18 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tabuhan 4/4 Luh: Narasi Perlawanan dari Dua Naskah tentang Perempuan

Jaswanto by Jaswanto
September 1, 2024
in Ulas Pentas
Tabuhan 4/4 Luh: Narasi Perlawanan dari Dua Naskah tentang Perempuan

Pertunjukan bertajuk Tabuhan 4/4 Luh karya Tamimi Rutjita dan Kelompok Pojok di Singaraja Literary Festival 2024 | Foto: SLF/Amri

SEORANG presentator mempersilakan penonton untuk merapat mendekati lantai pertunjukan, sangat dekat, nyaris tanpa sekat. Ia menyapa semuanya dengan basa-basi dan beberapa informasi. Tak cukup hanya meminta penonton duduk manis menikmati pertunjukan, presentator itu pula meminta penonton turut serta, melibatkan diri, membaca naskah yang akan dibacakan oleh para pemain—ia menyebutnya rekan-rekan saya.

Saat presentator panjang-lebar menjelaskan bahwa naskah yang akan dipentaskan adalah karya penulis generasi Y yang berupaya untuk mendekonstruksi dongeng dan mitologi Ni Tuung Kuning dan Luhiyang—dua tokoh fiktif yang dihadirkan dua penulis perempuan dari Bali dan Jawa—sebagai pijakan atas keberlangsungan plot untuk menyadarkan, merefleksikan, dan mengusik pemahaman kita hari ini tentang posisi perempuan dan menerangkan pengertian mitos dan legenda menurut tokoh-tokoh Barat, satu persatu aktor (pembaca naskah) memasuki panggung dan duduk di kursi properti yang telah ditata sedemikian rupa.

Musik terdengar mencekam, seorang penari—salah satu aktor yang duduk di kursi tadi—bergerak mengelilingi panggung, seolah menyihir pemain lain untuk berpindah, berdiri di atas kursi. Tak berselang lama, kursi-kursi itu dirobohkan satu persatu dengan penuh perhitungan. Pembaca melantunkan melodi dengan kata pecah, pedih, persis—sebuah acapella yang mencekam. Alih-alih suara tersebut terpisah satu sama lain, suara alunan kata tersebut justru beriringan dengan narasi lain yang mengiringinya.

Menyita perhatian agaknya menjadi frasa yang tepat pada pertunjukan bertajuk Tabuhan 4/4 Luh karya Tamimi Rutjita dan Kelompok Pojok ini. Pasalnya, pertunjukan yang dipentaskan pada gelaran Singaraja Literary Festival 2024 (24/8/2024) ini membuka ruang pembacaan drama lintas media yang menarik. Di mana dua judul naskah, dua kisah, dari dua perempuan yang berbeda wilayah—Wulan Dewi Saraswati (Bali) dan Dyah Ayu (Jawa)—digabungkan menjadi sebuah naskah baru. Hal ini menjadi persilangan unik, mengingat, sependek pengetahuan saya, satu naskah pertunjukan lazimnya dipentaskan sendiri-sendiri secara terpisah.

Pementasan “Tabuhan 4/4 Luh” karya Tamimi Rutjita dan Kelompok Pojok, 24 Agustus 2024, serangkaian Singaraja Literary Festival 2024 | Foto: SLF/Amri

Dari pertemuan antara Pararatoning Luh (karya Dyah Ayu) dan Tabuhan (karya Wulan Dewi) ini, Tabuhan 4/4 Luh menjelma menjadi ruang dialog yang produktif. Namun, bukan karena pertunjukan tersebut berisi banyak dialog antartokoh, melainkan menjadi wahana bicara atas kegelisahan untuk melawan kemapanan dan mengangkat persoalan kehidupan perempuan yang masih dianggap sebelah mata, juga ‘terpinggirkan’.

Atas dasar itulah, saya pikir, Tamimi sengaja membumbuinya narasi menggali lebih dalam melalui kajian terhadap disertasi Titi Surti Nastiti yang telah dibukukan pada 2016 dengan judul “Kedudukan dan Peranan Perempuan dalam Masyarakat Jawa Kuna (Abad VIII-XV Masehi)”. Lantas, ‘gabungan’ kedua naskah ini membuahkan pertunjukan yang menarik, baik secara visual, aural, maupun esensial.

Sebagaimana penjelasan yang tercantum dalam booklet pertunjukan, Tabuhan 4/4 Luh adalah sebuah karya yang telah berjalan cukup lama. Selama empat tahun terakhir, karya ini telah dipentaskan di berbagai kota yang dianggap sebagai sumber folklor yang dibahas dalam naskah, seperti Jakarta, Malang, dan Lombok—dan terakhir di Singaraja, Bali. Awalnya, dua naskah terpisah dipresentasikan dalam pembacaan dramatik Kalampuan secara daring. Namun, setelah menemukan kesamaan tema antara kedua naskah tersebut, beberapa plot kemudian dikurasi dan dirangkai menjadi sebuah ceramah dan pembacaan bersama.

Masih dari sumber yang sama, Tabuhan 4/4 Luh merupakan pembacaan drama lintas media yang menggabungkan dua naskah, seperti yang telah disinggung di atas, dari dua penulis dengan latar belakang berbeda. Naskah pertama, Pararatoning Luh, mengejawantahkan sosok mitologis Ken Dedes dalam setting modern. Sementara itu, naskah kedua, Tabuhan, merekonstruksi takdir kosmis Ni Tuung Kuning dari folklor Bali.

Peran Ganda

Seingat saya, ada 10 chapter dalam Tabuhan 4/4 Luh, yang masing-masing silih berganti mengisahkan bagaimana Luhiyang dan Ni Tuung Kuning ‘melawan’ ketidakberdayaannya sendiri. Alhasil, kita seperti menonton dua cerita dalam satu panggung pertunjukan secara bersamaan. Tetapi perpindahan dari satu kisah ke kisah lainnya dikemas dengan sangat halus, seolah nyambung satu sama lain, dan aktor—pembaca naskah—juga dengan santai saja sekejap menjelma-rupa menjadi banyak tokoh—multiperan.

Pementasan “Tabuhan 4/4 Luh” karya Tamimi Rutjita dan Kelompok Pojok, 24 Agustus 2024, serangkaian Singaraja Literary Festival 2024 | Foto: SLF/Amri

Untuk itu saya tak segan-segan mengangkat topi kepada Indian Akbar, Magda Julia, Renold Pakpahan, Haris S, dan Dewi Sutjianti yang dengan baik menjalankan tugasnya sebagai penampil. Lihatlah, mereka tak hanya memerankan satu tokoh, tapi banyak—saya lupa pastinya.

Mereka menjadi orang satu, dua, tiga, dan empat. Sekejap menjelma batang, lalu Banaspati, Banaspati Raja, Prajapati, dan Anggapati. Oh Tuhan, sekarang Indian Akbar bahkan sudah jadi Jataka yang mengobrol dengan Luhiyang. Dan apalagi ini, sesaat setelah satu chapter Jataka dan Luhiyang selesai, Dewi, Haris, dan Renold sudah berubah menjadi Vagina, Teratai, dan Hantu—pula saling bercakap-cakap dan membuat penonton terbahak.

Malam itu, di Sasana Budaya, Singaraja, dari chapter 1 sampai pementasan berakhir, aktor silih berganti peran. Mereka hanya berlima, tapi peran yang harus dimainkan lebih daripada itu. Ya, tak perlu menjadi pemerhati seni pertunjukan untuk mengetahui bahwa setiap pemeran dalam Tabuhan 4/4 Luh memiliki kemampuan ganda. Di samping memiliki keterampilan dalam membawakan peran tokoh lakon dalam cerita, mereka juga terampil dalam bernyanyi, menari, monolog, dan memahami iringan musik.

Pementasan “Tabuhan 4/4 Luh” karya Tamimi Rutjita dan Kelompok Pojok, 24 Agustus 2024, serangkaian Singaraja Literary Festival 2024 | Foto: SLF/Amri

Nino Bukir, selain sebagai presentator, pula bertanggungjawab atas iringan musik. Renold Pakpahan juga demikian. Ia pembaca sekaligus stage manager. Dan Magda Julia dalam Tabuhan 4/4 Luh belakangan saya ketahui ternyata juga menjelma sebagai asisten sutradara. Iqbal Samudra, produser pertunjukan tersebut, bahkan ikut turun tangan di panggung pementasan meski perannya hanya sebagai sempilan dalam satu chapter.

Tabuhan 4/4 Luh yang dipentaskan di Singaraja malam itu tentu berbeda dari pementasan-pementasan sebelumnya. Pada kanal Kelompok Pojok di YouTube saya menonton naskah ini dipentaskan dengan lebih banyak orang dan kursi-kursi properti yang digunakan pula jauh lebih banyak. Saya tidak tahu pasti alasan mengenai perbedaan tersebut. Entah ini berkaitan dengan efektivitas banyak hal atau Tamimi—atau dalam hal ini Kelompok Pojok—sedang mencari format, katakanlah, ideal untuk mementaskan naskah ini. Saya tidak tahu.

Tetapi, terlepas dari peran ganda tersebut, sekali lagi, saya menaruh kekaguman pada mereka, khususnya para pembaca, pemeran, aktor, atau semacamnya atau apalah sebutannya. Saya merasa mereka seperti lempung yang bisa—dan siap—dibentuk menjadi apa saja. Artinya, mereka mampu menjadi media melalui kepekaan; tubuh, rasa, dan suara dalam membawakan peran dari tuntutan lakon (cerita) yang diekspresikan secara estetis melalui simbol atau lambang audio (suara, kata-kata), visual (gerak  tubuh), dan penjiwaan (penghayatan peran) di atas pentas.

Saya tak tahu banyak mengenai seni pertunjukan. Tapi saya percaya bahwa dalam seni peran terdapat takaran atau ukuran dalam menciptakan irama permainan; apakah pemeran lebih mengarah pada “over acting”, “under acting” dari takaran yang seharusnya, sehingga irama permainan menjadi monoton, tidak berkembang, menjemukan, membosankan lawan main, dan penonton. Tapi dalam Tabuhan 4/4 Luh hal tersebut seperti tidak terjadi. Setiap pemeran, menurut awam saya, bersandiwara dalam takaran yang pas—kalau bukan sempurna.

Narasi Perlawanan Perempuan

Bukan tanpa sebab Tamimi memadukan antara Pararatoning Luh dan Tabuhan. Saya pikir, bagi dirinya, sebagaimana telah dijelaskan dalam booklet pertunjukan tersebut, kedua naskah sama-sama memiliki kesamaan tema, yakni perempuan dan perlawanan, sebutlah, penindatas atasnya. Di mana tokoh pertama adalah aktor kunci dalam huru-hara Tumapel—Ken Dedes. Bagaimana ia menjadi sosok validasi atas segala yang kuat dan kuasa. Sementara tokoh kedua—Ni Tuung Kuning—menerobos melintasi ruang dan waktu untuk memperbaiki kisah hidupnya.

Pementasan “Tabuhan 4/4 Luh” karya Tamimi Rutjita dan Kelompok Pojok, 24 Agustus 2024, serangkaian Singaraja Literary Festival 2024 | Foto: SLF/Amri

Kelompok Pojok—atau Tamimi—mencoba melakukan pemaknaan ulang tentang apa itu kesataran, dan apakah dalam praktiknya manusia—dengan ragam identitas gender—sebagai entitas sama-sama telah mendapat kesempatan yang mereta di masa lalu dan masa kini? Dua hal tersebut terus berdengung dan berkelindan dengan realitas peradaban kontemporer.

Tabuhan 4/4 Luh mengajak penonton untuk berpartisipasi aktif dalam pembacaan dramatik dengan teori dan representasi folklor sebagai pisau analisis. Penonton dan aktor juga menguji satu hipotesis: “Apakah teks hanya menjadi alat untuk memperkuat relasi kuasa bagi si pemenang yang menuliskan cerita?”

Dalam naskah tersebut, Tamimi, Dyah, dan Wulan sama-sama berupaya melawan penindasan berbasis gender dalam norma sosial. Melawan apa yang menjadi hambatan untuk menyatakan dirinya sebagai manusia yang utuh. Kisah Ni Tuung Kuning mengingatkan saya akan zaman jahiliyah di mana beberapa kabilah gurun pasir di jazirah Arab yang tak sudi—bahkan aib—mempunyai seorang anak perempuan.

Pada zaman kebodohan itu anak-anak perempuan dikubur hidup-hidup oleh ayah kandung mereka sendiri—seperti I Pudak yang tak menginginkan kelahiran Ni Tuung Kuning. “… jika perempuan, bunuh saja, cincang, dan bagikan kepada ayam-ayamku secara merata,” ucap Pudak kepada istrinya sebelum Kuning lahir.

Pementasan “Tabuhan 4/4 Luh” karya Tamimi Rutjita dan Kelompok Pojok, 24 Agustus 2024, serangkaian Singaraja Literary Festival 2024 | Foto: SLF/Amri

Sampai di sini, saya teringat diskusi dengan seorang dosen sosiologi, I Gusti Made Arya Suta Wirawan, pada suatu petang saat saya masih menjadi mahasiswa—yang kemudian hasil diskusi tersebut ia tulis menjadi esai berjudul Melampaui Domestikasi Perempuan (2017). Tidak bisa dimungkiri, katanya, bahwa sejarah peradaban manusia didominasi oleh peradaban patriarki. Peradaban ini telah menggiring dan menjadikan perempuan tak ubahnya sebuah properti.

Sebagai sebuah properti kebudayaan, perempuan ‘dituntut’ agar tumbuh berkembang sesuai kehendak laki-laki. Sedangkan Laki-laki dianggap memiliki otoritas mutlak dalam menentukan spesifikasi terhadap pembentukan fisik dan moral perempuan. Hal tersebut seolah-olah mengisyaratkan perempuan sebagai sosok yang tidak mampu membentuk kebudayaannya sendiri.

Yang lebih mengerikan, lanjut Arya, peradaban menganggap bahwa kesadaran perempuan tidak lebih dari kesadaran laki-laki itu sendiri. Sebuah kesadaran yang telah—meminjam istilah Arya Suta—“terkamuflase” baik secara kognitif maupun psikologis. Dengan kata lain, ketika perempuan dianggap mampu mendefinisikan dirinya, baik itu sebagai ibu rumah tangga maupun sebagai seorang gadis anggun yang lihai dan sopan bertutur kata, berbusana tertutup, dan segala hal tentang dirinya, ternyata tidak lebih dari hasil konstruksi dan konsensus peradaban patriarki.

Para pemain dan tim produksi bersama kru Singaraja Literary Festival 2024 | Foto: SLF/Amri

Kaum feminis mengatakan bahwa sejarah manusia adalah sejarah laki-laki. Semua basis kehidupan dibentuk lewat fondasi maskulinitas. Sebagaimana Aristoteles menyebut perempuan sebagai “laki-laki yang tidak lengkap”. Publik adalah muara laki-laki. Menurut Arya, segala hal yang publik bisa mengintervensi yang domestik, tetapi tidak sebaliknya, dan prinsip ini menjadi dasar berpikir laki-laki dalam menempatkan perempuan sebagai gender nomor dua—atau yang oleh Simon de Beauvoir disebut dengan istilah The Second Sex.

Terlepas dari catatan konteks tersebut, bagi saya, Tabuhan 4/4 Luh adalah perlawanan atas kemapanan narasai yang diulang-ulang dalam mitologi atau dongeng. Dalam hal ini, padanan ‘nasib’ dan gabungan kedua naskah ini dirasa dapat memberikan satu pesan yang sama, yakni perlawanan. Tapi hal yang lebih menarik adalah, perlawanan atau meng-counter kemapanan ini tidak diposisikan sebagai wahana balas dendam, namun sebagai ruang refleksi dan dialog untuk pelbagai hal yang lebih aktual dan kontekstual.[T]

Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain terkait SINGARAJA LITERARY FESTIVAL 2024

Tambal Sulam Ekranisasi Teks Lama ke Film
Menelusuri Jejak Pembahasan Pertanian dalam Sastra Dulu dan Kini
Tribute to Cok Sawitri: Merawat Ingatan, Mengalirkan Pengetahuan
Jam Session Kolaborasi 9 Seniman Bali Utara di Singaraja Literary Festival 2024
Tags: Kelompok PojokSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2024Tamimi RutjitaTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Merajut Warisan Alam & Budaya Menuju Pariwisata Regeneratif – Dari Perayaan HUT ke-6 Godevi

Next Post

Puisi-puisi I Nyoman Wirata | Sketsa Penyair Samar Gantang

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
0
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

Read moreDetails

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

by Azzahra Naya R
July 1, 2026
0
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),...

Read moreDetails

Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

by IM Gede Nesa Saputra
June 30, 2026
0
Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses...

Read moreDetails

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

by Yudi Laksana
June 24, 2026
0
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

Read moreDetails

Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

by Kadek Surya Jayadi
June 20, 2026
0
Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

 “Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….”  ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian...

Read moreDetails

Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

by I Nyoman Darma Putra
June 15, 2026
0
Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

MENERJEMAHKAN tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke dalam seni pertunjukan kerap menjadi tantangan bagi para seniman. Pertama, tema-tema PKB dirumuskan...

Read moreDetails

Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

by Rezky Chiki
June 9, 2026
0
Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

“Salah satu hal yang membuat pelecehan sulit dikenali adalah karena ia sering hadir dalam bentuk yang tampak biasa: candaan, gurauan,...

Read moreDetails

Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

by Mas Ruscitadewi
June 7, 2026
0
Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

Lomba monolog dalam rangka Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Bali 2026 yang diadakan di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Sabtu,...

Read moreDetails

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

by Helvi Carnelis
April 14, 2026
0
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

SAYA merasakan dengan kuat budaya rantau hari ini, sebuah beban tanggung jawab yang tidak ringan dalam kebudayaan Minangkabau. Pengalaman itu...

Read moreDetails

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

by Radha Dwi Pradnyani
March 30, 2026
0
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

PEMAIN masuk arena secara bergiliran. Dengan gerakan berbeda-beda mereka berjalan tergesa, dinamis, kadang saling silang, kadang sejajar. Mereka bersuara meniru...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi I Nyoman Wirata | Sketsa Penyair Samar Gantang

Puisi-puisi I Nyoman Wirata | Sketsa Penyair Samar Gantang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Kata Menjelma Jiwa: Pesona Lomba Baca Puisi di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

Ketika Kata Menjelma Jiwa: Pesona Lomba Baca Puisi di Festival Seni Bali Jani 2026

SUASANA Citta Kelangen Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Jumat, 17 Juli 2026, terasa berbeda. Tak terdengar dentuman gamelan atau hingar-bingar...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye
Ulas Buku

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

by Azwar
July 17, 2026
“Dasa Muka, The Face of Humanity”, Saat Penonton Diajak Berkaca pada Wajah-Wajah dalam Diri Manusia
Panggung

“Dasa Muka, The Face of Humanity”, Saat Penonton Diajak Berkaca pada Wajah-Wajah dalam Diri Manusia

MALAM itu Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, dipenuhi penonton dari berbagai penjuru. Kamis, 16 Juli 2026, kursi-kursi tribun tak...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
“Kera Wuhan”, Ketika Sun Go Kong dan Hanoman Menertawakan Ego Manusia
Panggung

“Kera Wuhan”, Ketika Sun Go Kong dan Hanoman Menertawakan Ego Manusia

GELAK tawa pecah bahkan sebelum adegan pertama benar-benar usai. Di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Rabu malam, 15 Juli 2026,...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
Panggung Teater Modern Festival Seni Bali Jani 2026 Dipenuhi Tafsir Kreatif
Panggung

Panggung Teater Modern Festival Seni Bali Jani 2026 Dipenuhi Tafsir Kreatif

KEMAJUAN seni teater di Bali kembali menemukan panggungnya melalui Pawimba (Lomba) Teater Modern Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
Tetap Harus Ada Pembaruan pada Pesta Kesenian Bali, Lewat Rekonstruksi dan Penciptaan Karya Baru
Khas

Tetap Harus Ada Pembaruan pada Pesta Kesenian Bali, Lewat Rekonstruksi dan Penciptaan Karya Baru

MEMASUKI penyelenggaraan ke-48, Pesta Kesenian Bali (PKB) telah menempuh perjalanan panjang sebagai festival seni budaya terbesar di Pulau Dewata. Selama...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Merawat Masa Depan Pesta Kesenian Bali Lewat Dialog Antargenerasi
Khas

Merawat Masa Depan Pesta Kesenian Bali Lewat Dialog Antargenerasi

MENJELANG usianya yang mengarah pada setengah abad, Pesta Kesenian Bali (PKB) dihadapkan pada tantangan yang tidak ringan. Festival seni terbesar...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Menjernihkan Informasi dan Mendokumentasikan Pesta Kesenian Bali Lewat Jurnalisme
Khas

Menjernihkan Informasi dan Mendokumentasikan Pesta Kesenian Bali Lewat Jurnalisme

DI tengah riuh tepuk tangan yang mengiringi setiap pementasan Pesta Kesenian Bali (PKB), ada pekerjaan lain yang berlangsung tanpa sorot...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Kepemimpinan Transformasional sebagai Jantung Kebijakan Publik dan Komunikasi Politik Modern

TANTANGAN birokrasi di era disrupsi global saat ini menuntut perubahan fundamental dalam paradigma pengelolaan pemerintahan dan cara pemimpin berinteraksi dengan...

by Jerry Indrawan
July 16, 2026
Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia
Esai

Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

Kita Melihat Dunia Sebagaimana Diri Kita Mengamati perilaku sang istri selama belasan tahun sebagai guru TK, saya punya ungkapan: Seorang...

by Agung Sudarsa
July 16, 2026
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan
Ulas Buku

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

by I Made Sujaya
July 16, 2026
Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026

 “Bagi laki-laki yang masih menganut patriarki, saya sarankan jangan membaca buku ini.” Ucapan itu langsung disambut gelak tawa peserta bedah...

by Dede Putra Wiguna
July 16, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co