2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Suitcase (2023) dan Suku Kurdi yang Masih Terdiskriminasi

Jaswanto by Jaswanto
September 28, 2024
in Ulas Film
Suitcase (2023) dan Suku Kurdi yang Masih Terdiskriminasi

Meysam Damanzeh dalam film Suitcase | Foto: Dok. IMDB

SEORANG lelaki dengan kumis dan jenggot hitam tebal keluar dari sebuah koper besar di pinggir jalan raya di sebuah kota asing di Iran. Tampaknya semalaman ia meringkuk di koper tersebut. Koper itu, bukan saja tempat tidurnya, tapi juga rumah, kenangan, dan, mungkin saja, harapan terakhirnya.

Jauh dari kampung halamannya, lelaki pengungsi dari Kurdi itu terpaksa hidup dalam kopernya. Di dalam koper itu, sekali lagi, ia membawa kenangan tentang keluarganya—foto keluarganya ia tempelkan di penutup koper itu. Dan ketika seseorang mencuri koper itu di tengah hiruk-pikuk pusat kota asing, ia kehilangan rumahnya, keluarganya, untuk kedua kalinya.

Di atas adalah sedikit potongan adegan film pendek berjudul Suitcase (2023) karya Saman Hosseinpuor dan Ako Zandkarimi. Film yang dibintangi Meysam Damanzeh ini saya tonton di Minikino Film Week 10 di MASH Denpasar, Sabtu (14/9/2024) pagi. “Suitcase” memenangkan penghargaan di Parma International Music Film Festival ke-11 di Italia.

Meski konvensional-naratif, Saman Hosseinpuor dan Ako Zandkarimi hendak menyampaikan sesuatu yang besar, menggelisahkan, rumit, dan gelap, yang barangkali telah mengganggunya selama ini. Saman dan Ako sama-sama lahir sebagai Kurdi di Iran pada 1993. Mereka berdua seumuran dan sama-sama memulai bergelut dalam dunia kesenian sejak usia  kisaran 15 tahunan. Saman berakting di teater dan membuat film; sedangkan Ako langsung menggemari dunia perfilm-an sejak duduk di bangku sekolah menengah.

Saya memiliki keyakinan, sebagai orang Kurdi, Saman dan Ako telah melahap hitam-putih dan pahit-manisnya sejarah sukunya, dan bagaimana dunia memperlakukan mereka dengan semena-mena. Hari-hari ini mereka diperangi Erdogan dan tak diakui di Suriah. Mereka mendapat belas-kasihan dari Iran tapi juga memiliki keinginan untuk membentuk negara sendiri. Orang-orang Kurdi terombang-ambing tanpa peta dan kompas di tangan.

Dan Suitcase merupakan gambaran keputus-asaan itu. Melalui seorang lelaki Kurdi paruh baya yang kehilangan segalanya—rumah dan keluarganya, lontang-lantung dari satu tempat ke tempat asing lainnya dan hidup di dalam koper besarnya yang pengap dengan sorot mata yang tak ingin hidup, lebih banyak diam dengan tatapan kosong yang mengibakan—apalagi saat koper kesayangannya hilang dicuri orang—yang semakin menampakkan sorot keputusasaannya, saya kira Saman dan Ako sedang mencoba menggambarkan kondisi Kurdi saat ini kepada penonton.

Dalam sejarah peradaban manusia—atau boleh juga disebut peradaban Islam—di Timur Tengah, konflik seolah menjadi semacam bumbu dalam masakan yang tak boleh ketinggalan. Ia dibenci, tapi sekaligus dijadikan jalan bagi orang-orang di sana yang tak saling suka satu sama lain—dan ini sudah berjalan sejak zaman dulu, seperti turun-temurun. Berkonflik di sana artinya menjunjung harga diri. Dan itu seolah harus dilakukan ketika kita tidak suka, atau merasa teramcam, dengan dan oleh orang lain.

Suku Kurdi sudah kenyang akan hal itu. Mereka terlantar sebagai pengungsi bahkan sejak abad ke-20 di Timur Tengah, dan terus berlanjut hingga saat ini. Suku Kurdi adalah kelompok etnis di Asia Barat, yang sebagian besar mendiami wilayah yang dikenal dengan sebutan Kurdistan—suatu tempat yang meliputi wilayah-wilayah yang berbatasan dengan Iran, Irak, Suriah di Asia, dan Turki di Eropa.

Jika kita telusuri asal usulnya, bangsa Kurdi merupakan salah satu penduduk asli daratan Mesopotamia dan di dataran tinggi di Turki bagian tenggara, Suriah barat laut, Irak utara, Iran barat laut, dan barat daya Armenia. Kini mereka membentuk komunitas sendiri, disatukan melalui ras, budaya, bahasa—walaupun mereka tak punya dialek standar sebagaimana di Indonesia, misalnya—agama dan kepercayaan mereka—walaupun berbeda-beda dan mayoritas adalah Muslim Sunni.

Pada awal Abad ke-20, orang Kurdi sebenarnya sudah mulai mempertimbangkan untuk membentuk negara sendiri—mereka menyebutnya sebagai “Kurdistan”. Sesudah Perang Dunia I dan kalahnya Turki Usmani dalam perang tersebut, melalui Perjanjian Sevres, negara itu dipertimbangkan untuk dibentuk.

Namun, tiga tahun kemudian, melalui Perjanjian Lausanne yang menetapkan perbatasan Turki modern, rencana itu dibatalkan, dan menyebabkan orang Kurdi menjadi kelompok minoritas di negara-negara yang baru dibentuk. Selama 80 tahun terakhir, upaya untuk membentuk negara Kurdi merdeka selalu dipatahkan dengan brutal.

Di mana-mana orang-orang Kurdi selalu ditindas, didiskriminasi. Selama periode dominasinya di wilayah The Fertile Crescentutara dan wilayah yang berdekatan dengan Pegunungan Zagros dan Taurus, wilayah Kekaisaran Ottoman Turki, pengungsian Suku Kurdi telah terjadi. Mereka dianggap pemberontak dan untuk itu mereka diusir.

Pada awal abad ke-20, minoritas Kristen di Kekaisaran Ottoman mengalami genosida (terutama selama Perang Dunia I dan Perang Kemerdekaan Turki), dan banyak orang dari Suku Kurdi yang menentang Turki juga diungsikan pada saat yang sama.

Etnik Kurdi mendapat perlakuan kasar di tangan otoritas Turki selama bergenerasi. Nama dan pakaian etnik Kurdi dilarang, penggunaan bahasa Kurdi dibatasi. Bahkan keberadaan etnik Kurdi ditolak, dan mereka dipanggil dengan sebutan “orang Turki Pegunungan”.

Tak hanya di Turki, di Irak, penindasan Kurdi untuk otonomi dan kemerdekaan telah berubah menjadi konflik bersenjata sejak pemberontakan Mahmud Barzanji pada 1919. Pengungsian orang Kurdi semakin parah selama konflik Irak-Kurdi dan program Arabisasi dari rezim Ba’ath yang bertujuan untuk membersihkan Kurdistan-Irak dari mayoritas Kurdi. Puluhan ribu orang Kurdi mengungsi dan melarikan diri dari zona perang setelah Perang Kurdi-Irak I dan II pada tahun 1960-an dan 1970-an.

Perang Iran-Irak tahun 1980-an, Perang Teluk I di awal tahun 1990-an, dan pemberontakan berikutnya, secara keseluruhan membuat beberapa juta pengungsi, terutama orang Kurdi, sebagian besar mendapat perlindungan dari Iran, sementara yang lain tersebar dan menjadi diaspora Kurdi di Eropa dan Amerika. Iran sendiri menyediakan suaka bagi 1.400.000 pengungsi dari Irak, yang sebagian besar berasal dari Suku Kurdi—yang terusir akibat Perang Teluk Persia (1990–91) dan pemberontakan lainnya.

Di Suriah, orang Kurdi merupakan 7%-10% dari keseluruhan populasi negara tersebut. Mereka tinggal di Damaskus dan Aleppo serta tiga wilayah yang berdekatan: Kobane, Afrin dan Qamishli. Di negara ini, mereka, sebagai warga negara, telah lama ditekan dan tak diberi hak-hak sipil. Sekitar 300.000 orang tak diakui kewarganegaraannya sejak tahun 1960-an, dan tanah orang Kurdi dirampas dan diberikan kepada orang Arab dalam upaya untuk “meng-Arab-kan” wilayah-wilayah Kurdi—seperti yang terjadi di Irak pada akhir 1970-an.

Kini, di Turki, Irak, Suriah, orang-orang Kurdi masih didiskriminasi. Dan Suitcase, dengan segala kesederhanaanya, mencoba menggambarkan dan menyampaikannya kepada kita semua bahwa, bukan hanya di Palestina atau di Afghanistan, tapi di belahan dunia lain juga masih terdapat praktik penindasan dan penjajahan yang bertentangan dengan hak asasi manusia—“bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”.[T]

Tertawa Bersama Phone Call Man Woman
Europe by Bidon (2022): Nasib Baik Tak Ada yang Tahu
Utopia di Padang Beton dalam Fantasy Is a Concrete Jungle
In the Shadow of the Cypress (2023) dan Post-Traumatic Stress Disorder
Black Rain in My Eyes (2023): “Kebohongan” Seorang Penyair kepada Putrinya yang Buta
Tags: MinikinoMinikino Film Week
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Warga dan TNI-Polri Gotong-Royong Membangun Jembatan untuk Arya dan Teman-temannya

Next Post

Pasih Kangin Desa Adat Kedonganan: Dulu “Leke-leke”, Kini Jadi Incaran   

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails
Next Post
Pasih Kangin Desa Adat Kedonganan: Dulu “Leke-leke”, Kini Jadi Incaran   

Pasih Kangin Desa Adat Kedonganan: Dulu “Leke-leke”, Kini Jadi Incaran   

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co