4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bak Inpres dan Cubang Air di Gumi Delod Ceking   

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
September 1, 2024
in Esai
Bak Inpres dan Cubang Air di Gumi Delod Ceking   

Bak Inpres jejak peradaban air Gumi Delod Ceking | Foto : I Nyoman Tingkat

PROYEK Orde Baru untuk memenuhi kebutuhan air  krama di Gumi Delod Ceking, maksdunya wilayah Nusa Dua, Jimbaran dan sekitarnya di Kuta Selatan, pada 1970-an adalah Bak Inpres. Kala itu sejumlah proyek Bak Inpres dibangun berbasis tempekan mirip zonasi masa Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) era 2020-an. Model ini analog dengan sekaa bangbang yang sudah ada sebelumnya. Hampir di tiap tempekan yang ada bangbang-nya juga dibangun Bak Inpres untuk menampung air hujan.

Ada sejumlah makna pembangunan Bak Inpres berbasis tempekan zaman Orde Baru. Pertama, membantu krama mengatasi kesulitan air pada musim kemarau. Kemarau panjang yang sering disebut katiga kangkang adalah masa krisis air tanpa keluhan dan keributan, tetapi dimaknai dengan sering mapinunas kepada Hyang, sebagai wujud rasa eling. Krisis air ditarik ke ranah spirit lalu berpasrah setelah berusaha.

Kedua, Orde Baru memuliakan kearifan lokal yang dibina dan diwariskan secara turun-temurun. Di dalamnya terimplisit maksud untuk memersatukan, memerkuat, membina dan  mengembangkan kebudayaan yang hidup dan diimani. Kohesi (kesamaan fisik)  dan koherensi (keterpaduan nilai, value) tempekan disaturagakan sebagai representasi kekuatan sekala niskala, penyaturagaan jasmani dan rohani. Dalam konteks Pendidikan, inilah yang disebut transformasi nilai-nilai kehidupan.

Ketiga, pembangunan Bak Inpres bertujuan mendekatkan konsumen dengan sumber air. Jumlah sekaa tempekan pun  terbatas tidak lebih dari 35 orang sehingga lebih mudah mengelolanya.  Di Tempekan Mangas dan Kancagan Desa Adat Kutuh misalnya dibangun Bak Inpres pada 1977 di tengah suasana Pemilu yang mencekam tetapi nihil gesekan. Politik riang gembira tak terkatakan tetapi diimani dan dilaksanakan.  Boleh jadi, proyek ini adalah hadiah menjelang Pemilu yang kini lebih populer disebut Bansos yang belum terartikulasikan kala itu.

Menarik pula dicermati, warga merelakan tanahnya yang berbatu kapur sampai 8 are untuk membuat bak termasuk lapangan air yang dialirkan ke bak ketika hujan turun.  Maklumlah, saat itu tanah di Gumi Delod Ceking tiadalah berharga. Diberi gratis pun, tiada yang melirik. “Buat apa?” kata mereka yang diberikan. Hal yang nungkalik kini, tanah Delod Ceking jadi rebutan dan disengketakan padahal sebelumnya tak diurus bahkan dianggap tidak ada. Keadaan makin keruh dengan kehadiran maklar tanah dengan mulut manis. Bungut gebuh kata mereka yang menjadi korban.

Pekerjaan proyek Bak Inpres itu dilakukan secara swakelola dan bergotong royong di tengah suasana gumi sayah, ‘paceklik’. Mereka hanya berbekal ubi rebus atau ubi bakar sebelum pekerjaan menggali batu kapur yang padat dan keras. Kekerasan batu kapur itu diimbangi dengan kerja keras oleh anggota sekaa yang bergiliran piket menggali batu kapur dengan linggis membuat bak ukuran sekitar 4 x 6 x 5 m.  Setelah bak dibuat, dilanjutkan dengan membuat jalan air dengan kemiringan yang sekitar 30 drajat sehingga bila hujan, air langsung tertampung di  Bak Inpres ini.

Air yang ditampung di Bak Inpres ini baru dibagi pada musim kemarau tiba setelah air di bangbang tempekan dan bangbang desa habis. Pembagian air juga mengikuti model pembagian air di Bangbang Desa yaitu telung tegen ‘enam jeriken’ setiap hari yang dimulai dengan paruman sekaa dipimpin oleh Kelihan Sekaa Bak Inpres. Prosesi paruman diawali dengan ngaturang daksina pejati kehadapan Hyang Bhatara Wisnu dilengkapi  dupa yang menyala sebagai api saksi sekaligus api semangat menerima berkah air, yang disungkemi seluruh anggota.

Begitulah aturan dibuat sangat simpel tanpa protes dan diyakini bersama serta dilaksanakan bersama dalam keseharian saat pembagian air. Barang siapa yang mengambil air lebih dalam sehari diserahkan dampaknya kepada yang bersangkutan. Itulah sebabnya anggota sekaa Bak Inpres juga selalu berefleksi saban sore menjelang matahari tenggelam, terutama bagi anggota Kepala Keluarga dengan  jumlah yang banyak. Kalau-kalau ada salah satu anggota keluarga yang lebih mengambil air,  maka wajib hukumnya dikembalikan pada hari itu pula.

Gumi Delod Ceking dan Dadu yang Terbalik

Setelah sukses dengan Proyek Bak Inpres pada 1970-an, pada akhir 1980-an proyek Orde Baru  diganti dengan Proyek Cubang Air.  Jika Bak Inpres dibangun dengan penggalian batu karang dengan kedalaman tertentu, Cubang Air berbentuk tangki air dari viber diberikan gratis dan di letakkan di atas permukaan tanah warga juga berbasis tempekan. Warga  hanya menyiapkan pondasi penempatan Cubang Air. Cubang  air diisi seminggu sekali  melalui truk-truk berisi tangki air untuk memenuhi kebutuhan air warga masyarakat. Warga mengambil air di Cubang Air  yang sudah tersedia.

Seiring dengan perkembangan kemajuan, penduduk di Gumi Delog Ceking mulai mendapatkan  pekerjaan menjadi buruh di proyek-proyek Hotel Nusa Dua, kemampuan daya beli lambat laun membaik. Maka penduduk pun membeli langsung air tangki untuk ditampung di bak masing-masing. Akan tetapi semangat menghargai dan menghemat air pun terjaga dengan baik. Itulah jejak peradaban air di Gumi Delod Ceking, dari bangbang ke Bak Inpres dan Cubang Air, lalu ke Suukan ‘sumur di pantai’(yang disajikan terpisah).

Bak Inpres jejak peradaban air Gumi Delod Ceking | Foto : I Nyoman Tingkat

Catatan ini tidak dimaksudkan untuk mengorek luka lama krama dari Gumi Delod Ceking soal air, karena saya sadar peribahasa, “menepuk air di atas dulang tepercik muka sendiri”. Oleh karena itu, renungan ini  lebih diarahkan pada menemukan kembali nilai-nilai yang erosi diterjang perubahan secara drastis terutama dalam penghormatan terhadap air. Harapannya, generasi kini mengerti makna  air secara edukatif  fungsional.

Hemat menggunakan air adalah bagian dari ibadah pemujaan terhadap Dewa Wisnu yang menyebarkan kesuburmakmuran berkat air yang diolah menjadi Tirtha Amerta. Begitu pula PDAM yang menangani masalah air hendaknya melayani dengan kejernihan air yang disalurkan dari pipa-pipa ke rumah-rumah warga yang taat membayar pajak setiap bulan. Jangan sampai air mati berminggu-minggu, lalu tiba-tiba yang mengalir  air keruh. Pelanggan adalah raja, layanilah raja jangan sampai  memancing di air keruh. [T]

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

“Bangbang” di Gumi Delod Ceking   
Berguru ke “Ngampan” Delod Ceking  
Antara Pura Gunung Payung dan Pura Batu Pageh  
Pura Gunung Payung di Gumi Delod Ceking
Gumi Delod Ceking Sebagai Pusat Perguruan
Ibu Tapa dan Pura Penataran Kampial, Keistimewaan Lain dari Gumi Delod Ceking 
Gumi Delod Ceking dan Dadu yang Terbalik
“Kupu-Kupu di Dalam Buku”
Tags: baliGumi Delod Cekingkuta selatanNusa DuaOrde Baru
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dialek Bahasa Bali dalam Seni Pertunjukan: Humor yang Memikat

Next Post

Merajut Warisan Alam & Budaya Menuju Pariwisata Regeneratif – Dari Perayaan HUT ke-6 Godevi

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Merajut Warisan Alam & Budaya Menuju Pariwisata Regeneratif – Dari Perayaan HUT ke-6 Godevi

Merajut Warisan Alam & Budaya Menuju Pariwisata Regeneratif – Dari Perayaan HUT ke-6 Godevi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co