2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rumput Laut Delod Ceking, Nasibmu Kini   

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
September 14, 2024
in Esai
Rumput Laut Delod Ceking, Nasibmu Kini   

Pantai Pandawa tempat budaya rumput laut berubah jadi objek wisata (Foto : I Made Letra)

PADA mulanya, narasi Gumi Delod Ceking adalah narasi agraris dan maratim. Kawasan Kuta Selatan dan sekitarnya, sebelum 1980-an adalah abian bangkuang terkenal. Juwet, bekul, dan kem yang bikin kesemsem. Padi gaga yang membuat petani berjaga mengusir burung, pala bungkah (tanamanan berumbi) yang membuat senyum petani merekah dan palagantung (tanamann berbuah) yang membuat petani ingin untung. Muaranya kebutuhan pangan terpenuhi secara mandiri, ketika program ketahanan pangan belum dikenal.

Petani Delod Ceking tidak menggembar-gemborkan narasi, tetapi tetap makan nasi walaupun dengan campuran aneka produk agraris. Maka nasi jagung, nasi ubi, nasi sela pun dilahap. Bahkan di Desa Kutuh, orang-orang biasa makan nasi cacah, nasi bongkol biu, nasi bongkol gedang. Bahan makanan itu semua dari produk  berkearifan lokal melalui pemujaan tiada henti : mencangkul tanah. Tanah dipuja, disayang, dan dirangkul. Berbeda dengan kini, tanah ditendang berbuah sengketa.

Di sela-sela bertani, mereka juga menjadi nelayan tradisional dengan jukung sebagai sarana pemujaan menuju laut. Belakangan jukung berubah menjadi kano yang digunakan  sebagai alat transportasi membudidayakan rumput laut. Pada tahun 1980-an hingga 2010-an, nyaris 30 tahun lamanya, kawasan Pantai Geger di Banjar Sawangan Desa Adat Peminge  sampai Dauh Sawang Desa Adat Kutuh adalah pantai yang terkenal dengan hasil rumput lautnya.  Pantai Dauh Sawang adalah Pantai di sebelah Barat Sawang Melang yang kini lebih dikenal dengan nama Pantai Pandawa. Secara berkelakar Pantai Pandawa diakronimkan dengan Pantai Dauh Sawang, sebuah akronim berkearifan lokal. Okey juga, selain merujuk kepada kisah heroik peperangan keluarga Pandu melawan Korawa dalam kisah Mahabrata yang terkenal itu.

Begitulah nama pantai berubah telah mengubah pandangan masyarakatnya terhadap pekerjaan yang digeluti. Terjadinya perubahan drastis mata pencaharian penduduk dari petani rumput laut ke sektor jasa pariwisata berdampak pada makin kencangnya wacana pemberdayaan kepada petani rumput laut, kala itu. Apakah itu wacana basa-basi, entahlah.  Ditengarai  pihak pengusaha (investor) memang menginginkan laut bebas dari rumput laut karena dianggap mengganggu para wisatawan yang mandi dilaut. Apalagi petani rumput laut menanam rumput laut dengan menggunakan patok  dari besi yang menimbulkan ranjau. Membahayakan, pasti.

Di tengah cibiran itu,  wacana pun dibangun dan dimenangkan oleh pengusaha. Petani dikalahkan. Rumput laut tinggal kenangan. Inilah yang disebut relasi kuasa dalam Kajian Budaya.  Gramscy menyebut hegemoni kekuasaan. Dalam hal ini investor sebagai penguasa, pemilik modal berhadapan dengan petani rumput laut yang tiada berdaya : menyerah.

Beralihnya petani rumput laut ke sektor jasa pariwisata telah membuat perubahan pekerjaan dari budi daya rumput laut yang memilik ekapramana (bayu) ke budaya pariwisata yang berhubungan dengan manusia yang memiliki tripramana (sabda, bayu, idep). Bekerja membudidayakan  rumput laut  tiadalah protes. Petani bekerja tenang sambil mengisap rokok dan minum kopi. Disela-sela pekerjaan mereka berkelompok masih bisa bersiul dan bergurau. Mereka senang dalam guyub, tenang pula dengan hasil panen, walaupun kadang-kadang gagal panen karena ulah ikan-ikan nakal.

Hal sebaliknya terjadi ketika petani rumput laut beralih ke sektor jasa pariwisata menjadi pedagang. Bekerja melayani manusia yang memiliki tripramana (sabda, bayu,idep) yang beragam karakternya tidaklah mudah, Apalagi di antara mereka juga ada yang baik dan tidak baik. Bila tidak arif bijakasana melayani, pasti akan terjadi disharmoni akibat komunikasi yang destruktif. Mereka sering saling sindir bin nyinyir. Ini membuat pelaku pariwisata   sering stres karena protes bertubi-tubi. Paradok di tengah wacana Tri hita Karana. Begitulah pariwisata tampak gemilang di permukaan tetapi keropos di kedalaman.

Hal demikian diakui oleh petani rumput laut di Desa Adat Kutuh yang sebelumnya dikenal sebagai penghasil Rumput Laut terbaik kini tinggal kenangan. Bahkan Desa Adat Kutuh yang pada 2002 dimekarkan menjadi Desa Dinas berpisah dengan Desa Ungasan menjadikan rumput laut sebagai ikon yang membawanya menjadi Desa Juara Nasional (2009, 2011). Paduan rumput laut dan atraksi Paragliding yang mulai dikenal sejak 1990-an membuat Tim Penilai Lomba Desa Tingkat Nasional menggolkan Desa Kutuh sebagai bayi ajaib dengan kecepatan prestasi tinggi. Dengan kalimat lain, Desa Kutuh berhutang budi pada rumput laut. Jejakmu masih terlacak tetapi pantaimu kini makin teracak membuat kera-kera yang setia menjadi penghunimu migrasi memasuki rumah-rumah penduduk. Inilah dampak membelah tebing untuk mengais dolar.

Pantai Pandawa yang makin dikenal sebagai objek wisata yang dikelola dengan model Pariwisata Berbasis Masyarakat, kini telah meninggalkan budi daya rumput laut yang terkenal itu. Padahal, saat lomba Desa Tingkat Nasional, para petani juga diajarkan mengolah rumput laut menjadi makanan (pudding, agar-agar) selain menjadi kosmetik. Hasilnya pun menjanjikan dan tetamu serta tim penilai memujinya sebagai inovasi dan kreativitas petani rumput laut tidak hanya sebagai pembudidaya, tetapi juga mengolah pascapanen. Hasilnya nyata bagi kemajuan desa dan bagi kesejahteraan masyarakat petani.

Pada 2014 – 2019 ketika menjadi Panyarikan Desa Adat Kutuh, sekaligus menjadi Pembina Kawasan Pantai Pandawa, saya berkesempatan ngobrol dengan para pedagang di Pantai Pandawa. Katanya, pada masa jayanya rumput laut, petani rumput laut masih bisa menabung setiap bulan untuk menyekolahkan anak-anaknya, selain untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari termasuk untuk manyama braya dan melaksanakan ritual keagamaan. Setelah berubah profesi menjadi pedagang, masa jaya itu kini tinggal kenangan dengan tatapan mata kosong. Begitulah pariwisata, gemerlap di permukaan, keropos di kedalaman.

Nasi sudah menjadi bubur, tidak mungkin kembali dinasikan.  Padahal awal Pantai Pandawa dijadikan objek wisata, Prajuru Desa Adat Kutuh (2014 – 2019) dengan Bandesa I Made Wena  sudah menawarkan program pemberdayaan petani rumput laut dengan menjadi warga binaan dibiayai desa adat. Tawaran itu tidak mendapat respon masyarakat petani. Ide besarnya, adalah petani rumput laut penjadi pemanis bagi wisatawan yang berkunjung. Ibarat vila yang menyajikan keseruan petani di sawah menghijau. Begitu pula, nelayan menjadi etalase laut bagi wisatawan menikmati panorama pantai. Jika itu berhasil dikembangkan, selain menjadi ciri pemerlain kawasan wisata, juga merawat peradaban maritim secara hakiki. Inilah sesungguhnya pariwisata berkelanjutan yang mutualistik.

Begitulah nasib petani rumput laut. Dulu berjaya, kini mati tiada berdaya dimakan gaya. Rumput laut tinggal kenangan. Itulah nasibmu kini! [T]

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

Di Puncak Tegeh Buhu  
Desa Adat  Kutuh Sebagai Desa Pemancar 
Di Puncak Tegeh Kaman 
Sumur Peradaban Itu Bernama “Suukan”
Bak Inpres dan Cubang Air di Gumi Delod Ceking   
“Bangbang” di Gumi Delod Ceking   
Gumi Delod Ceking dan Dadu yang Terbalik
Berguru ke “Ngampan” Delod Ceking  
Antara Pura Gunung Payung dan Pura Batu Pageh  

Tags: Gumi Delod Cekingkuta selatanNusa DuaPantai Pandawarumput laut
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ada Ratusan Film Pendek dari Berbagai Negara di Minikino Film Week 2024

Next Post

Puisi-puisi Fathurrozi Nuril Furqon | Kelahiran Joko Tole

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Fathurrozi Nuril Furqon | Kelahiran Joko Tole

Puisi-puisi Fathurrozi Nuril Furqon | Kelahiran Joko Tole

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co