22 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Galungan di Nusa Penida, Ceritamu Dulu: Tren TKW dan Dagelan “Nyen Kal Ganti”

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
January 6, 2023
in Esai, Pilihan Editor
Galungan di Nusa Penida, Ceritamu Dulu: Tren TKW dan Dagelan “Nyen Kal Ganti”

Eks Pelabuhan Sanur: tempat penyeberangan ke Nusa Penida. Kini Sudah Tak Melayani Penyeberangan Penumpang Lagi

MESKI BERULANG-ULANG, perayaan hari raya Galungan di kampung saya dulu (tahun 90-an, Nusa Penida, Bali) tetap dirasakan greget. Greget-nya tampak dari tiga hari, dua hari, dan sehari sebelum Hari Raya Galungan. Selama 3 hari itulah denyutGalungan terasa, yang ditandai dengan arus mudik yang tak biasa dari Bali seberang. Para pemudik datang dari Pelabuhan Sanur ke Pelabuhan Dermaga Banjar Nyuh-NP, dengan jukung bermesin yang overload danstandar safety yang minim,demi merayakan Galungan di kampung halaman bersama keluarga.

Selama 3 hari menjelang Galungan, Dermaga Banjar Nyuh (DBY) bisa kedatangan jukung lebih dari 4-5 perharinya (normalnya, 1 jukung perhari). Jumlah penumpangnya pun tidak main-main. Jika kapasitas normalnya berkisar 80-90, maka menjelang Galungan bisa mencapai 120 lebih. Para penumpang yang rindu kampung halaman itu duduk seperti be pindang mulai dari belakang dekat mesin jukung , dalam bodi jukung, ujung depan hingga di atas atap jukung.

Situasi overload ini diperparah oleh barang bawaan penumpang yang tergeletak serampangan. Namun demikian, tidak menyurutkan beberapa penumpang (yang perokok) menyemburkan asap rokoknya secara sporadis. Asapnya meluber ke hidung-hidung penumpang lainnya bersama parfum, bau ayam, bau bebek dan bau-bau lainnya.

Namun, kondisi tak nyaman itu tidak membuat para pemudik kapok. Mereka tetap saja berniat besar untuk pulkam setiap menjelang Galungan. Tidak peduli apapun proses yang harus dilewati. Karena itu, menjelang hari raya Galungan, Pelabuhan DBY selalu kebanjiran orang (pemudik Galungan).

Situasi yang tak biasa tersebut sekaligus menjadi kesempatan bagi persatuan ojek di DBY. Ketika jukung mendarat, puluhan tukang ojek langsung menyerbu penumpang dengan rayuan mautnya. Tawar-menawar harga liar dimulai. Biasanya, tak butuh waktu lama. Negosiasi segera disepakati. Si tukang ojek langsung mengambil tangan sang penumpang yang cantik beserta barang bawaannya. Spontan sorak-sorai masyarakat memecah keramaian pelabuhan.

Di samping tukang ojek, ada sekelompok masyarakat biasa yang iseng cuci mata. Para pencuci mata itu kebanyakan dari kalangan pemuda. Mereka ikut berbaur hanya untuk bersorak-sorai dan menonton pemudik cantik, seksi, montok yang berdandan ala anak metropolitan.

Zaman itu, ojek menjadi satu-satunya alternatif tranportasi darat yang efektif dan digemari masyarakat. Sepeda motor dapat mengantar penumpang hingga depan rumah, walaupun melewati jalan setapak nan terjal. Karena itu, pilihan motor yang digunakan biasanya RX Special, RX King dan GL Pro.

Ketiga motor tangguh ini berderu di atas jalan beraspal kasar dan sempit. Tampak wajah-wajah tukang ojek ceria membonceng pemudik metropolis yang berbusana pendek dan ketat, dengan parfum sedikit menyengat, kulit halus mengkilap, kaki mulus serta rambut terurai ditiup angin.

Jalanan mendadak menggeliat. Para tukang ojek mengangkut pemudik modis secara sambung-menyambung. Mirip pesta arak-arakan. Membuat siapa pun yang melihat spontan melototkan mata, walau hanya sekejap.

Maklum, lari motor si tukang ojek tidak ada yang pelan. Mereka mengendarai motornya dengan sekencang mungkin agar mendapatkan penumpang di pelabuhan lagi. Semakin cepat, maka berpeluang besar untuk mengangkut penumpang lebih banyak. Peluang ini sangat dimaksimalkan oleh tukang ojek, sebab masih jarang orang memiliki sepeda motor pribadi. Hanya sedikit orang yang memiliki sepeda motor dan dimanfaatkan untuk ngojek guna meraup rezeki menjelang hari raya Galungan.

Tren Menjadi TKW

Jika diamati lebih detail, para pemudik itu didominasi oleh kaum perempuan. Usianya masih belia, sekitar 13-18 tahunan. Umumnya, mereka bekerja sebagai TKW di Pulau Bali. Mereka mendapat izin pulang, merayakan hari raya Galungan bersama keluarga setiap enam bulan kalender Bali.  

Akhir tahun 80-an dan sepanjang tahun 90-an, bekerja sebagai TKW seolah-olah menjadi tren. Kebanyakan perempuan-perempuan belia (waktu itu) hanya kuat bersekolah pada tingkat SD. Tamat dari SD, mereka berlomba-lomba bekerja menjadi TKW di kota-kota, Bali seberang (Denpasar, Badung, Gianyar).

Bahkan, yang tidak sabar, beberapa langsung berhenti sekolah. Ada yang berhenti waktu  kelas 5 atau kelas 6 SD. Mereka ikut-ikutan mengadu nasib menjadi TKW di Bali seberang, termasuk saudara sepupu saya. Dari 8 saudara sepupu saya, hanya satu yang mampu menamatkan diri dari bangku SD. Sisanya, adalah putus sekolah. Semuanya pernah menjadi TKW di Bali daratan.

Zaman itu, kesadaran akan pendidikan tinggi memang masih kurang di kampung saya dan beberapa desa lainnya. Pendidikan dianggap sebagai pemborosan dan tidak menghasilkan uang. Maklum, ekonomi masyarakat kala itu masih rendah.

Per tahun 2011 saja, Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan, KB dan Pemerintahan Desa Kabupaten Klungkung mencatat bahwa angka kemiskinan terbesar di Klungkung disumbangkan oleh Kecamatan NP yang mencapai 48,8 % (hampir 50 persen). Sementara Klungkung 13,14 %, Banjarangkan 11,98 dan Dawan 11,38 %. (https://media.neliti.com/media/publications/44256-ID-profil-penduduk-miskin-didesa-desa-pesisir-nusa-penida-kabupaten-klungkung.pdf).

Di samping karena faktor geografis, kondisi kemiskinan dulu juga dipicu oleh jumlah anggota keluarga. Setiap KK, rata-rata harus menghidupi lebih dari 4 anak. Dengan melepaskan anak sebagai TKW, bisa jadi sangat membantu meringankan beban ortu waktu itu. Karena itulah, beberapa anak laki-laki juga ikut-ikutan menjadi tenaga kerja. Lapangan pekerjaan yang sempit di kampung, beban hidup ortu yang berat, membuat mereka harus hengkang ke kota seberang.

Begitulah dulu. Zaman ketika partai Golkar menjadi superior, sedangkan PPP dan PDI hanya menjadi pesaing hiburan. Zaman ketika gedung SD Inpres sudah berjamuran di desa saya. Sayangnya, kesadaran pendidikan warga masih belum terbangun optimal.

Pendidikan tinggi masih dipandang remeh oleh masyarakat. Hal ini dapat dibuktikan dari dagelan-dagelan obrolan masyarakat dalam kesehariannya sebagai berikut: “Ngudiang sekolah tegeh-tegeh. Nyen kal ganti? Presiden nu hidup. Menteri nu seger.” (Ngapain sekolah tinggi-tinggi. Siapa mau diganti? Presiden masih hidup. Menteri masih sehat).

Itulah dagel-dagelan yang berkembang kuat.di kampung saya. Zaman ketika Soeharto dan Harmoko menjadi penguasa tv. Presiden dan menteri penerangan (tak tergantikan) masa orba ini hampir tidak pernah absen dari TVRI. Apakah dagelan ini sebuah otokritik terhadap Soeharto yang tak tergantikan sepanjang orba? Atau jangan-jangan dagelan itu sangat politis hendak mengukuhkan Soeharto sebagai presiden seumur hidup? Entahlah.

Yang jelas, efek dagelan itulah yang mungkin membentuk mind set masyarakat menyekolahkan anaknya cukup di tingkat SD saja. Masyarakat menilai bahwa pendidikan terbatas pada pembebasan diri dari kasus buta huruf. Yang penting anak-anak memiliki kemampuan membaca huruf, menulis huruf dan menghitung dasar. Modal ini sudah dirasakan cukup.

Karena itu, tamat SD, mereka diarahkan untuk bekerja di Bali seberang. Kondisi ini (secara tak sadar) menyebabkan siswa tidak memiliki visi pendidikan. Cukup sampai SD. Yang penting sudah bisa baca, tulis dan menghitung. Selanjutnya, mereka siap bekerja di kota-kota Bali seberang.

Setelah bekerja di kota, setiap 6 bulan, mereka diberikan kesempatan pulang ke kampung halaman, NP. Kelompok inilah yang paling mendominasi arus mudik menjelang Galungan di pelabuhan DBY. Sisanya ialah dari kalangan pedagang, pelajar, mahasiswa dan pekerja profesional lainnya. Namun, kelompok pekerja usia sekolah inilah yang menggetarkan denyut perayaan Galungan di NP—termasuk pasca Galungan.

Satu hari setelah Galungan, kelompok pekerja usia sekolah ini nongkrong (bertemu) di satu titik lokasi, Dermaga Banjar Nyuh. Mereka menikmati deburan ombak, langit, dan laut di atas DBY sambil cuci mata, mencari kenalan bahkan memadu asmara. Di samping itu, ada pula masyarakat umum, para orang tua dan anak-anak dengan baju barunya.

Manis Galungan terasa begitu meriah. Sepanjang dermaga dipadati orang dari berbagai desa di NP. Mungkin inilah momen yang paling besar bagi para pekerja usia sekolah untuk mencari kenalan dan menjalin asmara. Karena esoknya, mereka harus balik. Kembali bekerja dengan kesibukan masing-masing sebagai tenaga kerja di Bali seberang.

Tren menjadi tenaga kerja usia sekolah ini pelan-pelan mulai berkurang ketika budidaya rumput laut berkembang di NP. Setidak-setidaknya, anak-anak dapat menamatkan diri dari SMP dan SMA. Seiring peningkatan penghasilan rumput laut, kesadaran bersekolah ikut terbangun. Generasi remaja tahun 90-an, bertani rumput laut sambil membiayai sekolahnya sendiri.

Kesetaraan gender mulai tampak. Awalnya, hanya kaum laki-laki yang diprioritaskan mengenyam pendidikan tinggi. Sedangkan, kaum perempuan tetap diarahkan bekerja menjadi TKW. Akan tetapi, seiring dinamika, kaum perempuan juga ikut mengenyam pendidikan hingga menengah ke atas. Hingga memasuki tahun 2000-an, pendidikan kaum perempuan dan laki-laki kian mendapatkan kesetaraan.

Generasi pekerja usia sekolah ini kian tenggelam. Mereka memasuki fase berkeluarga dan taat dengan program KB. Generasi yang lahir kian mendapatkan kesetaraan gender, termasuk dalam hal pendidikan.

Zaman kesetaraan itu pula yang menutup lemba-lembar kemeriahan perayaan Galungan ala dulu di NP. Tak ada lagi cerita jukung overload dan deru suara RX Spesial, RX King dan GL Pro. Tak ada lagi anak-anak berkumpul, bermain dan menggenakan baju baru. Tak ada lagi cerita nasi beras yang istimewa. Tak ada lagi titik kerumunan massa secara massif sebagai ikon kemeriahan Galungan.  

Sudah tak ada lagi sekarang! Kini greget perayaan Galungan sudah bergeser. Bergeser ke dalam kemeriahan status di dunia gadget. Orang-orang lebih senang merayakan Galungan sendiri-sendiri. Anak-anak, remaja dan termasuk orang tua sangat menikmati kemeriahan perayaan Galungan lewat gadgetnya masing-masing di rumah.[T]

[][][]

BACA artikel-artikel menarik tentang Nusa Penida dari penulis KETUT SERAWAN

Tradisi “Niwakang” di Nusa Penida, Bonus Laut dan Perspektif Global
Membedah Riwayat Nama “Batu” di Nusa Penida
Klumpu, “Banjar Dokter” di Nusa Penida
Tags: balihari raya galunganNusa Penidatenaga kerja wanita
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nama Desa Dapdap Putih Diresmikan — Ini Tentang Pohon Dapdap Berbunga Putih

Next Post

Sekeha Teruna Udyana, Taman Kelod, Ubud, Merayakan HUT dengan Tidak Biasa-Biasa Saja

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails

‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

by Pande Susan
June 18, 2026
0
‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku...

Read moreDetails

Mendengarkan Hidup Saya dari Mulut Orang Lain

by Angga Wijaya
June 18, 2026
0
Mendengarkan Hidup Saya dari Mulut Orang Lain

TIGAminggu lalu saya mendengarkan tunangan saya diwawancarai. Kalimat itu terdengar aneh. Biasanya sayalah yang mewawancarai orang. Sejak menjadi wartawan, entah...

Read moreDetails
Next Post
Sekeha Teruna Udyana, Taman Kelod, Ubud, Merayakan HUT dengan Tidak Biasa-Biasa Saja

Sekeha Teruna Udyana, Taman Kelod, Ubud, Merayakan HUT dengan Tidak Biasa-Biasa Saja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026
Lubang | Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

by Asmaran Dani
June 21, 2026
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi
Puisi

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

by Mahesa Putra
June 21, 2026
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045
Esai

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
Esai

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

by Made Chandra
June 21, 2026
“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total
Panggung

“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total

SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi
Ulas Musik

’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia...

by Ahmad Sihabudin
June 21, 2026
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   
Esai

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!
Khas

Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

 “Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama,...

by Dede Putra Wiguna
June 21, 2026
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital
Esai

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

by Angga Wijaya
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co