1 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tradisi “Niwakang” di Nusa Penida, Bonus Laut dan Perspektif Global

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
August 8, 2022
in Esai
Tradisi “Niwakang” di Nusa Penida, Bonus Laut dan Perspektif Global

Tradisi Niwakang di Batumulapan. Foto Pande Mardana

Mengarak bade-petulangan merupakan atraksi budaya yang paling menarik dalam prosesi ngaben di Bali. Momen atraksi ini tidak hanya mengundang kerumunan, tetapi seringkali berujung pada penutupan akses jalan umum. Pihak penyelenggara menutup jalan tertentu untuk memberikan keleluasaan beratraksi—dan mungkin sudah dianggap lumrah di Bali. Namun, kondisi ini tidak berlaku di wilayah pesisir Nusa Penida (NP). Masyarakat pesisir NP justru memanfaatkan laut sebagai ruang “ngigelang” bade-petulangan.

Sebut saja wilayah adat Batumulapan, Kutapang dan Suana. Wilayah pesisir ini mengarak bade dan petulangan dengan cara basahan-basahan di tengah laut. Mengapa harus memilih ruang laut? Bukankah wilayah pesisir NP ini memiliki akses jalan utama atau jalan raya? Warga bisa saja menutup jalan sewaktu-waktu untuk melakukan atraksi bade-petulangan ketika ngaben.

Namun, nyatanya beberapa masyarakat pesisir NP lebih memilih laut sebagai ruang atraksi dibandingkan dengan jalan raya. Pilihan laut bukan opsi dadakan apalagi sekadar mencari sensasional. Pilihan laut merupakan pilihan purba. Pilihan leluhur yang diwariskan secara turun-temurun hingga sekarang.

Saking purbanya, kebanyakan masyarakat tidak mau ambil pusing untuk mencari alasan (pembenaran) atas pilihan leluhurnya itu. Mereka hanya bertanggung jawab menjadi pelaku estafet adat untuk menjaga kelangsungan tradisi tersebut. Lalu, apa sebenarnya motif leluhur mereka dulu memilih laut sebagai ruang atraksi ngaben?

Pertanyaan itu pantas dilontarkan. Ya, karena setiap pilihan rasanya tidak pernah absen dari fondasi alasan. Pasti ada sejumlah pertimbangan mendasar dari masyarakat pesisir NP memilih laut sebagai ruang atraksi.

Bagi masyarakat pesisir NP, laut adalah lingkungan alam yang tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan sehari-hari. Laut tidak hanya memberikan penghidupan, sumber ekonomi, tetapi juga ikut mewarnai peradaban pesisir yang khas. Fenomena ini dapat kita jumpai pada sektor kehidupan beberapa warga pesisir NP.

Misalnya, pada sektor budaya. Kekhasan budaya ini terlihat ketika laut dijadikan latar ekspresi. Ekspresi untuk menumpahkan hasrat berbudaya (berkesenian). Momen ini dapat kita saksikan ketika warga menggelar upacara pitra yadnya (ngaben). Tepatnya, ketika mengarak bade dan petulangan.

Para warga mengarak bade dan petulangan di laut. Para tukang tegen (grup yang menggotong) mengarak bade bolak-balik sesuai rute, diringi gamelan penyemangat dari sekaa gong. Sesekali, mereka juga melakukan atraksi memutar bade —layaknya atraksi bade di darat. Rangkaian peristiwa ini disebut dengan istilah niwakang.

Foto: Tradisi Niwakang di Batumulapan. | Foto diambil dari akun facebook Wayan Sukrame

Atraksi bade di laut memiliki beberapa keunikan. Pertama, nihil dari kepulan debu. Ya, namanya saja di air laut. Yang ada hanya kepulan riak-riak air laut. Hasil dari gerakan kaki atau tubuh tukang tegen. Secara fisik, tampaknya lebih sehat mungkin dari atraksi di daratan, yang identik dengan kubangan debu.  

Kedua, mengurangi arogansi tukang tegen. Bagi kalangan tukang tegen, kadang-kadang menggarak bade dijadikan arena memperoleh pengakuan/kesaksian. Kesaksian betapa mereka memiliki tenaga dan stamina yang kuat. Karena itu, seringkali tukang tegen di darat menggarak bade dengan langkah cepat (setengah berlari), “sangar” dan sulit untuk dihentikan. Apalagi ada lebih dari satu bade. 

Tukang tegen satu dengan yang lainnya seolah-olah berkompetisi untuk memperoleh kesaksian menjadi yang terkuat. Karena itu, mereka enggan untuk menghentikan bade yang digotongnya, bahkan ketika suara gong pengiring sudah berhenti. Beberapa tukang tegen tetap aus untuk menggerakkan bade. Teriakan dan jeritan emak-emak yang khawatir sering tak dihiraukan oleh tukang tegen. 

Para tukang tegen berdalih belum puas menggotong bade. Rupanya, kalangan (internal) tukang tegen memiliki standar kepuasan mengarak. Standar kepuasan inilah yang sering luput dipahami oleh masyarakat umum. Karena itu, jangan heran ketika menggotong bade, para tukang tegen ini akan menyalak matanya jika hendak dihadang oleh benda apapun. Hal ini pertanda bahwa “libido” mengarak masih tinggi.  

Perspektif Global Niwakang

Ketika publik mengenal orang pesisir berkarakter keras, maka tidak tampak saat mengarak bade di laut. Justru yang tampak adalah kesabaran, ketekunan dan kepatuhan mereka kepada alam. Pasalnya, waktu mengarak bade di laut tidak bisa ditetapkan sepihak oleh penyelenggara (manusia). Pihak penyelenggara harus berkompromi dengan alam (laut).   

Para warga akan mempelajari “napas” pasang-surut air laut dan termasuk kedalaman. Mereka tunduk atau mengikuti waktu pasang surut air laut. Waktu yang baik ialah saat air laut sedikit surut. Entah pagi, siang, dan sore. Mereka sangat memahami denyut surut itu walaupun tak pernah mempelajari IPA atau klimatologi.  

Mungkin kepatuhan atas gerak alam ini yang menyebabkan warga pesisir NP memiliki sikap toleransi dan penghargaan yang tinggi terhadap lingkungan sekitar. Mereka melakukan aktivitas budaya, tetapi tidak mau melawan atau melanggar kemauan alam. Artinya, hasrat berbudaya berjalan, tetapi tidak merugikan siapapun termasuk alam.

Foto: Tradisi Niwakang di Batumulapan. | Foto diambil dari akun facebook Wayan Sukrame

Jangan-jangan sikap inilah yang ingin dicerminkan tetua warga pesisir NP ketika tidak memilih jalan utama (raya). Karena sekecil apapun, penggunaan akses jalan utama mungkin dianggap menganggu kenyamanan pengguna jalan. Apalagi dalam konteks sekarang. Akses jalan raya hanya ada satu. Seandainya ditutup, maka antrian kendaraan pasti tidak dapat dibendung. Ini jelas merugikan banyak orang.

Bisa jadi persoalan ini sudah menjadi pertimbangan tetua warga pesisir NP zaman dulu. Jika benar, berarti tetua mereka sudah memiliki sikap visioner. Mereka sudah memprediksi hal ini jauh sebelum eksistensi kendaraan menjamur di NP. Para tetua dulu hendak mengekspresikan hasrat berbudaya tetapi tidak menganggu kepentingan warga lain.

Kemungkinan lainnya ialah terkait etika dan keyakinan niskala. Mengarak bade di jalan utama bisa jadi dianggap kurang etis. Terlebih lagi, sudah berisi sawa (tulang manusia). Jika sawa-sawa ini diarak bersama bade di jalan raya, maka akan melintasi sanggah-sanggah warga dan atau pura-pura di sekitarnya. Tentu dirasakan kurang etis. Apalagi, bade di NP umumnya tinggi-tinggi. Rata-rata sampai bertumpang 7. Bisa dibayangkan, bukan? 

Secara niskala, mungkin sawa-sawa ini dianggap belum “bersih” (dianggap masih cemer, kotor). Walaupun tidak sampai masuk ke pekarangan, energi sawa-sawa dengan sanggah warga dan pura di sekitar—tetap dianggap kontradiktif. Mungkin menimbulkan perasaan kurang nyaman. Posisi sawa yang tinggi dianggap sebagai representasi “cemer”, yang bertolak belakang dengan energi suci dari sanggah atau pura.

Karena itu, laut menjadi pilihan merdeka, lepas dari senggolan internal dan eksternal. Warga pesisir dapat berekspresi sangat leluasa dengan latar laut, tanpa beban tekanan dari pihak manapun. Ya, karena mereka tidak menyenggol atau menganggu kenyamanan warga lokal maupun masyarakat umum baik secara skala-niskala.

Dalam konteks inilah tetua warga pesisir sangat cerdas, arif dan bijaksana. Mereka cerdas karena menyadari memiliki “bonus” lingkungan (geografi) yaitu pesisir laut. Ketika ada kepentingan massa (adat) bersinggungan dengan kepentingan lebih umum, maka para tetua pesisir ini menemukan win-win solution yakni memanfaatkan bonus lingkungan laut.

Pilihan win-win solution ini juga didukung oleh keberadaan setra (kuburan) adat. Mereka memiliki tanah (lokasi) setra di pinggir pantai. Tanah setranya berada pada garis terluar daratan. Jadi, berbatasan langsung dengan pasir pantai. Faktor ini pula yang memudahkan kegiatan ngaben terfokus di seputaran pantai dan laut.

Meskipun bade-petulangan diusung di laut, ritual ngaben tetap terpusat pada titik sentral yaitu pamuun (lokasi pembakaran)—sama seperti ngaben di tempat lain. Perbedaannya hanya terletak pada proses niwakang. Di daerah lain (NP), bade, petulangan dan sekaa gong melakukan atraksi di darat (jalan setapak/ jalan raya).

Awalnya. tradisi niwakang didukung oleh banyak warga pesisir NP. Namun, belakangan tradisi ini mulai mengalami minus pendukung. Pasalnya, bonus lingkungan alam (laut) mengalami kerusakan (misalnya, abrasi). Kerusakan ruang laut akan menganggu keleluasaan warga dalam mengekspresikan hasrat budayanya. Hal ini berarti bahwa peristiwa niwakang akan menjadi cermin lokal untuk dunia dalam melihat hubungan manusia dengan alam.

Dari lokal niwakang, kita akan melihat dan mengetahui catatan atau arsip “kesehatan” lingkungan laut secara global. Indikatornya sederhana. Jika ritual niwakang tetap berjalan, berarti lingkungan fisik laut di tempat itu masih dianggap sehat dan ramah. Sebaliknya, jika sampai tradisi niwakang lenyap, maka dunia boleh bersedih. Karena besar kemungkinan, lingkungan laut di area itu sudah tak sehat, tak nyaman dan tak ramah.

Jadi, ada banyak pesan filosofis yang hendak disampaikan dari tradisi niwakang. Mulai dari cermin sikap massa yang rendah hati (tidak arogan), toleransi, sikap mengalah, hingga keleluasaan berekspresi yang tak merampas kebebasan orang lain. Lebih besar itu, tradisi niwakang juga mengandung perspektif global tentang isu lingkungan.

Jangan-jangan tradisi niwakang merupakan tumpukan catatan harian, mingguan, bulanan, tahunan dan abad-antentang kondisi laut. Niwakang mungkin sebagai radar dan corong zaman untuk memantau dinamika “kesehatan” lingkungan laut. [T]

_____

Baca artikel lain tentang Nusa Penida dari penulis Ketut Serawan

Tags: balihindungabenNusa Penida
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari “Kulit Kera Piduka”, Membaca Cerita Rempah dalam Karya Sastra Indonesia dan Teks Tradisional di Bali

Next Post

Jika Hendak Melihat Masa Lalu Kota Singaraja, Kayuhlah Sepeda, Pelan Saja…

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails
Next Post
Jika Hendak Melihat Masa Lalu Kota Singaraja, Kayuhlah Sepeda, Pelan Saja…

Jika Hendak Melihat Masa Lalu Kota Singaraja, Kayuhlah Sepeda, Pelan Saja…

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co