2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Desa Sanur, Padang Sanur & Toponimi Bali

Sugi Lanus by Sugi Lanus
September 27, 2020
in Esai
Covid-19 dalam Alam Pikir Religi Nusantara – Catatan Harian Sugi Lanus

ILustrasi tatkala.co / Nana Partha

Pernahkah mendengar nama desa Sanur dikaitkan-kaitkan dengan kata “nur” (serapan bahasa Arab) yang berarti “cahaya” yang konon menjadi muasal kata Sanur? Begini katanya: “Sanur berasal dari kata ‘Sa’ yang artinya ‘tunggal’, sedangkan ‘Nur’ artinya ‘sinar suci’.”

Pertanyaannya: Semenjak kapan orang Bali menamai sebuah wilayah dengan serapan bahasa Arab?

“Nur yang dalam bahasa Arab diartikan dengan cahaya dan disebut dalam Alquran sebanyak 43 kali. Bahkan, surah ke-24 juga diberi nama dengan an-Nur. Begitu banyaknya Alquran membahas tentang eksistensi nur,” demikian sebuah sumber menguraikan kata ‘Nur’.  

Tentu sangat masuk akal jika kata Nur dijadikan rujukan penamaan Masjid An-Nur di Dauh Puri Klod, Denpasar. Tapi masuk akalkah nama desa Sanur dari ‘Sa’ + ‘Nur’ (serapan bahasa Arab)?

Jika kita memasuki tradisi pertanian dan usada Bali, nama Sanur melekat kuat dalam tradisi herbal di Bali. Sanur adalah jenis padang (rumput) yang sangat penting dalam ramuan di Bali. Padang Sanur dikenal berakar sangat harum. Dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai Narwastu atau Akar Wangi. Padang Sanur atau Narwastu atau Akar Wangi juga dikenal sebagai serai wangi, rumput akar wangi, rumput vetiver, Chrysopogon zizanioides syn. Vetiveria zizanioides, Andropogon zizanioides.

Dalam bahasa Sunda rumput Sanur disebut sebagai Janur — ada kedekatan penyebutan antara Sanur dan Janur. Nama padang Sanur di daerah lain: Useur (Gayo); Hapias, Usar (Batak); Akar Babau (Minangkabau); Akar Banda (Timor); Iser, Morwastu (Sumatera Utara); Usa, Urek Usa (Makasar); Janur, Narawastu, Usar (Sunda); Larasetu, Larawastu, Rarawestu (Jawa).

Nama rumput atau padang Sanur dikenal baik di sepanjang Bali Utara sebagai sumber pengharum pakaian. Masyarakat desa Ambengan, sebuah desa di selatan kota Singaraja yang kaya dengan berbagai jenis rumput-rumputan, dikenal baik Sanur sebagai bahan pewangi, dari dahulu kala, sebelum istilah rumput Veviter disebarluaskan sebagai aroma terapi oleh para pegiat terapi spa. Demikian juga orang tua saya yang tinggal di Bali Utara bagian barat dengan bangga menceritakan bagaimana nenek saya selalu berbau harum karena memakai akar padang Sanur sebagai pengharum tubuh dan diselipkan di lemari pakaian.

Secara turun-temurun akar padang Sanur menjadi bagian dari tradisi boreh atau ramuan, salah satunya yang terkenal adalah BUAT atau SAMBUAT, yang diusapkan pada dada perempuan yang sedang menyusui. SAMBUAT atau BUAT terdiri dari ramuan: Akar padang Sanur dan daun Delem (Nilam), ditumbuk bersama beras yang telah diredam. Diusapkan pada dada ibu yang menyusui. Tumbukan akar Sanur juga biasa dipakai sebagai pengharum tubuh seusai mandi sebagai layaknya bedak pengharum tubuh. Biasa diusapkan pada bayi sebagai aroma terapi yang menenangkan bayi, membuat sang bayi tidur pulas — sebuah terapi turun-temurun untuk menangkan bayi yang gemar menangis dan selalu uyang (tidur tidak tenang).

Kalau saya melewati Sanur, bukan “saa” (tunggal) dan “nur” (bahasa Arab berarti cahaya) yang terkesan di kepala saya. Yang berdesir adalah aroma harum akar padang Sanur — bahasa kerennya sekarang Vetiver— yang mengharumkan tubuh bayi dan ibu menyusui, dan aroma harum pakaian yang diselipi akar Sanur. Sanur itu, ya harum akar harum Padang Sanur, yang menenangkan dan dipercaya sebagai pemicu peningkatan kreavitas otak dan keheningan. Di kepala saya rumput Sanur alias vetiver yang menjadi muasal nama Sanur.  Penjelasan desa Sanur berasal dari ‘Sa’ + ‘Nur’ (serapan bahasa Arab), sungguh membuat saya tersenyum.

Marilah kita berkeliling di sekitar wilayah Sanur: Nama-nama lokasi atau wilayah di sekitar berasal-muasal dari tumbuhan. Contoh: Intaran, Padang Galak, Biaung, dstnya.

Wilayah Intaran muasal namanya adalah pohon intaran. Tumbuhan penting ini disebut dalam lontar Dasanama dan Krtabhasa sama dengan “mimba” = “mintar” atau “meddha”. Mimba = “Nimba”. Dalam khazanah kepustakaan Ayur Weda pohon Nimba (निम्ब) — yang bahasa latinnya adalah Azadirachta indica, dari keluarga Meliaceae — bagian tumbuhan (kemungkinan pucuk daun mudanya) bisa dimakan sebagai sayuran (śāka), ini disebutkan dalam Carakasaṃhitā-sūtrasthāna (bab 27) — sebuah karya Ayurveda klasik. Intaran masuk kelompok tanaman obat Śākavarga, “kelompok herba”. Dalam bahasa Inggris umum disebut sebagai “neem”, “nimtree” dan “Indian lilac”.  Intaran disebutkan sebagai obat yang digunakan untuk mengobati semua demam panas tinggi, menjadi terapi virus yang sering menjadi wabah mematikan di masa lalu, seperti yang dijelaskan dalam Jvaracikitsā (atau “pengobatan demam”) yang merupakan bab pertama dari karya Sansekerta yang disebut Mādhavacikitsā. Dalam karya ini, tumbuhan ini memiliki sinonim dengan Ariṣṭa, disebut-sebut sebagai bagian dari kelompok obat-obatan Nimbayugma. Tumbuhan ini telah terbukti sepanjang sejarah kuno Bharat (pre-modern India) dan Jawa sebagai penghalau dan penyelamat manusia dari keganasan wabah yang disebabkan oleh berbagai virus dan bakteri.

Padang Galak adalah wilayah yang ada di sebelah dari Sanur. Padang Galak jelas jenis rumput atau padang, sebagaimana halnya Padang Sanur. Padang Galak dan Padang Sanur kemungkinan dahulunya wilayah terbuka penuh rumput, yang membedakan keduanya adalah jenis rumputnya. Kemungkinan Padang Galak di tempat lain disebut sebagai Bajang-Bajang. Jenis rumput ini tajam dan memang berciri “galak” melekat menusuk pada kain jika kita lalui. Bajang-bajang adalah rumput yg buahnya mudah melekat pada pakaian, nama ilmiahnya Andropogon aciculatus.  Literatur botani menyebutkan nama umum untuk Bajang-Bajang itu dalam bahasa Indonesia adalah “rumput jarum” atau “jarum mas” yang berkerabat dekat dengan Akar wangi atau Vetiver (Padang Sanur), Palmarosa, sere. Penyebutannya kadang menjadi rumput jarum, padang jarum mas, kadang singkat rumput mas. Rumput jarum mas (Andropogon aciculatus) biasa tumbuh di kawasan yang tanahnya tidak banyak kandungan humus atau tanah yang sedikit keras. Jika kawasan kurang humus dan di bawah matahari, rumput ini mempunyai tinggi 3 – 5 cm, dan 10 – 15 cm atau lebih jika tumbuh di tempat yang teduh. Ketinggian rumput ini sangat ditentukan dengan kesuburan tanahnya. Sampai saat ini kawasan Padang Galak masih banyak ditemukan “Bajang-Bajang”.

Di sebelah wilayah Padang Galak adalah Biaung. Biaung adalah mana ubi. Bahasa Latinnya adalah Dioscorea aculeate L. Di Singaraja disebut Ubi Aung. Di Jawa disebut sebagai Gembolo, mirip dengan Gembili yang lebih kecil.

TOPONIMI BALI, DASANAMA & KRTABHASA

Secara toponimi — ilmu yang mempelajari nama unsur penanda rupabumi suatu wilayah atau region, penamaan lokasi atau tempat — penamaan wilayah di Bali saya perkirakan lebih dari 30% memakai nama tumbuhan sebagai penanda lokasi. Sebagai contoh di atas, kawasan Intaran, Padang Sanur, Padang Galak, Intaran dan Biaung, tidak kebetulan secara toponimi wilayah ini penandanya adalah tumbuhan dan menjadi asal-usul nama-nama tempat di wilayah ini.

Disiplin ilmu penamaan wilayah atau toponimi ini terkait dengan onomastik (onomatologi), merupakan cabang ilmu linguistik yang disebut Linguistik Historis Komparatif, yang berfokus pada asal-usul kata atau etimologi dan juga makna dibalik nama. Onomastik ini yang secara khusus mengkaji mengenai asal-usul nama, baik nama diri/keluarga/gelar (antroponimi) dan nama kawasan/tempat/wilayah (toponimi). Dalam tradisi kesusastraan dan “nyastra” di Bali diwajibkan membaca lontar Dasanama dan Krthabhasa untuk bisa memahami antroponimi (nama diri/keluarga/gelar) dan toponimi (mana tempat).

Jika didekati dengan antroponimi maka banyak sekali nama gelar leluhur Bali terkait dengan toponimi. Nama leluhur Bali — yang cenderung dekat dengan nama tumbuhan, bahkan nama-nama atau gelar-sebutan orang Bali banyak memakai nama tumbuhan — terkait dengan toponimi yang terkait nama tumbuhan. Wilayahnya yang ditandai dengan nama pohon tersebut kemudian menjadi gelar yang dipertuan di sana. Gusti Jambe (dari mana pohon Jambe), Kemenuh (disebutkan dari Menuh), Arya Kebon Tubuh (Kebun Kelapa), Ida Kusa (Rumput Ilalang), Keniten (jenis bakau atau prapat besar berbuah yang dipakai saat pengabenan), dll. Wilayah di Denpasar ada dikenal sebagai Lemintang adalah nama tumbuhan, yang juga menjadi nama wilayah di Kabupaten Badung, yang penguasanya bernama Gusti Lemintang atau Gusti Lumintang.  Kabupaten Badung sendiri berasal dari nama pohon Badung, sekeluarga dengan Mundeh yang sering disebut sebagai pohon Mundu atau pohon Rata. Wilayah Manggis, Karangasem atau Karangamla penandanya adalah pohon Asem dan atau pohon Amla. Di dua tempat ini penguasanya bergelar kebangsawan sesuai nama wilayah yang dari penanda pohon, tersebutlah Dewa Manggis dan Anglurah Karangasem.

Banyak sekali generasi kita tidak tahu nama-nama tumbuhan dalam bahasa Bali yang banyak menjadi asal-muasal dari suatu desa atau wilayah. Cepat sekali kita kadang memberi tafsir “Cocokologi” dalam mencari muasal nama tempat atau desa. Bahkan “Cocokologi” yang dipakai kadang memaksa sekali, sehingga yang membaca atau mendengar merasa “matah” dan mungkin juga merasa tersinggung kecerdasannya. Pesan tetua jika memasuki tradisi sastra: “Jika mempelajari nama-nama tempat atau lokasi sebaiknya membaca kamus Dasanama dan Krtabhasa.”

Sebagai contoh Cocokologi yang sering kita dengar adalah perihal nama Gunung Lempuyang. Desa Gamongan ada di kaki Gunung Lempuyang. Dalam lontar Krtabhasa disebutkan: Lempuyang = Bhujangga dewwa = Gamongan. Inilah menjadi sebab kenapa dalam lontar-lontar babad yang menyebutkan Gunung Lempuyang juga disebut sebagai Gunung Bhujangga.

Jika kita ikuti Cocokologi disebutkan bahwa Lempuyang berasal dari kata Lampu dan Hyang, lalu katanya menjadi Lempuyang (?). Kalau saja kita lebih giat sedikit bertanya, dan atau membaca lontar usada atau Krtabhasa dan Dasanama, sudah jelas disebutkan bahwa Lempuyang itu sebagai tanaman. Lempuyang yang memiliki nama ilimiah Zingiber Zerumbet L ini selanjutnya terbagi ke dalam 3 (tiga) varietas, yakni lempuyang pahit (Zingiber amaricanus BL), lempuyang gajah (Zingiber zerumver Sm), dan lempuyang wangi (Zingiber araomaticum Val). Stasiun di Jogja bernama Lempuyangan, tentu bukan berasal dari kata “Lampu” dan “Hyang”. Di Jogja banyak penjual jamu lempuyang. Demikian juga di Bali, masih ada tradisi minum loloh gamongan yang tak lain adalah salah satu dari keluarga lempuyang yang tiga tersebut di atas. Lempuyang dan Gamongan digunakan secara turun-temurun di Bali sebagai adalah tumbuhan penyebuh yang luar biasa bermanfaat untuk: Meredakan demam dan kejang anak (mampu meredakan demam dan kejang karena mengandung parasetamol); menambah nafsu makan; mencegah tumbuhnya sel kanker; mengatasi penyakit diare dan disentri; dipercaya membantu menurunkan berat badan atau melangsingkan tubuh; mengobati batuk rejan; mengatasi rematik; membantu mengatasi iritasi kulit akibat alergi; mengatasi gejala darah rendah; mengobati TBC; mengobati malaria; mengatasi masuk angin; mengobati kaki bengkak pasca melahirkan; mengatasi gejala ambien; dll.

Di Bali ada banyak nama desa bisa dicari rujukan namanya dari Dasanama, yang semuanya asal-usulnya adalah dari tumbuhan, seperti: ṣamṣam (nama lainnya: kumbiri; kmuning = gantuna = jnar); sĕmbung (nama lainnya hañjuna); kutuḥ (nama lainnya sasamali); kayu putiḥ (nama lainnya kayu pingĕ = walĕsan); dahuṣa (nama lainnya madya); ada dausa-haya (dausa gede) atau Justicia L.f. Acanthaceae; ada juga dausa-keling (Justicia Gandarusa L.f. Acanthaceae); bĕngkĕl (Nauclea purpurascens Korth); bĕlimbing dstnya. Nama desa Pĕgayaman dari Gayam = Gatep. Maka ada nama desa Pĕgatepan yang artinya sama dengan Pĕgayaman — dalam bahasa Latin: Inocarpus eduis Teorst. Daftar nama desa-desa berasal dari nama kawasan dengan penanda tumbuhan atau tanaman di Bali bisa diperpanjang, tinggal dicari di pelosok-pelosok Bali. Bisa menjadi daftar panjang toponimi dari tumbuh-tumbuhan yang menjadi penanda lokasi atau wilayah.

Kembali ke Padang Galak dan Padang Sanur, sesungguhnya cukup banyak nama rumput atau padang dalam lontar-lontar Bali tercatat, tapi tidak lagi dikenal oleh masyarakat Bali sendiri. Jenis rumput atau padang yang disebutkan dalam Krtabhasa sebagai berikut: dukut lambarang = padang blulang // dukut kidĕm = padang lĕpas // dukut luruḥ = paḍang ngalya // dukut gyang gyang = padang mrak // trĕṇa tĕtĕl = padang / pijĕr // trĕṇa bangkak = padang gowak // trana pring = padang tihing //. Padang dan dukut itu sama. Karena itu ada nama kegiatan “medukut” dalam tradisi subak dan abian, yaitu kegiatan menyiangi atau mencabut rumput yang tumbuh di antara padi di sawah.Kita menemukan nama-nama wilayah di Bali bernama Padang, seperti: Padang Sambian, Padang Subdra, Padang Luwih, Padang Kerta dll. Nama-mana ini sinonimnya ada dalam Dasanama dan Krtabhasa.

Selain Cocokologi nama Sanur dan Lempuyang, tulisan ini saya tutup dengan Cocokologi asal-usul nama Lumintang di Denpasar, yang konon bernama Lumintang karena ada orang Sulawesi Utara bermarga Lumintang tinggal di kawasan itu, lalu diberilah nama kawasan pusat pemerintahan dan taman kota itu jadi nama Lumintang(!). Ada yang menyebutkan demikian. Sungguh sebuah dagelan. Bahwa benar ada nama keluarga Lumintang di Minahasa, tapi nama Pura Lumintang, Adat Lumintang dan kawasan Lumintang, sejarah tempat atau toponiminya tidak ada hubungan dengan keluarga Minahasa Lumintang.

Lumintang (sebelumnya dalam penyebutan masyarakat lokal bernama Lemintang) diperkirakan berasal dari nama tumbuhan. Nama ini telah disebut jauh-jauh sebelum kota Denpasar modern didirikan. Disebutkan dalam Babad Arya Tabanan: “Tidak diceritakan berapa lama Sang Arya Ktut Notor Wandira berada di rumah, beliau pergi bersama anak istrinya dan Ki Tambyak, menuju negara Badung, menumpang di rumah De Buyut Lumintang. Keesokan harinya perjalanan Sang Arya Ktut Pucangan dilanjutkan bersama pengikutnya serta ditemani oleh De Buyut Lumintang.” Nama De Buyut Lumintang kemungkinan adalah nama orang yang berkuasa atau dituakan di Lumintang. Lemintang atau lumintang juga disebutkan dalam Babad Mpu Bekung, Babad Pinatih, Babad Wangbang, menyebutkan bahwa “Lemintang, ne magenah ring Desa Ayunan Manguwi”; “I Lemintang magenah ring Asah Wani Desa Sepang”; “Arya Lemintang, magenah ring Ayunan, Manguwi”. Lemintang atau Lumintang disamakan dalam pengucapan orang Bali.

Ada yang menyebutkan dari kembang Lintang atau kembang Bintang — nama ilmiahnya Laurentina Longiflora ini juga dikenal dengan nama Bintang Lima atau Kembang Jangar. Orang kerap menyebut kitolod sebagai kitolot atau bunga katarak, dari dahulu diketahui mempunyai khasiat yang luar biasa untuk mengobati berbagai penyakit mata, seperti silinder, katarak, rabun jauh, rabun dekat, mata minus, plus, nyeri dan perih pada mata.  Dalam bahasa Jawa Kuno dan Bali kata “Lintang” dan “Bintang” berarti sama. Dalam bahasa Bali kita kenal sisipan “um”, dan jika “Lintang” disisipi sisipan “um” menjadi “Lumintang”. Demikian sebuah versi toponimi wilayah Lumintang.

Saya sendiri mempercayai Lumintang itu muasalnya Lemintang, yang secara toponimi berasal dari nama jenis pohon mangga yang langka yang identik dengan nama Lemintang. Sebuah cerita rakyat tentang pohon keramat di desa Ayunan, kecamatan Abiansemal, kabupaten Badung, menceritakan ada pohon keramat di Pura Dalem Lemintang. Pohon itu tidak lain adalah pohon Mangga Gading atau Poh Gading. Poh Gading itulah yang sekiranya dimaksud sebagai pohon Lemintang. Jenis mangga ini bukan hanya buahnya yang istimewa berwarna gading, tapi “babakan” atau kulitnya berguna untuk usada, dipercaya memberi kesembuhan. Jika ada warga desa Ayunan atau desa lain datang meminta babakan atau irisan kulit batang mangga Gading ini, terlebih dahulu harus seijin pemangku setempat. Konon babakan Pohgading ini dijadikan boreh atau ramuan untuk dibalurkan di tubuh orang yang sakit. Sementara itu, di sebelah wilayah Lumintang di Denpasar, terdapat sebuah kawasan yang sekarang dikenal sebagai Desa Pakraman Pohgading yang membawahi 12 banjar yang bentangnya sangat luas — ini bisa menjadi penanda kemungkinan Lemintang sama dengan Pohgading. Bisa jadi dahulu Pohgading dan Lumintang sebuah kesatuan wilayah. Dimasa lalu pemisahan atau pemekaran wilayah sering terjadi. Bisa jadi pemisahan wilayah di masa silam yang membuat nama yang dipilih adalah padanan “dasanama” Lemintang yang tak lain adalah Pohgading.

Toponimi Sanur, Lempuyang, Lemintang, atau wilayah lainnya, selalu terbuka untuk direkonfirmasi melalui jejak ingatan dan sejarah lisan. Masih terbuka jika kita membuka catatan tua yang terkait dengannya. Mengatakan Sanur dari “Sa” dan “Nur” serapan bahasa Arab, sungguh memancing pertanyaan besar. Sama halnya mengatakan bahwa nama Lumintang yang dikaitkan dengan keluarga bermarga Lumintang yang tinggal di kawasan adalah Cocokologi yang menarik sebagai “gegonjakan” atau kelakar, tidak bisa ditelan begitu saja sebagai “sumber toponimi”. Teringat petuah tetua, untuk memahami toponimi wilayah di Bali, sebaiknya dengan pedoman Krtabhasa dan Dasanama. Harus “tebal secara literasi” dengan melakukan pengecekan pada berbagai sumber tertulis terdahulu. Ini rasanya bisa menyelamatkan kita dari Cocokologi yang menyesatkan dan juga memalukan.

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tibet, Poliandri dan Pandemi

Next Post

Memaknai Galungan

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Memaknai Galungan

Memaknai Galungan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co