15 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sumur Peradaban Itu Bernama “Suukan”

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
September 2, 2024
in Esai
Sumur Peradaban Itu Bernama “Suukan”

Suukan di Pantai Pandawa, Sumur Peradaban Gumi Delod Ceking. | Foto: Alit Suarnata

SETELAH menulis tentang bangbang ’kubangan air di atas tanah yang digali’, Bak Inpres dan Cubang Air, sampailah saya pada Sumur Peradaban tertua yang bernama Suukan di Gumi Delod Ceking, kawasan Kuta Selatan. Tulisan tentang Suukan ditampilkan paling belakang mengikuti konsep belajar dari dekat ke jauh. Sumber air terdekat sebelum punya bak air  adalah bangbang dan terjauh adalah Suukan. Walaupun Suukan paling jauh dari pemukiman penduduk, posisinya   bearda di tempat yang sama,  di pesisir pantai dan airnya terasa asin.

Penyebutannya pun sama bagi empat Desa Adat di Gumi Delod Ceking, yaitu  Suukan. Empat Desa Adat di Gumi Delod Ceking yang dimaksud adalah  Desa Adat Peminge, Kutuh, Ungasan, dan Pecatu. Padahal, Desa Adat Pemiinge juga memiliki dataran di Banjar Peminge, sumur umumnya disebut semer, bukan Suukan. Sebagai catatan, Desa Adat Peminge ditopang oleh dua banjar adat, Banjar Peminge dan Banjar Sawangan.

“Bangbang” di Gumi Delod Ceking   

Di Banjar Sawangan Desa Adat Peminge pada awalnya  terdapat dua Suukan, tetapi yang masih terpelihara kini satu buah berada di area Hotel Kempnsky Nusa Dua. Demikian juga di Desa Adat Kutuh, pada awalnya terdapat dua Suukan, tetapi kini tinggal satu buah, berada di Kawasan Wisata Pantai Pandawa.

Di Desa Adat Ungasan, pada mulanya Suukan ada dua, sekarang tinggal  satu berada di kawasan Wisata Pantai Melasti, berdekatan dengan Pura Segara dan Pura Plangko.   Di Desa Adat Pecatu, Suukan berada di Pantai Nyangnyang sebelah Timur Uluwatu dan Pantai Dream Land pada awalnya ada dua, kini tinggal satu. Begitulah nasib Suukan seperti kata Chairil Anwar, “hidup segan mati tak mau”.

Menarik dicermati di empat Desa Adat itu,  suukan-nya berpasang-pasangan dan semuanya berada di kawasan pantai terdesak hingar-bingar pariwisata. Apa maknanya?   Jangan-jangan ini simbolisasi Purusa-Pradana, tempat permandian laki-laki dan perempuan terpisah, tetapi tidak berjauhan. Mirip dengan pendidikan Pramuka yang menerapkan kesatuan terpisah. Itu tafsir makna  pertama.

Makna kedua adalah Suukan disakralkan sebagai  tempat nuur tirta untuk upacara ritual tertentu dan Suukan lainnya tidak disakralkan. Di Desa Adat Peminge, misalnya upacara Ngaben wajib nuur tirta ke Suukan yang berada di kawasan Hotel Kempinsky.  Demikian juga Suukan di Dream Land Desa Adat Pecatu difungsikan secara sakral  sebagai tempat nuur tirta upacara berskala besar tingkat Desa. Jadi, pemertahanan Suukan adalah memelihara keberlanjutan tradisi ritual untuk kerahayuan sekala niskala.

Makna ketiga, semua Suukan berada di kawasan wisata dan kecenderungan pengelola kawasan ingin memusnahkannya, seperti diakui I Made Pilih dari Desa Adat Pecatu. Faktanya juga menunjukkan kecenderungan itu walaupun kawasannya dikelola oleh Desa Adatnya sendiri. Di sinilah pentingnya Prajuru Desa Adat paham dengan kearifan lokal di wewidangan desa adatnya masing-masing sehingga situs-situs desa aman dari kepentingn kapitalistik dengan aneka ulah : ulah aluh, ulah alih, ulah elah. Pragmatis gelis berbasis materialis  dan hedonis memenuhi kesenangan minim ketenangan.

Saya meyakini Suukan di keempat Desa Adat itu adalah sumur tertua yang pernah ada di kawasan itu dan terkait dengan tradisi agraris dan maritim dalam kebudayaan mayarakat. Tradisi nyegara gunung yang dilaksanakan langsung berhadapan dengan Dewa Baruna dapat mengonfirmasi tradisi itu. Dasar semua upacara ritual Hindu juga berbasis laut dan gunung yang dalam praktik pujawalinya pun secara budaya terepresentasikan dalam lagu yang menggambarkan kehidupan laut dan kehidupan gunung.

Bak Inpres dan Cubang Air di Gumi Delod Ceking   

Lagu yang menggambarkan kearifan laut tampil secara teatrekal  dalam prosesi Kincang-Kincung serangakain Puja Wali Pura-Pura di Gumi Delod Ceking. Begini Syairnya : Ngiring mangkin sareng sami ke segara, ngerereh ulam nganggen jaring miwah pencar, Ngereh ulam nganggen jaring miwah pencar, Ngambil dayung-ngambil dayung munggah sampan raris medayung….Dayung… dayung… dayung…sampane dayung//. Syair ini  biasanya diiringi suara gamelan dan tarian para sutri yang saling berpapasan dengan properti jukung-jukungan, khas nelayan.

Sedangkan lagu yang menggambarkan hasil gunung muncul dalam lagu Sumping Keladi : Nyampat-nyampat maceniga/mabanten sumping keladi/ ane nyampat nunas ica/ ne mabanten ngastiti Widhi/ Ratu Peranda sampun mapuja/ gonge sampun macegir …//

Begitulah Suukan sebagai sumur peradaban purba ibarat Sumur Tanpa Dasar dalam naskahrepertoar  drama Arifin C. Noor. Sebagai Sumur Tanpa Dasar, Suukan mengalirkan sumber kehidupan yang tak pernah habis-habisnya, walaupun terkadang nyat ‘kering’ asal sabar menunggu, Suukan pun kembali memberikan  air kehidupan seiring dengan pasangnya air laut. Walaupun airnya terasa asin, ia tetap diburu karena tiada pilihan lain. Pemburuan air di Suukan telah menegaskan orang-orang Delod Ceking mempraktikkan laku hidup berbasis pengalaman nyata dan paham akan  asam garam kehidupan.

Pemahaman dan pemaknaan Suukan memberikan padangan bahwa hidup tidaklah persamaan liner dengan satu variabel. Hidup adalah persamaan bahkan pertidaksamaan kompleks yang solusi pemecahannya pun kompleks pula. Namun, bila itu bisa dipecahkan maka nikmat dan tenanglah di dapat setelah berhasil menjawab teka-teki alam yang penuh misteri dengan semangat perjuangan. Dalam Konteks Hari Aksara Internasional pada 8 September, misteri  teka-teki alam itu dapat dipecahkan melalui semangat literasi dengan mencermati Suukan sebagai teks alam, dalam konteks ruang waktu berkearifan desa, kala, patra.

Selain berfungsi sebagai sumber mata air peradaban bagi orang-orang dari Gumi Delod Ceking tempo doeloe,  Suukan juga berfungsi sosial kemasyarakatan ditandai dengan pertemuan berawal dan berakhir di Suukan. Di Suukan bertemu untuk menimba air yang akan dipakai mandi dan dibawa pulang.

Di Suukan pula, mereka berpisah menuju rumah masing-masing membawa air. Perjalanan pulang-pergi dari rumah (lebih tepatnya : pondok, kubu) ke Suukan adalah perjuangan memenangkan kehidupan melalui jalan sempit berbatu karang bertelanjang kaki dengan debu panas. Sungguh perjuangan pantang menyerah, ibarat pahlawan membatinkan moto perjuangan : Rawe-rawe rantas, malang-malang putung.  Salam hangat dari Gumi Delod Ceking. [T]

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

Gumi Delod Ceking dan Dadu yang Terbalik
Berguru ke “Ngampan” Delod Ceking  
Antara Pura Gunung Payung dan Pura Batu Pageh  
Pura Gunung Payung di Gumi Delod Ceking
Gumi Delod Ceking Sebagai Pusat Perguruan
Ibu Tapa dan Pura Penataran Kampial, Keistimewaan Lain dari Gumi Delod Ceking 
Tags: Gumi Delod Cekingkuta selatanNusa Dua
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Film “Cening Nepukin I Kawa” Siap Diproduksi, Menyasar Penonton Anak-anak

Next Post

“Prakretaning Dharma Pemaculan”, Potret Ritual dan Problematika Pertanian Bali: Sebuah Pembacaan yang Belum Usai

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Suka-Duka di Rumah Sakit

by Angga Wijaya
September 15, 2026
0
Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

Read moreDetails

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
0
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

Read moreDetails

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
0
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

Read moreDetails

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails
Next Post
“Prakretaning Dharma Pemaculan”, Potret Ritual dan Problematika Pertanian Bali: Sebuah Pembacaan yang Belum Usai

"Prakretaning Dharma Pemaculan", Potret Ritual dan Problematika Pertanian Bali: Sebuah Pembacaan yang Belum Usai

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026
Panggung

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
Suka-Duka di Rumah Sakit
Esai

Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

by Angga Wijaya
September 15, 2026
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co