5 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sumur Peradaban Itu Bernama “Suukan”

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
September 2, 2024
in Esai
Sumur Peradaban Itu Bernama “Suukan”

Suukan di Pantai Pandawa, Sumur Peradaban Gumi Delod Ceking. | Foto: Alit Suarnata

SETELAH menulis tentang bangbang ’kubangan air di atas tanah yang digali’, Bak Inpres dan Cubang Air, sampailah saya pada Sumur Peradaban tertua yang bernama Suukan di Gumi Delod Ceking, kawasan Kuta Selatan. Tulisan tentang Suukan ditampilkan paling belakang mengikuti konsep belajar dari dekat ke jauh. Sumber air terdekat sebelum punya bak air  adalah bangbang dan terjauh adalah Suukan. Walaupun Suukan paling jauh dari pemukiman penduduk, posisinya   bearda di tempat yang sama,  di pesisir pantai dan airnya terasa asin.

Penyebutannya pun sama bagi empat Desa Adat di Gumi Delod Ceking, yaitu  Suukan. Empat Desa Adat di Gumi Delod Ceking yang dimaksud adalah  Desa Adat Peminge, Kutuh, Ungasan, dan Pecatu. Padahal, Desa Adat Pemiinge juga memiliki dataran di Banjar Peminge, sumur umumnya disebut semer, bukan Suukan. Sebagai catatan, Desa Adat Peminge ditopang oleh dua banjar adat, Banjar Peminge dan Banjar Sawangan.

“Bangbang” di Gumi Delod Ceking   

Di Banjar Sawangan Desa Adat Peminge pada awalnya  terdapat dua Suukan, tetapi yang masih terpelihara kini satu buah berada di area Hotel Kempnsky Nusa Dua. Demikian juga di Desa Adat Kutuh, pada awalnya terdapat dua Suukan, tetapi kini tinggal satu buah, berada di Kawasan Wisata Pantai Pandawa.

Di Desa Adat Ungasan, pada mulanya Suukan ada dua, sekarang tinggal  satu berada di kawasan Wisata Pantai Melasti, berdekatan dengan Pura Segara dan Pura Plangko.   Di Desa Adat Pecatu, Suukan berada di Pantai Nyangnyang sebelah Timur Uluwatu dan Pantai Dream Land pada awalnya ada dua, kini tinggal satu. Begitulah nasib Suukan seperti kata Chairil Anwar, “hidup segan mati tak mau”.

Menarik dicermati di empat Desa Adat itu,  suukan-nya berpasang-pasangan dan semuanya berada di kawasan pantai terdesak hingar-bingar pariwisata. Apa maknanya?   Jangan-jangan ini simbolisasi Purusa-Pradana, tempat permandian laki-laki dan perempuan terpisah, tetapi tidak berjauhan. Mirip dengan pendidikan Pramuka yang menerapkan kesatuan terpisah. Itu tafsir makna  pertama.

Makna kedua adalah Suukan disakralkan sebagai  tempat nuur tirta untuk upacara ritual tertentu dan Suukan lainnya tidak disakralkan. Di Desa Adat Peminge, misalnya upacara Ngaben wajib nuur tirta ke Suukan yang berada di kawasan Hotel Kempinsky.  Demikian juga Suukan di Dream Land Desa Adat Pecatu difungsikan secara sakral  sebagai tempat nuur tirta upacara berskala besar tingkat Desa. Jadi, pemertahanan Suukan adalah memelihara keberlanjutan tradisi ritual untuk kerahayuan sekala niskala.

Makna ketiga, semua Suukan berada di kawasan wisata dan kecenderungan pengelola kawasan ingin memusnahkannya, seperti diakui I Made Pilih dari Desa Adat Pecatu. Faktanya juga menunjukkan kecenderungan itu walaupun kawasannya dikelola oleh Desa Adatnya sendiri. Di sinilah pentingnya Prajuru Desa Adat paham dengan kearifan lokal di wewidangan desa adatnya masing-masing sehingga situs-situs desa aman dari kepentingn kapitalistik dengan aneka ulah : ulah aluh, ulah alih, ulah elah. Pragmatis gelis berbasis materialis  dan hedonis memenuhi kesenangan minim ketenangan.

Saya meyakini Suukan di keempat Desa Adat itu adalah sumur tertua yang pernah ada di kawasan itu dan terkait dengan tradisi agraris dan maritim dalam kebudayaan mayarakat. Tradisi nyegara gunung yang dilaksanakan langsung berhadapan dengan Dewa Baruna dapat mengonfirmasi tradisi itu. Dasar semua upacara ritual Hindu juga berbasis laut dan gunung yang dalam praktik pujawalinya pun secara budaya terepresentasikan dalam lagu yang menggambarkan kehidupan laut dan kehidupan gunung.

Bak Inpres dan Cubang Air di Gumi Delod Ceking   

Lagu yang menggambarkan kearifan laut tampil secara teatrekal  dalam prosesi Kincang-Kincung serangakain Puja Wali Pura-Pura di Gumi Delod Ceking. Begini Syairnya : Ngiring mangkin sareng sami ke segara, ngerereh ulam nganggen jaring miwah pencar, Ngereh ulam nganggen jaring miwah pencar, Ngambil dayung-ngambil dayung munggah sampan raris medayung….Dayung… dayung… dayung…sampane dayung//. Syair ini  biasanya diiringi suara gamelan dan tarian para sutri yang saling berpapasan dengan properti jukung-jukungan, khas nelayan.

Sedangkan lagu yang menggambarkan hasil gunung muncul dalam lagu Sumping Keladi : Nyampat-nyampat maceniga/mabanten sumping keladi/ ane nyampat nunas ica/ ne mabanten ngastiti Widhi/ Ratu Peranda sampun mapuja/ gonge sampun macegir …//

Begitulah Suukan sebagai sumur peradaban purba ibarat Sumur Tanpa Dasar dalam naskahrepertoar  drama Arifin C. Noor. Sebagai Sumur Tanpa Dasar, Suukan mengalirkan sumber kehidupan yang tak pernah habis-habisnya, walaupun terkadang nyat ‘kering’ asal sabar menunggu, Suukan pun kembali memberikan  air kehidupan seiring dengan pasangnya air laut. Walaupun airnya terasa asin, ia tetap diburu karena tiada pilihan lain. Pemburuan air di Suukan telah menegaskan orang-orang Delod Ceking mempraktikkan laku hidup berbasis pengalaman nyata dan paham akan  asam garam kehidupan.

Pemahaman dan pemaknaan Suukan memberikan padangan bahwa hidup tidaklah persamaan liner dengan satu variabel. Hidup adalah persamaan bahkan pertidaksamaan kompleks yang solusi pemecahannya pun kompleks pula. Namun, bila itu bisa dipecahkan maka nikmat dan tenanglah di dapat setelah berhasil menjawab teka-teki alam yang penuh misteri dengan semangat perjuangan. Dalam Konteks Hari Aksara Internasional pada 8 September, misteri  teka-teki alam itu dapat dipecahkan melalui semangat literasi dengan mencermati Suukan sebagai teks alam, dalam konteks ruang waktu berkearifan desa, kala, patra.

Selain berfungsi sebagai sumber mata air peradaban bagi orang-orang dari Gumi Delod Ceking tempo doeloe,  Suukan juga berfungsi sosial kemasyarakatan ditandai dengan pertemuan berawal dan berakhir di Suukan. Di Suukan bertemu untuk menimba air yang akan dipakai mandi dan dibawa pulang.

Di Suukan pula, mereka berpisah menuju rumah masing-masing membawa air. Perjalanan pulang-pergi dari rumah (lebih tepatnya : pondok, kubu) ke Suukan adalah perjuangan memenangkan kehidupan melalui jalan sempit berbatu karang bertelanjang kaki dengan debu panas. Sungguh perjuangan pantang menyerah, ibarat pahlawan membatinkan moto perjuangan : Rawe-rawe rantas, malang-malang putung.  Salam hangat dari Gumi Delod Ceking. [T]

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

Gumi Delod Ceking dan Dadu yang Terbalik
Berguru ke “Ngampan” Delod Ceking  
Antara Pura Gunung Payung dan Pura Batu Pageh  
Pura Gunung Payung di Gumi Delod Ceking
Gumi Delod Ceking Sebagai Pusat Perguruan
Ibu Tapa dan Pura Penataran Kampial, Keistimewaan Lain dari Gumi Delod Ceking 
Tags: Gumi Delod Cekingkuta selatanNusa Dua
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Film “Cening Nepukin I Kawa” Siap Diproduksi, Menyasar Penonton Anak-anak

Next Post

“Prakretaning Dharma Pemaculan”, Potret Ritual dan Problematika Pertanian Bali: Sebuah Pembacaan yang Belum Usai

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

by Sugi Lanus
August 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

Read moreDetails

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails
Next Post
“Prakretaning Dharma Pemaculan”, Potret Ritual dan Problematika Pertanian Bali: Sebuah Pembacaan yang Belum Usai

"Prakretaning Dharma Pemaculan", Potret Ritual dan Problematika Pertanian Bali: Sebuah Pembacaan yang Belum Usai

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  
Khas

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

by Sugi Lanus
August 4, 2026
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita
Ulas Pentas

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia
Khas

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co