24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Murid, Kaca Mata Tambahan Guru dalam Asesmen Pembelajaran

Made Surya Hermawan by Made Surya Hermawan
September 28, 2024
in Esai
Murid, Kaca Mata Tambahan Guru dalam Asesmen Pembelajaran

Foto: Surya Hermawan

DULUNYA, dalam praktik pendidikan Indonesia, penilaian pembelajaran atau yang saat ini disebut asesmen merupakan domain guru. Guru memiliki keleluasaan untuk menilai kemajuan proses dan hasil belajar murid. Murid sendiri, dalam hal ini, sebatas objek yang dinilai. Murid tidak memiliki keleluasaan yang cukup untuk memberikan sanggahan, atau setidaknya masukan, atas penilaian yang diberikan kepadanya. Kondisi ini secara substansi sebenarnya bukan sesuatu yang ideal. Atau, bukan hal yang baik-baik saja. Sebab, bagaimanapun juga, guru juga manusia. Ya kalau penilaian itu benar adanya, tidak jadi persoalan. Tapi, kalau penilaian itu tidak sebagaimana seharusnya, celaka. Tak ada ruang untuk mengajukan banding. Hingga hari ini setelah implementasi kurikulum pendidikan yang baru, Kurikulum Merdeka, cerita-cerita lama itu secara substansi coba untuk diubah ke arah yang lebih progresif.

Seperti namanya, dalam kurikulum ini, murid-murid diarahkan menjadi sosok yang lebih merdeka. Atau, setidaknya lebih terlibat dalam pembelajaran. Bukan sekadar aktif di kelas, tetapi lebih jauh terlibat dalam perancangan dan asesmen pembelajaran. Tujuannya jelas, agar murid-murid benar menjadi subjek pembelajaran yang akan mengembangkan potensi sesuai kodratnya seperti kata Ki Hadjar Dewantara.

Keterlibatan murid dalam asesmen pembelajaran akan memberikan gambaran objektivitas dan validitas yang lebih menyeluruh tentang proses dan hasil belajar. Asesmen yang awalnya hanya dilihat dari perspektif guru, kini meluas. Perspektif murid sebagai dirinya sendiri dan sebagai teman murid lainnya juga diperhitungkan. Keterlibatan ini adalah kaca mata tambahan bagi guru untuk melihat murid dengan sudut pandang lebih banyak. Harapannya, gambaran proses dan hasil belajar seorang murid menjadi semakin objektif dan tidak bias. Objektivitas dan validitas itu akan membawa guru pada jalan yang tepat dalam menentukan tindak lanjut pembelajaran. Di samping itu, keterlibatan murid juga berfungsi untuk memberikan umpan balik perbaikan proses pembelajaran, yang harus diakui selama ini jarang terjadi.

Foto: Surya Hermawan

Faktanya, melibatkan murid dalam asesmen pembelajaran bukan perkara mudah. Setidaknya ada dua tantangan besar di dalamnya. Anggapan dan objektivitas murid. Selama ini, akibat kebiasaan yang berlangsung sekian lama, murid beranggapan bahwa asesmen pembelajaran adalah domain guru. Hal itu menyebabkan terjadinya kecanggungan murid saat mereka dilibatkan dalam proses asesmen. Selain canggung, murid juga beranggapan bahwa asesmen yang mereka lakukan hanya sebatas formalitas. Tanpa memberikan dampak signifikan dalam proses maupun hasil belajar mereka. Sampai di sini, dapat dimaknai bahwa mereka belum sepenuhnya memahami esensi keterlibatannya dalam asesmen pembelajaran.

Berikutnya, beberapa temuan ilmiah juga menyebutkan salah satu kendala melibatkan murid dalam asesmen adalah objektivitas. Sebabnya, banyak dari mereka yang memberikan penilaian berdasarkan harapan mereka, bukan berbasis kenyataan. Kekhawatiran memberikan penilaian yang objektif muncul akibat dua hal. Banyak murid yang tidak ingin diketahui bisa atau tidak bisa oleh orang lain sehingga mereka enggan mengakui keadaan mereka yang sebenarnya. Para murid juga cenderung subjektif saat menilai temannya berdasarkan kedekatan hubungan pertemanannya. Mereka khawatir saat mereka memberikan penilaian yang tidak baik, meskipun faktanya memang tidak baik, kepada temannya akan merusak hubungan pertemanan mereka.

Kedua tantangan itu bermuara pada self-awareness. Self-awareness boleh diterjemahkan secara sederhana sebagai kemampuan mengenal diri secara objektif. Mengenal kekuatan dan kelemahan diri dan berani secara ikhlas mengakuinya.

Di Bali, khususnya SMAN 1 Blahbatuh, hal serupa juga terjadi. Untuk itu, di tahun 2024, dilaksanakan Program Pengabdian kepada Masyarakat dengan skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat (PBM) yang jadi bagian solusi dari permasalahan itu. Program yang digagas oleh I Made Surya Hermawan, I Made Diarta, dan Kade Sathya Gita Rismawan dari Universitas Mahasaraswati Denpasar dan Universitas Pendidikan Ganesha ini didanai oleh Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Riset dan Teknologi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi.

Ada empat kegiatan utama dalam pelaksanaan program ini. Pertama, para murid dikenalkan dengan kebijakan asesmen Kurikulum Merdeka dan keterlibatan murid di dalamnya. Mereka selanjutnya dilatih untuk meningkatkan self-awareness melalui cognitive behaviour therapy.  Setelah itu, murid dilatih untuk melakukan asesmen diri, teman, dan menyusun refleksi diri. Di akhir kegiatan, mereka melakukan asesmen itu pada aplikasi berbasis web yang juga dikembangkan dalam program ini.

Selama kegiatan, kejujuran murid adalah modal utama. Kabar baiknya, mereka melakukannya dengan cakap. Kejujuran mereka itu diuji dengan teknik confirmation score. Teknik membandingkan hasil asesmen diri dan asesmen teman yang telah dikuantifikasi. Hasilnya memuaskan. Selisihnya skor antara kedua asesmen itu tidak lebih dari 10 poin. Artinya, murid mampu melakukan asesmen diri dan teman dengan objektif.

Namun, saat ditelurusi lebih lanjut, ada hal menarik yang ditemukan. Di awal, saat pelaksanaan program ini, memang disampaikan kepada mereka bahwa hasil asesmen yang mereka buat tidak akan memengaruhi nilai mereka pada suatu mata pelajaran. Saat ditanya, apakah mereka akan melakukan hal yang sama apabila diminta melakukan hal serupa oleh guru? Mereka menjawab dengan ragu. Ragu akan memberikan jawaban dengan tingkat kejujuran serupa. Ini memberikan pesan tersirat tentang kekhawatiran tentang relasi kuasa guru di dalam kelas. Apalagi, saat diminta untuk memberikan umpan balik perbaikan proses pembelajaran kepada guru, mereka makin ragu.

Sampai di dini, dapat dimaknai bahwa, selain dengan persoalan meningkatkan self-awareness murid, guru punya andil amat penting soal keterlibatan murid dalam asesmen pembelajaran. Salah satu siasat dalam hal ini adalah membuat kesepakatan kelas. Guru dan murid membangun kesepakatan bahwa keterlibatan murid dalam asesmen pembelajaran semata-mata untuk meningkatkan objektivitas asesmen. Tentu, yang akhirnya bermuara pada peningkatan kualitas proses dan hasil pembelajaran. Tanpa ada pengaruh atau pertimbangan lain. Tanpa relasi kuasa, apalagi sentimen personal. [T]

Refleksi Hari Pendidikan Nasional: Melihat Realitas Pendidikan Lebih Dekat dan Nyata
Guru Pengerak, “Transformasi dari Guru Mengajar Menjadi Guru Belajar”
Pendidikan Inklusi : Realitas dan Problematikanya
Tags: Pendidikansekolahsiswa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pasih Kangin Desa Adat Kedonganan: Dulu “Leke-leke”, Kini Jadi Incaran   

Next Post

PALESTIVAL 2024: Merayakan Budaya, Sebuah Bangsa, dan Tanahnya

Made Surya Hermawan

Made Surya Hermawan

Lahir di Denpasar, 7 Oktober 1993, tinggal di Kuta, Bali. Lulusan Jurusan Pendidikan Biologi Undiksha, Singaraja, 2015. Gemar mendengar cerita politik dan senang berorganisasi. Setleah menamatkan studi pascasarjana di Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Negeri Malang, ia mengabdikan ilmunya dengan jadi guru.

Related Posts

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails
Next Post
PALESTIVAL 2024: Merayakan Budaya, Sebuah Bangsa, dan Tanahnya

PALESTIVAL 2024: Merayakan Budaya, Sebuah Bangsa, dan Tanahnya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

by Andre Syahreza
August 23, 2026
PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co