3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rumput Laut Delod Ceking, Nasibmu Kini   

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
September 14, 2024
in Esai
Rumput Laut Delod Ceking, Nasibmu Kini   

Pantai Pandawa tempat budaya rumput laut berubah jadi objek wisata (Foto : I Made Letra)

PADA mulanya, narasi Gumi Delod Ceking adalah narasi agraris dan maratim. Kawasan Kuta Selatan dan sekitarnya, sebelum 1980-an adalah abian bangkuang terkenal. Juwet, bekul, dan kem yang bikin kesemsem. Padi gaga yang membuat petani berjaga mengusir burung, pala bungkah (tanamanan berumbi) yang membuat senyum petani merekah dan palagantung (tanamann berbuah) yang membuat petani ingin untung. Muaranya kebutuhan pangan terpenuhi secara mandiri, ketika program ketahanan pangan belum dikenal.

Petani Delod Ceking tidak menggembar-gemborkan narasi, tetapi tetap makan nasi walaupun dengan campuran aneka produk agraris. Maka nasi jagung, nasi ubi, nasi sela pun dilahap. Bahkan di Desa Kutuh, orang-orang biasa makan nasi cacah, nasi bongkol biu, nasi bongkol gedang. Bahan makanan itu semua dari produk  berkearifan lokal melalui pemujaan tiada henti : mencangkul tanah. Tanah dipuja, disayang, dan dirangkul. Berbeda dengan kini, tanah ditendang berbuah sengketa.

Di sela-sela bertani, mereka juga menjadi nelayan tradisional dengan jukung sebagai sarana pemujaan menuju laut. Belakangan jukung berubah menjadi kano yang digunakan  sebagai alat transportasi membudidayakan rumput laut. Pada tahun 1980-an hingga 2010-an, nyaris 30 tahun lamanya, kawasan Pantai Geger di Banjar Sawangan Desa Adat Peminge  sampai Dauh Sawang Desa Adat Kutuh adalah pantai yang terkenal dengan hasil rumput lautnya.  Pantai Dauh Sawang adalah Pantai di sebelah Barat Sawang Melang yang kini lebih dikenal dengan nama Pantai Pandawa. Secara berkelakar Pantai Pandawa diakronimkan dengan Pantai Dauh Sawang, sebuah akronim berkearifan lokal. Okey juga, selain merujuk kepada kisah heroik peperangan keluarga Pandu melawan Korawa dalam kisah Mahabrata yang terkenal itu.

Begitulah nama pantai berubah telah mengubah pandangan masyarakatnya terhadap pekerjaan yang digeluti. Terjadinya perubahan drastis mata pencaharian penduduk dari petani rumput laut ke sektor jasa pariwisata berdampak pada makin kencangnya wacana pemberdayaan kepada petani rumput laut, kala itu. Apakah itu wacana basa-basi, entahlah.  Ditengarai  pihak pengusaha (investor) memang menginginkan laut bebas dari rumput laut karena dianggap mengganggu para wisatawan yang mandi dilaut. Apalagi petani rumput laut menanam rumput laut dengan menggunakan patok  dari besi yang menimbulkan ranjau. Membahayakan, pasti.

Di tengah cibiran itu,  wacana pun dibangun dan dimenangkan oleh pengusaha. Petani dikalahkan. Rumput laut tinggal kenangan. Inilah yang disebut relasi kuasa dalam Kajian Budaya.  Gramscy menyebut hegemoni kekuasaan. Dalam hal ini investor sebagai penguasa, pemilik modal berhadapan dengan petani rumput laut yang tiada berdaya : menyerah.

Beralihnya petani rumput laut ke sektor jasa pariwisata telah membuat perubahan pekerjaan dari budi daya rumput laut yang memilik ekapramana (bayu) ke budaya pariwisata yang berhubungan dengan manusia yang memiliki tripramana (sabda, bayu, idep). Bekerja membudidayakan  rumput laut  tiadalah protes. Petani bekerja tenang sambil mengisap rokok dan minum kopi. Disela-sela pekerjaan mereka berkelompok masih bisa bersiul dan bergurau. Mereka senang dalam guyub, tenang pula dengan hasil panen, walaupun kadang-kadang gagal panen karena ulah ikan-ikan nakal.

Hal sebaliknya terjadi ketika petani rumput laut beralih ke sektor jasa pariwisata menjadi pedagang. Bekerja melayani manusia yang memiliki tripramana (sabda, bayu,idep) yang beragam karakternya tidaklah mudah, Apalagi di antara mereka juga ada yang baik dan tidak baik. Bila tidak arif bijakasana melayani, pasti akan terjadi disharmoni akibat komunikasi yang destruktif. Mereka sering saling sindir bin nyinyir. Ini membuat pelaku pariwisata   sering stres karena protes bertubi-tubi. Paradok di tengah wacana Tri hita Karana. Begitulah pariwisata tampak gemilang di permukaan tetapi keropos di kedalaman.

Hal demikian diakui oleh petani rumput laut di Desa Adat Kutuh yang sebelumnya dikenal sebagai penghasil Rumput Laut terbaik kini tinggal kenangan. Bahkan Desa Adat Kutuh yang pada 2002 dimekarkan menjadi Desa Dinas berpisah dengan Desa Ungasan menjadikan rumput laut sebagai ikon yang membawanya menjadi Desa Juara Nasional (2009, 2011). Paduan rumput laut dan atraksi Paragliding yang mulai dikenal sejak 1990-an membuat Tim Penilai Lomba Desa Tingkat Nasional menggolkan Desa Kutuh sebagai bayi ajaib dengan kecepatan prestasi tinggi. Dengan kalimat lain, Desa Kutuh berhutang budi pada rumput laut. Jejakmu masih terlacak tetapi pantaimu kini makin teracak membuat kera-kera yang setia menjadi penghunimu migrasi memasuki rumah-rumah penduduk. Inilah dampak membelah tebing untuk mengais dolar.

Pantai Pandawa yang makin dikenal sebagai objek wisata yang dikelola dengan model Pariwisata Berbasis Masyarakat, kini telah meninggalkan budi daya rumput laut yang terkenal itu. Padahal, saat lomba Desa Tingkat Nasional, para petani juga diajarkan mengolah rumput laut menjadi makanan (pudding, agar-agar) selain menjadi kosmetik. Hasilnya pun menjanjikan dan tetamu serta tim penilai memujinya sebagai inovasi dan kreativitas petani rumput laut tidak hanya sebagai pembudidaya, tetapi juga mengolah pascapanen. Hasilnya nyata bagi kemajuan desa dan bagi kesejahteraan masyarakat petani.

Pada 2014 – 2019 ketika menjadi Panyarikan Desa Adat Kutuh, sekaligus menjadi Pembina Kawasan Pantai Pandawa, saya berkesempatan ngobrol dengan para pedagang di Pantai Pandawa. Katanya, pada masa jayanya rumput laut, petani rumput laut masih bisa menabung setiap bulan untuk menyekolahkan anak-anaknya, selain untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari termasuk untuk manyama braya dan melaksanakan ritual keagamaan. Setelah berubah profesi menjadi pedagang, masa jaya itu kini tinggal kenangan dengan tatapan mata kosong. Begitulah pariwisata, gemerlap di permukaan, keropos di kedalaman.

Nasi sudah menjadi bubur, tidak mungkin kembali dinasikan.  Padahal awal Pantai Pandawa dijadikan objek wisata, Prajuru Desa Adat Kutuh (2014 – 2019) dengan Bandesa I Made Wena  sudah menawarkan program pemberdayaan petani rumput laut dengan menjadi warga binaan dibiayai desa adat. Tawaran itu tidak mendapat respon masyarakat petani. Ide besarnya, adalah petani rumput laut penjadi pemanis bagi wisatawan yang berkunjung. Ibarat vila yang menyajikan keseruan petani di sawah menghijau. Begitu pula, nelayan menjadi etalase laut bagi wisatawan menikmati panorama pantai. Jika itu berhasil dikembangkan, selain menjadi ciri pemerlain kawasan wisata, juga merawat peradaban maritim secara hakiki. Inilah sesungguhnya pariwisata berkelanjutan yang mutualistik.

Begitulah nasib petani rumput laut. Dulu berjaya, kini mati tiada berdaya dimakan gaya. Rumput laut tinggal kenangan. Itulah nasibmu kini! [T]

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

Di Puncak Tegeh Buhu  
Desa Adat  Kutuh Sebagai Desa Pemancar 
Di Puncak Tegeh Kaman 
Sumur Peradaban Itu Bernama “Suukan”
Bak Inpres dan Cubang Air di Gumi Delod Ceking   
“Bangbang” di Gumi Delod Ceking   
Gumi Delod Ceking dan Dadu yang Terbalik
Berguru ke “Ngampan” Delod Ceking  
Antara Pura Gunung Payung dan Pura Batu Pageh  

Tags: Gumi Delod Cekingkuta selatanNusa DuaPantai Pandawarumput laut
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ada Ratusan Film Pendek dari Berbagai Negara di Minikino Film Week 2024

Next Post

Puisi-puisi Fathurrozi Nuril Furqon | Kelahiran Joko Tole

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Fathurrozi Nuril Furqon | Kelahiran Joko Tole

Puisi-puisi Fathurrozi Nuril Furqon | Kelahiran Joko Tole

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co