2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tradisi “Niwakang” di Nusa Penida, Bonus Laut dan Perspektif Global

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
August 8, 2022
in Esai
Tradisi “Niwakang” di Nusa Penida, Bonus Laut dan Perspektif Global

Tradisi Niwakang di Batumulapan. Foto Pande Mardana

Mengarak bade-petulangan merupakan atraksi budaya yang paling menarik dalam prosesi ngaben di Bali. Momen atraksi ini tidak hanya mengundang kerumunan, tetapi seringkali berujung pada penutupan akses jalan umum. Pihak penyelenggara menutup jalan tertentu untuk memberikan keleluasaan beratraksi—dan mungkin sudah dianggap lumrah di Bali. Namun, kondisi ini tidak berlaku di wilayah pesisir Nusa Penida (NP). Masyarakat pesisir NP justru memanfaatkan laut sebagai ruang “ngigelang” bade-petulangan.

Sebut saja wilayah adat Batumulapan, Kutapang dan Suana. Wilayah pesisir ini mengarak bade dan petulangan dengan cara basahan-basahan di tengah laut. Mengapa harus memilih ruang laut? Bukankah wilayah pesisir NP ini memiliki akses jalan utama atau jalan raya? Warga bisa saja menutup jalan sewaktu-waktu untuk melakukan atraksi bade-petulangan ketika ngaben.

Namun, nyatanya beberapa masyarakat pesisir NP lebih memilih laut sebagai ruang atraksi dibandingkan dengan jalan raya. Pilihan laut bukan opsi dadakan apalagi sekadar mencari sensasional. Pilihan laut merupakan pilihan purba. Pilihan leluhur yang diwariskan secara turun-temurun hingga sekarang.

Saking purbanya, kebanyakan masyarakat tidak mau ambil pusing untuk mencari alasan (pembenaran) atas pilihan leluhurnya itu. Mereka hanya bertanggung jawab menjadi pelaku estafet adat untuk menjaga kelangsungan tradisi tersebut. Lalu, apa sebenarnya motif leluhur mereka dulu memilih laut sebagai ruang atraksi ngaben?

Pertanyaan itu pantas dilontarkan. Ya, karena setiap pilihan rasanya tidak pernah absen dari fondasi alasan. Pasti ada sejumlah pertimbangan mendasar dari masyarakat pesisir NP memilih laut sebagai ruang atraksi.

Bagi masyarakat pesisir NP, laut adalah lingkungan alam yang tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan sehari-hari. Laut tidak hanya memberikan penghidupan, sumber ekonomi, tetapi juga ikut mewarnai peradaban pesisir yang khas. Fenomena ini dapat kita jumpai pada sektor kehidupan beberapa warga pesisir NP.

Misalnya, pada sektor budaya. Kekhasan budaya ini terlihat ketika laut dijadikan latar ekspresi. Ekspresi untuk menumpahkan hasrat berbudaya (berkesenian). Momen ini dapat kita saksikan ketika warga menggelar upacara pitra yadnya (ngaben). Tepatnya, ketika mengarak bade dan petulangan.

Para warga mengarak bade dan petulangan di laut. Para tukang tegen (grup yang menggotong) mengarak bade bolak-balik sesuai rute, diringi gamelan penyemangat dari sekaa gong. Sesekali, mereka juga melakukan atraksi memutar bade —layaknya atraksi bade di darat. Rangkaian peristiwa ini disebut dengan istilah niwakang.

Foto: Tradisi Niwakang di Batumulapan. | Foto diambil dari akun facebook Wayan Sukrame

Atraksi bade di laut memiliki beberapa keunikan. Pertama, nihil dari kepulan debu. Ya, namanya saja di air laut. Yang ada hanya kepulan riak-riak air laut. Hasil dari gerakan kaki atau tubuh tukang tegen. Secara fisik, tampaknya lebih sehat mungkin dari atraksi di daratan, yang identik dengan kubangan debu.  

Kedua, mengurangi arogansi tukang tegen. Bagi kalangan tukang tegen, kadang-kadang menggarak bade dijadikan arena memperoleh pengakuan/kesaksian. Kesaksian betapa mereka memiliki tenaga dan stamina yang kuat. Karena itu, seringkali tukang tegen di darat menggarak bade dengan langkah cepat (setengah berlari), “sangar” dan sulit untuk dihentikan. Apalagi ada lebih dari satu bade. 

Tukang tegen satu dengan yang lainnya seolah-olah berkompetisi untuk memperoleh kesaksian menjadi yang terkuat. Karena itu, mereka enggan untuk menghentikan bade yang digotongnya, bahkan ketika suara gong pengiring sudah berhenti. Beberapa tukang tegen tetap aus untuk menggerakkan bade. Teriakan dan jeritan emak-emak yang khawatir sering tak dihiraukan oleh tukang tegen. 

Para tukang tegen berdalih belum puas menggotong bade. Rupanya, kalangan (internal) tukang tegen memiliki standar kepuasan mengarak. Standar kepuasan inilah yang sering luput dipahami oleh masyarakat umum. Karena itu, jangan heran ketika menggotong bade, para tukang tegen ini akan menyalak matanya jika hendak dihadang oleh benda apapun. Hal ini pertanda bahwa “libido” mengarak masih tinggi.  

Perspektif Global Niwakang

Ketika publik mengenal orang pesisir berkarakter keras, maka tidak tampak saat mengarak bade di laut. Justru yang tampak adalah kesabaran, ketekunan dan kepatuhan mereka kepada alam. Pasalnya, waktu mengarak bade di laut tidak bisa ditetapkan sepihak oleh penyelenggara (manusia). Pihak penyelenggara harus berkompromi dengan alam (laut).   

Para warga akan mempelajari “napas” pasang-surut air laut dan termasuk kedalaman. Mereka tunduk atau mengikuti waktu pasang surut air laut. Waktu yang baik ialah saat air laut sedikit surut. Entah pagi, siang, dan sore. Mereka sangat memahami denyut surut itu walaupun tak pernah mempelajari IPA atau klimatologi.  

Mungkin kepatuhan atas gerak alam ini yang menyebabkan warga pesisir NP memiliki sikap toleransi dan penghargaan yang tinggi terhadap lingkungan sekitar. Mereka melakukan aktivitas budaya, tetapi tidak mau melawan atau melanggar kemauan alam. Artinya, hasrat berbudaya berjalan, tetapi tidak merugikan siapapun termasuk alam.

Foto: Tradisi Niwakang di Batumulapan. | Foto diambil dari akun facebook Wayan Sukrame

Jangan-jangan sikap inilah yang ingin dicerminkan tetua warga pesisir NP ketika tidak memilih jalan utama (raya). Karena sekecil apapun, penggunaan akses jalan utama mungkin dianggap menganggu kenyamanan pengguna jalan. Apalagi dalam konteks sekarang. Akses jalan raya hanya ada satu. Seandainya ditutup, maka antrian kendaraan pasti tidak dapat dibendung. Ini jelas merugikan banyak orang.

Bisa jadi persoalan ini sudah menjadi pertimbangan tetua warga pesisir NP zaman dulu. Jika benar, berarti tetua mereka sudah memiliki sikap visioner. Mereka sudah memprediksi hal ini jauh sebelum eksistensi kendaraan menjamur di NP. Para tetua dulu hendak mengekspresikan hasrat berbudaya tetapi tidak menganggu kepentingan warga lain.

Kemungkinan lainnya ialah terkait etika dan keyakinan niskala. Mengarak bade di jalan utama bisa jadi dianggap kurang etis. Terlebih lagi, sudah berisi sawa (tulang manusia). Jika sawa-sawa ini diarak bersama bade di jalan raya, maka akan melintasi sanggah-sanggah warga dan atau pura-pura di sekitarnya. Tentu dirasakan kurang etis. Apalagi, bade di NP umumnya tinggi-tinggi. Rata-rata sampai bertumpang 7. Bisa dibayangkan, bukan? 

Secara niskala, mungkin sawa-sawa ini dianggap belum “bersih” (dianggap masih cemer, kotor). Walaupun tidak sampai masuk ke pekarangan, energi sawa-sawa dengan sanggah warga dan pura di sekitar—tetap dianggap kontradiktif. Mungkin menimbulkan perasaan kurang nyaman. Posisi sawa yang tinggi dianggap sebagai representasi “cemer”, yang bertolak belakang dengan energi suci dari sanggah atau pura.

Karena itu, laut menjadi pilihan merdeka, lepas dari senggolan internal dan eksternal. Warga pesisir dapat berekspresi sangat leluasa dengan latar laut, tanpa beban tekanan dari pihak manapun. Ya, karena mereka tidak menyenggol atau menganggu kenyamanan warga lokal maupun masyarakat umum baik secara skala-niskala.

Dalam konteks inilah tetua warga pesisir sangat cerdas, arif dan bijaksana. Mereka cerdas karena menyadari memiliki “bonus” lingkungan (geografi) yaitu pesisir laut. Ketika ada kepentingan massa (adat) bersinggungan dengan kepentingan lebih umum, maka para tetua pesisir ini menemukan win-win solution yakni memanfaatkan bonus lingkungan laut.

Pilihan win-win solution ini juga didukung oleh keberadaan setra (kuburan) adat. Mereka memiliki tanah (lokasi) setra di pinggir pantai. Tanah setranya berada pada garis terluar daratan. Jadi, berbatasan langsung dengan pasir pantai. Faktor ini pula yang memudahkan kegiatan ngaben terfokus di seputaran pantai dan laut.

Meskipun bade-petulangan diusung di laut, ritual ngaben tetap terpusat pada titik sentral yaitu pamuun (lokasi pembakaran)—sama seperti ngaben di tempat lain. Perbedaannya hanya terletak pada proses niwakang. Di daerah lain (NP), bade, petulangan dan sekaa gong melakukan atraksi di darat (jalan setapak/ jalan raya).

Awalnya. tradisi niwakang didukung oleh banyak warga pesisir NP. Namun, belakangan tradisi ini mulai mengalami minus pendukung. Pasalnya, bonus lingkungan alam (laut) mengalami kerusakan (misalnya, abrasi). Kerusakan ruang laut akan menganggu keleluasaan warga dalam mengekspresikan hasrat budayanya. Hal ini berarti bahwa peristiwa niwakang akan menjadi cermin lokal untuk dunia dalam melihat hubungan manusia dengan alam.

Dari lokal niwakang, kita akan melihat dan mengetahui catatan atau arsip “kesehatan” lingkungan laut secara global. Indikatornya sederhana. Jika ritual niwakang tetap berjalan, berarti lingkungan fisik laut di tempat itu masih dianggap sehat dan ramah. Sebaliknya, jika sampai tradisi niwakang lenyap, maka dunia boleh bersedih. Karena besar kemungkinan, lingkungan laut di area itu sudah tak sehat, tak nyaman dan tak ramah.

Jadi, ada banyak pesan filosofis yang hendak disampaikan dari tradisi niwakang. Mulai dari cermin sikap massa yang rendah hati (tidak arogan), toleransi, sikap mengalah, hingga keleluasaan berekspresi yang tak merampas kebebasan orang lain. Lebih besar itu, tradisi niwakang juga mengandung perspektif global tentang isu lingkungan.

Jangan-jangan tradisi niwakang merupakan tumpukan catatan harian, mingguan, bulanan, tahunan dan abad-antentang kondisi laut. Niwakang mungkin sebagai radar dan corong zaman untuk memantau dinamika “kesehatan” lingkungan laut. [T]

_____

Baca artikel lain tentang Nusa Penida dari penulis Ketut Serawan

Tags: balihindungabenNusa Penida
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari “Kulit Kera Piduka”, Membaca Cerita Rempah dalam Karya Sastra Indonesia dan Teks Tradisional di Bali

Next Post

Jika Hendak Melihat Masa Lalu Kota Singaraja, Kayuhlah Sepeda, Pelan Saja…

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails

Seni sebagai Napas Demokrasi: Mengapa Kritik Bukan Ancaman, Melainkan Tanda Kehidupan

by Ahmad Prasetya Hady
July 28, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

“Demokrasi tidak hanya hidup di bilik suara. Ia juga hidup di panggung teater, di dinding mural, dalam bait puisi, dan...

Read moreDetails

Komunikasi Politik dan Krisis Komunikasi Publik Pemimpin

by Chusmeru
July 27, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DINAMIKA komunikasi politik selalu berubah pada setiap rezim. Puluhan tahun silam, para pemimpin dikenal lewat pidato di lapangan terbuka dan...

Read moreDetails

Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

by Agung Sudarsa
July 27, 2026
0
Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

SEBUAH peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Bali kembali mengguncang nurani masyarakat. Bukan semata karena adanya korban jiwa, tetapi...

Read moreDetails
Next Post
Jika Hendak Melihat Masa Lalu Kota Singaraja, Kayuhlah Sepeda, Pelan Saja…

Jika Hendak Melihat Masa Lalu Kota Singaraja, Kayuhlah Sepeda, Pelan Saja…

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

 “Perempuan punya hak atas tubuhnya sendiri!” Kalimat itu meluncur tegas dari Sasti Gotama saat membahas novel Korpus Uterus di Singaraja...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali
Khas

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi
Khas

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi
Khas

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena
Ulas Pentas

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

 “Rumah itu sebenarnya apa?” Pertanyaan itu terus mengemuka sepanjang diskusi buku Rumah karya J.S. Khairen pada hari ketiga Singaraja Literary...

by Dede Putra Wiguna
July 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co