8 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tabuhan 4/4 Luh: Narasi Perlawanan dari Dua Naskah tentang Perempuan

Jaswanto by Jaswanto
September 1, 2024
in Ulas Pentas
Tabuhan 4/4 Luh: Narasi Perlawanan dari Dua Naskah tentang Perempuan

Pertunjukan bertajuk Tabuhan 4/4 Luh karya Tamimi Rutjita dan Kelompok Pojok di Singaraja Literary Festival 2024 | Foto: SLF/Amri

SEORANG presentator mempersilakan penonton untuk merapat mendekati lantai pertunjukan, sangat dekat, nyaris tanpa sekat. Ia menyapa semuanya dengan basa-basi dan beberapa informasi. Tak cukup hanya meminta penonton duduk manis menikmati pertunjukan, presentator itu pula meminta penonton turut serta, melibatkan diri, membaca naskah yang akan dibacakan oleh para pemain—ia menyebutnya rekan-rekan saya.

Saat presentator panjang-lebar menjelaskan bahwa naskah yang akan dipentaskan adalah karya penulis generasi Y yang berupaya untuk mendekonstruksi dongeng dan mitologi Ni Tuung Kuning dan Luhiyang—dua tokoh fiktif yang dihadirkan dua penulis perempuan dari Bali dan Jawa—sebagai pijakan atas keberlangsungan plot untuk menyadarkan, merefleksikan, dan mengusik pemahaman kita hari ini tentang posisi perempuan dan menerangkan pengertian mitos dan legenda menurut tokoh-tokoh Barat, satu persatu aktor (pembaca naskah) memasuki panggung dan duduk di kursi properti yang telah ditata sedemikian rupa.

Musik terdengar mencekam, seorang penari—salah satu aktor yang duduk di kursi tadi—bergerak mengelilingi panggung, seolah menyihir pemain lain untuk berpindah, berdiri di atas kursi. Tak berselang lama, kursi-kursi itu dirobohkan satu persatu dengan penuh perhitungan. Pembaca melantunkan melodi dengan kata pecah, pedih, persis—sebuah acapella yang mencekam. Alih-alih suara tersebut terpisah satu sama lain, suara alunan kata tersebut justru beriringan dengan narasi lain yang mengiringinya.

Menyita perhatian agaknya menjadi frasa yang tepat pada pertunjukan bertajuk Tabuhan 4/4 Luh karya Tamimi Rutjita dan Kelompok Pojok ini. Pasalnya, pertunjukan yang dipentaskan pada gelaran Singaraja Literary Festival 2024 (24/8/2024) ini membuka ruang pembacaan drama lintas media yang menarik. Di mana dua judul naskah, dua kisah, dari dua perempuan yang berbeda wilayah—Wulan Dewi Saraswati (Bali) dan Dyah Ayu (Jawa)—digabungkan menjadi sebuah naskah baru. Hal ini menjadi persilangan unik, mengingat, sependek pengetahuan saya, satu naskah pertunjukan lazimnya dipentaskan sendiri-sendiri secara terpisah.

Pementasan “Tabuhan 4/4 Luh” karya Tamimi Rutjita dan Kelompok Pojok, 24 Agustus 2024, serangkaian Singaraja Literary Festival 2024 | Foto: SLF/Amri

Dari pertemuan antara Pararatoning Luh (karya Dyah Ayu) dan Tabuhan (karya Wulan Dewi) ini, Tabuhan 4/4 Luh menjelma menjadi ruang dialog yang produktif. Namun, bukan karena pertunjukan tersebut berisi banyak dialog antartokoh, melainkan menjadi wahana bicara atas kegelisahan untuk melawan kemapanan dan mengangkat persoalan kehidupan perempuan yang masih dianggap sebelah mata, juga ‘terpinggirkan’.

Atas dasar itulah, saya pikir, Tamimi sengaja membumbuinya narasi menggali lebih dalam melalui kajian terhadap disertasi Titi Surti Nastiti yang telah dibukukan pada 2016 dengan judul “Kedudukan dan Peranan Perempuan dalam Masyarakat Jawa Kuna (Abad VIII-XV Masehi)”. Lantas, ‘gabungan’ kedua naskah ini membuahkan pertunjukan yang menarik, baik secara visual, aural, maupun esensial.

Sebagaimana penjelasan yang tercantum dalam booklet pertunjukan, Tabuhan 4/4 Luh adalah sebuah karya yang telah berjalan cukup lama. Selama empat tahun terakhir, karya ini telah dipentaskan di berbagai kota yang dianggap sebagai sumber folklor yang dibahas dalam naskah, seperti Jakarta, Malang, dan Lombok—dan terakhir di Singaraja, Bali. Awalnya, dua naskah terpisah dipresentasikan dalam pembacaan dramatik Kalampuan secara daring. Namun, setelah menemukan kesamaan tema antara kedua naskah tersebut, beberapa plot kemudian dikurasi dan dirangkai menjadi sebuah ceramah dan pembacaan bersama.

Masih dari sumber yang sama, Tabuhan 4/4 Luh merupakan pembacaan drama lintas media yang menggabungkan dua naskah, seperti yang telah disinggung di atas, dari dua penulis dengan latar belakang berbeda. Naskah pertama, Pararatoning Luh, mengejawantahkan sosok mitologis Ken Dedes dalam setting modern. Sementara itu, naskah kedua, Tabuhan, merekonstruksi takdir kosmis Ni Tuung Kuning dari folklor Bali.

Peran Ganda

Seingat saya, ada 10 chapter dalam Tabuhan 4/4 Luh, yang masing-masing silih berganti mengisahkan bagaimana Luhiyang dan Ni Tuung Kuning ‘melawan’ ketidakberdayaannya sendiri. Alhasil, kita seperti menonton dua cerita dalam satu panggung pertunjukan secara bersamaan. Tetapi perpindahan dari satu kisah ke kisah lainnya dikemas dengan sangat halus, seolah nyambung satu sama lain, dan aktor—pembaca naskah—juga dengan santai saja sekejap menjelma-rupa menjadi banyak tokoh—multiperan.

Pementasan “Tabuhan 4/4 Luh” karya Tamimi Rutjita dan Kelompok Pojok, 24 Agustus 2024, serangkaian Singaraja Literary Festival 2024 | Foto: SLF/Amri

Untuk itu saya tak segan-segan mengangkat topi kepada Indian Akbar, Magda Julia, Renold Pakpahan, Haris S, dan Dewi Sutjianti yang dengan baik menjalankan tugasnya sebagai penampil. Lihatlah, mereka tak hanya memerankan satu tokoh, tapi banyak—saya lupa pastinya.

Mereka menjadi orang satu, dua, tiga, dan empat. Sekejap menjelma batang, lalu Banaspati, Banaspati Raja, Prajapati, dan Anggapati. Oh Tuhan, sekarang Indian Akbar bahkan sudah jadi Jataka yang mengobrol dengan Luhiyang. Dan apalagi ini, sesaat setelah satu chapter Jataka dan Luhiyang selesai, Dewi, Haris, dan Renold sudah berubah menjadi Vagina, Teratai, dan Hantu—pula saling bercakap-cakap dan membuat penonton terbahak.

Malam itu, di Sasana Budaya, Singaraja, dari chapter 1 sampai pementasan berakhir, aktor silih berganti peran. Mereka hanya berlima, tapi peran yang harus dimainkan lebih daripada itu. Ya, tak perlu menjadi pemerhati seni pertunjukan untuk mengetahui bahwa setiap pemeran dalam Tabuhan 4/4 Luh memiliki kemampuan ganda. Di samping memiliki keterampilan dalam membawakan peran tokoh lakon dalam cerita, mereka juga terampil dalam bernyanyi, menari, monolog, dan memahami iringan musik.

Pementasan “Tabuhan 4/4 Luh” karya Tamimi Rutjita dan Kelompok Pojok, 24 Agustus 2024, serangkaian Singaraja Literary Festival 2024 | Foto: SLF/Amri

Nino Bukir, selain sebagai presentator, pula bertanggungjawab atas iringan musik. Renold Pakpahan juga demikian. Ia pembaca sekaligus stage manager. Dan Magda Julia dalam Tabuhan 4/4 Luh belakangan saya ketahui ternyata juga menjelma sebagai asisten sutradara. Iqbal Samudra, produser pertunjukan tersebut, bahkan ikut turun tangan di panggung pementasan meski perannya hanya sebagai sempilan dalam satu chapter.

Tabuhan 4/4 Luh yang dipentaskan di Singaraja malam itu tentu berbeda dari pementasan-pementasan sebelumnya. Pada kanal Kelompok Pojok di YouTube saya menonton naskah ini dipentaskan dengan lebih banyak orang dan kursi-kursi properti yang digunakan pula jauh lebih banyak. Saya tidak tahu pasti alasan mengenai perbedaan tersebut. Entah ini berkaitan dengan efektivitas banyak hal atau Tamimi—atau dalam hal ini Kelompok Pojok—sedang mencari format, katakanlah, ideal untuk mementaskan naskah ini. Saya tidak tahu.

Tetapi, terlepas dari peran ganda tersebut, sekali lagi, saya menaruh kekaguman pada mereka, khususnya para pembaca, pemeran, aktor, atau semacamnya atau apalah sebutannya. Saya merasa mereka seperti lempung yang bisa—dan siap—dibentuk menjadi apa saja. Artinya, mereka mampu menjadi media melalui kepekaan; tubuh, rasa, dan suara dalam membawakan peran dari tuntutan lakon (cerita) yang diekspresikan secara estetis melalui simbol atau lambang audio (suara, kata-kata), visual (gerak  tubuh), dan penjiwaan (penghayatan peran) di atas pentas.

Saya tak tahu banyak mengenai seni pertunjukan. Tapi saya percaya bahwa dalam seni peran terdapat takaran atau ukuran dalam menciptakan irama permainan; apakah pemeran lebih mengarah pada “over acting”, “under acting” dari takaran yang seharusnya, sehingga irama permainan menjadi monoton, tidak berkembang, menjemukan, membosankan lawan main, dan penonton. Tapi dalam Tabuhan 4/4 Luh hal tersebut seperti tidak terjadi. Setiap pemeran, menurut awam saya, bersandiwara dalam takaran yang pas—kalau bukan sempurna.

Narasi Perlawanan Perempuan

Bukan tanpa sebab Tamimi memadukan antara Pararatoning Luh dan Tabuhan. Saya pikir, bagi dirinya, sebagaimana telah dijelaskan dalam booklet pertunjukan tersebut, kedua naskah sama-sama memiliki kesamaan tema, yakni perempuan dan perlawanan, sebutlah, penindatas atasnya. Di mana tokoh pertama adalah aktor kunci dalam huru-hara Tumapel—Ken Dedes. Bagaimana ia menjadi sosok validasi atas segala yang kuat dan kuasa. Sementara tokoh kedua—Ni Tuung Kuning—menerobos melintasi ruang dan waktu untuk memperbaiki kisah hidupnya.

Pementasan “Tabuhan 4/4 Luh” karya Tamimi Rutjita dan Kelompok Pojok, 24 Agustus 2024, serangkaian Singaraja Literary Festival 2024 | Foto: SLF/Amri

Kelompok Pojok—atau Tamimi—mencoba melakukan pemaknaan ulang tentang apa itu kesataran, dan apakah dalam praktiknya manusia—dengan ragam identitas gender—sebagai entitas sama-sama telah mendapat kesempatan yang mereta di masa lalu dan masa kini? Dua hal tersebut terus berdengung dan berkelindan dengan realitas peradaban kontemporer.

Tabuhan 4/4 Luh mengajak penonton untuk berpartisipasi aktif dalam pembacaan dramatik dengan teori dan representasi folklor sebagai pisau analisis. Penonton dan aktor juga menguji satu hipotesis: “Apakah teks hanya menjadi alat untuk memperkuat relasi kuasa bagi si pemenang yang menuliskan cerita?”

Dalam naskah tersebut, Tamimi, Dyah, dan Wulan sama-sama berupaya melawan penindasan berbasis gender dalam norma sosial. Melawan apa yang menjadi hambatan untuk menyatakan dirinya sebagai manusia yang utuh. Kisah Ni Tuung Kuning mengingatkan saya akan zaman jahiliyah di mana beberapa kabilah gurun pasir di jazirah Arab yang tak sudi—bahkan aib—mempunyai seorang anak perempuan.

Pada zaman kebodohan itu anak-anak perempuan dikubur hidup-hidup oleh ayah kandung mereka sendiri—seperti I Pudak yang tak menginginkan kelahiran Ni Tuung Kuning. “… jika perempuan, bunuh saja, cincang, dan bagikan kepada ayam-ayamku secara merata,” ucap Pudak kepada istrinya sebelum Kuning lahir.

Pementasan “Tabuhan 4/4 Luh” karya Tamimi Rutjita dan Kelompok Pojok, 24 Agustus 2024, serangkaian Singaraja Literary Festival 2024 | Foto: SLF/Amri

Sampai di sini, saya teringat diskusi dengan seorang dosen sosiologi, I Gusti Made Arya Suta Wirawan, pada suatu petang saat saya masih menjadi mahasiswa—yang kemudian hasil diskusi tersebut ia tulis menjadi esai berjudul Melampaui Domestikasi Perempuan (2017). Tidak bisa dimungkiri, katanya, bahwa sejarah peradaban manusia didominasi oleh peradaban patriarki. Peradaban ini telah menggiring dan menjadikan perempuan tak ubahnya sebuah properti.

Sebagai sebuah properti kebudayaan, perempuan ‘dituntut’ agar tumbuh berkembang sesuai kehendak laki-laki. Sedangkan Laki-laki dianggap memiliki otoritas mutlak dalam menentukan spesifikasi terhadap pembentukan fisik dan moral perempuan. Hal tersebut seolah-olah mengisyaratkan perempuan sebagai sosok yang tidak mampu membentuk kebudayaannya sendiri.

Yang lebih mengerikan, lanjut Arya, peradaban menganggap bahwa kesadaran perempuan tidak lebih dari kesadaran laki-laki itu sendiri. Sebuah kesadaran yang telah—meminjam istilah Arya Suta—“terkamuflase” baik secara kognitif maupun psikologis. Dengan kata lain, ketika perempuan dianggap mampu mendefinisikan dirinya, baik itu sebagai ibu rumah tangga maupun sebagai seorang gadis anggun yang lihai dan sopan bertutur kata, berbusana tertutup, dan segala hal tentang dirinya, ternyata tidak lebih dari hasil konstruksi dan konsensus peradaban patriarki.

Para pemain dan tim produksi bersama kru Singaraja Literary Festival 2024 | Foto: SLF/Amri

Kaum feminis mengatakan bahwa sejarah manusia adalah sejarah laki-laki. Semua basis kehidupan dibentuk lewat fondasi maskulinitas. Sebagaimana Aristoteles menyebut perempuan sebagai “laki-laki yang tidak lengkap”. Publik adalah muara laki-laki. Menurut Arya, segala hal yang publik bisa mengintervensi yang domestik, tetapi tidak sebaliknya, dan prinsip ini menjadi dasar berpikir laki-laki dalam menempatkan perempuan sebagai gender nomor dua—atau yang oleh Simon de Beauvoir disebut dengan istilah The Second Sex.

Terlepas dari catatan konteks tersebut, bagi saya, Tabuhan 4/4 Luh adalah perlawanan atas kemapanan narasai yang diulang-ulang dalam mitologi atau dongeng. Dalam hal ini, padanan ‘nasib’ dan gabungan kedua naskah ini dirasa dapat memberikan satu pesan yang sama, yakni perlawanan. Tapi hal yang lebih menarik adalah, perlawanan atau meng-counter kemapanan ini tidak diposisikan sebagai wahana balas dendam, namun sebagai ruang refleksi dan dialog untuk pelbagai hal yang lebih aktual dan kontekstual.[T]

Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain terkait SINGARAJA LITERARY FESTIVAL 2024

Tambal Sulam Ekranisasi Teks Lama ke Film
Menelusuri Jejak Pembahasan Pertanian dalam Sastra Dulu dan Kini
Tribute to Cok Sawitri: Merawat Ingatan, Mengalirkan Pengetahuan
Jam Session Kolaborasi 9 Seniman Bali Utara di Singaraja Literary Festival 2024
Tags: Kelompok PojokSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2024Tamimi RutjitaTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Merajut Warisan Alam & Budaya Menuju Pariwisata Regeneratif – Dari Perayaan HUT ke-6 Godevi

Next Post

Puisi-puisi I Nyoman Wirata | Sketsa Penyair Samar Gantang

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
0
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

Read moreDetails

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

by Azzahra Naya R
July 1, 2026
0
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi I Nyoman Wirata | Sketsa Penyair Samar Gantang

Puisi-puisi I Nyoman Wirata | Sketsa Penyair Samar Gantang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.
Ulas Rupa

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

by Angga Wijaya
August 7, 2026
Sudahi Isme-Ismemu Itu!
Kritik Seni

Sudahi Isme-Ismemu Itu!

ADA satu pertanyaan yang masih menjadi survei teratas ketika publik bertanya tentang karya seorang seniman. Karyamu ini gayanya apa? Abstrak,...

by Made Chandra
August 7, 2026
Indonesia dalam Secangkir Kopi
Esai

Indonesia dalam Secangkir Kopi

PAGI itu saya duduk di sebuah cafe kecil di pinggiran kota. Tidak ada yang istimewa. Meja kayu yang mulai kusam,...

by Ahmad Fatoni
August 7, 2026
Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!
Pendidikan

Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!

“HARI ini saya tidak sedang melihat sekelompok calon wisudawan. Saya sedang melihat sekumpulan wajah yang menyimpan cerita perjalanan yang berbeda-beda.”...

by Dede Putra Wiguna
August 7, 2026
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan
Ulas Film

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

by Satria Aditya
August 7, 2026
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  
Tualang

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani
Ulas Rupa

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

PADA 10 April hingga 30 Juni 2026 lalu digelar pameran 12 Perupa Perempuan Indonesia. Perhelatan ini diinisiasi Indonesian Women Artists...

by Hartanto
August 7, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“Gigolo Pendidikan”, Oemar Bakrie, dan Saat Kasih Sayang Guru Menjadi Barang Premium

BEBERAPA hari lalu saya iseng melontarkan istilah yang terdengar keterlaluan.  Gigodik, “Gigolo Pendidikan”. Bayangan saya sederhana. Jangan-jangan sekarang ada "profesi"...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 7, 2026
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak
Khas

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

by Jaswanto
August 7, 2026
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan
Khas

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

by tatkala
August 6, 2026
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis
Esai

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi
Esai

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

by Arief Rahzen
August 6, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co