26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Bangbang” di Gumi Delod Ceking   

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
August 31, 2024
in Esai
“Bangbang” di Gumi Delod Ceking   

Bangbang Gede di Desa Adat Pecatu ( Foto : Didik Juliawan)

DI Gumi Delod Ceking, Bangbang adalah kubangan tanah yang sengaja digali  untuk penampungan air  bagi  warga  sebelum era 1990-an. Kubangan tanpa diplester itu untuk menampung air hujan sehingga airnya pun seirama dengan warna tanah. Tidak diplester  karena tiadanya biaya untuk itu, maklum belum zaman bansos sekali pun Pemilu berulang. Bansos yang memanjakan itu baru dikenal sejak Pemilu Langsung mulai 2004.

 Setiap Pemilu, pada awal Orde Baru berkuasa  selalu ada intimidasi. Warga diajak berjaga ke Balai Banjar dan wajib masuk Golkar. Bila berbeda dengan Golkar, ganjaran menanti. Pentong dan pentung meluncur di atas kepala. Piket jaga yang mati-matian membela Partai Demokrasi Indonesia (PDI) kala itu, babak belur dihajar.  Rumahnya dibakar, batu meluncur di atas atap. Pondok yang alakadarnya pun dirusak bahkan dirobohkan. Warga dicekam ketakutan.  “Da uyut, gumi gelah anak Gede”, begitu tetua mengingatkan saya dan terngiang hingga kini di tengah krisis air di Gumi Delod Ceking yang menggedor-gedor ingatan Kembali ke bangbang.

Walaupun bangbang, hanya kubangan air tanah, juga punya  keistimewaan :  ada sekaa-nya dan punya tradisi ritual antara lain tradisi mebat (ngelawar, nyate, ngomoh) dan tajen (judi sabungan ayam yang eufemismekan sebagai tabuh rah) sesuai dengan kesepakatan sekaa. Mebatnya tak tanggung-tanggung adalah Penyu yang tidak dilarang kala itu dan  tabuh rah-nya pun digilir dan tidak berbenturan waktunya antar-sekaa. Kearifan yang tidak pernah tercatat apalagi dibukukan, tetapi diimani. Polos pasaja.

Di Desa Adat Kutuh, misalnya hampir di tiap  sudut desa, ada bangbang dan sekaa tempekan-nya. Di Tenggara Desa misalnya, ada  Bangbang Mangas. Di Timur Laut Desa, ada Bangbang Melang Kangin. Di Utara Desa ada Bangbang Gubug dan Bangbang Mundeh. Di barat laut, ada Bangbang Klumpit. Di Barat Desa, ada Bangbang Teba Kauh. Selatan desa, ada Bangbang Teba Kelod. Di Barat Daya ada Bangbang Tuug. Bangbang di masing-masing tempekan itu umumnya berada di tanah milik penduduk setempat dibuat berdasarkan kesepakatan dengan pertimbangan jarak antar pemilik tanah. Airnya untuk kebutuhan sehari-hari dan untuk ternak.

Di luar bangbang masing-masing tempekan itu, Desa  Adat Kutuh memiliki bangbang desa yang berada di Pelaba Pura Beji yang disebut  Bangbang Gede/Bangbang Kembar/Bangbang Beji. Disebut Bangbang Gede karena paling besar di antara bangbang-bangbang yang ada di Desa Adat Kutuh. Disebut Bangbang Kembar karena  dua bangbang ini berdampingan dan di antara keduanya berdiri Pura Beji yang ikonik di sela-sela Pohon Beririt dan Bendul. Disebut Bangbang Beji karena di bangbang ini berdiri berdiri Pura Beji yang Pujawalinya pada Anggara Kliwon Medangsia. Pura Beji juga sebagai tempat penyucian Ida Bhatara/Bhatari  sebagaimana Pura Beji pada umumnya.  

Ada perbedaan bangbang masing-masing tempekan dengan bangbang desa. Bangbang di sekaa tempekan mengikat sekaa-nya. Orang di luar sekaa, bila mandi atau minta air, mesti minta izin kepada salah satu anggota sekaa. Itulah etika yang dibumikan dalam  tindakan, walaupun anggota sekaa-nya tidak  berpendidikan  bahkan banyak di antara mereka yang buta huruf, tetapi tidak buta hati.  Benar kata Bung Karno, “Tuhan bersemayan di gubuk si miskin” . Di gubuk itulah, si miskin menyalakan api perjuangan merawat eksistensinya. Berbeda dengan kini, etika diteorikan, pelanggaran dipertontonkan sampai ke level atas. Paradoks dalam Pendidikan Karakter Bangsa dengan Profil Pelajar Pancasila.

Bangbang Desa sesuai dengan namanya, semua warga desa menjadi sekaa-nya. Airnya  boleh diambil oleh warga, ketika air di bangbang tempekan habis. Pembagian air diawali dengan Paruman Desa dipimpin oleh Bandesa Adat Kutuh  dengan upasaksi banten pejati. Tiap Kepala Keluarga mendapatkan bagian telung tegen yeh identik dengan enam jeriken. Itu pula sebabnya, saya setiap sore berefleksi kalau-kalau lebih mengambil bagian air dan wajib dikembalikan  pada hari itu pula dengan kesadaran dan keyakinan diri.  Begitulah tuah sebuah daksina pejati dengan sebuah dupa menyala di hadapan Bandesa. Sederhana sekali tetapi dipedomani lahir batin seluruh krama. Berbeda dengan kini, berbagai ritual besar digelar, pelanggaran etika makin menjadi-jadi tanpa rasa malu, kalau tidak boleh disebut mati rasa.  

Begitulah dulu krama di Gumi Delod Ceking menghargai air, sebagai pengeling-eling bagi generasi kini yang tidak pernah negen yeh bagi laki-laki dan nyuun jun yeh bagi perempuan. Kini, ketika PDAM mati sehari, hujatan di media sosial tak terbendung tanda keberingasan diksi yang mengoyak keharmonisan. Seakan kiamat tanpa air sehari. Telanjur boros dengan air.

Sebelum PDAM masuk ke Gumi Delod Ceking pada era pasca Gebyar Golkar pada 1996, penduduk Gumi Delod Ceking sudah belajar menabung air dan hemat menggunakannya. Mulai dari bangbang tempekan, ke bangbang Desa, baru menggunakan air di bak masing-masing. Itu pun bagi mereka yang punya bak air. Bagi mereka yang tidak punya bak, harus rela menuruni tebing  yang disebut ngampan dengan jarak berkilo-kilo mencari yeh ke suukan ‘sumur’ di tepi pantai yang kadang-kadang nyat ‘kering’ mesti menunggu air laut pasang. Menunggu dengan sabar penuh seluruh, lahir batin. Inilah laku tapa brata orang-orang Delod Ceking tempo doeloe.

Jika kini air PDAM sering mati di Gumi Delod Ceking dengan alasan topografi yang tinggi dan seringnya bongkar pasang pipa dan perbaikan jalan, semestinya kearifan lokal dulu dikembalikan kalau pun tidak melalui bangbang, dengan membuat  bak-bak penampungan di rumah masing-masing, bila perlu digedor dengan bansos.  Euphoria PDAM telah membuat banyak orang Delod Ceking menghilangkan bak penampungan air yang menjadi jejak peradaban air tempo doeloe.  Anehnya, matinya PDAM selalu menimpa rakyat kecil yang tak berdaya, bersamaan dengan itu padang golf menghijau, villa, hotel surflus air. Nyak cara sesonggane, cara nyebit tiinge ngamis kacerikan. Keto hebatne, Nak Bali iloe. [T]

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

Berguru ke “Ngampan” Delod Ceking  
Antara Pura Gunung Payung dan Pura Batu Pageh  
Pura Gunung Payung di Gumi Delod Ceking
Gumi Delod Ceking Sebagai Pusat Perguruan
Ibu Tapa dan Pura Penataran Kampial, Keistimewaan Lain dari Gumi Delod Ceking 
Gumi Delod Ceking dan Dadu yang Terbalik
“Kupu-Kupu di Dalam Buku”
Tags: desa adat kutuhDesa Adat PecatuGumi Delod CekingNusa Dua
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Dion R. Prasetiawan | Langit Malam Gaza

Next Post

Hal-Hal yang Membuat Desa Les Layak Menyandang Anugerah Desa Wisata Indonesia 2024

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Hal-Hal yang Membuat Desa Les Layak Menyandang Anugerah Desa Wisata Indonesia 2024

Hal-Hal yang Membuat Desa Les Layak Menyandang Anugerah Desa Wisata Indonesia 2024

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co