23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pasih Kangin Desa Adat Kedonganan: Dulu “Leke-leke”, Kini Jadi Incaran   

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
September 28, 2024
in Esai
Pasih Kangin Desa Adat Kedonganan: Dulu “Leke-leke”, Kini Jadi Incaran   

Penulis di Pasih Kangin Desa Adat Kedonganan

DESA Adat Kedonganan adalah batas utara Gumi Delod Ceking. Selain sebagai Desa Adat, Kedonganan juga merupakan Desa Dinas tersendiri dari pemekaran Desa Tuban sejak Reformasi bergulir, 1998. Luasnya tidak lebih dari 1 km2 menurut Bandesa, I  Wayan Sutarja. Istimewanya, Kedonganan memiliki dua laut yang disebut Pasih Kauh ‘Laut Barat’ dan Pasih Kangin ‘Laut Timur’.

Pasih Kauh adalah Samudera Indonesia tempat kafe-kafe berjejer menyambut pengunjung/para penggemar kuliner bersantap siang atau makan malam. yang riuh ombak dan om bersama mbak. Berbeda dengan Pasih Kangin Kedonganan adalah suung dengan prapat yang masih rapat. Berdekatan dengan Pasih Kangin ini berdiri SMA Negeri 2 Kuta (2005) saat Bupati Badung, Anak Agung Gde Agung bersama Wakil Bupati, Drs. I Ketut Sudikerta. Tempatnya relatif sepi sehingga disebut suung.

Tempat ini pada awalnya  adalah bagian dari rawa-rawa dan dijadikan tempat pembuangan sampah. Atas inisiatif tokoh Adat Kedonganan, I Ketut Madra, S.H., tanah Tempat Pembuangan Sampah (TPS) ini diklaim sebagai milik Desa Adat Kedonganan lalu diusulkan menjadi tempat pembangunan  SMA. Sebagai gantinya, Desa Adat Kedonganan mendapat pengganti di Pasih Kauh Kedonganan. Di Pasih Kauh, Desa Adat Kedonganan membangun pusat bisnis kuliner dengan mendirikan kafe-kafe yang dikelola kelompok masyarakat adat selaras dengan Pariwisata Berbasis Masyarakat.

Bagi Desa Adat Kedonganan, keberadaan SMA Negeri 2 Kuta yang berdiri di atas gundukan sampah, ibarat memetik berkah di balik sampah. Bila sampah dalam bahasa Bali disebut luu, dengan berdiri SMA, luu itu ibarat pupuk yang menghasilkan buah yang luih. Bila sampah juga disebut mis, mis itu telah diolah menjadi mas berkat sekolah yang berdiri di sini.  Sekolah sebagai tempat pembibitan benih-benih muda memerlukan keseriusan menangani seperti yang ditunjukkan penggagasnya. Sebagai tokoh visioner, I Ketut Madra sudah berkontribusi positif terhadap lembaga pendidikan di Desa Adat Kedongan. Secara tidak langsung, Generasi Emas 2045 juga sudah disiapkan dari sini. Tugas siswa untuk belajar sungguh-sunguh dan tugas guru menjaga integritas menghamba kepada sang anak pada era Merdeka Belajar.  

Ketua Komite : I Made Wena (paling kiri), Plt. Kepala SMAN 2 Kuta : I Nyoman Tingkat (tengah), Prabawa (paling kanan) | Foto: Nyoman Tingkat

 Selain berdiri SMA Negeri 2 Kuta, di jalur menuju Pasih Kangin Desa Adat Kedonganan terdapat anjungan yang menarik melalui akses jembatan bambu ramah lingkungan. Anjungan Prapat Pasih Kangin disebut Ecomangrove Ulam Sari  Kedonganan ini di bawah pengawasan  UPTD Tahura Ngurah Rai yang dibuka mulai pk. 08.00 – 17.00 Wita. Anjunganan ini dibangun  menjelang G-20, November 2022.  Anjungan Prapat Pasih Kangin ini terletak di Jalan Pura Dalem Kedonganan  sekitar 50 meter sebelah Selatan Kuburan berdekatan dengan Pura Dalem Kedonganan dan SMA Negeri 2 Kuta. Anjungan ini sangat menarik bin eksotik dan dikelola oleh kelompok  nelayan setempat.

Pertama, jembatan sepanjang kurang lebih 500 meter ini dilengkapi lampu penerang, wifi dan fasilitas foto boot. Tersembunyi dalam sepi hening berlatar jukung para nelayan. Bila pasang naik, jembatan bambu ini cocok juga untuk tempat memancing, sekadar refreshing dengan udara segar alami. Okey juga sebagai tempat prawedding yang inspiratif susah diintip.

Kedua, Anjungan Prapat ini tanpa karcis masuk. Di pintu masuk hanya ada kotak donasi seikhlasnya dan  satu warung kecil yang menyediakan makanan, minuman, dan camilan termasuk rokok. Penjaga warung sekaligus pemegang kunci gembok untuk bisa mengakses kawasan  melalui jembatan bambu ke tengah prapat yang asri dan alami. Kesempatan itu saya gunakan untuk menjelajah bersama Putu Prabawa dari Disdikpora Bali, pada Sabtu, 21 September 2024, sebelum kegiatan pendampingan Literasi dan Numerasi dari Balai Guru Penggerak (BGP) Provinsi Bali di SMA Negeri 2 Kuta.

Ketiga, di kawasan ini pula tradisi mabuug-buugan digelar saban Ngembak Geni (sehari setelah Nyepi), sekitar bulan Maret.  Sebagai sebuah tradisi, mabuug-buugan sudah ada sejak dulu, tetapi sempat vakum. Kemudian dibangkitkan kembali, ketika Bandesa dijabat oleh I Wayan Merta (2018 -2023), seorang akademisi di Poltekpar Bali. Selain bermaksud melestarikan adat dan budaya, tradisi ini juga bisa mengundang wisatawan berdatangan dan membuka lapangan kerja bagi krama Desa Adat Kedonganan.

Keempat, Anjungan Prapat ini juga menarik sebagai tempat wisata edukasi seperti tertera di pintu masuk, dengan jasa layanan antara lain Mangrove Education, Mangrove Tour/Photography (wisata Mangrove/Fotografi), Turtle Island (Pulau Kura-Kura) dan Stand Up Paddle (Selancar dayung). SMA Negeri 2 Kuta sebagai sekolah terdekat tentu dapat memanfaatkan wahana ini secara optimal untuk pembelajaran  Biologi, Geografi, dan lingkungan hidup, misalnya. Selama ini,  sejumlah mahasiswa/siswa Mapala sudah memanfaatkan sebagai laboratorium pembelajaran mencintai alam. Jika mereka menjelajah sampai batas jembatan, di ujung jembatan bambu, dapat menyaksikan jukung-jukung nelayan yang parkir di sela-sela prapat. Sungguh indah sebagai spot foto berbasis alam perpaduan laut dan rawa.

Sebelum Jalan By Pass Ngurah Rai dibuka awal 1980-an, Pasih Kangin Kedonganan adalah jalur “serbi” yang oleh teman dari Banjar Mumbul Bualu menyebutnya sebagai tongos di leke-lekene “jalur yang sulit dijangkau, terisolasi”. Setelah By Pass Ngurah Rai dibuka, Desa Adat Kedonganan dan desa-desa lain sepanjang By Pass Ngurah Rai makin bersolek menjadi incaran orang datang. Ibarat gadis cantik, banyak lelaki ingin melamar. Bujuk rayu pun ditebar. Ada yang serius, ada pula yang sekadar iseng.  Begitu pula nasib jalur Pasih Kangin Kedonganan. Perlu arif bijaksana menyikapi agar tidak jatuh di pelukan lelaki jalang seperti kata Chairil Anwar, “Aku ini binatang jalang, dari kumpulannya yang terbuang”.

Dua laut yang dimiliki Desa Adat Kedonganan, berbeda dengan Desa Adat Kampial, satu-satunya Desa Adat di Gumi Delod Ceking tanpa laut. Namun keduanya disatukan dengan keberadaan Pura Penataran. Kedua desa adat ini sama-sama memiliki Pura Penataran. Pura Penataran Desa Adat Kedonganan berdekatan dengan Pasih Kangin. Posisi SMA Negeri 2 Kuta  diapit oleh Pura Penataran di sebelah Barat dan Pura Dalem Kedonganan di sebelah Timur.  Jika Pujawali Pura Penataran di Kedonganan jatuh pada Redite Wage Kuningan setiap 6 bulan berdasarkan pawukon, Puja Wali di Pura Penataran Kampial jatuh pada Tilem Sasih kelima, setahun sekali. Jika Penataran diartikan sebagai tempat pembinaan mental spiritual, kedua Desa Adat ini sesungguhnya adalah tempat perguruan sekala niskala. Layak berguru ke sini. [T]

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

Rumput Laut Delod Ceking, Nasibmu Kini   
Di Puncak Tegeh Buhu  
Desa Adat  Kutuh Sebagai Desa Pemancar 
Di Puncak Tegeh Kaman 
Bak Inpres dan Cubang Air di Gumi Delod Ceking   
Di Puncak Tegeh Kepah  
Tags: Desa Adat KedongananGumi Delod CekingKutakuta selatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Suitcase (2023) dan Suku Kurdi yang Masih Terdiskriminasi

Next Post

Murid, Kaca Mata Tambahan Guru dalam Asesmen Pembelajaran

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Murid, Kaca Mata Tambahan Guru dalam Asesmen Pembelajaran

Murid, Kaca Mata Tambahan Guru dalam Asesmen Pembelajaran

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co