13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Bangbang” di Gumi Delod Ceking   

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
August 31, 2024
in Esai
“Bangbang” di Gumi Delod Ceking   

Bangbang Gede di Desa Adat Pecatu ( Foto : Didik Juliawan)

DI Gumi Delod Ceking, Bangbang adalah kubangan tanah yang sengaja digali  untuk penampungan air  bagi  warga  sebelum era 1990-an. Kubangan tanpa diplester itu untuk menampung air hujan sehingga airnya pun seirama dengan warna tanah. Tidak diplester  karena tiadanya biaya untuk itu, maklum belum zaman bansos sekali pun Pemilu berulang. Bansos yang memanjakan itu baru dikenal sejak Pemilu Langsung mulai 2004.

 Setiap Pemilu, pada awal Orde Baru berkuasa  selalu ada intimidasi. Warga diajak berjaga ke Balai Banjar dan wajib masuk Golkar. Bila berbeda dengan Golkar, ganjaran menanti. Pentong dan pentung meluncur di atas kepala. Piket jaga yang mati-matian membela Partai Demokrasi Indonesia (PDI) kala itu, babak belur dihajar.  Rumahnya dibakar, batu meluncur di atas atap. Pondok yang alakadarnya pun dirusak bahkan dirobohkan. Warga dicekam ketakutan.  “Da uyut, gumi gelah anak Gede”, begitu tetua mengingatkan saya dan terngiang hingga kini di tengah krisis air di Gumi Delod Ceking yang menggedor-gedor ingatan Kembali ke bangbang.

Walaupun bangbang, hanya kubangan air tanah, juga punya  keistimewaan :  ada sekaa-nya dan punya tradisi ritual antara lain tradisi mebat (ngelawar, nyate, ngomoh) dan tajen (judi sabungan ayam yang eufemismekan sebagai tabuh rah) sesuai dengan kesepakatan sekaa. Mebatnya tak tanggung-tanggung adalah Penyu yang tidak dilarang kala itu dan  tabuh rah-nya pun digilir dan tidak berbenturan waktunya antar-sekaa. Kearifan yang tidak pernah tercatat apalagi dibukukan, tetapi diimani. Polos pasaja.

Di Desa Adat Kutuh, misalnya hampir di tiap  sudut desa, ada bangbang dan sekaa tempekan-nya. Di Tenggara Desa misalnya, ada  Bangbang Mangas. Di Timur Laut Desa, ada Bangbang Melang Kangin. Di Utara Desa ada Bangbang Gubug dan Bangbang Mundeh. Di barat laut, ada Bangbang Klumpit. Di Barat Desa, ada Bangbang Teba Kauh. Selatan desa, ada Bangbang Teba Kelod. Di Barat Daya ada Bangbang Tuug. Bangbang di masing-masing tempekan itu umumnya berada di tanah milik penduduk setempat dibuat berdasarkan kesepakatan dengan pertimbangan jarak antar pemilik tanah. Airnya untuk kebutuhan sehari-hari dan untuk ternak.

Di luar bangbang masing-masing tempekan itu, Desa  Adat Kutuh memiliki bangbang desa yang berada di Pelaba Pura Beji yang disebut  Bangbang Gede/Bangbang Kembar/Bangbang Beji. Disebut Bangbang Gede karena paling besar di antara bangbang-bangbang yang ada di Desa Adat Kutuh. Disebut Bangbang Kembar karena  dua bangbang ini berdampingan dan di antara keduanya berdiri Pura Beji yang ikonik di sela-sela Pohon Beririt dan Bendul. Disebut Bangbang Beji karena di bangbang ini berdiri berdiri Pura Beji yang Pujawalinya pada Anggara Kliwon Medangsia. Pura Beji juga sebagai tempat penyucian Ida Bhatara/Bhatari  sebagaimana Pura Beji pada umumnya.  

Ada perbedaan bangbang masing-masing tempekan dengan bangbang desa. Bangbang di sekaa tempekan mengikat sekaa-nya. Orang di luar sekaa, bila mandi atau minta air, mesti minta izin kepada salah satu anggota sekaa. Itulah etika yang dibumikan dalam  tindakan, walaupun anggota sekaa-nya tidak  berpendidikan  bahkan banyak di antara mereka yang buta huruf, tetapi tidak buta hati.  Benar kata Bung Karno, “Tuhan bersemayan di gubuk si miskin” . Di gubuk itulah, si miskin menyalakan api perjuangan merawat eksistensinya. Berbeda dengan kini, etika diteorikan, pelanggaran dipertontonkan sampai ke level atas. Paradoks dalam Pendidikan Karakter Bangsa dengan Profil Pelajar Pancasila.

Bangbang Desa sesuai dengan namanya, semua warga desa menjadi sekaa-nya. Airnya  boleh diambil oleh warga, ketika air di bangbang tempekan habis. Pembagian air diawali dengan Paruman Desa dipimpin oleh Bandesa Adat Kutuh  dengan upasaksi banten pejati. Tiap Kepala Keluarga mendapatkan bagian telung tegen yeh identik dengan enam jeriken. Itu pula sebabnya, saya setiap sore berefleksi kalau-kalau lebih mengambil bagian air dan wajib dikembalikan  pada hari itu pula dengan kesadaran dan keyakinan diri.  Begitulah tuah sebuah daksina pejati dengan sebuah dupa menyala di hadapan Bandesa. Sederhana sekali tetapi dipedomani lahir batin seluruh krama. Berbeda dengan kini, berbagai ritual besar digelar, pelanggaran etika makin menjadi-jadi tanpa rasa malu, kalau tidak boleh disebut mati rasa.  

Begitulah dulu krama di Gumi Delod Ceking menghargai air, sebagai pengeling-eling bagi generasi kini yang tidak pernah negen yeh bagi laki-laki dan nyuun jun yeh bagi perempuan. Kini, ketika PDAM mati sehari, hujatan di media sosial tak terbendung tanda keberingasan diksi yang mengoyak keharmonisan. Seakan kiamat tanpa air sehari. Telanjur boros dengan air.

Sebelum PDAM masuk ke Gumi Delod Ceking pada era pasca Gebyar Golkar pada 1996, penduduk Gumi Delod Ceking sudah belajar menabung air dan hemat menggunakannya. Mulai dari bangbang tempekan, ke bangbang Desa, baru menggunakan air di bak masing-masing. Itu pun bagi mereka yang punya bak air. Bagi mereka yang tidak punya bak, harus rela menuruni tebing  yang disebut ngampan dengan jarak berkilo-kilo mencari yeh ke suukan ‘sumur’ di tepi pantai yang kadang-kadang nyat ‘kering’ mesti menunggu air laut pasang. Menunggu dengan sabar penuh seluruh, lahir batin. Inilah laku tapa brata orang-orang Delod Ceking tempo doeloe.

Jika kini air PDAM sering mati di Gumi Delod Ceking dengan alasan topografi yang tinggi dan seringnya bongkar pasang pipa dan perbaikan jalan, semestinya kearifan lokal dulu dikembalikan kalau pun tidak melalui bangbang, dengan membuat  bak-bak penampungan di rumah masing-masing, bila perlu digedor dengan bansos.  Euphoria PDAM telah membuat banyak orang Delod Ceking menghilangkan bak penampungan air yang menjadi jejak peradaban air tempo doeloe.  Anehnya, matinya PDAM selalu menimpa rakyat kecil yang tak berdaya, bersamaan dengan itu padang golf menghijau, villa, hotel surflus air. Nyak cara sesonggane, cara nyebit tiinge ngamis kacerikan. Keto hebatne, Nak Bali iloe. [T]

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

Berguru ke “Ngampan” Delod Ceking  
Antara Pura Gunung Payung dan Pura Batu Pageh  
Pura Gunung Payung di Gumi Delod Ceking
Gumi Delod Ceking Sebagai Pusat Perguruan
Ibu Tapa dan Pura Penataran Kampial, Keistimewaan Lain dari Gumi Delod Ceking 
Gumi Delod Ceking dan Dadu yang Terbalik
“Kupu-Kupu di Dalam Buku”
Tags: desa adat kutuhDesa Adat PecatuGumi Delod CekingNusa Dua
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Dion R. Prasetiawan | Langit Malam Gaza

Next Post

Hal-Hal yang Membuat Desa Les Layak Menyandang Anugerah Desa Wisata Indonesia 2024

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Hal-Hal yang Membuat Desa Les Layak Menyandang Anugerah Desa Wisata Indonesia 2024

Hal-Hal yang Membuat Desa Les Layak Menyandang Anugerah Desa Wisata Indonesia 2024

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co