23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rumput Laut Delod Ceking, Nasibmu Kini   

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
September 14, 2024
in Esai
Rumput Laut Delod Ceking, Nasibmu Kini   

Pantai Pandawa tempat budaya rumput laut berubah jadi objek wisata (Foto : I Made Letra)

PADA mulanya, narasi Gumi Delod Ceking adalah narasi agraris dan maratim. Kawasan Kuta Selatan dan sekitarnya, sebelum 1980-an adalah abian bangkuang terkenal. Juwet, bekul, dan kem yang bikin kesemsem. Padi gaga yang membuat petani berjaga mengusir burung, pala bungkah (tanamanan berumbi) yang membuat senyum petani merekah dan palagantung (tanamann berbuah) yang membuat petani ingin untung. Muaranya kebutuhan pangan terpenuhi secara mandiri, ketika program ketahanan pangan belum dikenal.

Petani Delod Ceking tidak menggembar-gemborkan narasi, tetapi tetap makan nasi walaupun dengan campuran aneka produk agraris. Maka nasi jagung, nasi ubi, nasi sela pun dilahap. Bahkan di Desa Kutuh, orang-orang biasa makan nasi cacah, nasi bongkol biu, nasi bongkol gedang. Bahan makanan itu semua dari produk  berkearifan lokal melalui pemujaan tiada henti : mencangkul tanah. Tanah dipuja, disayang, dan dirangkul. Berbeda dengan kini, tanah ditendang berbuah sengketa.

Di sela-sela bertani, mereka juga menjadi nelayan tradisional dengan jukung sebagai sarana pemujaan menuju laut. Belakangan jukung berubah menjadi kano yang digunakan  sebagai alat transportasi membudidayakan rumput laut. Pada tahun 1980-an hingga 2010-an, nyaris 30 tahun lamanya, kawasan Pantai Geger di Banjar Sawangan Desa Adat Peminge  sampai Dauh Sawang Desa Adat Kutuh adalah pantai yang terkenal dengan hasil rumput lautnya.  Pantai Dauh Sawang adalah Pantai di sebelah Barat Sawang Melang yang kini lebih dikenal dengan nama Pantai Pandawa. Secara berkelakar Pantai Pandawa diakronimkan dengan Pantai Dauh Sawang, sebuah akronim berkearifan lokal. Okey juga, selain merujuk kepada kisah heroik peperangan keluarga Pandu melawan Korawa dalam kisah Mahabrata yang terkenal itu.

Begitulah nama pantai berubah telah mengubah pandangan masyarakatnya terhadap pekerjaan yang digeluti. Terjadinya perubahan drastis mata pencaharian penduduk dari petani rumput laut ke sektor jasa pariwisata berdampak pada makin kencangnya wacana pemberdayaan kepada petani rumput laut, kala itu. Apakah itu wacana basa-basi, entahlah.  Ditengarai  pihak pengusaha (investor) memang menginginkan laut bebas dari rumput laut karena dianggap mengganggu para wisatawan yang mandi dilaut. Apalagi petani rumput laut menanam rumput laut dengan menggunakan patok  dari besi yang menimbulkan ranjau. Membahayakan, pasti.

Di tengah cibiran itu,  wacana pun dibangun dan dimenangkan oleh pengusaha. Petani dikalahkan. Rumput laut tinggal kenangan. Inilah yang disebut relasi kuasa dalam Kajian Budaya.  Gramscy menyebut hegemoni kekuasaan. Dalam hal ini investor sebagai penguasa, pemilik modal berhadapan dengan petani rumput laut yang tiada berdaya : menyerah.

Beralihnya petani rumput laut ke sektor jasa pariwisata telah membuat perubahan pekerjaan dari budi daya rumput laut yang memilik ekapramana (bayu) ke budaya pariwisata yang berhubungan dengan manusia yang memiliki tripramana (sabda, bayu, idep). Bekerja membudidayakan  rumput laut  tiadalah protes. Petani bekerja tenang sambil mengisap rokok dan minum kopi. Disela-sela pekerjaan mereka berkelompok masih bisa bersiul dan bergurau. Mereka senang dalam guyub, tenang pula dengan hasil panen, walaupun kadang-kadang gagal panen karena ulah ikan-ikan nakal.

Hal sebaliknya terjadi ketika petani rumput laut beralih ke sektor jasa pariwisata menjadi pedagang. Bekerja melayani manusia yang memiliki tripramana (sabda, bayu,idep) yang beragam karakternya tidaklah mudah, Apalagi di antara mereka juga ada yang baik dan tidak baik. Bila tidak arif bijakasana melayani, pasti akan terjadi disharmoni akibat komunikasi yang destruktif. Mereka sering saling sindir bin nyinyir. Ini membuat pelaku pariwisata   sering stres karena protes bertubi-tubi. Paradok di tengah wacana Tri hita Karana. Begitulah pariwisata tampak gemilang di permukaan tetapi keropos di kedalaman.

Hal demikian diakui oleh petani rumput laut di Desa Adat Kutuh yang sebelumnya dikenal sebagai penghasil Rumput Laut terbaik kini tinggal kenangan. Bahkan Desa Adat Kutuh yang pada 2002 dimekarkan menjadi Desa Dinas berpisah dengan Desa Ungasan menjadikan rumput laut sebagai ikon yang membawanya menjadi Desa Juara Nasional (2009, 2011). Paduan rumput laut dan atraksi Paragliding yang mulai dikenal sejak 1990-an membuat Tim Penilai Lomba Desa Tingkat Nasional menggolkan Desa Kutuh sebagai bayi ajaib dengan kecepatan prestasi tinggi. Dengan kalimat lain, Desa Kutuh berhutang budi pada rumput laut. Jejakmu masih terlacak tetapi pantaimu kini makin teracak membuat kera-kera yang setia menjadi penghunimu migrasi memasuki rumah-rumah penduduk. Inilah dampak membelah tebing untuk mengais dolar.

Pantai Pandawa yang makin dikenal sebagai objek wisata yang dikelola dengan model Pariwisata Berbasis Masyarakat, kini telah meninggalkan budi daya rumput laut yang terkenal itu. Padahal, saat lomba Desa Tingkat Nasional, para petani juga diajarkan mengolah rumput laut menjadi makanan (pudding, agar-agar) selain menjadi kosmetik. Hasilnya pun menjanjikan dan tetamu serta tim penilai memujinya sebagai inovasi dan kreativitas petani rumput laut tidak hanya sebagai pembudidaya, tetapi juga mengolah pascapanen. Hasilnya nyata bagi kemajuan desa dan bagi kesejahteraan masyarakat petani.

Pada 2014 – 2019 ketika menjadi Panyarikan Desa Adat Kutuh, sekaligus menjadi Pembina Kawasan Pantai Pandawa, saya berkesempatan ngobrol dengan para pedagang di Pantai Pandawa. Katanya, pada masa jayanya rumput laut, petani rumput laut masih bisa menabung setiap bulan untuk menyekolahkan anak-anaknya, selain untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari termasuk untuk manyama braya dan melaksanakan ritual keagamaan. Setelah berubah profesi menjadi pedagang, masa jaya itu kini tinggal kenangan dengan tatapan mata kosong. Begitulah pariwisata, gemerlap di permukaan, keropos di kedalaman.

Nasi sudah menjadi bubur, tidak mungkin kembali dinasikan.  Padahal awal Pantai Pandawa dijadikan objek wisata, Prajuru Desa Adat Kutuh (2014 – 2019) dengan Bandesa I Made Wena  sudah menawarkan program pemberdayaan petani rumput laut dengan menjadi warga binaan dibiayai desa adat. Tawaran itu tidak mendapat respon masyarakat petani. Ide besarnya, adalah petani rumput laut penjadi pemanis bagi wisatawan yang berkunjung. Ibarat vila yang menyajikan keseruan petani di sawah menghijau. Begitu pula, nelayan menjadi etalase laut bagi wisatawan menikmati panorama pantai. Jika itu berhasil dikembangkan, selain menjadi ciri pemerlain kawasan wisata, juga merawat peradaban maritim secara hakiki. Inilah sesungguhnya pariwisata berkelanjutan yang mutualistik.

Begitulah nasib petani rumput laut. Dulu berjaya, kini mati tiada berdaya dimakan gaya. Rumput laut tinggal kenangan. Itulah nasibmu kini! [T]

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

Di Puncak Tegeh Buhu  
Desa Adat  Kutuh Sebagai Desa Pemancar 
Di Puncak Tegeh Kaman 
Sumur Peradaban Itu Bernama “Suukan”
Bak Inpres dan Cubang Air di Gumi Delod Ceking   
“Bangbang” di Gumi Delod Ceking   
Gumi Delod Ceking dan Dadu yang Terbalik
Berguru ke “Ngampan” Delod Ceking  
Antara Pura Gunung Payung dan Pura Batu Pageh  

Tags: Gumi Delod Cekingkuta selatanNusa DuaPantai Pandawarumput laut
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ada Ratusan Film Pendek dari Berbagai Negara di Minikino Film Week 2024

Next Post

Puisi-puisi Fathurrozi Nuril Furqon | Kelahiran Joko Tole

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Fathurrozi Nuril Furqon | Kelahiran Joko Tole

Puisi-puisi Fathurrozi Nuril Furqon | Kelahiran Joko Tole

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co