26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Murid, Kaca Mata Tambahan Guru dalam Asesmen Pembelajaran

Made Surya Hermawan by Made Surya Hermawan
September 28, 2024
in Esai
Murid, Kaca Mata Tambahan Guru dalam Asesmen Pembelajaran

Foto: Surya Hermawan

DULUNYA, dalam praktik pendidikan Indonesia, penilaian pembelajaran atau yang saat ini disebut asesmen merupakan domain guru. Guru memiliki keleluasaan untuk menilai kemajuan proses dan hasil belajar murid. Murid sendiri, dalam hal ini, sebatas objek yang dinilai. Murid tidak memiliki keleluasaan yang cukup untuk memberikan sanggahan, atau setidaknya masukan, atas penilaian yang diberikan kepadanya. Kondisi ini secara substansi sebenarnya bukan sesuatu yang ideal. Atau, bukan hal yang baik-baik saja. Sebab, bagaimanapun juga, guru juga manusia. Ya kalau penilaian itu benar adanya, tidak jadi persoalan. Tapi, kalau penilaian itu tidak sebagaimana seharusnya, celaka. Tak ada ruang untuk mengajukan banding. Hingga hari ini setelah implementasi kurikulum pendidikan yang baru, Kurikulum Merdeka, cerita-cerita lama itu secara substansi coba untuk diubah ke arah yang lebih progresif.

Seperti namanya, dalam kurikulum ini, murid-murid diarahkan menjadi sosok yang lebih merdeka. Atau, setidaknya lebih terlibat dalam pembelajaran. Bukan sekadar aktif di kelas, tetapi lebih jauh terlibat dalam perancangan dan asesmen pembelajaran. Tujuannya jelas, agar murid-murid benar menjadi subjek pembelajaran yang akan mengembangkan potensi sesuai kodratnya seperti kata Ki Hadjar Dewantara.

Keterlibatan murid dalam asesmen pembelajaran akan memberikan gambaran objektivitas dan validitas yang lebih menyeluruh tentang proses dan hasil belajar. Asesmen yang awalnya hanya dilihat dari perspektif guru, kini meluas. Perspektif murid sebagai dirinya sendiri dan sebagai teman murid lainnya juga diperhitungkan. Keterlibatan ini adalah kaca mata tambahan bagi guru untuk melihat murid dengan sudut pandang lebih banyak. Harapannya, gambaran proses dan hasil belajar seorang murid menjadi semakin objektif dan tidak bias. Objektivitas dan validitas itu akan membawa guru pada jalan yang tepat dalam menentukan tindak lanjut pembelajaran. Di samping itu, keterlibatan murid juga berfungsi untuk memberikan umpan balik perbaikan proses pembelajaran, yang harus diakui selama ini jarang terjadi.

Foto: Surya Hermawan

Faktanya, melibatkan murid dalam asesmen pembelajaran bukan perkara mudah. Setidaknya ada dua tantangan besar di dalamnya. Anggapan dan objektivitas murid. Selama ini, akibat kebiasaan yang berlangsung sekian lama, murid beranggapan bahwa asesmen pembelajaran adalah domain guru. Hal itu menyebabkan terjadinya kecanggungan murid saat mereka dilibatkan dalam proses asesmen. Selain canggung, murid juga beranggapan bahwa asesmen yang mereka lakukan hanya sebatas formalitas. Tanpa memberikan dampak signifikan dalam proses maupun hasil belajar mereka. Sampai di sini, dapat dimaknai bahwa mereka belum sepenuhnya memahami esensi keterlibatannya dalam asesmen pembelajaran.

Berikutnya, beberapa temuan ilmiah juga menyebutkan salah satu kendala melibatkan murid dalam asesmen adalah objektivitas. Sebabnya, banyak dari mereka yang memberikan penilaian berdasarkan harapan mereka, bukan berbasis kenyataan. Kekhawatiran memberikan penilaian yang objektif muncul akibat dua hal. Banyak murid yang tidak ingin diketahui bisa atau tidak bisa oleh orang lain sehingga mereka enggan mengakui keadaan mereka yang sebenarnya. Para murid juga cenderung subjektif saat menilai temannya berdasarkan kedekatan hubungan pertemanannya. Mereka khawatir saat mereka memberikan penilaian yang tidak baik, meskipun faktanya memang tidak baik, kepada temannya akan merusak hubungan pertemanan mereka.

Kedua tantangan itu bermuara pada self-awareness. Self-awareness boleh diterjemahkan secara sederhana sebagai kemampuan mengenal diri secara objektif. Mengenal kekuatan dan kelemahan diri dan berani secara ikhlas mengakuinya.

Di Bali, khususnya SMAN 1 Blahbatuh, hal serupa juga terjadi. Untuk itu, di tahun 2024, dilaksanakan Program Pengabdian kepada Masyarakat dengan skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat (PBM) yang jadi bagian solusi dari permasalahan itu. Program yang digagas oleh I Made Surya Hermawan, I Made Diarta, dan Kade Sathya Gita Rismawan dari Universitas Mahasaraswati Denpasar dan Universitas Pendidikan Ganesha ini didanai oleh Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Riset dan Teknologi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi.

Ada empat kegiatan utama dalam pelaksanaan program ini. Pertama, para murid dikenalkan dengan kebijakan asesmen Kurikulum Merdeka dan keterlibatan murid di dalamnya. Mereka selanjutnya dilatih untuk meningkatkan self-awareness melalui cognitive behaviour therapy.  Setelah itu, murid dilatih untuk melakukan asesmen diri, teman, dan menyusun refleksi diri. Di akhir kegiatan, mereka melakukan asesmen itu pada aplikasi berbasis web yang juga dikembangkan dalam program ini.

Selama kegiatan, kejujuran murid adalah modal utama. Kabar baiknya, mereka melakukannya dengan cakap. Kejujuran mereka itu diuji dengan teknik confirmation score. Teknik membandingkan hasil asesmen diri dan asesmen teman yang telah dikuantifikasi. Hasilnya memuaskan. Selisihnya skor antara kedua asesmen itu tidak lebih dari 10 poin. Artinya, murid mampu melakukan asesmen diri dan teman dengan objektif.

Namun, saat ditelurusi lebih lanjut, ada hal menarik yang ditemukan. Di awal, saat pelaksanaan program ini, memang disampaikan kepada mereka bahwa hasil asesmen yang mereka buat tidak akan memengaruhi nilai mereka pada suatu mata pelajaran. Saat ditanya, apakah mereka akan melakukan hal yang sama apabila diminta melakukan hal serupa oleh guru? Mereka menjawab dengan ragu. Ragu akan memberikan jawaban dengan tingkat kejujuran serupa. Ini memberikan pesan tersirat tentang kekhawatiran tentang relasi kuasa guru di dalam kelas. Apalagi, saat diminta untuk memberikan umpan balik perbaikan proses pembelajaran kepada guru, mereka makin ragu.

Sampai di dini, dapat dimaknai bahwa, selain dengan persoalan meningkatkan self-awareness murid, guru punya andil amat penting soal keterlibatan murid dalam asesmen pembelajaran. Salah satu siasat dalam hal ini adalah membuat kesepakatan kelas. Guru dan murid membangun kesepakatan bahwa keterlibatan murid dalam asesmen pembelajaran semata-mata untuk meningkatkan objektivitas asesmen. Tentu, yang akhirnya bermuara pada peningkatan kualitas proses dan hasil pembelajaran. Tanpa ada pengaruh atau pertimbangan lain. Tanpa relasi kuasa, apalagi sentimen personal. [T]

Refleksi Hari Pendidikan Nasional: Melihat Realitas Pendidikan Lebih Dekat dan Nyata
Guru Pengerak, “Transformasi dari Guru Mengajar Menjadi Guru Belajar”
Pendidikan Inklusi : Realitas dan Problematikanya
Tags: Pendidikansekolahsiswa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pasih Kangin Desa Adat Kedonganan: Dulu “Leke-leke”, Kini Jadi Incaran   

Next Post

PALESTIVAL 2024: Merayakan Budaya, Sebuah Bangsa, dan Tanahnya

Made Surya Hermawan

Made Surya Hermawan

Lahir di Denpasar, 7 Oktober 1993, tinggal di Kuta, Bali. Lulusan Jurusan Pendidikan Biologi Undiksha, Singaraja, 2015. Gemar mendengar cerita politik dan senang berorganisasi. Setleah menamatkan studi pascasarjana di Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Negeri Malang, ia mengabdikan ilmunya dengan jadi guru.

Related Posts

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails
Next Post
PALESTIVAL 2024: Merayakan Budaya, Sebuah Bangsa, dan Tanahnya

PALESTIVAL 2024: Merayakan Budaya, Sebuah Bangsa, dan Tanahnya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co