5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Murid, Kaca Mata Tambahan Guru dalam Asesmen Pembelajaran

Made Surya Hermawan by Made Surya Hermawan
September 28, 2024
in Esai
Murid, Kaca Mata Tambahan Guru dalam Asesmen Pembelajaran

Foto: Surya Hermawan

DULUNYA, dalam praktik pendidikan Indonesia, penilaian pembelajaran atau yang saat ini disebut asesmen merupakan domain guru. Guru memiliki keleluasaan untuk menilai kemajuan proses dan hasil belajar murid. Murid sendiri, dalam hal ini, sebatas objek yang dinilai. Murid tidak memiliki keleluasaan yang cukup untuk memberikan sanggahan, atau setidaknya masukan, atas penilaian yang diberikan kepadanya. Kondisi ini secara substansi sebenarnya bukan sesuatu yang ideal. Atau, bukan hal yang baik-baik saja. Sebab, bagaimanapun juga, guru juga manusia. Ya kalau penilaian itu benar adanya, tidak jadi persoalan. Tapi, kalau penilaian itu tidak sebagaimana seharusnya, celaka. Tak ada ruang untuk mengajukan banding. Hingga hari ini setelah implementasi kurikulum pendidikan yang baru, Kurikulum Merdeka, cerita-cerita lama itu secara substansi coba untuk diubah ke arah yang lebih progresif.

Seperti namanya, dalam kurikulum ini, murid-murid diarahkan menjadi sosok yang lebih merdeka. Atau, setidaknya lebih terlibat dalam pembelajaran. Bukan sekadar aktif di kelas, tetapi lebih jauh terlibat dalam perancangan dan asesmen pembelajaran. Tujuannya jelas, agar murid-murid benar menjadi subjek pembelajaran yang akan mengembangkan potensi sesuai kodratnya seperti kata Ki Hadjar Dewantara.

Keterlibatan murid dalam asesmen pembelajaran akan memberikan gambaran objektivitas dan validitas yang lebih menyeluruh tentang proses dan hasil belajar. Asesmen yang awalnya hanya dilihat dari perspektif guru, kini meluas. Perspektif murid sebagai dirinya sendiri dan sebagai teman murid lainnya juga diperhitungkan. Keterlibatan ini adalah kaca mata tambahan bagi guru untuk melihat murid dengan sudut pandang lebih banyak. Harapannya, gambaran proses dan hasil belajar seorang murid menjadi semakin objektif dan tidak bias. Objektivitas dan validitas itu akan membawa guru pada jalan yang tepat dalam menentukan tindak lanjut pembelajaran. Di samping itu, keterlibatan murid juga berfungsi untuk memberikan umpan balik perbaikan proses pembelajaran, yang harus diakui selama ini jarang terjadi.

Foto: Surya Hermawan

Faktanya, melibatkan murid dalam asesmen pembelajaran bukan perkara mudah. Setidaknya ada dua tantangan besar di dalamnya. Anggapan dan objektivitas murid. Selama ini, akibat kebiasaan yang berlangsung sekian lama, murid beranggapan bahwa asesmen pembelajaran adalah domain guru. Hal itu menyebabkan terjadinya kecanggungan murid saat mereka dilibatkan dalam proses asesmen. Selain canggung, murid juga beranggapan bahwa asesmen yang mereka lakukan hanya sebatas formalitas. Tanpa memberikan dampak signifikan dalam proses maupun hasil belajar mereka. Sampai di sini, dapat dimaknai bahwa mereka belum sepenuhnya memahami esensi keterlibatannya dalam asesmen pembelajaran.

Berikutnya, beberapa temuan ilmiah juga menyebutkan salah satu kendala melibatkan murid dalam asesmen adalah objektivitas. Sebabnya, banyak dari mereka yang memberikan penilaian berdasarkan harapan mereka, bukan berbasis kenyataan. Kekhawatiran memberikan penilaian yang objektif muncul akibat dua hal. Banyak murid yang tidak ingin diketahui bisa atau tidak bisa oleh orang lain sehingga mereka enggan mengakui keadaan mereka yang sebenarnya. Para murid juga cenderung subjektif saat menilai temannya berdasarkan kedekatan hubungan pertemanannya. Mereka khawatir saat mereka memberikan penilaian yang tidak baik, meskipun faktanya memang tidak baik, kepada temannya akan merusak hubungan pertemanan mereka.

Kedua tantangan itu bermuara pada self-awareness. Self-awareness boleh diterjemahkan secara sederhana sebagai kemampuan mengenal diri secara objektif. Mengenal kekuatan dan kelemahan diri dan berani secara ikhlas mengakuinya.

Di Bali, khususnya SMAN 1 Blahbatuh, hal serupa juga terjadi. Untuk itu, di tahun 2024, dilaksanakan Program Pengabdian kepada Masyarakat dengan skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat (PBM) yang jadi bagian solusi dari permasalahan itu. Program yang digagas oleh I Made Surya Hermawan, I Made Diarta, dan Kade Sathya Gita Rismawan dari Universitas Mahasaraswati Denpasar dan Universitas Pendidikan Ganesha ini didanai oleh Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Riset dan Teknologi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi.

Ada empat kegiatan utama dalam pelaksanaan program ini. Pertama, para murid dikenalkan dengan kebijakan asesmen Kurikulum Merdeka dan keterlibatan murid di dalamnya. Mereka selanjutnya dilatih untuk meningkatkan self-awareness melalui cognitive behaviour therapy.  Setelah itu, murid dilatih untuk melakukan asesmen diri, teman, dan menyusun refleksi diri. Di akhir kegiatan, mereka melakukan asesmen itu pada aplikasi berbasis web yang juga dikembangkan dalam program ini.

Selama kegiatan, kejujuran murid adalah modal utama. Kabar baiknya, mereka melakukannya dengan cakap. Kejujuran mereka itu diuji dengan teknik confirmation score. Teknik membandingkan hasil asesmen diri dan asesmen teman yang telah dikuantifikasi. Hasilnya memuaskan. Selisihnya skor antara kedua asesmen itu tidak lebih dari 10 poin. Artinya, murid mampu melakukan asesmen diri dan teman dengan objektif.

Namun, saat ditelurusi lebih lanjut, ada hal menarik yang ditemukan. Di awal, saat pelaksanaan program ini, memang disampaikan kepada mereka bahwa hasil asesmen yang mereka buat tidak akan memengaruhi nilai mereka pada suatu mata pelajaran. Saat ditanya, apakah mereka akan melakukan hal yang sama apabila diminta melakukan hal serupa oleh guru? Mereka menjawab dengan ragu. Ragu akan memberikan jawaban dengan tingkat kejujuran serupa. Ini memberikan pesan tersirat tentang kekhawatiran tentang relasi kuasa guru di dalam kelas. Apalagi, saat diminta untuk memberikan umpan balik perbaikan proses pembelajaran kepada guru, mereka makin ragu.

Sampai di dini, dapat dimaknai bahwa, selain dengan persoalan meningkatkan self-awareness murid, guru punya andil amat penting soal keterlibatan murid dalam asesmen pembelajaran. Salah satu siasat dalam hal ini adalah membuat kesepakatan kelas. Guru dan murid membangun kesepakatan bahwa keterlibatan murid dalam asesmen pembelajaran semata-mata untuk meningkatkan objektivitas asesmen. Tentu, yang akhirnya bermuara pada peningkatan kualitas proses dan hasil pembelajaran. Tanpa ada pengaruh atau pertimbangan lain. Tanpa relasi kuasa, apalagi sentimen personal. [T]

Refleksi Hari Pendidikan Nasional: Melihat Realitas Pendidikan Lebih Dekat dan Nyata
Guru Pengerak, “Transformasi dari Guru Mengajar Menjadi Guru Belajar”
Pendidikan Inklusi : Realitas dan Problematikanya
Tags: Pendidikansekolahsiswa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pasih Kangin Desa Adat Kedonganan: Dulu “Leke-leke”, Kini Jadi Incaran   

Next Post

PALESTIVAL 2024: Merayakan Budaya, Sebuah Bangsa, dan Tanahnya

Made Surya Hermawan

Made Surya Hermawan

Lahir di Denpasar, 7 Oktober 1993, tinggal di Kuta, Bali. Lulusan Jurusan Pendidikan Biologi Undiksha, Singaraja, 2015. Gemar mendengar cerita politik dan senang berorganisasi. Setleah menamatkan studi pascasarjana di Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Negeri Malang, ia mengabdikan ilmunya dengan jadi guru.

Related Posts

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails
Next Post
PALESTIVAL 2024: Merayakan Budaya, Sebuah Bangsa, dan Tanahnya

PALESTIVAL 2024: Merayakan Budaya, Sebuah Bangsa, dan Tanahnya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co