2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Suitcase (2023) dan Suku Kurdi yang Masih Terdiskriminasi

Jaswanto by Jaswanto
September 28, 2024
in Ulas Film
Suitcase (2023) dan Suku Kurdi yang Masih Terdiskriminasi

Meysam Damanzeh dalam film Suitcase | Foto: Dok. IMDB

SEORANG lelaki dengan kumis dan jenggot hitam tebal keluar dari sebuah koper besar di pinggir jalan raya di sebuah kota asing di Iran. Tampaknya semalaman ia meringkuk di koper tersebut. Koper itu, bukan saja tempat tidurnya, tapi juga rumah, kenangan, dan, mungkin saja, harapan terakhirnya.

Jauh dari kampung halamannya, lelaki pengungsi dari Kurdi itu terpaksa hidup dalam kopernya. Di dalam koper itu, sekali lagi, ia membawa kenangan tentang keluarganya—foto keluarganya ia tempelkan di penutup koper itu. Dan ketika seseorang mencuri koper itu di tengah hiruk-pikuk pusat kota asing, ia kehilangan rumahnya, keluarganya, untuk kedua kalinya.

Di atas adalah sedikit potongan adegan film pendek berjudul Suitcase (2023) karya Saman Hosseinpuor dan Ako Zandkarimi. Film yang dibintangi Meysam Damanzeh ini saya tonton di Minikino Film Week 10 di MASH Denpasar, Sabtu (14/9/2024) pagi. “Suitcase” memenangkan penghargaan di Parma International Music Film Festival ke-11 di Italia.

Meski konvensional-naratif, Saman Hosseinpuor dan Ako Zandkarimi hendak menyampaikan sesuatu yang besar, menggelisahkan, rumit, dan gelap, yang barangkali telah mengganggunya selama ini. Saman dan Ako sama-sama lahir sebagai Kurdi di Iran pada 1993. Mereka berdua seumuran dan sama-sama memulai bergelut dalam dunia kesenian sejak usia  kisaran 15 tahunan. Saman berakting di teater dan membuat film; sedangkan Ako langsung menggemari dunia perfilm-an sejak duduk di bangku sekolah menengah.

Saya memiliki keyakinan, sebagai orang Kurdi, Saman dan Ako telah melahap hitam-putih dan pahit-manisnya sejarah sukunya, dan bagaimana dunia memperlakukan mereka dengan semena-mena. Hari-hari ini mereka diperangi Erdogan dan tak diakui di Suriah. Mereka mendapat belas-kasihan dari Iran tapi juga memiliki keinginan untuk membentuk negara sendiri. Orang-orang Kurdi terombang-ambing tanpa peta dan kompas di tangan.

Dan Suitcase merupakan gambaran keputus-asaan itu. Melalui seorang lelaki Kurdi paruh baya yang kehilangan segalanya—rumah dan keluarganya, lontang-lantung dari satu tempat ke tempat asing lainnya dan hidup di dalam koper besarnya yang pengap dengan sorot mata yang tak ingin hidup, lebih banyak diam dengan tatapan kosong yang mengibakan—apalagi saat koper kesayangannya hilang dicuri orang—yang semakin menampakkan sorot keputusasaannya, saya kira Saman dan Ako sedang mencoba menggambarkan kondisi Kurdi saat ini kepada penonton.

Dalam sejarah peradaban manusia—atau boleh juga disebut peradaban Islam—di Timur Tengah, konflik seolah menjadi semacam bumbu dalam masakan yang tak boleh ketinggalan. Ia dibenci, tapi sekaligus dijadikan jalan bagi orang-orang di sana yang tak saling suka satu sama lain—dan ini sudah berjalan sejak zaman dulu, seperti turun-temurun. Berkonflik di sana artinya menjunjung harga diri. Dan itu seolah harus dilakukan ketika kita tidak suka, atau merasa teramcam, dengan dan oleh orang lain.

Suku Kurdi sudah kenyang akan hal itu. Mereka terlantar sebagai pengungsi bahkan sejak abad ke-20 di Timur Tengah, dan terus berlanjut hingga saat ini. Suku Kurdi adalah kelompok etnis di Asia Barat, yang sebagian besar mendiami wilayah yang dikenal dengan sebutan Kurdistan—suatu tempat yang meliputi wilayah-wilayah yang berbatasan dengan Iran, Irak, Suriah di Asia, dan Turki di Eropa.

Jika kita telusuri asal usulnya, bangsa Kurdi merupakan salah satu penduduk asli daratan Mesopotamia dan di dataran tinggi di Turki bagian tenggara, Suriah barat laut, Irak utara, Iran barat laut, dan barat daya Armenia. Kini mereka membentuk komunitas sendiri, disatukan melalui ras, budaya, bahasa—walaupun mereka tak punya dialek standar sebagaimana di Indonesia, misalnya—agama dan kepercayaan mereka—walaupun berbeda-beda dan mayoritas adalah Muslim Sunni.

Pada awal Abad ke-20, orang Kurdi sebenarnya sudah mulai mempertimbangkan untuk membentuk negara sendiri—mereka menyebutnya sebagai “Kurdistan”. Sesudah Perang Dunia I dan kalahnya Turki Usmani dalam perang tersebut, melalui Perjanjian Sevres, negara itu dipertimbangkan untuk dibentuk.

Namun, tiga tahun kemudian, melalui Perjanjian Lausanne yang menetapkan perbatasan Turki modern, rencana itu dibatalkan, dan menyebabkan orang Kurdi menjadi kelompok minoritas di negara-negara yang baru dibentuk. Selama 80 tahun terakhir, upaya untuk membentuk negara Kurdi merdeka selalu dipatahkan dengan brutal.

Di mana-mana orang-orang Kurdi selalu ditindas, didiskriminasi. Selama periode dominasinya di wilayah The Fertile Crescentutara dan wilayah yang berdekatan dengan Pegunungan Zagros dan Taurus, wilayah Kekaisaran Ottoman Turki, pengungsian Suku Kurdi telah terjadi. Mereka dianggap pemberontak dan untuk itu mereka diusir.

Pada awal abad ke-20, minoritas Kristen di Kekaisaran Ottoman mengalami genosida (terutama selama Perang Dunia I dan Perang Kemerdekaan Turki), dan banyak orang dari Suku Kurdi yang menentang Turki juga diungsikan pada saat yang sama.

Etnik Kurdi mendapat perlakuan kasar di tangan otoritas Turki selama bergenerasi. Nama dan pakaian etnik Kurdi dilarang, penggunaan bahasa Kurdi dibatasi. Bahkan keberadaan etnik Kurdi ditolak, dan mereka dipanggil dengan sebutan “orang Turki Pegunungan”.

Tak hanya di Turki, di Irak, penindasan Kurdi untuk otonomi dan kemerdekaan telah berubah menjadi konflik bersenjata sejak pemberontakan Mahmud Barzanji pada 1919. Pengungsian orang Kurdi semakin parah selama konflik Irak-Kurdi dan program Arabisasi dari rezim Ba’ath yang bertujuan untuk membersihkan Kurdistan-Irak dari mayoritas Kurdi. Puluhan ribu orang Kurdi mengungsi dan melarikan diri dari zona perang setelah Perang Kurdi-Irak I dan II pada tahun 1960-an dan 1970-an.

Perang Iran-Irak tahun 1980-an, Perang Teluk I di awal tahun 1990-an, dan pemberontakan berikutnya, secara keseluruhan membuat beberapa juta pengungsi, terutama orang Kurdi, sebagian besar mendapat perlindungan dari Iran, sementara yang lain tersebar dan menjadi diaspora Kurdi di Eropa dan Amerika. Iran sendiri menyediakan suaka bagi 1.400.000 pengungsi dari Irak, yang sebagian besar berasal dari Suku Kurdi—yang terusir akibat Perang Teluk Persia (1990–91) dan pemberontakan lainnya.

Di Suriah, orang Kurdi merupakan 7%-10% dari keseluruhan populasi negara tersebut. Mereka tinggal di Damaskus dan Aleppo serta tiga wilayah yang berdekatan: Kobane, Afrin dan Qamishli. Di negara ini, mereka, sebagai warga negara, telah lama ditekan dan tak diberi hak-hak sipil. Sekitar 300.000 orang tak diakui kewarganegaraannya sejak tahun 1960-an, dan tanah orang Kurdi dirampas dan diberikan kepada orang Arab dalam upaya untuk “meng-Arab-kan” wilayah-wilayah Kurdi—seperti yang terjadi di Irak pada akhir 1970-an.

Kini, di Turki, Irak, Suriah, orang-orang Kurdi masih didiskriminasi. Dan Suitcase, dengan segala kesederhanaanya, mencoba menggambarkan dan menyampaikannya kepada kita semua bahwa, bukan hanya di Palestina atau di Afghanistan, tapi di belahan dunia lain juga masih terdapat praktik penindasan dan penjajahan yang bertentangan dengan hak asasi manusia—“bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”.[T]

Tertawa Bersama Phone Call Man Woman
Europe by Bidon (2022): Nasib Baik Tak Ada yang Tahu
Utopia di Padang Beton dalam Fantasy Is a Concrete Jungle
In the Shadow of the Cypress (2023) dan Post-Traumatic Stress Disorder
Black Rain in My Eyes (2023): “Kebohongan” Seorang Penyair kepada Putrinya yang Buta
Tags: MinikinoMinikino Film Week
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Warga dan TNI-Polri Gotong-Royong Membangun Jembatan untuk Arya dan Teman-temannya

Next Post

Pasih Kangin Desa Adat Kedonganan: Dulu “Leke-leke”, Kini Jadi Incaran   

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
0
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

Read moreDetails

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
0
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

Read moreDetails

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
0
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

Read moreDetails

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
0
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

Read moreDetails

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails
Next Post
Pasih Kangin Desa Adat Kedonganan: Dulu “Leke-leke”, Kini Jadi Incaran   

Pasih Kangin Desa Adat Kedonganan: Dulu “Leke-leke”, Kini Jadi Incaran   

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co