24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bak Inpres dan Cubang Air di Gumi Delod Ceking   

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
September 1, 2024
in Esai
Bak Inpres dan Cubang Air di Gumi Delod Ceking   

Bak Inpres jejak peradaban air Gumi Delod Ceking | Foto : I Nyoman Tingkat

PROYEK Orde Baru untuk memenuhi kebutuhan air  krama di Gumi Delod Ceking, maksdunya wilayah Nusa Dua, Jimbaran dan sekitarnya di Kuta Selatan, pada 1970-an adalah Bak Inpres. Kala itu sejumlah proyek Bak Inpres dibangun berbasis tempekan mirip zonasi masa Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) era 2020-an. Model ini analog dengan sekaa bangbang yang sudah ada sebelumnya. Hampir di tiap tempekan yang ada bangbang-nya juga dibangun Bak Inpres untuk menampung air hujan.

Ada sejumlah makna pembangunan Bak Inpres berbasis tempekan zaman Orde Baru. Pertama, membantu krama mengatasi kesulitan air pada musim kemarau. Kemarau panjang yang sering disebut katiga kangkang adalah masa krisis air tanpa keluhan dan keributan, tetapi dimaknai dengan sering mapinunas kepada Hyang, sebagai wujud rasa eling. Krisis air ditarik ke ranah spirit lalu berpasrah setelah berusaha.

Kedua, Orde Baru memuliakan kearifan lokal yang dibina dan diwariskan secara turun-temurun. Di dalamnya terimplisit maksud untuk memersatukan, memerkuat, membina dan  mengembangkan kebudayaan yang hidup dan diimani. Kohesi (kesamaan fisik)  dan koherensi (keterpaduan nilai, value) tempekan disaturagakan sebagai representasi kekuatan sekala niskala, penyaturagaan jasmani dan rohani. Dalam konteks Pendidikan, inilah yang disebut transformasi nilai-nilai kehidupan.

Ketiga, pembangunan Bak Inpres bertujuan mendekatkan konsumen dengan sumber air. Jumlah sekaa tempekan pun  terbatas tidak lebih dari 35 orang sehingga lebih mudah mengelolanya.  Di Tempekan Mangas dan Kancagan Desa Adat Kutuh misalnya dibangun Bak Inpres pada 1977 di tengah suasana Pemilu yang mencekam tetapi nihil gesekan. Politik riang gembira tak terkatakan tetapi diimani dan dilaksanakan.  Boleh jadi, proyek ini adalah hadiah menjelang Pemilu yang kini lebih populer disebut Bansos yang belum terartikulasikan kala itu.

Menarik pula dicermati, warga merelakan tanahnya yang berbatu kapur sampai 8 are untuk membuat bak termasuk lapangan air yang dialirkan ke bak ketika hujan turun.  Maklumlah, saat itu tanah di Gumi Delod Ceking tiadalah berharga. Diberi gratis pun, tiada yang melirik. “Buat apa?” kata mereka yang diberikan. Hal yang nungkalik kini, tanah Delod Ceking jadi rebutan dan disengketakan padahal sebelumnya tak diurus bahkan dianggap tidak ada. Keadaan makin keruh dengan kehadiran maklar tanah dengan mulut manis. Bungut gebuh kata mereka yang menjadi korban.

Pekerjaan proyek Bak Inpres itu dilakukan secara swakelola dan bergotong royong di tengah suasana gumi sayah, ‘paceklik’. Mereka hanya berbekal ubi rebus atau ubi bakar sebelum pekerjaan menggali batu kapur yang padat dan keras. Kekerasan batu kapur itu diimbangi dengan kerja keras oleh anggota sekaa yang bergiliran piket menggali batu kapur dengan linggis membuat bak ukuran sekitar 4 x 6 x 5 m.  Setelah bak dibuat, dilanjutkan dengan membuat jalan air dengan kemiringan yang sekitar 30 drajat sehingga bila hujan, air langsung tertampung di  Bak Inpres ini.

Air yang ditampung di Bak Inpres ini baru dibagi pada musim kemarau tiba setelah air di bangbang tempekan dan bangbang desa habis. Pembagian air juga mengikuti model pembagian air di Bangbang Desa yaitu telung tegen ‘enam jeriken’ setiap hari yang dimulai dengan paruman sekaa dipimpin oleh Kelihan Sekaa Bak Inpres. Prosesi paruman diawali dengan ngaturang daksina pejati kehadapan Hyang Bhatara Wisnu dilengkapi  dupa yang menyala sebagai api saksi sekaligus api semangat menerima berkah air, yang disungkemi seluruh anggota.

Begitulah aturan dibuat sangat simpel tanpa protes dan diyakini bersama serta dilaksanakan bersama dalam keseharian saat pembagian air. Barang siapa yang mengambil air lebih dalam sehari diserahkan dampaknya kepada yang bersangkutan. Itulah sebabnya anggota sekaa Bak Inpres juga selalu berefleksi saban sore menjelang matahari tenggelam, terutama bagi anggota Kepala Keluarga dengan  jumlah yang banyak. Kalau-kalau ada salah satu anggota keluarga yang lebih mengambil air,  maka wajib hukumnya dikembalikan pada hari itu pula.

Gumi Delod Ceking dan Dadu yang Terbalik

Setelah sukses dengan Proyek Bak Inpres pada 1970-an, pada akhir 1980-an proyek Orde Baru  diganti dengan Proyek Cubang Air.  Jika Bak Inpres dibangun dengan penggalian batu karang dengan kedalaman tertentu, Cubang Air berbentuk tangki air dari viber diberikan gratis dan di letakkan di atas permukaan tanah warga juga berbasis tempekan. Warga  hanya menyiapkan pondasi penempatan Cubang Air. Cubang  air diisi seminggu sekali  melalui truk-truk berisi tangki air untuk memenuhi kebutuhan air warga masyarakat. Warga mengambil air di Cubang Air  yang sudah tersedia.

Seiring dengan perkembangan kemajuan, penduduk di Gumi Delog Ceking mulai mendapatkan  pekerjaan menjadi buruh di proyek-proyek Hotel Nusa Dua, kemampuan daya beli lambat laun membaik. Maka penduduk pun membeli langsung air tangki untuk ditampung di bak masing-masing. Akan tetapi semangat menghargai dan menghemat air pun terjaga dengan baik. Itulah jejak peradaban air di Gumi Delod Ceking, dari bangbang ke Bak Inpres dan Cubang Air, lalu ke Suukan ‘sumur di pantai’(yang disajikan terpisah).

Bak Inpres jejak peradaban air Gumi Delod Ceking | Foto : I Nyoman Tingkat

Catatan ini tidak dimaksudkan untuk mengorek luka lama krama dari Gumi Delod Ceking soal air, karena saya sadar peribahasa, “menepuk air di atas dulang tepercik muka sendiri”. Oleh karena itu, renungan ini  lebih diarahkan pada menemukan kembali nilai-nilai yang erosi diterjang perubahan secara drastis terutama dalam penghormatan terhadap air. Harapannya, generasi kini mengerti makna  air secara edukatif  fungsional.

Hemat menggunakan air adalah bagian dari ibadah pemujaan terhadap Dewa Wisnu yang menyebarkan kesuburmakmuran berkat air yang diolah menjadi Tirtha Amerta. Begitu pula PDAM yang menangani masalah air hendaknya melayani dengan kejernihan air yang disalurkan dari pipa-pipa ke rumah-rumah warga yang taat membayar pajak setiap bulan. Jangan sampai air mati berminggu-minggu, lalu tiba-tiba yang mengalir  air keruh. Pelanggan adalah raja, layanilah raja jangan sampai  memancing di air keruh. [T]

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

“Bangbang” di Gumi Delod Ceking   
Berguru ke “Ngampan” Delod Ceking  
Antara Pura Gunung Payung dan Pura Batu Pageh  
Pura Gunung Payung di Gumi Delod Ceking
Gumi Delod Ceking Sebagai Pusat Perguruan
Ibu Tapa dan Pura Penataran Kampial, Keistimewaan Lain dari Gumi Delod Ceking 
Gumi Delod Ceking dan Dadu yang Terbalik
“Kupu-Kupu di Dalam Buku”
Tags: baliGumi Delod Cekingkuta selatanNusa DuaOrde Baru
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dialek Bahasa Bali dalam Seni Pertunjukan: Humor yang Memikat

Next Post

Merajut Warisan Alam & Budaya Menuju Pariwisata Regeneratif – Dari Perayaan HUT ke-6 Godevi

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Merajut Warisan Alam & Budaya Menuju Pariwisata Regeneratif – Dari Perayaan HUT ke-6 Godevi

Merajut Warisan Alam & Budaya Menuju Pariwisata Regeneratif – Dari Perayaan HUT ke-6 Godevi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co