2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pasih Kangin Desa Adat Kedonganan: Dulu “Leke-leke”, Kini Jadi Incaran   

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
September 28, 2024
in Esai
Pasih Kangin Desa Adat Kedonganan: Dulu “Leke-leke”, Kini Jadi Incaran   

Penulis di Pasih Kangin Desa Adat Kedonganan

DESA Adat Kedonganan adalah batas utara Gumi Delod Ceking. Selain sebagai Desa Adat, Kedonganan juga merupakan Desa Dinas tersendiri dari pemekaran Desa Tuban sejak Reformasi bergulir, 1998. Luasnya tidak lebih dari 1 km2 menurut Bandesa, I  Wayan Sutarja. Istimewanya, Kedonganan memiliki dua laut yang disebut Pasih Kauh ‘Laut Barat’ dan Pasih Kangin ‘Laut Timur’.

Pasih Kauh adalah Samudera Indonesia tempat kafe-kafe berjejer menyambut pengunjung/para penggemar kuliner bersantap siang atau makan malam. yang riuh ombak dan om bersama mbak. Berbeda dengan Pasih Kangin Kedonganan adalah suung dengan prapat yang masih rapat. Berdekatan dengan Pasih Kangin ini berdiri SMA Negeri 2 Kuta (2005) saat Bupati Badung, Anak Agung Gde Agung bersama Wakil Bupati, Drs. I Ketut Sudikerta. Tempatnya relatif sepi sehingga disebut suung.

Tempat ini pada awalnya  adalah bagian dari rawa-rawa dan dijadikan tempat pembuangan sampah. Atas inisiatif tokoh Adat Kedonganan, I Ketut Madra, S.H., tanah Tempat Pembuangan Sampah (TPS) ini diklaim sebagai milik Desa Adat Kedonganan lalu diusulkan menjadi tempat pembangunan  SMA. Sebagai gantinya, Desa Adat Kedonganan mendapat pengganti di Pasih Kauh Kedonganan. Di Pasih Kauh, Desa Adat Kedonganan membangun pusat bisnis kuliner dengan mendirikan kafe-kafe yang dikelola kelompok masyarakat adat selaras dengan Pariwisata Berbasis Masyarakat.

Bagi Desa Adat Kedonganan, keberadaan SMA Negeri 2 Kuta yang berdiri di atas gundukan sampah, ibarat memetik berkah di balik sampah. Bila sampah dalam bahasa Bali disebut luu, dengan berdiri SMA, luu itu ibarat pupuk yang menghasilkan buah yang luih. Bila sampah juga disebut mis, mis itu telah diolah menjadi mas berkat sekolah yang berdiri di sini.  Sekolah sebagai tempat pembibitan benih-benih muda memerlukan keseriusan menangani seperti yang ditunjukkan penggagasnya. Sebagai tokoh visioner, I Ketut Madra sudah berkontribusi positif terhadap lembaga pendidikan di Desa Adat Kedongan. Secara tidak langsung, Generasi Emas 2045 juga sudah disiapkan dari sini. Tugas siswa untuk belajar sungguh-sunguh dan tugas guru menjaga integritas menghamba kepada sang anak pada era Merdeka Belajar.  

Ketua Komite : I Made Wena (paling kiri), Plt. Kepala SMAN 2 Kuta : I Nyoman Tingkat (tengah), Prabawa (paling kanan) | Foto: Nyoman Tingkat

 Selain berdiri SMA Negeri 2 Kuta, di jalur menuju Pasih Kangin Desa Adat Kedonganan terdapat anjungan yang menarik melalui akses jembatan bambu ramah lingkungan. Anjungan Prapat Pasih Kangin disebut Ecomangrove Ulam Sari  Kedonganan ini di bawah pengawasan  UPTD Tahura Ngurah Rai yang dibuka mulai pk. 08.00 – 17.00 Wita. Anjunganan ini dibangun  menjelang G-20, November 2022.  Anjungan Prapat Pasih Kangin ini terletak di Jalan Pura Dalem Kedonganan  sekitar 50 meter sebelah Selatan Kuburan berdekatan dengan Pura Dalem Kedonganan dan SMA Negeri 2 Kuta. Anjungan ini sangat menarik bin eksotik dan dikelola oleh kelompok  nelayan setempat.

Pertama, jembatan sepanjang kurang lebih 500 meter ini dilengkapi lampu penerang, wifi dan fasilitas foto boot. Tersembunyi dalam sepi hening berlatar jukung para nelayan. Bila pasang naik, jembatan bambu ini cocok juga untuk tempat memancing, sekadar refreshing dengan udara segar alami. Okey juga sebagai tempat prawedding yang inspiratif susah diintip.

Kedua, Anjungan Prapat ini tanpa karcis masuk. Di pintu masuk hanya ada kotak donasi seikhlasnya dan  satu warung kecil yang menyediakan makanan, minuman, dan camilan termasuk rokok. Penjaga warung sekaligus pemegang kunci gembok untuk bisa mengakses kawasan  melalui jembatan bambu ke tengah prapat yang asri dan alami. Kesempatan itu saya gunakan untuk menjelajah bersama Putu Prabawa dari Disdikpora Bali, pada Sabtu, 21 September 2024, sebelum kegiatan pendampingan Literasi dan Numerasi dari Balai Guru Penggerak (BGP) Provinsi Bali di SMA Negeri 2 Kuta.

Ketiga, di kawasan ini pula tradisi mabuug-buugan digelar saban Ngembak Geni (sehari setelah Nyepi), sekitar bulan Maret.  Sebagai sebuah tradisi, mabuug-buugan sudah ada sejak dulu, tetapi sempat vakum. Kemudian dibangkitkan kembali, ketika Bandesa dijabat oleh I Wayan Merta (2018 -2023), seorang akademisi di Poltekpar Bali. Selain bermaksud melestarikan adat dan budaya, tradisi ini juga bisa mengundang wisatawan berdatangan dan membuka lapangan kerja bagi krama Desa Adat Kedonganan.

Keempat, Anjungan Prapat ini juga menarik sebagai tempat wisata edukasi seperti tertera di pintu masuk, dengan jasa layanan antara lain Mangrove Education, Mangrove Tour/Photography (wisata Mangrove/Fotografi), Turtle Island (Pulau Kura-Kura) dan Stand Up Paddle (Selancar dayung). SMA Negeri 2 Kuta sebagai sekolah terdekat tentu dapat memanfaatkan wahana ini secara optimal untuk pembelajaran  Biologi, Geografi, dan lingkungan hidup, misalnya. Selama ini,  sejumlah mahasiswa/siswa Mapala sudah memanfaatkan sebagai laboratorium pembelajaran mencintai alam. Jika mereka menjelajah sampai batas jembatan, di ujung jembatan bambu, dapat menyaksikan jukung-jukung nelayan yang parkir di sela-sela prapat. Sungguh indah sebagai spot foto berbasis alam perpaduan laut dan rawa.

Sebelum Jalan By Pass Ngurah Rai dibuka awal 1980-an, Pasih Kangin Kedonganan adalah jalur “serbi” yang oleh teman dari Banjar Mumbul Bualu menyebutnya sebagai tongos di leke-lekene “jalur yang sulit dijangkau, terisolasi”. Setelah By Pass Ngurah Rai dibuka, Desa Adat Kedonganan dan desa-desa lain sepanjang By Pass Ngurah Rai makin bersolek menjadi incaran orang datang. Ibarat gadis cantik, banyak lelaki ingin melamar. Bujuk rayu pun ditebar. Ada yang serius, ada pula yang sekadar iseng.  Begitu pula nasib jalur Pasih Kangin Kedonganan. Perlu arif bijaksana menyikapi agar tidak jatuh di pelukan lelaki jalang seperti kata Chairil Anwar, “Aku ini binatang jalang, dari kumpulannya yang terbuang”.

Dua laut yang dimiliki Desa Adat Kedonganan, berbeda dengan Desa Adat Kampial, satu-satunya Desa Adat di Gumi Delod Ceking tanpa laut. Namun keduanya disatukan dengan keberadaan Pura Penataran. Kedua desa adat ini sama-sama memiliki Pura Penataran. Pura Penataran Desa Adat Kedonganan berdekatan dengan Pasih Kangin. Posisi SMA Negeri 2 Kuta  diapit oleh Pura Penataran di sebelah Barat dan Pura Dalem Kedonganan di sebelah Timur.  Jika Pujawali Pura Penataran di Kedonganan jatuh pada Redite Wage Kuningan setiap 6 bulan berdasarkan pawukon, Puja Wali di Pura Penataran Kampial jatuh pada Tilem Sasih kelima, setahun sekali. Jika Penataran diartikan sebagai tempat pembinaan mental spiritual, kedua Desa Adat ini sesungguhnya adalah tempat perguruan sekala niskala. Layak berguru ke sini. [T]

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

Rumput Laut Delod Ceking, Nasibmu Kini   
Di Puncak Tegeh Buhu  
Desa Adat  Kutuh Sebagai Desa Pemancar 
Di Puncak Tegeh Kaman 
Bak Inpres dan Cubang Air di Gumi Delod Ceking   
Di Puncak Tegeh Kepah  
Tags: Desa Adat KedongananGumi Delod CekingKutakuta selatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Suitcase (2023) dan Suku Kurdi yang Masih Terdiskriminasi

Next Post

Murid, Kaca Mata Tambahan Guru dalam Asesmen Pembelajaran

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Murid, Kaca Mata Tambahan Guru dalam Asesmen Pembelajaran

Murid, Kaca Mata Tambahan Guru dalam Asesmen Pembelajaran

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co