5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Bangbang” di Gumi Delod Ceking   

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
August 31, 2024
in Esai
“Bangbang” di Gumi Delod Ceking   

Bangbang Gede di Desa Adat Pecatu ( Foto : Didik Juliawan)

DI Gumi Delod Ceking, Bangbang adalah kubangan tanah yang sengaja digali  untuk penampungan air  bagi  warga  sebelum era 1990-an. Kubangan tanpa diplester itu untuk menampung air hujan sehingga airnya pun seirama dengan warna tanah. Tidak diplester  karena tiadanya biaya untuk itu, maklum belum zaman bansos sekali pun Pemilu berulang. Bansos yang memanjakan itu baru dikenal sejak Pemilu Langsung mulai 2004.

 Setiap Pemilu, pada awal Orde Baru berkuasa  selalu ada intimidasi. Warga diajak berjaga ke Balai Banjar dan wajib masuk Golkar. Bila berbeda dengan Golkar, ganjaran menanti. Pentong dan pentung meluncur di atas kepala. Piket jaga yang mati-matian membela Partai Demokrasi Indonesia (PDI) kala itu, babak belur dihajar.  Rumahnya dibakar, batu meluncur di atas atap. Pondok yang alakadarnya pun dirusak bahkan dirobohkan. Warga dicekam ketakutan.  “Da uyut, gumi gelah anak Gede”, begitu tetua mengingatkan saya dan terngiang hingga kini di tengah krisis air di Gumi Delod Ceking yang menggedor-gedor ingatan Kembali ke bangbang.

Walaupun bangbang, hanya kubangan air tanah, juga punya  keistimewaan :  ada sekaa-nya dan punya tradisi ritual antara lain tradisi mebat (ngelawar, nyate, ngomoh) dan tajen (judi sabungan ayam yang eufemismekan sebagai tabuh rah) sesuai dengan kesepakatan sekaa. Mebatnya tak tanggung-tanggung adalah Penyu yang tidak dilarang kala itu dan  tabuh rah-nya pun digilir dan tidak berbenturan waktunya antar-sekaa. Kearifan yang tidak pernah tercatat apalagi dibukukan, tetapi diimani. Polos pasaja.

Di Desa Adat Kutuh, misalnya hampir di tiap  sudut desa, ada bangbang dan sekaa tempekan-nya. Di Tenggara Desa misalnya, ada  Bangbang Mangas. Di Timur Laut Desa, ada Bangbang Melang Kangin. Di Utara Desa ada Bangbang Gubug dan Bangbang Mundeh. Di barat laut, ada Bangbang Klumpit. Di Barat Desa, ada Bangbang Teba Kauh. Selatan desa, ada Bangbang Teba Kelod. Di Barat Daya ada Bangbang Tuug. Bangbang di masing-masing tempekan itu umumnya berada di tanah milik penduduk setempat dibuat berdasarkan kesepakatan dengan pertimbangan jarak antar pemilik tanah. Airnya untuk kebutuhan sehari-hari dan untuk ternak.

Di luar bangbang masing-masing tempekan itu, Desa  Adat Kutuh memiliki bangbang desa yang berada di Pelaba Pura Beji yang disebut  Bangbang Gede/Bangbang Kembar/Bangbang Beji. Disebut Bangbang Gede karena paling besar di antara bangbang-bangbang yang ada di Desa Adat Kutuh. Disebut Bangbang Kembar karena  dua bangbang ini berdampingan dan di antara keduanya berdiri Pura Beji yang ikonik di sela-sela Pohon Beririt dan Bendul. Disebut Bangbang Beji karena di bangbang ini berdiri berdiri Pura Beji yang Pujawalinya pada Anggara Kliwon Medangsia. Pura Beji juga sebagai tempat penyucian Ida Bhatara/Bhatari  sebagaimana Pura Beji pada umumnya.  

Ada perbedaan bangbang masing-masing tempekan dengan bangbang desa. Bangbang di sekaa tempekan mengikat sekaa-nya. Orang di luar sekaa, bila mandi atau minta air, mesti minta izin kepada salah satu anggota sekaa. Itulah etika yang dibumikan dalam  tindakan, walaupun anggota sekaa-nya tidak  berpendidikan  bahkan banyak di antara mereka yang buta huruf, tetapi tidak buta hati.  Benar kata Bung Karno, “Tuhan bersemayan di gubuk si miskin” . Di gubuk itulah, si miskin menyalakan api perjuangan merawat eksistensinya. Berbeda dengan kini, etika diteorikan, pelanggaran dipertontonkan sampai ke level atas. Paradoks dalam Pendidikan Karakter Bangsa dengan Profil Pelajar Pancasila.

Bangbang Desa sesuai dengan namanya, semua warga desa menjadi sekaa-nya. Airnya  boleh diambil oleh warga, ketika air di bangbang tempekan habis. Pembagian air diawali dengan Paruman Desa dipimpin oleh Bandesa Adat Kutuh  dengan upasaksi banten pejati. Tiap Kepala Keluarga mendapatkan bagian telung tegen yeh identik dengan enam jeriken. Itu pula sebabnya, saya setiap sore berefleksi kalau-kalau lebih mengambil bagian air dan wajib dikembalikan  pada hari itu pula dengan kesadaran dan keyakinan diri.  Begitulah tuah sebuah daksina pejati dengan sebuah dupa menyala di hadapan Bandesa. Sederhana sekali tetapi dipedomani lahir batin seluruh krama. Berbeda dengan kini, berbagai ritual besar digelar, pelanggaran etika makin menjadi-jadi tanpa rasa malu, kalau tidak boleh disebut mati rasa.  

Begitulah dulu krama di Gumi Delod Ceking menghargai air, sebagai pengeling-eling bagi generasi kini yang tidak pernah negen yeh bagi laki-laki dan nyuun jun yeh bagi perempuan. Kini, ketika PDAM mati sehari, hujatan di media sosial tak terbendung tanda keberingasan diksi yang mengoyak keharmonisan. Seakan kiamat tanpa air sehari. Telanjur boros dengan air.

Sebelum PDAM masuk ke Gumi Delod Ceking pada era pasca Gebyar Golkar pada 1996, penduduk Gumi Delod Ceking sudah belajar menabung air dan hemat menggunakannya. Mulai dari bangbang tempekan, ke bangbang Desa, baru menggunakan air di bak masing-masing. Itu pun bagi mereka yang punya bak air. Bagi mereka yang tidak punya bak, harus rela menuruni tebing  yang disebut ngampan dengan jarak berkilo-kilo mencari yeh ke suukan ‘sumur’ di tepi pantai yang kadang-kadang nyat ‘kering’ mesti menunggu air laut pasang. Menunggu dengan sabar penuh seluruh, lahir batin. Inilah laku tapa brata orang-orang Delod Ceking tempo doeloe.

Jika kini air PDAM sering mati di Gumi Delod Ceking dengan alasan topografi yang tinggi dan seringnya bongkar pasang pipa dan perbaikan jalan, semestinya kearifan lokal dulu dikembalikan kalau pun tidak melalui bangbang, dengan membuat  bak-bak penampungan di rumah masing-masing, bila perlu digedor dengan bansos.  Euphoria PDAM telah membuat banyak orang Delod Ceking menghilangkan bak penampungan air yang menjadi jejak peradaban air tempo doeloe.  Anehnya, matinya PDAM selalu menimpa rakyat kecil yang tak berdaya, bersamaan dengan itu padang golf menghijau, villa, hotel surflus air. Nyak cara sesonggane, cara nyebit tiinge ngamis kacerikan. Keto hebatne, Nak Bali iloe. [T]

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

Berguru ke “Ngampan” Delod Ceking  
Antara Pura Gunung Payung dan Pura Batu Pageh  
Pura Gunung Payung di Gumi Delod Ceking
Gumi Delod Ceking Sebagai Pusat Perguruan
Ibu Tapa dan Pura Penataran Kampial, Keistimewaan Lain dari Gumi Delod Ceking 
Gumi Delod Ceking dan Dadu yang Terbalik
“Kupu-Kupu di Dalam Buku”
Tags: desa adat kutuhDesa Adat PecatuGumi Delod CekingNusa Dua
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Dion R. Prasetiawan | Langit Malam Gaza

Next Post

Hal-Hal yang Membuat Desa Les Layak Menyandang Anugerah Desa Wisata Indonesia 2024

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails
Next Post
Hal-Hal yang Membuat Desa Les Layak Menyandang Anugerah Desa Wisata Indonesia 2024

Hal-Hal yang Membuat Desa Les Layak Menyandang Anugerah Desa Wisata Indonesia 2024

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co