3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Murid, Kaca Mata Tambahan Guru dalam Asesmen Pembelajaran

Made Surya Hermawan by Made Surya Hermawan
September 28, 2024
in Esai
Murid, Kaca Mata Tambahan Guru dalam Asesmen Pembelajaran

Foto: Surya Hermawan

DULUNYA, dalam praktik pendidikan Indonesia, penilaian pembelajaran atau yang saat ini disebut asesmen merupakan domain guru. Guru memiliki keleluasaan untuk menilai kemajuan proses dan hasil belajar murid. Murid sendiri, dalam hal ini, sebatas objek yang dinilai. Murid tidak memiliki keleluasaan yang cukup untuk memberikan sanggahan, atau setidaknya masukan, atas penilaian yang diberikan kepadanya. Kondisi ini secara substansi sebenarnya bukan sesuatu yang ideal. Atau, bukan hal yang baik-baik saja. Sebab, bagaimanapun juga, guru juga manusia. Ya kalau penilaian itu benar adanya, tidak jadi persoalan. Tapi, kalau penilaian itu tidak sebagaimana seharusnya, celaka. Tak ada ruang untuk mengajukan banding. Hingga hari ini setelah implementasi kurikulum pendidikan yang baru, Kurikulum Merdeka, cerita-cerita lama itu secara substansi coba untuk diubah ke arah yang lebih progresif.

Seperti namanya, dalam kurikulum ini, murid-murid diarahkan menjadi sosok yang lebih merdeka. Atau, setidaknya lebih terlibat dalam pembelajaran. Bukan sekadar aktif di kelas, tetapi lebih jauh terlibat dalam perancangan dan asesmen pembelajaran. Tujuannya jelas, agar murid-murid benar menjadi subjek pembelajaran yang akan mengembangkan potensi sesuai kodratnya seperti kata Ki Hadjar Dewantara.

Keterlibatan murid dalam asesmen pembelajaran akan memberikan gambaran objektivitas dan validitas yang lebih menyeluruh tentang proses dan hasil belajar. Asesmen yang awalnya hanya dilihat dari perspektif guru, kini meluas. Perspektif murid sebagai dirinya sendiri dan sebagai teman murid lainnya juga diperhitungkan. Keterlibatan ini adalah kaca mata tambahan bagi guru untuk melihat murid dengan sudut pandang lebih banyak. Harapannya, gambaran proses dan hasil belajar seorang murid menjadi semakin objektif dan tidak bias. Objektivitas dan validitas itu akan membawa guru pada jalan yang tepat dalam menentukan tindak lanjut pembelajaran. Di samping itu, keterlibatan murid juga berfungsi untuk memberikan umpan balik perbaikan proses pembelajaran, yang harus diakui selama ini jarang terjadi.

Foto: Surya Hermawan

Faktanya, melibatkan murid dalam asesmen pembelajaran bukan perkara mudah. Setidaknya ada dua tantangan besar di dalamnya. Anggapan dan objektivitas murid. Selama ini, akibat kebiasaan yang berlangsung sekian lama, murid beranggapan bahwa asesmen pembelajaran adalah domain guru. Hal itu menyebabkan terjadinya kecanggungan murid saat mereka dilibatkan dalam proses asesmen. Selain canggung, murid juga beranggapan bahwa asesmen yang mereka lakukan hanya sebatas formalitas. Tanpa memberikan dampak signifikan dalam proses maupun hasil belajar mereka. Sampai di sini, dapat dimaknai bahwa mereka belum sepenuhnya memahami esensi keterlibatannya dalam asesmen pembelajaran.

Berikutnya, beberapa temuan ilmiah juga menyebutkan salah satu kendala melibatkan murid dalam asesmen adalah objektivitas. Sebabnya, banyak dari mereka yang memberikan penilaian berdasarkan harapan mereka, bukan berbasis kenyataan. Kekhawatiran memberikan penilaian yang objektif muncul akibat dua hal. Banyak murid yang tidak ingin diketahui bisa atau tidak bisa oleh orang lain sehingga mereka enggan mengakui keadaan mereka yang sebenarnya. Para murid juga cenderung subjektif saat menilai temannya berdasarkan kedekatan hubungan pertemanannya. Mereka khawatir saat mereka memberikan penilaian yang tidak baik, meskipun faktanya memang tidak baik, kepada temannya akan merusak hubungan pertemanan mereka.

Kedua tantangan itu bermuara pada self-awareness. Self-awareness boleh diterjemahkan secara sederhana sebagai kemampuan mengenal diri secara objektif. Mengenal kekuatan dan kelemahan diri dan berani secara ikhlas mengakuinya.

Di Bali, khususnya SMAN 1 Blahbatuh, hal serupa juga terjadi. Untuk itu, di tahun 2024, dilaksanakan Program Pengabdian kepada Masyarakat dengan skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat (PBM) yang jadi bagian solusi dari permasalahan itu. Program yang digagas oleh I Made Surya Hermawan, I Made Diarta, dan Kade Sathya Gita Rismawan dari Universitas Mahasaraswati Denpasar dan Universitas Pendidikan Ganesha ini didanai oleh Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Riset dan Teknologi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi.

Ada empat kegiatan utama dalam pelaksanaan program ini. Pertama, para murid dikenalkan dengan kebijakan asesmen Kurikulum Merdeka dan keterlibatan murid di dalamnya. Mereka selanjutnya dilatih untuk meningkatkan self-awareness melalui cognitive behaviour therapy.  Setelah itu, murid dilatih untuk melakukan asesmen diri, teman, dan menyusun refleksi diri. Di akhir kegiatan, mereka melakukan asesmen itu pada aplikasi berbasis web yang juga dikembangkan dalam program ini.

Selama kegiatan, kejujuran murid adalah modal utama. Kabar baiknya, mereka melakukannya dengan cakap. Kejujuran mereka itu diuji dengan teknik confirmation score. Teknik membandingkan hasil asesmen diri dan asesmen teman yang telah dikuantifikasi. Hasilnya memuaskan. Selisihnya skor antara kedua asesmen itu tidak lebih dari 10 poin. Artinya, murid mampu melakukan asesmen diri dan teman dengan objektif.

Namun, saat ditelurusi lebih lanjut, ada hal menarik yang ditemukan. Di awal, saat pelaksanaan program ini, memang disampaikan kepada mereka bahwa hasil asesmen yang mereka buat tidak akan memengaruhi nilai mereka pada suatu mata pelajaran. Saat ditanya, apakah mereka akan melakukan hal yang sama apabila diminta melakukan hal serupa oleh guru? Mereka menjawab dengan ragu. Ragu akan memberikan jawaban dengan tingkat kejujuran serupa. Ini memberikan pesan tersirat tentang kekhawatiran tentang relasi kuasa guru di dalam kelas. Apalagi, saat diminta untuk memberikan umpan balik perbaikan proses pembelajaran kepada guru, mereka makin ragu.

Sampai di dini, dapat dimaknai bahwa, selain dengan persoalan meningkatkan self-awareness murid, guru punya andil amat penting soal keterlibatan murid dalam asesmen pembelajaran. Salah satu siasat dalam hal ini adalah membuat kesepakatan kelas. Guru dan murid membangun kesepakatan bahwa keterlibatan murid dalam asesmen pembelajaran semata-mata untuk meningkatkan objektivitas asesmen. Tentu, yang akhirnya bermuara pada peningkatan kualitas proses dan hasil pembelajaran. Tanpa ada pengaruh atau pertimbangan lain. Tanpa relasi kuasa, apalagi sentimen personal. [T]

Refleksi Hari Pendidikan Nasional: Melihat Realitas Pendidikan Lebih Dekat dan Nyata
Guru Pengerak, “Transformasi dari Guru Mengajar Menjadi Guru Belajar”
Pendidikan Inklusi : Realitas dan Problematikanya
Tags: Pendidikansekolahsiswa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pasih Kangin Desa Adat Kedonganan: Dulu “Leke-leke”, Kini Jadi Incaran   

Next Post

PALESTIVAL 2024: Merayakan Budaya, Sebuah Bangsa, dan Tanahnya

Made Surya Hermawan

Made Surya Hermawan

Lahir di Denpasar, 7 Oktober 1993, tinggal di Kuta, Bali. Lulusan Jurusan Pendidikan Biologi Undiksha, Singaraja, 2015. Gemar mendengar cerita politik dan senang berorganisasi. Setleah menamatkan studi pascasarjana di Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Negeri Malang, ia mengabdikan ilmunya dengan jadi guru.

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
PALESTIVAL 2024: Merayakan Budaya, Sebuah Bangsa, dan Tanahnya

PALESTIVAL 2024: Merayakan Budaya, Sebuah Bangsa, dan Tanahnya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co