13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyambut Galungan | Bangkitkan Cahaya Dharma dalam Hati

Dewa Gede Arnama by Dewa Gede Arnama
April 9, 2021
in Esai
Menyambut Galungan | Bangkitkan Cahaya Dharma dalam Hati

Foto ilustrasi: Mursal Buyung

Masa yang suram satu tahun ini akibat Pandemi Covid-19 menimbulkan banyak sekali perubahan dalam kehidupan kita. Hal kecilnya saja adalah kita tidak bisa menunjukan ekspresi  ketika melakukan interaksi sesama akibat dari masker yang menutupi senyum manis kita. Apalagi ditambah dengan kaca pelindung wajah, rasanya seperti berada dalam dunia yang lain. Nah, itu semua dilakukan demi keamanan kesehatan kita dalam menjalani aktivitas kehidupan di masa wabah seperti sekarang ini. Banyak sekali dampak yang ditimbulkan di semua bidang kehidupan manusia. Salah satunya adalah kehidupan beragama.

Umat Hindu di Bali tidak dapat terlepas dari penyelenggaraan yadnya. Yadnya berasal dari bahasa Sanskerta yajña, yang terbentuk dari akar kata “yaj” yang berarti memuja, mempersembahkan atau korban suci. Yadnya berarti korban suci yang dilaksanakan dengan rasa tulus ikhlas. Banyak sekali hari raya dan perayaan yang dimiliki oleh umat Hindu, terutamanya adalah Hindu di Bali. Tradisi, Budaya, Ritus Pemujaan, Upacara dan Upakara Bali melekat menjadi satu kesatuan. Salah satu hari raya besar umat Hindu adalah Hari Raya Galungan dan Kuningan.

Galungan diperingati setiap 210 hari di penanggalan kalender Bali yakni pada hari Budha (Rabu) Kliwon Wuku Dunggulan atau wuku ke-11 sedangkan Kuningan jatuh pada sepuluh hari kemudian yakni pada Hari Saniscara (Sabtu) Kliwon Wuku Kuningan, yakni wuku yang ke-12.  Galungan dalam bahasa Jawa Kuna diartikan ‘bertarung’ dan Dunggulan itu berarti ‘menang’ atau ‘kemenangan’. Jika kita lihat dari segi sejarahnya, maka munculnya hari Galungan ini berasal dari suatu mitologi cerita yang menjelaskan bahwa  pada zaman dahulu, pulau Bali dikuasai oleh raksasa sakti dan jahat yang bernama Mayadenawa. Mayadenawa melarang masyarakat Bali untuk melakukan persembahyangan memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Kemudian, Bhatara Indra turun ke dunia untuk bertemu dengan Mayadenawa dan memperingatkan bahwa tindakannya tersebut salah. Disana terjadilah pertempuran hingga Mayadenawa berhasil dikalahkan oleh Bhatara Indra. Oleh karena itu dapat kita ketahui dan simpulkan bahwa hari Galungan adalah peringatan kemenangan Dharma (kebenaran) melawan Adharma (Ketidakbenaran).

Di zaman dahulu sesuai dengan mitologi galungan, penegak dharma (kebenaran) adalah Bhatara Indra yang berhasil mengalahkan Mayadenawa yang merupakan penguasa adharma  (kejahatan, ketidakbenaran). Dalam hal tersebut Bhatara Indra berusaha untuk membebaskan para umat Hindu Bali yang dikuasai oleh raksasa yang melarang adanya pemujaan di pura. Yang dikalahkan adalah ketidakbenaran yang dilakukan oleh raksasa Mayadenawa. Lantas, pada masa dengan peradaban umat manusia yang serba modern seperti sekarang ini, Adharma apa yang patut kita kalahkan? Bagaimana cara kita membela dan menegakkan Dharma?

Kita kembali pada pribadi umat Hindu masing-masing. Pada masa Pandemi  Covid-19 seperti sekarang ini, semua aspek kehidupan kita diberlakukan pembatasan. Mulai dari pekerjaan, pendidikan hingga kegiatan ibadah keagamaan. Kendati demikian, umat Hindu tidak bisa lepas dari adanya hari suci keagamaan beserta upacara dan upakara yang memang wajib untuk dilaksanakan. Walaupun yadnya seperti yang telah saya tuliskan diatas merupakan korban suci yang tulus ikhlas, namun persiapan upacara upakaranya tentu saja memerlukan materi berupa uang. Sarana dalam pembuatan banten tidak semua bisa kita dapatkan gratis di kebun sendiri. Lalu belum tentu semua orang memiliki lahan kebun bukan? Tentu saja banyak bahan ketika membuat banten upakara yang harus dibeli. Apalagi jika ada kalangan umat yang memiliki gengsi tinggi, pastinya akan membuat banten dan sarana upakara yang meriah dan terkesan mewah.

Terganggunya semua bidang kehidupan akibat pandemi covid-19 tentu saja membuat banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaan. Lantas darimana datang pendapatan yang lebih? Kriminalitas meningkat di masa pandemi pastinya sudah kita ketahui bersama. Terakhir saya membaca berita mengenai ternak sapi yang hilang di kebun warga, ada juga mengenai pencurian ayam dan bebek. Itu semua adalah dampak dari minimnya pendapatan seseorang di masa pandemi, sehingga mengambil jalan pintas dengan melakukan kriminalitas. Mirisnya adalah sarana yang didapat dari hasil mencuri digunakan untuk membuat banten. Sebelum pandemi saja setiap menjelang Hari Raya Galungan ada saja yang hilang dicuri. Seperti ambu dan ron (daun pohon aren), busung (daun kelapa) serta sarana banten seperti buah pisang yang ada di perkebunan warga. Nah, dimasa pandemi seperti sekarang pasti tindakan mencuri sarana upacara  dari hasil pertanian di kebun warga akan meningkat.

Tidak ada yang mengatakan bahwa mencuri itu adalah perilaku yang benar. Bahkan mencuri ilmu  pengetahuanpun dianggap salah, apalagi mencuri barang yang nantinya dijadikan sebagai persembahan kepada Tuhan atau hanya sekedar untuk mendapatkan uang, tentunya itu adalah dosa besar. Dengan demikian dapat saya katakan bahwa Adharma pada masa sekarang ini yang harus dikalahkan adalah hawa nafsu dan ego dalam diri kita sebagai umat beragama. Keinginan untuk membuat sarana upakara yang mewah pada masa sulit perlulah ditekan dan dihilangkan. Tuhan tidak pernah memaksa umatnya untuk membuat persembahan banten yang mewah. Rasa yang utama adalah tulus dan ikhlas, yakin pada-Nya serta menyerahkan jiwa dan raga sepenuhnya pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Di masa pandemi ini kita semua merasakan kesulitan yang luar biasa, namun dalam pelaksanaan yadnya alangkah baiknya kita tetap lakukan apa adanya dengan rasa yang tulus ikhlas. Sujud bhakti yang utama tidak terlihat dari seberapa meriah hari raya keagamaan itu dilaksanakan. Tapi dilihat dari bagaimana cara kita memaknai perayaan hari suci dengan perasaan yang bahagia, tulus dan tidak merasakan keluhan keberatan akibat hutang materi. Beryadnya itu jangan sampai berhutang pada saudara kita yang berdagang. Laksanakan yadnya semampu kita, sederhana namun penuh dengan makna.

Setelah setahun diselimuti Pandemi covid-19 ini harapannya adalah agar segera berlalu dan lenyap. Semoga segera terwujud. Covid-19 ini dapat dikatakan sebagai Adharma masa kini yang kedua setelah hawa nafsu dan ego dalam diri kita. Dengan adanya seruan vaksinasi, ibarat secercah cahaya yang akan mengentaskan kegelapan pandemi. Tentunya dengan harapan bahwa vaksinasi ini harus benar-benar efektif mampu membasmi pandemi virus ini agar kehidupan kita dapat kembali normal seperti sediakala.

Selanjutnya mari kita bangkitkan cahaya dharma dalam hati kita sebagai umat Hindu Bali dalam menyambut perayaan hari suci galungan ini. Alangkah baiknya kita rayakan sebagai wujud rasa syukur atas karunia Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang telah memberikan kita kehidupan dan berkenan dalam menciptakan alam semesta beserta isinya. Kita kalahkan rasa ego dan hawa nafsu yang ada dalam diri agar berganti menjadi rasa syukur dan bhakti. Bersyukur masih diberikan kesempatan bernafas dan melaksanakan kehidupan di dunia walau dalam situasi serangan pandemi virus. Sudah sebaiknya kita memohon keselamatan alam beserta isinya, memohon ampun atas segala dosa yang kita perbuat di dunia ini, tak henti-hentinya melakukan introspeksi diri, mulat sarira untuk kehidupan yang lebih baik lagi kedepannya.

Ciri khas hari Raya Galungan adalah dipasangnya penjor pada sebelah kanan pintu keluar pekarangan rumah umat Hindu. Penjor sendiri merupakan simbol dari Naga Basuki dan bisa juga dikatakan sebagai simbol gunung yang memiliki makna kesuburan alam. Pada saat galungan, penjor biasanya dipasang sehari menjelang acara galungan yakni pada saat penampahan. Memasang penjor dalam menyambut hari raya galungan bertujuan sebagai bentuk wujud rasa bhakti dan rasa syukur atas segala berkah dan kemakmuran yang telah diberikan Sang Maha Pencipta.

Akhirnya melalui tulisan ini, saya menyampaikan Selamat Menyambut Hari Raya Galungan dan Kuningan kepada semua umat Hindu dimanapun berada. Semoga kita bisa mengarungi kehidupan di zaman kaliyuga ini dengan baik, diberikan anugrah dan keselamatan  oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Mari kita terangi hati dengan cahaya dharma, kendalikan hawa nafsu yang merupakan adharma dalam diri yang sering menggoda. Tidak lupa juga semoga Pandemi Covid-19 cepat lenyap dari bumi tempat kita tinggal ini. Rahayu. [T]

Tags: hari raya galunganhindupandemi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengkonversi Karya Tulis Ilmiah Menjadi Sebuah Buku

Next Post

Banjir di Singaraja | Ayo Pasang Biopori dan Sumur Resapan

Dewa Gede Arnama

Dewa Gede Arnama

Mahasiswa. Lahir dan tinggal di Desa Awan, Kintamani, Bangli

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Banjir di Singaraja | Ayo Pasang Biopori dan Sumur Resapan

Banjir di Singaraja | Ayo Pasang Biopori dan Sumur Resapan

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co