24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyambut Galungan | Bangkitkan Cahaya Dharma dalam Hati

Dewa Gede Arnama by Dewa Gede Arnama
April 9, 2021
in Esai
Menyambut Galungan | Bangkitkan Cahaya Dharma dalam Hati

Foto ilustrasi: Mursal Buyung

Masa yang suram satu tahun ini akibat Pandemi Covid-19 menimbulkan banyak sekali perubahan dalam kehidupan kita. Hal kecilnya saja adalah kita tidak bisa menunjukan ekspresi  ketika melakukan interaksi sesama akibat dari masker yang menutupi senyum manis kita. Apalagi ditambah dengan kaca pelindung wajah, rasanya seperti berada dalam dunia yang lain. Nah, itu semua dilakukan demi keamanan kesehatan kita dalam menjalani aktivitas kehidupan di masa wabah seperti sekarang ini. Banyak sekali dampak yang ditimbulkan di semua bidang kehidupan manusia. Salah satunya adalah kehidupan beragama.

Umat Hindu di Bali tidak dapat terlepas dari penyelenggaraan yadnya. Yadnya berasal dari bahasa Sanskerta yajña, yang terbentuk dari akar kata “yaj” yang berarti memuja, mempersembahkan atau korban suci. Yadnya berarti korban suci yang dilaksanakan dengan rasa tulus ikhlas. Banyak sekali hari raya dan perayaan yang dimiliki oleh umat Hindu, terutamanya adalah Hindu di Bali. Tradisi, Budaya, Ritus Pemujaan, Upacara dan Upakara Bali melekat menjadi satu kesatuan. Salah satu hari raya besar umat Hindu adalah Hari Raya Galungan dan Kuningan.

Galungan diperingati setiap 210 hari di penanggalan kalender Bali yakni pada hari Budha (Rabu) Kliwon Wuku Dunggulan atau wuku ke-11 sedangkan Kuningan jatuh pada sepuluh hari kemudian yakni pada Hari Saniscara (Sabtu) Kliwon Wuku Kuningan, yakni wuku yang ke-12.  Galungan dalam bahasa Jawa Kuna diartikan ‘bertarung’ dan Dunggulan itu berarti ‘menang’ atau ‘kemenangan’. Jika kita lihat dari segi sejarahnya, maka munculnya hari Galungan ini berasal dari suatu mitologi cerita yang menjelaskan bahwa  pada zaman dahulu, pulau Bali dikuasai oleh raksasa sakti dan jahat yang bernama Mayadenawa. Mayadenawa melarang masyarakat Bali untuk melakukan persembahyangan memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Kemudian, Bhatara Indra turun ke dunia untuk bertemu dengan Mayadenawa dan memperingatkan bahwa tindakannya tersebut salah. Disana terjadilah pertempuran hingga Mayadenawa berhasil dikalahkan oleh Bhatara Indra. Oleh karena itu dapat kita ketahui dan simpulkan bahwa hari Galungan adalah peringatan kemenangan Dharma (kebenaran) melawan Adharma (Ketidakbenaran).

Di zaman dahulu sesuai dengan mitologi galungan, penegak dharma (kebenaran) adalah Bhatara Indra yang berhasil mengalahkan Mayadenawa yang merupakan penguasa adharma  (kejahatan, ketidakbenaran). Dalam hal tersebut Bhatara Indra berusaha untuk membebaskan para umat Hindu Bali yang dikuasai oleh raksasa yang melarang adanya pemujaan di pura. Yang dikalahkan adalah ketidakbenaran yang dilakukan oleh raksasa Mayadenawa. Lantas, pada masa dengan peradaban umat manusia yang serba modern seperti sekarang ini, Adharma apa yang patut kita kalahkan? Bagaimana cara kita membela dan menegakkan Dharma?

Kita kembali pada pribadi umat Hindu masing-masing. Pada masa Pandemi  Covid-19 seperti sekarang ini, semua aspek kehidupan kita diberlakukan pembatasan. Mulai dari pekerjaan, pendidikan hingga kegiatan ibadah keagamaan. Kendati demikian, umat Hindu tidak bisa lepas dari adanya hari suci keagamaan beserta upacara dan upakara yang memang wajib untuk dilaksanakan. Walaupun yadnya seperti yang telah saya tuliskan diatas merupakan korban suci yang tulus ikhlas, namun persiapan upacara upakaranya tentu saja memerlukan materi berupa uang. Sarana dalam pembuatan banten tidak semua bisa kita dapatkan gratis di kebun sendiri. Lalu belum tentu semua orang memiliki lahan kebun bukan? Tentu saja banyak bahan ketika membuat banten upakara yang harus dibeli. Apalagi jika ada kalangan umat yang memiliki gengsi tinggi, pastinya akan membuat banten dan sarana upakara yang meriah dan terkesan mewah.

Terganggunya semua bidang kehidupan akibat pandemi covid-19 tentu saja membuat banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaan. Lantas darimana datang pendapatan yang lebih? Kriminalitas meningkat di masa pandemi pastinya sudah kita ketahui bersama. Terakhir saya membaca berita mengenai ternak sapi yang hilang di kebun warga, ada juga mengenai pencurian ayam dan bebek. Itu semua adalah dampak dari minimnya pendapatan seseorang di masa pandemi, sehingga mengambil jalan pintas dengan melakukan kriminalitas. Mirisnya adalah sarana yang didapat dari hasil mencuri digunakan untuk membuat banten. Sebelum pandemi saja setiap menjelang Hari Raya Galungan ada saja yang hilang dicuri. Seperti ambu dan ron (daun pohon aren), busung (daun kelapa) serta sarana banten seperti buah pisang yang ada di perkebunan warga. Nah, dimasa pandemi seperti sekarang pasti tindakan mencuri sarana upacara  dari hasil pertanian di kebun warga akan meningkat.

Tidak ada yang mengatakan bahwa mencuri itu adalah perilaku yang benar. Bahkan mencuri ilmu  pengetahuanpun dianggap salah, apalagi mencuri barang yang nantinya dijadikan sebagai persembahan kepada Tuhan atau hanya sekedar untuk mendapatkan uang, tentunya itu adalah dosa besar. Dengan demikian dapat saya katakan bahwa Adharma pada masa sekarang ini yang harus dikalahkan adalah hawa nafsu dan ego dalam diri kita sebagai umat beragama. Keinginan untuk membuat sarana upakara yang mewah pada masa sulit perlulah ditekan dan dihilangkan. Tuhan tidak pernah memaksa umatnya untuk membuat persembahan banten yang mewah. Rasa yang utama adalah tulus dan ikhlas, yakin pada-Nya serta menyerahkan jiwa dan raga sepenuhnya pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Di masa pandemi ini kita semua merasakan kesulitan yang luar biasa, namun dalam pelaksanaan yadnya alangkah baiknya kita tetap lakukan apa adanya dengan rasa yang tulus ikhlas. Sujud bhakti yang utama tidak terlihat dari seberapa meriah hari raya keagamaan itu dilaksanakan. Tapi dilihat dari bagaimana cara kita memaknai perayaan hari suci dengan perasaan yang bahagia, tulus dan tidak merasakan keluhan keberatan akibat hutang materi. Beryadnya itu jangan sampai berhutang pada saudara kita yang berdagang. Laksanakan yadnya semampu kita, sederhana namun penuh dengan makna.

Setelah setahun diselimuti Pandemi covid-19 ini harapannya adalah agar segera berlalu dan lenyap. Semoga segera terwujud. Covid-19 ini dapat dikatakan sebagai Adharma masa kini yang kedua setelah hawa nafsu dan ego dalam diri kita. Dengan adanya seruan vaksinasi, ibarat secercah cahaya yang akan mengentaskan kegelapan pandemi. Tentunya dengan harapan bahwa vaksinasi ini harus benar-benar efektif mampu membasmi pandemi virus ini agar kehidupan kita dapat kembali normal seperti sediakala.

Selanjutnya mari kita bangkitkan cahaya dharma dalam hati kita sebagai umat Hindu Bali dalam menyambut perayaan hari suci galungan ini. Alangkah baiknya kita rayakan sebagai wujud rasa syukur atas karunia Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang telah memberikan kita kehidupan dan berkenan dalam menciptakan alam semesta beserta isinya. Kita kalahkan rasa ego dan hawa nafsu yang ada dalam diri agar berganti menjadi rasa syukur dan bhakti. Bersyukur masih diberikan kesempatan bernafas dan melaksanakan kehidupan di dunia walau dalam situasi serangan pandemi virus. Sudah sebaiknya kita memohon keselamatan alam beserta isinya, memohon ampun atas segala dosa yang kita perbuat di dunia ini, tak henti-hentinya melakukan introspeksi diri, mulat sarira untuk kehidupan yang lebih baik lagi kedepannya.

Ciri khas hari Raya Galungan adalah dipasangnya penjor pada sebelah kanan pintu keluar pekarangan rumah umat Hindu. Penjor sendiri merupakan simbol dari Naga Basuki dan bisa juga dikatakan sebagai simbol gunung yang memiliki makna kesuburan alam. Pada saat galungan, penjor biasanya dipasang sehari menjelang acara galungan yakni pada saat penampahan. Memasang penjor dalam menyambut hari raya galungan bertujuan sebagai bentuk wujud rasa bhakti dan rasa syukur atas segala berkah dan kemakmuran yang telah diberikan Sang Maha Pencipta.

Akhirnya melalui tulisan ini, saya menyampaikan Selamat Menyambut Hari Raya Galungan dan Kuningan kepada semua umat Hindu dimanapun berada. Semoga kita bisa mengarungi kehidupan di zaman kaliyuga ini dengan baik, diberikan anugrah dan keselamatan  oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Mari kita terangi hati dengan cahaya dharma, kendalikan hawa nafsu yang merupakan adharma dalam diri yang sering menggoda. Tidak lupa juga semoga Pandemi Covid-19 cepat lenyap dari bumi tempat kita tinggal ini. Rahayu. [T]

Tags: hari raya galunganhindupandemi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengkonversi Karya Tulis Ilmiah Menjadi Sebuah Buku

Next Post

Banjir di Singaraja | Ayo Pasang Biopori dan Sumur Resapan

Dewa Gede Arnama

Dewa Gede Arnama

Mahasiswa. Lahir dan tinggal di Desa Awan, Kintamani, Bangli

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Banjir di Singaraja | Ayo Pasang Biopori dan Sumur Resapan

Banjir di Singaraja | Ayo Pasang Biopori dan Sumur Resapan

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co