2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membedah Riwayat Nama “Batu” di Nusa Penida

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
May 11, 2022
in Esai
Membedah Riwayat Nama “Batu” di Nusa Penida

Sapi, ladang, dan bataran ladang di Nusa Penida | Foto: I Ketut Serawan

Nama “batu” bertebaran di beberapa wilayah Nusa Penida (NP). Kata batu dilekatkan dengan variasi kata lainnya sebagai nama desa, dusun, banjar dan tempat tertentu dalam teritorial banjar. Kita mulai dari wilayah timur, Desa Suana, ada nama Banjar Jurang Batu. Bergeser ke barat sedikit, kita berjumpa Desa Batununggul yang membawahi Banjar Batumulapan. Kemudian, di seberang barat agak utara, ada Desa Jungut Batu. Naik ke selatan, kita bertemu Desa Batumadeg—yang tak jauh dengan Desa Batukandik. Adakah nama-nama batu tersebut terinspirasi dari geografi NP yang dominan berbatu kapur?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, ada baiknya kita melihat ke masa lampau tentang nama “Gurun” yang pernah disematkan kepada kepulauan NP dalam prasasti batu yang ditemukan di Desa Blanjong (Sanur) 913 M (Sidemen, 1984). Pemilihan nama gurun ini mungkin berkonotasi dengan kondisi geografi NP yang berbatu kapur, kering, tandus, berdebu dan panas.

Kesan kuat berbatu kapur juga pernah dituliskan sejarawan Sidemen setelah membaca referensi H.N. van der Tuuk, Kawi Balineesch Nederlandsch Woordenboek, vol.IV. (Batavia: Landsdrukkerij, 1912; p.19). Sidemen memaparkan bahwa nama Nusa Penida sangat tepat karena “Penida” bermakna kapur tohor (pamor bubuk).

Apa yang dideskripsikan oleh sejarawan tentang NP tentu tidak berlebihan. Ya, karena realitanya struktur permukaan bumi (geografi) Pulau NP memang dominan berbatu kapur. Hampir semua gigir pulau dikelilingi karang raksasa jenis batu kapur (kecuali belahan bagian utara). Batu karang ini berjejer rapat mengikuti lekuk tubuh pulau. Seolah-olah menjadi fondasi pulau dan sekaligus benteng pertahanan. Benteng pertahanan dari “gempuran harian” ombak dan gerusan air laut.

Konon, pembentengan diri ini juga berdampak terhadap Pulau Bali di seberang. Dulu, waktu SMA, saya pernah membaca pada salah media cetak (Koran di Bali) yang menyebutkan bahwa Pulau NP dianggap sebagai semacam breakwater (pemecah gelombang) alami—untuk melindungi beberapa bagian daratan Pulau Bali (di sebelah utara NP) dari kasus pengikisan, abrasi dan sejenisnya.  Peran benteng alami inilah mungkin yang menyebabkan fondasi Pulau NP berbatu kapur.

Ladang, pohon dan bataran ladang di Nusa Penida | Foto: I Ketut Serawan

Bukan hanya pada gigir pulau, tanah perbukitan pulau NP juga didominasi oleh batu kapur. Bahkan, dominasi batu kapur juga terlihat pada hampir semua permukaan tanah pulau. Paling simpel melihatnya ialah pada tegalan atau ladang-ladang para warga yang produktif. Lapisan tanahnya tipis. Sisanya, lapisan batur kapur.

Karena itu, jangan heran jika melihat petak ladang warga dibatasi oleh bataran-bataran batu. Semua bataran itu menggunakan jenis batu kapur. Bataran ladang yang artistik tersebut berasal dari batu kapur besar. Sebelum dijadikan bataran ladang, batu besar dibelah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Kemudian, pecahan kecil itu ditata (ditumpuk-tumpuk) setinggi bidang datar tanah dan memanjang mengikuti lekuk bidang datar tanah ladang.

Dalam proses “mataran” ladang, sama sekali tidak menggunakan luluh. Para petani murni menggunakan skill menumpuk dengan memperhatikan kesesusaian permukaan batu satu dengan batu lainnya. Jika tidak memiliki skill menumpuk, dipastikan bangunan bataran ladang akan ambruk dan berserakan.

Bataran ladang tidak hanya menjadi pembatas milik, juga berfungsi untuk menahan tanah dari gerusan embah saat hujan. Permukaan tanah tipis sangat riskan terseret air hujan. Jika hujan turun seharian, maka dipastikan tanah-tanah akan berlarian mengikuti arah air bah. Permukaan tanah menjadi menipis. Bahkan, lebih parah lagi, muncul batu-batu besar di permukaan ladang.

Di Nusa Penida, Ada Pohon Berbuah Lem

Dominasi batu kapur di NP memunculkan beberapa istilah khusus tentang batu. Di kampung saya, dikenal istilah batu lempeh (batu kapur yang permukaannya pipih), batu dogong (batu kapur besar seperti onggok duduk/ berdiri), batu gamongan (batu kapur yang mudah rapuh dan mengandung banyak pamor/ kapur), batu lintang (batu kapur yang strukturnya sangat keras), batu parangan (batu kapur yang artistik, biasanya menyerupai sosok tertentu) dan lain sebagainya.

Tidak hanya memunculkan lema khusus, kedekatan terhadap eksistensi batu kapur juga menjadi inspirasi dalam penamaan. Selain disebutkan sebelumnya, nama-nama tempat dengan kata batu cukup banyak di NP. Misalnya, Batu Medau di wilayah Desa Suana, Batu Majuh (Banjar Batumulapan), Batu Gaing (Desa Bunga Mekar), Batu Guling (Desa Batukandik), Batu Megong (Desa Batukandik) dan lain sebagainya.

Belum lagi, nama-nama “karang”. Karang dalam bahasa Bali berarti batu. Nama tempat yang menggunakan kata “karang” cukup banyak di NP. Misalnya, Karang Ampel, Karang Anco, Dusun/ Banjar Karangsari (Desa Suana), Dusun/ Banjar Karang (Desa Pejukutan), Dusun Karangdawa (Desa Bunga Mekar) dan lain sebagainya.

Inspirasi Batu

Penggunaan kata “batu” atau “karang” sebagai nama tempat di NP tentu bukan berangkat dari halusinasi yang kosong. Batu merupakan realitas sehari-hari yang akrab dalam lingkungan masyarakat NP.

Sebagai realita lingkungan, batu kapur dapat dijadikan sumber inspirasi dalam berbagai kepentingan. Salah satunya sebagai kepentingan penamaan sebuah tempat. Dalam hal tertentu, penamaan kadang-kadang diambil dari unsur lingkungan alam sekitarnya—yang dianggap dominan, unik, dan mereprensentasikan suatu tempat. Misalnya, nama Sebunibus, nama desa adat kampung saya.

Menurut tetua saya, nama itu diambil dari nama pohon yang bernama “ibus”. Konon, dulu pohon jenis ini tumbuh banyak di wilayah Sebunibus. Katanya, sejenis tumbuhan rambat gantung. Namun, saya tidak pernah melihat wujud pohon tersebut. Bisa jadi memang sudah punah. Entah karena faktor apa. Tidak ada yang persis tahu.

Guguran daun, batu kapur dan bataran ladang di Nusa Penida | Foto: I Ketut Serawan

Karena dominan (banyak), maka dipinjamlah nama “sebun” untuk menggambarkan lebih dari satu pohon. Kata “sebun” mewakili kuantitas atau jumlah pohonnya. Jadi, “sebun” itu representasi dari jumlah pohon—sedangkan “ibus” mewakili nama pohon yang (pernah) tumbuh di wilayah atau tempat tersebut. Simpelnya, nama Sebunibus lahir dari dominasi pohon unik yang tumbuh di alam sekitar wilayah tersebut. Sesederhana itukah? Entahlah.

Mungkin saja, ada faktor lain yang juga melatarbelakangi keputusan atas nama Sebunibus itu. Entah keunikan pohonnya, perannya dan atau ada peristiwa (histori) penting yang mengiringinya—seperti nama Batu Megong yang pernah saya baca. Konon, nama Batu Megong terinspirasi dari peristiwa (histori) euforia kemerdekaan (kemenangan) masyarakat NP atas kekalahan raja Nusa (Dalem Sawang) yang zolim oleh Dalem Dukut. Peristiwa ini dirayakan oleh masyarakat dengan memukul-mukul gong sebagai ekspresi “kegembiraan” di suatu tempat. Tempat yang dimaksud ialah daerah Batu Megong.

Nama Batu diambil dari lingkungan alam sekitar, sedangkan Megong diambil dari peristiwa atau momentum penting yang terjadi di sekitar tempat tersebut. Nama Batu Megong berasal dari detail item yaitu batu (alam sekitar), gong (alat musik tradisional), megong (tindakan/ laku), merayakan (laku) dan kemenangan (hasil). Jadi, nama Batu Megong dapat dibaca sebagai representasi kolaborasi antara unsur lingkungan alam nyata dan momentum penting yang terjadi di tempat itu.

Pemberian nama batu atau karang merupakan hal yang kontekstual. Cocok dengan lingkungan alam sekitar di NP. Saya yakin bahwa nama-nama batu lainnya tidak lepas dari lingkungan alam. Pun nama-nama yang ada embel-embel karang. Setidak-tidaknya, nama batu/ karang yang melekat pada nama suatu tempat memiliki kedekatan dengan lingkungan alam sekitar. Citraan nama inilah yang menyebabkan kesan identik atau ikonik menjadi lebih kuat.

Mengapa harus batu atau karang? Tidakkah diksi ini hendak menajamkan kesan gersang dan tandus dari geografi NP? Jika benar demikian, berarti bertolak belakang dengan prinsip “nama sebagai doa dan harapan”. Artinya, diksi batu menjadi kurang tepat, bukan? Eiits.., tunggu dulu!

Kesan yang ditimbulkan dari kata batu memang kurang positif. Kering kerontang, minim pangan dan lain-lainnya. Lalu, bagaimana dengan orang-orang yang bertahan hidup di lingkungan daerah itu? Strategi hidup apa yang digunakan orang NP agar dapat survive dengan modal keterbatasan daya dukung alam tersebut?

Jawabannya ialah modal fondasi karakter yang kuat. Hidup dalam lingkungan alam yang terbatas membutuhkan karakter sekeras batu. Dibutuhkan usaha hidup yang keras, tekad keras, kegigihan dan kerja keras. Tanpa fondasi karakter yang keras (baca:kuat), maka “bangunan hidup” akan menjadi runtuh.

Karena itu, wajar batu dimanfaatkan sebagai fondasi utama sebuah bangunan. Karakter kerasnya menyebabkan batu menjadi andalan penopang struktur bangunan. Batu mampu bertahan walaupun ditindih oleh berbagai material lainnya. Pada zaman lampau (prasejarah), peran batu lebih urgen lagi. Batu menjadi peralatan kehidupan sehari-hari oleh manusia pada zaman batu. Atas ketahanan dan kekuatannya, batu juga digunakan sebagai media prasasti (dokumen sejarah) dan prasarana untuk menyalurkan hasrat menyembah (ber-kepercayaan-an).

Jadi, nama-nama batu  (di NP) sesungguhnya hendak mengabadikan beberapa spirit penting. Pertama, spirit kesadaran. Tetua kita dulu hendak menyadarkan bahwa lingkungan alam Nusa terbatas—berbatu kapur, gersang, tandus dan minim air.

Kedua, spirit survive. Seperti apapun kondisi alamnya, hidup wajib dipertahankan. Hak untuk hidup tidak bisa ditawar-tawar lagi. Mutlak! Ketiga, spirit hidup keras. Berada pada posisi antara keterbatasan SDA dan pilihan hidup, maka harus diimbangi oleh SDM yang berspirit hidup keras. Dibutuhkan kreativitas, usaha keras, ketekunan, keuletan, dan kegigihan yang ekstra.

“Teror Dagang Punggalan”, Cerita Pada Suatu Masa di Nusa Penida

Spirit hidup keras ini menjadikan orang NP terlatih menjalani hidup sulit. Batu kapur tak ubahnya seperti sekolah atau kampus alam. Ia menempa, mendidik, melatih dan menciptakan karakter hidup yang keras—sekeras batu. Jadi, tidak mengherankan jika rata-rata orang NP (dulu) memiliki pribadi ulet, kuat dan  tangguh. Karena itu, konon beberapa lulusan kampus “batu kapur” sukses di negeri rantauan (misalnya, daerah transmigran)—daerah yang daya dukung alamnya sangat memadai.

Jadi, tidak ada yang kebetulan ketika nama-nama batu bertebaran di wilayah NP. Nama-nama itu mengandung doa dan ekspektasi (positif) yang abadi. Pada nama-nama batu itu, kita selalu diingatkan untuk menjadi orang yang berkarakter survival, berkarakter fighting dan kompetitif. Saya menyebutnya dengan karakter “ke-batu-an”. Karakter “kebatuan” ini mungkin sudah membudaya secara kolektif pada orang NP dulu.

Bagaimana dengan generasi milenial NP yang sekarang? Apakah karakter “kebatuan” itu masih ada? Saya berharap tetap ada. Sama seperti nama-nama batu yang ada di NP. Semoga suatu saat tidak lenyap atau diganti—sehingga spiritnya tetap abadi. Abadi menjadi alarm bagi generasi NP selanjutnya.[T]

Tags: KlungkungNusa Penida
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pesta Kesenian Bali 2022 Offline | Libatkan 200 Sanggar, 16.150 Seniman

Next Post

Yang Tertangkap Yang Kehilangan | Catatan Singkat dan Foto Esai Tim Publikasi Rajangan Barung

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Yang Tertangkap Yang Kehilangan | Catatan Singkat dan Foto Esai Tim Publikasi Rajangan Barung

Yang Tertangkap Yang Kehilangan | Catatan Singkat dan Foto Esai Tim Publikasi Rajangan Barung

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co