26 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Prakretaning Dharma Pemaculan”, Potret Ritual dan Problematika Pertanian Bali: Sebuah Pembacaan yang Belum Usai

Jaswanto by Jaswanto
September 3, 2024
in Ulas Pentas
“Prakretaning Dharma Pemaculan”, Potret Ritual dan Problematika Pertanian Bali: Sebuah Pembacaan yang Belum Usai

Pementasan “Prakretaning Dharma Pemaculan” karya Putu Ardiyasa dan STAHN Mpu Kuturan, serangkaian Singaraja Literary Festival 2024 | Foto: SLF/Amri

PANGGUNG gelap. Hanya menyisakan sorot bundar di layar dengan siluet seorang perempuan yang sedang membaca puisi berjudul Jalan Subak yang Menanjak (1997) karya Made Adnyana Ole. Suara perempuan itu patah oleh denging pengeras suara yang barangkali tak diatur dengan baik.

Sedangkan di sisi panggung lainnya suara-suara gamelan khas pedesaan mengiringi beberapa orang yang mengayunkan buyung dan selendang putih di tangan. Tak cukup mengayun-ayunkan, orang-orang itu berdiri dan menari dengan buyung dan selendang tersebut.

Sementara puisi yang dalam, kritis, dan pesimis, itu cukup membuat penonton terdiam, menunggu, apa yang akan terjadi di atas panggung berikutnya. Pembacaan puisi itu, meski dibacakan secara lempeng-lempeng saja, seperti kurang gairah, barangkali bisa disebut semacam strategi untuk memulai pertunjukan sebelum hal-hal mengejutkan terjadi di atas panggung.

Setelah puisi mengalun datar, panggung menjadi gelap total. Nah, di tengah gelap itulah kemudian muncul kerlap-kerlip cahaya putih menyala, seperti kunang-kunang yang terperangkap dalam toples. Dari sedikit bertambah banyak. Dari banyak lenyap tiada.  Musik pengiring yang menenangkan, bersama suara-suara bangau cangak, mendaulat panggung pertunjukan. Penonton tampak mulai merasa lega–mereka seakan diantar ke dunia yang berbeda.

Pementasan “Prakretaning Dharma Pemaculan” karya Putu Ardiyasa dan STAHN Mpu Kuturan, serangkaian Singaraja Literary Festival 2024 | Foto: SLF/Amri

Begitulah potongan awal dari pertunjukan teater dengan tajuk Prakretaning Dharma Pemaculan dari seorang dalang dan akademisi STAHN Mpu Kuturan Singaraja, I Putu Ardiyasa. Karya ini berangkat dari refleksinya atas narasi pertanian dalam lontar Dharma Pemacula.

Dari pembacaannya, Ardiyasa ‘bermain-main’ dengan ritual-ritual suci yang wajib dilakukan oleh para petani klasik Bali. Lebih lanjut, dalang yang kini bermukim di Singaraja ini mengkritisi praktik pertanian kini yang lebih mengandalkan pikiran pragmatis ketimbang nilai-nilai luhur dan keseimbangan alam.

Padahal, dalam Dharma Pemaculan praktik pertanian tidak hanya sekadar rutinitas fisik, gerak, atau, katakanlah, bertahan hidup, melainkan mempunyai filosofi tersendiri pada tiap lakunya. Atas dasar itu, menurut pembacaan saya, Ardiyasa memberikan gambaran setiap praktik pertanian untuk dipelajari secara lebih rasional tapi tetap mempertahankan mistisme dan glorifikasi yang diamini oleh kebanyakan orang Bali.

Lantas dalam mewujudkannya, dalam pengujung pertunjukan, selain menjadi sutradara, suara Putu Ardiyasa juga hadir mengiringi para pemain di atas panggung. Ia seperti merapal mantra atau terdengar seperti seorang yang sedang membaca lontar. Sementara itu, Kadek Anggara Rismandika dan wira Pradana melakukan sentuhan pada tata bunyi dan musik; serta Putu Batria Dama Danayu melakukan penataan gerak, koreografi, para aktor.

Pementasan “Prakretaning Dharma Pemaculan” karya Putu Ardiyasa dan STAHN Mpu Kuturan, serangkaian Singaraja Literary Festival 2024 | Foto: SLF/Amri

Pada karya ini, Sekolah Tinggi Agama Hindu Mpu Kuturan Singaraja dan Komunitas Lemah Tulis membantu Ardiyasa dalam hal teknis dan properti. Selain itu, kostum para pemain dalam karya ini diurus oleh Manubada Art Creative Studio. Untuk pementasan, karya ini dipentaskan pada Jumat, 23 Agustus 2024 pada pembukaan Singaraja Literary Festival 2024 di panggung Sasana Budaya, Singaraja, Bali.

Pembacaan yang Buru-Buru

Sebagaimana telah disinggung di atas, Prakretaning Dharma Pemaculan adalah seni pertunjukan yang terinspirasi dari lontar Dharma Pemaculan, salah satu manuskrip yang memuat ajaran suci yang menjadi landasan dalam laku pertanian tradisional Bali. Karya ini berusaha menggali filosofi dan praktik pertanian di Bali, yang menggabungkan nilai-nilai spiritual dan kearifan lokal dalam pengelolaan tanah dan alam, dengan simbol-simbol gerak tarian yang dimainkan aktor di atas panggung dan visual pewayangan.

Cerita dimulai dengan ritual mapag (atau magpag) toya (ritual menjemput air dalam Dharma Pemaculan). Ardi dan Dama memperlihatkan buyung-buyung, selendang putih, dan tarian-tarian kecil yang berputar-putar untuk menggambarkan praktik ritual pertama petani sebelum menanam padi itu. Saya pikir, pembacaan atas gerak ritual tersebut perlu diperkaya lagi. Sebab, pada kenyatannya, mapag toya juga melibatkan arit dan cangkul.   

Pementasan “Prakretaning Dharma Pemaculan” karya Putu Ardiyasa dan STAHN Mpu Kuturan, serangkaian Singaraja Literary Festival 2024 | Foto: SLF/Amri

Tetapi saya sepakat bahwa, sebagaimana telah tercantum dalam sinopsis karya, ritual tersebut adalah bentuk pemujaan kepada Dewi Sri, Dewi Padi dan Kesuburan, yang telah memberikan ajaran-ajaran penting kepada petani mengenai bagaimana cara yang benar dalam memelihara tanah, menanam padi, dan menjaga keseimbangan alam. Menurut Ardi, dalam ajarannya, Dewi Sri menekankan pentingnya harmoni antara manusia, alam, dan roh leluhur, yang semuanya saling terhubung dalam siklus kehidupan yang berkelanjutan.

Setiap adegan dalam karya ini menyoroti ritual-ritual suci yang harus dilakukan oleh para petani, seperti upacara sebelum menanam, perayaan panen, dan doa-doa khusus untuk meminta restu dari para dewa. Ya, pada pertengahan pertunjukan, saya melihat tarian Sanghyang di sana. Empat perempuan terpejam dan berusaha menari melebihi batas tubuhnya—dan dua di antaranya duduk dan berdiri sambil menari di atas bambu yang dirangkai sedemikian rupa. Lainnya berdiri di atas pundak rekannya. Nyanyian, katakanlah, Sanghyang dan genta mengiringi mereka menari.

Sanghyang erat kaitannya dengan masyarakat agraris di Bali. Kemunculannya dikaitkan dengan hasil panen para petani. Dalam pertunjukkan Membaca Sanghyang karya Wayan Sumahardika, misalnya, Jro I Nyoman Subrata mengatakan bahwa fungsi Sanghyang bagi masyarakat Bali—khususnya Desa Adat Geriana Kauh, Karangasem—dianggap sebagai ritual, selain menolak bala, juga mencegah hama pertanian seperti wereng, walang sangit, burung, dll.

Selain itu, Prakretaning Dharma Pemaculan juga menggambarkan bagaimana ajaran Dharma Pemaculan mengajarkan para petani untuk selalu bersyukur dan menjaga keharmonisan antara aktivitas manusia dengan alam, sehingga hasil panen bisa melimpah dan berkah dapat terus mengalir.

Pementasan “Prakretaning Dharma Pemaculan” karya Putu Ardiyasa dan STAHN Mpu Kuturan, serangkaian Singaraja Literary Festival 2024 | Foto: SLF/Amri

Dan ini yang ingin saya soroti lebih lanjut. Dikatakan dalam sinopsis pertunjukan, konflik dalam cerita muncul ketika petani mulai melanggar ajaran-ajaran leluhur dengan tidak memperhatikan keseimbangan alam, tapi hanya mengutamakan penghasilan besar (pragmatis-materialis). Akibatnya, bencana pun datang, seperti gagal panen, hama yang menyerang, dan cuaca yang tidak bersahabat.

Hal di atas tak sepenuhnya benar. Saya pikir itu bukan semata-mata salah petani yang melanggar ajaran, lebih daripada itu, ini juga berkaitan dengan jiwa zaman yang tidak mau tahu, atau memilih berpaling perihal ajaran tersebut. Ada peran pihak lain—yang lebih mengerikan, tentu saja—yang mengakibatkan ‘bencana’ itu terjadi.

Lihatlah kebijakan Orde Baru perihal Revolusi Hijau yang merusak banyak tatanan itu. Dan itu pula yang menjadi penyebab padi bali tersingkir perlahan dari sawah-sawah orang Bali. Perihal ini, saya pikir sutradara tidak cukup sabar untuk melakukan pembacaan kausalitas kenapa bencana itu bisa terjadi.

Namun, saya memaklumi, pembacaan memang tak bisa dilakukan semendalam itu. Ada “pekerjaan rumah” yang masih harus dilakukan untuk membuat teater ini menjadi benar-benar sampai “pertunjukan konflik” yang sesungguh, agar, tentu saja, tak semata menampilkan eksotisme masa lalu. Artinya, pertunjukan ini bisa jauh lebih bagus, dengan catatan klompok dari STAHN Mpu Kuturan dan Komunitas Lemah Tulis ini “tidak bubar” setelah pentas. Mereka harus melakukan pencarian-pencarian lagi, dan dengan begitu, bukannya tidak mungkin kelompok ini akan menjadi kelompok teater paling mapan dalam dunia teater, khususnya di Bali Utara.

Pertunjukan pada malam pembukaan Singaraja Literary Festival 2024 bisa dijadikan awal mula gairah kreatif, dan tentu saja tidak apa-apa jika masih terdapat kekuarangan. Apalagi pertunjukan itu memang dilalui dalam proses yang singkat. Menurut saya tidak adil menghakimi sebuah karya yang dikerjakan dengan sangat singkat tapi dituntut untuk ini-itu. Menjadi sebuah tontonan yang menarik saja sudah cukup, tanpa perlu dibebani dengan muatan narasi kritis atau simbol-simbol gerak yang memang menggambarkan ritual aslinya.

Sebagai sebuah tontonan, pertunjukan Prakretaning Dharma Pemaculan itu tentu saja bisa disebut berhasil. Ada banyak hal yang bisa menarik hati dan mata penonton untuk tetap menatap ke atas panggung. Ini tentu saja karena para pemain di atas panggung, secara fisik, menampilkan pola-pola gerakan yang bisa disebut mendekati sempurna. Modal utama hampir semua pemain adalah kekuatan mereka sebagai penari. Kekuatan inilah yang disadari oleh sutradara, sehingga gerak di atas panggung dijadikan materi utama untuk menyihir penonton. Itu, sekali lagi, memang berhasil.

Meskipun dalam telaah seni pertunjukan—apakah bentuknya kita sebut “naskah” atau “simbolisasi melalui gerak”, misalnya—, tidak cukup membutuhkan imajinasi, tetapi juga ketajaman pembacaan, kecocokan pendekatan (teoretis), dan tidak boleh dilupakan: keterampilan menulis. Saya pikir itu penting untuk dipertimbangkan.[T]

Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain terkait SINGARAJA LITERARY FESTIVAL 2024

Tabuhan 4/4 Luh: Narasi Perlawanan dari Dua Naskah tentang Perempuan
Tambal Sulam Ekranisasi Teks Lama ke Film
Tribute to Cok Sawitri: Merawat Ingatan, Mengalirkan Pengetahuan
Jam Session Kolaborasi 9 Seniman Bali Utara di Singaraja Literary Festival 2024
Tags: Dharma PemaculanSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2024STAHN Mpu Kuturan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sumur Peradaban Itu Bernama “Suukan”

Next Post

Menulis Menjadi Media Terapi

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

by Yudi Laksana
June 24, 2026
0
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

Read moreDetails

Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

by Kadek Surya Jayadi
June 20, 2026
0
Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

 “Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….”  ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian...

Read moreDetails

Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

by I Nyoman Darma Putra
June 15, 2026
0
Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

MENERJEMAHKAN tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke dalam seni pertunjukan kerap menjadi tantangan bagi para seniman. Pertama, tema-tema PKB dirumuskan...

Read moreDetails

Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

by Rezky Chiki
June 9, 2026
0
Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

“Salah satu hal yang membuat pelecehan sulit dikenali adalah karena ia sering hadir dalam bentuk yang tampak biasa: candaan, gurauan,...

Read moreDetails

Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

by Mas Ruscitadewi
June 7, 2026
0
Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

Lomba monolog dalam rangka Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Bali 2026 yang diadakan di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Sabtu,...

Read moreDetails

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

by Helvi Carnelis
April 14, 2026
0
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

SAYA merasakan dengan kuat budaya rantau hari ini, sebuah beban tanggung jawab yang tidak ringan dalam kebudayaan Minangkabau. Pengalaman itu...

Read moreDetails

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

by Radha Dwi Pradnyani
March 30, 2026
0
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

PEMAIN masuk arena secara bergiliran. Dengan gerakan berbeda-beda mereka berjalan tergesa, dinamis, kadang saling silang, kadang sejajar. Mereka bersuara meniru...

Read moreDetails

Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

by I Putu Ardiyasa
March 22, 2026
0
Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

MENYAKSIKAN perjalanan kultural di Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, selama empat tahun terakhir adalah pelajaran berharga tentang bagaimana estetika mampu...

Read moreDetails

Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

by I Gede Tilem Pastika
March 1, 2026
0
Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

MALAM itu, 28 Februari 2026, udara di Gedung Ksirarnawa Art Centre Denpasar terasa bergetar oleh ekspektasi yang tinggi. Sebagai sutradara...

Read moreDetails

Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

by Wahyu Mahaputra
February 28, 2026
0
Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

DERING telepon membangunkan saya dari tidur siang hari itu. Di seberang sambungan, suara Ariel Valeryan: sahabat dari Kuningan, Jawa Barat...

Read moreDetails
Next Post
Menulis Menjadi Media Terapi

Menulis Menjadi Media Terapi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pengabdian Internasional Undiksha & Ubon Ratchathani University —Perkuat Kesadaran Antarbudaya Bali-Thailand
Pendidikan

Pengabdian Internasional Undiksha & Ubon Ratchathani University —Perkuat Kesadaran Antarbudaya Bali-Thailand

SINGARAJA – TATKALA.CO | Tim Pengabdi Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Undiksha sukses menggelar International Community Service-Based Workshop bertajuk “PROMOTING...

by tatkala
June 25, 2026
Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket
Bahasa

Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket

BAGI orang awam di bidang kargo seperti saya, kata kargo selalu memantik imajinasi tentang gudang yang pengap, deru mesin, aroma...

by I Made Sudiana
June 25, 2026
Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
Khas

Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?

DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal
Panggung

‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal

PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co