16 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Prakretaning Dharma Pemaculan”, Potret Ritual dan Problematika Pertanian Bali: Sebuah Pembacaan yang Belum Usai

Jaswanto by Jaswanto
September 3, 2024
in Ulas Pentas
“Prakretaning Dharma Pemaculan”, Potret Ritual dan Problematika Pertanian Bali: Sebuah Pembacaan yang Belum Usai

Pementasan “Prakretaning Dharma Pemaculan” karya Putu Ardiyasa dan STAHN Mpu Kuturan, serangkaian Singaraja Literary Festival 2024 | Foto: SLF/Amri

PANGGUNG gelap. Hanya menyisakan sorot bundar di layar dengan siluet seorang perempuan yang sedang membaca puisi berjudul Jalan Subak yang Menanjak (1997) karya Made Adnyana Ole. Suara perempuan itu patah oleh denging pengeras suara yang barangkali tak diatur dengan baik.

Sedangkan di sisi panggung lainnya suara-suara gamelan khas pedesaan mengiringi beberapa orang yang mengayunkan buyung dan selendang putih di tangan. Tak cukup mengayun-ayunkan, orang-orang itu berdiri dan menari dengan buyung dan selendang tersebut.

Sementara puisi yang dalam, kritis, dan pesimis, itu cukup membuat penonton terdiam, menunggu, apa yang akan terjadi di atas panggung berikutnya. Pembacaan puisi itu, meski dibacakan secara lempeng-lempeng saja, seperti kurang gairah, barangkali bisa disebut semacam strategi untuk memulai pertunjukan sebelum hal-hal mengejutkan terjadi di atas panggung.

Setelah puisi mengalun datar, panggung menjadi gelap total. Nah, di tengah gelap itulah kemudian muncul kerlap-kerlip cahaya putih menyala, seperti kunang-kunang yang terperangkap dalam toples. Dari sedikit bertambah banyak. Dari banyak lenyap tiada.  Musik pengiring yang menenangkan, bersama suara-suara bangau cangak, mendaulat panggung pertunjukan. Penonton tampak mulai merasa lega–mereka seakan diantar ke dunia yang berbeda.

Pementasan “Prakretaning Dharma Pemaculan” karya Putu Ardiyasa dan STAHN Mpu Kuturan, serangkaian Singaraja Literary Festival 2024 | Foto: SLF/Amri

Begitulah potongan awal dari pertunjukan teater dengan tajuk Prakretaning Dharma Pemaculan dari seorang dalang dan akademisi STAHN Mpu Kuturan Singaraja, I Putu Ardiyasa. Karya ini berangkat dari refleksinya atas narasi pertanian dalam lontar Dharma Pemacula.

Dari pembacaannya, Ardiyasa ‘bermain-main’ dengan ritual-ritual suci yang wajib dilakukan oleh para petani klasik Bali. Lebih lanjut, dalang yang kini bermukim di Singaraja ini mengkritisi praktik pertanian kini yang lebih mengandalkan pikiran pragmatis ketimbang nilai-nilai luhur dan keseimbangan alam.

Padahal, dalam Dharma Pemaculan praktik pertanian tidak hanya sekadar rutinitas fisik, gerak, atau, katakanlah, bertahan hidup, melainkan mempunyai filosofi tersendiri pada tiap lakunya. Atas dasar itu, menurut pembacaan saya, Ardiyasa memberikan gambaran setiap praktik pertanian untuk dipelajari secara lebih rasional tapi tetap mempertahankan mistisme dan glorifikasi yang diamini oleh kebanyakan orang Bali.

Lantas dalam mewujudkannya, dalam pengujung pertunjukan, selain menjadi sutradara, suara Putu Ardiyasa juga hadir mengiringi para pemain di atas panggung. Ia seperti merapal mantra atau terdengar seperti seorang yang sedang membaca lontar. Sementara itu, Kadek Anggara Rismandika dan wira Pradana melakukan sentuhan pada tata bunyi dan musik; serta Putu Batria Dama Danayu melakukan penataan gerak, koreografi, para aktor.

Pementasan “Prakretaning Dharma Pemaculan” karya Putu Ardiyasa dan STAHN Mpu Kuturan, serangkaian Singaraja Literary Festival 2024 | Foto: SLF/Amri

Pada karya ini, Sekolah Tinggi Agama Hindu Mpu Kuturan Singaraja dan Komunitas Lemah Tulis membantu Ardiyasa dalam hal teknis dan properti. Selain itu, kostum para pemain dalam karya ini diurus oleh Manubada Art Creative Studio. Untuk pementasan, karya ini dipentaskan pada Jumat, 23 Agustus 2024 pada pembukaan Singaraja Literary Festival 2024 di panggung Sasana Budaya, Singaraja, Bali.

Pembacaan yang Buru-Buru

Sebagaimana telah disinggung di atas, Prakretaning Dharma Pemaculan adalah seni pertunjukan yang terinspirasi dari lontar Dharma Pemaculan, salah satu manuskrip yang memuat ajaran suci yang menjadi landasan dalam laku pertanian tradisional Bali. Karya ini berusaha menggali filosofi dan praktik pertanian di Bali, yang menggabungkan nilai-nilai spiritual dan kearifan lokal dalam pengelolaan tanah dan alam, dengan simbol-simbol gerak tarian yang dimainkan aktor di atas panggung dan visual pewayangan.

Cerita dimulai dengan ritual mapag (atau magpag) toya (ritual menjemput air dalam Dharma Pemaculan). Ardi dan Dama memperlihatkan buyung-buyung, selendang putih, dan tarian-tarian kecil yang berputar-putar untuk menggambarkan praktik ritual pertama petani sebelum menanam padi itu. Saya pikir, pembacaan atas gerak ritual tersebut perlu diperkaya lagi. Sebab, pada kenyatannya, mapag toya juga melibatkan arit dan cangkul.   

Pementasan “Prakretaning Dharma Pemaculan” karya Putu Ardiyasa dan STAHN Mpu Kuturan, serangkaian Singaraja Literary Festival 2024 | Foto: SLF/Amri

Tetapi saya sepakat bahwa, sebagaimana telah tercantum dalam sinopsis karya, ritual tersebut adalah bentuk pemujaan kepada Dewi Sri, Dewi Padi dan Kesuburan, yang telah memberikan ajaran-ajaran penting kepada petani mengenai bagaimana cara yang benar dalam memelihara tanah, menanam padi, dan menjaga keseimbangan alam. Menurut Ardi, dalam ajarannya, Dewi Sri menekankan pentingnya harmoni antara manusia, alam, dan roh leluhur, yang semuanya saling terhubung dalam siklus kehidupan yang berkelanjutan.

Setiap adegan dalam karya ini menyoroti ritual-ritual suci yang harus dilakukan oleh para petani, seperti upacara sebelum menanam, perayaan panen, dan doa-doa khusus untuk meminta restu dari para dewa. Ya, pada pertengahan pertunjukan, saya melihat tarian Sanghyang di sana. Empat perempuan terpejam dan berusaha menari melebihi batas tubuhnya—dan dua di antaranya duduk dan berdiri sambil menari di atas bambu yang dirangkai sedemikian rupa. Lainnya berdiri di atas pundak rekannya. Nyanyian, katakanlah, Sanghyang dan genta mengiringi mereka menari.

Sanghyang erat kaitannya dengan masyarakat agraris di Bali. Kemunculannya dikaitkan dengan hasil panen para petani. Dalam pertunjukkan Membaca Sanghyang karya Wayan Sumahardika, misalnya, Jro I Nyoman Subrata mengatakan bahwa fungsi Sanghyang bagi masyarakat Bali—khususnya Desa Adat Geriana Kauh, Karangasem—dianggap sebagai ritual, selain menolak bala, juga mencegah hama pertanian seperti wereng, walang sangit, burung, dll.

Selain itu, Prakretaning Dharma Pemaculan juga menggambarkan bagaimana ajaran Dharma Pemaculan mengajarkan para petani untuk selalu bersyukur dan menjaga keharmonisan antara aktivitas manusia dengan alam, sehingga hasil panen bisa melimpah dan berkah dapat terus mengalir.

Pementasan “Prakretaning Dharma Pemaculan” karya Putu Ardiyasa dan STAHN Mpu Kuturan, serangkaian Singaraja Literary Festival 2024 | Foto: SLF/Amri

Dan ini yang ingin saya soroti lebih lanjut. Dikatakan dalam sinopsis pertunjukan, konflik dalam cerita muncul ketika petani mulai melanggar ajaran-ajaran leluhur dengan tidak memperhatikan keseimbangan alam, tapi hanya mengutamakan penghasilan besar (pragmatis-materialis). Akibatnya, bencana pun datang, seperti gagal panen, hama yang menyerang, dan cuaca yang tidak bersahabat.

Hal di atas tak sepenuhnya benar. Saya pikir itu bukan semata-mata salah petani yang melanggar ajaran, lebih daripada itu, ini juga berkaitan dengan jiwa zaman yang tidak mau tahu, atau memilih berpaling perihal ajaran tersebut. Ada peran pihak lain—yang lebih mengerikan, tentu saja—yang mengakibatkan ‘bencana’ itu terjadi.

Lihatlah kebijakan Orde Baru perihal Revolusi Hijau yang merusak banyak tatanan itu. Dan itu pula yang menjadi penyebab padi bali tersingkir perlahan dari sawah-sawah orang Bali. Perihal ini, saya pikir sutradara tidak cukup sabar untuk melakukan pembacaan kausalitas kenapa bencana itu bisa terjadi.

Namun, saya memaklumi, pembacaan memang tak bisa dilakukan semendalam itu. Ada “pekerjaan rumah” yang masih harus dilakukan untuk membuat teater ini menjadi benar-benar sampai “pertunjukan konflik” yang sesungguh, agar, tentu saja, tak semata menampilkan eksotisme masa lalu. Artinya, pertunjukan ini bisa jauh lebih bagus, dengan catatan klompok dari STAHN Mpu Kuturan dan Komunitas Lemah Tulis ini “tidak bubar” setelah pentas. Mereka harus melakukan pencarian-pencarian lagi, dan dengan begitu, bukannya tidak mungkin kelompok ini akan menjadi kelompok teater paling mapan dalam dunia teater, khususnya di Bali Utara.

Pertunjukan pada malam pembukaan Singaraja Literary Festival 2024 bisa dijadikan awal mula gairah kreatif, dan tentu saja tidak apa-apa jika masih terdapat kekuarangan. Apalagi pertunjukan itu memang dilalui dalam proses yang singkat. Menurut saya tidak adil menghakimi sebuah karya yang dikerjakan dengan sangat singkat tapi dituntut untuk ini-itu. Menjadi sebuah tontonan yang menarik saja sudah cukup, tanpa perlu dibebani dengan muatan narasi kritis atau simbol-simbol gerak yang memang menggambarkan ritual aslinya.

Sebagai sebuah tontonan, pertunjukan Prakretaning Dharma Pemaculan itu tentu saja bisa disebut berhasil. Ada banyak hal yang bisa menarik hati dan mata penonton untuk tetap menatap ke atas panggung. Ini tentu saja karena para pemain di atas panggung, secara fisik, menampilkan pola-pola gerakan yang bisa disebut mendekati sempurna. Modal utama hampir semua pemain adalah kekuatan mereka sebagai penari. Kekuatan inilah yang disadari oleh sutradara, sehingga gerak di atas panggung dijadikan materi utama untuk menyihir penonton. Itu, sekali lagi, memang berhasil.

Meskipun dalam telaah seni pertunjukan—apakah bentuknya kita sebut “naskah” atau “simbolisasi melalui gerak”, misalnya—, tidak cukup membutuhkan imajinasi, tetapi juga ketajaman pembacaan, kecocokan pendekatan (teoretis), dan tidak boleh dilupakan: keterampilan menulis. Saya pikir itu penting untuk dipertimbangkan.[T]

Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain terkait SINGARAJA LITERARY FESTIVAL 2024

Tabuhan 4/4 Luh: Narasi Perlawanan dari Dua Naskah tentang Perempuan
Tambal Sulam Ekranisasi Teks Lama ke Film
Tribute to Cok Sawitri: Merawat Ingatan, Mengalirkan Pengetahuan
Jam Session Kolaborasi 9 Seniman Bali Utara di Singaraja Literary Festival 2024
Tags: Dharma PemaculanSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2024STAHN Mpu Kuturan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sumur Peradaban Itu Bernama “Suukan”

Next Post

Menulis Menjadi Media Terapi

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

by Helvi Carnelis
April 14, 2026
0
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

SAYA merasakan dengan kuat budaya rantau hari ini, sebuah beban tanggung jawab yang tidak ringan dalam kebudayaan Minangkabau. Pengalaman itu...

Read moreDetails

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

by Radha Dwi Pradnyani
March 30, 2026
0
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

PEMAIN masuk arena secara bergiliran. Dengan gerakan berbeda-beda mereka berjalan tergesa, dinamis, kadang saling silang, kadang sejajar. Mereka bersuara meniru...

Read moreDetails

Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

by I Putu Ardiyasa
March 22, 2026
0
Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

MENYAKSIKAN perjalanan kultural di Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, selama empat tahun terakhir adalah pelajaran berharga tentang bagaimana estetika mampu...

Read moreDetails

Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

by I Gede Tilem Pastika
March 1, 2026
0
Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

MALAM itu, 28 Februari 2026, udara di Gedung Ksirarnawa Art Centre Denpasar terasa bergetar oleh ekspektasi yang tinggi. Sebagai sutradara...

Read moreDetails

Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

by Wahyu Mahaputra
February 28, 2026
0
Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

DERING telepon membangunkan saya dari tidur siang hari itu. Di seberang sambungan, suara Ariel Valeryan: sahabat dari Kuningan, Jawa Barat...

Read moreDetails

Pesan, Refleksi, dan Kritik Sosial dalam Drama Bali Modern di Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

DRAMA Bali modern atau teater berbahasa Bali yang dipentaskan oleh sejumlah kelompok teater dalam ajang Bulan Bahasa Bali 2026 menunjukkan...

Read moreDetails

Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

by Rusdy Ulu
February 25, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

EMPAT orang masing-masing membawa ember dan lap pel, lalu mengepel lantai panggung secara bersamaan. Mereka menarik lap pel dengan gerakan...

Read moreDetails

Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

by Kadek Sonia Piscayanti
February 16, 2026
0
Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

MUSIKAL Perahu Kertas di Ciputra Artpeneur Theater, Jakarta, hadir pada saat yang tepat, ketika banyak manusia bingung menemukan diri mereka,...

Read moreDetails

‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

by Angga Wijaya
February 16, 2026
0
‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

SAYA tidak duduk di kursi penonton ketika Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati dipentaskan dalam rangkaian Bulan Bahasa Bali...

Read moreDetails

Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

by Son Lomri
February 6, 2026
0
Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

ORANG-orang di Auditorium Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja itu diteror suara sirine yang keluar dari mulut tujuh aktor Teater Komunitas...

Read moreDetails
Next Post
Menulis Menjadi Media Terapi

Menulis Menjadi Media Terapi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan
Pendidikan

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

KETUA MPR RI, Ahmad Muzani memberikan Kuliah Umum Kebangsaan kepada sivitas akademika Institut Mpu Kuturan (IMK) pada Jumat (15/5) sore....

by Son Lomri
May 15, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali
Liputan Khusus

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

by Jaswanto
May 15, 2026
Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co