4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyambut Galungan | Bangkitkan Cahaya Dharma dalam Hati

Dewa Gede Arnama by Dewa Gede Arnama
April 9, 2021
in Esai
Menyambut Galungan | Bangkitkan Cahaya Dharma dalam Hati

Foto ilustrasi: Mursal Buyung

Masa yang suram satu tahun ini akibat Pandemi Covid-19 menimbulkan banyak sekali perubahan dalam kehidupan kita. Hal kecilnya saja adalah kita tidak bisa menunjukan ekspresi  ketika melakukan interaksi sesama akibat dari masker yang menutupi senyum manis kita. Apalagi ditambah dengan kaca pelindung wajah, rasanya seperti berada dalam dunia yang lain. Nah, itu semua dilakukan demi keamanan kesehatan kita dalam menjalani aktivitas kehidupan di masa wabah seperti sekarang ini. Banyak sekali dampak yang ditimbulkan di semua bidang kehidupan manusia. Salah satunya adalah kehidupan beragama.

Umat Hindu di Bali tidak dapat terlepas dari penyelenggaraan yadnya. Yadnya berasal dari bahasa Sanskerta yajña, yang terbentuk dari akar kata “yaj” yang berarti memuja, mempersembahkan atau korban suci. Yadnya berarti korban suci yang dilaksanakan dengan rasa tulus ikhlas. Banyak sekali hari raya dan perayaan yang dimiliki oleh umat Hindu, terutamanya adalah Hindu di Bali. Tradisi, Budaya, Ritus Pemujaan, Upacara dan Upakara Bali melekat menjadi satu kesatuan. Salah satu hari raya besar umat Hindu adalah Hari Raya Galungan dan Kuningan.

Galungan diperingati setiap 210 hari di penanggalan kalender Bali yakni pada hari Budha (Rabu) Kliwon Wuku Dunggulan atau wuku ke-11 sedangkan Kuningan jatuh pada sepuluh hari kemudian yakni pada Hari Saniscara (Sabtu) Kliwon Wuku Kuningan, yakni wuku yang ke-12.  Galungan dalam bahasa Jawa Kuna diartikan ‘bertarung’ dan Dunggulan itu berarti ‘menang’ atau ‘kemenangan’. Jika kita lihat dari segi sejarahnya, maka munculnya hari Galungan ini berasal dari suatu mitologi cerita yang menjelaskan bahwa  pada zaman dahulu, pulau Bali dikuasai oleh raksasa sakti dan jahat yang bernama Mayadenawa. Mayadenawa melarang masyarakat Bali untuk melakukan persembahyangan memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Kemudian, Bhatara Indra turun ke dunia untuk bertemu dengan Mayadenawa dan memperingatkan bahwa tindakannya tersebut salah. Disana terjadilah pertempuran hingga Mayadenawa berhasil dikalahkan oleh Bhatara Indra. Oleh karena itu dapat kita ketahui dan simpulkan bahwa hari Galungan adalah peringatan kemenangan Dharma (kebenaran) melawan Adharma (Ketidakbenaran).

Di zaman dahulu sesuai dengan mitologi galungan, penegak dharma (kebenaran) adalah Bhatara Indra yang berhasil mengalahkan Mayadenawa yang merupakan penguasa adharma  (kejahatan, ketidakbenaran). Dalam hal tersebut Bhatara Indra berusaha untuk membebaskan para umat Hindu Bali yang dikuasai oleh raksasa yang melarang adanya pemujaan di pura. Yang dikalahkan adalah ketidakbenaran yang dilakukan oleh raksasa Mayadenawa. Lantas, pada masa dengan peradaban umat manusia yang serba modern seperti sekarang ini, Adharma apa yang patut kita kalahkan? Bagaimana cara kita membela dan menegakkan Dharma?

Kita kembali pada pribadi umat Hindu masing-masing. Pada masa Pandemi  Covid-19 seperti sekarang ini, semua aspek kehidupan kita diberlakukan pembatasan. Mulai dari pekerjaan, pendidikan hingga kegiatan ibadah keagamaan. Kendati demikian, umat Hindu tidak bisa lepas dari adanya hari suci keagamaan beserta upacara dan upakara yang memang wajib untuk dilaksanakan. Walaupun yadnya seperti yang telah saya tuliskan diatas merupakan korban suci yang tulus ikhlas, namun persiapan upacara upakaranya tentu saja memerlukan materi berupa uang. Sarana dalam pembuatan banten tidak semua bisa kita dapatkan gratis di kebun sendiri. Lalu belum tentu semua orang memiliki lahan kebun bukan? Tentu saja banyak bahan ketika membuat banten upakara yang harus dibeli. Apalagi jika ada kalangan umat yang memiliki gengsi tinggi, pastinya akan membuat banten dan sarana upakara yang meriah dan terkesan mewah.

Terganggunya semua bidang kehidupan akibat pandemi covid-19 tentu saja membuat banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaan. Lantas darimana datang pendapatan yang lebih? Kriminalitas meningkat di masa pandemi pastinya sudah kita ketahui bersama. Terakhir saya membaca berita mengenai ternak sapi yang hilang di kebun warga, ada juga mengenai pencurian ayam dan bebek. Itu semua adalah dampak dari minimnya pendapatan seseorang di masa pandemi, sehingga mengambil jalan pintas dengan melakukan kriminalitas. Mirisnya adalah sarana yang didapat dari hasil mencuri digunakan untuk membuat banten. Sebelum pandemi saja setiap menjelang Hari Raya Galungan ada saja yang hilang dicuri. Seperti ambu dan ron (daun pohon aren), busung (daun kelapa) serta sarana banten seperti buah pisang yang ada di perkebunan warga. Nah, dimasa pandemi seperti sekarang pasti tindakan mencuri sarana upacara  dari hasil pertanian di kebun warga akan meningkat.

Tidak ada yang mengatakan bahwa mencuri itu adalah perilaku yang benar. Bahkan mencuri ilmu  pengetahuanpun dianggap salah, apalagi mencuri barang yang nantinya dijadikan sebagai persembahan kepada Tuhan atau hanya sekedar untuk mendapatkan uang, tentunya itu adalah dosa besar. Dengan demikian dapat saya katakan bahwa Adharma pada masa sekarang ini yang harus dikalahkan adalah hawa nafsu dan ego dalam diri kita sebagai umat beragama. Keinginan untuk membuat sarana upakara yang mewah pada masa sulit perlulah ditekan dan dihilangkan. Tuhan tidak pernah memaksa umatnya untuk membuat persembahan banten yang mewah. Rasa yang utama adalah tulus dan ikhlas, yakin pada-Nya serta menyerahkan jiwa dan raga sepenuhnya pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Di masa pandemi ini kita semua merasakan kesulitan yang luar biasa, namun dalam pelaksanaan yadnya alangkah baiknya kita tetap lakukan apa adanya dengan rasa yang tulus ikhlas. Sujud bhakti yang utama tidak terlihat dari seberapa meriah hari raya keagamaan itu dilaksanakan. Tapi dilihat dari bagaimana cara kita memaknai perayaan hari suci dengan perasaan yang bahagia, tulus dan tidak merasakan keluhan keberatan akibat hutang materi. Beryadnya itu jangan sampai berhutang pada saudara kita yang berdagang. Laksanakan yadnya semampu kita, sederhana namun penuh dengan makna.

Setelah setahun diselimuti Pandemi covid-19 ini harapannya adalah agar segera berlalu dan lenyap. Semoga segera terwujud. Covid-19 ini dapat dikatakan sebagai Adharma masa kini yang kedua setelah hawa nafsu dan ego dalam diri kita. Dengan adanya seruan vaksinasi, ibarat secercah cahaya yang akan mengentaskan kegelapan pandemi. Tentunya dengan harapan bahwa vaksinasi ini harus benar-benar efektif mampu membasmi pandemi virus ini agar kehidupan kita dapat kembali normal seperti sediakala.

Selanjutnya mari kita bangkitkan cahaya dharma dalam hati kita sebagai umat Hindu Bali dalam menyambut perayaan hari suci galungan ini. Alangkah baiknya kita rayakan sebagai wujud rasa syukur atas karunia Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang telah memberikan kita kehidupan dan berkenan dalam menciptakan alam semesta beserta isinya. Kita kalahkan rasa ego dan hawa nafsu yang ada dalam diri agar berganti menjadi rasa syukur dan bhakti. Bersyukur masih diberikan kesempatan bernafas dan melaksanakan kehidupan di dunia walau dalam situasi serangan pandemi virus. Sudah sebaiknya kita memohon keselamatan alam beserta isinya, memohon ampun atas segala dosa yang kita perbuat di dunia ini, tak henti-hentinya melakukan introspeksi diri, mulat sarira untuk kehidupan yang lebih baik lagi kedepannya.

Ciri khas hari Raya Galungan adalah dipasangnya penjor pada sebelah kanan pintu keluar pekarangan rumah umat Hindu. Penjor sendiri merupakan simbol dari Naga Basuki dan bisa juga dikatakan sebagai simbol gunung yang memiliki makna kesuburan alam. Pada saat galungan, penjor biasanya dipasang sehari menjelang acara galungan yakni pada saat penampahan. Memasang penjor dalam menyambut hari raya galungan bertujuan sebagai bentuk wujud rasa bhakti dan rasa syukur atas segala berkah dan kemakmuran yang telah diberikan Sang Maha Pencipta.

Akhirnya melalui tulisan ini, saya menyampaikan Selamat Menyambut Hari Raya Galungan dan Kuningan kepada semua umat Hindu dimanapun berada. Semoga kita bisa mengarungi kehidupan di zaman kaliyuga ini dengan baik, diberikan anugrah dan keselamatan  oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Mari kita terangi hati dengan cahaya dharma, kendalikan hawa nafsu yang merupakan adharma dalam diri yang sering menggoda. Tidak lupa juga semoga Pandemi Covid-19 cepat lenyap dari bumi tempat kita tinggal ini. Rahayu. [T]

Tags: hari raya galunganhindupandemi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengkonversi Karya Tulis Ilmiah Menjadi Sebuah Buku

Next Post

Banjir di Singaraja | Ayo Pasang Biopori dan Sumur Resapan

Dewa Gede Arnama

Dewa Gede Arnama

Mahasiswa. Lahir dan tinggal di Desa Awan, Kintamani, Bangli

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Banjir di Singaraja | Ayo Pasang Biopori dan Sumur Resapan

Banjir di Singaraja | Ayo Pasang Biopori dan Sumur Resapan

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co