14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sumur Peradaban Itu Bernama “Suukan”

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
September 2, 2024
in Esai
Sumur Peradaban Itu Bernama “Suukan”

Suukan di Pantai Pandawa, Sumur Peradaban Gumi Delod Ceking. | Foto: Alit Suarnata

SETELAH menulis tentang bangbang ’kubangan air di atas tanah yang digali’, Bak Inpres dan Cubang Air, sampailah saya pada Sumur Peradaban tertua yang bernama Suukan di Gumi Delod Ceking, kawasan Kuta Selatan. Tulisan tentang Suukan ditampilkan paling belakang mengikuti konsep belajar dari dekat ke jauh. Sumber air terdekat sebelum punya bak air  adalah bangbang dan terjauh adalah Suukan. Walaupun Suukan paling jauh dari pemukiman penduduk, posisinya   bearda di tempat yang sama,  di pesisir pantai dan airnya terasa asin.

Penyebutannya pun sama bagi empat Desa Adat di Gumi Delod Ceking, yaitu  Suukan. Empat Desa Adat di Gumi Delod Ceking yang dimaksud adalah  Desa Adat Peminge, Kutuh, Ungasan, dan Pecatu. Padahal, Desa Adat Pemiinge juga memiliki dataran di Banjar Peminge, sumur umumnya disebut semer, bukan Suukan. Sebagai catatan, Desa Adat Peminge ditopang oleh dua banjar adat, Banjar Peminge dan Banjar Sawangan.

“Bangbang” di Gumi Delod Ceking   

Di Banjar Sawangan Desa Adat Peminge pada awalnya  terdapat dua Suukan, tetapi yang masih terpelihara kini satu buah berada di area Hotel Kempnsky Nusa Dua. Demikian juga di Desa Adat Kutuh, pada awalnya terdapat dua Suukan, tetapi kini tinggal satu buah, berada di Kawasan Wisata Pantai Pandawa.

Di Desa Adat Ungasan, pada mulanya Suukan ada dua, sekarang tinggal  satu berada di kawasan Wisata Pantai Melasti, berdekatan dengan Pura Segara dan Pura Plangko.   Di Desa Adat Pecatu, Suukan berada di Pantai Nyangnyang sebelah Timur Uluwatu dan Pantai Dream Land pada awalnya ada dua, kini tinggal satu. Begitulah nasib Suukan seperti kata Chairil Anwar, “hidup segan mati tak mau”.

Menarik dicermati di empat Desa Adat itu,  suukan-nya berpasang-pasangan dan semuanya berada di kawasan pantai terdesak hingar-bingar pariwisata. Apa maknanya?   Jangan-jangan ini simbolisasi Purusa-Pradana, tempat permandian laki-laki dan perempuan terpisah, tetapi tidak berjauhan. Mirip dengan pendidikan Pramuka yang menerapkan kesatuan terpisah. Itu tafsir makna  pertama.

Makna kedua adalah Suukan disakralkan sebagai  tempat nuur tirta untuk upacara ritual tertentu dan Suukan lainnya tidak disakralkan. Di Desa Adat Peminge, misalnya upacara Ngaben wajib nuur tirta ke Suukan yang berada di kawasan Hotel Kempinsky.  Demikian juga Suukan di Dream Land Desa Adat Pecatu difungsikan secara sakral  sebagai tempat nuur tirta upacara berskala besar tingkat Desa. Jadi, pemertahanan Suukan adalah memelihara keberlanjutan tradisi ritual untuk kerahayuan sekala niskala.

Makna ketiga, semua Suukan berada di kawasan wisata dan kecenderungan pengelola kawasan ingin memusnahkannya, seperti diakui I Made Pilih dari Desa Adat Pecatu. Faktanya juga menunjukkan kecenderungan itu walaupun kawasannya dikelola oleh Desa Adatnya sendiri. Di sinilah pentingnya Prajuru Desa Adat paham dengan kearifan lokal di wewidangan desa adatnya masing-masing sehingga situs-situs desa aman dari kepentingn kapitalistik dengan aneka ulah : ulah aluh, ulah alih, ulah elah. Pragmatis gelis berbasis materialis  dan hedonis memenuhi kesenangan minim ketenangan.

Saya meyakini Suukan di keempat Desa Adat itu adalah sumur tertua yang pernah ada di kawasan itu dan terkait dengan tradisi agraris dan maritim dalam kebudayaan mayarakat. Tradisi nyegara gunung yang dilaksanakan langsung berhadapan dengan Dewa Baruna dapat mengonfirmasi tradisi itu. Dasar semua upacara ritual Hindu juga berbasis laut dan gunung yang dalam praktik pujawalinya pun secara budaya terepresentasikan dalam lagu yang menggambarkan kehidupan laut dan kehidupan gunung.

Bak Inpres dan Cubang Air di Gumi Delod Ceking   

Lagu yang menggambarkan kearifan laut tampil secara teatrekal  dalam prosesi Kincang-Kincung serangakain Puja Wali Pura-Pura di Gumi Delod Ceking. Begini Syairnya : Ngiring mangkin sareng sami ke segara, ngerereh ulam nganggen jaring miwah pencar, Ngereh ulam nganggen jaring miwah pencar, Ngambil dayung-ngambil dayung munggah sampan raris medayung….Dayung… dayung… dayung…sampane dayung//. Syair ini  biasanya diiringi suara gamelan dan tarian para sutri yang saling berpapasan dengan properti jukung-jukungan, khas nelayan.

Sedangkan lagu yang menggambarkan hasil gunung muncul dalam lagu Sumping Keladi : Nyampat-nyampat maceniga/mabanten sumping keladi/ ane nyampat nunas ica/ ne mabanten ngastiti Widhi/ Ratu Peranda sampun mapuja/ gonge sampun macegir …//

Begitulah Suukan sebagai sumur peradaban purba ibarat Sumur Tanpa Dasar dalam naskahrepertoar  drama Arifin C. Noor. Sebagai Sumur Tanpa Dasar, Suukan mengalirkan sumber kehidupan yang tak pernah habis-habisnya, walaupun terkadang nyat ‘kering’ asal sabar menunggu, Suukan pun kembali memberikan  air kehidupan seiring dengan pasangnya air laut. Walaupun airnya terasa asin, ia tetap diburu karena tiada pilihan lain. Pemburuan air di Suukan telah menegaskan orang-orang Delod Ceking mempraktikkan laku hidup berbasis pengalaman nyata dan paham akan  asam garam kehidupan.

Pemahaman dan pemaknaan Suukan memberikan padangan bahwa hidup tidaklah persamaan liner dengan satu variabel. Hidup adalah persamaan bahkan pertidaksamaan kompleks yang solusi pemecahannya pun kompleks pula. Namun, bila itu bisa dipecahkan maka nikmat dan tenanglah di dapat setelah berhasil menjawab teka-teki alam yang penuh misteri dengan semangat perjuangan. Dalam Konteks Hari Aksara Internasional pada 8 September, misteri  teka-teki alam itu dapat dipecahkan melalui semangat literasi dengan mencermati Suukan sebagai teks alam, dalam konteks ruang waktu berkearifan desa, kala, patra.

Selain berfungsi sebagai sumber mata air peradaban bagi orang-orang dari Gumi Delod Ceking tempo doeloe,  Suukan juga berfungsi sosial kemasyarakatan ditandai dengan pertemuan berawal dan berakhir di Suukan. Di Suukan bertemu untuk menimba air yang akan dipakai mandi dan dibawa pulang.

Di Suukan pula, mereka berpisah menuju rumah masing-masing membawa air. Perjalanan pulang-pergi dari rumah (lebih tepatnya : pondok, kubu) ke Suukan adalah perjuangan memenangkan kehidupan melalui jalan sempit berbatu karang bertelanjang kaki dengan debu panas. Sungguh perjuangan pantang menyerah, ibarat pahlawan membatinkan moto perjuangan : Rawe-rawe rantas, malang-malang putung.  Salam hangat dari Gumi Delod Ceking. [T]

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

Gumi Delod Ceking dan Dadu yang Terbalik
Berguru ke “Ngampan” Delod Ceking  
Antara Pura Gunung Payung dan Pura Batu Pageh  
Pura Gunung Payung di Gumi Delod Ceking
Gumi Delod Ceking Sebagai Pusat Perguruan
Ibu Tapa dan Pura Penataran Kampial, Keistimewaan Lain dari Gumi Delod Ceking 
Tags: Gumi Delod Cekingkuta selatanNusa Dua
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Film “Cening Nepukin I Kawa” Siap Diproduksi, Menyasar Penonton Anak-anak

Next Post

“Prakretaning Dharma Pemaculan”, Potret Ritual dan Problematika Pertanian Bali: Sebuah Pembacaan yang Belum Usai

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
“Prakretaning Dharma Pemaculan”, Potret Ritual dan Problematika Pertanian Bali: Sebuah Pembacaan yang Belum Usai

"Prakretaning Dharma Pemaculan", Potret Ritual dan Problematika Pertanian Bali: Sebuah Pembacaan yang Belum Usai

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co