5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Prakretaning Dharma Pemaculan”, Potret Ritual dan Problematika Pertanian Bali: Sebuah Pembacaan yang Belum Usai

Jaswanto by Jaswanto
September 3, 2024
in Ulas Pentas
“Prakretaning Dharma Pemaculan”, Potret Ritual dan Problematika Pertanian Bali: Sebuah Pembacaan yang Belum Usai

Pementasan “Prakretaning Dharma Pemaculan” karya Putu Ardiyasa dan STAHN Mpu Kuturan, serangkaian Singaraja Literary Festival 2024 | Foto: SLF/Amri

PANGGUNG gelap. Hanya menyisakan sorot bundar di layar dengan siluet seorang perempuan yang sedang membaca puisi berjudul Jalan Subak yang Menanjak (1997) karya Made Adnyana Ole. Suara perempuan itu patah oleh denging pengeras suara yang barangkali tak diatur dengan baik.

Sedangkan di sisi panggung lainnya suara-suara gamelan khas pedesaan mengiringi beberapa orang yang mengayunkan buyung dan selendang putih di tangan. Tak cukup mengayun-ayunkan, orang-orang itu berdiri dan menari dengan buyung dan selendang tersebut.

Sementara puisi yang dalam, kritis, dan pesimis, itu cukup membuat penonton terdiam, menunggu, apa yang akan terjadi di atas panggung berikutnya. Pembacaan puisi itu, meski dibacakan secara lempeng-lempeng saja, seperti kurang gairah, barangkali bisa disebut semacam strategi untuk memulai pertunjukan sebelum hal-hal mengejutkan terjadi di atas panggung.

Setelah puisi mengalun datar, panggung menjadi gelap total. Nah, di tengah gelap itulah kemudian muncul kerlap-kerlip cahaya putih menyala, seperti kunang-kunang yang terperangkap dalam toples. Dari sedikit bertambah banyak. Dari banyak lenyap tiada.  Musik pengiring yang menenangkan, bersama suara-suara bangau cangak, mendaulat panggung pertunjukan. Penonton tampak mulai merasa lega–mereka seakan diantar ke dunia yang berbeda.

Pementasan “Prakretaning Dharma Pemaculan” karya Putu Ardiyasa dan STAHN Mpu Kuturan, serangkaian Singaraja Literary Festival 2024 | Foto: SLF/Amri

Begitulah potongan awal dari pertunjukan teater dengan tajuk Prakretaning Dharma Pemaculan dari seorang dalang dan akademisi STAHN Mpu Kuturan Singaraja, I Putu Ardiyasa. Karya ini berangkat dari refleksinya atas narasi pertanian dalam lontar Dharma Pemacula.

Dari pembacaannya, Ardiyasa ‘bermain-main’ dengan ritual-ritual suci yang wajib dilakukan oleh para petani klasik Bali. Lebih lanjut, dalang yang kini bermukim di Singaraja ini mengkritisi praktik pertanian kini yang lebih mengandalkan pikiran pragmatis ketimbang nilai-nilai luhur dan keseimbangan alam.

Padahal, dalam Dharma Pemaculan praktik pertanian tidak hanya sekadar rutinitas fisik, gerak, atau, katakanlah, bertahan hidup, melainkan mempunyai filosofi tersendiri pada tiap lakunya. Atas dasar itu, menurut pembacaan saya, Ardiyasa memberikan gambaran setiap praktik pertanian untuk dipelajari secara lebih rasional tapi tetap mempertahankan mistisme dan glorifikasi yang diamini oleh kebanyakan orang Bali.

Lantas dalam mewujudkannya, dalam pengujung pertunjukan, selain menjadi sutradara, suara Putu Ardiyasa juga hadir mengiringi para pemain di atas panggung. Ia seperti merapal mantra atau terdengar seperti seorang yang sedang membaca lontar. Sementara itu, Kadek Anggara Rismandika dan wira Pradana melakukan sentuhan pada tata bunyi dan musik; serta Putu Batria Dama Danayu melakukan penataan gerak, koreografi, para aktor.

Pementasan “Prakretaning Dharma Pemaculan” karya Putu Ardiyasa dan STAHN Mpu Kuturan, serangkaian Singaraja Literary Festival 2024 | Foto: SLF/Amri

Pada karya ini, Sekolah Tinggi Agama Hindu Mpu Kuturan Singaraja dan Komunitas Lemah Tulis membantu Ardiyasa dalam hal teknis dan properti. Selain itu, kostum para pemain dalam karya ini diurus oleh Manubada Art Creative Studio. Untuk pementasan, karya ini dipentaskan pada Jumat, 23 Agustus 2024 pada pembukaan Singaraja Literary Festival 2024 di panggung Sasana Budaya, Singaraja, Bali.

Pembacaan yang Buru-Buru

Sebagaimana telah disinggung di atas, Prakretaning Dharma Pemaculan adalah seni pertunjukan yang terinspirasi dari lontar Dharma Pemaculan, salah satu manuskrip yang memuat ajaran suci yang menjadi landasan dalam laku pertanian tradisional Bali. Karya ini berusaha menggali filosofi dan praktik pertanian di Bali, yang menggabungkan nilai-nilai spiritual dan kearifan lokal dalam pengelolaan tanah dan alam, dengan simbol-simbol gerak tarian yang dimainkan aktor di atas panggung dan visual pewayangan.

Cerita dimulai dengan ritual mapag (atau magpag) toya (ritual menjemput air dalam Dharma Pemaculan). Ardi dan Dama memperlihatkan buyung-buyung, selendang putih, dan tarian-tarian kecil yang berputar-putar untuk menggambarkan praktik ritual pertama petani sebelum menanam padi itu. Saya pikir, pembacaan atas gerak ritual tersebut perlu diperkaya lagi. Sebab, pada kenyatannya, mapag toya juga melibatkan arit dan cangkul.   

Pementasan “Prakretaning Dharma Pemaculan” karya Putu Ardiyasa dan STAHN Mpu Kuturan, serangkaian Singaraja Literary Festival 2024 | Foto: SLF/Amri

Tetapi saya sepakat bahwa, sebagaimana telah tercantum dalam sinopsis karya, ritual tersebut adalah bentuk pemujaan kepada Dewi Sri, Dewi Padi dan Kesuburan, yang telah memberikan ajaran-ajaran penting kepada petani mengenai bagaimana cara yang benar dalam memelihara tanah, menanam padi, dan menjaga keseimbangan alam. Menurut Ardi, dalam ajarannya, Dewi Sri menekankan pentingnya harmoni antara manusia, alam, dan roh leluhur, yang semuanya saling terhubung dalam siklus kehidupan yang berkelanjutan.

Setiap adegan dalam karya ini menyoroti ritual-ritual suci yang harus dilakukan oleh para petani, seperti upacara sebelum menanam, perayaan panen, dan doa-doa khusus untuk meminta restu dari para dewa. Ya, pada pertengahan pertunjukan, saya melihat tarian Sanghyang di sana. Empat perempuan terpejam dan berusaha menari melebihi batas tubuhnya—dan dua di antaranya duduk dan berdiri sambil menari di atas bambu yang dirangkai sedemikian rupa. Lainnya berdiri di atas pundak rekannya. Nyanyian, katakanlah, Sanghyang dan genta mengiringi mereka menari.

Sanghyang erat kaitannya dengan masyarakat agraris di Bali. Kemunculannya dikaitkan dengan hasil panen para petani. Dalam pertunjukkan Membaca Sanghyang karya Wayan Sumahardika, misalnya, Jro I Nyoman Subrata mengatakan bahwa fungsi Sanghyang bagi masyarakat Bali—khususnya Desa Adat Geriana Kauh, Karangasem—dianggap sebagai ritual, selain menolak bala, juga mencegah hama pertanian seperti wereng, walang sangit, burung, dll.

Selain itu, Prakretaning Dharma Pemaculan juga menggambarkan bagaimana ajaran Dharma Pemaculan mengajarkan para petani untuk selalu bersyukur dan menjaga keharmonisan antara aktivitas manusia dengan alam, sehingga hasil panen bisa melimpah dan berkah dapat terus mengalir.

Pementasan “Prakretaning Dharma Pemaculan” karya Putu Ardiyasa dan STAHN Mpu Kuturan, serangkaian Singaraja Literary Festival 2024 | Foto: SLF/Amri

Dan ini yang ingin saya soroti lebih lanjut. Dikatakan dalam sinopsis pertunjukan, konflik dalam cerita muncul ketika petani mulai melanggar ajaran-ajaran leluhur dengan tidak memperhatikan keseimbangan alam, tapi hanya mengutamakan penghasilan besar (pragmatis-materialis). Akibatnya, bencana pun datang, seperti gagal panen, hama yang menyerang, dan cuaca yang tidak bersahabat.

Hal di atas tak sepenuhnya benar. Saya pikir itu bukan semata-mata salah petani yang melanggar ajaran, lebih daripada itu, ini juga berkaitan dengan jiwa zaman yang tidak mau tahu, atau memilih berpaling perihal ajaran tersebut. Ada peran pihak lain—yang lebih mengerikan, tentu saja—yang mengakibatkan ‘bencana’ itu terjadi.

Lihatlah kebijakan Orde Baru perihal Revolusi Hijau yang merusak banyak tatanan itu. Dan itu pula yang menjadi penyebab padi bali tersingkir perlahan dari sawah-sawah orang Bali. Perihal ini, saya pikir sutradara tidak cukup sabar untuk melakukan pembacaan kausalitas kenapa bencana itu bisa terjadi.

Namun, saya memaklumi, pembacaan memang tak bisa dilakukan semendalam itu. Ada “pekerjaan rumah” yang masih harus dilakukan untuk membuat teater ini menjadi benar-benar sampai “pertunjukan konflik” yang sesungguh, agar, tentu saja, tak semata menampilkan eksotisme masa lalu. Artinya, pertunjukan ini bisa jauh lebih bagus, dengan catatan klompok dari STAHN Mpu Kuturan dan Komunitas Lemah Tulis ini “tidak bubar” setelah pentas. Mereka harus melakukan pencarian-pencarian lagi, dan dengan begitu, bukannya tidak mungkin kelompok ini akan menjadi kelompok teater paling mapan dalam dunia teater, khususnya di Bali Utara.

Pertunjukan pada malam pembukaan Singaraja Literary Festival 2024 bisa dijadikan awal mula gairah kreatif, dan tentu saja tidak apa-apa jika masih terdapat kekuarangan. Apalagi pertunjukan itu memang dilalui dalam proses yang singkat. Menurut saya tidak adil menghakimi sebuah karya yang dikerjakan dengan sangat singkat tapi dituntut untuk ini-itu. Menjadi sebuah tontonan yang menarik saja sudah cukup, tanpa perlu dibebani dengan muatan narasi kritis atau simbol-simbol gerak yang memang menggambarkan ritual aslinya.

Sebagai sebuah tontonan, pertunjukan Prakretaning Dharma Pemaculan itu tentu saja bisa disebut berhasil. Ada banyak hal yang bisa menarik hati dan mata penonton untuk tetap menatap ke atas panggung. Ini tentu saja karena para pemain di atas panggung, secara fisik, menampilkan pola-pola gerakan yang bisa disebut mendekati sempurna. Modal utama hampir semua pemain adalah kekuatan mereka sebagai penari. Kekuatan inilah yang disadari oleh sutradara, sehingga gerak di atas panggung dijadikan materi utama untuk menyihir penonton. Itu, sekali lagi, memang berhasil.

Meskipun dalam telaah seni pertunjukan—apakah bentuknya kita sebut “naskah” atau “simbolisasi melalui gerak”, misalnya—, tidak cukup membutuhkan imajinasi, tetapi juga ketajaman pembacaan, kecocokan pendekatan (teoretis), dan tidak boleh dilupakan: keterampilan menulis. Saya pikir itu penting untuk dipertimbangkan.[T]

Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain terkait SINGARAJA LITERARY FESTIVAL 2024

Tabuhan 4/4 Luh: Narasi Perlawanan dari Dua Naskah tentang Perempuan
Tambal Sulam Ekranisasi Teks Lama ke Film
Tribute to Cok Sawitri: Merawat Ingatan, Mengalirkan Pengetahuan
Jam Session Kolaborasi 9 Seniman Bali Utara di Singaraja Literary Festival 2024
Tags: Dharma PemaculanSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2024STAHN Mpu Kuturan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sumur Peradaban Itu Bernama “Suukan”

Next Post

Menulis Menjadi Media Terapi

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

by Asmaran Dani
September 4, 2026
0
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

Read moreDetails

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

by Yanik Parta
August 24, 2026
0
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

Read moreDetails

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails
Next Post
Menulis Menjadi Media Terapi

Menulis Menjadi Media Terapi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co