Nyoman Sukaya Sukawati

Nyoman Sukaya Sukawati

lahir 9 Februari 1960. Ia mulai aktif menulis puisi sejak 1980-an di rubrik sastra surat kabar Bali Post Minggu asuhan Umbu Landu Paranggi. Dia pernah bergiat di dunia kewartawanan. Pada 2007 bukunya berjudul Mencari Surga di Bom Bali diterbitkan berkat bantuan program Widya Pataka Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Bali bekerja sama dengan Arti Foundation, Denpasar.

Related Posts

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails
Next Post
[Puisi-puisi Manik Sukadana] – Pernyataan Pada Perempuan Pengagum Warna

[Puisi-puisi Manik Sukadana] - Pernyataan Pada Perempuan Pengagum Warna

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co